Hidden Identity

poster hidden identity

Hidden Identity 

by Sparkdey

Rating                  : PG – 13

Genre                    : Romance, Angst

Length                 : Oneshoot

Tokoh Utama       : Kim Taehyung / V (BTS) dan Han Hyo Rae (OC)

Disclaimer : FF ini adalah pure ide dari saya dengan bantuan teman – teman ARMY. Plagiators are not allowed! 

Note : Mohon tinggalkan jejak kalian dengan like atau komentar^^

 

-Author POV-

“Rae-ya, ayo kita pulang!” ajak Taehyung pada gadis kesayangannya itu, Han Hyo Rae.

“Apa kau tidak lihat? Aku sedang menyalin catatan yang ada di papan tulis, Taehyung-ah” jawab Hyo Rae dengan tetap fokus pada pekerjaannya kali ini.

“Baiklah, aku akan menunggumu, Rae-ya” Taehyung memilih untuk mengalah pada gadisnya ini daripada harus memaksa gadisnya untuk tetap memenuhi permintaanya.

Taehyung kembali duduk di samping Hyo Rae dan menatap lekat – lekat gadis yang ada di sampingnya saat ini. Awalnya Hyo Rae mengabaikan sikap Taehyung yang seperti ini, namun semakin lama Taehyung memperhatikannya, Hyo Rae semakin merasa risih.

“Baiklah, ayo kita pulang” sahut Hyo Rae.

Taehyung tersenyum dengan penuh semangat. Dia merasa sangat beruntung memiliki seorang kekasih yang sangat cantik, berbakat, pintar, dan menggemaskan. Taehyung menggenggam tangan kiri Hyo Rae dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya.

Saat ini di Seoul sedang musim dingin dan dikabarkan bahwa malam ini akan turun salju. Taehyung membukakan pintu mobilnya untuk Hyo Rae. Kemudian Taehyung mengemudikan mobilnya menuju sebuah restoran yang menjadi favorit mereka berdua, Jeju Korean Resto.

“Rae-ya” panggil Taehyung.

“Ada apa? Jangan memecah konsentrasimu, Taehyung-ah” jawab Hyo Rae.

“Baiklah – baiklah. Aku hanya ingin memastikan kau untuk tidak tertidur di mobilku” kata Taehyung sambil tertawa pelan.

“Aku tidak akan tertidur di dalam mobilmu, Taehyung-ah. Aku ini sedang lapar, jadi tidak mungkin aku akan tertidur di sini” jawab Hyo Rae sambil tertawa pelan.

“Kau memang kekasihku yang sangat menggemaskan, Rae-ya” kata Taehyung sambil mencubit pelan pipi kanan Hyo Rae.

“Sudah kubilang jangan memecah konsentrasimu, Taehyung-ah” sahut Hyo Rae sambil menaruh kembali tangan kiri Taehyung pada kemudi mobil.

“Hahaha baiklah, nyonya Kim” canda Taehyung.

“Namaku Han Hyo Rae, bukan Kim Hyo Rae” jelas Hyo Rae sambil memajukan bibirnya sebagai tanda bahwa dia kesal pada kekasihnya itu, Taehyung.

“Setelah lulus kuliah nanti, margamu akan berubah menjadi Kim. Akan aku pastikan itu, Rae-ya” kata Taehyung yang terlihat serius kali ini.

“Ya ya, terserah katamu, Taehyung-ah. Bisakah kau percepat laju mobil ini? Aku sudah sangat lapar” pinta Hyo Rae.

Kini mereka sudah sampai di depan restoran favorit mereka. Mereka masuk ke dalam dan duduk di meja yang bernomor 5 itu. Meja yang terletak di sudut restoran ini dan menghadap ke pemandangan jalanan Seoul sore ini. Taehyung tersenyum tiada hentinya sambil menatap Hyo Rae.

“Apakah ada sesuatu di wajahku?” Tanya Hyo Rae.

“Tidak ada” jawab Taehyung.

“Lalu mengapa kau melihatku seperti itu?” Tanya Hyo Rae lagi.

“Kau cantik. Aku jadi tidak sabar ingin memilikimu, Rae-ya” jawab Taehyung.

Hyo Rae sangat terkejut setelah mendengar jawaban dari Taehyung. Ingin memilikinya? Hanya pertanyaan itu yang ada di benak Hyo Rae. Saat ini mereka baru saja menempuh semester 6 di kampus mereka, dan semua pernyataan Taehyung yang dia utarakan di mobil dan baru saja ini mampu membuat gadis manapun merasa bahagia dan tentu saja terkejut.

“Jadi kau ingin memiliki diriku, Taehyung-ah?” Tanya Hyo Rae sambil tersenyum sedikit sinis .

“Tentu saja aku ingin memilikimu!” jawab Taehyung sambil menegakkan tubuhnya.

“Jangan membuatku terkejut dengan tindakanmu yang tiba – tiba seperti itu” Hyo Rae langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.

“Ah mian” jawab Taehyung sambil tersenyum lebar.

“Tolong jangan berikan aku senyuman itu, Taehyung-ah” pinta Hyo Rae.

“Wae? Apa kau terpesona dengan senyumanku ini?” Taehyung tesenyum lebar dan menyipitkan matanya dengan tujuan menggoda Hyo Rae.

“Tidak” jawab Hyo Rae singkat.

“Ah~ jadi kau tidak terpesona dengan senyumanku ini? Lalu apakah aku boleh tersenyum lebar seperti ini pada wanita lain selain dirimu?” Taehyung terus menggoda Hyo Rae.

“Tidak boleh. Baiklah aku kalah” jawab Hyo Rae.

“Kau ini menggemaskan sekali, Rae-ya” Taehyung tersenyum dan mencubit kedua pipi Hyo Rae.

