[One Shot] SCANDAL 2015

11822559_1699025126987660_6973966753260155372_n

 

Scandal 2015 | wineonuna

AU Romance | One Shot | G

Zhang Yi Xing – Hwang Shu Eun (OC)

Minor cast: Wu Yifan

poster by. Rin

Desclaimer: nama Lay dan Kris dipakai untuk kepentingan cerita saja, OC dan plot adalah milik saya (author wineonuna). Menggunakan POV orang ketiga dalam cerita ini.

A/N: ini harusnya dipost tahun kemarin tapi apalah daya, aku cuma author yang nulis pake mood TT mohon maaf kalau ceritanya cheesy dan receh, fokusku cuma mau cerita ini siap rilis

Happy reading *winkeu*

===============================

 

 

Debut grup duo HEAL di awal tahun terbilang sangat sukses, single debut mereka mencapai all kill tak ayal para gadis remaja korea sangat mengidolakan mereka. Meski keduanya berasal dari cina tapi bahasa tak menjadi kendala untuk mereka, agensi ST yang menaungi mereka meyakinkan penggemar bahwa kedua pria tampan ini tak akan berbeda dengan idola lain meski mereka dari cina.

 

Seorang gadis melempar ransel ke lantai lalu menghempaskan diri ke sofa empuk berwarna soft cokelat yang berhadapan langsung dengan tv layar datar berukuran sedang yang masih menayangkan berita tentang grup pendatang baru bernama HEAL.

Oppaku bahkan lebih tampan dari kalian!” cibirnya setelah melihat wajah kedua personil HEAL di layar tv. Gadis itu mengambil ponsel dan membuka kunci ponselnya hingga menampilkan wajah solois Roy Kim saat perform. Ia bahkan membandingkan wajah Roy Kim dengan dua personil HEAL.

“Shu Eun, Kau kah itu?”

“Iya, ini aku.” Jawab gadis yang daritadi memandangi ponselnya sambil tersenyum yang bernama Shu Eun. Ia menggoyang-goyangkan kakinya di atas sofa dengan wajah tersipu malu seperti baru saja diperhatikan seorang pria.

BUK. Sebuah bantal mendarat tepat di atas wajahnya, menutupi pandangannya dan mengganggu imajinasinya. Shu Eun menarik kasar bantal tersebut lalu duduk dan menatap nanar ke gadis lain yang berjalan menuju pintu keluar.

Unnie, memangnya aku salah apa?” protes Shu Eun.

“Kau selalu tersenyum memandang foto Roy Kim. Kau tidak lihat ada grup baru yang lagi naik daun, Heol, Kol, Kill, Nil…”

“HEAL!”

“Ah iya, itu. Mereka lebih tampan dari Roy Kim, pintar bernyanyi dan menari.”

“Roy oppa tak perlu pandai menari untuk merebut hati wanita, ia hanya perlu memetik gitar lalu bernyanyi maka semua wanita akan meleleh mendengarnya.”

“Kau perlu ke dokter mata, Hwang Shu Eun. Mungkin kau perlu pakai kacamata kuda untuk bisa melihat jelas.”

“Terus saja berdebat sampai Roy Kim oppa menikah denganku, berdebat denganmu sama seperti berdebat dengan tembok yang tak mengerti perasaan orang lain. Lagipula tampang grup baru itu seperti tampang pasangan homo. Kau tahu itu kan?”

Gadis yang dipanggil unnie itu segera mendekat dan mendekap mulut Shu Eun dengan erat. Matanya bergerak ke kanan dan kiri seolah mawas akan orang lain sedang di ruangan itu hanya ada mereka berdua dan anjing kecil mereka yang sedang tertidur di bawah meja. Awalnya Shu Eun pasrah tapi kemudian ia sadar bahwa unnienya berlebihan, ia segera melepas dekapan tangan unnienya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Jaga ucapanmu, Shu. Kau harus hati-hati berbicara tentang grup itu mulai dari sekarang.”

“Kenapa?”

“Karena tetangga baru kita adalah mereka dan setiap waktu bisa saja ada ssasaeng yang menguping obrolan kita. Aku tidak mau terlibat masalah dengan ssasaeng ataupun grup itu.”

Shu Eun tak terkejut mendengar tetangga baru mereka adalah duo grup yang baru naik daun itu mengingat dua bulan sebelumnya dan selama beberapa minggu belakangan ini rumah di sebelah mereka sangat berisik, entah itu suara bor mesin yang menembus dinding atau paku yang menancap di dinding atau suara mesin-mesin aneh yang cukup mengganggu di tengah waktu istirahat Shu Eun. Belum lagi beberapa petugas tak dikenal bolak-balik mengecek keadaan rumah dan penghuninya hanya untuk memastikan kami tidak memasang sesuatu yang bisa membuat tetangga baru kami tak nyaman.

Ting Tong.

Kedua pasang mata gadis-gadis itu bertemu, unnienya tampak panik sementara Shu Eun membeku. Tamu seperti apa yang datang di jam seperti ini apalagi tidak satupun dari mereka tak melakukan delivery. Sang unnie berdiri dan berjalan menuju monitor kecil yang menempel di dinding dekat dapur sementara Shu Eun masih duduk penasaran menunggu jawaban unnie tentang tamu yang datang.

Wajah sang unnie terkejut lalu menoleh ke Shu Eun, bibirnya mulai melafalkan kata HEAL yang membuat Shu Eun menunjukkan ekspresi tak peduli. Ia memutar tubuhnya menghadap tv dan channel tv ke pertunjukan gag concert. Unnie yang tak dipedulikan merapikan diri dan berjalan ke arah pintu untuk membukanya.

“Halo.” Sapa salah satu dari pria yang berdiri di luar pintu rumah.

“Ya, halo.” Balas unnie canggung.

“Kami yang tinggal di sebelah rumah anda, aku Lay dan dia Kris.” Ucap pria berkulit putih dengan dimple kanan yang menambah daya tariknya bagi unnie.

“Ehem…”

“Ah… Silakan masuk.” Unnie membuka lebar pintu rumah dan memberi jalan pada dua pria tinggi dan tampan itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Kedua pria itu masuk dan berjalan dengan gagah sementara Shu Eun menoleh sesaat untuk melihat tamu tengah malam mereka lalu kembali fokus menonton tv. Tampaknya Shu Eun tak minat berbaik hati pada tetangga baru mereka.

