[Twoshots #1] Friend(zoned) | Eddy Ver.

friend(zoned)

(poster by: castorpollux@artzone)

Title : Friend(zoned)

Author : Atatakai-chan

Length : Twoshots

Genre : AUFriendship, Romance

Rating : G

Starring
JJCC Eddy as Oh Jongseok/Eddy Oh

OC as Kim Hyemin
JJCC Simba as Kim Youngjin (mentioned)

[ketika aku melihatnya di jalan menandakan flashback.
Selamat membaca ^^]

Hai namaku adalah Oh Jongseok —itu nama Koreaku, nama lahirku adalah Edward Young Oh— Orang-orang yang dekat denganku biasa memanggilku Eddy.

Aku lahir dan dibesarkan di Amerika sehingga ketika dua tahun lalu aku pindah ke Korea aku benar-benar merasa kesulitan. Bukan karena masalah bahasa saja, tetapi masalah adat-budaya juga. Aku ingat betapa sulitnya mencari teman ketika itu —maklum saja, waktu itu ‘kan untuk berkomunikasi saja susah.

Tapi itu dua tahun lalu. Sekarang aku sudah mempunyai cukup banyak teman. Dan mereka semua orang baik-baik.

Perempuan yang duduk di hadapanku ini adalah satu-satunya orang yang dekatku dengan jenis kelamin perempuan. Namanya Kim Hyemin. Usia kami hanya terpaut 2 bulan di mana aku jauh lebih tua darinya.

“Jongseok-ah! Kau nanti janjian jam berapa?”

Untuk sesaat aku terdiam, mencoba mencerna pertanyaannya. Aku ini orang yang tidak bisa berfokus kepada dua hal secara bersamaan —dan sesaat lalu aku tengah fokus pada rambut Hyemin yang kini panjangnya sebahu.

“…. Ya?” Aku mencoba membuatnya mengulangi pertanyaan.

Ini tidak baik. Aku sangat terlalu fokus pada rambut barunya. Ia tampak lebih dewasa dengan rambut pendek.

“Kau ini sedang memikirkan apa ‘sih?” Hyemin tertawa seraya mengetuk-ngetuk keningnku dengan jari telunjuknya.

“Maaf, aku tidak konsentrasi Hyemin hahaha. Tadi kau bertanya apa?” Aku menyingkirkan tangannya dari wajahku.

Ironisnya, satu-satunya perempuan di lingkungan pertemananku ini juga adalah cinta pertamaku. Kalau dihitung-hitung sudah kurang lebih selama 20 bulan aku menaruh perasaan padanya.

“Kau nanti ada janji jam berapa dengan Youngjin? Kau bilang hari ini kau ada janji kan dengannya?”

Aku menarik napas perlahan kemudian menghembuskannya secara perlahan juga. Aku benar-benar lupa kalau hari ini aku ada janji dengan si konyol itu. Sebenarnya ‘sih acara bertemu dengan Hyemin di cafe ini adalah dadakan —ia baru mengajakku untuk bertemu tadi pagi— sementara janji dengan Youngjin sudah direncanakan dari seminggu lalu.

Aigo! Terima kasih sudah mengingatkanku, Hyemin-ya!” Aku bergegas mengeluarkan ponselku untuk melihat jam.

Tiba-tiba saja sebuah ide nakal melintas di benakku. Masih ada sisa waktu 30 menit lagi sebelum waktu pertemuanku dengan Youngjin. Aku berencana mengirim pesan singkat padanya bahwa janji hari ini batal saja.

Aku lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan Hyemin. Setidaknya walaupun bahan obrolan kami sedikit tetapi aku bisa memandangi paras rupawannya.

Baru saja ketika aku hendak membuka kunci pada layar ponsel sebuah tepukan mendarat di pundak sebelah kiriku. Mau tak mau aku menoleh walaupun sebenarnya aku tidak mau karena aku sudah bisa menebak siapa pelakunya.

Benar saja. Di belakangku berdiri Youngjin yang tengah tersenyum lebar. Senyumnya itu tampak sangat bodoh. Daewan sering berkata kalau kapasitas otak Youngjin itu sangat rendah, dan aku setuju.

“Hai Eddy hyung! Hai Hyemin noona!”

Tanpa dipersilakan terlebih dahulu Youngjin langsung duduk begitu saja di sebelahku.

“Halo Youngjin! Apa kabar?” Tanya Hyemin sebagai balasan dari sapaan Youngjin.

