notes

a whitearmor adaptation story
an original story created by byunbao on notes [j.j.k]

Aku seketika membuka kedua mataku lantas merenggangkan seluruh otot di tubuhku setelah beristirahat semalaman. Hari ini aku merasa sangat bersemangat karena akan bersekolah di sekolahku yang baru. Aku baru saja pindah rumah karena ibu baru saja mendapatkan pekerjaan baru di daerah rumah baruku. Alasan klasik, ya aku tahu. Namun apa yang akan aku lakukan selain mengikutinya kemanapun ia akan pergi? Maksudku, aku tidak memiliki pilihan lain.

Aku berjalan ke luar dari kamarku dengan ransel yang sudah tergantung di bahu kiriku. Aroma roti panggang yang nikmat yang membuat perutku berdendang lantas membawa langkahku menuju dapur.  Rumah baru kami memang tidak sebesar rumah lamaku tetapi setidaknya cukup untuk tempat kami tinggal. Setidaknya aku merasa nyaman jadi tidak ada masalah besar.

“Hm… aromanya nikmat. Selamat pagi, bu,” kataku sebelum mencium pipinya. Akupun meletakkan tasku di kursi dan duduk di atasnya.

“Selamat pagi, Jungkook,” balasnya dengan senyum menghiasi wajah. Ibu masih nampak sibuk dengan spatula kayu dan wajan ketika aku sudah duduk manis di atas kursi meja makan. “Tunggu sebentar ya,” ucapnya saat melihatku yang terlihat kelaparan. Beberapa saat kemudian, ibu akhirnya menghidangkan dua potong roti panggang yang masih panas ke atas piringku.

Dengan cepat, segera aku ambil garpu dan melahap sarapanku pagi ini. Aku sempat ternseyum memandang ibu sebagai ucapan terima kasih.

Seusai sarapan sekitar lima belas menit yang lalu, akupun pergi ke sekolah. Setelah melalui semua hal yang biasanya dilakukan oleh murid baru seperti pergi ke kantor kepala sekolah, lalu ke bagian administrasi sekolah untuk menyerahkan berkas, memperkenalkan diri di kelas, serta beradaptasi di kelas baruku, akhirnya aku bisa bernapas lega ketika mendengar bel waktu makan siang berbunyi sangat nyaring. Aku segera memasukan seluruh barangku ke dalam tas dengan asal.

Kakiku melangkah secepat yang mereka bisa untuk membawaku ke kantin sekolah setelah sebelumnya bertanya kepada seorang anak perempuan. Aku berterima kasih karena orang-orang di sekolah baruku tidak memiliki perilaku yang buruk kepadaku layaknya film yang aku tonton. Mereka bahkan sangat baik dan juga ramah, aku mulai menyukainya.

Aku mengarahkan kakiku menuju sebuah meja panjang dengan berbagai makanan terhidang di atasnya. Setelah mengambil nampan untuk menaruh makananku, akupun mengantri untuk mengambil makan siangku. Setelah mendapatkan semua makanan yang kelihatannya sangat lezat kini tugasku adalah mencari kursi kosong di antara lautan manusia yang memadati kantin saat ini. kedua mataku terus menelusuri setiap sudut untuk mencari celah hingga akhirnya aku menemukan satu tempat yang bisa aku tempati meski tidak kosong sepenuhnya karena di sana ada seorang anak perempuan yang tengah duduk sendirian. Tanpa berpikir panjang, aku segera menghampirinya sebelum aku kehilangan waktu makan siangku yang berharga.

“Permisi,” sapaku sopan ketika sudah sampai di meja itu. Anak perempuan itu memandangku bingung. “Apakah aku bisa duduk di sini karena meja yang lain sudah penuh,” lanjutku disertai senyum.

Tidak perlu waktu lama untuk membuatnya mengambil tas dan mencari sesuatu di dalamnya. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan sebuah catatan dan pena. Ia mulai menulis di atas catatannya dan membiarkanku berdiri seperti orang bodoh dengan wajah kebingungan. Aku bahkan mulai takut waktu makan siangku akan habis. Untungnya, wajahku yang kebingungan itu tidak bertahan lama karena ia akhirnya memperlihatkanku catatannya.