“Halo, kami tetangga baru kalian.” Sapa Lay kembali namun Shu Eun tak menggubris terlalu, ia hanya mengangguk tanpa menatap wajah Lay yang menyapanya dengan ramah.

“Shu, sikapmu!” Tegur unnie.

Dengan keengganan Shu Eun berdiri dan membungkuk kecil pada dua pria itu. Lay masih tersenyum melihat Shu Eun sementara Kris bersikap arogan karena sikap Shu Eun yang tak menghargai keramahan mereka.

“Aku Lay dan dia Kris. Maaf mengganggu kalian malam-malam seperti ini, kami baru ada waktu memperkenalkan diri.” Ucap Lay.

“Tidak apa, kami mengerti kalian sangat sibuk. Ah, silakan duduk. Shu akan membuatkan kopi untuk kalian. Shu…?”

Tanpa menjawab, Shu Eun melangkah malas ke dapur yang berada tepat di belakang sofa yang sudah diduduki dua tamu tak diundang mereka. Dumelan kecil tentang tamu mereka menghiasi kesendirian Shu Eun sementara sang kakak mengobrol ringan dengan tamunya.

“Sudah jelas, mereka tak lebih tampan dari oppa. Bisa-bisanya unnie bilang aku harus pakai kacamata kuda, dia yang harusnya pakai itu.” dumel Shu Eun.

Selesai membuat kopi, Shu Eun membawanya ke hadapan tamu dan kakaknya yang masih asyik bercerita ringan tentang kehidupan mereka. Selesai menaruh cangkir kopi, Shu Eun berbisik kecil pada sang kakak. Ia ingin masuk ke kamarnya dengan alasan mengantuk. Benar, itu hanya alasan karena Shu Eun tak tertarik mendengarkan cerita dua pria yang merantau ke Korea untuk bekerja sebagai model yang justru debut sebagai idol group.

“Maaf aku memotong, sepertinya adik nona Hwang tak begitu nyaman kami di sini jadi aku dan Lay akan kembali ke rumah saja. Maaf karena sudah mengganggu.”

Pria tinggi pemilik tatapan tajam itu menarik Lay berdiri dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Ia dan Lay membungkuk lalu berjalan menuju pintu keluar, permintaan maaf unnie hanya disambut senyuman oleh Kris sementara Lay mengucap janji untuk kembali lagi nantinya.

“Shu, kau tidak sopan!”

“Aku benar-benar mengantuk. Apa lebih sopan tertidur sambil mendengarkan kalian bercerita?”

“Hwang Shu Eun! Entah ibu mengidam apa waktu mengandungmu sampai kau begitu tak sopan dengan tamu.”

“Hwang Yeo Reum! Aku bahkan tidak mengerti mengapa kau membela tamu yang jelas-jelas salah waktu untuk bertamu? Ini sudah pukul setengah sebelas malam dan mereka baru bertamu? Yang tidak sopan itu mereka.”

“Kita harus maklum karena mereka adalah idol…”

“Dan mereka harus maklum karena aku lelah. Aku tidak mau berdebat panjang denganmu, unnieku tersayang. Good night, I love you.” Tutup Shu Eun, ia berjalan menuju anjing kecil jenis cihuahua lalu meraihnya masuk ke dalam gendongan dan membawanya menuju kamar tidurnya.

 

= S C A N D A L   2 0 1 5 =

 

“Shu… Sandwichmu?”

I’m on diet!”

Shu Eun menutup pintu rumah lalu berlari menuju lift di ujung lorong. Ia terlambat untuk kerja magang pertamanya di sebuah rumah produksi, seharusnya 10 menit yang lalu ia sudah berada di dalam bis untuk ke lokasi syuting sebuah iklan minuman tapi karena alarm yang tak berbunyi atau dirinya yang tak mendengar alarm berbunyi sekarang ia harus mengejar waktu untuk sampai di lokasi.

“Ayolah… Ayolah…” Pintanya pada lift yang berjalan.

“Selamat pagi, nona Hwang.”

“Pagi. Oh, tetangga baru.” Balas Shu Eun yang melihat sekilas ke samping kanannya dimana Lay dan Kris tampak segar pagi ini namun tidak dengannya.

“Hari libur seperti ini kau terlihat buru-buru. Kau ada janji? Janji kencan, mungkin?”

Pintu lift terbuka, Shu Eun segera masuk tanpa menjawab pertanyaan Lay yang terdengar menggoda dirinya. Ia sedang terburu-buru dan tak ingin peduli dengan dua idol baru yang menjadi tetangganya yang juga kalah tampan dengan Roy Kim di mata Shu Eun.

“Hmm… Nona Hwang, apakah besok kau dan kakakmu ada waktu? Kami dapat kiriman makanan dari ibunya Kris gege dan ingin mengundang kalian untuk…”

“Aku tidak bisa janji, mungkin unnie bisa.” potong Shu Eun.

Pintu lift terbuka dan Shu Eun segera berlarian keluar menuju pintu utama apartemen untuk mencari taksi, ia bahkan tak menggubris panggilan Lay.

“Berhentilah bersikap manis pada gadis kasar itu, Zhang Yi Xing!”

“Aku suka menggodanya, hehehe. Aku rasa dia punya pribadi yang unik dan kalau aku lihat dia cocok denganmu. Kucing nakal aawwrr.”

Kris mempercepat langkahnya meninggalkan Lay yang bertingkah layaknya kucing yang marah. Lay yang ditinggal segera menyusul Kris sambil terus menggodanya, kali ini mereka menggunakan bahasa mereka sendiri untuk berbicara.

Shu Eun sudah berada di dalam taksi, ia meminta supir taksinya untuk sedikit ngebut. Dering ponselnya tak berhenti berbunyi, Shu Eun tak berani mengangkatnya tapi ia harus mengangkat telepon itu untuk tahu apa yang terjadi.

Ia menggigit bibirnya begitu mendengar suara orang yang meneleponnya sedikit meninggi lalu ia mengangguk dan menanggapi ucapan yang di seberang dengan cepat dan tegas. Helaan napas Shu Eun terdengar panjang, ia meminta supir taksinya untuk berhenti di sebuah café yang berada tak jauh dari tujuannya.

Shu Eun segera berlari masuk ke dalam café dan memesan dua gelas ice coffee double shot dan dua cup muffin cokelat. Ia sedikit mengeluh karena harus membawa ini ke lokasi, bagaimana tidak, ia adalah pekerja magang untuk asisten FD tapi di hari pertamanya Shu Eun merasa seperti asistennya asisten.