Ngapain kau kemari?” Aku dengan sengaja bertanya pada Youngjin sebelum ia sempat menjawab pertanyaan Hyemin —agar ia tahu rasanya diganggu itu seperti apa.

“Hehehe. Kabarku baik-baik saja Hyemin noona, bagaimana denganmu?”

Aku memutar kedua bola mataku ketika ia menjawab pertanyaan Hyemin. Sia-sia aku memotong ucapannya, ia sama sekali tidak merasa terganggu.

Youngjin menyenggol-nyenggol lenganku, “kau ini bertanya apa ‘sih hyung? Tentu saja aku kemari untuk menjeputmu! Kau lupa ya nanti kita ada janji jam empat?”

“Aku ingat ‘kok. Tapi kan masih ada setengah jam lagi. Untuk apa kau menjemputku kemari?”

Aku menghela napas. Seharusnya aku tidak usah memberitahu Youngjin mengenai janjiku dengan Hyemin. Kalau aku tidak memberitahunya mungkin saat ini Youngjin berdiri di depan rumahku seperti orang bodoh —menunggu dibukakan pintu.

“Kau ini ada ponsel tapi tidak pernah dibuka! Aku kan sudah mengirimkan pesan kalau jam janjiannya aku majukan karena nanti aku harus pulang lebih awal. Ada acara.” Youngjin menatapku dengan sebal.

Harusnya aku yang menatapnya seperti itu.

“Eh? Jadi kalian harus pergi sekarang?” Tanya Hyemin.

“Tentu ti-”

Belum selesai aku menjawab, Youngjin sudah menyahut, “iya noona, maaf ya Eddy hyungnya aku bawa pergi dulu.”

“Aku ikut boleh ya?”

Mendengar pertanyaan Hyemin, aku hanya bisa melongo. Tidak biasanya. Dulu setiap kali aku ada janji dengan Youngjin dan aku mengajaknya ia selalu menolak karena ia tahu kami pasti akan bermain basket —dengan bermain basket maka tubuh kami akan berkeringat— dan Hyemin sangat tidak menyukai itu.

Untuk sekejap Youngjin melemparkan tatapannya padaku kemudian ia kembali menatap Hyemin.

“Ah noona sebaiknya ka-”

“Tentu saja kau boleh ikut Hyemin! Ayo! Kita berangkat sekarang sebelum lapangan basketnya terisi semua!” Aku beranjak dari tempat dudukku dengan semangat.

 

oOOo

Sepanjang perjalanan aku dan Hyemin berbincang-bincang mengenai masa lalu sementara Youngjin kubiarkan berkonsentrasi menyetir. Aku tidak mau terjadi kecelakaan apalagi ketika ada Hyemin di dalam mobil bersama kami.

“Kau ingat ketika kita berenam berlibur ke Jeju?” tanya Hyemin.

Aku menganggukan kepalaku. Tentu saja aku ingat. Waktu itu ia mengajak serta temannya, Minhee, yang sekarang sudah berpacaran dengan dengan Chanyul.

“Aku ingat, aku ingat!” Youngjin meyahut. Sangat mengherankan bagaimana bisa ia menyetir sekaligus mendengarkan percakapan kami.

“Waktu itu menyenangkan sekali ‘kan Youngjin, Eddy?”

“Ya. Sangat menyenangkan noona! Aku ingat waktu Eddy hyung nyaris terbawa ombak. Rasanya lucu sekali hahahaha!”

Hyemin ikut tertawa bersama Youngjin. Mereka sangat keterlaluan sekali mengingat hal seperti itu sampai detik ini. Aku langsung berdehem untuk membuat mereka berhenti tertawa namun usahaku itu tidak mempan. Mereka masih terus tertawa bahkan tawa mereka semakin kencang.

“Kalau begitu kapan-kapan kita berlibur bersama lagi ‘yuk,” ajakku. Sebenarnya ajakanku itu hanya kutujukan pada Hyemin.

“… Ah..” Mulut Hyemin terbuka, ia jelas-jelas hendak mengatakan sesuatu.

“Kita sampai!”

Dengan amat mendadak Youngjin mengerem mobil. Kalau saja aku dan Hyemin tidak mengenakan safetybelt mungkin kami berdua sudah terlempar ke depan. Aku langsung menepuk kepala Youngjin, cukup keras, biar saja toh  kapasitas otaknya memang sudah rendah.

“Jangan mengerem mendadak seperti itu, bodoh!” Aku menepuk kepala Youngjin sekali lagi.

“Aduh! Mianhae hyungnim!”

