Secret Santa [1]

secret santa1

Secret Santa

Copyright © EnnyHutami’s fanfiction 2016

| Lenght : Series | Rating : PG-17 | Genre : Mistery, Thriller, Psychopath, Romance |

| Cast : Choi Junhong, Ahn Sooyeon, Kim Taehyung and others |

| Disclaimer : Ispired by novel with title ‘Omen’ |

Note : Yang suka silakan baca dan berikan tanggapan di kolom komentar serta like-nya. Bagi yang tidak suka dilarang keras untuk membaca dan bashing.

~œ Swinspirit œ~

Chapter 1

22 December

Sepasang kaki yang mengenakan sepatu kets berwarna hitam itu mengayuh pedal sepedanya di atas jalan kota Seoul yang belum tertutup salju. Rambut cokelat yang sudah hampir menutupi matanya berterbangan ditiup angin musim dingin. Kemudian ia menaikkan tali tasnya yang turun dari bahunya tanpa mengurangi kecepatan kayuhan kakinya pada pedal, lalu membelokkan setirnya masuk ke dalam area sekolah.

Musim dingin telah memasuki kota Seoul, namun hingga hari ini, tanda-tanda salju turun belum terlihat. Dan sejujurnya, ia berharap untuk salju tidak turun tahun ini karena ia tidak mau berjalan kaki ke sekolah karena jalanan yang licin dan tertutup salju akan menyulitkannya.

Ia pun memarkirkan sepedanya di tempat parkir sepeda yang disediakan oleh sekolah, lalu membalikkan badan untuk masuk ke dalam bangunan sekolah yang telihat seperti penjara itu. Jika boleh mengungkapkan pendapatnya, ia sangat tidak menyukai bangunan sekolahnya. Terlihat suram dan terlihat seperti penjara. Tanpa balkon dan hanya ada jendela dan koridor yang tertutup.

Dan ya. Memang semua murid merasa seperti narapidana jika berada di sekolah.

“Taehyung sunbae,” sapa dua orang gadis yang berpas-pasan dengannya ketika ia masuk ke dalam bangunan sekolah. Dan ia pun hanya menanggapi sapaan tersebut dengan senyum kecil. Ia bahkan tidak tahu siapa kedua gadis itu. Yang ia tahu hanya fakta bahwa kedua gadis itu adalah juniornya.

Mulai memasuki bagian dalam bangunan sekolah, dan berada di dekat tangga, koridor dimana tempat papan pengumam terpasang sangat ramai. Ia pun bertanya-tanya ada pengumuman apa yang membuat hampir seluruh murid berkumpul di sana.

Lalu karena tidak ingin menembus kerumunan, ia pun bertanya pada teman juniornya yang ia kenal. Laki-laki jangkung yang memiliki warna kulit putih pucat yang berdiri tidak jauh darinya.

“Junhong, ada apa?” tanyanya sembari menunjuk kerumunan dengan dagunya.

Laki-laki yang merupakan juniornya, yaitu Choi Junhong, pun menoleh padanya. Lalu, “Seseorang menempelkan cerpen di sana.” Jawabnya.

“Cerpen?” keningnya berkerut heran. Hanya karena cerpen?

Junhong menganggukkan kepalanya. Lalu, “Kurasa yang membuat cerpen itu hanya iri pada Yuna.”

Ia tahu Yuna. Choi Yuna. Gadis yang menjadi murid kebanggaan sekolah karena selama dua tahun menjadi murid di sekolah ini, gadis itu telah menyabet beberapa emas di perlombaan non-akademik seperti menyanyi dan beberapa di bidang olahraga.

“Apa isi cerpennya?” tanyanya kemudian.

Junhong tidak menjawab langsung. Ia hanya melihat ke arah Choi Yuna yang tengah berjalan ke arahnya. Dan ketika gadis itu berdiri di hadapan Junhong, ia pun tersenyum kecil yang terlihat dipaksakan. Tak lupa ia menyapa Taehyung yang merupakan seniornya. “Terima kasih telah memberitahuku, Junhong.” Katanya.

