Please, Give Up

Please, Give Up

|| Moon Taeil NCT U and You || Friendship || PG-15 ||

***

Sebut saja namanya Taeil. Pemuda yang memiliki usia yang sama denganku. Pemuda yang menghabiskan sebagian besar masa kecilnya bersamaku. Pemuda yang menurut rencana, harusnya lahir di tahun dan bulan yang sama denganku. Tapi karena aku tidak cukup sabar untuk melihat dunia, aku jadi lahir dua bulan lebih awal –prematur.

Taeil itu bukan berasal dari keluarga miskin, orang tuanya sama dengan orang tuaku, pegawai bank yang memiliki jabatan yang lumayan. Tapi sejak masuk kuliah tahun lalu, hidupnya dipenuhi dengan pekerjaan paruh waktu. Waktu luangnya hanya saat malam hari, di atas jam sepuluh, ketika pekerjaannya di kafe dekat kampus selesai.

Bukan uang yang menjadi alasan Taeil bekerja. Melainkan hal lain, yang hanya dia dan aku yang tahu. Alasan sederhana namun terlalu kuat untuk kugoyahkan. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk mengubah keputusannya, meski sebenarnya aku merasa kehilangan. Aku masih ingin bermain dengannya seperti waktu kecil.

“Aku bertengkar lagi dengan Taeyong.”

Maka satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk tidak kehilangan waktu terlalu banyak bersamanya adalah, merecokinya saat bekerja. Konotasinya terdengar negatif, namun aku tidak mengganggunya. Tanpa dikatakan melalui lisan, memang. Tapi aku tahu jika Taeil sangat senang saat aku menemani setengah jam terakhirnya di kafe. Aku tahu, sangat tahu. Karena aku sangat mengerti dia. Taeil saja pernah bilang jika aku sangat mengerti dia, lebih dari orang tuanya.

“Memang sejak kapan kau tidak bertengkar dengannya?” Sembari membersihkan meja pelanggan, Taeil menanggapi ceritaku. Katanya, waktu bekerjanya tidak akan terasa lama jika kami berbincang seperti ini. Meski bahan pembicaraan kami sebagian besar adalah tentang pertengkaranku dengan Taeyong. Adik tingkat bersifat sok yang selalu punya bahan omongan untuk adu mulut denganku.

“Dia yang mulai duluan. Masa dia bilang aku bantet? Kan itu cari gara-gara namanya.”

Tinggi Taeyong sebenarnya tidak seberapa. Hanya saja, panjang kakinya memang abnormal. Jadi kesannya dia seperti tiang listrik, dan dengan seenak jidatnya mengejekku dengan kata bantet. Angka 160 dan 175 itu selisihnya hanya 15cm saja. Itu bukan angka yang besar.

“Kau kan memang tidak tinggi.”

Aku menggerutu. Sebenarnya Taeil ini berada di pihak siapa? Yang menjadi temannya sejak kecil kan aku. Kenapa setiap responnya terkesan lebih membela si mata bola ikan itu?

“Tapi tidak bantet juga.”

“Lalu apa? Pendek? Kurang tinggi? Atau fobia ketinggian?”

Aku mendelik padanya kesal. Mulai sekarang, sepertinya aku harus mempertanyakan tingkat solidaritasnya terhadapku. Taeil membela Taeyong terus sejak tadi.

“Tunggu sebentar. Aku ambil tas dulu.”

Pekerjaannya selesai. Biasanya memang Taeil hanya mengelap meja, sedangkan yang menaikkan kursi ke atas meja akan dilakukan oleh karyawan lain yang mungkin sekarang sedang bertugas di belakang.

“Ayo!”

Yang menjadi tujuan kami adalah halte bus terdekat dari kafe. Di sana kami akan mendapatkan kendaraan yang akan mengantar kami pulang bersamaan. Dan kami akan selalu mengambil bus terakhir, supaya bisa semakin terlambat pulang. Itu mau Taeil, sebenarnya. Jadi aku ikut-ikut saja. Toh, kedua orang tuaku tidak mempermasalahkan putrinya pulang larut jika itu bersama Taeil.

“Taeil,” panggilku saat kami sudah duduk di bangku besi halte. Menunggu bus terakhir. “Hari ini aku juga bertengkar dengan Jaehyun.”

