Rompecorazones #3

rompecorazones

credit pic: somewhere from google

Taeyong (NCT U), Nayoung (IOI), Sungjae (BtoB), Seolhyun (AOA)

by Cca Tury

Previous: [1] [2]

“Taeyong tidak bisa terima! Senyum indah seperti itu seharusnya adalah miliknya.”

“Nay, bagaimana bisa kau menyuruhku duduk dengan lelaki yang mengajak berkelahi di hari pertama bertemu?”

Nayoung terhenti. Dia menghela nafas berat, dari tadi Sungjae terus merengek dan mengekorinya. “Lalu aku harus bagaimana?” Dia berbalik, bertanya dengan wajah sinis untuk Sungjae. “Kau mau duduk dengan Sooyoung?”

Sungjae merajuk, “Bukan begitu. Kau kan tahu aku tidak akan baik-baik saja jika berada di dekat Sooyoung. Maksudku, kau suruh anak baru itu duduk dengan Sooyoung dan kita bisa duduk berdua seperti hari kemarin.” Sungjae kembali merengek.

Nayoung menggeleng kepala kesal. “Sebaiknya cepat kau ungkapkan perasaanmu pada Sooyoung!” Nayoung melanjutkan langkahnya.

“Lim Nayoung! Aku serius!” Sungjae masih belum menyerah, lagi-lagi dia mengejar.

“Kau pikir kenapa dia bisa seenaknya duduk di sebelahku?” Nayoung bertanya.

“Karena dia melihat meja itu kosong.”

“Bahkan jika kau ada di kelas hari itu, dia akan tetap memilih duduk denganku.” Ucapan Nayoung membuat Sungjae berkerut.

“Kau kenal dia?”

“Apa kau tidak ingat dengan cerita tentang teman kecilku?” Nayoung terhenti lagi dan melirik, meminta lelaki itu mengingat bagaimana dia tidak pernah lupa menceritakan kisah-kisah uniknya dengan teman masa kecilnya.

Sungjae masih berkerut, tetapi hanya beberapa detik karena setelahnya dia membuka mulutnya, “O, teman masa kecil! Lelaki yang kau sukai itu?” Kemudian suara ‘aak’ terdengar, karena Nayoung memukul pundak Sungjae begitu keras.

“Aku tidak pernah mengatakan aku suka padanya!” Nayoung berseru kesal. Padahal dia tidak pernah mengatakan jika dia menyukai Taeyong lebih dari sekedar teman masa kecil tapi Sungjae selalu berasumsi begitu. Tidak salah seratus persen sih, karena memang benar begitu yang Nayoung rasakan. Lagi pula benar ucapan orang-orang, lelaki dan perempuan tidak bisa disebut hanya sekedar teman biasa. Getaran-getaran itu pasti ada.

Sungjae tersenyum menggodanya, tapi kemudian dia berkerut lagi, “Tapi bukannya teman masa kecil yang kau sukai itu tinggal di sekolah asrama? Dan lagi, itu kan Lee Taeyong? Pelajar yang melakukan tindak penipuan, bagaimana kau bisa berteman dengannya? Hei, kau belum cerita dengan yang satu ini?!”

“Memangnya kau pikir di mana Lee Taeyong si penipu itu ditangkap?” Nayoung bertanya, menyuruhnya mengingat berita yang marak bulan lalu tentang pelajar yang melakukan penipuan di situs online.

“Di kamar asramanya, ketika dia sedang mandi. Beberapa akun-akun palsu buatannya berasal dari IP server yang sama, itulah kenapa dia bisa ditemukan dan ditangkap di sekolah asramanya.” Sungjae menjelaskan dengan bangga. Dia sudah terlalu ahli dengan berita yang tenar bulan lalu, hampir semua stasiun televisi yang menyiarkan berita itu tidak pernah ia lewati. Dia bahkan mengacungkan jempol untuk pelakunya, pasalnya, sudah lebih dari seratus orang korban, polisi baru sanggup menciduknya.

Tapi hanya beberapa detik Sungjae membanggakan diri, karena setelahnya mulutnya kembali menganga, tangannya bahkan digunakan untuk menutup mulut menganga itu, “Jadi teman kecilmu yang sekolah di asrama itu adalah pelajar penipu yang ditangkap di asramanya?” ucap Sungjae menyadari sesuatu. “Dan kini, penipu itu duduk di sebelah mejaku?”

