The Eyes [prolog]

The Eyes

index

Shin Soo Mi &  Jung Nara

Park Chanyeol, Byun Baekhyun & Kim Jongade of EXO

and Other’s

by

Selene

“Lagu nya yang seperti apa Baekhyun-sii?”

“Begini, kau pernah dengar teori bahwa seseorang cenderung menyukai lagu yang bersesuaian dengan suasana hati?”

“Oh. Temanku bahkan menyukai semua lagu yang disukai oleh kekasihnya”

“Wah, temanmu sepertinya sangat memuja kekasihnya.”

“Semua orang yang jatuh cinta bukannya memang begitu? Saling memuja. Tunggu saja saat mereka memilih berpisah, aku bahkan bisa mendengarnya saling menghina di dalam pikiran mereka.”

“Hahaha. Ini terdengar seperti cerita pribadi, Nara-sii.”

“Aiis, lupakan. Jadi lagu apa yang sesuai dengan suasana hatimu hari ini?”

“Bukan, bukan suasana hatiku. Ini soal teman dekatku.”

“Kita seperti sedang membuka aib teman-teman kita. Hahaha. Ada apa dengan temanmu?”

“Bagaimana aku harus menceritakannya ya? Hm..”

“Kenapa? Kenapa?”

“Aaaa, aku kesulitan untuk menjelaskannya. Bagaimana kalau kita dengarkan saja lagu ini, aku khusus meminta pada PD-nim memutarkan lagu ini untuk kedua sahabat yang sangat aku cintai. Semoga kalian bahagia.”

Suara celotehan Baekhyun dan Nara menghilang digantikan alunan lembut suara Ariana Grande. Almost is never enough.

Aku sedang malas kembali ke kantor usai bertemu dengan perwakilan perusahaan outsourcing yang bekerjasama dengan perusahaan tempatku bekerja, lalu memutuskan untuk berkunjung ke biro konseling psikologi yang aku dirikan bersama dua orang teman kampusku dulu.

Tidak banyak yang datang untuk berkonsultasi hari ini hingga membuat aku bingung akan melakukan apa. Bosan dengan tumpukan novel yang semuanya sudah ku baca, mendadak ingatan tentang siaran radio dimana Baekhyun dan Nara untuk pertama kali dipasangkan sebagai DJ melintas dipikiranku.

Siaran sudah berjalan setengah waktu saat aku mulai mendengar celotehan sepasang makhluk cerewet yang sudah belasan tahun membuat panas telingaku dengan segala ocehan mereka.

Lalu aku ‘merasa’ dihadiahi lagu ini, almost is never enough-nya Ariana Grande dari Baekhyun. Aku tahu lagu ini belum tentu untukku karena dengan jelas Baekhyun menyebutkan lagu ini untuk kedua sahabatnya yang berarti tiga orang selain diriku masuk ke dalam hitungan atau bisa jadi sahabat lainnya yang tidak aku kenali.

Baekhyun adalah yang paling bijak menilai situasi. Dia bisa menggila dan kembali waras sesuai tuntutan situasi. Baekhyun membuat aku paham bahwa manusia diciptakan Tuhan tidak melulu harus bahagia di saat hatinya bersedih tapi manusia harus sadar tempat seperti apa yang layak untuk meluapkan perasaannya, termasuk pada siapa perasaan itu harus ditunjukkan. Bersama Baekhyun, title psikolog di belakang namaku seakan tidak memiliki arti.

Kepalaku hanya dipenuhi teori-teori abnormalitas pada diri manusia sedangkan Baekhyun menggambarkan ke-normalan sebagai manusia yang nyaris tidak aku miliki. Baekhyun memperhatikan aku layaknya seorang kakak dan seorang ayah, dua sosok yang tidak pernah aku miliki secara utuh seumur hidupku.

If I could change the world overnight

There’d be no such thing as goodbye

You’ll be standing right where you were

And we’d get chance we deserve

“Wooaa, cinta memang topik yang tidak pernah memiliki akhir, benarkan Baekhyun-sii?” Suara cempreng Nara kembali terdengar setelah lagu berakhir. Lagu yang sama masih dijadikan back sound siaran radio dengan volume yang di setel sayup.

“Benar sekali.”

“Sepertinya aku bisa mengerti cerita tentang temanmu karena lagu ini. Mereka sepasang kekasih yang sudah berpisah, begitukah?”

“Hahaha, akan lebih membahagiakan kalau mereka sempat meresmikan hubungan menjadi sepasang kekasih.”

“Tunggu dulu, ini bukan cerita lain dari lingkaran setan friendzone, kan?”

“Tidak, tidak. Kita tidak bisa memasukkan dua orang yang saling mencintai ke dalam kategori friendzone. Mereka hanya membuang kesempatan yang mereka miliki.”

