[Chapter 4] After “Scholar Who Walk at Night”

after scholar

Title:After “Scholar Who Walk at Night”

Copyright © Lee Ice

Author:Leejiraice (Lee Ice)

Main Cast: |Shim Chang Min as Raja Lee Yoon|, |Kim So Eun as Lee Sa Eun/Choi Hye Rung|, |Lee So Hyuk as Vampir Gwi|

Suporting Cast: |Kim Min Seo as Lady Hong Sae Ron|

Length: Series

Rating: 17+

Genre: Saeguk, Sequel of Drama, Fantasy, Mystery, Romance, Vampire

Disclaimer: After “Scholar Who Walk at Night” merupakan sequel dari drama korea Scholar Who Walk at Night (hasil imajinasi saya sendiri dari berbagai sumber inspirasi dan karena tidak puas dengan endingnya. hehee).

Note: Cerita ini sudah pernah saya publish di akun wattpad saya (ice-cream @leejiraice) dan masih tahap on going.

Summary: Menceritakan kembali kisah cinta yang terjalin antara Raja Yoon (Shim Chang Min), Lee Sa Eun (Kim So Eun) yang memiliki kemiripan wajah dengan mendiang istrinya Choi Hye Rung, dan Vampir Gwi (Lee So Hyuk) yang sempat musnah karena di kalahkan oleh Yoon dan Kim Seung Yeol. Bagaimana kisah yang akan terjalin diantara mereka?

Daftar Isi: |Prolog| |Chapter 1| |Chapter 2| |Chapter 3| |Chapter Tambahan|

After “Scholar Who Walk at Night” Chapter 4
Almost Be the Queen Part 1

Warning: Di dalam cerita ini mungkin ada adegan yang belum layak dibaca bagi yang berumur U-17. Untuk itu mohon kesadaran diri dan kebijaksanaan anda…

Happy Reading…

—————————————–

-Aku benar-benar bersyukur bahwa Lee Sae Eun memang masih hidup. Aku senang bisa berada di dekatnya. Aku tak ingin lagi kehilangannya. Maafkan aku Hye Ryung-a… Aku tidak bermaksud melupakanmu. Aku hanya ingin melindunginya karena aku sama sekali tak sempat melindungimu. Jika kau tak terima, kau boleh membalas dendam padaku di kehidupan kita yang akan datang…- Lee Yoon.

Entah apa yang harus Sa Eun rasakan setelah pertemuan itu. Haruskan dia senang karena bertemu dengan sosok yang dirindukannya akhir-akhir ini, atau… Yang jelas, setelah pertemuan itu, hidup Sa Eun di istana mulai rumit. Dayang-dayang mulai menuduhnya telah menggoda Yang Mulia Raja. Bahkan beberapa dari mereka berbuat kasar dan mulai membullynya. Pekerjaan yang telah dia selesaikan, tiba-tiba kembali berantakan dan membuatnya harus mengulanginya. Hingga di marahi dayang kepala telah dia terima. Namun tak ada seorangpun yang mau membelanya.

Dan siang ini, setelah seharian lelah mengulangi pekerjaannya. Barang-barang di kamarnya sudah berserkan di mana-mana. Sa Eun meremas roknya kuat-kuat. Dia tak terima. Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Dia tak bisa lari dari tempat itu. Hidupnya sudah terikat di sana. Ini bahkan baru permulaan saja. Dengan semua ini, Sa Eun menjadi sadar, bahwa tempatnya memanglah bukan di istana. Dia benci berada di istana.

Lee Sa Eun menangis seorang diri. Dinginnya malam tak mempan menghentikan kesedihan atas penghinaan yang dia terima beberapa hari terakhir. Dia mengingat masa lalunya yang bahagia. Meski sebatang kara, dia memiliki sahabatnya Yori yang menemaninya. Dengan harta yang dimilikinya, meski tak banyak, ia gunakan untuk membantu orang-orang sekitarnya yang tidak mampu. Mengajari anak-anak desa dan bermain bersama mereka, merupakan saat-saat berharga baginya. Namun sekarang dia berada di sini. Terkunci di dalam istana yang bahkan tak ada yang menerimanya. Dia menyesal, harusnya tak datang ke sini.