Nayoung mengangguk.

“Dan aku baru saja menarik kerah baju seorang mantan narapidana?”

Nayoung mengangguk lagi.

“Hei Nay, katakan padaku dia tidak jago bela diri, kan?” Tiba-tiba Sungjae panik, memaksa Nayoung terkekeh kecil. Teman dekatnya satu ini memang agak lucu.

“Bagiku dia hebat di segala hal.” Setelah berucap dengan senyum tipis, Nayoung melanjutkan langkahnya.

“Nay! Ayolah, aku harus pindah dari sebelah mejanya!”

***

“Taeyong?”

Taeyong menghela nafasnya melirik gadis yang sudah seenaknya melingkarkan tangan di lengannya. Senyuman sangat manis melekat di wajah gadis itu.

“Sudah kubilang jangan mengejarku.” Taeyong melepas paksa lengannya dari dekapan gadis itu.

“Dan sudah kubilang aku tidak akan berhenti menganggu sebelum kau berkata iya untukku.” Gadis itu menjulur lidah. Taeyong menggeleng kepala, lagi-lagi menghela nafas berat.

“Ayolah, tarianmu akan semakin—“

“Hei Seol, apa mereka memang sedekat itu?” Taeyong mematah ucapan Seolhyun, gadis tadi, dan menunjuk pada dua sejoli saling berkejaran di koridor.

Seolhyun menyipit mata, “Itukah Yook Sungjae dan Lim Nayoung? Ah mereka kan memang—“ Seolhyun menghentikan ucapannya dia melirik dengan seringai kecil,

“Mereka memang?” Taeyong menunggu. Kemudian dia melirik ketika Seolhyun tidak sama sekali memberi suara, “Oi, mereka memang apa?” tuntutnya.

“Wah, sepertinya kau penasaran sekali ya?” Seolhyun menggoda.

“Kau mempermainkanku?” Wajah Taeyong terlihat kesal.

“Kau suka Nayoung? Atau jangan-jangan kau suka Sungjae?” Lagi-lagi Seolhyun menggodanya.

Taeyong berdecak, “Aku pergi.”

“Eits, tunggu, tunggu!” Seolhyun menahan tangan Taeyong dan mengangguk-angguk, “Baiklah, aku akan memberitahumu,” ucap Seolhyun. Taeyong meliriknya lagi, kali ini dia menunggu. Berharap saja Seolhyun tidak menggodanya lagi.

“Dengan satu syarat?”

Taeyong meniup poni di atas alis matanya. Memang benar, tidak seharusnya kita mempercayai seseorang dengan sangat. “Aku akan benar-benar pergi!”

“Taeyong ah! Ayolah! Aku tidak akan menyuruhmu bergabung, tapi datanglah malam ini. Kami ada pertunjukan.” Seolhyun benar-benar tidak menyerah, tangannya tidak sedikit pun melepas lengan besar milik Taeyong. Lelaki itu terpaksa berkecak pinggang, menatap atap koridor sekolah dan menghembus nafas kasar. Bagaimana bisa ada seorang gadis tidak malu mendekati lelaki seperti ini? Apalagi semua orang tahu bagaimana status seorang Lee Taeyong. Apa dia tidak malu jika menjadi pembicaraan orang?

“Lalu mereka memang apa?” tanya Taeyong.

“Kau akan datang?” Seolhyun tersenyum sumringah.

“Cepat katakan, mereka memang apa?”

“Mereka memang selalu bersama. Bahkan orang mengatakan mereka dua sejoli. Orang-orang bilang mereka memang berpacaran. Setiap acara pentas seni atau acara sekolah lainnya mereka selalu tampil bersama, Sungjae menyanyi dan Nayoung bermain gitar. Mereka bahkan melakukan pertunjukan dengan mesra. Ohya, satu lagi, Sungjae sudah pernah mencium Nayoung, di acara pentas drama sekolah. Mereka berperan menjadi Romeo dan Juliet.” Seolhyun bercerita.

“Hei Seol, aku pergi dulu.”

“Taeyong ah, kau mau kemana? Hei! Nanti malam kau harus datang!”

***

Taeyong memasuki kantin sekolah terburu-buru. Matanya menyisir seluruh isi kantin mencari orang yang dimaksud.

Ada.

