Rompecorazones #1

T.Yong 11

Lee Taeyong (NCT U), Lim Nayoung (IOI), others.

by Cca Tury

“Memangnya kalian tahu apa tentang Taeyong?” -Lim Nayoung-

“Hei, hei! Itu Lee Taeyong!”

“Lee Taeyong? Siapa?”

Nayoung terhenti. Dia ikut melirik lelaki yang sedang dibicarakan sekumpulan gadis yang berjalan di depannya.

“Lee Taeyong loh, pelajar yang melakukan penipuan di situs belanja online. Beritanya marak bulan lalu.” Gadis itu menambahkan.

“Ah, Lee Taeyong yang itu.” Gadis lain menyahuti. “Kenapa dia bisa di sekolah kita?”

“Apa kau tidak tahu? Taeyong itu anak kepala sekolah kita. Anak pemilik Daehan Grup.”

“Apa?! Jika dia anak orang kaya kenapa dia harus melakukan kejahatan?”

“Tapi, ternyata dia memang benar-benar tampan.”

Kikikan genit terdengar memenuhi kumpulan itu setelahnya. Nayoung menghela nafas dan memutuskan memasang earphone di telinga. Malas mendengar rumpi gadis-gadis labil itu. Lagi pula tahu apa mereka tentang Taeyong. Kemarin ketika dia masuk penjara oleh tindak kriminalnya, orang-orang berbondong-bondong mencaci. Kini, ketika tahu dia anak pemilik Daehan Grup, mereka memujinya tampan. Huh, benar-benar munafik.

Tapi, sebenarnya berkat nama Daehan Grup lah, Taeyong bisa bebas dari rumah tahanan hanya dalam waktu satu bulan. Kekuasaan ayahnya memang tidak bisa dibilang main-main. Oleh karena itu pula Taeyong terpaksa pindah ke sekolah milik Daehan Grup yang dipimpin oleh ibu tirinya. Padahal, Taeyong benci sekali sekolah di sini.

Jika ingin Nayoung ungkap lagi, bukan tidak ada alasan Taeyong melakukan kejahatan itu. Katanya, dia hanya tidak ingin ayah mengabaikan kakak tirinya. Meski berkali-kali Taeyong mengelak dan mengatakan dia tidak peduli dengan Park Chanyeol, tetap saja, Taeyong tidak ingin ayah mengabaikan kakak tirinya itu. Katakan saja Taeyong ingin terlihat buruk di mata ayah sehingga ayah bisa mempercayai Park Chanyeol untuk urusan Daehan Grup dan segala macam jenis perusahaannya. Taeyong benar-benar tak ingin ayah mengharapkannya menjadi penerus. Taeyong lebih mencintai musik dan tariannya daripada perusahaan dan segala kekayaan ayah.

***

“Namaku Lee Taeyong.”

Begitu saja Taeyong memperkenalkan diri di depan kelas. Ibu Jung bahkan melirik sembari menunggu kelanjutan kalimat perkenalan Taeyong, tetapi lelaki itu hanya mengedik bahu dan berkata, “Apa boleh duduk sekarang?”

Ibu Jung menghela nafas dan berkata, “Baiklah. Kalau begitu kau duduk di–”

Taeyong tidak menghiraukan ibu Jung, dia malah seenaknya saja berjalan dan duduk tepat di bangku kosong di samping meja Nayoung. Jelas saja riuh mulai memenuhi kelas, ada beberapa orang yang  kesal dengan tingkah Taeyong.

“Sudah, sudah! Jangan berisik, biarkan Taeyong duduk di sana. Katakan pada Sungjae untuk duduk di samping Sooyoung ketika dia masuk sekolah nanti.” Ibu Jung menenangkan kelas.

“Apa sih dia? Apa dia pikir karena dia anak pemilik sekolah, bisa seenaknya saja?”

Bisa terdengar dengan jelas komentar itu di telinga Nayoung—di telinga Taeyong juga tentunya—tapi, dia lagi-lagi tak acuh. Mungkin Taeyong sudah terbiasa dengan cacian itu, sehingga dia bisa tidak peduli dan tak acuh.

Nayoung melirik lelaki di sampingnya.

