Everything is Late – Chapter 1

everything-is-late

Title : Everything is Late

Author : QiinkYheoh

Poster : AYUIEO

Rating : PG – 16

Genre : AU, Friendship, Romance, Family

Length : Chapters

Casts:

  • Catherine Yoo
  • Kris Wu – Wu Fan
  • Choi Minho – Elias Choi
  • Yoo Seungho – Brian Yoo

Disclaimer:

This story belongs to me. You guys don’t have any right to re-post it with my permissions. Jika terdapat persamaan tempat, alur cerita dan tokoh , itu sah sebuah ketidak sengajaan. Tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun.

Chapter 1

Story Begins

Catherine mempertajam indera pendengarannya ketika melihat Ayahnya yang membuka mulut, mengucapkan beberapa kata yang tidak ingin didengarnya.

Seseorang yang amat dibencinya, menatapnya dengan penuh kemenangan. Ia berdecak, tidak terima dengan keputusan yang dianjurkan oleh seseorang itu pada Ayahnya. Dan parahnya, Ayahnya menerima keputusannya untuk menerima tunangan itu. Oh! Betapa sialnya hidup Catherine ini.

“Cat, kau akan segera bertemu dengannya, apakah kau senang?” Ayah bertanya pada Catherine dengan nada yang penuh godaan dan itu membuatnya membenci Ayahnya, sangat.

Catherine berhenti menguyah makanannya seraya meletakkan kembali garpu dan sendok yang semula masih dipegangnya, di atas piring. Ia mengelap sudut bibirnya dengan sebuah sapu tangan yang tadinya diletakkan di samping piring yang mengisi makanannya secara perlahan.

Wanita itu menyeringai sembari menatap Catherine dengan penuh…. Something that she can’t describe with words, but you’ll understand if you were her.

Catherine bangkit dari duduknya hendak meninggalkan Ayahnya dan wanita itu sebelum ia mendapatkan teguran dari Ayahnya. Ayah menyuruhnya untuk kembali duduk tenang karena masih ada yang ingin dibicarakannya pada Catherine yang sama sekali tidak dihiraukannya, ia hanya memasang ekspresi datar, acuh. Siapa peduli? Persentan dengan semua itu, pikirnya.

“Aku sudah kenyang.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Catherine langsung meninggalkan mereka dan masuk kembali ke kamarnya yang berada di lantai dua.

***

Catherine merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya. Ia berguling ke samping dan mendapati sebuah boneka yang warnanya sudah pudar sebelum kemudian mengulurkan tangannya untuk meraih boneka itu. Tanpa disadarinya, kedua tangannya sudah mulai mengelus bulu-bulu boneka itu dan air matanya keluar perlahan melalui kedua sudut mata membasahi sebagian wajahnya.

Ia mendekap boneka itu dan semakin terisak. Tidak tahu kenapa ia selalu tidak bisa melupakan kejadian itu. Ia masih mengingat jelas ekspresi tegas  Ibunya ketika hendak meninggalkannya bersama Ayah dan juga tatapan sendu dari Brian.

***

“Ibu, jangan tinggalkan aku, please! Jangan tinggalkan aku!” Catherine berteriak begitu Ibunya menarik tangan Brian, menyuruhnya untuk mengikuti langkah lebarnya. “Brian, please, jangan tinggalkan aku!” serunya lagi.

“Cat! Catherine! Ibu, biarkan Cat ikut dengan kita, kumohon, Bu.” Catherine masih bisa mendengar seruan permohonan Brian pada Ibunya, namun Ibu tidak menghiraukannya, dia terus menarik tangan Brian untuk menjauh dari Catherine.

Ayah keluar dari kamar dengan tergesa-gesa menghampiri Catherine yang menangis tersedu-sedu. Ia merengkuh tubuh mungil Catherine ke dalam pelukan hangatnya, namun Catherine meronta-ronta ingin dilepaskan, ia ingin menyusul Brian yang sudah sampai di depan pintu rumah mereka.

