[CHAPTER 2] My Dearest Hubby

 photo MDhL_zps7uel6gdi.jpg

| My Dearest Hubby |

| Kim Liah (http://adf.ly/sk092) |

| Chapter |

| Kim Luhan, Park Jiyeon |

| Byun Baekhyun, Kim Nahyun, Yoo Ara, Do Kyungsoo |

| Romance, Friendship, Marriage Life |

| PG-15 |

| Warning: This story purely comes from my mind. No plagiarism. Be carefull of typo(s) BASED ON NOVIA STEFANI’s CERPEN |

NOTE: Ini FF (Luhan Version) remake dari cerpen yang sudah sering dijadikan FF juga. Jadi harap maklum kalau idenya hampir mirip, tapi untuk keseluruhan cerita akan saya kembangkan sendiri. FF ini sudah pernah saya post di WP pribadi dengan cast lain

.

.

Pagi ini Jiyeon sungguh tidak ingin membuka mata dan melepas pelukan Luhan dipinggangnya. Ntah ini karna bawaan orok diperutnya atau memang ia sendiri yang tak ingin jauh dari Luhan mengingat pagi ini suami tercintanya itu akan memulai tugas luar kotanya selama dua bulan.

Luhan terbangun dari tidurnya dan hendak bangkit berdiri, namun rengkuhan dipinggangnya begitu erat sehingga menghalanginya. Ia lirik istrinya yang masih memejamkan matanya, ia tahu Jiyeon sudah bangun dari tadi. Tangannya ia arahkan ke pipi mulus Jiyeon untuk membelainya, benar, ia juga merasa berat dan ingin dalam posisi ini lama, namun tugas tetaplah tugas. Jika ia melalaikan tugasnya otomatis karirnya akan hancur dan ia harus memulai dari awal lagi.

“Jiyeonie, ireonayo ne” ia mengecup kening Jiyeon hangat hingga ibu hamil itu malah semakin mempererat pelukan dipinggang Luhan. “Mianhae, aku bisa ketinggalan pesawat kalau seperti ini” Luhan melepas paksa tangan Jiyeon hingga Jiyeon meringkuk kesal dan menangis kecil.

Andai saja ini hujan, sudah pasti Jiyeon akan mengemasi pakaiannya dan berlari keluar seperti dulu ketika ia marah pada Luhan. Namun bukankah itu sama saja ia menyetujui ide Luhan untuk menyerahkan dirinya pada Taehee selama dua bulan ini? Lalu apa yang harus ia lakukan untuk mencegah kepergian Luhan? Menangis kencang? Hai, ini saja air matanya tak mengalir banyak lagipula ia belum punya cukup tenaga mengingat perutnya masih belum ia suplay sarapan pagi.

“Apa kau akan terus tidur disana dan tak mengantar keberangkatanku Jiyeonie?” tak terasa 15 menit sudah Luhan membersihkan diri dikamar mandi, kini ia tengah memakai celana panjang dan kemeja putihnya. Biasanya Jiyeon sudah menyiapkan pakaiannya diranjang dan membantunya merapikan penampilannya. “Pergilah mandi Jiyeonie! Akan kusiapkan sarapan dulu” sepatu pantofel itu sudah ia kenakan dan membawa langkahnya ke dapur.

.

Seperti biasa Luhan membuat nasi goreng yang kali ini dipenuhi banyak sayuran salad. Meski Jiyeon tak suka sayuran, dia harus tetap mencoba menyukainya demi perkembangan buah hati mereka. 2 buah piring berisi nasi goreng sudah tertata di meja makan. Dari ujung kanan ia bisa melihat Jiyeon masih mengenakan piyama tidurnya, ibu hamil itu berjalan lemas menuju meja makan.

“Kau belum mandi juga Jiyeonie?” Jiyeon hanya menunduk menatap sepiring sarapannya “Wae? Apa kau merasa mual lagi?” selidik Luhan seraya mengangkat dagu Jiyeon.

“Kalau iya, apa kau akan membatalkan tugasmu itu hah?” Jiyeon memakan nasinya dengan lahap, sungguh ia teramat lapar, mungkin energinya sudah habis hanya untuk mencegah kepergian Luhan.

“Mian, kau sudah tahu jawabannya Jiyeonie” Luhan turut memakan sarapannya meski batinnya merasakan keengganan itu.

“Kalau begitu aku akan ikut denganmu” tak terasa piring Jiyeon sudah kosong, ia meneguk susu hamil yang sudah disiapkan Luhan.

“Jincha? Bukankah kau juga ada proyek baru dengan penulis terkenal itu?”