“Berhenti mencubiti pipiku, Taehyung-ah. Itu sakit” Hyo Rae menggenggam kedua tangan Taehyung yang mencubiti pipinya.

Taehyung dan Hyo Rae merasa bahwa mereka adalah pasangan yang paling bahagia saat ini. Namun, ada tatapan yang tidak menyukai keberadaan dan kebahagiaan mereka saat ini. Tatapan orang itu seperti tatapan yang ingin menghancurkan hubungan mereka.

 

-Taehyung POV-

Aku sedang makan berdua bersama dengan kekasihku, Han Hyo Rae. Kami berdua memang sudah menjadi langganan di restoran favorit kami. Setiap pulang kuliah, kami berdua selalu makan di sini hingga kami sering mendapat diskon dan manajer restoran ini sudah kenal dekat dengan kami.

Hari ini merupakan hari yang istimewa untukku dan Hyo Rae karena hari ini adalah hari jadi kami yang ke 2 tahun. Aku sudah menyiapkan kejutan untuk Hyo Rae di restoran ini, dan sampai saat ini Hyo Rae belum menyadarinya. Aku sangat berharap bahwa aku dan Hyo Rae akan menata rumah tangga bersama, memiliki anak – anak yang lucu dan juga imut.

“Rae-ya, apakah kau ingat hari ini tanggal berapa?” tanyaku di sela makan.

“Tanggal 5” jawabnya singkat.

“Apakah kau ingat ini hari apa?” tanyaku lagi.

“Hari Rabu” jawabnya lagi.

‘Oh mengapa gadis di hadapanku saat ini sangat menyebalkan?’ batinku.

“Kau sungguh lupa hari ini hari apa?” tanyaku lagi sambil menatapnya dengan intens.

“Hari Rabu, dan mengapa kau menanyakannya terus menerus?” nadanya sedikit meninggi dari sebelumnya.

“Hari ini hari jadi kita, Rae-ya” aku menjadi sedikit kesal dengannya.

“Ah ya, aku tahu hal itu. Dan aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu” jawab Hyo Rae.

‘Oh Tuhan, dia sangat menyebalkan sekali’ batinku.

“Baiklah, aku hanya mengingatkanmu” kataku dengan nada yang malas dan melanjutkan aktivitas makanku.

Hyo Rae menaruh sebuah kotak di hadapanku. Aku hanya melihatnya saja dan melanjutkan aktivitas makanku kembali. Aku penasaran dengan apa yang ada di dalam kotak itu, tetapi aku tidak mempunyai niatan untuk menyentuhnya sekarang ini. Aku akan menyentuhnya ketika aku sudah memberikan kejutan untuk Hyo Rae.

“Kau tidak berniat untuk membuka hadiah dariku?” Tanya Hyo Rae.

“Tidak” jawabku singkat.

“Baiklah, akan aku ambil kembali hadiah ini” kata Hyo Rae dan mengambil kembali hadiahnya. Namun aku mencegahnya.

“Biarkan hadiahmu tetap di sini. Aku akan membukanya, sebentar lagi, Rae-ya” jawabku.

“Arraseo” kata Hyo Rae.

Aku mengambil sebuah kotak dari dalam ranselku. Aku menggenggam erat kotak itu dan berharap bahwa Hyo Rae akan menyukainya. Aku mengambil benda itu dari dalam kotak yang sedang aku genggam saat ini.

“Rae-ya, coba lihat kesana!” seruku sambil menunjuk ke jendela di belakang kami.

Ketika Hyo Rae menoleh kembali ke posisi semula, aku langsung menunjukkan sebuah kalung dari genggamanku. Sebuah kalung emas putih dengan liontin kupu – kupu. Hyo Rae terlihat sangat terkejut dan dia tersenyum lebar.

“Selamat hari jadi 2 tahun kita, Rae-ya. Aku menyayangimu” kataku sambil tersenyum.

“Apa kau suka hadiahku?” lanjutku.

“Sangat! Aku sangat menyukainya, Taehyung-ah!” seru Hyo Rae sangat senang.

“Aku akan memasangkannya padamu” kataku.

Aku berdiri dari tempatku duduk dan berjalan ke belakang Hyo Rae. Dia mengesampingkan rambutnya dan mempersilahkanku untuk memasangkan kalung itu padanya. Setelah selesai memasangkannya, aku memeluknya dari belakang.

“Aku sangat mencintaimu, Rae” bisikku pelan.

“Gomawo, Taehyung-ah. Aku sangat suka kalung ini. Ini sangat indah” kata Hyo Rae sambil memegang tanganku.

Aku melepas pelukanku dan kembali ke tempat dudukku. Aku mengambil hadiah dari Hyo Rae yang masih ada di hadapanku. Aku membuka kotak itu dan aku tersenyum melihat hadiah dari Hyo Rae. Dia sungguh – sungguh mengerti tentangku.

“Apa kau suka hadiah dariku?” Tanya Hyo Rae.

“Tentu saja aku menyukainya. Kau sangat mengerti tentangku, Rae-ya” jawabku dengan tersenyum dan menatapnya dengan tatapan teduh. Sangat teduh.

Aku memasukkan kembali hadiah dari Hyo Rae. Hadiah itu adalah sepatu keluaran terbaru sebuah merek ternama dan aku sangat – sangat menginginkan sepatu itu, namun aku selalu saja tidak memiliki waktu untuk membeli sepatu itu. Ketika aku memiliki waktu, sepatu itu sudah habis terjual.

“Terima kasih untuk hadiahnya, Rae-ya” kataku sambil menggenggam kedua tangannya.

“Terima kasih juga untuk kalung yang indah ini, Taehyung-ah” kata Hyo Rae tersenyum.