Cat menarik kembali tubuhnya dari pelukan Ayah dan berlari menghampiri Brian, namun Ayahnya menahan tubuhnya dari belakang membuat tangisannya semakin kuat.

“Cat, tolong dengarkan Ayah, Ibu tidak ingin hidup bersama kita lagi. Dia memilih untuk meninggalkan kita, jadi kau harus melupakannya,” ujar Ayah dengan pelan sembari mengelus rambut Cat dengan penuh kasih sayang seolah ingin menenangkannya.

Catherine berhenti meronta, namun air matanya masih tidak berhenti mengalir, ia terus menatap punggung Brian dan Ibunya yang semakin mengecil hingga lenyap dari pandangannya. “Kenapa, Ayah?” lirih Catherine sebelum ia tertidur dalam pelukan Ayahnya.

***

Catherine tersenyum pahit begitu kenangan yang sudah seharusnya dilupakannya selesai berputar dalam pikirannya. Yeah, aku harus melupakan mereka. Mereka yang meninggalkan kami, kenapa aku harus menunggu mereka lagi? Mereka pasti sudah melupakanku dan Ayah.

Ia menghapus sisa-sisa air mata dengan jemarinya dengan kasar sebelum kemudian bangkit dari ranjangnya menuju balkon kamarnya.

Ia merentangkan kedua lengannya sembari menarik napas panjang yang kemudian dihembuskan perlahan. Ia mendongakkan kepalanya menatap langit hitam di malam hari, tidak ada bintang yang menghiasi di atas, hanya ada bulan yang setia menemani langit yang terlihat begitu kesepian.

Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku hotpants dan menyentuh layar ponselnya sebelum kemudian menyentuh beberapa digit nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala.

Hello, dear!” seru seseorang di seberang sana, ia, Elias Lee, seorang pemuda tampan, blasteran Korea-America, sama seperti Catherine. Elias adalah kekasihnya selama dua tahun belakangan ini. Selama ini, hubungan mereka bisa dikatakan sangat baik karena Elias yang selalu bisa memahami Catherine, selalu mengetahui apa yang dipikirkannya, yang diinginkannya. Mereka tidak pernah bertengkar karena hal-hal yang sepele, tentu saja. Perhatian-perhatian sekecil apapun dari Elias selalu bisa membuat hati Catherine tersentuh. Yeah,  Catherine sangat menyukainya.

“Ada yang ingin kukatakan padamu. Kapan kau punya waktu luang? Bagaimana dengan besok?” tanya Catherine to-the-point­.

Elias sepertinya sedang berpikir di seberang sana sebelum kemudian menjawab, “ok, tempat biasa, bukan?”

Ya.” Catherine menganggukkan kepalanya meski ia tahu Elias tidak mungkin bisa melihat reaksinya.

“Sebenarnya aku masih ingin bercerita denganmu, namun sepertinya kau harus tidur sekarang, Dear. Good night and sweet dream.”

You too,” balas Catherine kemudian sebelum ia memutuskan sambungan teleponnya terlebih dahulu.

Catherine kembali menghela napas. Semoga dia bisa memahami kondisiku seperti yang sering dilakukannya, dan semoga dia bisa menerimaku apa adanya, setelah apa yang kukatakan nanti.

***

Aku menatap dua buah kaleng coffee instant yang sempat kubeli dalam perjalanan ke sini. Aku tersenyun tanpa sadar begitu mengingat kembali hal-hal menyenangkan yang pernah terjadi di taman ini. Taman ini memiliki arti tersendiri untukku dan juga Elias. Di sini ia mengenalku. Di sini juga ia menyatakan perasaannya padaku. Kami sering menghabiskan waktu di sini baik hanya sekedar bersantai maupun mengerjakan tugas kuliah.

Aku melambaikan tanganku begitu melihat dia berlari kecil menghampiriku sembari tersenyum manis. Ia memelukku dengan erat begitu duduk di sampingku sebelum kemudian melepaskan pelukannya dan mengambil alih salah satu kaleng coffee yang berada di dalam genggamanku.