Shu Eun berjalan cepat menuju lokasi syuting yang berada sekitar 200 meter dari tempatnya sekarang, dering ponselnya sepanjang perjalanan tak berhenti berdering sementara kedua tangannya penuh memegang minuman dan karton berisi muffin, namun akhirnya Shu Eun berhenti sesaat untuk mengambil ponsel yang terletak di saku celananya. Sambil berjalan, Shu Eun menjawab panggilan dari ponselnya.

“Aku sedang di jalan menuju lokasi. Ah, aku sudah dekat lokasi. Baiklah.”

Shu Eun berlari menuju lokasi dan segera menemui seorang staff yang sudah menunggunya. Ia membungkuk beberapa kali sambil mengucap kata maaf, kemudian staff itu menyuruh Shu Eun mengikutinya dan sampailah mereka di sebuah tenda.

“Masuklah, artis hari ini ada di dalam. Antarkan minuman mereka lalu temui aku di set sebelah sana.”

“Baiklah.”

Shu Eun perlahan mendekat ke tirai tenda tapi langkahnya terhenti sejenak, ia mendengar suara yang menurutnya cukup janggal. Shu Eun membuka tirai dan menemukan dua pria sedang bercanda dengan jarak yang dekat dan aneh untuknya.

“Sudah aku bilang jangan sentuh yang itu.”

“Lalu aku harus sentuh yang ini? ini? atau ini?”

“Hentikan, Lay.”

Shu Eun masuk begitu mendengar nama Lay disebut, “Permisi, ini untuk kalian.” Setelah menaruh ice coffee dan bungkus muffin, Shu Eun segera berbalik dan berjalan keluar. Sampai di luar, Shu Eun mulai menghembuskan nafasnya dengan panjang.

“Apa mereka benar-benar gay?” ia mencicit kemudian berlalu menuju set dimana ia akan mendapatkan tugas selanjutnya.

Take pertama dimulai, grup idol baru HEAL melakukan akting untuk mempromosikan ponsel keluaran terbaru. Shu Eun mendapatkan tugas pertamanya untuk mengatur para fans yang memang didatangkan untuk ikut syuting pagi ini dan sebenarnya ia tidak terlalu suka menghadapi mereka karena fans dari grup rookie ini kebanyakan gadis muda yang emosinya bisa saja tersulut jika berhubungan dengan ketidaknyamanan.

“Apa kalian sudah memiliki nama fandom? Apa namanya?” Tanya Shu Eun pada beberapa gadis muda yang berdiri di dekatnya.

Unnie benar-benar tidak tahu nama fandom kami?” jawab gadis bersurai panjang dan legam.

“Aku tidak mengikuti perkembangan idol lagi jadi aku tidak tahu.” Balas Shu Eun yang mulai kesal karena diremehkan oleh penggemar HEAL.

“Heol! Unnie benar-benar ketinggalan zaman, nama fandom kami adalah HEALER. Penggemar seperti penyembuh yang selalu ada untuk menyembuhkan mereka jika terluka.” Jelas yang lainnya.

“KITA AKAN LAKUKAN TAKE KEDUA, IKUTI ARAHAN UNNIE YANG ADA DI SANA. OKAY?”

NE!

Hari sudah mulai sore, syuting hari ini belum selesai namun karena HEAL memiliki jadwal lain maka akan dilanjut dua hari berikutnya dengan jadwal syuting indoor sekaligus pemotretan. Grup baru itu sudah pergi sementara Shu Eun masih berada di lokasi untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan staff lain.

Shu Eun duduk di pinggir set setelah menyelesaikan pekerjaannya dan meeting untuk syuting hari berikutnya. Sebuah minuman kaleng berada di hadapannya, ia melihat rekannya Nayeon yang membawa kaleng itu ke hadapannya. Shu Eun menerima dan membuka penutup kaleng itu lalu mulai meneguknya beberapa kali.

“Bagaimana disini?”

“Haaa… Lumayan melelahkan, aku tidak menyangka ternyata cukup merepotkan berurusan dengan penggemar tapi aku senang bekerja seperti ini.”

“HEAL memang grup baru tapi mereka sangat profesional, aku akan menjadi fans mereka. Benar kan, Shu?”

“Entahlah, aku tidak tertarik dengan mereka. Lagipula aku akan setia dengan Roy oppa.

“Kau harus hati-hati, Shu. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi besok, mungkin kau akan menyukai salah satu dari mereka dengan gila-gilaan. Hahahah.”

“Diam kau Yoo Nayeon! Tidak akan terjadi!”

Nayeon pergi meninggalkan Shu Eun yang tengah bersiap untuk pulang. Hari ini sangat melelahkan untuknya. Langit senja mulai berganti gelap dan Shu Eun harus berjalan menuju halte karena uangnya tidak cukup untuk membayar taksi.

Kakinya sungguh terasa pegal, tungkainya bahkan terasa akan terlepas dari tempatnya. Biar begitu, Shu Eun tetap merasa senang karena ini adalah cita-citanya. Tujuannya hanya satu, ia bisa bertemu dengan Roy Kim dan mengurusi kebutuhan Roy Kim selama proses pembuatan iklan suatu saat nanti.

Menunggu bis yang datang tidak terlalu membosankan bagi Shu Eun karena idolanya Roy Kim tengah melakukan siaran langsung di v-app. Shu Eun memasang earphone dan mulai menonton siaran Roy Kim. Wajahnya tersenyum bahkan sesekali ia menunjukkan kebahagiaannya melihat layar ponsel.

Tidak peduli dengan keadaan sekitar, Shu Eun larut dalam kesenangannya dan tak sadar sebuah mobil hitam sudah 5 menit berhenti di depan. Karena tak digubris, seorang pria turun dari mobil tersebut dan berdiri tepat di depan Shu Eun. Gadis itu merasa ada yang aneh lalu mengalihkan pandangannya ke depan, mendapati seseorang berdiri di depannya Shu Eun menengadah untuk melihat pemilik tubuh yang ada di hadapannya.

“Kau…”

Pria itu membungkuk dan melihat ke layar ponsel Shu Eun, “Pantas kami memanggilmu tidak ada ada jawaban, ternyata kau sedang menonton. Mau pulang bersama kami?”