“Baiklah, ayo kita pulang, sudah mulai gelap” ajakku.

Aku membayar pesananku dan langsung menuju tempat parkir mobilku. Aku membukakan pintu untuk Hyo Rae. Setelah itu aku melajukan mobilku menuju rumah Hyo Rae. Cuaca semakin terasa lebih dingin dari sebelumnya. Aku menyalakan penghangat di mobilku.

“Taehyung-ah, lihat! Salju pertama di Seoul sudah turun!” seru Hyo Rae lalu membuka jendela mobilku dan menjulurkan tangannya keluar jendela untuk merasakan salju pertama yang baru saja turun.

“Kau tidak berubah, Rae-ya. Kau masih saja suka dengan salju” kataku.

“Memangnya kenapa? Aku suka salju karena appa” jawab Hyo Rae.

“Appa? Ada apa dengan salju dan appa mu?” tanyaku penasaran.

“Itu rahasia, Taehyung-ah” kata Hyo Rae sambil menjulurkan lidahnya kepadaku.

“Kau ini jangan menyebalkan seperti ini, Rae-ya” kataku mencubit pipi kirinya pelan.

“Baiklah. Aku hanya menceritakan ini padamu saja, Taehyung-ah. Jadi, aku sangat suka salju itu karena appa. Appa selalu mengajakku pergi bermain ski setiap hari ketika appa tidak sibuk. Pekerjaan appa sangat menuntut appa untuk selalu berada di kantor setiap hari, setiap malam, bahkan hari libur nasional. Kantor appa berada di Daegu dan itu sangat jauh dari rumah kami. Appa hanya akan pulang ketika musim dingin seperti ini. Setiap appa berada di rumah, appa akan selalu bermain bersamaku dan mengajariku semua hal. Aku menyukai musim dingin, tetapi aku juga membenci musim dingin” jelas Hyo Rae.

“Kenapa kau membenci musim dingin?” tanyaku.

“Appa tewas di saat wajib militer pada musim dingin. Appa tertembak namun pihak yang berada di sana terlambat membawa appa. Saat itu aku masih berumur 7 tahun dan aku belum mengerti apapun. Eomma hanya menceritakan bahwa appa tidak akan kembali lagi karena pekerjaannya yang membuatnya menjadi sangat sibuk. Namun, ketika aku berusia 17 tahun, eomma menceritakan semua kebenarannya. Kebenaran bahwa appa meninggal di saat wajib militer. Aku tidak tahu pasti bagaimana appa bisa tertembak, namun memang itulah kenyataannya” jelas Hyo Rae.

“Aku mengerti perasaanmu. Kau jangan bersedih lagi. Di sini ada aku yang akan selalu ada untukmu, Rae-ya dan kau masih memiliki ibumu” kataku.

Suasana di mobilku menjadi hening. Aku menyalakan lagu dari tape mobilku agar memecah suasana dan berharap suasana hati Hyo Rae menjadi lebih tenang. Aku sudah masuk ke perumahan Hyo Rae, dan Hyo Rae tertidur di mobilku. Aku menatapnya sambil tersenyum.

‘Sampai kapanpun, aku akan terus mencintaimu, Rae’ batinku.

 

-Hyo Rae POV-

“Appa, apa aku cantik?” tanyaku saat berdiri di depan cermin.

“Anak appa akan selalu cantik kapanpun dan dimanapun” jawab appa yang langsung menggendongku.

“Appa, apa appa harus pergi sekarang?” tanyaku lagi.

“Iya sayang, appa harus pergi sekarang. Negara kita sedang membutuhkan appa saat ini” jawab appa.

“Memangnya kenapa Negara ini membutuhkan appa?” tanyaku yang semakin penasaran.

“Karena appa adalah calon pembela Negara kita. Appa harus latihan selama 2 tahun. Mereka menyebutnya itu wajib militer” jelas appa yang menurunkanku dari gendongannya.

“Appa janji ya, 2 tahun lagi di musim dingin nanti appa harus pulang dan bermain ski lagi” kataku.

“Appa janji, Rae-ya” kata appa.

“Aku sayang appa” kataku yang kemudian memeluk appa. Pelukan yang terakhir kalinya.

———-23.00 KST // 13 tahun yang lalu———-

“Rae-ya, ayahmu tidak bisa kembali lagi ke rumah kita. Ayahmu ditugaskan ke tempat yang sangat jauh di sana. Dia tidak akan kembali lagi pada kita” kata eomma.

“Tapi eomma, appa sudah janji mau mengajak Rae bermain ski nanti. Appa janji padaku, eomma” kataku.

“Rae-ya, appa tidak mungkin kembali lagi pada kita” jelas eomma.

“Appa jahat!” kataku sambil menangis.

———-19.00 KST // 3 tahun yang lalu———-

“Rae-ya, eomma minta maaf, eomma telah berbohong padamu selama ini. Eomma sudah tidak tahan lagi untuk terus berbohong padamu, Rae-ya” jelas eomma yang berada di tepi ranjangku.

Eomma kenapa? Ada masalah apa eomma?” tanyaku.

Eomma telah berbohong padamu selama ini, Rae-ya. Tentang appa” kata eomma.

“Appa? Ada apa dengan appa, eomma?” tanyaku bingung.

“Ayahmu tewas 13 tahun yang lalu, Rae-ya. Ayahmu tertembak ketika musim dingin pada saat menjalankan wajib militer. Ayahmu terlambat untuk ditangani oleh dokter militer pada saat itu. Maafkan eomma telah membohongimu selama ini, Rae-ya” kata eomma yang langsung memelukku.

“Tidak apa eomma. Aku dapat memakluminya” kataku lalu membalas pelukan ibuku.