Jiyeon menghela nafas kesal, benar, ia sudah menyetujui akan menjadi editor dari pengarang novel yang mengagumkan sejagad korea itu.

“Sudahlah Jiyeonie, ini hanya 2 bulan, ne?” Luhan mengangkat piring dan gelas kotor itu dan mencucinya di wastafel dapur “Aku percaya eomma akan menjagamu dengan baik” ia tiriskan piring itu di rak dan menghampiri Jiyeon “Kajja” tangan kirinya merangkul Jiyeon agar menemani kepergiannya sedangkan tangan bebasnya mendorong koper hitamnya menuju depan rumah.

“Jebal Xiao Lu-ya, pikirkan lagi” Jiyeon memeluk Luhan erat, mungkin kalau ia tak sedang hamil ia akan bersikap biasa saja, tapi ini ntah mengapa bawaanya ia ingin selalu dekat dengan Luhan.

“Mianhae” Luhan mengecup kening Jiyeon “Kau jangan rewel ne? Sebentar lagi eommonim akan segera datang” ia mengecup perut buncit Jiyeon “Aegi-ya jaga eomma ne?” sekali lagi Luhan mengecup bibir Jiyeon dan benar-benar meninggalkannya.

Jiyeon berdiri terpaku hingga mobil Luhan menghilang dari halaman rumahnya, air matanya semakin menetes begitu Taehee menghampirinya. Ia berusaha bersikap biasa saja, meskipun sebenarnya banyak pesan yang ingin ia sampaikan pada Luhan. Namun semua terasa berhenti di tenggorokan, ia sangat mengkhawatirkannya namun ia tak kuasa menyampaikannya karena ia takut ketegarannya di depannya akan runtuh seketika ketika ia berbicara lebih banyak dan tangisnya akan semakin tumpah.

“Waeyo?” Jiyeon memeluk Taehee erat “Kau ini kekanak-kanakan sekali, Jiyeon-a” Taehee membimbing Jiyeon memasuki rumah putrinya itu “Kajja, bukankah kau juga harus bekerja?”

.

“Yaa kenapa kalian kemari?” Luhan baru saja sampai dibandara bahkan ia baru sempat memasuki pintu masuk, namun kedua rekan kerjanya sudah menunggunya disana.

“Ini karna kau Xiao Lu-ya” Jin merangkul Luhan dan melangkahkan kakinya menuju antrian tiket.

“Proyek ini dan juga kau, semuanya membuat kami terpaksa mengekorimu” Doojoon menghela nafas, kaki panjangnya ia silangkan begitu merebahkan pantatnya di bangku waiting room. Selain akan jauh dari istri dan anaknya, ia juga akan kesulitan bermain futsal yang tak pernah sekalipun ia tinggal bersama group futsalnya.

“Jincha, bahkan aku tak sempat melihat Gukju noona pagi ini” keluh Jin seraya menyandarkan kepalanya di bada bangku waiting room.

Luhan duduk menggeser posisi Doojoon dan Jin yang saling bersebelah, tangannya ia rangkulkan ke pundak dua sahabatnya itu. “Kalian memang sahabat yang baik, chingu-ya” godanya dengan senyum lebarnya, meski sebenarnya ia merasakan hal yang sama seperti kedua sahabatnya ini.

.

Jiyeon nampak berjalan lesu melewati pegawai lainnya dikala ia hendak memasuki ruangan kerjanya. Ia baru berpisah dengan Luhan selama 1 jam, tapi ntah mengapa ini terasa seperti sudah 1 bulan saja. Ia sandarkan kepalanya di kursi empuk itu dan sama sekali tak ada niat membaca naskah yang bertumpuk-tumpuk didepan mejanya.

“Apa kau sedang sakit?” Ara menaruh segelas chocolate di meja Jiyeon, ia mengamati lekat wajah Jiyeon yang nampak suram “Apa kau mengidam hal-hal aneh hingga wajahmu seletih ini?” cercanya cemas.

Jiyeon mengangkat cermin kotak yang tergeletak disamping naskah-naskah, ia amati wajahnya yang sungguh mengerikan, pucat iya, murung iya, auranya nampak gelap begitulah penilaiannya. “Huft, wajahku jelek sekali hari ini” ia menoel pipinya yang sudah sedikit berisi mengingat kehamilannya sudah menginjak trimester ke- 2 dan sialnya ia malah harus hidup sendirian tanpa suaminya.

“Apa kau tadi malam makan banyak sekali Jiyeon-a?” Ara ingat betul kebiasaan mengidam Jiyeon yang sudah pernah dia ceritakan itu, selain mengidam ini dan itu, Jiyeon juga kerap terlena untuk makan ditengah malam “Kurasa aku lebih beruntung darimu, Jongin yang menanggung semua penderitaanku semasa hamil” ia sama sekali tak mengalami yang namanya mengidam karna semua itu malah suaminya yang merasakannya.