“Ais, aku benci dengan orang-orang seperti ini. Semoga lagu tadi bisa memukul otak mereka agar bisa berpikir dengan lebih benar. Selanjutnya lagu apa yang akan kita putar, Baekhyun-sii?”

Nara akan menelan kalimatnya sendiri. Dia pikir seberapa besar rasa benci yang akan dia miliki jika aku memanfaatkan kesempatan yang kumiliki. Aku mencebik kesal pada radio yang masih mengeluarkan sahutan-sahutan suara Baekhyun dan Nara. Sebentar, memangnya Baekhyun menyebutkan namaku? Aaa, aku benar-benar sensitive belakangan ini.

Bunyi pesan masuk di ponselku memecahkan keheningan usai aku mematikan radio karena sudah malas mendengar Baekhyun dan Nara yang terus saja berceloteh tentang kisah orang lain.

Kau mematikan radiomu nona Shin?

Si bodoh mengirimiku pesan. Aku meletakkan ponsel di atas meja, tidak berniat membalasnya sama sekali. Kurang dari satu menit kemudian ponselku kembali berbunyi.

Jangan tersinggung, Nara tidak tahu siapa yang sedang dibicarakan.

Aku membaca pesan itu dan mengabaikannya, lagi. Memangnya Baekhyun benar-benar mengirimkan lagu itu untukku?

Kau membaca pesanku tapi tidak membalasnya.

Aku baru berniat untuk mengetikkan balasan ketika yang aku dengar bukan lagi deringan tanda pesan masuk melainkan deringan telepon biro yang tersambung dengan telepon di ruanganku.

“Ini aku.”

Sialan. Nyaris saja makian itu keluar dari mulutku. Pria ini selalu bisa menemukan keberadaanku.

“Jemput aku sekarang. Jongdae sudah menunggu di apartement ku, Baekhyun dan Nara akan menyusul setelah siaran. Kau tidak lupa soal maraton movie yang kita bicarakan semalam kan?”

“Apa-apaan ini, Park Chanyeol. Aku bukan supir pribadimu.” Aku menggeram kesal menahan suara agar tidak terdengar keluar ruangan.

“Aku sedang tidak bisa menyetir kau pikir karena siapa? Cepat jemput aku sekarang.”

Menyebalkan. Aku cuma tidak sengaja menginjak kakinya dengan tumit high heels-ku dan dia berlagak seperti orang lumpuh yang tidak bisa berjalan. Tadi pagi aku mengambil beberapa dokumen yang tertinggal di apartement Chanyeol, karena terburu-buru kami sempat saling dorong di depan pintu dan berakhir dengan high heels ku yang menancap di kakinya. Aku tahu rasanya pasti sangat menyakitkan, tapi aku baru tahu kalau terinjak high heels bisa membuat seseorang berubah manja.

“Aku tidak mau.”

“Baiklah aku tunggu satu jam lagi di lobby bawah.”

“Aku bilang aku tidak mau.”

“Kau harus mau nona, Shin. Aku menuntut pertanggung jawaban.”

“Kau pikir aku menghamilimu. Bodoh.”

“Woo woo, kau membawa-bawa hal sensitive. Menghamili itu tugas aku sebagai lelaki. Tugasmu menjemputku sekarang, kutunggu.”

Aku menutup telepon setelah mengiyakan perintah Chanyeol. Si pemaksa itu sulit untuk dikendalikan jika sudah memiliki keinginan. Dia lebih dari seorang raja yang harus dituruti dan aku budak yang tidak pandai mencari alasan untuk membantah sekeras apapun aku menolak untuk melakukan perintahnya

Ah, aku belum membalas pesan di handphone-ku.

Should you ask something you already know?

Pesanku langsung dibaca.

Lalu membiarkan kau terus diam?

Kami sudah saling mengungkapkan perasaan dihadapanmu dan kau hanya membiarkan aku mengetahui perasaanmu sendiri.

Cepat atau lambat mereka semua akan tahu.

Tidak sekarang Kim Jongdae!

FYI, dia sudah tahu, aku tidak perlu mengatakan apapun.

Ya, benar. Tidak sekarang karena aku belum siap melihat deraian air mata Nara. Aku tidak akan tahan menyaksikan Baekhyun membisu seakan kehilangan suaranya. Aku pasti akan ketakutan melihat Chanyeol menatapku tajam penuh amarah. Dan aku tidak sanggup membuat Jongdae kembali merasakan sakit yang sama.


 

hallow, aku author baru. Selene 92L, salam kenal ^.^



 

 

 

One response to “The Eyes [prolog]

  1. Pingback: The eyes [chapter 1] – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s