Bayang – bayang itu kembali datang ke dalam mimpiku. Mimpi yang sangat buruk untukku. Aku ingin terbebas dari bayang – bayang yang terus menghantuiku selama ini. Aku tidak nyaman.

“Rae-ya…” panggil Taehyung.

“Ya?” jawabku singkat.

“Kau tidak apa – apa kan? Kau berkeringat. Aku khawatir. Mau kuantar ke dokter?” tawar Taehyung.

“Aku baik – baik saja, Taehyung-ah” jawabku.

“Apa kau yakin? Jangan membuatku khawatir” Taehyung terlihat sangat khawatir padaku.

“Aku baik – baik saja. Kau tidak perlu khawatir, Taehyung-ah” kataku.

“Baiklah. Aku akan mengantarkanmu ke dalam” kata Taehyung.

Aku membuka pintu mobil Taehyung dan berjalan keluar memasuki halaman rumahku. Taehyung merangkulku dan kini kami berhenti di depan pintu rumahku. Aku menekan tombol bel rumahku dan tidak berapa lama, eomma membukakan pintunya untukku.

“Rae-ya, kau sudah pulang?” tanya eomma.

“Ne eomma. Aku ingin langsung istirahat, gomawo Taehyung-ah” kataku langsung masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamarku.

“Ne. Jaga kesehatanmu, Rae-ya!” sahut Taehyung.

Aku membalikkan badanku dan tersenyum pada Taehyung. Setelah itu Taehyung berpamitan pada eomma ku. Melihat Taehyung pergi saat itu dan hanya memandangi bagian punggungnya itu membuatku semakin teringat pada appa.

Aku merebahkan tubuhku di kasurku. Menatap langit – langit kamarku dan teringat sesuatu hal. Aku merubah posisiku menjadi duduk di tepi ranjang dan mengambil ponselku. Aku mengetik sebuah pesan untuk Taehyung yang berisi untuk mengabariku ketika dia telah sampai di apartemennya.

 

FLASHBACK ON…

 

“Rae-ya, kau ingat? Bahwa di hari jadi kita yang ke 2 tahun ini, kita saling berjanji untuk bertukar foto keluarga kita?” tanya Taehyung.

“Ne, aku ingat itu. Waeyo?” tanyaku.

“Aku sudah membawa foto keluargaku. Aku menyelipkannya di bukumu tadi. Kau boleh membukanya ketika sudah sampai di rumah. Arraseo?” pintanya.

“Arraseo. Dan aku juga sudah membawa foto keluargaku. Kau jangan membukanya ketika sudah sampai di rumah. Aku tidak ingin kau melihatnya sekarang” pintaku.

“Baiklah” kata Taehyung.

 

FLASHBACK OFF…

 

-Author POV-

Hyo Rae membuka ranselnya dan mengambil buku yang dimaksud oleh Taehyung. Hyo Rae membuka buku itu dan menemukan sebuah foto di tengah – tengah buku itu. Hyo Rae mengambil foto itu dan melihat foto itu. Terdapat dua buah foto di sana. Satu foto merupakan foto keluarga Taehyung dan satu foto lagi belum dibuka oleh Hyo Rae karena ponselnya berdering.

“Yeoboseyo?” sapa Hyo Rae.

“Rae-ya, apa kau sudah membuka fotonya?” tanya Taehyung.

“Aku sedang melihatnya” jawab Hyo Rae.

“Ah apa di sana ada 2 foto?” tanya Taehyung lagi.

“Iya, tetapi aku baru melihat fotomu bersama kedua orang tua mu. Memangnya foto apa lagi yang kau selipkan di bukuku, Taehyung-ah?” tanya Hyo Rae.

“Ah itu foto ayah kandungku. Aku ini anak yang di adopsi oleh keluarga Kim. Dan foto yang belum kau lihat itu adalah foto ayah kandungku dan ibu kandungku. Kau boleh melihatnya” jawab Taehyung.

“Baiklah. Aku tutup telefonnya. Jaljja” kata Hyo Rae lalu memutuskan sambungan telefonnya dengan Taehyung.

Hyo Rae kembali duduk di tepi ranjangnya dan kembali melihat foto yang dimaksudkan oleh Taehyung padanya. Hyo Rae merasa sangat terkejut setelah melihat foto yang hanya ada foto seorang pria dan seorang wanita sedang menggendong bayi laki – laki. Mereka terlihat sangat bahagia sekali di foto itu.

“Appa? Tidak mungkin!” Hyo Rae berkata dengan tidak percaya.

“Ini tidak mungkin appa! Ini bukan appa kan?” Hyo Rae mulai menitikkan air mata.

“Apa benar ini appa? Bukan! Ini bukan appa, aku yakin ini!” Hyo Rae sangat terkejut.

 

———-20.43 KST di Apartemen Taehyung———-

Taehyung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Air yang membasahi dari kepala hingga ujung kaki membuat Taehyung merasakan segar kembali. Dengan cepat Taehyung mengeringkan tubuhnya seusai mandi dan berganti pakaian menjadi pakaian yang lebih santai.

Taehyung membuka ranselnya dan menemukan sebuah foto keluarga. Taehyung tersenyum sambil memikirkan bahwa itu adalah foto calon mertuanya nanti. Selama ini Taehyung memang belum pernah bertemu dengan ayah dari Hyo Rae karena memang ayah Hyo Rae sudah meninggal dunia.

Taehyung mulai di adopsi oleh keluarga Kim semenjak ibunya meninggal dunia karena sakit pada saat Taehyung berumur 10 tahun. Ayah Taehyung sudah meninggal sejak Taehyung berumur 8 tahun. Ayahnya tewas saat wajib militer. Taehyung sempat heran ketika Hyo Rae bercerita tentang ayahnya yang meninggal saat wajib militer karena terkena tembakkan. Hal itu juga terjadi pada ayah Taehyung. Namun Taehyung masih tetap berfikir positif, karena di saat wajib militer banyak sekali anggota yang menjalankan wajib militer di sana.