Ini akan beda dengan cerita Taeyong tadi. Tidak akan berbau adu mulut tidak penting, berbau saling mengejek atau semacamnya. Aku dan Jaehyun bukan senior-junior layaknya kucing dan anjing seperti aku dan Taeyong. Melainkan senior-junior yang layaknya sepasang kelinci. Itu perumpamaan yang Taeil berikan.

“Dia menuntut kejelasanmu?” Perkataan itu sontak membuatku menoleh padanya. Bagaimana dia bisa tahu? Oh, oke. Jika aku adalah orang yang paling mengerti Taeil, begitu juga sebaliknya.

“Sudah dua bulan masa pendekatan ini berjalan, tapi aku masih tidak mengerti bagaimana perasaanku padanya. Dia baik, manis, lucu, sangat menyenangkan. Aku suka saat bersamanya. Tapi, ya…” aku mengangkat kedua bahuku singkat. “…aku masih belum yakin dengan perasaanku sendiri.”

“Tunggu saja,” kata Taeil. “Kau memang tidak bisa yakin dengan perasaanmu dalam waktu singkat. Meski dua bulan adalah waktu yang cukup lama, tapi tunggu saja. Jika Jaehyun tidak sabar, biarkan saja dia pergi.”

“Begitu?”

Sebagai jawaban, Taeil mengangguk sekali. Pelan, tidak terlalu mantab, namun cukup meyakinkan di mataku.

“Ayo pulang!”

Bus kami sudah datang. Terakhir, sepi, dan kami akan duduk di bangku belakang dengan kepala yang kusandarkan pada bahunya. Setiap hari begitu. Lelah karena apapun, Taeil akan selalu menjadi tempatku bersandar.

Jarak dari halte kami naik tadi ke wilayah tempat tinggal kami sekitar lima halte. Jika bus melaju dengan kecepatan normal, kami akan sampai kurang lebih lima belas menit. Kami juga turun di halte yang sama, masuk ke gedung apartemen yang sama, dan tinggal di lantai yang sama. Kamar apartemen kami hanya berjarak dua pintu.

Ya. Sampai sejauh itulah bagaimana kami dekat satu sama lain.

Di dalam lift, ketika ujung telunjukku hampir menekan tombol angka dua belas, ujung telunjuk Taeil mendahuluiku dengan menekan tombol angka tiga puluh. Lantai tertinggi gedung apartemen tempat kami tinggal. Melihat itu, kutarik kembali tanganku, mengurungkan niatku.

“Kau pulang saja,” katanya. Tahu jika aku akan ikut serta dengannya ke atap.

“Tidak. Aku tidak mungkin pulang saat kau seperti ini,” kataku. “Kau sedang butuh tempat cerita. Dan tempat itu harus aku. Aku juga harus mendengarnya. Itu janji kita, kan? Mendengarkan satu sama lain.”

Taeil membenturkan punggungnya pada sudut lift pelan. Tangannya kembali masuk saku jaket. Ujung bibirnya terangkat sedikit. “Jangan menyesal mendengar ceritaku yang sekarang. Ini peringatan.”

Kerutan samar muncul di keningku. “Apa sudah parah?”

Bukan jawaban, melainkan senyuman yang kuperoleh darinya. Membuatku penasaran. Aku sudah mendengar cerita sebelumnya. Seperti drama yang memiliki beberapa episode, apakah sekarang sudah mencapai klimaks? Sampai aku harus diperingatkan?

Tidak berselang lama, kami sampai di atap yang ada gudang kecil di sudut kanan. Biasanya kami akan duduk di sana, menyempil di sudut supaya tidak terlihat siapapun. Alasannya, karena kami tidak mau melihat wajah satu sama lain saat bercerita. Di sana gelap, jadi mau menangis pun wajah kami tidak akan terlihat dengan jelas.

“Ceritalah! Mau sampai menangis juga tidak apa-apa,” ujarku yang disambut decihan remeh darinya.

“Memangnya aku ini kau yang menangis sesenggukan karena tasmu disembunyikan Taeyong?”

Aku mendengus kesal. “Itu tas pemberian nenekku sebelum beliau meninggal.” Karena itulah aku menangis di sini, meski sebelumnya aku sudah melampiaskannya dengan mengamuk pada Taeyong.

“Aku tahu.”