Gadis itu bahkan tersenyum sumringah meladeni lelucon lelaki di hadapannya. Sungguh, Taeyong tidak terima yang seperti ini. Terakhir dia melihat Nayoung yang tersenyum indah adalah ketika ibu kandungnya masih hidup. Setelah ibu tidak ada lagi, Taeyong yang terpuruk dalam kesedihan membuat senyum indah Nayoung menghilang, setiap hari yang dilakukannya adalah mengkhawatirkan Taeyong.

Taeyong benar-benar tidak terima. Senyum seperti itu seharusnya adalah miliknya.

“Ikut aku!” Begitu sampai di meja kantin tempat Nayoung duduk, Taeyong menarik tangan gadis itu seenaknya.

“Yong ah, kau ini kenapa?” Nayoung beranjak terpaksa, Taeyong yang menarik paksa membuat tangannya menjadi sakit.

“Yong ah, kau tidak bisa begini?!” Nayoung memberontak, dia bahkan berusaha tidak ikut melangkah terburu-buru seperti Taeyong. Dia berusaha melepas tangannya.

“LEE TAEYONG!!”

Teriakan Nayoung menambah riuh hiruk pikuk suasana kantin. Beberapa orang mulai berbisik-bisik,

“Kau ini kenapa?! Kau bahkan tidak mengenaliku di sekolah. Sekarang kau malah menjadi pemaksa!” Nayoung tak peduli dengan bisik-bisik orang sekitar. Dia biasanya tidak pernah keberatan dengan sikap seenaknya Lee Taeyong, tapi kali ini Taeyong keterlaluan. Lelaki itu membuat tangannya sakit.

“Kau menciumnya!” Taeyong menunjuk pada laki-laki yang sedang mendekati mereka. Dia adalah Yook Sungjae.

“Apa kau bilang?” Nayoung mengerut dahi.

“Ikut aku!” Lagi-lagi Taeyong menarik paksa, tapi kali ini Sungjae menahan mereka.

“Tidak bisa begitu. Kau tidak seharusnya memaksanya.” Sungjae tersenyum manis.

Tapi, Taeyong malah mengumpat kasar. Tangannya melepas kasar tangan Sungjae yang menyentuh pergelangan tangan Nayoung.

“Kau pikir di mana tanganmu!!” Taeyong berteriak sejurus dengan suara bruk dan brak yang terdengar.

Sungjae terhuyung-huyung hingga menabrak meja kantin. Dia meringis singkat, lalu ikut mengumpat kesal, “AISHH, padahal aku bicara baik-baik!” Satu pukulan tepat mengenai wajah Taeyong sebagai balasan, sukses membuat Taeyong terhuyung mundur.

Nayoung panik. “Hentikan!”

Keduanya seakan tak peduli. Mereka mulai mendekat lagi dan menarik kerah baju masing-masing, persis seperti adegan perkelahian gangster di televisi.

Tapi, baru saja akan memukul satu sama lain, suara lain menginterupsi,

“KALIAN PIKIR APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!”

Oh, wakil kepala sekolah repot-repot datang ke kantin sekolah, rupanya.

***

3 responses to “Rompecorazones #3

  1. Ish pas baca ini pertama kali tuh hampir mau teriak soalnya keungkap alasan kenapa Sungjae gak mau deket-deket sama Sooyoung tuh karena itu toh…, kamu udah bikin aku su’udzon di chapter sebelumnya, Cca😥
    Daaan aku suka cast yang kamu pilih buat pemeran antagonisnya, soalnya kebetulan aku kurang suka AOA, jadi lumayan gampang bayangin Seolhyun jadi yang rada jahat gitu hehehehehe #nooffense #maafkanaku
    Nah nah nah Taeyong udah kebawa baper gara-gara omongannya Seolhyun nih. Biarpun ada salah paham, aku sih nangkepnya kesalahpahaman ini bakal bikin Taeyong sama Nayoung jadi deket lagi #semoga.
    Ditunggu chapter selanjutnya ya, Cca!😀

    • Daripada dikata antagonis si Seolhyun lebih tepatnya distraction sih. Soalnya aku ga buat dia bersikap jahat kek di drama kebanyakan, cuma sikap dia ke Taeyong nantinya bakal byk bgt buat Nayoung kesel. Hehe
      Dan aku pilih Seolhyun karena emang dia line 95 juga. Trus mukanya pas aja jadi miss populer. Hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s