[Lu’s Birthday] Reloaded -1

maxresdefault (1)

Dulu, saat Luhan masih berstatus sebagai mahasiswa semester kedua kedokteran di Universitas Nasional Seoul, Luhan pikir ia tidak bisa memulai sebuah hubungan percintaan semacam berpacaran, atau yang lain. Well, salahkan mantan kekasihnha yang begitu Luhan cintai, lalu kemudian menorehkan kepahitan ketika hubungannya harus berakhir dengan pertengkaran hebat seusai ujian akhir semester Luhan. Tadinya, ia ingin memberi kejutan pada gadis itu, sekaligus merayakan kenerhasilan nilainya yang mencapai target. Tapi ternyaya Luhan justru disambut dengan kata ‘putus’ juga rasa bersalah karena telah membuat gadis yang pernah ia cintai itu menangis.

Luhan begitu sibuk sampai tidak tahu kesulitan kekasihnya.

Luhan terlalu berkutat dengan kuliahnya sehingga ia luoa bahwa ada seseorang yang membutuhkan dirinya.

Luhan begitu dungu untuk memahami perasaan perempuan yang selalu ingin dianggp benar, selalu didengar, selalu bisa ditemani di tiap waktu kosong mereka. Sayangnya, waktu kosong bagi Luhan hanyalah omong kosong. Luhan harus mengejar cita-citanya, dan itu semua lebih penting daripada…berkencan.

Ya. Itu kesalahannya. Luhan lebih mementingkan impiannya daripada rasa rindu yang ia telan sendirian.

Luhan kira, ia bisa memulai hubungan baru dengan seseorang ketika ia sudah mulai bekerja. Dengam seorng perawat cantik dan seksi misalnya? Itu bukan bayangan yang buruk, meskipun Luhan tidak permah benar-benar memulai apapun dengan para gadis cantik dan seksi yang berputar di sekitar Luhan.

Dan, bukannya bertemu dengan perawat, dokter, atau seorang wanita karir yang memiliki pemikiran dewasa dan mandiri, Luhan justru bertemu dengam seorang gadis yang berusia 7 tahun lebih muda darinya, berprofesi sebagai penulis, dan yang pasti gadis itu bukan berkewarganegaraan Korea, ataupun Cina – meskipun secara fisik dan nama gadis itu memiliki ciri orang Asia Timur.

ia pikir, hubungan dengan gadis itu tak akan berlangsung lama. Luhan pernah menjalani hubungan terlama 15 bulan. Dan Luhan tidak pernah lagi berpacaran setelah kisah cinta pertamanya kandas demi keegoisan impian Luhan. Dan kali ini, ia berhasil membangun hubungan hampir 19 bulan. Rekor terlama.

Luhan selalu berpikir rasional. Dan gadis yang ia temui dua tahun lalu di bandara itu juga tipe pemikir yang rasional. Meskipun masih muda, dan bahkan gadis itu belum menyelesaikan sarjananya, tapi menurut Luhan gadis itu cukup cerdas dengan segala komentar yang ia luapkan pada Luhan. Entah itu komentar mengenai mata kuliah yang pernah ia pelajari saat kuliah jurusan sejarah, ataupun komentar mengenai mata kuliahnya di kampus barunya, jurusan Bahasa Korea. Gadis itu fangirl dari Kpop.

Gadis itu juga mandiri. Ariel Lau, kekasihnya itu, sama sekali bukan tipe gadis yang banyak maunya. Ariel selalu mengerti kepadatan jadwal Luhan sebagai dokter. Ariel tidak suka meminta Luhan selalu menghubunginya. Mereka hanya akan mengirim chat singkat di Line atau Kakao jika sama-sama sibuk. baik Luhan maupun Ariel tidak keberatan dengan hal ini.

Ariel selalu percaya padanya. meskipun Luhan harus membatalkan kencan mereka secara mendadak dan sepihak, Ariel tidak akan berpikiran buruk. Ariel juga tidak akan bertanya banyak jika Luhan tidak menghubunginya selama berhari-hari. Dia juga tidak pernah mempermasalahkan tiap gadis yang berfoto bersama Luhan, meskipun foto-foto tersebut dengan sengaja Luhan upload ke instagramnya.

Dan…ini lah yang Luhan sesali. ia tidak pernah mempertanyakan semua sikap Ariel. Entah Luhan yang dungu, atau memang gadis itu yang begitu tertutup dan misterius. Untuk pertama kalinya, Luhan merasa jika semua sikap Ariel memang tidak lazim.

