Rompecorazones #2

ROMPECORAZONES 2

Taeyong (NCT U), Nayoung (IOI), Seolhyun (AOA), Sungjae (BtoB), others.

by Cca Tury

Previous: [1]

“Taeyong tidak mengerti mengapa gadis itu bisa membencinya dalam hitungan detik.”

“Lee Taeyong.”

Mendadak Taeyong menginjak rem motor dan terhenti di tempat. Dia mengumpat, “Ya! Kau mau mati?!” bentaknya pada gadis yang menghadang dengan dua tangan terbentang. Gadis itu tersenyum menggoda, membuat Taeyong mau tak mau menghela nafas berat.

Ini adalah gadis yang kemarin. Gadis yang cuma-cuma mendekatinya sejak pertama masuk sekolah, gadis yang juga sembarangan saja datang ke rumahnya, dan gadis yang pagi ini menghadangnya di area kompleknya sendiri.

“Aih, aku kan hanya ingin pergi ke sekolah bersamamu.” Dia merengek manja dan naik begitu saja ke atas bangku penumpang motor Taeyong. “Lagi pula kan rumahku ada di dekat di sini.” Kemarin pun begitu, gadis ini mengklaim rumahnya ada di daerah sini. Taeyong harap dia tidak berbohong, karena sungguh, Taeyong belum pernah melihat wajah ini di daerahnya.

“Ayo jalan!” seru gadis di belakangnya. Lagi-lagi Taeyong hanya bisa menghela nafas dan kembali melaju.

Namanya Kim Seolhyun. Taeyong tidak tahu maksud lainnya, tapi yang jelas Seolhyun mendekatinya dengan sebuah misi. Mengapa? Karena gadis itu ingin Taeyong masuk ke klub street dancenya. Kemarin pun, ketika Seolhyun seenaknya datang ke rumah, dia mengajak Taeyong mendatangi markas besar klubnya itu.

Katanya, dia dan anggota klub lainnya sudah sering melihat aksi tari Taeyong di situs-situs internet. Agak terkejut ketika tahu Taeyong adalah seorang kriminal, tapi semua itu tak masalah bagi mereka. Begitulah katanya, tapi Taeyong berani bertaruh, itu mungkin karena mereka tahu siapa ayahnya, kalau dia benar-benar kriminal yang miskin, mungkin mereka tidak sudi merekrut Taeyong.

“Jadi bagaimana? Apa kau sudah memikirkannya? Kai oppa menunggu jawabanmu.”

Taeyong ingat, kemarin dia sempat berjabat tangan dengan lelaki yang bernama Kim Kai itu. Seolhyun mengatakan jika Kai adalah sepupunya dan lelaki itu adalah ketua klub mereka. Seolhyun juga mengatakan jika gaya menari Taeyong mirip dengan Kai. Tidak lupa Seolhyun mengatakan jika Taeyong menjadi satu tim dengan Kim Kai, mereka akan menjadi penari yang hebat.

“Aku tidak tertarik. Klub kalian tidak punya agensi yang jelas, jadi aku tidak tahu masa depanku akan menjadi bagaimana jika bergabung dengan kalian.” Sebenarnya Taeyong ragu, karena harus Taeyong akui, cara menari anggota klub yang diikuti Seolhyun sangat hebat, dia bahkan ingin belajar cara menari yang seperti itu, tapi tetap saja Taeyong tidak bisa menjamin. Selagi sekolah menari yang jelas dan bersertifikat saja belum tentu bisa menjamin masa depan Taeyong, apalagi hanya sebuah klub jalanan. Taeyong hanya ingin masuk ke sebuah agensi hiburan yang terkenal dan menjadi selebriti yang terkenal pula. Taeyong ingin membuktikan pada ayah jika tidak dengan kekayaan ayah pun dia bisa hidup senang dan bahagia.

“Huh! Kau ini benar-benar meremehkan Lee Taeyong!”

***

“Hei, pikirkan lagi. Apa kau pikir seorang street dancer tidak bisa ikut sebuah agensi terkenal. Jika ada sebuah agensi melihat kita, mungkin dia bisa merekrut kita menjadi trainee.” Seolhyun tidak menyerah. Begitu sampai di sekolah dan turun dari motor Taeyong pun, dia tetap mempromosikan klubnya.

Taeyong tidak begitu memperhatikan suara Seolhyun sebenarnya, dia lebih tertarik dengan wajah dingin gadis yang memergokinya memberi tumpangan untuk gadis lain. Taeyong mendesah nafas berat, dia hampir lupa jika kemarin gadis itu pergi begitu saja meninggalkan kebingungan untuknya. Dia bahkan tidak membalas pesan, tidak menerima telepon Taeyong, ketika Taeyong mendatangi rumahnya pun, gadis itu mengunci kamarnya.

