Apple Blossom [Prolog]

apple-blossom-redo-copy

Author : Zhie

Main Cast : Lee Donghae, Song Hweji (OC), Park Dara
Genre : Romance, Married Life, Hurt

Cover by Lallakyuart >>> Thank you so much😀

~~~~~

Drap… Drap… Drap…

Langkah cepat seseorang menuruni tangga membuat sepasang pengantin baru yang tengah menikmati teh hangat paginya saling berpandangan.

“Ya… ya… ya! Ada apa denganmu, hah? Bukankah ini masih terlalu pagi untuk membuat kegaduhan?”

Teguran cepat itu mampu membuat seseorang yang dimaksud menghentikan langkahnya dan berbalik- melebarkan seringainya.

“Maaf Hyung, aku sangat terburu-buru sekarang.” balasnya untuk sekedar menyapa- menghormati kakak satu-satunya itu dan juga kakak iparnya, “Wah… apa ini? Sandwich? Apa kakak ipar yang membuatnya?” tanyanya mulai tergoda dan mengambil sandwich di piring makan hyungnya.

“Ya! Jangan makan itu!!!”

Sandwich dengan cepat kembali berpindah tangan.

“Omo. Kau sangat pelit Hyung. Lihatlah kakak ipar menertawakan kelakukanmu.” sungutnya kemudian, tapi laki-laki yang ia panggil Hyung tak lagi memperdulikannya dan kembali asik dengan sandwichnya. Ia pun hanya mencibir kesal, membuat wanita yang ia panggil kakak ipar pun akhirnya memberikan sandwich bagiannya.

“Makanlah.”

“Huwaaaaa… kau memang yang terbaik kakak ipar. Benar-benar yang terbaik.”

“Ha ha ha… benarkah?”

Anggukkan dengan cepat terlihat, karena kini mulutnya telah penuh tak mampu menjawab.

“Lalu- kemana sebenarnya kau akan pergi? Bukankah ini hari libur? Aku rasa tak ada yang terjadi di perusahaan?” Hyungnya kembali membuka suara.

“Ah. Seseorang yang kutunggu akhirnya menghubungiku dan meluangkan waktunya untukku. Kau tahu betul yang kumaksud Hyung, dan aku rasa ini waktunya kami untuk berkencan.” jawabnya dengan malu-malu diakhir kalimat.

“Aigo. Lihat wajahmu itu…” seru kakak iparnya membuat ia reflek memegang kedua pipinya.

“Mwo? Apa aku terlalu terlihat?”

“Ya… ya, kau benar-benar sangat terlihat Lee Donghae. Kau terlihat benar-benar… ehm- kasmaran.”

“Ya! Hyung-“

“Omo… sudah, sudah. Ya! Donghae-ya, bukankah itu artinya kau harus segera menemuinya… jangan buat seorang wanita menunggu terlalu lama.”

“Ah… kau benar kakak ipar.”

“Aigo. Panggil aku seperti biasa.”

“Araesso…. Araesso… Jihyo Noona. Ya! Jeonghoon Hyung, aku pergi ne.”

“Ne. Sampaikan salamku untuknya.”

“Ok.” jawabnya kemudian dengan senyum lebarnya.

-AppleBlossom-

-Rainbow Café-

Seorang yeoja tengah menunggu dengan sesekali menyesap hot milk chocolate nya- minuman favorit yang selalu ia pesan bila berkunjung ke café yang dulu sering dikunjunginya itu.

Ting

Pintu café terbuka- terlihat seorang namja dengan bersemangat menghampirinya.

“Omo. Mianhe, apa kau telah menunggu lama? Aku telah membawa mobilku secepat yang aku bisa.” ucapnya kemudian, membuat yeoja yang ada di hadapannya tersenyum.

“Duduklah, aku sudah memesankan flat white untukmu. Lagipula menunggumu seperti ini adalah hal yang biasa buatku… kau bahkan pernah membuatku menunggu hingga berjam-jam dulu. Kau ingat?” tanyanya membuat namja itu kini hanya meringis- mengangguk- membenarkan, dan akhirnya ia pun terkekeh.