Shu Eun melepas earphone, “Aku akan pulang naik bis saja.”

“Ayolah pulang bersama kami, rumah kita kan searah malah selantai. Lagipula, ini sudah malam, tidak baik seorang gadis pulang sendiri semalam ini.”

“Ini baru jam 7. Bis juga masih ada.” tolak Shu Eun sekali lagi.

Dari dalam mobil, “Yi Xing, sudahlah. Kalau dia tidak mau jangan dipaksa.”

Shu Eun menelisik ke dalam mobil, wajah angkuh Kris terlihat samar. Shu Eun kembali memasang earphone dan mengabaikan Lay yang kembali menatapnya setelah selesai memberi kode pada Kris, “Baiklah kalau itu maumu. Kami duluan ya.”

Shu Eun sudah tak mendengar apa-apa lagi, ia kembali tersenyum melihat layar ponselnya.

= S C A N D A L   2 0 1 5 =

“Shu… Antarkan makanan ini ke grup HEAL. Aku baru mencoba resep macaroon dari teman kerjaku.”

Yeo Reum meletakkan kotak macaroon yang sudah dihiasnya dengan pita berwarna hijau pastel kemudian berbalik dan mulai membereskan peralatan masak yang dipakainya. Shu Eun tak bergerak dari tempatnya, ia masih mendengarkan musik dengan earphone yang menempel di telinganya.

Lima menit berlalu, Yeo Reum merasa ada yang tak beres. Ia berbalik dan menemukan kotak yang dihiasnya masih berada di atas meja, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Shu Eun yang masih dengan posisinya.

“Hwang Shu Eun!”

Melihat panggilannya tak digubris sang adik, Yeo Reum melepas sarung tangan karet dan celemek yang digunakannya, kemudian berjalan menuju Shu Eun. Raut wajahnya tampak kesal karena menemukan alasan sang adik tak bergerak mengikuti perintahnya adalah karena earphone yang terpasang rapat di telinganya.

“Shu…!” Yeo Reum melepas earphone Shu Eun yang sebelah kanan membuat sang adik terkejut dan berdiri menghadap Yeo Reum dengan tatapan jengkel.

“Aku memintamu mengantar kue ke tetangga baru kita.”

“Kenapa tidak kau antarkan sendiri? Aku sedang mendengarkan lagu terbaru Roy Kim.”

“Aku sedang membereskan dapur. Atau kau yang mau membereskan dapur?”

Shu Eun melirik ke dapur, “No, thanks. Lebih baik aku jadi kurir saja.”

Shu Eun dari dulu memang enggan menyibukkan dirinya di dapur apalagi mencuci peralatan dapur, ia lebih suka membersihkan debu di apartemen daripada bermain dengan air, sabun cuci piring dan lemak. Shu Eun beranjak dan mengambil kotak macaroon.

Ia berjalan menuju pintu rumah berikutnya, dengan enggan ia menekan bel rumah tersebut. Tidak ada jawaban, Shu Eun kembali menekan bel dan kembali tidak ada jawaban. Ia pikir mungkin kedua pria itu sedang ada jadwal di luar jadi ia memutuskan untuk meninggalkan kotak macaroon Yeo Reum di depan pintu dan mengetuk beberapa kali di pintu.

Saat ketukan terakhir, pintu rumah terdorong pelan menandakan tidak terkunci. Shu Eun terkejut tapi detik berikutnya, ia mengangkat kotak macaroon lalu melihat ke kanan dan kiri takut-takut seorang penggemar fanatic grup baru itu menerkamnya karena memasuki rumah oppa mereka.

“Halo…?” Shu Eun masuk ke dalam rumah itu, karena setiap rumah dalam gedung apartemen ini memiliki posisi yang sama jadi ia tidak terlalu kaget.

“Aaa… aa… sakit. Pelan-pelan.”

“Siapa suruh punya lobang kecil. Nikmati saja.”

Shu Eun mengernyitkan dahinya. Antara jijik dan penasaran, Shu Eun menaruh kotak macaroon dari Yeo Reum dan berjalan mendekat ke sumber suara yang berasal dari kamar di ujung lorong.

“Aaahh… enak sekali. Teruskan..”

“Rasakan!”

“Aaaakk… sakit.”

Shu Eun menjinjit melewati lantai yang dipenuhi dengan pakaian yang berantakan. Pikirannya sudah macam-macam karena ia teringat kejadian di lokasi syuting waktu itu. Shu Eun bergidik namun naas baginya, kakinya menginjak sebuah mainan yang mengeluarkan suara. Bebek karet.

Shu Eun menegang. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Ia kehilangan akalnya sesaat sebelum akhirnya ia berpikir untuk berbalik dan pergi dari rumah pria-pria aneh. Shu Eun sudah melangkahkan kakinya setelah berbalik namun sebuah suara menghentikannya.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Suaranya terdengar ketus menurut Shu Eun, ia pikir suara yang sedang menegurnya adalah suara pria tinggi dengan wajah angkuh. Shu Eun tidak menoleh dan memilih untuk melanjutkan tujuannya untuk pergi dari sini.

“Kenapa kau masih berjalan? Berhenti!”

Kaki Shu Eun masih terus melangkah, bahkan kakinya semakin cepat berjalan. Usahanya kabur sia-sia, langkah kakinya masih kalah dengan pria yang menghentikannya. Kerah bajunya lebih dulu ditarik pria itu untuk menahan laju Shu Eun. Shu Eun menggigit bibir bawahnya karena ketahuan, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.

Yeo Reum memandang adiknya yang menatap kosong ke layar tv, kepalanya penuh pertanyaan apa yang terjadi di apartemen pria-pria itu hingga Shu Eun pulang dengan wajah yang lusuh.

“Shu, apa yang terjadi di sana?”

Shu Eun tak menjawab bahkan mungkin ia tak mendengar dengan baik pertanyaan Yeo Reum karena rasa syok yang masih ia rasakan. Kenapa hal itu menimpanya? Shu Eun memegang bibirnya.

“Hwang Shu Eun! Apa yang terjadi?” Yeo Reum tak lagi lembut bertanya, ia harus mendapatkan jawaban Shu Eun tentang alasan adiknya membisu seperti ini.

“Tidak ada. Aku akan ke kamar, aku lelah.”