“Aku sangat merindukanmu, kau tahu?” ujarnya tanpa rasa malu, tidak seperti diriku yang masih sering merasa malu di hadapannya. Ia bahkan selalu menertawakanku ketika wajahku merona seperti tomat. Hanya berada di sampingnya yang bisa membuatku tersenyum, tertawa lepas, membuatku melupakan semua hal untuk sementara waktu. Aku begitu bersyukur memilikinya di sampingku.

Aku kemudian menggenggam tangannya sembari menatap kedua matanya dengan penuh cinta. “Mari kita kencan,” ujarku dengan tersenyum.

Ia membalas senyumanku sebelum menarikku bangun. “Dengan senang hati, bagaimana kalau kita pergi ke pantai? Sudah lama kita tidak ke sana.”

Aku kembali tersenyum, “kau yang tentukan saja, aku akan menurutimu.”

“Benarkah? Bagaimana kalau aku membawamu ke sebuah tempat terpencil dan menikahimu?”

“Aku akan sangat senang.”

“Sepertinya kau ada masalah? Kau bisa menceritakan padaku.” Elias mengerutkan keningnya dan menatap cemas ke arahku.

“Tidak ada, serius. Apa kau tidak memercayaiku?”

Elias merangkul bahuku dengan erat dan kemudian mencium keningku dengan lembut membuat hatiku sesak. Aku tidak tahu apakah ia akan tetap berada di sampingku setelah apa yang kukatakan nanti. Aku tidak tahu apakah aku sanggup bertahan hidup ketika ia tidak berada dalam duniaku lagi. Elias seperti belahan jiwaku. Aku… Aku… tanpa kusadari kedua mataku memanas membentuk tetesan cairan bening berdesakkan keluar.

“Aku mencintaimu, Cat, sungguh.”

Aku melepas rangkulannya dan menatapnya dengan kedua mataku yang terus mengalirkan air mata. Aku tersenyum sebelum menjinjit dan meraih bibirnya yang tebal. “Aku juga mencintaimu, Elias,” lirihku di sela ciumanku.

***

Kami kini sedang duduk di pinggiran pantai setelah perjalanan yang hampir memakan waktu 2 jam dengan kepalaku yang bersandar di pundaknya, menikmati pemandangan yang ada di hadapan kami. Angin bertiup dengan gemulai membuat rambut depanku sedikit acak karenanya. Elias merangkul pundakku dengan erat, memberiku kehangatan yang hanya diberikannya untukku seorang. Aku tersenyum dalam hati, berharap ia tidak akan meninggalkanku seperti mereka.

Aku menengadah, menatapnya yang sedang memenjamkan kedua matanya. Elias memiliki paras wajah yang hampir mendekati sempurna. Dengan bola matanya yang  besar dan berwarna cokelat sudah sering membuatku iri apalagi ia memiliki hidung yang mancung dan lesung pipi yang membuatnya semakin tampan ketika tertawa. Aku sangat menyukai wajahnya, ia selalu mengejekku ketika mendapatiku yang diam-diam memerhatikannya, tidak jarang ia mengatakan bahwa ia akan memberiku apa yang kuinginkan darinya meski itu mustahil terjadi.

“Aku tahu aku tampan, sayang, tapi  kau tidak perlu memerhatikanku selama ini, kan?”

Aku mengerucutkan bibirku dengan kesal. “Kenapa kau tahu? Bukannya kedua matamu sedang terpenjam tadi?”

“Apa kau benar-benar tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu, hmm?”

Aku menggelengkan kepalaku dengan polos.

“Karena hatiku mengatakan demikian. Kedua mataku dan pikiranku hanya tertuju padamu. Hatiku hanya mencintaimu. Kedua tanganku hanya untuk menggenggammu, menghapus air matamu dan memelukmu. Segala sesuatu yang ada pada diriku hanya milikmu seorang, Catherine.”