 

Tentu, kau bisa duduk di sini🙂

 

Ia tersenyum,  aku pun.

“Terima kasih!” sahutku lantas duduk berhadapan dengannya dan menaruh makananku di atas meja kemudian mulai menyantap makananku yaitu sepotong roti, ketika suatu pertanyaan mengenai anak perempuan di depanku ini perlahan menghantuiku. Aku melihatnya mengambil catatan miliknya dan mulai menuliskan sesuatu.

Aku ingin memulai pembicaraan dengan anak perempuan di hadapanku ini tetapi aku pikir ini malah akan menjadi percakapan satu arah. Di saat aku tengah berdebat dengan pikiranku sendiri, ia tiba-tiba saja menepuk lenganku dengan tangannya untuk mendapatkan perhatianku. Aku menatapnya dan melihatnya menulis sesuatu.

 

Apakah kau murid baru? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.

 

Aku tersenyum malu sembari berusaha menelan sisa roti di dalam mulutku sebelum menjawab pertanyaanya. “Ya,” kataku sambil mengangguk. “Aku baru saja pindah dari Busan. Namaku Jungkook,” lanjutku lantas tersenyum. “Siapa namamu?”

Ia mengangguk sebelum menulis lagi. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuknya memperlihatkanku apa yang ia tuliskan. Namaku Hyeri. Senang berkenalan denganmu. Aku tidak memiliki banyak teman di sini. Ia tersenyum sedih. Aku menatapnya dengan tatapan sedih. Sepertinya aku tahu mengapa ia tidak memiliki banyak teman di sini.

“Apa itu karena caramu berkomunikasi dengan yang lain?” tanyaku hati-hati. Aku takut jika terlalu banyak menanyakan hal yang bersifat pribadi bahkan di saat kami baru saja berkenalan dan malah membuatnya menjauh dan menjadi orang asing lagi.

Hyeri menjawabnya dengan menaikkan bahunya. Aku menghembuskan napasku berat. Aku merasa sedikit sedih karena ia sebenarnya adalah anak perempuan yang baik. Sepertinya kesan pertamaku terhadap orang-orang di sekolah ini sedkit salah.

Aku tadinya ingin menanyakan sesuatu hal padanya namun aku terlalu takut karena pertanyaanku nantinya malah akan menyakiti hatinya, jadi aku memutuskan untuk mengurungkan niatku itu. Alis mata Hyeri berkerut saat menatapku dengan tatapan yang aneh sebelum ia mengambil catatannya dan menulis.

 

Jangan ragu-ragu untuk bertanya. Aku akan menjawab jika aku mau namun jika tidak, aku akan menjawabnya di lain waktu.

 

Aku memandang wajah perempuan di depanku ini dengan bingung. Ekspresi di wajahnya benar-benar tidak bisa ditebak sedikitpun. Maksudku, aku tidak tahu pasti apa yang sebenarnya ia rasakan, entah ia marah, sedih, tersinggung atau apapun atas pertanyaanku barusan tetapi yang jelas aku akan mengambil resikonya.

“Baiklah. Apakah kamu bisa berbicara, maksudku selain bagaimana caramu berkomunikasi,” tanyaku pada akhirnya. Aku ragu dia akan menjawabnya karena pertanyaan ini menyangkut privasi orang lain. Iapun segera menulis sesuatu di atas kertas catatannya.

 

Ya, aku bisa.

 

Aku menghembuskan napasku lega, setidaknya ia cukup percaya padaku untuk mengatakan jika ia sebenarnya dapat berbicara. Aku terdiam beberapa saat sembari mengunyah rotiku mengenai pertanyaan apa yang selanjutnya akan aku tanyakan.

“Kenapa kau lebih memilih berbicara dengan menuliskannya di atas kertas catatanmu daripada berbicara seperti kebanyakan orang? Kau pasti punya alasan,” tanyaku lagi. Ia kembali menulis dan kali ini ia membutuhkan waktu yang agak lama untuk menunjukkan padaku apa yang ia tulis.