“Tak masalah,” jawab Junhong santai sambil mengangkat kedua bahunya. Lalu, “Jangan dipikirkan. Hanya orang iseng, mungkin.” Katanya, mencoba membantu meringankan pikiran gadis itu.

Setelah gadis itu pergi dengan beberapa temannya, Taehyung pun ikut pergi meninggalkan Junhong untuk ke kelasnya. Namun, kelihatannya Junhong masih ingin memberitahunya tentang cerpen tersebut karena lelaki itu mengikutinya dan memanggilnya, “Hyung”, lalu menyamakan langkahnya.

Dan tanpa perlu Taehyung menyahuti panggilan Junhong, lelaki itu melanjutkan kalimatnya. “Kurasa di sekolah kita ada seorang psikopat yang belum masuk rumah sakit jiwa.” Kata Junhong.

“Kau bilang pada Yuna untuk tidak memikirkannya, bukan? Lalu kenapa kau memikirkannya?” balas Taehyung.

“Bukan begitu… maksudku, aku selalu datang lebih pagi dari murid lain—kau tahu, untuk tidur. Tetapi, orang yang menempelkan cerpen horor itu datang lebih pagi lagi dariku. Apa dia datang saat matahari belum muncul? Benar-benar orang sakit.” Mendengar celotehan Junhong, Taehyung hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kadang, juniornya itu bisa menjadi sangat cerewet.

“Dan, jika dia tidak menuliskan bahwa Yuna akan mati dengan kerongkongan yang hampir putus dan tergantung di sekolah, aku tidak mungkin berpikir bahwa yang mengarang cerpen tersebut adalah seorang psikopat. Sangat mengerikan.” Lanjutnya sembari mengendikan bahunya ngeri.

Sebelum berbelok untuk masuk ke kelasnya yang berada di lantai tiga, Taehyung pun angkat bicara. “Tidak perlu memikirkannya. Toh itu tidak akan terjadi, ‘kan?”

“Seharusnya memang tidak terjadi.” Balas Junhong dengan suara pelan, yang sebenernya ia berkata pada dirinya sendiri. Taehyung memang mendengarnya, tetapi ia memilih untuk mengabaikannya dan matanya terpaku pada seorang gadis yang baru saja melewati keduanya.

Gadis itu memiliki tubuh seperti gadis-gadis lainnya, tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu pendek, dan terlihat kurus. Rambutnya berwarna hitam pekat yang terlihat kontras dengan warna kulitnya yang putih pucat. Lebih putih dibandingkan Junhong. Dan dengan kacamata baca, gadis itu sangat tidak mencolok di sekolah. Bahkan ia meragukan bahwa eksistensinya diketahui oleh murid-murid lainnya. Namun anehnya, ada sesuatu dari gadis itu yang membuatnya tertarik.

Menyadari Taehyung yang menatap gadis itu tanpa mengedipkan matanya, Junhong pun menyapa gadis tersebut, “Ahn Sooyeon,” panggilnya. Lalu gadis bernama Ahn Sooyeon itu pun menghentikan langkahnya dan menatap Junhong dengan pandangan bertanya. “Selamat pagi.” Sapanya dengan senyuman.

Dan Taehyun pun melupakan fakta bahwa Junhong memilikir kepribadian yang ramah dan santai. Seperti saat ini.

Kemudian gadis itu membalas sapaan Junhong dengan mengucapkan “pagi” pada Junhong dengan wajah yang tidak menunjukkan ekpresi, dan menyapa Taehyung dengan membungkuk rendah sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.

“Dia sekelas denganku.” Jawab Junhong seakan tahu apa yang sedang dipikirkan Taehyung saat ini.

“Tidak ada yang bertanya.” Jawab Taehyung yang langsung berbelok ke arah kelasnya dengan cepat. Seakan-akan ia tengah kabur setelah ketahuan mencuri.

Junhong tertawa keras melihat seniornya itu dan mengikuti Taehyung sembari melontarkan pertanyaan yang menggoda Taehyung seperti, “Kau menyukainya?” “Kau ingin aku mengenalkanya padamu, Hyung?” dan lainnya.