Aku tidak bisa lagi berpura-pura seperti tidak ada yang terjadi. Aku tidak bisa menyembunyikan masalah ini padanya lagi. Tidak tahu kenapa aku begitu takut untuk berkata jujur. Hatiku terasa sesak dengan air mataku yang mengalir keluar membuat Elias menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Aku membalas pelukannya dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya untuk selamanya. Aku berharap waktu bisa berhenti di saat seperti ini meski ini mustahil.

“Aku… aku ingin mengatakan sesuatu, Elias,” ujarku dengan terbata-bata.

***

“Aku ditunangkan oleh Ayahku.” Dapat kulihat tubuh Elias yang menegang, menatapku dengan tatapan tidak percaya. Aku mencoba meraih tangannya namun dihentakkannya dengan kuat membuatku tersentak.

“Apa yang kau katakan, Cat? Bisa kau katakan sekali lagi?” lirihnya dengan suara yang membuatku tidak tega untuk melanjutkan percakapan ini. Sungguh, aku berharap ia bisa mengertiku kali ini seperti yang biasa ia lakukan.

“Elias,…”

“Tidak, tidak, kau tidak perlu mengulanginya. Anggap saja kita tidak pernah membahas masalah seperti ini.” Elias menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat membuat air mataku kembali mengalir keluar.

“Elias, tolong, kau harus mendengarku, kau harus mengertiku, hanya kau seorang yang bisa memahamiku. Please, Elias, tenangkan dirimu dulu,” isakku sembari memeluk tubuhnya yang yang masih menegang namun tidak kupeduli. Aku menangis dalam pelukannya, ia membalas pelukanku, membiarkanku membuat bajunya basah. Aku.. aku dapat merasakan baju yang kukenakan perlahan basah karena air matanya. Ini pertama kali aku melihatnya menangis. Dadaku semakin sesak.

Aku… perasaan sesak ini kembali kurasakan. Aku takut. Aku tidak ingin merasakan kehilangan lagi.

“Kurasa, hubungan kita cukup sampai di sini saja, Cat,” ujar Elias setelah melepaskan pelukanku.

Aku terkesiap. Kedua tanganku yang mulanya masih mencengkeram erat lengan Elias, terlepas begitu saja. Kedua mataku kembali memanas. Dadaku semakin kekurangan pasokan oksigen, membuatku semakin dan semakin sesak.

Apa begitu mudah mengatakan kalimat itu? Begitu mudahkah dia melepaskanku hanya karena pertunangan itu? Pertunangan yang bahkan tidak didasari oleh cinta. Begitu mudahkah dia meninggalkanku? Melupakan segala kenangan yang pernah kulalui bersamanya? Aku… begitu mudahnya dia melepaskanku yang bahkan… hanya memilikinya seorang yang bisa bersandar?

“Elias, kenapa kau tega mengakhiri hubungan ini? Kenapa? Kenapa? Apa karena pertunganan itu? Aku bisa membatalkannya, Elias. Tolong percaya padaku, tolong. Kau harus memberkanku waktu untuk menyelesaikan semua ini.” Aku terisak dengan kuat. Sungguh, aku sudah tidak tahu apa yang semestinya kulakukan lagi sekarang selain menumpahkan segala perasaanku dalam bentuk tangisan.

“Ya, aku memang tidak bisa menerima pertunanganmu dengan laki-laki lain. Aku tidak bisa lagi berada di sampingmu lagi setelah aku tahu kau sudah terikat. Aku tidak boleh egois, Cat. Berbahagialah di sisinya.”

“Bagaimana aku bisa bahagia kalau kami tidak saling mencintai, Elias? Aku bahkan tidak mengenalnya selain foto yang ditunjukkan oleh Ayah. Tunangan itu tidak didasari cinta, kau tahu itu. Hanya kau seorang yang aku cinta, tidak ada orang lain selain dirimu, Elias.” Aku berteriak dengan air mata yang semakin mengalir deras. Suaraku bahkan terdengar lemah. Sangat. Kedua tanganku menarik pergelangan Elias, memohon padanya. Aku berlutut di hadapannya. Memohon padanya untuk tidak meninggalkanku. Aku terus memohon padanya hingga dia menyentakkan kedua tanganku.