“Eoh, kau sungguh beruntung Ara-ya. Jongin suami yang baik sekali, matcji?” sambar Jiyeon sedikit kesal.

“Waeyo? Bukan Luhan juga suami yang baik? Yaa bahkan dia melakukan semua kegiatan rumah tangga untukmu” sanggah Ara, apa atasannya ini sedang ada masalah dengan suaminya?

“Anni” Jiyeon menggebrak tumpukan naskah didepannya “Dia suami yang buruk, sangat BURUK” makinya lalu membenamkan kepalanya dilipatan tangannya yang berada diatas naskah itu. Ia menangis lagi, sungguh berat sekali berjauhan dari Luhan.

“Kau menangis Jiyeon-a? Waeyo? Apa dia sudah kasar padamu? Atau seolma dia bersama wanit….”

Jiyeon mengangkat kepalanya lalu menggeleng pelan, wajahnya semakin tertekuk saja apalagi matanya sembab begitu. “Ini lebih parah daripada kasar, Ara-ya” nafasnya tersengal “Mana ada suami yang tega meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil seperti ini” keluhnya.

“Mworago? Jadi dia benar-benar selingkuh? Apa anak SMA itu lagi?” sambar Ara penasaran.

“Anniya Ara-ya, tidak seperti itu. Jika dia benar berselingkuh sudah kupastikan aku akan pergi selamanya darinya” Jiyeon mengusap air matanya dengan tissue yang baru saja disodorkan oleh Ara “Dia keluar kota” matanya melirik kaca jendela “Mungkin pesawatnya baru saja take off” jelasnya.

“Yaa kukira apa, ternyata hanya keluar kota. Cckkk kau membuatku khawatir saja Jiyeon-a” Ara melipat tangannya tak percaya.

“Hanya ya?” ulang Jiyeon.

“Eoh, bukankah sekarang zaman modern. Keluar kota manapun bisa lebih cepat dan tak perlu membutuhkan waktu berminggu-minggu lagi. Pesawat itu super cepat Jiyeon-a”

“Ne, aku mengerti. Tapi kali ini dia disana lama, 2 bulan. Kenap pula proyek pembangunan resort itu harus di Daegu. Aishh” keluh Jiyeon.

“Daegu itu hanya 4 jam saja dari Seoul, Jiyeon-a. Bukan jarak yang jauh”

“Ne, jadi menurutmu dengan perut besarku ini aku harus bolak-balik kesana hanya untuk bekerja dan melihat Luhan? Bisa-bisa tenagaku habis hanya untuk perjalanannya Ara-ya”

“Geurae, kau sabar saja Jiyeon-a. Semua juga demi kalian” Ara melirik tangan Jiyeon yang tengah menempel diperut buncitnya.

**

“Jincha, resort ini akan menjadi resort terbesar di Daegu” Doojoon tersenyum berbinar “…dan hebatnya lagi, ini karya kita” pujinya seraya mengamati lahan berhektar-hektar yang ada didepannya. Sudah 3 hari ia dan kedua sahabatnya mengerjakan proyek besar ini di Daegu.

“Eoh, keundae apa kita tidak bisa mempercepat pembangunan resort ini saja?” Jin ingin sekali proyek resort ini segera selesai secepat mungkin.

Doojoon memukul kepala Jin dengan buku note ditangannya “Yaa apa kau sedang berkhayal Seokjin-a, design-nya saja kita belum menentukannya, bagaimana bisa resort langsung berdiri kokoh begitu saja” cibirnya.

“Sudahlah, kita berpencar saja sesuai denah bangunan yang tertulis ini” Luhan mengangkat denah bangunan yang sudah direncanakan untuk dibangun berbagai lokasi di resort ini “Dan temukan ide brilliant untuk design-nya, arra?” ia menepuk kedua bahu sahabatnya lalu berkeliling menuju lokasi tanah pemandian air panas yang tertera di denah.

Sungguh lokasi resort ini akan memiliki view yang indah dari segala arah. Ia menyapukan pensilnya mengenai design yang akan ia buat di buku note-nya. Namun tiba-tiba ponselnya bordering, tertera foto dan nama Jiyeon dilayar ponselnya. Sudah kebiasannya yang tak bisa ia hindari dimana ia akan saling bertelponan dengan Jiyeon.

“Eoh Jiyeonie, wae?” dilayar lebar itu terpampang wajah Jiyeon yang nampak bosan di meja sebuah café “Piringnya masih penuh begitu? Bukankah kau suka udang teriyaki?” tanya Luhan.

