Jongin dan Aku

Jongin dan Aku

by ditjao

.

.

.

“Namanya Soojung.” 

Kata-katanya terdengar lugas dan mantap, meski intonasi bicaranya sedikit ganjil untukku. Aku punya keyakinan aneh bahwa sebelumnya dia sudah berlatih keras untuk merancang kata-katanya sedemikian rupa hanya untuk melafalkan dua kata itu, yang kemudian dilanjutkan dengan rangkaian kata lainnya soal hal-hal lain berkaitan dengan gadis yang dia maksud. Jongin berkisah dengan sangat antusias, tapi aku tidak sanggup mendengarkan apapun sampai dia memungkas ceritanya pada kalimat terakhir, “Dia adalah gadis yang baik.”

Siapa yang peduli dia adalah gadis baik atau buruk kalau pada kenyataannya aku tidak ingin melepaskan Jongin ke tangan wanita manapun?

Aku masih bergeming, dan Jongin yang kelihatannya sadar bahwa aku tidak terlalu menaruh minat terhadap ceritanya mulai bergerak gelisah di kursinya. Gadis yang duduk di sampingnya juga memasang sikap serupa. Paras manisnya terbingkai senyum kikuk ditambah gelagat tak nyaman yang hampir kentara. Keputusanku untuk tidak angkat bicara rupanya meresahkan dua sejoli itu.

Kudengar Jongin mulai bicara lagi, masih seputar Jung Soojung. Tapi tidak kugubris lantaran aku lebih memilih melekatkan pandanganku pada sosok yang dikenalkan Jongin sebagai kekasihnya beberapa waktu lalu. Sosok yang kuyakini akan merebut tahtaku sebagai wanita nomor satu di hati Jongin. Aku penasaran, berapa banyak yang dia ketahui soal Jongin hingga dia dengan mantap memilih wanita ini dibandingkan aku yang jelas-jelas mengenal Jongin jauh lebih baik dari dirinya sendiri?

Tahukah Soojung soal kecintaan Jongin terhadap anjing-anjingnya? Tahukah Soojung soal kegemaran Jongin akan tomat? Tahukah Soojung bahwa Jongin sangat suka menari? Tahukah Soojung soal masakan favorit Jongin yang selalu kuhidangkan untuknya? Tahukah Soojung soal Jongin yang dulu kerap berkelahi semasa sekolah? Tahukah Soojung kalau Jongin selalu menyebutku sebagai orang yang paling dia sayangi di dunia? Tahukah Soojung bahwa aku tidak ingin dia mengambil Jongin dari sisiku? Tahukah dia?

Jongin memanggilku untuk yang kesekian kali. Bukan kisah membosankan tentang gadis yang dipujanya yang kudengar keluar dari mulutnya kali ini. Dia menyinggung tentangku yang enggan bicara dan bertanya apa aku baik-baik saja sambil menyisipkan kekhawatirannya soal kondisi kesehatanku yang belakangan lebih sering memburuk. Kondisi fisikku memang tidak sepenuhnya sehat, tapi batinku jauh lebih sakit. Ada rasa nyeri hebat yang menyerang ulu hati kala aku tahu bahwa tidak lama lagi Jongin akan segera meninggalkanku.

“Aku mau ambil minum dulu sebentar.”

Aku bangkit dari kursi dan bergegas menuju dapur. Kacamataku mulai berembun. Aku melepasnya dan membersihkannya asal dengan kaus yang kukenakan. Dulu sekali, Jongin pernah bilang bahwa dia tidak suka melihatku memakai kacamata. Katanya, itu akan mengingatkannya kepada seorang ibu guru galak yang pernah menghukumnya di sekolah. Tapi dia ikut menambahkan kalau wajahku jauh lebih cantik daripada wajah guru di sekolahnya itu. Aku tertawa pada saat itu lantas menghadiahinya dengan satu loyang besar puding rasa stroberi kegemarannya. Aku ingat wajah tembam Jongin ketika mengunyahnya dengan lahap. Aku hanya bisa mengingat. Mesin waktu dalam pikiranku mengajakku untuk melancong lebih jauh menyusuri kenangan demi kenangan yang selalu kupupuk bersama Jongin. Itu adalah masa-masa yang indah tanpa ketakutan bahwa suatu hari aku harus siap untuk kehilangan Jongin, kenangan yang pada akhirnya hanya menyisakan rasa sesak di dalam dada. Mataku mulai terasa panas, dan kacamata yang baru kukenakan terpaksa harus kulepaskan lagi.