Shu Eun berjalan menuju kamar, menghiraukan panggilan Yeo Reum. Ia menutup kamar dan terhuyung ke lantai karena tiba-tiba saja kakinya lemas, tak memiliki kekuatan menopang tubuhnya. Bagaimana bisa? Shu Eun kembali memegang bibirnya.

“Apa yang kau lakukan di rumah kami?”

Shu Eun masih diam, ia menunduk sambil mengigit bibir bawahnya. Ia ke sini hanya untuk mengantar kue buatan kakaknya tapi bibirnya terlalu kelu untuk mengucapkan alasannya.

“Ada apa ini?” seorang pria setengah telanjang keluar dari kamar, ia menemukan Shu Eun sedang mematung di hadapannya temannya.

“Apa yang kau lakukan, nona Hwang?”

“Kenapa kau terlihat kesal, Ge?”

“Dia masuk tanpa izin dan ingin mengintip kita. Bagaimana aku tidak kesal?”

“Apa dia mendengar semuanya?”

“Aku tidak tahu, sejak tadi ia berusaha kabur dan hanya diam saja.”

“Mandilah dulu, Kris Ge. Biar aku yang mengurus nona Hwang. Aku harap dia tidak mendengar apa-apa.”

Pria yang ternyata adalah Kris berbalik dan berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Lay dengan Shu Eun di ruang tengah. Lay mendekat ke Shu Eun, ia berbisik dekat telinga Shu Eun dengan pelan.

“Aku harap apa yang kau lihat dan dengar tidak sampai ke media atau publik, nona Hwang.”

Darah Shu Eun seperti berhenti mengalir, kepalanya mulai dipenuhi dugaan-dugaan tentang mereka berdua. Apakah hubungan mereka seperti itu? Apakah mereka memang seperti itu?

“Me-memangnya apa yang aku lihat dan de-dengar?” Shu Eun mulai gugup.

“Entahlah.” Jawab Lay santai. Ia mundur untuk memberikan ruang pada Shu Eun yang langsung dimanfaatkan gadis itu dengan bergegas keluar dari apartemen mereka.

“Bagaimana kalau dia benar-benar berpikir kita ada hubungan yang seperti ‘itu’?” Kris muncul dari balik pintu kamar mandi.

Lay tak menjawab, ia berjalan menuju dapur dan mengambil botol jus dari dalam kulkas lalu meneguknya beberapa kali. Kris sendiri kembali masuk ke dalam kamar mandi dan menyelesaikan urusannya di dalam kamar mandi dengan segera.

 

PANN: 5 Bulan Debut, Member Grup Ini Dicurigai Menjadi Pasangan Gay.

Kimimimi: mereka hidup berdua tidak ada yang tidak mungkin tapi aku tidak menyangka itu benar-benar terjadi.(+572, -89)

Poliiii: ketika fiksi penggemar menjadi nyata. Kkkkk (+472, -102)

Mihuya: kembalilah ke negaramu. (+298, -70)

 

“Kenapa ini bisa terjadi?” Lay melempar ponselnya ke sofa dan menatap wajah pria yang berdiri sambil menunduk di hadapannya. Wajah Lay terlihat merah padam, ia menahan amarah setelah melihat berita pagi ini.

“Semuanya masih diselidiki. Presdir Kim meminta kalian untuk tidak kemana-mana dulu. Semua aktivitas kalian sudah dibatalkan.”

“Ini gila! Gosip ini sangat sampah. Sh*t!!” umpat Lay.

Kris yang duduk dengan tenang hanya menghela napas, “Apa ssasaeng yang melakukannya?” tanyanya ringan. Ssasaeng terkenal sebagai penggemar yang terlalu fanatik, mereka bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatian idolanya.

Alat penyadap dan micro kamera beberapa kali ditemukan dalam apartemen Heal, hadiah yang dikirim oleh mereka pun bukan hadiah pada umumnya. Lay pernah menerima lingerie hitam dan merah bahkan alat pengaman dengan surat yang berisi ajakan untuk melakukan seks. Entah lebih buruk atau tidak dari Lay, beberapa kali Kris kehilangan pakaian dalamnya dan justru berganti dengan bra dan g-string. Tidak ada yang tidak muak dengan kelakukan ssasaeng yang ekstrim tapi sebisa mungkin kedua pria itu tak ambil pusing dan lebih memilih menyerahkan semuanya pada manajer.

“Masih diselidiki— sebentar. Halo?”

Kedua pria itu saling menatap. Seperti memikirkan hal yang sama, Kris segera berdiri dan menahan langkah Lay yang hendak berjalan menuju pintu keluar. “Jangan bertindak sembarangan, Lay.”

“Ini tidak sembarang! Sudah jelas gadis itu pelakunya.” Lay melepas tangan yang menahannya dengan kasar dan berjalan dengan cepat menuju pintu apartemen.

Kris tak bisa membiarkan Lay membuat keributan yang akan memperburuk keadaan. Ia berjalan tepat di belakang rekannya. Sebenarnya ia sendiri juga memiliki pikiran bahwa gadis yang beberapa hari lalu ke rumah adalah pelakunya tapi ia tak memiliki bukti, jika hanya menuduh dan ternyata tuduhannya salah. bukannya selesai malah keadaan bertambah buruk, dan inilah kenapa ia mengikuti Lay.

Berkali-kali Lay menekan bel menunggu pemiliknya membuka pintu dengan tidak sabar hingga bunyi kunci terbuka terdengar, seorang wanita yang dikenalnya muncul dari bagian dalam rumah dengan wajah tampak baru bangun tidur.

“Apa kau tidak tahu? Ini baru jam 6 pagi, tuan idol.” Ucapnya sinis.

Lay mendorong pintu agar terbuka lebar dan masuk diikuti Kris.

“Hei! Kau sangat tidak sopan. Apa yang kau mau?”

“Apa yang aku mau? Harusnya aku yang bertanya itu, nona Hwang Shu Eun! Apa yang kau mau? Kenapa kau menyebarkan berita yang tidak benar ke media?”

“Apa maksudmu? Berita? Media?” nada bicara Shu Eun mulai meninggi karena Lay tiba-tiba saja masuk ke rumah dengan tidak sopan dan terus menyudutkannya tanpa memberitahu permasalahan yang ada.

“Jangan pura-pura bodoh, nona Hwang. Kau tahu betul apa yang aku bicarakan.”

“Dengar! Pertama aku tidak tahu kau sedang membicarakan apa, kedua kau sangat tidak sopan tuan Lay dan ketiga keluar dari rumahku. Sekarang!” Shu Eun mengangkat tangan kirinya dan mengarahkan telunjuknya ke arah pintu keluar.