“Kau sedang dimana Xiao Lu-ya? Kenapa kau tidak makan siang?” Jiyeon mengamati pemandangan dibelakang Luhan yang menampilkan sebuah gunung dan pepohonan.

“Sebentar lagi Jiyeonie” Luhan menunjuk udang teriyaki dengan tatapan matanya “Manhi mogo Jiyeonie” pintanya yang hanya dibalas anggukan singkat oleh Jiyeon.

**

Empat minggu sudah Jiyeon menginap dirumah Taehee, sekeras apapun ia mewarnai harinya tanpa Luhan, semuanya tetap percuma, ia merasa sangat kesepian tanpa Luhan. Meskipun ia bisa mengobrol dengan Taehee ataupun teman lainnya tapi rasanya tetap berbeda.

Setiap hari Luhan menelpon dan video call untuk mengabarkan keberadaan Jiyeon, menanyakan apakah Jiyeon baik-baik saja, bagaimana kesehatannya, apakah Jiyeon sudah makan atau belum,dan apakah Jiyeon lupa minum susu ibu hamil. Jiyeon biasanya hanya menjawab singkat saja, ia hanya ingin mendengarkan suara Luhan saja.

Meski Luhan slalu mengingatkannya untuk makan 3 kali sehari, tapi tetap saja Jiyeon merasa tak berselera makan karna tak ada Luhan yang menemaninya makan disampingnya. Bahkan ia juga malas melakukan apapun, senam hamil yang didaftarkan oleh Taehee saja sering ia tinggalkan. Bukannya ia tak menghargai kerja keras Taehee yang beberapa waktu ini mengurusnya tapi memang sejak awal semua usaha ibunya itu tetap percuma jika tak ada Luhan disampingnya. Ya, itu semua karna ia sudah terbiasa dimanja oleh Luhan.

“Jebal Jiyeon-a, makanlah! Eomma sudah membuatkanmu bubur ayam ini” Taehee sedari tadi mengangkat sendok berisi bubur itu untuk ia suapkan kepada putri semata wayangnya.

Jiyeon hanya menggeleng menolak suapan ibunya, sejak seminggu kepergian Luhan, ia memang mulai jarang makan. Ia hanya akan makan dengan lahap ketika seminggu sekali Luhan pulang ke Seoul untuk mengunjunginya.

“Bagaimana kalau nanti kamu sakit, Jiyeon-a? Ingat! Kau tidak lagi sendirian, ada jabang bayi diperutmu ini” Taehee mengelus perut Jiyeon yang sudah semakin kelihatan membesar.

“Aku akan makan kalau Luhan menyuapiku, eomma” Jiyeon menariknya selimutnya hingga menutupi kepalanya, sejak kemarin kondisinya sedikit drop hingga ia sempat pingsan dan sekarang berakhir bedrest dikamarnya. Jangankan makan 3 kali sehari, kebiasaannya makan ditengah malam saja sudah menghilang. Itulah mengapa ia kelihatn semakin kurus seperti ini.

“Kau jangan kekanak-kanakan seperti itu, Jiyeon-a. Luhan masih di Daegu, apa kau tak kasihan menyuruhnya bolak-balik ke Seoul hanya untuk menemanimu makan saja? Kalau seperti ini, bukan hanya kau dan cucuku yang akan sakit, tapi menantuku itu pula” Taehee menyerah, Jiyeon memang keras kepala. Ia memutuskan menyambar iphone-nya dan menelpon menantunya itu.

“Jiyeonie” Suara Luhan di seberang sana nampak sedang gembira sekali, mendengar suara itu Jiyeon langsung mengibaskan selimutnya dan celingukan mencari asal suara yang ternyata dari ponsel Taehee.

“Eoh?” jawab Jiyeon pendek, ada kekecewaan diwajahnya.

“Apa kau sudah makan? Eomma bilang akhir-akhir ini kau susah makan” Luhan sama sekali tak tahu kalau kemarin Jiyeon baru saja ambruk karna asupan gizi ditubuhnya berkurang “Kenapa kau pucat sekali? Hay, kau harus banyak makan. Aku tak masalah jika kau segendut Gukju noona”

Jiyeon hanya menyengir pelan, ia malas makan bukan karna takut semakin gendut ketika hamil. Tapi karna batinnya tersiksa dan tak nyaman tanpa ada Luhan yang menemaninya dimasa kehamilannya ini. Ia semakin sensitive saja, mungkin calon bayinya nanti adalah perempuan jika menilik dari sikapnya yang manja seperti ini. “Aku belum lapar. Nanti saja kalau sudah lapar atau kalau kamu sudah pulang”

“Hah? Jangan bercanda Jiyeonie. Mana mungkin kamu tidak makan selama seminggu” Luhan memang selalu mengusahakan pulang seminggu sekali meski itu lumayan menguras tenaga dan keuangannya, jika saja Jiyeon tidak tengah mengandung, mungkin ia tidak perlu bolak-balik Daegu Seoul dan hanya sebulan sekali pulang seperti Jin dan Doojoon. Bahkan mereka bisa saling mengunjungi seperti Gayoon dan Gukju yang pernah ke Daegu menginap untuk menemani suami dan kekasihnya.