.

.

.

Kami bertiga turun dari mobil dan melangkah memasuki lapangan basket outdoor yang terletak dengan taman kota yang menjadi tempat favoritku untuk berolahraga di pagi hari.

Aku menghela napas lega karena keempat ring masih kosong. Kalau saja kami datang lima belas menit lebih lambat pasti lapangan sudah penuh. Aku dan Youngjin langsung memulai permainan sementara Hyemin duduk di pinggir lapangan.

Aku sangat bersemangat. Bukan hanya karena Hyemin ingin ikut dengan kami saja. Ada alasan lain yang membuatku sangat bersemangat hari ini…

 

 

Eddy tengah membuka kunci rumahnya ketika ia merasakan ponselnya bergetar. Setelah ia berhasil membuka kunci rumah barulah ia merogoh saku dan mengeluarkan ponsel.

Pada layar ponsel terpampang tanda adanya 10 missed call, 6 diantaranya adalah panggilan dari Youngjin, 4 lainnya dari ibunya dan Hyemin —masing-masing dua panggilan. Tidak sampai di situ saja, ketika Eddy mengscroll notifikasi tab yang muncul pada layar ponselnya, ia mendapatkan notifikasi dari 4 pesan masuk.

Eddy membuka inbox ponselnya dan membaca pesan paling atas terlebih dahulu. Itu berasal dari Hyemin. Pesan itu berisi ajakan untuk bertemu pada sore hari pukul tiga di cafe langganan mereka. Setelah membalas pesan tersebut dengan persetujuan, Eddy membuka pesan yang tepat berada di bawah pesan dari Hyemin tadi.

Itu dari ibunya. Ibunya menyuruhnya berbelanja untuk bahan makan malam karena ibunya akan pulang cukup sore dan tidak mau mampir dulu ke market. Pesan-pesan berikutnya juga berasal dari ibunya, hanya saja pesan pertama menanyakan dimana ia sekarang dan pesan berikutnya menanyakan apakah ia bisa pergi berbelanja setelah pulang olahraga pagi.

Eddy membalas pesan dari ibunya dengan persetujuan juga. Setelah itu ia bergegas mandi karena kalau sudah terlalu siang bahan-bahan fresh di market akan berkurang.

.

.

.

Eddy memasuki market dan mulai memasukkan bahan-bahan yang tertulis dalam daftar berlanjaan ke dalam keranjang. Ia menelusuri market secara perlahan karena ia tidak mau melewatkan satu bahanpun yang tertera pada daftar belanjaan.

Konstenrasi Eddy yang semula penuh mulai membuyar ketika ia melihat sosok Hyemin sedang berada di sisi lainnya dari market. Walaupun jarak mereka cukup berjauhan tetapi Eddy dapat melihat barang-barang yang ada di dalam keranjang Hyemin —dan ia berkesimpulan bahwa Hyemin akan membuat cokelat.

Eddy mengurungkan niatnya untuk menyapa Hyemin karena ia hapal bagaimana Hyemin adalah seseorang yang paling tidak suka diganggu apabila sedang mengerjakan sesuatu. Ia kembali melanjutkan kegiatannya membeli belanjaan yang dipesan oleh ibunya.

.

.

.

Dengan dua kantung belanjaan masing-masing satu di setiap tangannya, Eddy berjalan keluar dari market, menyusuri trotoar yang akan langsung mengarahkannya ke rumah. 

Di perempatan jalan ia berhenti untuk menunggu lampu lalu lintas berwarna merah. Tiba-tiba saja ia merasakan pundaknya ditepuk. Ia langsung menoleh dan mendapati Hyemin yang tengah tersenyum bediri di belakangnya.

“Oh, hey Hyemin! Ada apa?”

“Kebetulan sekali aku bertemu denganmu di sini! Ayo ikut aku!” Tanpa menunggu lebih lama lagi Hyemin menarik lengan Eddy agar lelaki itu mengikutinya.

“Eh, eh! Kita mau kemana Hyemin?”

“Sudah pokoknya ikuti aku! Hanya sebentar ‘kok tidak akan lama. Aku berjanji!” 

Hyemin menarik Eddy memasuki sebuah toko pakaian. Keduanya disambut ramah oleh pegawai toko.

“Nah! Ukuran tubuhnya sebesar ini! Apa ada?” Tanya Hyemin pada salah satu pegawai toko.

“Ah, sebentar nona. Biar saya ukur dulu.” Sang pegawai pun mengeluarkan alat ukur pakaian dan mulai  mengukur tubuh Eddy.