Salahkan sebuah foto yang terpampang jelas di beranda instagram Luhan. Akun dengan id @rielme_ itu memposting fotonya dengan seorang pria. Seminggu lalu, Ariel memang secara mendadak menghubungi Luhan dan berkata jika ia harus pergi ke Jepang untuk sebuah event bukunya. Tapi Luhan tidak tahu, jika Ariel akan bertemu dengan mantan kekasihnya di Jepang. Kim Kai. Yang membuat Luhan semakin muak, Ariel justru menandai akun @kimkaaa itu, dengan captions “meet cracks of my last winter.”

Yeah…sebenarnya, secara logika Luhan tidak perlu repot-repot meributkan tentang Ariel yang berfoto dengan seorang laki-laki, ataupun semacamnya. Ariel sering sekali bertemu banyak pria, bahkan kadang Ariel bertingkah terlalu akrab pada para teman lelakinya itu. Tapi Luhan tidak pernah keberatan…kecuali untuk lelaki bernama Kim Kai itu. Karena Luhan tahu, Kim Kai adalah seseorang yang mengambil andil besar dalam setiap langkah yang Ariel ambil. Luhan bahkan masih ingat ketika Ariel menceritakan hubungannya dengan pria itu yang tak berakhir manis sembari menangis. Luhan ingat setiap alasan yang ia berikan untuk pertanyaan mengapa Ariel masih mencintai lelaki yang bahkan tak lagi berada di dekatnya. Juga, alasan mengapa Ariel sempat menjauhinya karena ia ketahuan mendatangi seorang psikiater.

Ariel memiliki kisah hidupnya sendiri. Dan meskipun ia tersenyum saat menceritakan bagian kelam dalam pengalaman hidupnya, Ariel masih sempat menarik sudut bibirnya sambil tertawa dengan nada sedikit hambar. Dan lelaki dengan nama Kim Kai itu selalu ada di balik tetes air mata Ariel maupun senyum Ariel.

Semuanya masa lalu. Luhan sangat memahaminya. Maka dari itu ia tak keberatan saat Ariel secara terang-terangan menceritakanpotongan kenangan yang selalu berkelebat di tiap langkah Ariel di masa kini. Demi Tuhan, Luhan sama sekali tidak keberatan. Karena Luhan tahu lelaki bermarga Kim itu hanya masa lalu Ariel.

Tapi ketika tahu lelaki itu kembali tersenyum untuk Ariel… Luhan akhirnya tahu jika separuh hati gadis itu masih dibawa lari oleh Kim Kai. Baiklah, itu hanya sebuah foto yang bahkan bisa saja memiliki arti yang berbeda dari sudut pandang Luhan. Sayangnya, Luhan terlalu tahu jika Ariel masih suka menulis puisi tentang potongan kenangannya bersama Kai, cinta pertamanya.

“Dokter Lu, malam ini…”

“Bisakah orang lain menggantikanku?” Luhan menyela ucapan perawat yang baru saja akan melaporkan keadaan salah seorang pasiennya. Sayangnya, kali ini Luhan harus melengserkan profesionalismenya sebagai dokter untuk sementara.

Perawat bermarga Yoo itu sedikit mengangkat alisnya, “Y-ya?”

“Aku agak kurang enak badan. Dan…yeah, intinya aku harus pulang.” –dan menelepon Ariel sebelum ia benar-benar kehilangan hati gadis yang ia cintai itu.

Perawat itu pun mengangguk mengerti. Kemudian ia pun menarik tubuhnya dari ruangan Luhan, membiarkan Luhan yang mulai sibuk dengan ponselnya. Ia harus meluruskan semua ini. Perasaannya. Ketakutannya. Dan memastikan Ariel tidak akan melarikan diri darinya.

 

***

 

“Aku harus kembali ke Jakarta setelah acara ini selesai,” Ariel menjawab telepon Luhan dari sebrang sana. Awalnya, Ariel agak sangsi ketika Luhan mendadak menelepon. Ariel tahu jadwal harian Luhan, dan Ariel juga tahu, kekasihnya itu seharusnya sedang sibuk karena shift malam. Tapi sepertinya Luhan baru saja melakukan perubahan jadwal.

Luhan mendesah panjang di sebrang telepon, “Kenapa?” tanyanya singkat.

Ariel yang sedang mengambil beberapa makanan di rak minimarket sedikit mengerutkan dahinya, “Tentu saja karena orang tuaku berada di Jakarta. Kau juga tidak lupa kan jika aku masih berstatus sebagai mahasiswi Universitas Indonesia?” Ariel tidak yakin dengan apa yang terjadi dengan Luhan hari ini. Hanya saja, satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya berkata jujur dari setiap pertanyaan Luhan –dan sayangnya Ariel tidak terlalu pandai untuk memahami mood Luhan, apalagi untuk memperbaikinya. Ariel memang sepayah itu.

