[Lu’s Birthday] Reloaded – 2 (It Happens To Be That Way)

maxresdefault (1)

“Apa menurumu aku putus saja dengan Luhan? Maksudku…sejak awal, aku sebenarnya tidak bermaksud untuk berpacaran. Aku tidak suka berpacaran lama-lama tapi akhirnya kampi putus dan memiliki kenangan singkat yang berakhir buruk. Aku agak buruk untuk menyerap memori hitam, dan aku tidak siap jika memori hitam itu adalah Luhan. Dan lagi…Luhan sepertinya tidak berpikir untuk menikah dalam waktu dekat ini. Padahal, aku menerimanya dulu karena kupikir dia memiliki rencana untuk menikah. Ah! Harusnya aku mendekati laki-laki Indonesia saja! Mereka semua selalu berpikiran matang bahkan meskipun mereka baru berusia 25 tahun!” pekik Ariel dengan nada frustasi –dan semua kesadarannya langsung kembali ketika Emma memukul kepala Ariel dengan sangat keras.

“Yak! Kau gila?!” pekik Ariel lagi dengan intonasi suara yang tidak berkurang.

Emma mendesis dan kembali memukul Ariel, kali ini di lengan, “Lalu kau kira menikah adalah perkara mudah? Kau kira menikah semudah kau mengucap janji, tinggal bersama, lalu tada! Kalian hidup bahagia selaanya! Begitu?” Emma pun menggeleng keras, tak habis pikir dengan cara berpikir Ariel yang begitu kolot, “Pernikahan itu tentang komitmen. Dan Luhan tentu saja tipe pria yang berpikir jauh ke depan. Menikah tidak semudah itu, Nona Lau,” kata Emma dengan dengan nada menasehati sembari menarik bungkus keripik kentang di tangan Ariel.

Ariel pun terdiam. Tentu saja Ariel tahu sebuah pernikahan adalah tentang komitmen. Tentu saja Ariel tahu pernikahan tidak mudah. Ariel juga sangat paham jika suatu hubungan yang terlalu terburu-buru juga belum tentu baik. Tapi…justru karena pernikahan adalah sebuah ikatan dengan komitmen yang serius, Ariel dapat yakin jika pria yang saat ini berada di sisinya dengan embel-embel cinta untuk hubungan mereka saat ini tulus padanya. Pernikahan tidak mudah, dan perpisahan dalam sebuah pernikahan juga tidak mudah. Maka dari itu Ariel lebih tertarik untuk menikah ketimbang berpacaran…

“Bicarakan lagi saja dengan Luhan. Sayang kan jika kalian putus hanya karena alasanmu yang agak aneh itu. Bicarakan tentang keinginanmu yang serius dalam hubungan ini. Jika kau serius sejak awal, kau juga tidak akan mengambil jalan pintas untuk putus begitu saja. Sebuah hubungan dibangun berdasarkan prinsip memperbaiki. Memperbaiki hubungan kalian, memperindah hubungan kalian, atau semacam itu,” Emma pun menarik remot dari tangan Ariel dan menekan salah satu tombol untuk mencari channel acara musik kesukaannya, “Jika kau hanya berpikir dalam sudut pandangmu dan membuat hubunganmu kacau lagi seperti dulu, artinya kau bodoh. Kau egois. Simpel kan?”

Ariel pun menatap kosong layar TV-nya.

Ya. Benar. Ariel begitu egois. Ariel begitu bodoh.

Alasan mengapa ia dan Kai putus saat itu, karena Ariel memaksakan sudut pandangnya untuk membuat hatinya sendiri buta. Alasan mengapa ia dan pria bernama Mino juga tidak pernah menemukan titik temu, Ariel selalu egois dan membuat Mino mengikuti kemauannya.

Ah…kenapa tiba-tiba ia malah ingat pada Mino –yang notabennya sudah menjadi kekasih orang lain?

Ariel pun bangun dari kursinya dan berjalan cepat menuju dapur. Ia harus memperbaiki hubungannya dengan Luhan, membicarakan semua yang harus dan yang ingin ia bicarakan. Komunikasi adalah salah satu poin penting dalam sebuah hubungan, kan?