“Hei, kembalilah ke kelasmu. Sebentar lagi masuk.” Ucap Taehyung yang langsung membuat Junhong menyadari bahwa kelas antara murid tahun kedua dan tahun ketiga berbeda lantai. Ia pun segera membalikkan badan dan berjalan ke arah anak tangga.

Setelah Junhong pergi, dan sebelum memasuki ruang kelasnya. Taehyung diam-diam tersenyum dan bergumam, “Ahn Sooyeon ya.”

Ahn Sooyeon melangkahkan kakinya masuk ke dalam bangunan sekolah dengan perasaan tidak nyaman. Tidak seperti pagi pada hari sebelumnya, ia merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Dan ketidak ia sampai pada dalam bangunan, banyak murid berkumpul di koridor dan mengerumuni papan mading sekolah.

Apa yang terjadi? Ia bertanya pada dirinya sendiri dalam benaknya.

Ia pun mencoba untuk menerobos kerumunan dan melihat apa yang terjadi. Dan di papan mading, terdapat sebuah kertas yang berisi sebuah cerita dengan tokoh utama seorang gadis bernama Choi Yuna.

Pada cerita tersebut, diceritakan bahwa pada malam setelah hari natal, malam pada tanggal 25 Desember, gadis bernama Choi Yuna akan mati dengan tubuhnya yang tergantung di atap sekolah.

Dan tepat di depan papan mading, di sana lah gadis bernama Choi Yuna dengan poni yang menutupi seluruh keningnya dan rumbut lurus panjang yang dibiarkan terurai hingga pinggangnya. Gadis yang populer dengan sikap ramahnya dan prestasinya.

Ia melihat Choi Yuna yang tengah membaca kalimat demi kalimat dalam cerpen tersebut, dan mengatupkan mulutnya setelah selesai membacanya. Air mukanya tidak bisa ia tebak.

“Yuna-ya, kau harus melaporkan ini kepada pihak sekolah.”

“Jangan dipikirkan. Hanya orang iri yang melakukan ini padamu.”

“Laporkan saja pada polisi!”

Orang-orang mencoba untuk memberi masukan pada Yuna, tetapi gadis itu hanya tersenyum dan mengatakan, “Biarkan saja.” Katanya. Lalu ia menggandeng seorang lelaki di sebelahnya yang memiliki rambut hitam dengan tatapan dan tulang rahang yang tajam. “Ayo kembali ke kelas. Sebentar lagi saatnya pelajaran dimulai.” Ia melanjutkan kalimatnya yang ditujukan untuk orang-orang yang masih berada di koridor.

“Kau tidak apa?” sekilas ia mendengar lelaki yang digandeng oleh Yuna itu bertanya pada Yuna saat keduanya melewati bahunya. Lelaki yang perhatian, batinnya. Lelaki itu adalah lelaki yang pernah mencoba berbicara dengannya pada tahun pertama, kemudian menyerah begitu mendapat respon tidak menyenangkan darinya. Namanya adalah Jeon Wonwoo.

Kemudian matanya melihat seorang gadis jangkung dengan rambut cokelat terang yang panjang tengah menatap Yuna dan Wonwoo dengan pandangan yang tidak bersahabat. Begitu pandangan mereka bertemu, gadis itu—Kim Sojung—memiringkan kepalanya sedikit dengan pandangan yang sama dengan cara pandangnya menatap Yuna lalu melangkah mundur dan menghilang di dalam kerumunan.

Entah mengapa, perasaannya menjadi buruk.

Kemudian ia pun memilih untuk pergi ke kelasnya yang berada di lantai empat. Saat menaiki anak tangga, seorang laki-laki yang merupakan teman sekelasnya, Choi Junhong, menyapanya. Ia pun hanya membalas sapaan temannya itu, yang untuk memang sering menyapanya, sambil lalu dan tidak lupa memberi sapaan sopan pada seorang laki-laki lainnya di sebelah Junhong. Ia tidak tahu namanya, tetapi ia sering melihat lelaki itu.