“Berapa lama kau berada di sana?” Ariel masih dapat mendengar suara Luhan yang kentara dengan nada kecewa itu ketika ia membayar belanjaannya di kasir.

“Tidak lebih dari seminggu, kok. Aku harus kembali ke Jepang untuk…”

“Untuk bertemu Kai?”

Hening.

Ariel dan Luhan sama-sama tidak bersuara selama beberapa detik. Jika saja Ariel tengah dalam mood yang buruk, mungkin saja Ariel sudah menyemprot Luhan yang baru saja menuduhnya –hey! Lagipula apa msalahnya dengan Kai? Luhan juga sering bertemu dengan teman wanitanya dan Ariel tidak memprotesnya. Dan akhirnya Ariel hanya menghela napas panjang.

“Tidak. Ada program yang ingin kulakukan di Jepang. Setelah itu aku akan kembali ke Korea.” Jawab Ariel sambil menjaga nada suaranya, “Tapi tumben sekali kau menginterogasiku seperti itu.”

Ariel tidak langsung mendapat jawaban dari Luhan, dan ia memanfaatkan kesempaatan itu untuk membuka pintu mobilnya, “Kau baik-baik saja, kan? Sungguh, jika kau cemburu, aku tidak harus menjelaskan bahwa kami hanya kebetulan bertemu karena acaraku berada di Sendai, kan?”

“Kau menyebutnya winter.”

Ariel terdiam beberapa saat. Yeah…ia tidak bermaksud untuk ber-mellow ria dengan sepucuk kenangannya yang tanpa sengaja tumbuh di kepala juga di hatinya ketika ia harus bertemu Kai karena sebuah kebetulan.

Dan Luhan tahu, jika Ariel menyukai musim dingin, dan semenjak orang tuanya bekerja di Indonesia dan membuat Ariel harus meninggalkan Kanada untuk sementara waktu, Ariel telah kehilangan musim dingin favoritnya. Dan karena Kai lah, Ariel mulai kembali bisa menyentuh salju musim dingin. Musim dingin dan Kai seperti sebuah kenangan yang selalu berjalan sepaket, meskipun semua itus udah berlalu bertahun-tahun lalu.

“Kau tahu…”

“Kau tidak pernah membuatku terlihat begitu special. Kau masih mencintainya?”

Ariel menggigit bibir bawahnya. Ia pun menyandarkan kepalanya ke sandaran jok dan menatap langit malam kota Sendai yang agak mendung. Kepala Ariel mendadak pusing ketika ia menyadari ia baru saja membuat kesalahan. Ariel tidak suka percekcokan, alasan mengapa Luhan dan Ariel jarang sekali bertengkar, karena Ariel selalu menghindari percekcokan. Karena Ariel lebih dari tahu, bahwa dirinya akan meledak-ledak jika emosinya tidak terkendali. Dan…ia takut Luhan akan meninggalkannya jika itu terjadi.

“Tentu saja tidak.”

“Kau senang bertemu dengannya?”

“Kami sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun. Tentu saja aku senang bertemu dengannya.”

“…”

“Kami hanya teman, Lu…”

“Aku ingin kau ada di Korea saat aku ulang tahun.”

Ariel terdiam, kemudian ia pun segera mengecek kalender di ponselnya. Sial! Mata Ariel langsung membulat ketika mendapati tanggal ulang tahun Luhan yang ke-29 bertepatan dengan kepulangannya ke Indonesia.

“Tapi…”

“Ya. Aku tahu. Kau tidak bisa. Dan…ngomong-ngomong, untuk pertama kalinya, aku merasa tidak senang dengan sikapmu yang sok mandiri itu. Ternyata aku tetap membutuhkan sikap manja seorang wanita.”

Dan telepon pun diputus secara sepihak.

Hell –Luhan lebih dari kekanakan dari yang Ariel duga.

 

***

 

Luhan kembali meggerutu ketika ia mendapati ponselnya kosong tanpa notifikasi dari Ariel. Ini hari libur Luhan, dan Luhan sengaja mengambil cuti untuk hari ulang tahunnya. Berharap kalau-kalau Ariel ternyata datang ke apartemennya dan memberi kejutan.

Meskipun…kemungkinannya sangat kecil. Ariel tidak pandai membuat kejutan. Dan meskipun semua teman Luhan mentertawakan karena sikap aneh Ariel yang tidak peka, tidak feminim, terlalu mandiri, dan kadang terlalu angkuh itu, tapi Luhan tahu jika dirinya membutuhkan Ariel. Ia tahu ia bukan hanya mencintai gadis itu, tapi ia membutuhkannya.