“Geurae, kalau begitu kau temani aku makan. Jangan matikan telponnya sebelum aku selesai makan”

“Ne, aku akan menemanimu Jiyeonie” sebenarnya saat ini Luhan sedang berada dilokasi proyek untuk mengawasi jalannya pembangunan resort dan mengarahkan struktur pembangunanya.

“Gomawo Xiao Lu-ya” ucap Taehee lega seraya menyerahkan ponselnya ke tangan Jiyeon dan ia mulai menyuapi Jiyeon bubur ayam yang sudah mulai dingin itu.

“Keundae, bukankah ini hari selasa? Apa kau libur bekerja Jiyeonie?”

“Aku…”

“Eoh, tadi Jiyeon bangun kesiangan Xiao Lu-ya” potong Taehee seraya membungkam mulut Jiyeon dengan suapan buburnya. Ia tak mau jika Luhan khawatir dan balik lagi ke Seoul hanya karna sikap kekanak-kanakan Jiyeon.

**

Minggu ini Luhan tidak bisa menyempatkan waktunya untuk pulang ke Seoul mengingat kesibukannya disana yang menyebabkannya jatuh sakit. Ia tak mungkin mengatakan alas an sebenarnya kepada Jiyeon, karna sudah pasti istrinya itu akan nekat minta pergi ke Daegu dalam keadaan hamil besar seperti itu.

“Kau sungguh tak apa-apa?” Jin tengah mengupas jeruk dan hendak menyuapkannya kepada Luhan jika sahabatnya itu sudah sadar, namun ia malah memakannya sendiri saking laparnya menunggu Doojoon membawakan makanan ke kamar inap Luhan.

“Kurasa kalian berlebihan hingga membawaku kemari segala”

“Ini hal yang wajar Xiao Lu-ya. Apa kau tak sadar kalau kau sudah 4 hari menginap disini” kali ini Jin menyuapkan bulir jeruk itu ke mulut Luhan “Kau 4 hari hanya makan nutrisi dari infuse ini saja” ia menyentuh selang infuse disampingnya.

“Mwo?” Luhan nampak was-was “Dimana ponselku Jin-a?” ini artinya selama 4 hari ia tak berinteraksi dengan Jiyeon, ntah bagaimana kabar istrinya itu sekarang.

“Wae?” Jin menyambar meja didepan sofa dan memberikan Iphone Luhan “Arghh, Jiyeon, kami sudah menghubunginya”

“Yaa apa kau bilang semuanya padanya?” Luhan dengan cepat mencari history panggilan dan mendial nomor Jiyeon.

“Tentu saja tidak, Taehee eommonim melarang kami. Untung saja waktu itu bukan Jiyeon yang menerima telponnya, kalau iya….”

Luhan memicingkan matanya menunggu kelanjutan kalimat Jin dan juga menunggu panggilannya tersambung.

“Yaa kau tahu sendiri betapa rewelnya istrimu itu sekarang. Dia bisa saja membahayakan dirinya sendiri jika dia tahu keadaanmu sekarang” jabar Jin seraya membuang kulit jeruknya ke bak sampah.

Akhirnya panggilan tersambung dan sayangnya yang bukan Jiyeon yang mengangkat telpon itu. “Eommonim, bisa saya bicara dengan Jiyeon?” tanya Luhan to the point.

Taehee merasa gugup karna kondisi Jiyeon tak sama buruknya dengan Luhan. “Kau sudah sadar Luhan-ya? Bukankah kau masih sakit?” ia tahu dari Doojoon dan Jin bahwa selama 4 hari ini Luhan dalam keadaan koma karna melawan penyakit typusnya.