Kim Sojung. Ya. Ia mengenal gadis itu. Gadis yang merupakan seniornya sejak ia duduk di bangku sekolah dasar hingga saat ini. Tetapi, tidak pernah sekali pun ia berbicara atau bahkan saling sapa. Dan ia berpikir bahwa Kim Sojung mengelaskan dirinya ke dalam kelas pecundang berkat gaya berpakaian dan teman-temannya yang hampir seluruhnya adalah kutu buku yang sangat menyukai perpustakaan. Sedangkan Kim Sojung adalah gadis populer yang memiliki tubuh bak model dan paras yang cantik dengan rambut cokelat panjangnya.

Dan ya. Dibandingkan dengan Kim Sojung, dirinya hanyalah seorang pecundang.

Tetapi, mengapa Kim Sojung menatap Yuna seperti itu? Apakah dia yang mengarang cerita tersebut dan datang ke sekolah pagi-pagi buta untuk menempelkannya pada mading? Tetapi, untuk apa? Iri? Iri kenapa?

Dan ia pun harus memaksakan dirinya untuk tidak memikirkan tentang Kim Sojung lagi saat bel sekolah berderang nyaring di seluruh sudut sekolah.

Kim Taehyung memasuki perpustakaan sekolah setelah bel berderang tanda bahwa kegiatan belajar mengajar pada hari itu telah selesai. Dan karena hari masih menunjukkan pukul sembilan malam dan tidak ada kelas tambahan, jadi ia memilih untuk mengunjungi perpustakaan yang biasanya akan cukup ramai mengingat ujian akan datang beberapa bulan lagi.

Dengan beberapa buku yang jika di rumah hanya akan digunakan sebagai bantal olehnya, ia pun memilih mencoba memilih sebuah bangku di pojok ruangan. Dengan seorang gadis yang sore itu mengikat rambut hitamnya ke belakang. Siapa namanya lagi? Ahn Sooyeon?

Saat ia menaruh beberapa buku yang dipinjamnya dari perpustakan di atas meja dan menarik kursi yang berjarak dua bangku dari gadis itu bunyi berdecit khas karena gesekan kaki kursi dengan lantai terdengar. Tetapi, gadis itu tidak menoleh sama sekali.

Selama kurang lebih satu jam berkutat dengan buku dan alat tulisnya, Taehyung yang mulau kesulitan mengerjakan beberapa soal pun mulai mengacak rambutnya. Kemarin ia mempelajari materi tersebut, dan menguasainya. Tetapi mengapa kini ia tak mengerti langkah-langkah apa yang harus dilakukannya untuk menyelesaikan soal tersebut?

“Kau harus menggunakan permisalan terlebih dahulu.”

Taehyung mengangkat kepalanya mendengar suara gadis yang terdengar rendah dan sedikit serak. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar suara gadis itu.

Kemudian gadis itu memindahkan dirinya dan duduk di kursi di sebelah Taehyung. Dan dengan bodohnya pun ia menunjukan bukunya pada gadis itu. “Nilai yang belum diketahui itu dipermisalkan sebagai a atau simbol lainnya. Lalu kau…,” Sooyeon terdiam saat menyadari bahwa dirinya berbicara terlalu banyak.

Terkadang ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.

Saat gadis itu meminta maaf dan hendak kembali ke kursinya, Taehyung pun menyela, “Lanjutkan.” Entah itu permintaan atau perintah. Lalu, “Kau bisa materi kelas tiga?” ia bertanya. Sooyeon pun menuruti perintah Taehyung dan kembali menjelaskan permasalahan yang tidak diketahui Taehyung yang merupakan seniornya.

Ia pun melirik ke arah buku yang tengah dipelajari Sooyeon dan menemukan bahwa buku yang dibacanya bukanlah buku anak-anak sekolah, melainkan buku mengenai ekonomi bisnis.

“Kau tertarik dengan bisnis?” tanya Taehyung.

“Tidak juga.” Jawab Sooyeon singkat.

“Lalu?” Taehyung bertanya lagi. Ingin mencaritahu tentang Ahn Sooyeon.

Dirinya tahu buku yang dibaca gadis itu. Sepupunya mempunyai buku tersebut dan dia kini berada di tahun ketiga di universitasnya. Dan hampir tidak ada murid sekolah yang membaca buku selain buku teks untuk ujian SAT ataupun buku buku novel.