Luhan pun menekuk tubuhnya di balik selimut. Entahlah. Entah mengapa otaknya yang selama ini ia anggap cerdas terasa begitu kosong, tolol, bodoh, dan dungu. Luhan tidak pernah benar-benar berpikir bahwa Ariel akan memberikan dampak yang besar bagi suasana hatinya. Luhan hanya sekali merasa patah hati, tepat ketika ia diputuskan oleh mantan kekasihnya. Tapi setelahnya, Luhan tidak menyesalinya karena ia tahu, cita-citanya yang terpenting.

Tapi kali ini, Luhan merasa ada yang salah dengan semua proses yang telah ia lewati. Luhan merasa…bahwa ia baru saja dinomor duakan. Luhan tahu Ariel ‘menomorduakannya’ karena ia harus menomorsatukan keluarga, pendidikan, pekerjaan, juga cita-cita lainnya. Ariel menjuluki dirinya ‘unpretty dreamer’ –ia terlalu banyak memiliki mimpi dan ia begitu bahagia dengan kesibukannya dalam menggapai tangga impiannya. Dan…Luhan pikir, akhirnya ia tahu bagaimana rasanya ketika ia membutuhkan kekasihnya, namun kekasihnya tidak bisa berada di sisinya.

Luhan sering melakukannya.

Luhan selalu melakukannya.

Sangat sering, dan Ariel tidak mempermasalahkannya, bahkan meskipun Luhan harus ketauan tengah berdua saja dengan seorang dokter rookie yang tengah ‘mendekatinya’ lewat embel-embel diskusi. Ariel tahu. Dan ia hanya tersenyum sambil memukul pundak Luhan, “Kau tidak setampan itu, tapi banyak sekali ya penggemarmu!”

Dan Luhan hampir tenggelam dalam kantuknya jika saja bunyi bel apartemennya tidak membuat Luhan tersentak dan bangun. Luhan mengacak rambutnya saat menyadari ia langsung terduduk saking terkejut mendengar suara bel apartemennya.

“Manusia macam apa sih yang bertamumalam-malam begini?” omel Luhan sambil berjalan tersaruk ke arah pintu.

Luhan sempat melirik jam dinding dan mendapati angka 11PM di sana. Gila. Seseorang bertamu tengah malam begini? Luhan sudah berniat menyemprot tamunya dengan omelan saat membuka pintu –dan Luhan justru terpaku ketika daun pintu apartemennya terbuka.

“Happy birthday my lovely Han!”

Ada Ariel di sana. Dengan kue di tangannya. Tak lupa, ada lilin menyala yang menghiasi kue itu.

“Kau…kau…bukannya…”

“Tiup lilinnya! Cepat!” ucap Ariel semangat sambil menunjuk lilin di tengah kue itu dengan ekor matanya, “Jangan lupa permohonanmu.”

Luhan sebenarnya masih merasa linglung dengan keberadaan Ariel yang tiba-tiba ini. Belum lagi ini sudah hampir tengah malam. Dan Luhan sangat tahu jika Ariel memiliki aturan untuk tidak keluar rumah lewat dari jam sepuluh. Dan yang lebih normal lagi, Ariel seharusnya sudah sampai di Jakarta, dan bukannya di Seoul. Tapi Luhan tidak peduli –ia tetap mengucapkan permohonannya dalam hati, kemudian meniup lilin di hadapannya.

Dan tanpa diminta, Ariel langsung menubruk tubuh Luhan dan masuk ke dalam apartemen Luhan. Sebenarnya gadis itu sangat jarang datang ke apartemen Luhan, tapi jika melihat tingkahnya, gadis itu seolah-olah pemilik apartemen tersebut. Memakai sandal rumah, berjalan menuju meja makan, lalu menyeret kakinya ke dapur dan mencari sesuatu di sana. Ia terlihat sama sekali nyaman dengan semua situasi tidak normal ini. Bahkan Luhan sempat lupa jika ia sebenarnya tengah bertengkar dengan Ariel.

“Kau tahu kan aku tidak suka kue tart atau semacamnya, jadi kau harus menghabiskan semua ini.” Kata Ariel sambil membawa sebuah piring, garpu dan pisau.

“Bukannya kau harus berada di Indonesia, kenapa kau ada di Seoul?” akhirnya Luhan dapat mengumpulkan seluruh kesadarannya. Ia pun duduk di samping Ariel yang sibuk memotong kue yang ia bawa.

“Bukankah kau sendiri yang bilang jika kau ingin aku ada disini saat kau ulang tahun?” sahut Ariel sambil menyodorkan potongan kue ke dalam mulut Luhan.