“Aku bilang berhen—hmmpphh.”

Kris menutup mulut Lay dan menariknya keluar. Entah benar atau tidak Shu Eun pelakunya tapi gadis itu benar, mereka berdua tidak sopan karena menerobos masuk dan langsung mencecar pertanyaan ke pemilik rumah.

Kris melewati Shu Eun sambil mengucapkan kata maaf, “Maaf. Tolong lihat berita hari ini dan kau akan mengerti semua.”

Shu Eun tak menanggapi ucapan Kris, ia terlanjur kesal dengan yang barusan terjadi. Gadis itu bahkan menutup pintu rumahnya dengan kasar. Shu Eun bernapas dengan kasar, ia mengumpat kedua pria yang sudah pergi dari rumahnya.

“Hoouuffhh… Ini mengesalkan. Humble oppa pantatku! Mereka terutama pria dengan nama Lay itu sangat kasar. Hhoouuffh… Kenapa di saat kakak pergi, masalah selalu datang? Hoouuffh.”

Shu Eun berjalan ke dapur, mengambil gelas dan mengisinya dengan air. Umpatannya masih berlangsung sampai ia meneguk habis air dalam gelas itu. Lagu Roy Kim – Bom Bom Bom mengudara di ruang tengah, Shu Eun berjalan untuk meraih ponselnya.

Nama Yeo Reum Unnie muncul di layar. Baginya ini waktu yang tepat, ia akan menceritakan betapa kasarnya perlakuan tetangga kesayangan kakaknya itu. Shu Eun menggeser panel merah untuk menjawab panggilan itu.

“Yeo—“

“Apa kau sudah melihat berita pagi ini? beritanya sangat ramai. Mereka pasti terguncang, aku tidak percaya mereka pasangan. Shu, apa kau sudah liat ke bawah apartemen? Aku rasa penggemar mereka berkumpul di bawah. Aiguu… Mereka baru debut di Korea Selatan tapi sudah mendapat pemberitaan seperti ini.”

Shu Eun berjalan menuju jendela untuk melihat ke bawah gedung apartemen mereka dan benar. Sekelompok gadis tengah berkumpul di bawah, mereka meneriakkan nama Kris dan Lay.

“Shu… Apa kau di sana?”

“Ya, aku masih di sini.”

“Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Pesawatku sudah tiba. Sampai jumpa.”

Shu Eun bergegas menghidupkan televisi dan melihat berita yang ada. Benar saja, berita bahwa duo grup Heal merupakan pasangan menjadi pembicaraan hangat. Ia tak berhenti sampai di situ, Shu Eun membuka website-website berita artis dan forum-forum dimana netizen sering berkumpul. Semuanya menuliskan grup Heal dan gay. Bahkan di beberapa situs berita, duo itu menempati posisi pertama pencarian.

“Jadi…?” Shu Eun baru mengerti kenapa Lay datang dan marah-marah padanya. Bersikap kasar bahkan tidak sopan padanya.

Gadis itu terduduk di sofa. Bagaimana ia harus menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada dua pria itu? namun raut wajah khawatir itu berubah, keningnya mengernyit. Ia kembali berpikir, tidak ada gunanya , mungkin berita itu memang benar. Jika salah, kedua orang pria itu tidak perlu datang membawa amarah dan melepaskannya di hadapan Shu Eun.

= S C A N D A L   2 0 1 5 =

Satu bulan sejak pemberitaan itu, keadaan sudah kembali normal. Duo grup Heal sudah kembali menjalankan aktifitas keartisannya seperti biasa meski tidak lagi memiliki jadwal padat seperti sebelum pemberitaan itu hadir.

Shu Eun menyelesaikan pekerjaan terakhirnya sebagai pegawai magang di rumah produksi. Ia mulai berjalan menuju halte dekat lokasi syuting. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam dan ia tak tahu apakah bis terakhir sudah lewat atau belum.

Menunggu bis yang datang, Shu Eun memasang earphone ke telinganya dan mulai memasang lagu Roy Kim yang dijadikan dalam satu playlist. Ia menyanyikan lagu yang didengarnya dengan tepat dan itu membuat perasaannya menjadi lebih baik setelah lelah menyapanya.

Seseorang tiba di hadapannya, melepas earphone Shu Eun yang berhasil membuat gadis itu kesal dan bersiap marah. Belum sempat Shu Eun melepaskan sumpah serapahnya, ia terlanjur terkejut dengan orang yang berdiri di hadapannya.

“Sudah lama tidak terlihat, nona Hwang.” Sapanya.

“K-kau? Apa yang kau lakukan di sini?”

“Bertemu denganmu. Bukankah kita punya urusan yang belum terselesaikan?”

Iris hazel Shu Eun membulat, “A-apa maksudmu? Kita tidak punya urusan dan kenapa kau sendirian? Dimana temanmu?”

“Maksudmu Kris? Ia di rumah dan lagi… jangan pura-pura lupa dengan urusan kita.”

Lay menarik pergelangan tangan Shu Eun untuk mengikuti langkahnya. Ia terus menarik Shu Eun mengikutinya meski gadis itu tak berhenti bicara tentang pandangan orang lain yang melihat mereka. Lay sudah lama menunggu kesempatan ini datang, ia harus membuat perhitungan pada gadis itu.

Mereka tiba di sebuah gedung tak terpakai. Shu Eun masih meronta untuk melepaskan diri dari genggaman Lay namun ia adalah seorang wanita, tenaganya takkan bisa dibandingkan dengan tenaga yang dimiliki oleh pria. Bibirnya terus meracau dan Lay tampak tak peduli dengan ucapan Shu Eun dengan terus membawanya memasuki semakin masuk ke dalam gedung yang tak memiliki penerangan yang jelas.

“Jangan macam-macam, tuan idol. Aku takkan segan melaporkanmu ke polisi!” ancam Shu Eun.

Lay menghentikan langkahnya. Ia menatap Shu Eun dengan tajam dan melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Shu Eun, “Kau pikir apa orang akan percaya dengan laporanmu?”

“Apa maksudmu?”

“Apa orang akan percaya jika gay melakukan pelecehan pada seorang wanita?”

Shu Eun bergeming. Ia terhenyak mendengar ucapan yang terdengar seperti sindiran baginya. Apa ia sedang dituduh Lay karena gossip gay yang diarahkan padanya? Apa Lay benar-benar menuduhnya?

