[Lu’s Birthday] Reloaded – Confession

maxresdefault (1)

“Jadi, Hyung jatuh cinta lagi padanya?”

“Tentu saja,” Luhan sedikit tersenyum sambil mengangkat gelas Americano-nya, “Aku akan jatuh cinta lagi pada Haneul jika aku tidak mencintai Ariel.”

Sehun pun tertawa keras mendengar jawaban Luhan, “Ah…Hyung dan Ariel tidak bisa dipisahkan rupanya. Aku jadi ingin cepat-cepat punya kekasih,” ujar Sehun yang dibalas senyuman oleh Luhan.

“Seseorang yang kubutuhkan sudah ada pada Ariel, bonusnya kami saling mencintai. Meskipun dia ceroboh, tertutup, dan misterius, tapi aku pikir itu tidak menjadi masalah. Aku tidak butuh siapapun selain dia untuk saat ini.”

Sehun mengangguk setuju, “Kai juga berkata begitu. Semenyebalkan apapun seorang Ariel, tapi Ariel tipe yang selalu mudah dirindukan.”

Luhan pun mengernyit saat Sehun menyebut-nyebut nama Kai disela-sela obrolan mereka. Hei! Nama itu yang membuat Luhan uring-uringan dan merasa kesal pada Ariel tempo hari. Dan dengan seenaknya, Sehun justru menyebut nama itu dengan wajah tanpa dosa.

“Memangnya mereka sedekat apa sih? Jika mereka memang saling mencintai, kenapa mereka harus putus?” omel Luhan dengan nada ketus. Ia tak habis pikir saja, sepertinya membicarakan seorang Ariel tidak akan pas jika tidak ada nama Kai yang terselip.

“Sangat dekat. Ariel yang sekarang merupakan transformasi dari seorang Ariel yang tersakiti Kai. Makanya, jangan heran jika dia sangat misterius. Dulu, dia bisa saja mengeluhkan bunyi air keran yang bocor, sekarang, meskipun dia sakit, mungkin saja dia tidak menghubungimu.”

Luhan hanya mendengus panjang setelah emndengar jawaban Sehun. Yeah, meskipun lebih daris etahun mereka berpacaran, Ariel sama sekali buka gadis yang akan banyak bicara, banyak mengeluh, banyak meminta, apalagi banyak menuntut. Ariel tidak akan marah jika kencan mereka batal karena Luhan ada operasi mendadak, Ariel tidak akan marah jika ada beberapa pasien genit yang ingin berfoto dengannya, bahkan sampai meminta id akun Line atau Kakao miliknya. Dan…Sehun benar, Ariel mungkin saja tidak akan mengatakan ia sakit jika ia tidak ditanya atau tidak dalam kondisi mendesak.

Awalnya, Luhan pikir itu sesuatu yang bagus. Luhan juga akan kerepotan jika memiliki kekasih yang banyak mengeluh dan tidak bisa mengerti kondisi Luhan. Tapi ternyata, tanpa ia duga ia bisa berada di posisi seperti sekarang –ia lebih menyukai kekasihnya untuk lebih terbuka dan bersikap apa adanya. Meskipun…Luhan tidak yakin akan seperti apa jadinya hubungan mereka nanti.

“Dokter, Nona Ariel mengantarkan ini untuk Anda.”

Sehun dan Luhan secara bersamaan menoleh ke arah pintu ruangan Luhan, “Ariel? Dia kemari?” tanya Luhan sambil mendekati perawat tersebut dan mengambil kotak bekal berwarna merah tua tersebut, “Kenapa dia tidak masuk?”

“Tadi sebenarnya dia sudah berdiri di depan pintu, tapi dia tidak jadi masuk dan memberikan ini pada saya dan menitipkannya pada Anda, katanya dia ada urusan mendadak.”