Tiba-tiba Sooyeon mendorong kursinya, berdiri dan mengambil barang-barangnya lalu mendekap dalam pelukan di dadanya. “Maaf, Sunbae, aku harus pulang. Sudah hampir larut malam. Sampai nanti.” Katanya, lalu melangkahkan kakinya pergi menjauh setelah memberi bungkukan kecil pada Taehyung.

Sedangkan sembari menatap tempat menghilangnya punggung Sooyeon karena rak-rak buku yang tinggi, Taehyung hanya melongo. Ia terkejut atas reaksi yang diberikan gadis itu. Apakah Sooyeon tersinggung atas pertanyaannya atau apa? Memangnya… kata apa yang dapat menyinggung hati gadis itu?

Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, tetapi tidak mendapatkan jawaban yang tepat. Karena seingatnya, ia tidak mengucapkan kata yang dapat membuat seseorang tersinggung. Atau… Ahn Sooyeon menyembunyikan rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain?

Kemudian ia segera membereskan barang-barangnya, dan membiarkan buku yang dipinjamnya itu tetap di atas meja namun dalam keadaan tertutup. Ia segera mengejar Sooyeon yang seharusnya belum terlalu jauh dari gerbang sekolah.

Keadaan sekolah yang gelap dan sepi pada malam itu sebenarnya membuat rambut belakang leher Taehyung meremang. Ia memang tidak percaya hantu, tetapi suasana sekolah terasa berbeda antara malam dengan siang. Dan kini, ia berlari secepat yang kakinya bisa untuk mengejar Sooyeon—dan juga untuk segera keluar dari gedung sekolah.

Sesampainya ia di gerbang utama sekolah, ia tidak menemukan sosok Sooyeon dimana pun. Ia melihat ke kanan dan kiri jalan, juga ke seberang jalan. Tetapi, ia tak menemukan Sooyeon dan hanya melihat beberapa kendaraan berlalu lalang dan beberapa orang yang tengah menunggu bus di halte sekitar setengah kilometer dari tempatnya berdiri.

“Dia atlet lari, atau apa?” gumamnya, bertanya pada dirinya sendiri menyadari keadaan bahwa ia tidak dapat menyusul seorang gadis. Bahkan dirinya berlari.

Akhirnya ia menyerah dan berjalan menuju komplek rumahnya yang berada tidak jauh dari sekolah. Satu hal yang membuatnya berpikir untuk datang ke sekolah pada menit-menit terakhir gerbang sekolah akan ditutup.

26 Desember

Tiga hari berlalu begitu saja. Taehyun yang tidak dapat menemukan Sooyeon sebelum libur natal, kini ia pun berniat untuk menemukan Sooyeon. Ia bahkan rela untuk datang lebih pagi dan berdiri seperti orang bodoh di depan gerbang sekolah demi menunggu Sooyeon.

Ia pun melirik arlojinya yang melekat di pergelangan tangan kirinya sekali lagi. Sudah sekitar lima belas menit ia menunggu gadis itu, tetapi Sooyeon belum juga menampakan—“Oh!” Pekiknya semangat begitu melihat Sooyeon yang muncul dengan syal berwarna putih tulang yang melilit seluruh lehernya. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai dan membuat wajahnya terlihat sama dengan butiran salju yang menutupi jalan.

“Ahn Sooyeon, selamat pagi!” Sapanya dengan senyum lebar.

Sooyeon berhenti sejenak dan membungkuk pada Taehyung, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Melihat sikap Sooyeon, ia merasa bahwa Sooyeon sangat imut seperti itu. Biasanya, gadis yang ia sapa akan balik menyapanya dengan sangat senang dan meloncat-loncat kegirangan—bukannya ia melebih-lebihkan, tetapi memang itulah kenyataannya yang membuat ia berhenti untuk bersikap manis pada gadis-gadis.

“Apa yang kau lakukan saat malam natal kemarin?” Taehyung mencoba membuka obrolan.