“Ne eommonim, saya baru saja bangun dan kondisi saya sudah lumayan membaik”

“Daengida, kau istirahat dulu saja disana. Jangan mencemaskan Jiyeon, dia disini baik-baik saja” dusta Taehee, mana mungkin ia mengatakan yang sebenarnya bahwa Jiyeon 4 hari ini kondisinya semakin memburuk karna dia tak melahap makanan dan vitamin sedikitpun. Putrinya itu kini tengah berbaring diranjangnya, bahkan ia terpaksa di infuse agar asupan nutrisi tetap mengalir ditubuhnya. “Mianhae Luhan-ya, Jiyeon saat ini sedang tidur. Nanti saja kalau dia bangun aku akan menghubungimu” jelas Taehee seraya melirik Jiyeon yang tengah terlelap.

“Ne, eommonim. Gamsahamnida” Luhan mematikan panggilan dan ada kelegaan di ulu hatinya. Ternyata kecemasannya salah, ia mengira 3 hari ini Jiyeon akan mogok makan dan semakin rewel karna ia gagal pulang ke Seoul minggu kemarin.

“Sudah kubilang kan kalau Jiyeon baik-baik saja” Jin berjalan menuju pintu kamar, perutnya sungguh keroncongan minta diisi makan malam “Kenapa Doojoon lama sekali” keluhnya tepat ketika Doojoon menampakkan batang hidungnya.

“Cha” Doojoon menyerahkan sebuah tas makanan kepada Jin, ia nampak gembira melihat Luhan sudah sadar “Yaa, kau sudah bangun Luhan-ya? Wah tepat sekali waktunya” ujarnya seraya mengambil kotak makanan berisi ayam goreng bumbu madu pedas dan menyantapnya.

“Wae? Memangnya kenapa?” Luhan kembali membaringkan kepalanya dibantal empuk dibelakang kepalanya, ia masih merasa lemas sekali.

“Yaa Yoon Doojoon, Luhan belum boleh makan makanan berat seperti ini” Jin menunjuk bulbogi didepannya.

“Anniya, bukan itu Jin-a” Doojoon mengibaskan paha ayamnya yang sudah ia gigit setengah “Apa kau ingat Sooji?” ia mengerutkan keningnya menunggu reaksi Luhan “Bae Sooji, wanita 10 harimu itu” jelasnya.

“Bae Sooji? Putri Perusahaan Bae itu?” sambar Jin seraya menyumpit bulboginya.

“Majayo, kau mengingatnya bukan Xiao Lu-ya?”

Bae Sooji, tentu saja Luhan mengingatnya, wanita itu sangatlah ambisius dan terlalu manja. Karna lelah menghadapi kenyataan pahit bahwa kala itu kemungkinan Jiyeon akan menyusul Minho ke Swiss, maka ia menerima ajakan Sooji untuk berkencan meski hubungan mereka hanya bertahan 10 hari saja.

“Memangnya kenapa kalau aku mengingatnya?” tanya Luhan acuh.

“Tadi aku melihatnya disini, kamarnya selantai denganmu Luhan-ya” jelas Doojoon, ia tadi memang tak sengaja melihat wajah Sooji yang terbaring disebuah kamar inap karna pintu kamarnya sedikit terbuka.

“Memangnya dia sakit apa Doojoon-a? Apa dia melahirkan?” cerocos Jin penasaran.

Doojoon menggeleng, tadi ia sempat menanyakan keadaan Sooji kepada perawat yang akan memeriksanya dan ternyata wanita cantik itu sudah koma selama sebulan. “Dia koma” jawabnya seraya mencuri suapan bulbogi Jin.

“Yaa Yoon Doojoon” Jin merasa kesal bulbogi dicuri begitu saja oleh Doojoon.

“Koma? Memangnya di sakit apa?” selidik Luhan penasaran.

“Dia mencoba bunuh diri dengan menyayat lehernya. Parah bukan wanita gila itu” cibir Doojoon, baginya tingkah Sooji dulu memang gila karna terlalu berlebihan mengejar cinta Luhan.

“Wah pasti karna ditolak oleh pria” sambar Jin.

“Anniya, jika dia seperti itu pasti sudah sejak dulu dia mencoba bunuh diri ketika Luhan mengakhiri hubungannya. Matcji Luhan-ya?” tolak Doojoon.

“Eoh, dia tak mungkin seperti itu. Pasti ada alasan lain” angguk Luhan.

**

“Jiyeon-a, kau sudah bangun? Igeo, eomma sudah membuat salad buah kesukaanmu” Taehee menusuk strawberry dipiring yang ia bawa dan akan menyuapkannya kepada Jiyeon “Yaa apa kau mau eomma menghubungi Luhan dulu hah?”

Wajah Jiyeon nampak berseri, bukankah beberapa hari yang lalu ibunya itu mengatakan bahwa Luhan benar-benar sedang sibuk hingga tak bisa menghubunginya walau hanya semenit saja. “Jeongmal eomma?”