Taehyung sangat terkejut melihat foto keluarga Hyo Rae yang kini ada di tangannya. Foto itu adalah foto ayahnya yang sudah meninggal. Taehyung mencoba untuk tetap berfikiran positif soal foto ayahnya yang ada di foto keluarga Hyo Rae.

“Aboeji? Hahaha ini bukan aboeji kan?” kata Taehyung tidak percaya.

Taehyung melempar foto itu sembarangan. Taehyung langsung mengambil ponselnya dan kembali mengingat saat – saat Taehyung bertemu dengan Hyo Rae di kelas dan mata kuliah yang sama. Banyak sekali teman mereka yang memanggil mereka kembar. Namun pada nyatanya marga mereka berdua sangat berbeda. Taehyung dengan marga Kim dan Hyo Rae dengan marga Han.

“Apa wajah kami berdua benar – benar mirip?” Taehyung berdiri di depan cermin di dalam kamarnya.

“Aku harus ke rumah Rae sekarang juga!” Taehyung mengambil jaket dan kunci mobilnya lalu melajukan mobilnya menuju rumah Hyo Rae.

 

———-21.23 KST di Rumah Hyo Rae———-

“Rae-ya, ada Taehyung di sini. Turunlah, Rae-ya” kata ibu Hyo Rae dari depan pintu kamar Hyo Rae.

Ibu Hyo Rae tidak bisa masuk ke dalam kamar Hyo Rae karena Hyo Rae mengunci pintu kamarnya agar ibunya tidak dapat masuk ke dalam kamarnya dan menemukan foto ayahnya bersama wanita lain. Hyo Rae merasakan sesak di dadanya, dia sangat mencintai Taehyung namun pada kenyataannya mereka adalah saudara kandung. Ayah mereka sama namun berbeda ibu. Bagaimanapun juga yang saat ini berada di fikiran Hyo Rae adalah bagaimana dia menghadapi Taehyung yang sudah menunggunya di bawah.

“Ne eomma, aku sedang berganti pakaian” jawab Hyo Rae.

Hyo Rae keluar dari kamarnya lalu berjalan menuruni tangga untuk menemui Taehyung. Sungguh saat ini Hyo Rae bingung harus menghadapi Taehyung yang sekarang mereka berdua saling tahu bahwa mereka berdua adalah adik dan kakak.

“Taehyung-ah…” panggil Hyo Rae lirih.

“Rae-ya…” panggil Taehyung.

“Ikut denganku. Aku sudah meminta izin pada ibumu untuk mengajakmu keluar sebentar” kata Taehyung sambil menggenggam tangan Hyo Rae.

Hyo Rae mengikuti Taehyung. Mereka berjalan menuju sebuah taman kota. Mereka duduk di sebuah bangku yang ada di taman itu. Taehyung menatap Hyo Rae namun Hyo Rae memalingkan wajahnya.

“Tatap diriku, Rae” pinta Taehyung.

“Aku tidak tahu harus berbuat apa setelah tahu semua ini, Taehyung-ah” kata Hyo Rae.

“Lihatlah aku, Rae” kata Taehyung.

“Aku tahu kita memilki ayah yang sama namun ibu yang berbeda. Aku juga tidak mengerti mengapa ayahmu adalah ayahku juga namun kita memiliki ibu yang berbeda. Sungguh aku menjadi sangat malu ketika menemui ibumu. Tapi kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, Rae” jelas Taehyung.

“Tapi kita adalah adik kakak, Taehyung-ah!” Hyo Rae menatap mata Taehyung.

“Aku tahu itu, tapi aku mencintaimu bukan sebagai adikku, tetapi sebagai seorang wanita” kata Taehyung.

“Tapi…” Taehyung menempelkan jari telunjuknya di bibir Hyo Rae.

“Aku tahu maksudmu, Rae-ya. Kita akhiri hubungan kita di sini. Sekarang kita adalah adik dan kakak, bukan sebagai kekasih lagi. Terima kasih untuk 2 tahun yang selalu membuatku bahagia, Rae-ya” kata Taehyung lalu pergi meninggalkan Hyo Rae sendirian di taman itu.

Suasana yang dingin saat ini sungguh menusuk bagi Hyo Rae. Dan untuk kedua kalinya, Hyo Rae menemukan alasan untuk membenci musim dingin. Dan untuk kedua kalinya juga, Hyo Rae kehilangan sosok pria yang sangat dicintainya.

‘Ini semua salah appa!’ batin Hyo Rae.

 

-Taehyung POV-

‘Mengapa aku harus menjadi kakak dari wanita yang aku cintai? Mengapa?!’ batinku.

Aku berjalan pulang untuk mengambil mobilku dan meninggalkan Hyo Rae di taman seorang diri. Aku tidak pernah menduga bahwa hal ini akan terjadi. Di hari paling spesial aku kehilangan seseorang yang sangat aku cintai, Hyo Rae.

Aku melajukan mobilku menuju sebuah bar yang memang sudah menjadi langgananku sejak dulu. Aku pergi ke bar ketika aku sedang banyak fikiran atau sedang banyak masalah.

Aku berhenti di depan sebuah bar yang sudah lama tidak aku kunjungi ini. Lalu turun dari mobilku dan melempar kunci mobilku kepada penjaga bar untuk memarkirkan mobilku. Aku masuk ke dalam bar ini dan memesan wine yang sekiranya kadar alkoholnya tidak terlalu tinggi.

Aku duduk di bangku di depan bartender dan meminum wine yang ada di hadapanku seteguk. Aku mengambil ponselku dan menelfon seseorang untuk menemaniku.