“Elias, kumohon, jangan tinggalkan aku, aku sudah tidak sanggup untuk ditinggalkan lagi, Elias. Kumohon.” Aku tahu tidak seharusnya aku memohon padanya. Tapi apa yang bisa kulakukan selain memohon padanya untuk tidak meninggalkanku? Aku tidak ingin ditinggalkan lagi. Cukup sekali aku ditinggalkan oleh kakak lekakiku dan ibuku sendiri.

Elias melepaskan genggamanku dan berbalik membelakangiku. Ia menghembuskan napasnya perlahan. “Berbahagialah.” Dan, dia berjalan meninggalkanku sendiri di sini, di pantai yang memiliki banyak kenangan antara kami.

“KENAPA KAU TEGA, ELIAS? Kau yang berjanji akan selalu berada di sisiku tidak peduli apapun yang terjadi. Kau yang mengatakan bahwa kau hanya milikku sekarang, Elias, apa kau sudah melupakannya? Katakan padaku kau tidak akan meninggalkanku, Elias. Kumohon jangan tinggalkan aku,” seruku dengan kuat sembari memegang dadaku yang sesak dengan isakkanku yang semakin kuat.

Elias berhenti sejenak, berbalik dan menatapku. “Aku selalu menjadi milikmu tapi… kau bukan milikku lagi, Cat, kau sudah menjadi milik orang lain,” lirihnya.

“Pertunangan itu tidak didasari cinta, Elias. Aku bisa membatalkan tunangan itu, aku memerlukan dukunganmu.”

Elias tersenyum sebelum melanjutkan langkahnya meninggalkanku yang hanya bisa menatap punggungnya yang semakin mengecil hingga di balik mobilnya.
Kini hanya ada aku yang menangis tersedu-sedu dengan tubuhku yang sudah merosot ke bawah, hanya ada tangisanku, tidak ada lagi suara tawa Elias yang membahana di ruang gendang telingaku, sudah tidak ada bisikan lembut dari Elias yang selalu bisa membuatku cekikikan, semuanya terasa begitu hampa tanpa kehadirannya.

Tubuhku bergetar hebat dan air mataku masih setia mengalir  keluar melalui kedua sudut mataku membentuk beberapa sungai di wajahku. Bibirku masih meracau tak jelas. Aku berharap semua ini hanyalah sebuah mimpi. Namun tidak, aku menyadari bahwa semua ini bukanlah ilusi, semua ini adalah kenyataan yang harus kuhadapi dari sekarang.

Harus kuakui. Aku, Catherine Yoo, kembali ditinggalkan oleh orang-orang yang kusayangi. Bahkan ketika aku hanya menganggap Elias sebagai satu-satunya yang bisa ku berbagi juga meninggalkanku. Untuk apa aku hidup lagi?

***

Aku tersenyum miris begitu mengingat kembali kejadian tadi. Hatiku seolah dicabik-cabik oleh ribuan belati yang membuatnya semakin sakit. Tanpa kusadari, air mata yang sedari tadi kutahan kini lagi-lagi mengalir keluar. Aku membekap mulutku sendiri seolah ingin menghentikan isakkanku yang semakin lama semakin kuat meskipun kutahu pada akhirnya aku tidak akan bisa berhenti terisak. Semakin kucoba untuk menghentikan air mataku, semakin sakit hatiku.

Aku masuk kembali ke kamarku dan naik ke atas ranjangku, aku berbaring dan menatap langit-langit kamarku yang bernuansa violet sebelum tanganku terulur untuk meraih boneka itu. Aku mendekap boneka itu dengan erat dengan jari-jariku yang mengelus bulu-bulunya.

Aku merutuki takdirku. Kenapa aku selalu ditinggali oleh orang-orang yang kusayangi? Apa begitu buruknya aku hingga mereka tidak ada yang ingin berada di sisiku? Apa kesalahan yang telah kulakukan selama ini hingga mereka semua meninggalkanku? Kenapa hanya aku yang ditakdirkan menjalani kehidupan seperti ini? Untuk apa aku hidup lagi sementara aku sudah kehilangan semua yang kusayangi?