Luhan dan Sehun pun berpandangan selama beberapa saat. Tiba-tiba saja, perut Luhan seperti melilit. Pikiran sialan itu tiba-tiba saja menjerat otaknya –Ariel tidak mendengar percakapan bodohnya dengan Sehun, kan?

 

***

 

Kemarin sore, saat Luhan baru saja menyelesaikan pekerjaannya, tanpa sengaja ia melihat siluet tubuh seseorang yang taka sing di matanya. Jarak perempuan itu masih beberapa meter dari tempatnya berdiri. Tapi Luhan sangat yakin, perempuan dengan rambut sepunggung itu tersenyum ke arahnya, senyum manis yang begitu familiar dan membuat dada Luhan sempat berdesir.

“Luhan?” sapa wanita itu masih dengan senyum hangat yang sama. Sama seperti ia masih berada di jarak yang jauh dengan Luhan, sama seperti ketika Luhan bertemu dengannya di perpustakaan sekolahnya tiga belas tahun yang lalu. Senyum yang sama ketika ia menyatakan perasaannya dua belas tahun yang lalu. Senyum yang sama pada kencan terakhirnya di bawah guyuran daun yang berguguran.

Yoon Haneul. Haneul, malaikat. Nama yang cantik, bukan?

Bahkan meskipun sudah sembilan tahun ia dan Haneul tidka lagi bertemu setelah ucapan putus itu menjadi akhir dari hubungan mereka, tapi Luhan masih tetap mengakui Haneul adalah gadis yang cantik, memiliki karisma yang menarik, aura yang hangat, dan senyum yang manis.

Luhan akui, dengan sedikit perasaan bersalah, ia balas tersenyum ke arah Haneul dan balas menyapa Haneul, “Hai…Haneul.” Dan Luhan tidak yakin, bagaimana akhirnya mereka bisa berakhir mengobrol di kantin rumah sakit, tertawa bersama, menceritakan pengalaman kami selama sembilan tahun tidak bertemu, lalu saling bertukar kontak masing-masing.

Mereka bisa berteman baik, setidaknya itulah yang dikatakan oleh Haneul yang langsung diamini oleh Luhan. Tentu saja mereka bertukar kontak untuk bisa menjalin hubungan pertemanan. Mereka sudah dewasa, tidak seharusnya mereka bermusuhan hanya karena sebuah masa lalu, kan?

Luhan tidak berpikir ia akan mengkhianati Ariel saat itu. Demi Tuhan, ia tidak terpikirkan untuk kembali pada Haneul, ataupun jatuh cinta padanya –meskipun Luhan tidak akan menyangkal desiran di dadanya. Ia masih tertarik pada Haneul, tapi bukan berarti ia perlu kembali ataupun mengulang masa lalu mereka, kan?

Dan…Sehun benar. Jika dilakukan sebuah kalkulasi untuk membandingkan Ariel dan Haneul, tentu saja Haneul akan menang. Tapi sayangnya, sebesar apapun daya tarik Haneul, hati Luhan masih dibawa lari oleh gadis yang melamarnya tepat di hari ulang tahunnya. Gadis yang membuatnya merana seharian ini setelah kotak bekal itu sampai ditangannya, dan Ariel menghilang.

Jika memang benar dugaannya dan Sehun benar, Ariel tidak menemuinya karena candaan tak lucunya bersama Sehun, cukupkah Luhan mengatakan bahwa ia mencintai Ariel? Bisakah ia meyakinkan Ariel jika ia tak memiliki perasaan apapun pada Haneul dan pertemuannya dengan Haneul adalah ketidak sengajaan?

Ariel bukan gadis yang sulit untuk diajak berbaikan saat bertengkar. Ariel bukan gadis yang berbelit-belit. Tapi akhirnya, untuk pertama kalinya Luhan tahu bagaimana cara Ariel kesal padanya –menghilang dan tak bisa dihubungi.