“Yeoboseyo?” sapa seseorang di sebrang sana.

“Ah, bisakah kau menemaniku minum malam ini?” tanyaku.

“Taehyung-ah, kau ada masalah apa?” tanyanya.

“Cepatlah kemari. Ada masalah yang tidak dapat aku selesaikan. Aku membutuhkanmu”pintaku.

“Arraseo. Aku segera ke sana. Tunggulah aku!” perintahnya dan langsung menutup pembicaraan kami.

Aku kembali meminum seteguk wine sambil mengamati fotoku dan foto Hyo Rae hari ini di saat perayaan hari jadi kami yang ke 2 tahun. Tak berapa lama seseorang yang aku tunggu datang dan duduk di sampingku.

“Kau jangan banyak minum, kau harus menyetir nanti” sahutnya sambil menahanku untuk minum.

“Apakah itu kau, Park Min Gi?” tanyaku.

“Ne, ini aku. Berhentilah meminum. Dan ceritakan padaku apa masalahmu” pinta wanita yang ada di sampingku saat ini.

“Kau tahu kan bahwa hari ini adalah hari jadiku yang ke dua tahun bersama Hyo Rae?” tanyaku.

“Aku tahu itu. Kau ada masalah apa dengannya?” tanya Min Gi.

“Dia adalah adikku. Adik kandungku” kataku sedih sambil menatap Min Gi.

“ADIK?!” teriak Min Gi terkejut.

“Han Hyo Rae adalah adikmu? Mengapa bisa? Marga kalian berbeda!” lanjut Min Gi.

“Tidak. Marga asliku adalah Han. Aku ini anak adopsi keluarga Kim, jadi aku mengganti margaku menjadi Kim. Aku sungguh tidak menyangka bahwa wanita yang sangat aku cintai adalah adikku sendiri. Dan bodohnya aku baru tahu saat ini” jelasku sambil tersenyum sedih.

“Chakkaman… kalian berdua bagaimana bisa saling tahu bahwa kalian adalah saudara kandung?” tanya Min Gi.

“Kami bertukar foto keluarga. Kami satu ayah namun berbeda ibu. Entah apa yang terjadi, sepertinya aku adalah anak haram. Sepertinya ibuku adalah selingkuhan ayah Hyo Rae” jelasku.

“Anak haram? Bahkan kau setahun lebih tua dari Hyo Rae” kata Min Gi.

“Itulah hal yang membuatku bingung. Namun aku pernah menanyakan hal ini pada Hyo Rae, dia menjawab bahwa ibunya dulu pernah mengandung anak laki – laki namun keguguran” kataku.

“Sepertinya aku mengerti hal ini” sahut Min Gi.

“Mulailah menerima Hyo Rae sebagai adikmu. Bersikaplah cuek padanya untuk menghilangkan perasaanmu padanya. Aku yakin kau bisa” lanjut Min Gi.

“Seandainya aku bertemu denganmu lebih dulu sebelum aku bertemu dengan Hyo Rae, mungkin kau sudah menjadi kekasihku sekarang, Min Gi-ya” kataku.

“Kau mabuk. Bicaramu sudah mulai tidak benar. Sebaiknya kita pulang sekarang” ajak Min Gi.

“Aku tidak mabuk dan aku berbicara benar. Aku serius” kataku.

“Kau berbicara seperti ini karena kau banyak fikiran, Taehyung-ah. Lebih baik kita pulang sekarang. Aku akan mengantarkanmu. Aku akan menitipkan mobilku di sini” sahut Min Gi.

Aku berjalan dengan sedikit pusing. Min Gi yang berada di sampingku saat ini membantuku berjalan menuju mobilku. Dia menempatkanku di bangku penumpang dan dia masuk lalu duduk di bangku kemudi. Dia mulai menyalakan mesin mobilku dan melajukan mobilku menuju apartemenku. Pandanganku mulai kabur dan aku mulai merasakan sakit pada kepalaku. Aku memejamkan mataku dan berusaha untuk tidur.

Aku terbangun karena cahaya matahari yang masuk ke kamarku. Sepertinya sudah berganti hari dan aku terbangun di kasur apartemenku. Aku merubah posisiku menjadi duduk dan menyender. Aku melihat meja yang ada di sampingku. Ada semangkuk bubur dan juga susu. Aku memegangnya dan masih hangat. Ada sebuah kertas di samping mangkuk bubur.

Taehyung-ah, aku sudah membuatkan bubur dan juga susu hangat untukmu.

Makan dan minumlah selagi hangat agar kau tidak merasakan pusing atau mual lagi.

Aku pulang dulu ne. Jaga kesehatanmu.

Park Min Gi.

Yang melakukan semua ini adalah Min Gi. Entah kenapa ada rasa sedikit penyesalan dan rasa sesak di dalam benakku. Aku kembali teringat kejadian semalam. Kejadian yang sungguh membuatku merasakan sakit yang sangat sakit. Aku mengambil ponselku dan langsung menelfon Min Gi.

“Yeoboseyo, Min Gi-ya” sapaku.

“Ne?” jawabnya.

“Bisakah kita berangkat ke kampus bersama? Aku masih merasakan sakit kepala” pintaku.

“Lebih baik kau tidak usah masuk” jawabnya.

“Hari ini aku ada kuis. Tidak mungkin aku melewatkannya. Ayolah, hanya hari ini saja. Jebal” pintaku.

“Baiklah. 20 menit lagi aku akan tiba di rumahmu” jawab Min Gi.

Aku menutup telfonku lalu memakan bubur yang sudah dibuatkan oleh Min Gi dan tidak lupa meminum susu. Setelah selesai aku langsung bersiap – siap untuk menuju kampus dan menunggu Min Gi menjemputku.