Sebenarnya, Taeyong yang dulu bukan orang yang seperti ini. Taeyong adalah lelaki yang ceria dan penuh dengan selera humor. Taeyong yang dulu tidak pernah bersikap dingin dan seenaknya, dia sangat menghargai orang lain. Semua berakhir setelah ayah membawa pulang seorang yang wajib dia sebut ibu dan seorang anak lelaki yang lebih dewasa darinya. Taeyong menjadi sangat pendiam dan sering marah-marah.

Nayoung tidak bisa menyalahkan Taeyong, karena bukan hal mudah untuk menerima orang lain untuk menjadi ibu dan saudara lelaki. Apalagi untuk Taeyong yang sangat mencintai ibu kandungnya.

***

“Eum… Baik bu. Aku akan memakannya setelah memeriksa Nayoung.”

Terdengar suara kaki menaiki lantai atas rumah Nayoung. Sudah bisa Nayoung tebak, itu pasti Taeyong. Sejak keluar dari rumah tahanan, Taeyong lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Nayoung. Alasannya, dia tidak suka dengan rumahnya sendiri.

Sekolah Taeyong yang dulu adalah sekolah asrama, sehingga dia tidak perlu berlama-lama tinggal di rumah. Tapi, setelah selesai dengan urusan polisi dan terpaksa pindah ke sekolah yang baru, Taeyong terpaksa juga harus tinggal di rumah yang dibencinya. Itulah kenapa rumah Nayoung-lah yang menjadi peraduannya.

Ketika membuka pintu kamar Nayoung, Taeyong hanya melirik sekilas gadis yang sedang sibuk dengan notebooknya di meja belajar. Taeyong lalu menghempas badan di ranjang tidur milik Nayoung. Tidak sama sekali menyapa, dia malah menyibukkan diri dengan ponsel pintar.

Sebenarnya Nayoung tidak masalah dengan hal itu. Dia sudah terbiasa dengan Taeyong yang tak acuh. Malah akan menjadi aneh jika Taeyong tiba-tiba saja cerewet padanya.

Di sekolah pun begitu. Meski tadi Taeyong dengan seenaknya memilih duduk di sampingnya, lelaki itu tetap saja seperti orang yang tidak mengenal. Sungguh, sebenarnya Nayoung juga tidak masalah dengan yang satu ini.

“Tidak bisakah kau bicara barang sepatah kata?” Ucapan Taeyong menghentikan gerak tangan Nayoung yang sedang mengetik di notebooknya. Dia kira mereka akan terdiam hingga Taeyong jatuh tertidur di ranjangnya seperti hari kemarin.

Mereka memang begitu sejak Taeyong pulang ke rumah setelah selesai urusannya dengan hukum. Meski lelaki itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Nayoung dan atau bahkan di kamar Nayoung, pembicaraan yang mereka lakukan hanya, ‘ibu menyuruh makan.’ atau ‘bisa pinjam charger ponselmu?’, setelahnya diam. Nayoung sibuk dengan dirinya dan Taeyong sibuk mengacak-acak buku bacaan milik Nayoung atau tidur sesukanya di atas ranjang milik Nayoung.

“Tidak lihat aku sedang sibuk?” Nayoung menjawab seadanya, dia kembali mengetik di notebooknya.

“Sibuk menulis cerita mengelikan tentang oppa-oppa idol kesukaanmu?” Taeyong berkomentar.

“Bukan urusanmu!”

Taeyong mendesah, dia beranjak dari ranjang dan mendekati meja belajar. Semena-semena dia menutup notebook milik Nayoung.

Secepat kilat Nayoung meliriknya tajam, ingin sekali dia berteriak jika saja mata lelaki itu tidak bersirobok dengannya. Ini pertama kalinya. Nayoung sudah terlalu sering menatap mata Taeyong sebenarnya, tapi ini pertama kalinya mereka saling menatap dengan serius.

Nayoung berkedip, dia kemudian mengalihkan pandangan dari mata Taeyong, “K—kau bahkan seperti tidak mengenalku di sekolah.” Nayoung berucap. Jujur saja, dia agak kesal dengan sikap Taeyong di sekolah. Dia bahkan dengan cepat bisa akrab dengan dua anak Thailand di kelasnya, bahkan dengan Kim Taehyung, si pembuat onar.