“Jadi apa ceritanya?” Aku menoleh padanya. Mengamati wajahnya yang tampak hitam saja. “Kemarin sampai Ibumu memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan dengan kelakuan Ayahmu. Sekarang bagai–”

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dunia terasa berhenti. Begitu juga dengan waktu. Detak jantungku. Yang bergerak hanyalah bibir lembutnya yang melekat pada bibirku. Astaga! Apakah ini benar?

“Tae-Taeil.” Aku tergagap ketika ciuman mendadak barusan terlepas. Tidak terlihat jelas memang, tapi aku yakin mataku menatap tepat pada matanya.

“Semalam aku melihat Ayah melakukan itu pada wanitanya. Ayah semakin menjadi setelah Ibu pergi. Ayah sudah berani membawa wanitanya ke rumah. Mungkin sekarang juga.”

“Ka-karena itu kau belum mau pulang?” Gagapku masih belum mau hilang. Efek ciuman tadi belum mau hilang. Otakku masih error. Belum mau bekerja dengan normal kembali.

“Ya. Mau dengar cerita lanjutannya?”

Apakah ini peringatan lagi? Apakah akan lebih dari ciuman?

“Hanya cerita saja, kan?” Tidak disertai prakteknya? Aku terbayang hal buruk mengenai pria yang membawa selingkuhannya ke rumah.

“Tidak,” katanya disertai gerakan cepat tangan meraih tengkukku, menciumku kembali. Lebih lama dari yang tadi. Apalagi aku membalas, semakin tidak mau lepaslah ia.

Bersyukur di sini gelap. Jika tidak, Taeil pasti melihat wajahku yang kini mungkin sudah memerah. Yang membuatku tak mengerti, kenapa ciuman ini membuat dada dan perutku seperti ada yang tidak beres. Jika tadi detaknya terasa berhenti, sekarang jantungku berpacu cepat sekali, perutku seperti ada yang menggelitik dari dalam.

“Tidak bisakah kau saja yang menyerah?” Taeil bertanya seperti itu setelah melepas ciumannya. “Jangan tunggu Jaehyun yang menyerah, kau saja yang menyerah. Aku tidak mau pada akhirnya kau akan pergi padanya.”

“Apa maksudmu?”

“Ibuku pergi, Ayah juga tidak lagi peduli denganku. Jika kau pergi juga dengan Jaehyun, aku dengan siapa?”

Aku juga tidak mau pergi kemana-mana. Mauku, pada siapapun aku menjatuhkan hati nanti, aku tidak akan pergi dari Taeil. Tapi apakah aku jadi tidak terkesan egois? Begitu juga jika aku jadi dengan Jaehyun, aku tidaj yakin jika dia akan membiarkan hubunganku dengan Taeil tetap dekat seperti sekarang.

“Kau tidak akan pergi dariku, kan?”

Dan setelah kupikir-pikir lagi, daripada mempertimbangkan yang tidak kunjung pasti setelah dua bulan lebih namun mengorbankan waktu berharga yang sudah pasti, bukankah lebih baik aku memilih yang sudah pasti saja?

“Apa menurutmu aku bisa pergi?”

Tidak akan.

Fin!

6 responses to “Please, Give Up

  1. hai kak vhaerizz, pertama-tama mau ngucapin makasih dulu udah nulis ff dengan cast taeil karena kebetulan lagi dimabok nct dan biasku dia dan dan dan ini sukses bikin aku baper apalagi cast-nya jelas-jelas ditulis YOU yang mau gak mau bikin anak orang jadi baper plus ge er tingkat akut aku aku aku gatau mesti ngomong apalagi, kusuka tulisanmu kak tapi aku masih nemu typo dikit di beberapa kata (dikit aja kok!) ya udah mau ngetik apalagi ini gatau masih kebawa baper (dan dugeun-dugeun sendiri bacanya) apalah komennya gak jelas begini HUHUHU MAAFIN. tanggung jawab bikin anak orang baper berkepanjangan kak :——–(

    • Iyaaa… akhirnya nemu jg yg demen Taeil. Gk byk temen yg lirik tu anak satu. Typo ada sih emang, ini sebenernya gak tau kalo udh ke posting. Kmren salah pencet publish pdhl blum sisipin foto n blm editing juga. Kalo gk cek email jg gak bakal tau kalo udh ke post. Angkat tangan kalo soal baper. Aku sendiri juga soalnya. Haha. But, makasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s