 

Aku punya alasan tetapi seperti apa yang aku katakan, maksudku tuliskan, jika aku tidak ingin menjawabnya, kau akan mengetahuinya suatu hari. Aku berjanji. Aku akan memberitahumu jika waktunya sudah tepat.

 

Aku hanya mengangguk. Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapi perkataannya—tulisannya—yang terkesan serius itu. Akhirnya kami berdua kembali melanjutkan makan siang bersama. Kami makan dengan tenang sampai suara bel menginterupsi ketenangan kami. Akupun dengan cepat mengumpulkan sampah dari sisa makan siangku begitu pun Hyeri. “Apa jadwalmu setelah ini?” tanyaku saat berjalan menuju tempat sampah lalu membuang sampah milikku. Hyeri memberikan isyarat padaku untuk menunggu dengan jarinya karena tangannya sibuk memegang sampah. Aku yakin ia tidak bisa memegang catatannya dan menulis di waktu yang sama dengan satu tangan.

Hyeri lantas membuang sampah miliknya lantas mengambil pena dari sakunya lalu menuliskan sesuatu di telapak tangannya.

 

Bahasa Inggris.

 

“Aku juga! Kau yang tunjukkan jalan karena aku tidak tahu di mana letak kelasnya,” sahutku dengan senyum riang karena kali ini aku tidak perlu bertanya kepada orang yang tidak aku kenal hanya untuk bertanya di mana letak kelasku berada. Hyeri menganggukkan kepalanya dan mengisyaratkan padaku dengan tangannya untuk mengikutinya. Akupun mengekori langkahnya.

Kami berdua tiba di depan kelas dan Hyeri menyembulkan kepalanya ke dalam ruangan sebelum menggerakkan tangannya untuk memberiku isyarat untuk tetap mengikutinya. Ia berjalan ke dalam kelas sedangkan aku terus mengikutinya dari belakang. Aku melihat sekeliling dan menyadari jika belum ada guru di kelas. Tiba-tiba saja terdengar suara gaduh dari para murid yang berdesak-desakan memasuki ruang kelas.

Aku merasa seseorang memukul lenganku agak keras. Aku membalikkan kepalaku dan mendapati catatan milik Hyeri tepat berada di depanku. Kenapa kau tidak duduk?  tanyanya dengan alis berkerut. Aku terkekeh pelan karena baru menyadari jika sedari tadi aku belum duduk. Aku memandangi seluruh kelas dan mendapati jika tidak ada bangku yang kosong. Sial! Anak-anak di sini memang sangat rajin.

Aku kembali menoleh pada Hyeri dan melihat jika bangku di sebelahnya masih kosong. Aku sangat bersyukur karena tidak harus duduk di lantai. Akupun dengan cepat duduk di sebelahnya yang kini tengah memasang ekspersi merengut. Aku tertawa kecil lalu mengeluarkan ponselku dari dalam saku. Aku memutuskan untuk berbicara dengannya dengan cara menulis juga sama seperti apa yang ia lakukan pada orang lain.

Ada apa dengan wajahmu?  ketikku lalu memberikan ponselku padanya. Ia memandang sekilas pada ponselku sebelum menuli sesuatu di catatannya. Aku tidak terlalu menyukai Bahasa Inggris. Apakah kamu juga?

Aku mengetik lagi sebelum menunjukkan ponselku pada Hyeri. Sedikit. Kenapa kamu tidak menyukainya?

Hyeri menuliskkan jawabannya bersamaan dengan melangkah masuknya seorang pria memasuki ruang kelas. Ia pasti adalah gurunya. Ia terlihat seperti guru yang suka marah-marah menurutku. Aku melirik Hyeri yang kini sudah berhenti menulis. Aku menyeritkan keningku bingung dan menyadari jika ia tidak menunjukkan catatannya padaku. Sebelum aku bertanya, suara teriakkan menggema di dalam kelas.

“MURID BARU! KEMARI DAN CEPAT PERKENALKAN DIRIMU!”

Aku sangat terkejut atas teriakannya itu. Menyadari jika murid baru yang ia maksud adalah diriku makan akupun perlahan berdiri dari kursiku dan berjalan menuju ke depan kelas dengan kedua kaki yang gemetar.