“Lalu kau ingin aku mengatakan pada seluruh isi sekolah jika kau adalah teman kecilku?”

Ucapan Taeyong sama sekali tidak membuat perasaan hati membaik, “Setidaknya kau menyapa.” Nayoung menambah komentarnya. Taeyong hanya diam, dia kembali duduk di tepian ranjang.

“Semua orang membicarakanmu di sekolah.” Nayoung memulai percakapan, dia juga membalikkan kursi belajarnya menghadap ke arah Taeyong yang duduk di ranjang.

“Akan menjadi aneh jika tidak ada yang membicarakanku.” Taeyong mengulum senyum kecut.

“Mereka mengatakanmu tampan dan menginginkanmu.” Nayoung mengadukan komentar yang baik-baik saja, meninggalkan komentar buruk orang-orang. Dia tidak mau Taeyong menjadi sakit hati dengan komentar-komentar buruk orang-orang yang membicarakannya.

Taeyong terkekeh kecil, “Lalu kau cemburu?”

“Cih, kenapa aku harus?” Nayoung berkerut. Meski lelaki ini sudah berubah menjadi dingin, tetapi tetap saja sikap percaya diri yang berlebihan tidak hilang darinya.

Taeyong terkekeh lagi lalu beranjak dari tempat tidurnya, “Salinkan aku semua buku catatanmu. Aku tidak mau terlihat bodoh di kelasmu itu.” Dia lalu melangkahkan kaki keluar kamar Nayoung.

“Kau mau kemana?” tanya Nayoung.

“Memakan sup jagung buatan ibu.”

***

“Oh, Nayoung datang.” Park Chanyeol menyapa. Kakak tiri Taeyong sedang asyik dengan notebooknya. Biar Nayoung tebak, itu pasti laporan bulanan hotel milik Daehan Grup. Sejak Taeyong terkena masalah, ayah langsung mempercayai Chanyeol untuk memimpin salah satu hotel milik Daehan Grup. Jika Nayoung boleh berkata, seharusnya Chanyeol berterima kasih pada Taeyong.

Ohya, Nayoung juga masih heran dengan kakak tiri Taeyong. Entah kenapa dia tidak mau mengganti nama depannya meski sudah menjadi keluarga Lee. Nayoung penasaran, tetapi dia tidak berani menanyakan pada Taeyong. Lelaki itu tidak suka ketika Nayoung membahas kakak tirinya.

Nayoung tersenyum membalas sapaan Chanyeol, “Nayoung mencari Taeyong.”

“Bukannya Taeyong sedang keluar?” Chanyeol menjawab.

“Keluar?”

“Eum. Dengan seorang gadis.” Jawaban Chanyeol membuat Nayoung berkerut. kakak tiri Taeyong mengangguk, “Tadi ada seorang gadis yang datang menemui Taeyong dan kemudian mereka pergi.”

Gadis, katanya. Nayoung bahkan belum pernah sekalipun melihat Taeyong berpergian dengan seorang gadis sebelumnya. Gadis macam apa yang berani datang menjemput Taeyong di rumah.

Nayoung memaksa senyumannya kemudian, semakin erat dia mendekap salinan buku yang diminta Taeyong tadi. “Baiklah oppa, kalau begitu Nayoung kembali saja.”

“Eh, tidak menunggu saja? Sudah cukup lama Taeyong keluar, mungkin sebentar lagi ia kembali.”

‘Tidak usah. Nayoung akan menunggu di rum—“

Belum selesai kalimat Nayoung, Taeyong sudah datang memasuki ruang keluarga. Dia terhenti dan melirik Nayoung dan Chanyeol secara bergantian. Berakhir dengan tatapan sinis untuk Chanyeol, Taeyong kemudian menarik tangan Nayoung untuk ikut dengannya menuju kamar meninggalkan Chanyeol.

“Kau bicara apa dengannya?” tanya Taeyong sambil terus menarik lengan Nayoung.

“Aku hanya menyapa.”

“Tidak usah menyapanya!”