“Ariel tidak mengatakan kemana ia akan pergi, ia hanya bilang tidak akan pulang dan aku tidak perlu menunggunya. Apa Ariel tidak bisa dihubungi?”itulah jawaban teman satu flat Ariel yang tidak banyak membantu.

luhan hampir saja membanting kepalanya ke atas stir jika saja tidak ada pesan masuk di Kakao. Mata Luhan langsung membulat ketika Emma mengiriminya pesan.

Emma Young
Oppa, Ariel baru saja memposting foto di instagram.
Sepertinya dia ada di Jeju?

Luhan pun langsung mengecek akun instagram dengan id @rielme_ tersebut. Dan benar saja, Luhan mendapati pemandangan gelap dari pantai, tidak ada tanda-tanda itu pantai di Jeju sih, tapi Ariel menulis caption berbahasa inggris: Jeju segelap hatiku, ya? Ini bukan kali pertama sih, jika aku harus dicampakkan hanya karena ada seseorang yang lebih baik dariku. Makanya, kupikir sebuah pernikahan lebih baik, setidaknya dengan adanya komitmen, keseriusan akan perasaan lebih terlihat nyata, bukan? Ah! Bicara apa aku? Ha ha ha. Aku jadi rindu Indonesia dan taman kampusku. Aku akan segera pulang.

Luhan tertohok, tentu saja. Dan yang membuatnya semakin tertohok ketika ia terpaksa membaca sederet komentar untuk foto Ariel.

“@nayoung : Kau putus dengan dokter tampan itu?”

“@mark_tuan : Ayo! Menikah denganku!”

“@liana29 : Ayo pulang ke Indonesia!”

“@emmajosephie_young : @7_luhan_m mencarimu tahu. Kemana saja kau?”

“@oohsehun : @kimkaaa @rielme_ ada di Jeju. Kau tidak mau ke sana? hahaha”

“@kimkaa : @rielme_ bukankah seharusnya kau ada di Indonesia? Kenapa ada di Korea?”

Rahang Luhan langsung mengeras saat membaca komentar terakhir. Sehun brengsek! Kai sialan! Lagipula mau apa pula bocah tengik itu malah menandai Kai Kai itu di kolom komentarnya, dan menyuruh mereka bertemu segala?

Luhan pun langsung menstarter mobilnya dan memajukannya dengan kecepatan tinggi. Apa? Dicampakkan? Putus? Luhan sudah bersusah payah mencari perempuan yang bisa bertahan dengannya sejauh ini! Luhan sudah bersusah payah untuk mempertahankan hubungannya! Luhan sudah mencintai Ariel! Kenapa Luhan harus mencampakkan bahkan meskipun Ariel tidak punya bukti apapun? Memangnya bertemu mantan kekasih artinya…aish! Luhan menggaruk kepalanya kasar. Rasanya tolol sekali ia membela diri atas pertemuannya dengan Haneul padahal Luhan sendiri uring-uringan setelah bertemu dengan Kai?

 

***

 

Ariel tertawa kecil membaca komentar Mark Tuan, temannya di akademi bahasa korea di Sungkyungkwan University, pada fotonya kemarin. Sebenarnya Ariel ingin membalas candaan Mark, tapi tangannya urung mengetik sehuruf pun karena Emma menandai id Luhan di kolom komentarnya, ditambah lagi si menyebalkan Sehun malah menandai Kai.

Ariel sedikit menggigit bibir bawahnya. Entah mengapa ia merasa tidak enak saat membayangkan Luhan membaca komentar teman-temannya, terutama komentar Kai –well, Luhan sedikit marah padanya karena Kai, dan tiba-tiba saja Kai mengomentarinya begitu, Ariel pikir itu bukan sesuatu yang bagus.

“Ini ayam dan birnya. jika kau membutuhkan sesuatu panggil saja aku,”

Ariel pun langsung menyimpan ponselnya dan tersenyum ramah ke arah bibi penjual ayam goreng itu. Ariel tersenyum kecil. Yeah, ia suka daging ayam. Sayangnya, ia hampir tidak pernah mencicipi alkohol. Rasa alkohol itu aneh, dan Ariel tahu alkohol tidak baik untuk kesehatannya. Tapi…yeah, ia pikir tidak ada salahnya meminum alkohol karena suasana hatinya sedang agak buruk. Orang Korea selalu melakukannya, minum alkohol ditemani ayam goreng.