Tidak, aku tidak boleh menyerah begitu saja, aku harus mempertahankan hubunganku dan Elias, aku tidak ingin menyesal lagi. Aku harus kuat.

Dengan tergesa-gesa, aku bangkit dari ranjangku dan menyambar kunci mobilku yang kuletakkan di atas meja riasku serta kardiganku yang kugantungkan di dalam lemari. Aku segera keluar dari kamarku dan turun ke bawah dengan tanganku yang mengelap sisa-sisa air mata yang ada di wajahku.

Aku tidak memedulikan teguran dari Ayah ketika aku hendak membuka pintu, yang ada di pikiranku sekarang adalah mencari cara untuk mempertahankan hubungan ini, aku tidak ingin sendirian lagi.

***

Aku menekan bel apartemen Elias beberapa kali sembari menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku yang kedinginan, pilihan hanya mengenakan cardigan itu ternyata salah, karena suhu di malam hari semakin menurun dan sedikit membuatku menggigil.

Sudah beberapa saat aku menunggu Elias membuka pintunya namun dia tak kunjung keluar. Aku sudah kehabisan kesabaran. Aku menggedor-gedor pintu apartemen Elias dengan air mata yang sudah menggenang di kedua pelupuk mataku. “Elias! Tolong bukakan pintunya. Aku ingin bicara denganmu, aku mohon, Elias,” seruku dengan suara yang serak.

Elias membukakan pintu dan berdiri di hadapanku dengan kedua mata yang menatapku dengan sendu. Hatiku semakin sakit. Ini semua karena aku, tidak seharusnya aku berkata jujur padanya.

“Kumohon, Elias, berikan aku waktu, aku akan segera membatalkan pertunangan itu, aku tidak mencintainya, Elias. So, please, jangan menyuruhku untuk mencintainya.” Aku terisak dan tubuhku semakin lemas. Aku menarik kedua lengan Elias, memohon padanya.

Elias menghempaskan tanganku dan menatapku dengan tatapan yang tidak dapat kuartikan. Antara sedih, marah, dan kasihan. “Cat, tidak seharusnya kau berada di sini. Aku tidak akan memberimu waktu, Cat. Takdirmu adalah dia, kau tidak akan bisa melawannya. Temuilah dia dan berikan sebuah kesempatan untuknya,” ujar Elias dengan suara yang lirih.

Aku menatapnya dengan sendu. “Elias, kumohon, jangan pernah menyuruhku untuk meninggalkanmu, kau tahu sendiri, bukan, aku sudah kehilangan Ibuku dan juga Brian, aku tidak ingin kehilanganmu lagi.”

I’m so sorry.”

“Elias, please….” Dia berbalik dan menutup pintu apartemennya tanpa memedulikanku yang semakin terisak. Dia sungguh kejam. Begitu tegakah dirinya menyerahkan cintanya?

Aku menyeka sisa air mataku dengan punggung tanganku dengan lemah. Tubuhku serasa sudah tidak berfungsi lagi. Angin malam yang berhembus terasa begitu menusuk tubuhku hingga membuatnya menggigil. Aku memenjamkan kedua mataku sebentar sebelum kemudian membukanya kembali. Aku harus memulai lembar kehidupanku yang baru tanpa adanya Elias di dalamnya. Aku menyerah.

***

How about this story, uhm? Sorry, but I want u leave ur comments below as a appreciation. Jangan kebiasaan menjadi silent readers. Sedikit kecewa juga melihat jumlah views yang tidak sebanding dengan jumlah komentar yang kudapatkan. Saya akan melanjutkan cerita ini jika banyak yang mendukungnya, jika tidak ada yang mendukung, mungkin saya akan memilih untuk berhenti melanjutkannya.

Terima kasih ^^

Visit my WP if u want🙂 qiinkyheoh.wordpress.com

2 responses to “Everything is Late – Chapter 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s