“Yori-ya… Nan eottokhe?”, isak Sa Eun tertahan, tak ingin jika suaranya terdengar siapa pun.

Flashback

“KYAA!”,

“Shuttttt!”, teriakan Sa Eun tertahan oleh tangan Yori, pelayan sekaligus sahabat setianya. Yori membungkam mulut Sa Eun. Sa Eun yang baru bangun tidur pun tak tahu apa-apa.

“Ada apa?”, bisik Sa Eun. Sa Eun bingung ketika Yori memintanya berdiri dan mengenakan pakaiannya.

“Aku rasa ada orang jahat yang sedang mengincar nyawa kita..”,

“MWO?”, “Shutt… Aku bilang diam. Cepat pakai pakaianmu!”, Yori memelototi Sa Eun agar Sa Eun segera melakukan perintahnya. Dan Sa Eun hanya menurut saja. Mereka seperti berpacu dengan waktu. Yori terus saja mengintip ke luar kamar Sa Eun. Jika firasatnya benar, tak lama lagi mereka akan tiba. Mereka yang memiliki aura gelap akan menarik mereka dalam kegelapan.

Tapp… tap.. tap…

Gawat! Jantung Yori maupun Sa Eun berdetak melebihi kecapatan normal ketika mendengar suara derap langkah yang mendekat. Mereka baru saja ke luar dari kamar Sa Eun. Mereka memilih bersembunyi di belakang salah satu lemari di ruang tengah.

Tangan Sa Eun bergetar ketika dilihatnya sesosok bayangan yang mendekat. Tidak! Itu tidak hanya satu. Ada beberapa orang. Mereka berpakain serba hitam dan memakai masker, hendak menuju kamar Sa Eun. Baik Sa Eun hampir saja tak bernafas ketika orang-orang itu melewati tempat mereka bersembunyi. Bahkan ingin rasanya Sa Eun menghentikan debaran jantungnya yang terasa meletup-letup itu, takut jika mereka bisa mendengarnya. Keringat dingin membasahi kening Sa Eun.

Ketika melihat mereka menjauh, tanpa pikir panjang, Yori langsung menarik lengan Sa Eun untuk segera kabur dari tempat itu. Mereka berdua kaget, ketika melihat semua pelayan dan penjaga sudah tidak sadarkan diri. Mereka tidak bisa meminta bantuan kepada siapa pun. Yang mereka punya hanyalah kedua kaki mereka masing-masing untuk berlari. Terlambat. Api sudah menjalar dari gudang belakang mereka. Langkah Yori dan Sa Eun tertahan. Hanya pintu gudang itulah satu-satunya jalan agar mereka bisa keluar.. Yori menatap Sa Eun lama, meyakinkannya, jika mereka harus tetap hidup dan keluar dari tempat ini. Sa Eun sempat ragu, tapi kemudian dia mempercayai pada sahabatnya ini…

.

.

Lee Sa Eun dan Yori, akhirnya berhasil menyelamatkan diri dari kebakaran itu. Namun Yori mengalami luka bakar yang sangat serius. Karena tidak memiliki uang ataupun keahlian dalam meramu obat, Yori meminjam uang kepada seorang saudagar kaya yang kejam di sebuah desa yang menjadi tempat persembunyiaannya. Mereka sampai di desa itu setelah 2 hari 2 malam berjalan tanpa henti melewati hutan belantara. Yori tidak bisa lagi berjalan, dia harus diobati, atau dia akan mati.

Saudagar kaya itu awalnya menolak. Namun Sa Eun menawarkan sebuah tawaran. Dia dengar, Yang Mulia Raja sedang mengadakan sayembara jubah dan menawarkan hadiah uang yang banyak. Sa Eun menjamin dirinya bisa memenangkan tawaran tersebut, dan hadiah dari Yang Mulia Raja akan ia serahkan sepenuhnya pada saudagar itu. Jika dia tidak mampu, maka dia akan meyerahkan diri sepeunuhnya.