“Kau mau apa?” tanya Emma sambil berteriak dari ruang duduk, “Masak ramen? Masakkan untukku juga!”

“Bodoh! Aku akan memasak untuk Luhan!”

 

***

 

Ariel akan selalu ingat, ketika pertama kali kakinya menginjakkan ibu kota Indonesia yang memberi kesan kurang menyenangkan dengan udara yang panas, lembab, dan membuat seluruh tubuhnya terasa lengket, Tuhan mengirimkan Kim Kai untuk kesan yang lebih baik pada Ariel. Yah…setidaknya, itulah yang Ariel pikirkan ketika ia mulai mengenang lagi pertemuannya dengan Kai.

“Kau berasal darimana? Australia? Cina? Singapura?” tanya Kai pada Ariel yang saat itu tengah menikmati dinginnya AC di ruang musik sekolahnya. Ariel bersekolah di sekolah Internasional. Dan itu cukup menguntungkan, setidaknya Ariel tidak perlu berkenalan lagi dengan bahasa baru di Negara yang masih terasa asing baginya itu.

Ariel tidak tahu sejak kapan ia dan Kai sudah bersama-sama di satu ruangan yang sama. Yang ia ingat, ia hanya menjawab ia berasal dari Kanada –yang disahuti kata ‘oh’ bernada kagum dari Kai—lalu Kai pun memainkan piano di ruang musik itu. Ariel tidak ingat judul lagu yang dimainkan oleh Kai saat itu, ia hanya ingat ia menanyakan Negara asal Kai, dan Kai menjawab, “Aku dari Hong Kong.”

Saat itu, Ariel dan Kai sama-sama masih berusia 14 tahun. Mereka berteman, atau mungkin bersahabat? Entahlah. Ariel tidak tahu. Yang ia tahu ia hanya semakin dekat dengan Kai, dan mereka mulai sering berlibur bersama, terutama jika Cina sudah bersalju. Biasanya Kai akan mengajaknya berlibur ke Hong Kong.

Yeah…mereka berteman seperti orang-orang berteman pada umumnya. Dan singkatnya, akhirnya mereka saling menyukai dan mereka pun memutuskan untuk tak lagi bisa berteman. Terlebih, saat itu Kai memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di Hong Kong. Ariel tahu, ia benar-benar terluka dan merasa kecewa ketika ibunya malah tidak melegalkan Ariel untuk bersekolah bersama Kai.

“Jika kau hanya ingin berada di dekat Kai, artinya kau tidak punya pendirian.” Itu kata ibunya saat mendengar permintaan Ariel yang memang…sedikit berlebihan. Bagaimana mungkin Ariel ingin pergi ke Hong Kong hanya demi seorang lelaki yang bahkan belum tentu bisa bersama dengan Ariel selamanya.

Dan, tentu saja, long distance relationship bukan sesuatu yang menyenangkan juga. Perbedaan waktu –yang meski hanya terpaut dua jam saja—begitu besar berpengaruh untuk komunikasi mereka berdua. Belum lagi Kai yang begitu serius dalam mengejar nilai akademiknya. Ariel benar-benar merasa frustasi sendiri jika Kai sudah mengabaikan pesannya, bahkan hingga satu bulan Kai tidak membaca pesannya.

Berpacaran dengan jarak yang menghalangi mereka berdua itu merepotkan. Atau mungkin, berpacaran memang merepotkan. Itu lah dimana titik balik cara berpikir dan gaya hidup Ariel mulai berubah. Ariel yang saat itu juga menghadapi masalah keluarga –dimana ayah dan ibunya mulai berjalan pada keputusan untuk bercerai, lalu Ariel yang menyadari bahwa ada keganjalan dalam masalah mentalnya, dan Ariel yang mulai ‘melupakan’ bagaimana terbiasanya ia untuk berbagi berbagai hal pada Kai, Ariel akhirnya hanya tahu bahwa ia terbiasa untuk menyendiri dan menulis sesukanya, menghabiskan imajinasinya bersama idolanya yang bertetangga dengan Kai di Asia Timur, dan berteman secukupnya –ia hanya cukup kenal pada Lana, sahabatnya, dan berbagi banyak hal padanya.

Yeah…ia hanya mencoba berjalan seadanya pada kisah hidupnya.