“Aku ingat. Bagaimana saat itu wajahmu memerah seperti kepiting rebus saat aku datang.” jawabnya- membuat yeoja yang duduk di hadapannya cemberut sebal.

“Aku marah saat itu, tapi kau malah menertawakanku.”

Namja itu terkekeh, “Mian. Wajahmu benar-benar lucu saat marah, Dee.” ingatnya.

Yeoja yang dipanggil dengan sebutan Dee itu pun hanya mendengus namun akhirnya ia tersenyum, “Sudahlah, lupakan saat-saat menyebalkan itu. Itu telah berlalu.”

“Ne. Kau benar, waktu telah berlalu begitu cepat… kita selalu bersama dari sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas, namun kau memutuskan untuk mengambil sekolah akting di luar negeri tanpa memberitahuku… lalu, kau tiba-tiba kembali dengan debutmu sebagai seorang aktris. Jujur… aku ikut senang ditambah kesuksesanmu yang menyertaimu sekarang, walaupun dampaknya kita susah untuk bertemu tapi aku tetap mendukungmu, Dee. Kau tahu itu.” ungkapnya.

Yeoja itu pun mengangguk- sangat tahu memang, namun terlihat raut wajahnya kini berubah… ia seperti masuk ke dalam dunianya sendiri sekarang, membuat namja di hadapannya memperhatikannya dalam.

“Dee.” panggilnya kemudian.

Yeoja yang ia panggil Dee itu pun tersadar.

“Waeyo?” tanyanya kemudian.

“Anio.” jawabnya cepat dengan senyum ceria yang kembali mengembang, “Aku hanya teringat saat-saat kita dulu, Hae… itu menyenangkan sebenarnya.”

“Omo. Akhirnya kau mengakuinya, eoh? Bersamaku memang benar-benar menyenangkan.”

“Aigo. Dan itu membuatmu menjadi menjadi besar kepala dan tersenyum bodoh sekarang.”

Namja yang dipanggil Hae itu pun tergelak, dan tepat saat itu flat white – kesukaannya datang. Ia pun menyesap minuman kopi yang lebih kuat dari café latte dan lebih lembut dari cappuccino itu.

“Massita. Flat White di sini tidak berubah, Dee.” ucapnya lagi.

“Ne. Kau benar, tak ada yang berubah di sini- semuanya masih sangat sama seperti 12 tahun lalu.”

Namja itu mengangguk- setuju.

“Begitupun juga kita, Hae.” lanjut yeoja itu, membuat namja di hadapannya seketika menatapnya… “Begitupun dengan kita- persahabatan kita, tidak ada yang berubah.”

“Mwo? Persahabatan kita?”

“Ne. Di sinilah 12 tahun lalu, kita mengikrarkan diri satu sama lain… sebagai sahabat, sahabat yang akan selalu ada dalam suka dan duka, dalam canda, tawa, bahkan tangis… kita selalu melewati masa-masa itu bersama hingga walaupun kita sempat berpisah, kita sempat tak saling berhubungan namun saat kita kembali dipertemukan… semua itu tetap tak berubah. Kita adalah sahabat, benarkan?”

Tak ada jawaban yang terdengar, membuat yeoja itu kembali melebarkan senyumnya.

“Ya! Bicaralah! Apa yang kukatakan begitu menyentuhmu, Hae? Cih! Selalu terbawa perasaan seperti biasa. Itulah dirimu- tak pernah berubah.” celetuknya berusaha menggoda namja di hadapannya itu dan itu berhasil, namja itu pun akhirnya mengangguk pelan dan berusaha tersenyum.

“Kau benar, kita adalah sahabat.” jawab namja itu kemudian, membuat yeoja di hadapannya sejenak menatapnya dalam.

Ada sebuah perasaan yang menyesakkan sebenarnya.

Tapi satu dari mereka tak ada yang memperlihatkannya, mereka sama-sama menutupinya dengan senyuman.