“Aku tidak bilang begitu,” elak Luhan sambil mengunyah potongan kue yang disodorkan Ariel.

“Ya aku tahu, tapi kau marah-marah karena Kai lalu membahas soal ulang tahunmu,” Ariel pun kembali menyuapi Luhan, “Aku baru tahu caramu cemburu. Itu lucu. Jika para perawat di rumah sakit tahu, mungkin mereka akan semakin gemas padamu.”

“Aku tidak cemburu!” elak Luhan dengan mulut yang penuh. Bahkan Luhan tidak begitu jelas mendengar suaranya sendiri.

Ariel mengedikkan bahu dan kembali menyuapi Luhan ketika kue di dalam mulut Luhan mulai habis, “Jika kau tidak cemburu, kau tidak akan repot-repot meneleponku hanya untuk berkata ‘kenapa kau memanggil Kai dengan sebutan winter?’”

Luhan ingin kembali menyangkal ucapan Ariel –namun Ariel buru-buru menyuapi Luhan dengan potongan kue lagi. Kemudian Ariel kembali angkat suara, “Tapi aku tidak bohong. Aku tidak merasa perlu menjelaskan padamu jika ternyata tempat acaraku berlangsung adalah di kampus Kai. Aku bahkan tidak tahu jika Kai masih ada di Sendai. Dan…mana kutahu kau akan memprotes soal itu.”

Luhan merengut. Sebenarnya ia ingin kembali memprotes, tapi rasanya percuma saja. Ariel terlanjur menjelaskan semuanya dengan gamblang dan percaya diri, yang artinya Ariel sudah mengerti bagaimana kegusaran Luhan saat Luhan menelepon beberapa hari lalu.

“Lalu bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Luhan lagi kali ini dengan rasa bersalah. Jika benar Ariel datang ke Seoul demi dirinya dan merelakan kuliahnya, Luhan pikir itu cukup keterlaluan. Luhan saja belm tentu mau melakukannya.

Ariel mengedikkan bahu sambil mencolek krim pada kue yang berada di atas meja makan itu, “Aku masih cuti, kok. Aku harus bertemu dengan penerbit, jadi aku berencana pulang. Tapi karena aku harus menenagkan bayi rusaku, makanya aku menunda dulu kepulanganku,” sahutnya dengan intonasi datar. Sama sekali terlihat tidak peduli.

“Apa tidak berlebihan kau mengambil cuti selama itu?” tanya Luhan lagi sebelum Ariel menyuapinya lagi.

“Sepertinya aku akan pindah kuliah lagi. Tapi…entahlah, aku tidak tahu akan pindah kemana jika aku memutuskan pindah.”

Luhan sebenarnya terkejut ketika Ariel berkata lagi-lagi ia menyebut kata ‘pindah’, seolah-olah pindah kuliah adlah hal sepele dan mudah dilakukan. Sebenarnya ia memang baru pindah sekali, tapi jika Ariel memutuska pindah lagi, apalagi sampai pindah jurusan kuliah, Luhan tidak yakin kekasihnya ini akan lulus dalam waktu yang cepat. Sayangnya, lidah Luhan tidak sampai untuk menumpahkan ketidak setujuannya. Ariel sangat keras kepala, dan dia memiliki segudang rencana untuk hidupnya, dan sangat sulit untuk membuat Ariel tkeluar sedikit saja dari rencananya.

“Bukankah kampusmu sekarang kampus terbaik di Negara itu?”

Ariel mendengus pelan, “Ya. Memang. Tapi Mom dan Dad akan kembali ke Kanada. Jadi…kupikir aku bisa mengambil studi di Eropa atau di Amerika. Tapi aku belum tahu juga. Menurutmu bagaimana?”

Luhan menyangga dagu dengan sebelah tangannya yang bersandar pada meja, “Menurutku kau selesaikan saja dulu kuliahmu saat ini. Lagipula apa untungnya lagi-lagi kau pindah kuliah?” dan Luhan bersyukur karena akhirnya Luhan bisa mengeluarkan pendapatnya.

“Kukira yang namanya belajar tentu saja akan mendapatkan keuntungan. Aku bukan kuliah untuk mengejar gelar, kok.”

Skakmat –dan Luhan membatalkan rasa keinginannya untuk menyampaikan pendapat lainnya. Ariel memang seperti itu, berkebalikan dengan Luhan yang meninggikan masalah gelar, dan semacamnya. Well, bukankah semua itu juga menentukan status dan bisa membuatmu menjadi lebih baik di mata orang lain juga? Tapi jika ini soal Ariel…sudahlah. Dia menyerah.