Sayang, dengan segala tipu muslihat Hong Sae Ron, dia berhasil menjadi pemenang dalam sayembara itu. Lee Sa Eun gagal. Dan sebagai gantinya, saudagar itu menyuruhnya menjadi dayang istana. Saat itu, sedang terjadi perekrutan besar-besaran dayang istana. Yang Mulia Raja memberikan imbalan yang cukup besar kepada keluarga yang menyerahkan keluarganya untuk menjadi dayang isatana. Namun, itu belum cukup bagi saudagar itu. Saudagar itu menahan Yori sebagai tawanannya, sampai Sa Eun berhasil mendapatkan beberapa uang untuk menebusnya.

Flashback end

***

Lee Yoon POV

Pagi ini terjadi keributan yang lebih besar dari dugaanku. Para sarjana Syungkyunkwan dan menteri mulai mengajukan petisi agar aku mengisi kursi permaisuri sesegera mungkin. Dari awal aku sudah curiga, ini semua didalangai PM Hong untuk menjadikan putrinya sebagai permaisuri. Aku benar-benar tidak tertarik dengan gadis itu. Hanya ada Hye Rung di hatiku, dan mungkin sekarang, ada Lee Sa Eun. Sa Eun?

Baiklah, jika itu keinginan mereka… Aku akan mengisi kursi permaisuri…

Yang Mulia Ibu Suri telah tiba!!!!”, suara Kasim dan pukulan gong menggema di istana. Para menteri dan sarjana yang dari tadi mengajukan petisi dan protesnya diam seketika. Mereka benar-benar tidak menyangka kejadian ini akan terjadi. Mengapa justru Ibu Suri yang kembali? Ini benar-benar gawat! Ibu Suri bahkan memiliki kedudukan yang lebih besar daripada posisi permaisuri. Dengan begitu, istana dalam akan dikuasi Ibu Suri sepenuhnya, pikir mereka.

Ibuku yang telah memakai jubah kebesarannya memasuki istana dengan anggunnya. Beliau masih saja terlihat cantik dimataku. Semua orang terpana dan bersujud seketika, untuk menghormati ibuku. Ini pertama kalinya ibuku menginjakkan kakinya di istana setelah memutuskan untuk menjadi biksu di kuil Nam. Ibuku memanglah bukan wanita yang terlalu tertarik dengan kehidupan politik. Beliau lebih senang hidup tenang dan menyendiri. Tapi gara-gara aku, beliau harus rela ketenangannya aku usik. Kini ibuku sudah berada di hadapanku. Aku membungkuk padanya. Dan beliau berdiri di sampingku.

“Baiklah… sesuai keinginan kalian! Aku membawa Yang Mulia Ibu Suri untuk menempati posisinya sebagai pemimpin istana dalam… Dan petisi kalian mengenai permaisuri yang baru, aku… Lee Yoon, akan segara memenuhinya, sesuai kehendak Yang Mulia Ibu Suri… Aku berjanji…”, kuucapkan janjiku dengan lantang. Kulihat beberapa dari mereka mulai panik, menghawatirkan posisi mereka masing-masing. Dengan adanya Ibu Suri di sampingku, otomatis kekuasaan mereka tidak akan leluasa dari sebelumnya. Lagi pula Ibu Suri tidak akan memilihkan wanita yang tak aku sukai. Aku jadi teringat, ketika beliau yang mempertemukanku dengan Hye Ryung. Hye Ryung-a, di saat seperti ini seharusnya kau berada di sampingku untuk mendampingi dan menggenggam tanganku.

“Hidup Yang Mulia Raja! Hidup Yang Mulia Ibu Suri! Hidup Yang Mulia Raja! Hidup Yang Mulia Ibu Suri!!!……..”, suara mereka menggema di seluruh istana.