“Hai semua. Namaku Jeon Jungkook dan aku dari Busan. Kalian bisa memanggilku Jungkook dan aku berharap kita bisa saling berteman. Terima kasih,” kataku cepat sebelum kembali ke kursiku. Aku bahkan terlalu takut untuk berdiri setidaknya satu detik lebih lama di dekat guru itu. Aku khawatir ia bahkan bisa memakanku hidup-hidup. Aku sangat ketakutan!

 

Itu alasannya.

 

Catatan Hyeri menyapaku saat aku baru saja kembali ke kursiku. Aku lantas duduk sambil menenangkan diriku. Aku dengan cepat mengambil catatan juga penanya dan menulis sesuatu di sana. Aku tidak berani mengetik dengan ponselku untuk kembali berbicara dengan Hyeri.

 

ADA APA DENGANNYA?!

 

Aku menuliskan dengan seluruh huruf kapital untuk menekankan maksudku. Aku mengembalikan catatannya dan penanya sembari menyeringai untuk meminta maaf karena langsung mengambil barang-barangnya tanpa terlebih dahulu meminta izin. Ia menatapku agak kesal sebelum akhirnya kembali tersenyum tipis.

 

Ini akan menjadi tulisan yang panjang jika aku menulis sekarang. Aku akan memberitahumu nanti.

 

Aku hanya mengangguk menyatakan mengerti. Guru Bahasa Inggris itu kini sedang memeriksa setiap lembaran kertas di atas mejanya dengan teliti setelahnya ia segera bangkit dan berseru, “Baiklah, anak-anak. Sekarang berkelompoklah dengan teman sebangku kalian dan buat cerita fiksi minimal lima ribu kata dan tidak ada jumlah kata maksimal. Tema terserah kalian dan harus dikumpulkan minggu depan.” Iapun segera keluar dari kelas setelah merapihkan seluruh barangnya.

Aku masih tetap memperhatikannya bahkan setelah batang hidungnya menghilang dari padanganku. Guru macam apa itu? Aku mulai mengerti mengapa Hyeri tidak menyukai pelajaran Bahasa Inggris. Kini aku menatap Hyeri, meminta penjelasan yang ia janjikan mengenai guru Bahasa Inggris yang suka berteriak itu.

Hyeri tersenyum tipis sebelum mengambil ponsel di dalam sakunya begitupun aku.

 

Aku kira kau hanya akan berbicara dengan menulis di buku catatanmu.

 

Ia membaca tulisanku lalu tersenyum. Jemarinya lantas menari-nari di atas layar ponselnya setelah selesai ia menunjukkannya padaku.

 

Itu hanya jika aku ingin saja. Hahaha. Aku menggunakan catatanku hanya ketika aku berbicara dengan orang asing atau seseorang yang baru saja aku temui dan juga di sekolah. Tetapi ketika aku berbicara denganmu aku menggunakan ponselku, itu berarti aku sudah cukup  mempercayaimu. Kau mau tahu kenapa? Karena jika kau menulis tidak akan bisa sepanjang kau mengetik. Jadi, aku tidak pernah berbicara banyak kepada orang asing. Lihat jika aku berbicara dengan ponselku? Aku berbicara sangat banyak! Sekarang berikan aku nomormu.

 

Wow! Dia benar, pikirku. Akupun mengambil ponselnya dan menyimpan nomorku di sana lalu menghubungi nomorku untuk mendapatkan nomornya. Setelah selesai aku segera mengembalikan ponselnya dan kami pun mulai bercakap-cakap via pesan singkat.