Sampai Kai kembali datang ke Indonesia, dengan tema “berlibur”. Ariel bahkan menertawakan dirinya sendiri yang begitu terpana dengan kejutan yang diberikan oleh Kai saat ia datang ke rumah Ariel. Ariel pikir, ia sudah melupakan Kai. Ariel pikir, ia sudah bisa melepas Kai dan justru akan meminta putus dari Kai.

Tapi…itu tidak terjadi. Kata putus itu tidak terucap, bahkan hilang dalam sekejap ketika mata Ariel menangkap tarikan dari sudut bibir Kai. Yeah…intinya ia masih mencintai Kai. Ia tetap mencintai Kai. Dan kata rindu yang ia pikir tak pernah muncul dalam benaknya, justru meledak di balik pelukan yang ia berikan pada Kai.

Proses putusnya Ariel dan Kai bukan karena jarak, komunikasi yang buruk, ataupun cara berpikir Ariel yang berubah…

“Kai, aku ingin jujur sesuatu padamu,” itulah dimana Ariel mencoba untuk sedikit terbuka pada Kai. Kalimat singkat yang Ariel sendiri tidak tahu, ternyata itu adalah garis baru dimana Ariel harus mulai melepaskan Kai dari hidupnya.

“Katakan saja,” sahut Kai dengan santai. Ia bahkan sempat bersenandung kecil ketika lagu yang Ariel sendiri tidak begitu tahu mengisi penuh udara di kafe yang ia datangi bersama Kai.

Kai tidak tahu, Ariel sempat mengepalkan tangan kanannya yang berhadapan dengan gelas kapucinonya yang sudah berisi setengahnya, “Aku…punya cirri-ciri aneh pada mentalku,” Ariel sama sekali tidak menatap Kai ketika suaranya mulai memecah alunan msuik yang disukai Kai, “…a-aku belum memeriksakannya secara serius, tapi yang aku baca dari internet, ciri-ciriku…mengarah pada…skizofrenia.” Ariel masih tidak tahu bagaimana ekspresi Kai ketika Ariel menyelesaikan ucapannya.

Yang Ariel tahu, ia dan Kai menjauh. Kai tidak memberitahunya saat kembali ke Hong Kong. Kai juga tidak memberi tahu jika ia baru saja diterima di Universitas di Jepang. Ariel bahkan tidak tahu Kai mendapat nilai tertinggi pada ujian akhir di negaranya.

Semuanya terjadi begitu saja.

Ariel harap, Kai akan memeluknya dan berkata semuanya akan baik-baik saja.

Ariel pikir, Kai akan menjadi malaikat tak bersayapnya lagi.

Tapi…mungkin Ariel saja yang berlebihan dalam berharap.

Mereka bertengkar. Kai yang mulai tertutup dan Ariel yang gamblang dengan semua yang ia rasakan.

Semua terjadi begitu saja…

Seperti saat Ariel menangis dan berkata semuanya berakhir. Saat Ariel tidak tahu apa yang ada pada sudut pandang Kai dan tak ingin tahu apapun tentang itu. Saat Ariel berpikir bahwa…mungkin saja Kai tak lagi mencintainya.

Kau harus tahu Kai…
mungkin kau memang terlalu baik untukku, sehingga kupikir tak ada salahnya untukku melepaskanmu untuk mencari kehidupan yang lebih baik, tanpa diriku.
aku tak sebaik itu, aku tahu.
tapi jika kau tak lagi mencintaiku karena kekurangan yang aku miliki…
kau harus tahu, Kai.
aku salah. Aku bisa sembuh. Bipolar diseorder bukan masalah besar. Dan aku…aku berharap kau akan kembali.

 

***

 

Semuanya terjadi begitu saja. Saat Arie bertemu kembali dnegan pria lain yang membuatnya jatuh hati, kemudian lelaki itu menjauhinya karena bisa mendapatkan gadis yang lebih sempurna, saat itu Ariel tahu, ia harus merubah dirinya.

Dan perubahan itu ia tunjukkan pada Luhan, lelaki yang membantunya untuk mencari alamat flatnya di Korea ketika ia baru pertama kali datang ke sana. Sekali lagi, semuanya terjadi begitu saja. Ariel bertemu kembali dengan pria itu ketika Ariel berkeliling di Incheon, lalu bertemu lagi di Seoul, dan terakhir…Ariel bertemu lagi dengannya di rumah sakit.