Lay berjalan mendekat ke Shu Eun yang membuat gadis itu berjalan mundur sampai ia tak bisa mundur lebih jauh lagi karena terhalang dinding namun Lay semakin memperpendek jarak mereka hingga hanya tersisa beberapa senti saja.

“Apa sekarang kau takut, nona Hwang?”

“Dengar tuan Zhang, bukan aku yang pelakunya. Aku sama terkejutnya denganmu saat itu. Aku serius.”

Shu Eun tahu, sepasang mata itu tengah menatapnya dalam dan itu tak membuatnya bergeming karena memang ia tak bersalah. Bukan dirinya yang memberitahu media tentang itu, bukan dirinya yang mengada-ngada untuk membuat pria yang ada di hadapannya ini berhadapan dengan isu itu. Ia tak mendapatkan sesuatu yang berguna dengan bergosip tidak penting seperti itu, apalagi gossip itu tak membuatnya bertemu dengan Roy Kim –solois kesukaannya.

“Kalau memang bukan kau pelakunya, buktikan.”

Mata Shu Eun kembali membelalak, “Apa maksudmu dengan buktikan? Apa yang harus aku buktikan?”

“Berikan ponselmu.”

Shu Eun mencicit sambil mengambil ponsel dalam sakunya. Ia memberikan ponsel itu pada Lay yang langsung diterima pria cina itu. Lay berbalik dan berjalan menuju jalan utama meninggalkan Shu Eun yang memanggilnya namanya berulang kali sambil mengejarnya.

Pria itu tak menoleh, ia terus berjalan menuju mobil van hitam yang menunggunya di pinggir jalan.

Dari dalam mobil, Lay menurunkan kaca jendela mobil, “Naiklah.”

“Tidak mau! Kembalikan ponselku.”

“Besok. Aku harus memeriksa ponselmu untuk tahu yang sebenarnya.”

“Hei! Aku membutuhkannya.”

“Besok, tepat pukul 10 pagi akan aku kembalikan.”

Shu Eun menghela napas panjang melepas kepergian mobil van hitam milik Lay. Ia menyumpahi Lay dengan berbagai kalimat yang kebanyakan isinya penuh sensor. Bus yang ditunggu akhirnya tiba, ia kembali mengumpat karena tak bisa mendengarkan musik dari ponselnya.

“Harusnya aku membeli mp3 portable ketika ada diskon enam puluh persen kemarin. Pffft.”

= S C A N D A L   2 0 1 5 =

 

Bel apartment berbunyi, Shu Eun melihat jam yang menunjukkan tepat pukul 10. Dia menarik bibirnya sebelah, ternyata Lay menepati janjinya. Pagi ini Shu Eun sudah sendirian di rumah, Yeo Reum kembali sibuk dengan perjalanan bisnisnya dan baru akan kembali rabu nanti.

Shu Eun membuka pintu dan melihat Lay sudah berdiri di depan pintu. Gadis itu tak mempersilakan Lay untuk masuk, ia membuka pintu hanya seukuran tubuhnya.

“Kau tak mengizinkan aku masuk?”

“Untuk apa? Aku tidak mau ini jadi skandal. Berikan ponselku!”

“Beramah-tamahlah sedikit pada tamu, nona Hwang.”

“Kau tamu yang tak diharapkan jadi aku tak mau beramah-tamah padamu. Berikan ponselku sekarang.”

“Secangkir kopi. Aku akan mengembalikan ponselmu dan pergi setelah menghabiskan secangkir kopi dari rumah ini.”

“Kau benar-benar tidak tahu malu.”

Shu Eun membuka pintu, ia berjalan ke dapur untuk membuatkan kopi. Lay masuk dan segera menutup pintu kediaman Shu Eun. Pria itu berjalan menuju sofa panjang dan duduk. Matanya menjelajahi ruang keluarga yang terasa nyaman.

“Apa kau yang merapikan ruangan ini?” tanya Lay.

“Tentu saja.” jawab Shu Eun bangga. Ia membawakan cangkir yang sudah berisi kopi ke meja panjang yang ada di ruang tengah dan meletakkannya tepat di hadapan Lay.

“Sungguh sulit dipercaya.”

“Terserah. Mana ponselnya?”

Lay mengeluarkan ponsel Shu Eun dari saku celananya dan meletakkannya di atas meja. Shu Eun langsung meraihnya dan memeriksa isi ponselnya, “Aku akan membunuhmu jika ada satu file yang hilang.”

“Hahahaha, kau terlalu berlebihan. Aku hanya memeriksa ponselmu sedikit…”

“Kau menghapusnya!” Shu Eun mengalihkan pandangannya ke Lay yang terkejut.

Lay tidak tahu apa yang terhapus dari ponsel Shu Eun tapi ia sudah meyakinkan temannya semalam untuk tidak menghilangkan sesuatu dari dalam ponsel itu. Shu Eun menunjukkan hasil pencarian di ponselnya. Ia tidak menemukan satu folder yang berisi foto Roy Kim.

“Aku akan membunuhmu, Zhang Yixing.” Shu Eun menaruh ponselnya di meja dan berdiri. kedua tangannya sudah terjulur ke depan siap mencekik Lay.

Lay berdiri dan menghindari kejaran Shu Eun. Ia ingat sesuatu tapi bukannya merasa bersalah, ia tersenyum bangga akan hal itu yang membuat Shu Eun semakin geram dan giat mengejar pria itu.

“Kau tahu berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk mengumpulkan semua foto itu? Dua tahun. Aku mengejarnya kesana-kesini untuk mendapatkan fotonya selama dua tahun dan kau menghilangkan foto itu dalam semalam. Ya Tuhan, ampuni aku karena membunuh pria cina ini.”

Shu Eun mendapatkan Lay. Ia menarik pria itu hingga terjatuh di atas sofa, langsung saja ia mengunci leher Lay dengan kedua tangannya bersiap mencekik Lay hingga napas terakhirnya. Tidak ada raut wajah penyesalan dari Lay, justru sebuah smirk muncul dari wajahnya dan membuat Shu Eun bingung.

“Hmmm… Kau tahu, pose yang seperti ini seringkali membuat orang salah paham. Mereka bisa mengira kalau kita akan ‘main’ sesuatu.”

“Main?”