“Hei…kalian mengingatkanku pada Luhan,” Ariel tersenyum kecil ke arah beberapa ayam goreng di hadapannya. Meskipun terasal menyebalkan dan terlihat gila, tapi Ariel benar-benar teringat Luhan ketika melihat ayam goreng itu. Luhan suka ayam. Dan Ariel kadang sengaja memesan ayam goreng cepat saji untuk di kirim ke rumah sakit tempat Luhan bekerja. Luhan selalu lupa makan, dan karena sudah satu tahun berpacaran, Ariel akhirnya tahu jadwal Luhan di setiap jamnya dan sesekali memesan ayam goreng untuk Luhan. Well, itu lebih simpel untuk membuat Luhan benar-benar mengisi perutnya ketimbang ia harus bertanya dan menyuruh Luhan makan.

Ariel pun mengambil sepotong daging ayam dan memakannya dengan cepat. Kata orang, jika kau sedang patah hati maka nafsu makanmu mungkin berkurang. Tapi Ariel rasa, hal itu berlaku kebalikan untuknya. Ariel justru akan banyak makan jika ia sedang merasa sedih ataupun patah hati. Masa bodoh dengan teori yangmengatakan itu tidak sehat atau semacamnya. Ia sedang terluka, dan ia tidak mau membuat tubuhnya ikut sakit.

Ariel pun mulai menuangkan birnya ke dalam gelas. Ia pikir, pesta sendiri tidak begitu buruk. Atau mungkin ia bisa mengajak Emma yang begitu gemar melakukan diet untuk makan ayam sambil minum bir. Emma terlalu membosankan dengan gayanya yang menolak makan malam dengan makanan berat semacam ini. Hell! Ini menyenangkan!

“Nikmat sekali!” gumamnya sambil menuangkan kembali birnya ke dalam gelas. Namun kali ini, Ariel tidak bisa meminumnya karena sebuah tangan berhasil merebut gelas bir tersebut.

“Apa ini? Kau minum bir?”

Ariel terhenyak ketika mendapati Luhan tengah berdiri di sampingnya –dengan pakaian kasual dan rambut yang agak berantakan, bahkan mata pemuda itu agak kuyu. Ariel tidak bisa membayangkan Luhan langsung berangkat dari rumah sakit dan datang ke Jeju.

“Ke-kenapa kau ada di sini?” tanya Ariel ketika dengan seenaknya Luhan mengambil sepotong daging ayam dan langsung mengambil tempat duduk yang berhadapan langsung dengannya.

Luhan mendengus panjang sebelum mengambil segelas bir lagi dan meneguknya sekaligus, “Gadisku hilang kontak, lalu dia menuliskan hal menyebalkan di akun instagramnya. Menurutmu aku akan tenang?” Luhan mulai mengomel. Ia benar-benar kesal dengan sikap Ariel. Ini bukan pertengkaran pertama mereka, tapi ini pertama kali dimana Ariel bersikap tidak biasa.

Ariel mendesah pelan, “Pulanglah. Aku hanya sedang ingin sendiri. Dan…kumohon, lain kali jangan meninggalkan rumah sakit hanya karena alasan bodoh seperti ini. Karirmu sangat penting, bagaimana bisa kau keluar dari jadwalmu padahal kau ingin mendapat gelar professor?”

Rahang Luhan langsung mengeras. Bagaimana bisa Ariel membahas masalah karir sedangkan hubungan mereka begitu buruk? Luhan tahu ini bukan sikap professional, tapi Luhan cukup sadar, selama ini ia selalu mengenyampingkan hubungannya dengan Ariel. Dan melihat bagaimana sikap Ariel kali ini, Luhan rasa tidak ada ruang di otaknya untuk memikirkan karir sedangkan hubungannya seolah di antara kata akhir.