***

“Maafkan aku, ibunda…”, aku menemui Ibu Suri secara pribadi, dengan begitu, aku bisa memanggilnya dengan sebutan ibu saja.

“Tidak apa anakku… Selama ini kau telah bekerja keras sendirian melindungi tahta ini… ibumu ini hanya bisa melihat dan berdoa dari jauh. Sekarang, saatnya ibu membantumu…”, ibuku menggenggam tanganku. Benar-benar hangat. Terasa sebutir air mata mengalir di sudut mataku.

“Kau masih ingat dengan pesan ibu? Kau harus membuka hatimu, nak… Lepaskan Hye Ryung dan carilah kebahagiaan lain…”, aku membisu mendengar perkataan ibuku. Aku masih belum yakin terhadap perasaanku saat ini. Lee Sa Eun. Aku tidak tahu, apakah aku menyukainya atau masih menganggapnya sebagai bayangan Hye Ryung.

“Yang Mulia Ibu Suri… dia sudah datang….”, seorang dayang mengumumkan kedatangan seseorang. Ku lihat senyum ibuku mengembang.

“Persilahkan dia masuk….”, ibuku menyuruhnya masuk.

Seorang gadis, lebih tepatnya seorang dayang istana, masuk dengan membawa baki berisi minuman. Dia masih menunduk. Kulihat langkahnya yang gemetar. Bisa kulihat gelas-gelas di baki itu mulai goyah.

“Saya disini, Yang Mulia…..”, betapa terkejutnya aku mengetahui wajah dayang itu. Lee Sa Eun. Dia sama terkejutnya denganku. Dia segera meletakkan baki itu di depan kami dan duduk menunduk, benar-benar ketakutan.

“Sekarang, tugasmu adalah menemani Yang Mulia Raja minum… Akan ku tinggalkan kalian berdua…”, aku tahu maksud perkataan ibuku sekarang.

“Tapi…”, aku dan Sa Eun sama-sama terkejut.

“Maaf, Yang Mulia Ibu Suri! Saya rasa, saya tidak pantas untuk…”,

“BERANI-BERANINYA KAU MELAWAN PERINTAH IBU SURI!!”, suara seorang dayang meneriaki Sa Eun tegas.

“Mianhamnida….”, Sa Eun kembali berlutut dan meminta maaf, menyesal telah mengucapkan kata-kata itu. Aku tahu, maksudnya. Tapi bagaimanapun, perintah tetaplah perintah.

Lee Sa Eun POV

Sekarang aku disini. Menemani Yang Mulia Raja di sebuah kamar, hanya kami berdua. Aku benar-benar bingung dan takut dengan situasi ini. Cap sebagai “Penggoda” Yang Mulia Raja, sudah cukup membawa penderitaan untukku. Sekarang aku disini, berdua dengan Yang Mulia Raja. Apa yang akan dayang-dayang itu lakukan, jika mereka tahu.

Aku menuangkan minuman untuk Yang Mulia Raja. Tanganku gemetaran. Raja memandangi setiap gerak-gerikku. Aku tidak tahu, apa yang dia pikirkan sekarang. Tatapannya, benar-benar mengintimidasi. Tanganku semakin gemetaran tak karuan. Tiba-tiba dia memegang tanganku. Merebut poci minuman dan meletakkannya. Lalu menarikku dan menidurkanku. Dengan sekali sentakan, dia sudah berada di atasku sekarang. Menindihku. Aku benar-benar terkejut dengan tindakannya, sampai-sampai aku menutup mataku rapat.

-to be continued-

 

Gimana? Sampai ketemu di lain kesempatan, ya? Aku lagi super sibuk nih. Tugasku bertumpuk-tumpuk. Huhuu…. Annyeong Muachhh :*

4 responses to “[Chapter 4] After “Scholar Who Walk at Night”

  1. Butuh penjelasan nih hye rying ama lee sa eun itu sama atau beda berharapnya sama sih hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s