“Jadi, kau mau bagaimana? Menurutku sayang saja sih jika kau lagi-lagi memutuskan untuk pindah.” Kata Luhan sambil mengambil sepotong kue dan memasukkannya ke dalam mulut.

“Luhan, kau mau menikah denganku tidak?”

Luhan langsung terbatuk keras ketika pertanyaan singkat Ariel itu mengetuk gendang telinganya. Ariel yang melihat reaksi Luhan setelah mendengar pertanyaannya pun ikut panik dan langsung mengambil air mineral dari kulkas.

“Maaf…” ujarAriel tulus sambil memberikan gelas berisi air putih itu ke arah Luhan. Dan dalam hitungan detik, kepanikan itu langsung menggigiti hatinya dan menjalar sampai ke kepalanya. Meskipun ingin menyangkalnya, tapi pikiran tentang –Luhan tidak ingin hidup bersamanya—baru saja berhasil menguasai pikiran Ariel.

Selama beberapa detik, apartemen Luhan begitu hening hanya ada suara akuarium dari arah ruang tamu Luhan yang terdengar. Luhan sendiri sibuk memandangi Ariel yang justru menunduk sambil memutar-mutar gelas bekas Luhan.

“Kau…maksudku, aku…”

“Kita sudah berpacaran satu setengah tahun. Dan kupikir, jika aku menikah denganmu, aku bisa saja kuliah di Korea dan tinggal denganmu. Bukankah itu lebih mudah? Tapi…yeah, aku tahu itu bodoh. Maaf membuatmu terkejut,” Ariel pun tersenyum dengan nada dipaksakan. Suasana hatinya tiba-tiba saja berubah tidak enak, dan Ariel justru tidak bisa menguasai gesturnya sendiri.

Ariel pun melirik arlojinya, kemudian bangun dari kursinya dan berjalan ke arah dapur untuk meletakkan gelas bekas Luhan, “Ini sudah malam. Aku harus segera kembali, besok aku harus segera kembali ke Indonesia,” kata Ariel setelah kembali ke ruang makan dan mengecup pipi Luhan.

Luhan yang mulai paham mngenai situasi ini langsung menahan tangan Ariel –well, Luhan sebenarnya agak panik ketika Ariel memutuskan untuk pulang. Ariel hampir tidak pernah menunjukkan rasa kesalnya pada Luhan, namun kali ini Ariel justru dengan gamblang menunjukkan kekecewaannya.

“Kita masih bisa bicara, kan?” tanya Luhan agak panik.

Ariel yang paham jika Luhan berubah panik, langsung duduk kembali,”Aku baik-baik saja, oke? Maaf sudah mengatakan hal bodoh. Kita bisa bicarakan ini setelah aku kembali ke Korea. Aku tidak akan lama di Indonesa, aku janji,” ujarAriel meyakinkan Luhan –meskipun Ariel sendiri tidak yakin bagaimana dengan suasana hatinya sendiri.

Ariel pun mengecup bibir Luhan sebelum akhirnya mengucapkan selamat ulang tahun sekali lagi sebelum ia benar-benar pulang.

 

***

 

Luhan menyesal tidak menyelesaikan masalahnya saat hari ulang tahunnya kemarin. Dan Luhan lebih menyesal lagi setelah tahu jika Ariel tidak menghubunginya lagi setelah ia sampai di Indonesia, yang lebih parah lagi Ariel tidak memberitahu jadwal keberangkatannya ke Indonesia.

Luhan pun mendesah panjang dan memijit pelan keningnya. Pekerjaannya sangat menumpuk, dan kekasihnya tidak juga menghubunginya dan membuat Luhan khawatir sendiri. Lagipula bagaimana bisa Ariel berpikir mengenai pernikahan? Yeah…bukannya Luhan tidak mencintai Ariel, tidak mau menikahinya, atau apapun. Hanya saja…bukankah ini terlalu dini? Belum lagi Ariel yang begitu sibuk dengan karirnya, pernikahan tentu saja bukan jalan keluar jika Ariel menjadikan alasan untuk kuliah di Korea dan agar bisa berada di dekat Luhan. Atau mereka bisa saja tinggal bersama, banyak pasangan yang melakukannya tanpa harus menikah buru-buru.

Yeah…mungkin ini terdengar agak buruk, tapi untuk saat ini Luhan tidak sedang memikirkan sebuah pernikahan. Pernikahan baginya hanya akan menjadi sebuah beban jika tidak direncanakan dengan benar, dan Luhan benar-benar belum siap untuk terikat dengan ikatan sebuah pernikahan. Lagipula kenapa Ariel harus membahas pernikahan secara tiba-tiba dan memikirkannya sepihak begitu, sih? Dan lebih menyebalkan lagi Ariel sama sekali tidak bisa dihubungi. Teman satu flat-nya juga mengatakan hal yang sama, Ariel tidak bisa dihubungi dan katanya dia akan kembali ke Korea setelah semua urusannya di Indonesia dan sisa pekerjaannya di Jepang telah selesai.

