[Two Shot] Fly Me to The Moon

a whitearmor story

.

.

BTS’ Jeon Jungkook and others

Two Shot | AU and Fantasy | General

.

.

.

Ketika Jungkook membuka kedua matanya di pagi ini, ia tersadar jika dua puluh empat jamnya sudah berlalu. Ia bangkit dari ranjang dan ke kamar mandi. Di sana, ia menggosok giginya tepat tiga puluh tiga kali pada setiap sisi serta mencuci muka. Tak lupa ia juga membasuh seluruh tubuhnya dan membersihkan rambut. Terakhir, ia akan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya.

Hari ini ia memutuskan untuk memakai baju berwarna biru cerah lengkap dengan celana berwarna putih selutut. Ia juga menyempatkan diri untuk memandangi bayangannya di cermin untuk memeriksa jika ada yang terlewatkan.

“Jungkook! Ayo sarapan.”

“Aku pergi dulu!”

Jeon Jungkook lantas memakai sepasang sepatu converse-nya dan pergi begitu saja. Ini adalah kebiasaan dalam hidupnya. Ia akan pergi dari rumah tepat pukul tujuh lebih dua puluh menit setelah melewatkan sarapan dengan menu yang selalu sama—dua potong roti dan segelas susu. Kemudian ia akan berjalan ke tempat kerjanya selama sepuluh menit.

Sebuah tempat makan yang memiliki papan bertuliskan “Paradise” langsung menyapanya. Ketika pintu terdorong, suara gemerincing lonceng juga ikut menyambutnya. Jungkookpun langsung pergi ke dapur. Ia kini sudah berada di depan wastafel lengkap dengan sepasang sarung tangan karet dan celemek usang.

Hari ini adalah hari Rabu dan ia akan menjelma menjadi upik abu sampai matahari terbenam. Pekerjaan asli Jungkook adalah seorang penyanyi di tempat makan itu. Bayarannya mungkin tidak banyak, hanya sekitar 9000 Won* setiap tampil. Dalam satu minggu Jungkook hanya bisa tampil sesuka hati sang pemilik, bisa seminggu tiga kali bahkan tidak sama sekali.

Seperti hari ini, Jungkook yang sudah berpakaian cukup rapi untuk ukuran seorang pencuci piring harus melakukan pekerjaan selingannya ini sambil berharap-harap cemas. Ia tidak akan pernah tahu kapan ia akan menjelma sebagai seorang penyanyi. Meskipun begitu, Jungkook tetap saja senang. Setidaknya ia bisa menyanyi dan membuat orang-orang di sekitarnya ikut bernyanyi bersama.

“Jeon Jungkook!”

Suara berat yang terdengar berat memanggilnya—suara pemilik tempat makan—membuat Jungkook segera mematikan kran air dan melepas sarung tangan karet serta celemeknya. Tak lupa ia mengeringkan kedua tangannya dengan beberapa tisu. Setelahnya ia baru benar-benar pergi.

“Malam ini pukul delapan tepat, kau harus menyanyi. Saat istirahat makan siang, pulanglah ke rumah dan bersihkan dirimu. Tamu yang memintamu untuk tampil adalah seseorang yang sangat penting,” titah sang pemilik. Jungkook mengangguk lalu kembali ke dapur.

Lima jam waktunya sudah habis untuk mencuci peralatan makan bekas pembeli yang datang. Jungkook kini bisa sedikit mengistirahatkan kedua tangannya yang sudah berubah kisut dan kaku. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas, tepat saat istirahat makan siang. Maka iapun segera berjalan cepat kembali ke rumah.

Di perjalanan, ia menghentikan langkah. Tepat di tepi sebuah sungai yang jernih dan tenang. Jungkook menatap pemandangan indah di depannya lekat. Ia menghirup oksigen dalam-dalam hingga mencapai batas maksimum kapasitas paru-parunya. Angin yang berhembus membelainya lembut. Jungkook merasa nyaman dan bahagia.

Jungkook sangat menyukai warna biru.

Sebelumnya ia tidak pernah merasakan bahagia yang seutuhnya. Hari-harinya selalu dilewatkan begitu saja tanpa memiliki arti. Ia bagaikan sebuah kapal yang nyaris karam, hanya tinggal menunggu waktu.

Namun ketika ia memiliki waktu seperti ini, dimana ia bisa memandang hamparan pemandangan yang didominasi warna biru, ia merasa seperti ingin hidup lebih lama. Warna biru membuat Jungkook merasa tenang lebih dari warna apapun.

Menyadari ia sudah cukup bahagia, langkahnya kembali dilanjutkan. Sesampainya di rumah, tidak ada seorangpun di sana. Semua anggota keluarganya memiliki kesibukan masing-masing. Ayahnya masih belum pulang dari urusan kerja di luar kota, ibunya pasti sedang sibuk di toko kue, dan kakaknya sedang kuliah.

Ya, Jungkook mengalah untuk kakaknya. Setelah lulus dari sekolah menengah atas, ia memutuskan untuk langsung bekerja karena alasan biaya. Meskipun begitu Jungkook tidak mempermasalahkannya.