Lay mengarahkan maksud dari ‘main’ dan Shu Eun menegang, ia baru akan beranjak dengan segera dari atas tubuh Lay sebelum Lay menarik lengan atas Shu Eun membuat gadis itu hampir benar-benar menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Lay. Tangan kirinya menahan tubuh agar tidak jatuh penuh sementara wajahnya tepat berada di samping wajah Lay.

“Jangan marah-marah terus, kau semakin cantik jika sedang marah dan aku akan kesulitan menahan diri untuk tidak menciummu, nona Hwang.”

Hawa panas segera menyelimuti Shu Eun, bahkan wajah putihnya perlahan berubah kemerahan karena ucapan Lay. Ia menarik dirinya untuk berdiri menjauh dari Lay, berdiri dengan kikuk karena ia tengah malu.

Bel apartment Shu Eun berbunyi, Lay berdiri dan membuka pintu. Ia menerima paket yang baru datang dan membawanya masuk. Shu Eun heran dengan paket yang dibawa Lay, ia ingat sedang tidak memesan apapun untuk makan siangnya. Ia malah berencana akan makan dekat agency Roy Kim untuk mendapatkan gambar terbaru ‘oppa’nya itu.

“Ayo kita makan siang.”

“Makan siang? Aku sudah ada janji makan siang dengan temanku.”

“Kau tidak akan mendapatkan apa-apa hari ini. Roy Kim tidak akan datang.”

“Kau membaca katalk-ku? Haa… Berani sekali.” Shu Eun kembali kesal melihat tingkah Lay.

Pria itu tak peduli dengan ocehan Shu Eun, ia membuka jajangmyun yang dipesannya dan mulai mencampur mie dengan saus kemudian mengaduknya. Shu Eun masih berdiri menatap Lay tajam untuk membuat pria itu merasa bersalah.

“Duduk dan makanlah. Aku tidak suka makan selagi pacarku marah.”

“Pacar? Aku tidak pernah setuju menjadi pacarmu.”

“Yeo Reum nuna sudah menyetujuinya.”

“Aku. Kau butuh persetujuanku bukan kakakku.”

“Apa bedanya? Duduklah. Ini adalah makan siang pertama kita sebagai kekasih.”

“Kekasih pantatku! Tuan Zhang Yixing, kalau kau sakit harusnya pergi ke rumah saki bukan ke rumahku dan mengaku sebagai pacarku.”

Lay berdiri dan berjalan mendekat ke arah Shu Eun dengan wajah serius, gadis itu terkejut dan melangkah mundur beberapa kali, “Jangan macam-macam, aku akan berteriak.”

“Aku tidak akan macam-macam, aku hanya akan menarikmu untuk duduk dan menikmati jajangmyun dengan tenang. Kita akan bicara setelah makan.”

“Aku mengganti folder foto itu dengan yang baru.” sambung Lay yang tersenyum bangga. Ia menghapus folder foto Roy Kim yang ada di ponsel Shu Eun dan mengganti satu folder yang berisi foto dirinya tengah berselfie dan beberapa foto yang tak pernah ia publikasikan bahkan di sosial media miliknya. Lay memberi nama folder itu dengan nama ‘Pacarku’.

 

= S C A N D A L   2 0 1 5 =

Tiga bulan berlalu, besok adalah hari yang istimewa untuk Shu Eun dan malam ini ia mendapatkan sebuah tiket konser Roy Kim secara gratis bahkan duduk di deretan kursi VIP bersama beberapa idola yang dikenalnya. Keberuntungan untuk Shu Eun.

Konser sudah di mulai, Shu Eun sudah mulai larut dalam suasana konser. Alunan lagu milik solois Roy Kim sudah memenuhi venue bersamaan dengan suara penggemar yang ikut bernyanyi.

Seseorang mengambil tempat tepat di sebelah kursi Shu Eun yang kosong. Masker dan hoodie yang menutupi sebagian wajahnya sempat membuat beberapa penonton yang hadir penasaran tapi orang itu tak peduli, ia justru sibuk menyikut Shu Eun yang tak memedulikan kehadirannya.

“Kalau tahu kau akan sangat larut seperti ini, lebih baik kita tidak usah menonton konsernya saja. cih.” Kesalnya.

“Jangan menyesalinya, kau harusnya menyadari ini dari awal kau mengaku sebagai pacarku. Roy Kim tetap nomor satu meski aku berpacaran denganmu.”

“Kau membuatku kesal, nona Hwang.”

“Diamlah. Penyamaranmu bisa ketahuan, tuan Zhang.”

Pria itu menendang pelan kursi kosong yang ada di depannya. Ia melipat kedua tangannya dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran. Shu Eun tersenyum lalu kembali larut dalam konser Roy Kim.

Empat jam berlalu, mereka berdua tak lagi berada di dalam venue. Shu Eun dan pria yang tadi duduk di sebelahnya sudah berada di beranda apartment Shu Eun, menikmati langit malam dengan secangkir cokelat hangat di tangan.

“Shu, besok adalah hari jadi kita ke seratus hari.” Ucapnya.

“Lalu?”

“Apa yang akan kita lakukan?”

“Apa maksudmu dengan ‘apa yang akan kita lakukan’?”

“Itu….” pria itu mencontohkan dengan tangannya. Ia mengerucutkan kedua jemari tangannya lalu menyentuhkan keduanya, kemudian ia merenggangkan semua jarinya dan menautkan jemarinya dengan erat.

Shu Eun melihatnya dengan tatapan jijik, “Dasar mesum!”, ia menaruh cangkir dip agar beranda dan berjalan masuk, pria itu mengejarnya dengan rengekan yang menggelikan Shu Eun.

“Shu… ayolah… bagaimana kalau malam ini?”

“Tidak. Aku tidak mau.”

“Shu~, Yeo Reum nuna besok pulang. Kita tidak akan punya kesempatan lain.”

“Kau harus latihan di studio, Zhang Yixing. Waktu comebackmu semakin dekat.”

“Kita bisa bermain sebentar dan pelan agar aku tidak terlalu lelah.”

“Oh demi Tuhan, Yixing. Kau sangat mesum.”

Yixing memeluk Shu Eun dari belakang dan terus menggodanya.

Tanpa mereka sadari, sebuah drone tengah merekam kemesraan mereka, “Kita dapat berita besar.”

= SCANDAL 2015 END =

Terima kasih sudah membaca~ *deep bow*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s