“Hyung? Mau minum kopi?”

Luhan mendongak saat seorang pemuda dengan seragam yang sama persis seperti yang dikenakan Luhan melongokkan kepalanya di antara daun pintu. Oh Sehun. Salah salah satu dokter yangbaru saja dinyatakan lulus dan telah bekerja secara resmi di SNU Hospital.

“Aku tidak menerima penolakan, Hyung. Kau tidak bermaksud bunuh diri dengan cara mengurung diri seperti ini, kan?” kata Sehun lagi sebelum mendengar penolakan tak masuk akal dari seniornya. Ini hari ketiga semenjak Luhan terlihat murung dan seperti kehilangan rohnya luhan juga lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja meskipun pada jam istirahat sekalipun. Dan tentunya, sikap aneh Luhan membuat seluruh karyawan yang menjadi fansnya begitu khawatir.

Luhan pun mendengus panjang sebelum akhirnya bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Sehun di dekat daun pintu, “Kau yang traktir, oke?” kata Luhan sambil menepuk bau Sehun yang dibalas sungutan.

Sehun pun mengikuti Luhan dari belakang –dan terpaksa menghentikan langkah kakinya secara mendadak ketika kaki Luhan tiba-tiba berhenti dan tubuh Luhan berputar cepat ke arahnya.

“Sehun, kau kenal dengan Ariel dan juga Kai, kan?” tanya Luhan dengan nada semangat.

Sehun mengerjapkan matanya agak terkejut, kemudian menganggukkan kepalanya ragu, “Ya. Aku kenal Kai, tapi Ariel…aku hanya tahu sedikit saat Kai menceritakannya saat kami sekolah dulu,”

Luhan pun menjentikkan jarinya semangat, “Nice! Let me ask you!”

 

***

 

Sehun hampir saja menyemburkan minuman di mulutnya saat mendengarcerita Luhan tentang kekasihnya yang masih anak-anak itu –bagi Sehun kekasih Luhan tak lebih dari anak ingusan yang mencari keuntungan dari Luhan. Meskipun…yeah, sepertinya Ariel adalah gadis dengan magic sehingga setiap pria luar biasa bisa menempel padanya.

“Aku hanya terkejut saja, bagaimana bisa dia berpikir tentang pernikahan dan semacamnya? Dia masih sangat muda dan aku pikir, seharusnya dia harusfokus pada karirnya. Come on! Dia gadis yang berbakat.”

Sehun pun mengangguk pelan sambil mendengarkan seniornya ini. Kemudian, ia pun menegakkan bahu dan membuat Luhan sedikit penasaran karena gestur yang ditunjukkan oleh Sehun yang menunjukkan –aku tahu sesuatu—, “Beberapa hari lalu Kai menghubungiku, katanya dia bertemu lagi dengan mantan kekasihnya. Dan kurasa orang itu Ariel,”

Luhan pun memajukan tubuhnya, cukup bersemangat membahas masalah ini, “Ya. Ariel memposting fotonya dengan Kai-Kai itu. Lalu, apa yang dikatakannya?”

“Hyung tahu alasan mengapa mereka putus?” tanya Sehun yang dibalas gelengan oleh Luhan, “Ariel hanya mengatakan bahwa hubungan mereka sebuah kesalahan, dan…”

“Karena Ariel adalah gadis yang cukup serius saat menjalani hubungan,” potong Sehun yang membuat dahi Luhan mengernyit, “Saat Kai mulai sibuk dengan kuliahnya di Sendai, Ariel sepertinya mulai gusar karena komunikasi mereka mulai memburuk. Dan akhirnya, Ariel bertanya apakah hubungan mereka bisa dibawa sampai ke jenjang yang lebih serius. Well, Ariel memang masih sangat muda saat itu, tapi Ariel sudah sangat serius memikirkan hal itu karena orang tuanya mulai berpikir untuk memperkenalkannya pada orang lain. Ariel itu anak sulung, dan ibunya yang keturunan Indonesia masih berpikir agak kolot mengenai hal ini.”

Luhan yang menyimak ucapan Sehun justru malah semakin tegang –well, ia tidak tahu fakta tentang keluarga Ariel selain Ariel anak pertama dan orang tuanya berasal dari Kanada, “Lalu?”