Jungkook hanya membutuhkan waktu satu setengah jam untuk bersiap-siap. Sebelum pergi, ia juga menyempatkan dirinya untuk sekedar memasak makanan untuk berjaga-jaga jika ibu atau kakaknya lupa membeli makanan. Total waktu yang ia habiskan akhirnya genap menjadi dua jam.

Di perjalanan, Jungkook merasa jika orang-orang memandangnya dengan tatapan aneh. Menyadari itu, ia berhenti sejenak di depan toko yang memiliki jendela besar di depannya. Jungkook mematut dirinya di depan jendela itu sambil mencari letak keanehan dalam dirinya. Namun ia tidak berhasil menemukannya, semua sama saja. Ini juga bukan pertama kalinya ia keluar dari rumah dengan setelan jas milik kakaknya yang entah sudah dipakai berapa kali.

Ketika ia sampai di “Paradise” segera ia pergi ke sebuah ruangan yang menjadi tempatnya biasa berlatih. Di ruangan itu ada seorang laki-laki berkulit seputih susu dengan rambut yang ia warnai dengan warna mint. Orang-orang biasa memanggilnya Suga. Ia adalah pemain piano tetap di “Paradise”.

“Jeon, kau sudah datang!” sahut Suga sambil mengangkat tangannya.

Jungkook hanya tersenyum lalu memberikan high five pada Suga sebagai balasan. “Ku dengar hari ini ada tamu penting jadi Bos meminta kita untuk bermain musik. Apa lagu yang mau kau bawakan?” tanya Suga kemudian.

Laki-laki bermarga Jeon itu terdiam sesaat, memikirkan lagu yang cocok untuk malam ini. Sebenarnya ia tidak masalah dengan berbagai genre serta tipe lagu namun kali ini entah mengapa ia harus lebih berhati-hati terlebih atasannya sudah bilang jika orang yang memintanya menyanyi ini adalah tamu yang sangat penting.

“Apa Bos bilang tamunya laki-laki atau perempuan?” Suga menginterupsi. Jungkook menggeleng dan kembali berkutat dengan pikirannya pun Suga. “Ah! Aku tahu! Bagaimana jika di antara Caffeine; Eyes, Nose, Lips, atau Yanghwa Bridge?”

“Aku pilih yang terakhir.”

Jarum pendek sudah tepat di angka delapan. Jungkook dan Suga berada di posisi mereka. Suga berada di depan piano dan Jungkook berada sedikit di depannya dengan sebuah mikrofon yang berdiri tegap di depannya.

Malam ini semua yang dirasakan oleh Jungkook berbeda. Ada sedikit perasaan cemas juga takut bahkan beberapa kali ia merasakan perutnya mulas. Para pelanggan yang datang kali ini juga memandangnya sedikit berbeda. Pemilik “Paradise” juga tidak biasanya ikut menyaksikan penampilannya seperti malam ini.

Lima menit kemudian, lampu di seluruh “Paradise” dimatikan total. Cahaya-cahaya lilin di sekitar yang menjadi penerangan meski temaram. Bersamaan dengan itu, suara gemerincing khas ketika seseorang membuka pintu berbunyi cukup nyaring. Pada hitungan ketiga, Suga mulai menekan tuts-tuts pada piano dan melodi mulai terdengar. Jungkook menutup matanya berusaha merasuk dalam lagu.

Jungkook berhasil menyelesaikan lagunya. Suara riuh tepuk tangan menyambutnya di saat lagu benar-benar berhenti mengalun. Jungkook dan Suga berdiri lantas membungkukkan badannya sebagai tanda terima kasih. Lampu di “Paradise” kembali menyala.

Jungkook menatap lurus seseorang yang duduk di meja paling depan dari tempatnya berada. Orang yang disebut-sebut adalah tamu penting oleh sang pemilik. Orang itu tidak menunjukkan ekspresi senang ataupun kecewa. Raut wajahnya benar-benar datar. Tanpa berkata apapun, orang itu segera pergi meninggalkan tempat.

“Ini bayaranmu,” ucap sang pemilik sambil memberikan Suga dan Jungkook sebuah amplop. Merekapun mengucapkan terima kasih. “Aku penasaran berapa isinya,” sahut Suga kemudian membuka sedikit perekat pada amplopnya dan mengintip. Jungkook hanya terdiam.

“Ayo pulang!” ajak Suga kemudian. Namun Jungkook hanya mengikuti Suga sampai di perempatan blok pertama sebab arah rumah mereka berbeda. Lagi-lagi Jungkook menghentikan langkahnya tepat di tepi sungai yang sama. Ia memandang langit yang kelam yang hanya dihiasi sebuah bulan purnama.

Jungkook mengangkat tangannya, berusaha meraih bulan yang letaknya sangat jauh. Tiba-tiba ia merasa seseorang datang. Ia sontak menurunkan tangannya dan menoleh. Di sampingnya, orang yang tadi berada di “Paradise” entah dari mana muncul. Kali ini ekspresi di wajahnya agak berbeda, ia tersenyum pada Jungkook meskipun hanya tersenyum tipis.

Let’s fly to the moon, Jeon Jungkook.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s