“Kok ini rasanya seperti sedang fitting pakaian?” Ujar Eddy sembari tertawa.

“Ini memang fitting pakaian kok Eddy” sahut Hyemin sembari tersenyum.

.

.

.

“Eddy, nanti jangan lupa ya, jam tiga!” Ujar Hyemin seraya mengantarkan Eddy berjalan keluar toko.

“Oh, oke, tentu saja aku tidak akan lupa ‘kok.” Eddy menyahut dengan senyum menghiasi wajahnya.

“Benar ya! Awas lupa. Karena ini sangat penting…” 

“Sepenting apa?” goda Eddy.

Hyemin menghela napas sebelum menjawab, “sangat penting. Ini mengenai kita.”

 

 

Aku mengingat kejadian tadi pagi, yang sangat indah itu. Pikiranku bahkan tidak berada di sini saat ini sehingga Youngjin berhasil mencetak angka pertamanya.

“Ayo dong hyung main yang serius hahaha!” Ujar Youngjin seraya melemparkan bola basket padaku.

Aku menerima lemparannya dan mulai mendribble. Kulihat samping kanan lapangan, di sana Hyemin tengah duduk sembari menatap ke arah kami. Senyum menghiasi wajahnya, dan itu langsung menular padaku.

“Hyemin-ah! Kau tampak cantik hari ini dengan potongan rambut itu! Aku akan mencetak sembilan angka untukmu!”

Aku rasa baik-baik saja terang-terangan seperti ini karena sebentar lagi kami akan jadian.

 

oOOo

Saat ini Hyemin sedang berada di kamar kecil. Aku dan Youngjin memutuskan untuk menunggunya di dalam mobil. Dalam sepanjang perjalanan kami menuju ke mobil, tidak ada satupun di antara kami yang bersuara.

Aku rasa Youngjin kesal karena ia lagi-lagi kalah. Lihat saja eskpresinya yang murung itu. Aku menepuk-nepuk pundaknya.

“Sudahlah, hanya permainan ‘kok. Jangan diambil hati.” Ujarku.

Harus kuakui kadang Youngjin memanglah sangat menyebalkan namun di sisi lain ia sudah aku anggap seperti adikku sendiri.

“… Hyung, ada yang ingin aku bicarakan.” Youngjin berkata setelah kami bedua ada di dalam mobil.

“Tentang?”

“Hyemin noona.”

Aku tersenyum, “kenapa dengan Hyemin? Ia tampak cantik ‘kan hari ini?”

“Ini bukan te-“

“Sial! Kenapa tidak dari dulu saja ia memotong rambutnya seperti itu? Aku benar-benar ter-“

HYUNG! DENGARKAN AKU!”

Aku tersentak ketika kudengar suara Youngjin lebih menggelegar dari biasanya. Dadanya naik-turun, ia tampaknya marah karena aku memotong perkataannya.

“Dengarkan aku…” Ia kembali berujar.

“Hyemin noo-“

Kali ini ucapannya terpotong oleh pintu mobil yang dibuka oleh Hyemin. Ia kemudian menatap kami berdua.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Tanyanya seraya memasuki mobil.

Ani, bukan a-“

“Kami tadi membicarakan betapa cantiknya kau, Hyemin.” Potongku.

Hyemin tertawa kecil kemudian memukul pelan lenganku, “kau bisa saja Eddy.”

Aku hanya memberikan cengiran sebagai balasan.

“Eh, iya, Youngjin. Kau bisa antar kami dulu ke cafe tadi? Urusanku dan Eddy belum selesai.”

Aku dapat mendengar debaran jantungku sendiri. Tidak pernah sekalipun di dalam mimpi aku memimpikan hal ini. Semua lelaki pasti sama —tidak akan ada lelaki yang dapat menyangka bahwa perempuannya lah yang menyatakan perasaan lebih dulu.

Kalau sudah begini, sebaiknya aku pura-pura tidak tahu ‘kan? Semua perempuan pasti tidak suka kalau rencana mereka berantakan —aku tahu itu karena ibuku dan adikku juga seperti itu. Mereka akan berada dalam mood yang super buruk apabila rencana mereka tidak berjalan sesuai dengan keinginan mereka.

Ne.” Youngjin menjawab singkat seraya menyalakan mesin mobil.

oOOo

Aku dan Hyemin turun dari mobil. Aku membalikan tubuhku untuk mengucapkan terima kasih pada Youngjin namun ia malah turun juga dari mobil setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir cafe. Aku pikir ia ada acara.