Nayoung mendesah bingung. Bagaimana bisa dia tidak usah menyapa ketika berhadapan dengan penghuni rumah ini. Nayoung tidak mengerti kenapa Taeyong begitu membenci Chanyeol. Padahal kakak tirinya itu terlihat baik padanya.

“Dia bilang kau pergi dengan seorang gadis.” Nayoung menambahkan.

“Itu bukan urusanmu.”

Apa katanya? Bukan urusanmu?

Lagi-lagi Nayoung tak mengerti. Ketika Nayoung pergi berkencan, Taeyong bahkan rela membolos dan kabur dari asrama untuk melihat lelaki macam apa yang dikencani Nayoung. Dia bahkan memukul teman kencan Nayoung karena dianggap hanya mempermainkan Nayoung saja. Dan kini, dia bilang bukan urusan Nayoung?

Taeyong pikir ulah siapa hingga kini Nayoung tidak memiliki kekasih.

Taeyong terhenti ketika Nayoung menarik kasar genggaman tangannya. Nayoung tahu sekali lelaki itu kaget, karena ini memang kali pertamanya Nayoung menolak genggaman tangannya. Selama ini bahkan Nayoung tidak pernah sama sekali membantah apalagi menolaknya.

Belum selesai keterkejutan Taeyong itu, Nayoung langsung saja menyodorkan buku-buku salinan itu pada Taeyong. Dia bahkan tidak menunggu Taeyong membuka mulutnya untuk bicara, Nayoung langsung saja berbalik dan melangkah meninggalkan Taeyong yang tidak mengerti sama sekali dengan tingkah Nayoung.

***

17 responses to “Rompecorazones #1

  1. salah banget emang mau nugas malah melipir ke ffindo dulu huh salah!!! T___T lagi suka banget sama NCT dan selalu mikir kalo muka Taeyong tuh keknya pas banget buat jadi tokoh utama fanfic yang kepribadiannya cool cool ala shoujo manga gitu yang punya masa lalu kelam dan rasanya fanfic ini memenuhi ekspektasiku banget (dan emang aslinya Taeyong gak beda jauh sama yang diceritain di sini sih ya). aku pikir ini tadinya oneshot, tapi untunglah ini chaptered kan ya huhuhu jadi kutunggu lanjutannya, author-nim!!!
    btw kalo aku request boleh gak? mumpung cast-nya 95line semua nih pengen request kalo author-nim nambahin SCoups sama Nayeon since mereka sama-sama 95line dan satu alumni sama Taeyong hahaha gatau kenapa dari kemaren pengen banget baca fanfic yang ngelibatin cast-nya mereka bertiga, dan kebetulan (lagi) biasku di IOI juga Nayoung hihi. tapi ini cuma sebatas request aja kalo gak dikabulkan juga gapapa koq aku mah udah seneng asal ff ini dilanjut hehehehehe keep writinggg, author-nim :333

    • Scoups itu SVT ya? Apa Up10tion? Haha kudet.
      Dr kemaren byk bgt e yg request Nayeon, hihi.. cuma ff ini ch 2 nya udah jadi dan sayangnya bukan Nayeon ataupun Scoups. Huhu..
      Tapi kapan2 aku coba buat cast itu deh. Hehe

      • iya, SCoups itu member SVT, santai loooh hahaha mau siapa juga cast-nya bakal oke2 aja sih soalnya udah terlanjur kepo sama ceritanya:mrgreen:
        wah fans apalah mbak saya tidak worthy untuk diidolakan heuheu anyway salam kenal, Cca! ditunggu chapter 2-nya ya!😀

  2. aku kira ini oneshoot tahunya chapter suka banget sama cerita nya.
    yah aku juga pengen nya s.coups ada nongol di ini cerita.hehe
    tapi gak apalah kalau chap 2 nya udah bikin dan bukan dia yang penting publish terus aja.

  3. Lanjut lanjut lanjut!!!! Taeyongg *.* /fangirlingan/ lagi kesemsem akunya sama taeyong, ehh taeyong nyasar sampe ffi /? Lanjut wajib ya thorr !!!😀

  4. Ya ampun! Sumpah ya, Taeyong gantengnya mati mampus. Haha…

    Ceritanya menarik kak.
    itu musti mereka ada rasa-rasa. Haha
    lanjoot jan lama2 ya. Chu~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s