Hingga akhirnya yeoja itu pun menghela nafas panjang- mengambil sesuatu di dalam tasnya. Amlop berwarna biru metalic dengan motif bunga dan kupu-kupu berserta pita yang menghias- melilitnya, meletakkan tepat di samping flat white yang kini telah berisi setengah.

“Apa ini?” tanya namja itu kemudian.

“Bukalah.” jawab yeoja itu singkat.

Namja itu pun akhirnya menurutinya, meraih amplop biru itu dan membukanya. Lalu…

Deg

Entah bagaimana perasaannya sekarang, sebuah tulisan bercetak tebal menampilkannya sangat jelas… menampilkan jelas bahwa itu adalah sebuah undangan pernikahan, dan seperti telah di setting secara sempurna… kini tak ada lagi keceriaan dan kehangatan di antara mereka, yang terasa hanya perasaan sesak yang tak mampu lagi dilukiskan.

“Ini-“

“Undangan pernikahanku, Hae. Bulan depan. Sebelum berita itu tersebar pada awak media, aku lebih dulu memberitahumu.” jelasnya yeoja di hadapannya, “Kau akan datang bukan?”

Lagi-lagi tak ada jawaban yang terdengar, namun kini yeoja di hadapannya tak berusaha untuk menggodanya. Ia pun mengalihkan pandangannya dari namja yang membisu itu- melihat ke luar jendela dimana tepat saat itu rintikan hujan mulai berjatuhan.

“Hujan.” gumam yeoja itu lirih.

Lama mereka larut dalam keheningan, tanpa ada satu pun dari mereka yang berusaha mulai kembali membuka pembicaraan. Hingga akhirnya ponsel yeoja itu pun berbunyi.

“Yeoboseyo. Ah, Ne. Aku akan datang secepatnya. Neh, araesso.”… “Nado saranghae.” ucap yeoja itu diakhir sambungannya, membuat namja yang masih duduk tenang di hadapannya hanya mampu tersenyum getir, “Aku harus pergi sekarang, Hae. Dia menungguku.”… “Aku pergi, neh.”

“Tunggu, Dee.” ucap namja itu akhirnya membuka suara.

“…”

“Kau mencintainya?”

“Mwo?”

“Namja itu- namja yang akan menjadi suamimu itu… apa kau mencintainya?” ulangnya.

Yeoja itu tak langsung menjawab, hingga akhirnya ia kembali mengembangkan senyumnya… “Tentu. Tentu aku mencintainya.”

Namja itu mengangguk, “Baiklah. Itu bagus- bila kau mencintainya, maka aku hanya harus berdoa tentang kebahagiaan kalian bukan? Karena itu… berbahagialah, Dee.”

“Ne. Gomawo… gomawo, Donghae-yah.”

“Sekarang pergilah.”

“Neh.”

Dan akhirnya yeoja itu benar-benar melangkah pergi- menjauh darinya- meninggalkannya, tanpa berbalik sedikitpun untuk melihatnya… melihat bagaimana rapuhnya ia sekarang. Dara, Park Dara… telah menghancurkan harapannya, menyakiti hatinya, dan ia juga telah berhasil mematahkannya cintanya. Cinta yang telah lama ia pendam, yang ia pikir yeoja itu telah mengerti tanpa perlu dirinya untuk mengungkapkannya. Namun ia salah- salah karena yeoja itu hanya menganggap apa yang ia lakukan selama ini hanya sekedar perlakukan terhadap seorang sahabat.

Lalu apa yang ia dapat sekarang?

Kesakitankah?

Keputusasaankah?

Kerelaankah?

Yang jelas ia hanya butuh berdiri tegap sekarang- berusaha untuk menopang dirinya yang kini rapuh karena cinta. Cinta begitu menyakitkan ternyata, namun ia… dapatkah melupakannya???

  -AppleBlossom-

2 responses to “Apple Blossom [Prolog]

  1. Nice ff sistaaa, pgn baca lanjutannya yg pasti lbh keren n lebih berasa feel’y. Ditungguuuuu 🙌🙌🙌

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s