Tapi aku tak mau terlalu mengambil pusing memikirkan urusan orang lain. Aku saja saat ini tidak tahu harus berbuat apa. Aku dan Hyemin sudah memasuki cafe dan kami berdua duduk di tempat duduk yang berada tak jauh dari pintu masuk.

“Tunggu sebentar ya Eddy. Aku mau ke toilet dulu.” Hyemin berdiri dan meletakan tasnya di atas meja.

“Lagi?” Tanyaku setengah menggoda.

Hyemin cemberut untuk beberapa detik dan di detik berikutnya ia tersenyum, “ini karena aku sangat tegang tahu” ujarnya kemudian tertawa.

“Hahaha! Dasar kau ini. Padahal ‘kan ini hanya aku, kau tidak perlu tegang Hyemin. Sana, cepat ke toilet!”

Ia mengangguk sebelum berjalan cepat menuju ke toilet.

Aku tersenyum memperhatikannya dari belakang. Tak kusangka ternyata ia juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Coba saja ia mengatakannya dari awal, pasti aku tidak akan membiarkannya menjadi orang yang menyatakan perasaan.

Pintu cafe terbuka, Youngjin memasuki cafe. Ekspresinya masih murung. Aku benar-benar khawatir. Apa jangan-jangan ia sakit? Tidak pernah selama dua tahun aku berteman dengannya aku melihatnya berdiam diri seperti ini.

“Youngjin-ah, kau baik-baik saja?” Tanyaku.

Ia hanya mengangguk sebelum ia duduk di sebelahku. Aku dapat mendengarnya menghela napas.

“Kau tidak terluka ‘kan saat bermain basket tadi?”

Youngjin menggelengkan kepalanya, “aku baik-baik saja hyung.”

“Tapi ka-“

“Aku kembali!”

Pandanganku yang semula tertuju pada Youngjin kini teralih pada Hyemin yang sudah dengan manis duduk di hadapanku. Ia membuka resleting tasnya dan mengeluarkan dua buah kotak yang ia kemas dengan rapi.

Aku mengulurkan tanganku menuju salah satu kotak yang sebentar lagi menjadi milikku itu. Namun aku kaget ketika tiba-tiba saja Hyemin menepuk tangannku dengan keras sehingga suara tepukannya terdengar nyaring.

Aku merasakan sakit pada punggung tanganku.

“Kenapa?” Tanyaku.

“M-maaf. Aku tidak bermaksud memukulmu begitu keras Eddy. Hanya saja aku butuh waktu berjam-jam untuk membuatnya serapi itu, jadi aku tidak ingin aku merusaknya…” Hyemin menggigiti bibir bawahnya.

“Oh hahha. Tidak apa-apa ‘kok.” Sahutku sembari tesenyum.

Rasa sakit pada punggung tanganku ini tak seberapa. Bahkan tidak setengahnya dari rasa tersiksa menyimpan perasaan yang aku miliki terhadap Hyemin.

“Jadi begini… Yang ingin kubicarakan itu…”

Aku menarik napas, aku gugup. Aku mempersigap posisi dudukku untuk menghilangkan rasa gugup yang kurasakan. Dengan sabar aku menantikan kata-kata yang sudah lama kutunggu itu keluar dari mulut Hyemin.

“… Mungkin hari ini hari terakhir kita bertemu sebelum aku pindah ke Los Angeles.”

“Eh?” Apa yang diucapkan Hyemin barusan membuatku kaget sekaligus bingung. Aku sama sekali belum siap kalau harus menjalani long distance relationship. Aku membutuhkannya berada di sampingku selama 24 jam sehari.

“A-aku… Maafkan aku. Seharusnya aku mengatakan ini lebih awal tetapi semuanya sangat mendadak. Ia bilang akan menjemputku hari ini untuk ikut tinggal besamanya di Los Angeles.”

Debaran jantungku melemah. Aku bahkan dapat merasakannya seolah berhenti.

“Tinggal bersama? Di Los Angeles? Kalian pacaran saja belum. Kenapa mau?” Tanya Youngjin.

“Sudah… Kemarin malam.”

Aku sendiri tak tahu mengapa tetapi tawa meluncur keluar dari mulutku.

“Wow,” ujarku.

“Ini… Tentang siapa?” Tanyaku pada keduanya. Aku tidak peduli siapa yang menjawab, yang penting aku ingin tahu ada apa sebenarnya.