Aku sudah dalam perjalanan menuju kampusku bersama Min Gi. Kini sudah memasuki pelataran kampus dan Min Gi sudah memarkirkan mobilnya. Aku keluar dari mobil Min Gi dan berjalan beriringan dengan Min Gi untuk masuk ke dalam kelas. Aku, Hyo Rae, dan Min Gi memang berada di kelas yang sama.

“Taehyung-ah, bisa kita berbicara sebentar?” seseorang menghentikanku dan juga Min Gi.

“Ada apa?” tanyaku padanya.

“Ikut aku” ajaknya.

Aku mengikutinya menuju taman kampus kami. Kami duduk di bawah pohon yang rindang dengan semilir angin musim dingin menyapa kami di sini.

“Memangnya sekarang kau menganggap aku apa, Taehyung-ah?” tanyanya.

“Adik. Hanya adik” jawabku.

“Tapi aku mencintaimu, Taehyung-ah. Untuk yang semalam aku tidak bermaksud untuk…” dia tidak melanjutkan kata – katanya.

“Untuk apa? Sudah selesai berbicaranya?” tanyaku.

“Mengapa kau menjadi seperti ini setelah tau semuanya? Mengapa?!” dia mulai menangis.

“Untuk apa kau menangis? Kita adalah adik dan kakak sekarang dan aku menyesal telah berpacaran denganmu, Rae-ya” kataku.

“Kau jahat, Taehyung-ah” Hyo Rae melepaskan kalung pemberianku lalu melemparkan kalung itu padaku dan pergi meninggalkanku.

‘Kenapa kau melepaskannya Rae? Kenapa?’ batinku.

 

-Hyo Rae POV-

Aku melemparkan kalung pemberiannya di taman kampus kami. Aku berlari menuju gerbang kampus kami dan berniat pergi ke suatu tempat yang sepi agar aku dapat menyendiri. Seseorang tetap memanggilku dan aku menghiraukannya.

“Rae, awas! Kau bisa tertabrak nanti!” teriak seseorang.

Aku sangat hafal dan tahu siapa pemilik suara itu. Suara itu adalah milik mantan kekasihku, ah bukan, dia adalah kakakku, Kim Taehyung. Aku tidak menghiraukan suaranya ataupun peringatannya. Aku terus berlari menuju gerbang kampus kami. Banyak orang yang berteriak untuk memperingatkanku namun aku menghiraukan semuanya. Fikiranku sudah tidak dapat terkontrol lagi. Hingga aku berhenti tepat saat ada suara klakson mobil.

Aku merasakan sesuatu telah menabrakku. Aku seperti terbang. Aku masih dapat melihat walaupun samar – samar. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Mengapa banyak sekali orang – orang di sekitarku? Dan mengapa aku melihat Taehyung menangis? Ada apa? Siapa yang membuatnya menangis? Apakah itu aku yang membuatnya menangis? Ah tidak mungkin. Aku telah menyakitinya.

Pandanganku mulai samar – samar dan kini telah berubah menjadi hitam. Aku seperti tidak sadarkan diri saat ini.

 

———-2 bulan kemudian———-

Aku terbangun dari mimpi burukku selama ini. Apa yang telah terjadi? Dan aku ada dimana saat ini? Aku mulai membuka mataku perlahan dan mulai menggerakkan jariku. Aku berada di ruangan serba putih dan tanganku seperti di infus.

Aku melihat seseorang yang berada di sampingku. Dia sedang tertidur lelap. Apa dia Taehyung? Ah itu tidak mungkin. Dia tidak mungkin menemaniku di sini. Aku bermimpi banyak hal selama ini.

“Rae-ya, kau sudah siuman? Syukurlah!” orang itu sangat senang melihatku membuka mataku.

“Taehyung-ah, Min Gi-ya, eomonim!” seru orang itu.

Aku masih belum bisa melihat dengan jelas. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Dan aku mulai mengetahui siapa seseorang yang berseru tadi.

“Jungkook-ah?” panggilku pelan.

“Ne, ada apa? Aku ada di sini, Rae-ya” jawab Jungkook.

Ya, seseorang itu adalah Jungkook. Sahabatku dan juga sahabat Taehyung.

“Taehyung…” kataku pelan.

“Tunggu sebentar” jawab Jungkook.

Jungkook keluar dari kamar dan memanggil Taehyung. Tak berapa lama, Taehyung masuk ke dalam kamar. Kini hanya ada aku dan Taehyung.

“Rae-ya, syukurlah akhirnya kau siuman” kata Taehyung sambil tersenyum.

‘Akhirnya aku bisa melihat senyumannya lagi’ batinku.

“Kau sudah 2 bulan koma. Aku sangat khawatir padamu. Tetapi Jungkook yang lebih khawatir padamu. Aku sudah menjelaskan semuanya pada ibumu dan juga Jungkook. Tentang kita, dan kebenaran identitasku” jelas Taehyung.

Aku menatapnya tidak percaya.

“Tenang saja. Hanya mereka dan Min Gi yang tahu” lanjutnya.

Aku meminta Taehyung untuk lebih mendekat padaku dan dia menurutinya. Aku menggenggam tangannya. Masih sama seperti dulu, hangat.