“Eoh, keundae kau habiskan dulu salad ini. Apa kau mau melihat Luhan khawatir?”

Tanpa pikir panjang Jiyeon segera menyambar piring salad itu dan mulai memakan berbagai buah disana dengan cepat.

“Pelan-pelan Jiyeon-a, bagaimana kalau kau tersedak. Nanti kau tak bisa bicara dengan Luhan”

Jiyeon tak mendengarkan nasihat Taehee, ia terus memakan dan mengunyah dengan cepat salad buah itu agar bisa segera berbincang dengan Luhan walau hanya di video call saja. Ia mengacungkan tangannya begitu salad buah itu tertelan habis olehnya.

“Chakkaman” Taehee menyodorkan segela susu ibu hamil untuk Jiyeon teguk lalu menghubungi Luhan “Cha” ia menyerahkan ponselnya kepada Jiyeon “Ingat jangan sampai Luhan tahu keadaanmu ini, kalau sampai ia tahu proyeknya akan terkendala dan dia akan semakin lama disana” sarannya lalu menaruh piring dan gelas kotor itu ke dapur.

Luhan baru saja meminta jaket denim Doojoon untuk ia kenakan, tak lupa ia menutupi selang infuse dan background kamar rumah sakit dengan duduk disofa. “Annyeong Jiyeonie. Nan naemu bogoshippeoyo” suaranya terdengar menggemaskan sekali hingga Doojoon serasa akan muntah saja.

Sama halnya dengan Luhan, Jiyeon juga berusaha menutupi selang infusenya dan memoleskan sedikit cushion ke wajahnya agar tak terlihat pucat, karna ia percaya dengan ucapan ibunya tadi bahwa jika sampai membuat Luhan cemas maka intensitas pertemuan mereka akan semakin jarang. “Nado Xiao Lu-ya. Naemu bogoshippo” balasnya.

“Mianhae, beberapa hari ini aku sungguh sibuk. Neo gwaenchana?”

“Eoh geutcji, apa kau tak lihat senyum cerah diwajahku ini?” dusta Jiyeon.

“Daengida, aku terus memikirkanmu dan takut terjadi apa-apa padamu”

“Anniya, nan gwaenchana. Jeongmal” Jiyeon mengangkat tangannya seolah mau memperlihatkan ototnya di tubuh kurusnya itu.

“Aeggi-ya, appa bosoghippoyo”

Jiyeon menunjukkan perut besarnya dan mengelusnya “Nado appa” balasnya seolah mengutarakan jawaban bayi dalam kandungannya.

“Gumawo Jiyeonie”

“Mwoga?”

“Karna kau tetap sehat dan menjaga bayi kita” balas Luhan dengan wajah penuh kelegaan dan kebahagiaan.

Jiyeon hanya tersenyum tipis karna selama ini ia berlaku sebaliknya, ia membahayakan dirinya dan juga calon bayinya. “Eoh, keundae minggu ini kau bisa pulang bukan?”

“Akan aku usahakan Jiyeonie” kondisinya belum pulih betul jadi ia tidak bisa berjanji “Mianhae, aku masih cukup sibuk” dustanya.

Wajah Jiyeon berubah muram, harapannya pupus begitu saja padahal ia sungguh ingin bertemu Luhan. “Geurae, segera selesaikan pekerjaanmu disana dan kembali secepat mungkin kesini, arra?” titahnya mencoba kuat.

**

Ini hari ke 5 Luhan menginap dirumah sakit, namun kondisinya masih lumayan lemah, berjalan saja ia hampir saja limping. Ia hanya bisa menggunakan kursi roda untuk membantunya berjalan, ini artinya minggu ini ia tidak akan bisa kembali ke Seoul. Ia merasa bosan sendirian dikamar, karna dua sahabatnya itu hanya akan mengunjunginya dimalam hari setelah pekerjaan mereka selesai. Ia teringat Sooji dan ia memutuskan untuk berkunjung ke kamar Sooji yang katanya hanya berjarak 5 kamar saja dari kamarnya.

Untung saja tadi pagi ia meminta perawat membantunya duduk di kursi roda sehingga ia tak perlu kesusahan beranjak ke kursi rodanya. Ia pencet tombol otomatis yang ada dikursi rodanya sehingga ia tak perlu repot mengayung roda besar itu untuk berjalan menuju kamar Sooji.

Ia sampai didepan kamar Sooji dan hendak mengetuk pintunya namun terurungkan karna seorang pria tua tengah membuka kamar itu untuk keluar dari sana. “Josonghamnida, haraboeji”

Selama ini Sooji hanya hidup dengan kakeknya karna kedua orangtuanya memang sudah meninggal sejak ia masih balita. “Kau…?” lirihnya tak percaya.