Namanya Luhan, mirip nama penyanyi Cina yang Ariel idolakan. Alasan mengapa Luhan begitu tersinggung ketika Ariel terbahak dan mengejek Luhan saat itu. Ariel ingat, saat itu ia tidak sengaja bertemu di kantin rumah sakit seusai Ariel melakukan pengecekan untuk jantungnya. Dan laki-laki cerewet dengan warna rambut pirang terang itu menyapanya dengan riang –lagi.

Heol—dunia begitu sempit, ya?

Kedekatan mereka bukan berawal dari pengecekan jantung Ariel, sih…melainkan pertemuan kedua Ariel setelah ia bertemu psikiater di sana. Dan di sana pulalah, untuk pertama kalinya ada seorang laki-laki yang memiliki ‘open minded’ pada masalah kejiwaannya.

Dan semua terjadi begitu saja. Luhan menyatakan perasaannya, dan Ariel menerimanya. Mereka saling mencintai, dan Ariel berharap agar kekasihnya itu adalah orang yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak. Semua yang ia butuhkan, ada pada Luhan. Alasan yang cukup kuat untuk membuat Ariel bolak-balik Indonesia-Korea demi Luhan.

Itu juga sebuah alasan yang kuat untuk Ariel menemui Luhan dan menyelesaikan masalahnya hari itu.

“Dokter Luhan ada?” tanya Ariel pada seorang perawat yang berada di meja informasi. Ia hanya berbasa-basi sih, sekalian menyapa perawat yang kebetulan sudah mengenal Ariel.

Perawat itu tersenyum, “Dokter Luhan ada di ruangannya. Tadi ia sedang mengobrol dengan Dokter Oh. Anda tinggal masuk saja.” Jawabnya.

Ariel pun tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya untuk pamit dan melanjutkan langkah kakinya ke ruangan Luhan. Meskipun agak malas juga sih jika harus bertemu dengan Oh Sehun –si tampan nan jenius yang dengan beruntungnya bisa menjadi dokter sungguhan di usia 22-nya.

“Kudengar Haneul datang menemui Hyung kemarin, benar?”

Sebenarnya Ariel sudah membuka pintu di hadapannya –ruangan Luhan. Tapi suara familiar dari dalam ruangan Luhan berhasil mengurungkan niatnya untuk membuka pintu. Dengan kurang ajar, setan di dalam dirinya berhasil membujuk Ariel untuk menguping obrolan kedua pria di dalam itu. Karena…yeah, kebetulan Sehun sepertinya tengah membicarakan mantan kekasih Luhan.

“Hmm. Kebetulan saja, sih. Dia sedang check up kesehatan, dan kami berpapasandi lorong rumah sakit. Sebenarnya aku terkejut sekali, kukira dia akan melewatiku begitu saja. Tapi dia ternyata malah menyapaku,” itu suara Luhan, dengan nada ‘biasa-biasa saja’-nya.

Sehun pun tertawa sambil menepuk tangannya, “Banyak hal ajaib yang terjadi di rumah sakit ini, ya? Hyung juga berkenalan dengan Ariel di sini, kan?”

Dan Ariel dapat mendengar Luhan terkekeh pelan, “Tidak juga, sih. Kami bertemu di Bandara Incheon sebelumnya.” Kemudian Luhan bersuara.

“Woo. Lalu, apa saja yang kau bicarakan dengan Haneul? Dia sangat cantik. Apa saat kalian putus dia secantik itu?”

Luhan tertawa mendengar pertanyaan Sehun, “Dia masih sama. Cantik, cerdas, dan memiliki karisma yang memikat. Bedanya, dulu dia terlihat lebih anggun, sedangkan sekarang dia terlihat dewasa dan angkuh secara bersamaan.”

Ariel menggigit bibir bawahnya saat Luhan menjawab jujur pertanyaan Sehun –oh yeah, Ariel sangat tahu tipe ideal Luhan. Dan sepertinya, Haneul Haneul itu baru saja berubah menjadi gadis ideal Luhan.