“Mereka pun putus, karena saat itu Kai punya prinsip yang sama sepertimu. Dan setelaha ku baca beberapa tulisan Ariel di blgonya, kurasa Ariel sangat paham mengenai Kai dan akhirnya dia mulai berpikir bahwa ia justru malah menyulitkan Kai dengan keinginan keluarga Ariel agar ia mulai mencari seorang pria yang serius. Ariel mungkin terlalu memikirkannya, dan ia pun meminta putus sementara, hingga Kai siap.” Sehun pun terdiam sejenak untuk meneguk kopinya, “Dari tulisan yang kubaca di blog Ariel, Ariel mengira Kai tidak menyukainya karena ia memiliki bipolar dan karena ucapan Kai yang berkata bahwa ia membutuhkan gadis yang mau mendengarnya. Ah! Ini rumit. Yang pasti Ariel mengira Kai tidak mencintainya, padahal Kai tidak bermaksud begitu. Dan sepertinya Kai mengajak Ariel untuk kembali memulai hubungan baru dan…”

“Apa?!” pekik Luhan yang berhasil menyita sebagian besar orang-rang di kafe.

Sehun tesenyum maaf pada semua orang sebelum akhirnya menatap Luhan dan melanjutkan, “Kai menawari Ariel beasiswa di Jepang, dia memiliki kenalan dan tentu sajamenawari hubungan baru, tentunya yang lebih serius.”

Dan untuk pertamakalinya, Luhan tahu rasanya…takut kehilangan. Dan perasaan itu tertujukan pada Ariel.

 

***

 

“Kenapa kau tidak menghubungi Luhan, sih? Dia uring-uringan mencarimu,” kata Emma –teman satu flat Ariel ketika mendapati Ariel yang tiba-tiba saja sudah duduk di ruang duduk sambil memakan cemilan dan menonton TV.

“Kau baru pulang?” tanya Ariel dalam bahasa inggris. Well, Emma berasal dari LA dan sedang belajar bahasa korea di Seoul.

“Ya. Dan aku sangat terganggu dengan pacar doktermu itu,” gerutu Emma yang dibalas gelengan kepala dari Ariel, “Kau kemana saja? Kenapa tidak memberi kabar sama sekali?” tanya Emma sambil ikut memakan keripik kentang di tangan Ariel.

“Mencari inspirasi dan mencari ketenangan, tapi aku malah semakin dibuat pusing,” sahut Ariel tanpa mengalihkan matanya dari actor tampan yang ia lupa namanya itu. Hanya saja, ia yakin ia sering melihatnya di beberapa rama sebagai peran tambahan.

“Memangnya ada apa? Soal Kai yang menembakmu lagi?”

Ariel menggeleng pelan, “Aku merasabodoh dengan diriku sendiri.”

“Maksudmu?”

Ariel pun terdiam beberapa saat sebeluma khirnya menatap mata biru milik gadis berambur pirang sepunggung itu, “Apa menurumu aku putus saja dengan Luhan? Maksudku…sejak awal, aku sebenarnya tidak bermaksud untuk berpacaran. Aku tidak suka berpacaran lama-lama tapi akhirnya kampi putus dan memiliki kenangan singkat yang berakhir buruk. Aku agak buruk untuk menyerap memori hitam, dan aku tidak siap jika memori hitam itu adalah Luhan. Dan lagi…Luhan sepertinya tidak berpikir untuk menikah dalam waktu dekat ini. Padahal, aku menerimanya dulu karena kupikir dia memiliki rencana untuk menikah. Ah! Harusnya aku mendekati laki-laki Indonesia saja! Mereka semua selalu berpikiran matang bahkan meskipun mereka baru berusia 25 tahun!”

 

=to be continued=

20160424 PM0708

5 responses to “[Lu’s Birthday] Reloaded -1

  1. Duh duuuh. . Luhan kenapa gak iyain aja siih padahal takut kehilangan kan??? Jan sampe keduluan kai loh itu si kai udah mau serius katanya. . .
    Okay part 2nya ditunggu ya kak^^
    Love this couple
    Ariel x Luhan

  2. aku kira bakalan oneshoot eh tahunya chapter😀
    entah kenapa aku sukali sama nama cast ariel lau apalagi pasangannya luhan mungkin karena sering baca fanfic dengan cast itu dan itu semua fanfic favorit banget. lah kenapa jadi curcol😀 maaf
    aku suka pokoknya. apalagi luhan yang panik gitu.haha dan memang kenyataannya hampir semua orang ina berpikran seperti itu kalau wanita udah usia max 25 tapi belum nikah pandangan orang2 tuh gimana gitu beda sama yang di LN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s