“Ne, Xi Luhan imnida, harabeoji” Luhan membungkuk sebentar memberi hormat kembali menekan tombol otomatis dikursi rodanya begitu Bae harabeoji memberinya jalan masuk ke kamar Sooji. Mantan kekasih 10 harinya itu masih terlihat cantik meski dia kini tengah tertidur koma selama sebulan.

“Bagaimana kau bisa ada disini Luhan-ya?” selidik Bae harabeoji yang kini berada disebelah kiri Sooji.

“Kebetulan saya sedang dirawat disini dan sahabat saya melihat Sooji ketika melewati ruangan ini” jawab Luhan sopan, ia ingin menanyakan bagaimana keadaan Sooji namun sedikit enggan mengingat jawabannya sudah terlihat jelas diwajah Bae harabeoji.

“Gadis bodoh ini mencoba mengakhiri hidupnya dengan melukai lehernya” Bae harabeoji melirik leher Sooji yang masih ada sedikit bekas jahitan “Calon suaminya meninggal karna kecelakaan tepat dihari pernikahannya” jelasnya sendu.

Luhan mengangguk paham, jadi benar kalau Sooji memang mencoba bunuh diri dan semua itu karna pria yang tak lain adalah calon suaminya. Ia mengerti kesedihan Sooji, karna ia juga merasakan hal yang sama ketika hidup berjauhan dengan Jiyeon seperti sebulan ini. “Mianhamnida harabeoji” sesalnya.

“Eoh, aku keluar dulu ne? Tolong temani cucuku ini” pamit Bae harabeoji, ia memang sedang ada janji bertemu dengan dokter yang merawat Sooji.

“Ne, harabeoji” angguk Luhan, kini ia hanya berdua saja dikamar itu bersama Sooji, ia amati lekat wajah tidur Sooji, kasihan sekali wanita ini harus kehilangan orang yang dicintainya. Ia berharap Jiyeon tak akan melakukan hal bodoh seperti ini selama mereka berpisah rumah. Ia menyentuh punggung tangan kanan Sooji “Oremaniya Sooji-a. Kau masih mengingatku, bukan? Na-ya Xi Luhan, pria yang pernah kau cintai” ia tersenyum tipis “Kukira kau memang akan sangat bahagia begitu kau menyampakkanku itu. Yaa, karna kau menepati janjimu untuk tidak sudi melihatku lagi. Keundae aku tak menyangka kau malah menjadi seperti ini. Aku turut bersedih dengan kepergian calon suamimu itu” sekali lagi Luhan menepuk punggung tangan Sooji dengan lembut “Jadilah wanita yang kuat, kasihan Bae harabeoji. Dia terlihat kesepian tanpa ada kau, cucu termanjanya” Luhan melirik jam dinding diruangan itu, sudah jam 12 siang, ini waktunya untuk diperiksa oleh perawat “Cepatlah sembuh ne?” pamitnya seraya menjabat tangan Sooji dan hendak berbalik keluar dari kamar Sooji. Namun sebuah gerakan jemari lemah terasa ditangannya seolah melarangnya pergi.

.

.

.

Be Sociable, Like and comment please!

.

.

.

Thankiess  Good Readers ♥♥♥♥

6 responses to “[CHAPTER 2] My Dearest Hubby

  1. suzy mantan pacar 10 hari,nah terus gimana ceritanya luhan nikah dg jiyeon terus sudah hamil atau luhan selingkuh,ingat ya luhan,jiyeon sudah bilang sama ara kalau luhan selingkuh dia akan meninggalkan dirimu selamanya..

  2. waduh sooji bangun, duuhh jangan ngeibetin hanyeon yaaa pliisss gakuat jiyeon lagi hamil tua diribetin masalah cewe u.u ughh lanjuutt thoorrr gasabar luhan pulang terus mereka balik lovey dovey ehehehehe jangan lama lama yaa updatenya u.u

  3. Aduuuhh jiyi.. Qm hrs mkn,
    Kshn kn aegy na. . Dy perlu asupan tuk trus tumbuh,
    Aigoo psngn ni, tp bgs Ĵΰƍa saling nutupi kondisi skt mrk, agr G̲̮̲̅͡å da yg terbebani,,
    Hmm signal2 luhan bakal ϑi rebut udh mulai muncul nich

  4. Haduhh sooji bangun lagii. Wahh gawat nihh

    Mereka memang pasangan yg unik sumpah, apalagi pas keruanya menutupi selang infus hihi, bagian itu sweet banget menurutku :3

    Next part chingu^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s