“Aku dan Haneul hanya kebetulan bertemu, tidak ada apa-apa di antara kami. Kau percaya, kan?”

Ariel sedikit mengerutkan dahinya, mencoba menebak kemana arah pembicaraan Luhan.

“Hari itu kau datang ke rumah sakit dan emndengarkan pembicaraanku dengan Sehun, lalu kau pergi begitu saja, iya kan?” Luhan pun menyentuh pungung tangan Ariel, “Aku hanya mencintaimu. Candaanku dengan Sehun saat itu mungkin memang keterlaluan tapi kau tahu, aku…”

“Aku tidak tahu,” Ariel pun menarik tangannya, “Kau mungkin mencintaiku, tapi bukankah 51% dia lebih baik? Kau menyukainya, dan mungkin saja…”

“Ariel Lau!”

“Kai dan Mino juga melakukan hal yang sama padaku!” tanpa sadar, Ariel menaikkan intones suaranya. Ia merasakan gemuruh di dadanya dan ia sama sekali kehilangan kendali atas emosinya saat ini. Semua kenangan buruk tentang berakhirnya hubungan yang ia jalin tiba-tiba saja membentur kepalanya secara bersamaan, “Mereka mencintaiku, tapi mereka menemukan seseorang yang lebih baik dan akhirnya mereka meninggalkanku. Kita hanya sepasang kekasih! Kau bisa saja memutuskanku karena kau lebih tertarik padanya, atau dia lebih unggul dariku. Kau sudah mengkalkulasikannya, bukan? Cinta bukan segalanya.”

“Kau juga masih mencintai Kai dan aku tidak mempermasalahkannya! Kenapa kau menghubungkan masalah kita dengan masa lalumu? Apa kau masih berharap pada mereka, hah?!”

Ariel menggigit bibir bawahnya. Luhan brengsek. Ia tidak memiliki kata apapun selain Luhan yang sangat brengsek, “Setidaknya aku tahu aku mencintaimu dan aku tidak akan meninggalkanmu.”

“Lalu apa aku tidak bisa? Kau pikir aku akan meninggalkanmu hanya karena Haneul? Jika kau bisa percaya akan perasaanmu, kenapa aku tidak bisa percaya akan perasaanku?” Luhan pun menggaruk kepalanya kasar, “Aku datangd ari Seoul ke Jeju bukan untuk mendengar keraguanmu, Ariel Lau, aku…”

“Aku meragukanmu?” air mata Ariel mulai pecah, “Aku menjalani hubungan ini setahun lebih, dan kau bilang aku meragukanmu?” Ariel pun menyeka air matanya kasar, “Aku bahkan menyewa flat di Korea meskipun pelatihan bahasa Koreaku sudah selesai, dan kau bilang aku meragukanmu?” Ariel tersenyum kecut, “Miris sekali hidupku. Aku menghabiskan waktu dengan pria yang bahkan tidak bisa mengerti perasaanku.” Ariel pun langsung menarik kakinya dari tempat itu. Ariel tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan. Ia brengsek. Ia menyalahkan dirinya. Dan Ariel terus menangis menyesali semua sikapnya.

Ini pertama kalinya Ariel bertengkar hebat dengan Luhan. Ariel selalu menahan semua perasaan kesalnya pada Luhan. Ariel sebisa mungkin menahan segala keluhannya pada Luhan. Tapi apa? Luhan meragukannya seperti itu?

 

=to be continued=

20160427 PM1117

2 responses to “[Lu’s Birthday] Reloaded – Confession

  1. Lagi2 aku dibuat baper sama luhan dan ariel. . ya ampun aku kasian banget sama mereka berdua. . kak kapan mereka romantis2an? Plis jangan sampe mereka putus ya kak. . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s