Jongin menyusulku ke dapur. Wajahnya terlihat cemas dan dia bertanya ada apa. Kuulas sebaris senyum di bibir demi menghapus kekhawatirannya. Jongin terlihat tampan hari ini. Aku langsung tahu kalau dia sedikit merias diri. Gadis itu tentunya benar-benar memiliki posisi yang spesial di hati Jongin hingga dia mampu membuat pria yang lebih sering berpenampilan urakan kini tampak perlente. Apa daya yang dimiliki Soojung hingga dapat memikatnya? Dan apa yang sesungguhnya dirasakan oleh Jongin terhadap gadis itu? Batinku tergelitik untuk mencari tahu. Sebetulnya aku sendiri tidak suka dengan pertanyaan yang akan kulontarkan kepadanya ini, tapi kupikir tak ada salahnya menerima kebenaran. Aku harus berlatih menghadapi kenyataan.

“Jongin, seberapa besar kau mencintai gadis itu?”

Rona di wajah Jongin membantuku menyimpulkan prasangka soal jawaban atas pertanyaanku barusan. Aku tahu sedikitnya tebakanku benar. Aku bukan lagi yang pertama di hatinya. Aku jadi ingin minum sebotol besar bir demi melampiaskan rasa kecewa. Mataku berair lagi, tapi aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk menangis.

“Aku sangat mencintainya lebih dari apapun. Aku sangat mencintainya hingga aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku akan memperlakukannya sebaik mungkin sebagaimana aku menyayangi seorang wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Aku mencintainya, tapi aku sendiri hampir tidak yakin bahwa rasa cintaku kepada Soojung akan sama besarnya seperti rasa cintaku kepadamu.”

Kacamataku berembun lagi. Aku memutar langkah dan berjalan menuju rak piring untuk mengambil panci lalu mengisinya dengan air yang mengalir dari keran. Aku berdoa supaya suara keran dapat menyamarkan suara serakku yang mengalir sumbang.

“Sudah sana, kembali ke ruang tamu. Temani Soojung selagi Ibu memasak makan siang untuk kita bertiga.”

-fin

haiii aku gatau mau ngomong apa sebenernya karena mungkin ini topiknya sensitif hehe. btw berasa udah lama banget gak nulis jadi sori kalo aneh aaaaa minta doanya supaya tugas akhirku lancar yaaa .>w<)/

12 responses to “Jongin dan Aku

  1. as expected dari seorang ditjao-ssi :”)
    singkat kata: neomu johayo (bener ga tuh nulisnya)

    menurutku memang sih ya sebagai fans, aku sendiri kalau ngelepas bias pergi itu kayak induk ayam yang ngelepas anaknya #apasihwen

    p.s.
    semoga tugas akhirnya lancar, pasti lancar, hwaiting!

    • induk ayam banget, Wen?😄
      iya sih kadang-kadang bawaannya kalo sayang sama bias bukan kek sayang ke pacar gitu tapi lebih ke apa ya ugh pengen disayang aja pokoknya kayak ibu ke anak, ngerti kan ya ngerti kan T-T
      trims doanya, dan trims juga sudah mau mampir😄 Maaf telat balesnya T-T

  2. Kak dit masih inget aku?
    Hahaha aku gatau mau komen apa yg jelas aku selalu padamu 💋❤

    Salam kangen,
    Juls

  3. Uluhhh topik ini lg, sedih sih dari kemaren banyak yg ngangkat topik ini😦 bener kak topik ini lg sensitif2nya banget, nggak jarang liat banyak author yg tiba2 stuck ditengah jalan setelah rumor kaistal dating. Aku yg bukan fans fanatik aja ikut sedih denegrnya, tp lebih sedih lg begitu denger banyak author yg tiba2 inspirasinya stuck ditengah jalan😦 semoga si yehet belum terjamah dari pesona2 idol yg lain yaa, kalo yehet aku masih blm rela😦 kalo kaistal sih emg cocok menurutku huhehe

    • iya, aku juga turut berduka cita buat author-author lain yang merangkap fans jongin, tapi toh mau gimana lagi kan selain belajar nerima kenyataan? hehe (yak gampang banget kamu jao ngomongnya nanti kyungsoo confirmed sama siapa siap-siap aja nangis). iya kaistal cocokkk kujuga kebetulan suka sih hehehe moga-moga bias kamu aman ya, setidaknya sampai saat ini (?). trims sudah mau mampirrr❤

  4. Uuh, that’s feels~ Tapi gak nyangka kalo ternyata itu sosok ‘Ibu’. Aku kirain sahabat atau apa gitu. Endingnya antara: Eh? Serius?😄
    Tapi ini bagus banget ;w;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s