Sungguh, Taeyong tidak mengerti salahnya di mana sehingga gadis itu bisa membencinya dalam hitungan detik.

“Seol. Aku duluan.” Taeyong meninggalkan Seolhyun yang masih mengoceh.

“Taeyong tunggu aku!”

“Kau belum menjawabku!” Seolhyun masih mengejarnya. Taeyong berdecak dan menghentikan langkahnya.

“Aku akan menghubungimu nanti. Jadi kumohon biarkan aku melangkah sendiri! Jangan ikuti aku!” Jika Taeyong boleh jujur, dia benci dengan orang-orang pemaksa dan selalu mengejar-mengejar. Taeyong bukan orang yang ramah. Jadi jangan salahkan jika ia harus membentak Seolhyun, gadis yang cukup populer di sekolah.

Setelahnya, Taeyong meninggalkan Seolhyun yang terkejut, tentunya bersamaan dengan tatapan-tatapan aneh dari sekitar yang tiba-tiba sudah memenuhi. Yakin saja, sebentar lagi  ini akan menjadi berita besar. Lee Taeyong membentak gadis populer sekolah.

***

Terengah-engah Taeyong masuk ke dalam kelasnya. Gila saja, setelah meninggalkan Seolhyun bersama tatapan-tatapan menyeramkan orang-orang di koridor sekolah, Taeyong langsung saja berlari menuju kelasnya. Dia harus cepat-cepat bertemu dengan Lim Nayoung, gadis yang mendiaminya sejak kemarin.

Tetapi begitu ia duduk di bangkunya, dia mendesah resah. Dia bahkan sudah berjanji pada diri sendiri untuk berpura-pura tidak mengenal Nayoung di dalam kelas atau pun di lingkungan sekolah. Ada alasannya tersendiri, Taeyong belum bisa memberitahunya.

“Jelaskan padaku, kenapa kau marah? Jangan seperti anak kecil!”

Begitu yang Taeyong tulis pada secarik kertas dan mengirimnya tepat di depan mata Nayoung. Gadis itu membaca kertas di atas meja nya itu, dan melirik Taeyong masih dengan tatapan dingin. Jika boleh jujur, ingin sekali dia berteriak dan mengumpat Taeyong, tetapi tetap saja tidak bisa, mengingat mereka seperti orang asing di kelas, dan mungkin saja orang lain akan berbalik mengumpatnya, karena harus diakui, meskipun beberapa orang membenci kehadiran Taeyong, tetap saja sebagian besar menyukainya, bahkan sudah Nayoung katakan, mereka menginginkan teman kecilnya menjadi milik mereka.

“Taeyong, sudah mengerjakan tugas kalkulus? Boleh lihat?” Ten, anak lelaki berasal dari Thailand, yang duduk di meja di depan mereka menginteruspi ketegangan. Lelaki itu tersenyum manja dan memohon. Taeyong mengerut dahi. “Ah, kau kan baru masuk kemarin, pasti tidak tahu jika ada tugas kalkulus. Nay, pinjamkan aku tugasmu.” Targetnya berubah menjadi Nayoung menyadari Taeyong adalah anak baru kemarin.

Nayoung mendesah, lalu mengeluarkan buku tugas kalkulusnya dan memberikannya pada Ten, lagi pula ini bukan sekali dua kali seorang Ten teledor dalam mengerjakan tugas.

Cepat-cepat Taeyong melirik, bagaimana bisa Nayoung cuma-cuma memberikan tugasnya untuk anak Thailand ini?

Baru saja Taeyong merogoh kertas tadi untuk menulis komentarnya, suara lain menginterupsi,

“Oh, ada apa dengan mejaku?”

Semua orang melirik.

“Oh, Sungjae?” Nayoung beranjak dari kursinya.

“Ah, ibu Jung mengatakan agar kau duduk dengan Sooyoung ketika datang.” Ten yang sedang asyik menyalin tugas kalkulus milik Nayoung menyeletuk. Sungjae mengerut dahi. Nayoung paham itu. Dia terlalu paham bagaimana Sungjae tidak bisa duduk di dekat Park Sooyoung.

“Wah, ini tidak bisa begini. Aku tidak bisa dipindahkan seenaknya.” Sungjae berkomentar

“Kau tidak dipindahkan seenaknya. Ibu Jung yang menyuruh.” Taeyong menyahuti, dia berucap santai sembari tetap duduk, tangannya bahkan dilipat di dada dengan mata tertutup.