“Kalian tidak akan tiba-tiba jatuh cinta lagi, kan? Yeah…maksudku, jika aku mengkalkulasi antara kelebihan Ariel dan Haneul, kurasa 51% tipe idealmu jatuh pada Haneul. Ariel masih terlalu muda, dan kurasa Haneul tidak akan membahas pernikahan dan embuatmu shock tiba-tiba.” Ariel tidak tahu aakah Luhan baru saja bercanda atau serius. Yang ia tahu, Sehun sangat brengsek dan Ariel ingin menarik lidahnya dan menghajarnya.

“Yah…Haneul jadi lebih baik setelah sembilan tahun kami tidak pernah bertemu lagi. Dia jadi lebih dewasa, dan sepertinya dia juga jauh lebih mandiri dan tidak semanja dulu,”

“Jadi, Hyung jatuh cinta lagi padanya?”

“Tentu saja,”

Deg.

“Nona, kenapa Anda…” Ariel sangat terkejut ketika suara perawat menginterupsi kegiatan mengupingnya. Dan perawat itu sempat salah paham mengira Ariel terkejut karena suaranya, karena wajah Ariel mendadak pucat.

Ariel pun menutup pintu yang tadinya agak terbuka itu. Ia pun memaksakan senyum di wajahnya dan menyodorkan bekal yang tadinya sengaja aia buat untuk Luhan, “A-aku harus pergi. Ada urusan mendadak. Bi-bisa berikan ini pada Luhan, kan?” setelah menyerahkan bawaannya pada perawat itu, Ariel pun segera pergi.

Mungkin seharusnya Ariel marah pada Luhan.

Mungkin seharusnya Ariel melabrak Luhan dan menamparSehun dengan segala omong kosongnya.

Tapi Ariel tahu…itu bukan jalan keluar dan akan memperparah keadaan. Ia tidak tertarik untuk bertengkar. Ia tidak mau bertengkar dnegan Luhan.

“Emma, a-aku…a-aku tidak akan pulang hari ini. Jangan menungguku, ya,” ucap Ariel buru-buru ketika ia sudah berada di dalam taksi dan menyebutkan tempat tujuannya pada sang sopir. Kemudian, ia pun menutup teleponnya dan mematikan ponselnya.

Entahlah. Ariel tidak tahu harus merasakan atau memikirkan apa. Ia hanya tidak tahu, bahwa patah hati untuk yang ketiga kali karena seorang pria adalah salah satu bagian dari episode hidupnya. Demi Tuhan. Itu tidak menyenangkan.

.

.

“Jadi, Hyung jatuh cinta lagi padanya?”

“Tentu saja,” Luhan sedikit tersenyum sambil mengangkat gelas Americano-nya, “Aku akan jatuh cinta lagi pada Haneul jika aku tidak mencintai Ariel.”

Sehun pun tertawa keras mendengar jawaban Luhan, “Ah…Hyung dan Ariel tidak bisa dipisahkan rupanya. Aku jadi ingin cepat-cepat punya kekasih,” ujar Sehun yang dibalas senyuman oleh Luhan.

“Seseorang yang kubutuhkan sudah ada pada Ariel, bonusnya kami saling mencintai. Meskipun dia ceroboh, tertutup, dan misterius, tapi aku pikir itu tidak menjadi masalah. Aku tidak butuh siapapun selain dia untuk saat ini.”

Sehun mengangguk setuju, “Kai juga berkata begitu. Semenyebalkan apapun seorang Ariel, tapi Ariel tipe yang selalu mudah dirindukan.”

 

=to be continued=

20160425 PM1158

4 responses to “[Lu’s Birthday] Reloaded – 2 (It Happens To Be That Way)

  1. hay nid lama nih ngk baca ffnya, ehh gak tahunya ada postingannya Ff kamu apa lagi main castnya luhan kan yah? ahh ini aku momen duluan yah sebelum baca soalnya kagak ada Paketan he he

  2. Aaarrrgggh ariel kenapa gak dengerin sampe slesai siih kan gak salah pham jadinyaaaa. . .
    Duuh kak jangan pisahin mereka dooong. . . Gak rela aja gituu
    Semoga mereka beneran nikah dan luhan oppa plis jelasin ke ariel cepet2 yaaa
    Keep writing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s