 

Jungkook: Wah benar. Kau jadi suka berbicara panjang lebar, haha. Sekarang, jelaskan padaku kenapa guru kita seperti itu? Aku bahkan tidak tahu siapa namanya-__-

Hyeri: Namanya Pak Lee. Dia memiliki sedikit trauma. Dulu ia adalah seorang guru di sebuah sekolah dasar namun murid-murid yang ia ajar memiliki perilaku yang tidak baik sehingga ia mengalami depresi dan akhirnya keluar dari sekolah dasar itu lantas memiliih pindah ke sekolah menengah atas. Sebelumnya ia baik-baik saja seperti orang normal tetapi murid di sini memiliki sifat yang bahkan lebih buruk dari murid sekolah dasar. Ia kemudian mulai berteriak untuk mendisiplinkan para murid. Begitulah kurang lebih cerita turun-termurun mengenai Pak Lee. Sebenarnya aku juga tidak mempermasalahkan sifatnya namun terkadang itu bisa jadi sangat mengganggu. Maaf karena aku terlalu banyak bicara😀

Jungkook: Itu tidak masalah alasanya juga masuk akal. Mengenai tugas itu, apakah ia selalu meminta tugas untuk selalu dikerjakan bersama? Karena jika iya, kau pasti harus mengerjakannya sendirian selama setahun penuh:/

Hyeri: Tidak selalu tetapi kau tidak perlu khawatir terlalu berlebihan untukku. Seseorang harusnya duduk di sebelahkuk namun ia pindah beberapa minggu yang lalu. Aku agak kecewa karenanya namun aku berterima kasih karena kini kau ada di sini🙂

Jungkook: Aku senang berada di sini😀

Sudah seminggu berjalan sejak aku mengenal Hyeri. Dia pun menjelma menjadi anak perempuan yang baik. Aku juga sudah berteman dengan beberapa murid lainnya dan mereka juga sangat baik padaku. Namun mereka tetap memberi sedikit jarak jika aku sedang bersama dengan Hyeri.

Hyeri dan aku kini sedang menghabiskan waktu makan siang bersama. Aku tertawa cukup keras karena baru saja membaca pesan darinya.

“Kau sangat lucu!” kataku diselingi tawa sedangkan ia hanya tersenyum.  “Oh baiklah, aku punya pertanyaan untukmu dan kali ini serius,” tanyaku. Hyeri lantas mengangguk.

“Apa kau ingat pertanyaanku soal mengapa kau tidak berbicara seperti cara orang lain lakukan? Karena aku sangat penasaran dengan jawabannya.”

Hyeri memandangku cukup lama sebelum akhirnya meraih catatannya dan mulai menuliskan sesuatu di atasnya. “Tunggu, kenapa kau-“ Aku baru saja ingin bertanya kenapa ia tidak mengetik di ponselnya namun kata-kataku terputus ketika ia menatapku dengan tajam. Hyeripun kembali menulis.

Ini semua karena ibuku. Ia selalu berkata padaku untuk diam sepanjang hidupku. Aku merasa sakit karena teriakannya dan suatu hari aku memutuskan untuk benar-benar tidak bicara sama sekali. Ayahku meminta agar aku kembali berbicara kepada orang lain tetapi ibu berkata, “Biarkan saja. Itu bagus karena ia setidaknya belajar jika suaranya tidak diterima ketika aku berada di dekatnya.” Dan sekarang kau tahu kenanpa.

Aku membacanya dengan sedih. Bagaimana bisa seorang ibu bersikap seperti itu kepada anaknya sendiri. Aku mengerti dengan traumanya tetapi aku masih sangat penasaran mengenai hal itu. “Aku minta maaf. Apakah ibumu masih bersikap seperti itu? Ah… maksudku-“ tanyaku agak tidak enak. Aku hanya merasa aneh saja jika seseorang justru tidak mempergunakan kemampuannya berbicara sama sekali padahal ia mampu.

 

 

 

 

 

 

Tidak.

 

 

 

 

 Aku menghembuskan napasku berat tetapi Hyeri kembali menuliskan sesuatu dan menunjukkannya padaku. Ketika aku membacanya, aku kembali meminta maaf padanya.

 

 

 

 

 

 

 

Karena ia sudah meninggal.

 

 

 

 

 

 

 

 

“Aku minta ma-“

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Karena aku yang membunuhnya.”

a/n: Whoooopssss!! Jangan lupa tinggalkan komentar untuk segala kritik dan saran dan jangan lupa untuk baca cerita aslinya yaaaa🙂

One response to “notes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s