“Sebenarnya karena Taeyong duduk seenaknya di sebelah Nayoung makanya ibu Jung menyuruh kau untuk pindah.” Ten lagi-lagi mengompori.

Sungjae berdecak, dia bahkan terkekeh kesal, “Oi anak baru! Kau tidak bisa seenaknya!” Sungjae bahkan menggebrak meja.

Seketika saja pandangan orang meramai,

Taeyong membuka matanya, “Siapa yang kau bilang seenaknya. Sudah kubilang ibu Jung yang—“

“Cih, apa kau tidak dengar ucapan Ten?! Kau duduk seenaknya di sini makanya aku dipindahkan!” Sungjae membentak tidak terima.

Taeyong mengertak gigi. Lihat saja nanti, dia akan memberi pelajaran pada anak Thai itu setelah ini.

“Lalu kau mau aku bagaimana?” Bukannya minta maaf, Taeyong malah menantangi, dia beranjak dari duduknya, mengantongi kedua tangannya di saku celana, dan melirik tegas ke arah Sungjae yang sedang emosi.

“Kubilang pindah dari mejaku!” Sungjae menarik kerah baju Taeyong.

Pandangan orang semakin meramai dan berbisik-bisik, mereka bahkan memotret dan mengambil gambar beberapa adegan panas Sungjae dan Taeyong.

“Sudah! Sudah!” Nayoung melerai, memaksa Sungjae melepas tangannya dari kerah baju Taeyong. Dia tahu Taeyong bukan orang yang penyabar, bisa saja mereka akan babak belur setelah ini.

“Aku yang akan duduk dengan Sooyoung!” Cepat-cepat Nayoung mengemasi buku-bukunya.

Jelas saja Taeyong dan juga Sungjae panik. Ini tidak bisa begini!

“Kau pikir kau mau kemana?!” Taeyong menahan tangan Nayoung yang akan melangkah menuju meja Sooyoung.

Nayoung langsung saja menarik tangannya lepas dengan paksa, seperti malam kemarin, yang lagi-lagi membuat Taeyong terkejut, dia bahkan tidak pernah menyangka Nayoung akan menolaknya hingga kali kedua.

“Nay, bagaimana bisa kau membiarkan aku duduk dengan lelaki seenaknya itu?” Sungjae mengejar Nayoung.

Gadis itu tidak peduli, dia bahkan langsung duduk di samping Sooyoung. Nayoung mengeluarkan buku-bukunya di atas meja di sebelah Sooyoung.

“YA! Kubilang kembali!” Taeyong membentak.

Nayoung tak peduli.

“Kubilang kembali atau aku akan menyeretmu!”

“ADA APA RIBUT-RIBUT?!”

Baru saja Taeyong akan menarik Nayoung dari meja di sebelah Sooyoung, ada suara lain berteriak dari pintu depan. Itu bapak Song, guru kalkulus mereka, sudah memasuki kelas.

“Yook Sungjae, dan kau, siapa ya? Anak baru?” Pak Song berkerut dahi mengenali Taeyong, hanya beberapa detik karena setelahnya ia berteriak keras, “KENAPA MASIH BERDIRI?! DUDUK ATAU KUSURUH KALIAN KELUAR DARI KELAS?!”

Taeyong dan juga Sungjae mendesah kesal, mereka terpaksa duduk bersebelahan. Tapi lihat saja, masalah ini bukan berarti selesai begitu saja.

***

6 responses to “Rompecorazones #2

  1. whuahaha songjae ngambek dan ngebentak terasa gimana gitu. apa dia suka nayoung kalau iya bakalan seru tuh chap selanjutnya😀
    makin gak sabar aja.hehe

  2. Ccaaa! Ini telat banget ya komennya, padahal aku udah liat fanfic ini apdet pas beberapa hari yang lalu kalau gak salah. Tapi terpaksa aku pending dulu bacanya karena minggu ini aku ada UP, hiks maapin.
    Wait, aku masih penasaran sama alasan Taeyong kenapa sih dia pura-pura gak kenal gitu sama Nayoung?
    Terus Sungjae kok gak mau deket-deket Sooyoung, HARUS MAU DEKET DONG KAN AKU NGESHIP KALIAN BANGET DI WGM HU /yak lebay/.
    Aku lanjut ke chap 3 aja deh mumpung udah terbit😄 Eh itu btw anak Thailand yang sok kompor itu tolong dilempar aja sama kompor beneran hehehehehehehehehehe tq.

    • Sebenarnya aku udh siapin alesannya sih mbak. Cuma masih ragu dan juga masih belum yakin harus di bahas di bagian mana.
      Sama nih. Masih lembur nulis yg lain ini, makanya ini ff lagi stuck juga. Huhu T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s