Sooyeon diam sejenak sebelum menjawab. Lalu, “Saya hanya belajar.” Jawabnya dengan tanpa ekpresi. Sangat terlihat bahwa gadis itu tidak ingin memberitahunya lebih jelas. Dan dengan bahasa yang sangat formal, Sooyeon membuat Taehyung menggaruk belakang lehernya yang memang tidak gatal.

“Belajar… tentang kemarin?” tanya Taehyung hati-hati. Ia tidak mau jika Sooyeon kabur lagi seperti malam itu, tetapi ia juga tidak tahu harus membahas apa jika respon yang diberikan oleh gadis itu seakan ia tidak ingin memberitahu apapun. Dan itulah yang membuat Taehyung mengorek lebih dalam tentang gadis yang ‘invisible’ di sekolah itu.

Saat Sooyeon hendak membuka mulutnya, ia mendengar suara teriakan yang sangat nyaring—bahkan mungkin teriakan tersebut dalam terdengar ke seluruh sudut sekolah. Dan dengan cepat, Sooyeon segera membalikkan badan dan berlari menuju ke arah sumber suara yang ia yakin ada di belakang sekolah yang jarang didatangi murid serta staff sekolah.

Merasa bingung, Taehyung pun ikut berlari mengikuti Sooyeon yang ternyata memang dapat berlari sangat cepat dibandingkan dengan gadis-gadis lainnya. Membuatnya semakin yakin bahwa Sooyeon bukanlah gadis biasa yang tidak seharusnya menjadi tak kasat mata di sekolah.

Ditempat sumber suara, Taehyung pun dapat melihat Kim Sojung yang terduduk di lantai berlumut di belakang sekolah dengan pandangan lurus ke depan. Ia pun mengikuti arah pandang Sojung dan mendapati sesosok mayat yang mengenakan seragam sekolah dengan seluruh darah yang menjadi genangan di seluruh tubuh gadis malang itu.

“Astaga!” pekiknya saat melihat mayat tersebut yang merupakan sosok Choi Yuna dengan tubuh yang membuku dan dipenuhi darah. Jika diamati lagi terlihat bahwa mulut juniornya itu tertutup rapat dan… terjahit!

Ia melirik Sooyeon yang berdiri di sampingnya. Gadis itu terlihat sangat syok dan tubuhnya gemetar. Sama seperti Kim Sojung yang membeku ditempatnya saat melihat sosok malang Choi Yuna yang berlumuran dengan darah.

—To be continue—

a/n: Halooooooooo~ lama tak jumpaaa!;-; akhirnya akhirnyaaaa, semangatku buat nulis kembali lagi on fire… yah, walaupun gak jamin  setelah ini ada wkatu buat nulis lagi sih;.; gimana kabar kalian? sehat kaaan? kangen aku gak? hoho. Ini anggep aja kayak series keduanya Continuous Winter dengan cerita rada psiko sampe aku merinding buat ini hiiih daaaaaaaan setelah ini aku mau buat case dimana cast Continuous Winter dan Santa Secret bakal beraksi bersama. Penasaran kaaan? doakan aja supaya aku cepet kelarin ini yaaa xoxo

5 responses to “Secret Santa [1]

  1. taehyungku kenapa ngejar2 sooyeon sementara jisoomu menanti HAHA. nice chingu, tunggi link link part selanjutnya menghampiri dm

  2. Aku nungguin bgt ff ini apdetttt huweee seneng bgt pas tau ini uda apdettt T.T oke aku bacanya malam2 dan tbh aku merinding-_- ini suasananya cocok bgt kakak ngedeskripsiinnya pas gitu,dan aku kok malah kebayang death bell ya? Hahahah apalagi pas bagian monolognya v yg bilang sekolahnya kaya penjara,anjirrr feelnya dapet bgtt:v gatau lagi deh. Aku yakin ni ff pasti bakal keren dan buat goosebump kaya ff kakak sebelumnya continuous winterr ehehe

    Semangat lanjutinnya kak!^^

    • wahahahaaaa, makasih loh udah nungguin>< aku kira gaada yg baca;.;
      aku usahain buat lanjutin ini dan gak ngecewain kamu yaaa. ditunggu aja lanjutannyaaa, tapi maaf aku masih banyak laporan jadi belum bisa lanjut chapter 2;.;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s