Aku dapat melihat Hyemin dan Youngjin saling berpandangan untuk beberapa saat. Keduanya seolah saling menanyakan ‘apa ia belum tahu’ pada satu sama lain lewat tatapan mata.

Guys, sungguh. Aku bukan orang yang pelupa dan aku tahu betul kalian belum pernah menceritakan tentang ini, atau orang ini padaku. Satu-satunya di antara kita berenam yang kutahu ada sangkut pautnya dengan Los Angeles adalah diriku.” Ujarku.

Keduanya tidak ada yang menyahut sehingga aku menghela napas cukup kencang yang menghasilkan suara yang tak kalah kencang. Kemudian aku tertawa.

“Baiklah, baiklah. Lupakan saja. Tidak apa-apa.” Aku berusaha menutupi rasa kecewaku.

Kecewa karena aku didahului oleh orang lain.

Kecewa karena urusan penting yang dimaksud Hyemin bukanlah soal menyatakan perasaan.

Kecewa karena aku tidak diberitahu —seolah aku ini bukan siapa-siapa, bukan orang yang patut diberitahu.

“Jadi… Hanya itu saja yang ingin kau bicarakan denganku Hyemin?” Aku menatapnya.

Kalau saja ia menatapku lebih dalam, ia bisa melihat betapa hancurnya aku.

“T-tidak ‘sih,bukan itu saja. A-aku… Aku hanya ingin menyampaikan padamu kalau aku ingin terus berteman denganm-“

“Ah iya tentu saja. Kita akan terus berteman walaupun kau tinggal di Los Angeles dan aku tinggal di Seoul. Jangan khawatir.” Potongku.

Aku memberikannya senyum palsu dan ia tidak menyadarinya sama sekali. Ia balas tersenyum padaku —senyum yang amat tulus.

“Terima kasih, Eddy” Hyemin meraih tanganku dan menggenggamnya erat.

Biarlah.

Mungkin ini juga saat terakhirku melihatnya tesenyum bahagia.

Siapa tahu bahu lelaki yang mengajaknya tinggal di Los Angeles itu dapat menggantikan bahuku yang selalu menjadi sandarannya ketika ia menangis setelah mengalami konflik dengan ibunya. Siapa tahu ia melupakan temannya karena cinta.

“Bagaimana Youngjin? Apa pesawat yang ditumpangi Joohyun sudah hampir tiba?”

Youngjin menggeleng. Pandangannya masih tertuju pada layar ponsel, “belum. Di jadwalnya delay selama setengah jam.”

“Ah, baiklah. Kita berangkat menjemput ia lima menit lagi saja…”

“Eddy? Apa kau mau ikut?” Hyemin menatap ke arahku.

Biasanya, aku tak pernah menjawab tidak baik pada pertanyaan maupun permintaannya. Tetapi, mungkin ini sudah saatnya bagiku untuk belajar mengatakan tidak.

“Maaf Hyemin. Aku tidak bisa. Ibuku pulang agak terlambat hari ini dan harus ada yang memberi makan Bow,” aku berbohong. Ini adalah kali pertamanya aku berbohong pada Hyemin.

“Aku rasa sebaiknya aku pulang sekarang.” Aku berdiri.

“Titip salam pada pria yang ukuran tubuhnya sama denganku itu ya hahaha!” Aku melambai pada Hyemin sebelum berjalan keluar dari cafe.

Aku menengadah melihat langit. Langit sore tampak lebih cerah dari biasanya. Aku harus cepat sampai ke rumah karena nampaknya tidak akan ada air hujan yang bisa menutupi kesedihanku.


author’s note:
Halo bertemu lagi dengan Atatakai-chan😀
Oh iya aku ada pengumuman nih buat kalian semua. Aku lagi mengadakan event (ada hadiahnya lho!)
Untuk keterangan lebih lanjut silakan cek (x)
Thank you❤

4 responses to “[Twoshots #1] Friend(zoned) | Eddy Ver.

  1. Pingback: [Twoshots #1] Friend(zoned) | Eddy Ver. — FFindo | Wendy's·

    • Eddy muka tebel *eh hahaha ya tapi mungkin si Hyemin terlalu nempel sama dia gitu sampai dia ga nyangka ternyata Hyemin udah kecantol sama cowo lain T-T #kokjadiakuyangsedih

      Thank you so much ya sudah mau baca dan berkomentar ^^❤
      Mohon ditunggu bagian kedua dari Friend(zoned)

  2. Pingback: [Twoshots #2] Friend(zoned) | Simba Ver. – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s