“Mianhae. Sekarang aku mengerti status kita adalah adik dan kakak. Aku tidak mungkin memaksamu untuk mencintaiku sebagai pria. Dan untuk saat ini, aku sudah bahagia dengan Min Gi. Tolong kau jangan salah paham padanya. Bukan dia yang merusak hubungan kita. Tapi dia yang memintaku untuk mempertahankan status kita sebagai adik dan kakak bukan sebagai mantan kekasih. Maaf jika aku membuatmu sakit hati dan kecewa padaku. Itu semua aku lakukan agar kau membenciku dan melihatku sebagai seorang kakak. Hari itu aku sengaja datang bersama Min Gi ke kampus dan jalan berdua bersamanya. Itu aku lakukan untuk membuatmu benci padaku. Aku mengejarmu untuk memperingatkanmu bahwa kau jalan ke jalan raya dan banyak mobil melintas. Dan juga… untuk memberikan ini padamu” jelasnya sambil menunjukkan kembali kalung berliontin kupu – kupu yang waktu itu aku lempar padanya.

“Ini yang mewakili perasaanku selama 2 tahun. Aku bahagia bersamamu, Rae. Tapi selama 2 tahun itu aku telah menyakiti 2 hati” aku menatap Taehyung heran.

“Aku telah menyakiti hati Min Gi dan juga Jungkook. Kau tahu? Selama kita berpacaran dulu, Jungkook menyayangimu sebagai seorang wanita bukan sebagai sahabat. Dan Min Gi, dia selalu ada untukku ketika kau lebih senang bermain dengan Jungkook. Mian, aku hanya ingin kau bahagia dengan seseorang yang tulus sayang padamu seperti Jungkook. Dan aku mohon, kembalilah memakai kalung dariku. Anggap saja ini hadiah siumanmu dariku sebagai seorang kakak” pinta Taehyung.

Aku meneteskan air mataku setelah mendengar semua penjelasan Taehyung.

“Kumohon jangan menangis. Aku menjadi lebih sakit melihat kau menangis seperti ini” kata Taehyung.

“Jangan membuatku berfikiran bahwa aku adalah seorang kakak yang jahat pada adiknya” pinta Taehyung.

“Apa kau mau memakai kalung dariku kembali?” tanya Taehyung dan aku membalasnya hanya dengan sebuah anggukkan.

Taehyung memasangkan kalung itu pada leherku. Aroma tubuh Taehyung masih sama dengan yang dulu. Aroma maskulinnya.

‘Tuhan, apakah aku jahat ketika aku menginginkan pria yang statusnya kakakku itu tidak bahagia bersama wanita lain?’ batinku.

“Apa kalian sudah selesai berbicara?” tanya Jungkook yang baru saja masuk ke kamarku.

“Sudah. Aku harus pergi sekarang. Kau jaga adikku, ne?” kata Taehyung.

“Tentu saja!” sahut Jungkook semangat.

“Hey” sapa Jungkook dan aku membalasnya dengan senyuman.

“Aku sudah mendengar semuanya dari Taehyung. Bahwa dia adalah kakakmu”  kata Jungkook lalu duduk di sampingku.

“Mian, aku memang pria bodoh yang tidak pernah memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya. Sesungguhnya, aku menyayangimu. Bukan sebagai seorang sahabat melainkan sebagai seorang wanita. Kau tahu? Aku sudah memendam perasaan ini sejak aku bertemu denganmu. Ani, maksudku sejak bermain dan bercanda bersamamu. Sebelum kau bertemu dengan Taehyung. Namun aku kalah cepat dari Taehyung. Ah apa kau haus?” jelasnya dan aku menganggukkan kepalaku.

Jungkook membantu posisiku menjadi duduk dan memberikan segelas air padaku. Aku meminumnya melalui sedotan yang diberikan oleh Jungkook.

“Sejujurnya aku merasa sangat kecewa dan terluka begitu aku tahu bahwa kau berpacaran dengan Taehyung. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun karena kau juga mencintainya. Dan semenjak aku tahu bahwa Taehyung dan Min Gi berada di bar berdua malam itu, aku menjadi sangat kesal dan ingin marah padanya. Sampai pada akhirnya aku menghampirinya di rumah sakit ini dan menemuinya. Mungkin aku bertindak secara spontan untuk menemuinya karena hatiku dan fikiranku berkata bahwa orang yang aku cintai telah di sakiti” jelas Jungkook.

Aku menatap lekat – lekat mata Jungkook. Aku mencari – cari sisi kebohongan dari Jungkook namun hasilnya nihil. Aku tidak menemukan kebohongannya. Dia jujur. Dia menceritakan semua ini jujur dari hatinya. Apa yang harus aku perbuat? Aku harus melupakan Taehyung dan menerima Taehyung sebagai kakakku.

“Baiklah. Mungkin kau tidak mencintaiku dan sekarang sudah saatnya kau beristirahat lagi” kata Jungkook yang berdiri dari tempat duduknya lalu bersiap meninggalkan ruangan ini.

Dengan cepat aku menahan tangan Jungkook. Dan menatapnya.

“Ada apa?” tanya Jungkook mendekatiku.

“Jangan… tinggalkan aku. Jebal” pintaku.

“Baiklah. Apa kau lapar? Aku bisa meminta makanan pada suster nanti” kata Jungkook dan aku menggelengkan kepalaku.

“Tetaplah di sisiku” kataku.

“Ne?” tanyanya.

“Bantu aku untuk melupakan dan menghilangkan perasaanku pada kakakku” kataku.

“Aku tidak yakin aku bisa” jawab Jungkook.

“Aku yakin bahwa hanya kau lah yang bisa, Jungkook-ah” kataku menatapnya.

“Jika kau yang meminta, akan aku lakukan apapun untukmu, Rae-ya. Aku mencintaimu” kata Jungkook.

“Ah kau tidak perlu membalas perasaanku sekarang. Aku harus berusaha membuatmu lupa dengan Taehyung dan bahagia bersamaku dengan caraku sendiri” lanjut Jungkook dan aku tersenyum.

‘Terima kasih Tuhan, kau telah mengirimkan seseorang yang aku butuhkan’ batinku.

THE END…

2 responses to “Hidden Identity

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s