[Twoshots #2] Friend(zoned) | Simba Ver.

 

friend(zoned)

(poster by: castorpollux@artzone)

Title : Friend(zoned)

Author : Atatakai-chan

Length : Twoshots [#1]

Genre : AU, Friendship, Romance

Rating : G

Starring
JJCC Simba as Kim Youngjin
OC as Lee Nara
JJCC Eddy as Oh Jongseok/Eddy Oh (mentioned)

Sepanjang perjalanan aku hanya diam saja. Paling menjawab seadanya pertanyaan yang diberikan oleh Joohyun hyung. Entahlah, aku merasa sangat kesal pada Hyemin noona. Sepanjang umur persahabatan kami tidak pernah aku sekesal ini padanya.

“Youngjin apa kau baik-baik saja?” terdengar Hyemin noona bertanya dari jok belakang.

Nene.” Jawabku singkat sembari menatapnya dari kaca spion tengah.

“Apa kau yakin? Kau tidak pernah selesu ini, Youngjin.” Sahut Joohyun hyung yang duduk di samping Hyemin.

“Aku baik-baik saja. Hanya kelelahan bermain basket tadi.” Jawabku lagi.

“Pastikan kau tidak kelelahan di tengah jalan ya, nyawa kami berada di tanganmu, Youngjin. Hahahaha!”

Biasanya aku selalu tertawa menanggapi gurauan Joohyun hyung. Namun kali ini aku sama sekali tidak bergeming. Mungkin karena sudah sangat lama aku tidak berjumpa dengannya —atau mungkin ada faktor lain yang tak kusadari.

Aku, Joohyun hyung, Hyemin noona, Chanyul, dan Daewan adalah lima sekawan. Kami berlima mempunyai latar yang berbeda tetapi dipersatukan melalui komunitas film yang didirikan di lingkungan tetangga. Bisa dikatakan kami berlima adalah anggota termuda di komunitas itu sehingga kami menjadi dekat dan entah bagaimana jalinan persahabatan ini terbentuk.

Jalanan yang lancar tanpa kemacetan membuatku lega. Apabila macet aku mau tak mau harus berkecimplung dalam percakapan Hyemin noona dan Joohyun hyung untuk menghilangkan rasa bosan —dan aku tidak tahu harus berkata apa untuk mencairkan suasana canggung yang timbul di antara diriku dengan Joohyun hyung.

.

.

.

“Youngjin, terima kasih ya!”

Aku hanya mengangguk seraya memberikan seulas senyum pada keduanya melalui kaca jendela mobil yang sengaja aku buka.

“Besok pagi apa kau bisa mengantar kepergian kami?”

Mulutku kutekuk. Kubiarkan kedua bibirku terkatup rapat. Jari telunjukku menepuk-nepuk tepian stir. Biasanya aku akan menganggukan kepalaku dan menjawab “oke” pada ajakan yang diberikan padaku —tanpa terkecuali siapapun pengajaknya selama kami saling mengenal.

“Aku rasa… Aku tidak bisa, sepertinya. Badanku pegal sekali mungkin besok aku akan bangun sangat siang,”

Hyemin noona  dan Joohyun hyung memberikanku tatapan kecewa. Entah kecewa karena aku tidak bisa mengantar kepindahan mereka ke Los Angeles atau karena mereka jadi harus memesan taksi.

“Maaf ya hyungnoona.” Lanjutku.

Hyemin noona tersenyum padaku begitu pula dengan Joohyun hyung. “Tidak apa-apa ‘kok Youngjin. Beristirahatlah. Terima kasih sudah bersedia mengantarku dan menjemput Joohyun.”

Aku menyatukan tepi jempol dan telunjuk tanganku, memberikan sinyal OK pada Hyemin noona.

.

.

.

Aku memperbesar volume radio. Keadaan dalam mobil terlalu hening untukku. Sudah semenjak satu tahun lalu, semenjak pertama kali aku bertemu dengan Jongseok hyung, setiap harinya keadaan di mobilku ramai oleh lelaki yang berasal dari Amerika itu.

Pada satu tahun terakhir malam ini adalah malam pertama bagiku untuk menembus jalanan malam sendirian.

Aku melirik jam digital yang terpampang pada layar navigasi mobil. Pukul 22:00. Sudah cukup malam, tidak mengherankan jalanan sudah mulai sepi. Aku menghentikan mobilku di lampu lalu lintas yang menyala merah selama dua menit.

Tidak sepenuhnya benar. Yang aku katakan tadi pada Joohyun hyung dan Hyemin noona mengenai badanku yang pegal dan aku mungkin akan bangun siang esok hari tidak sepenuhnya benar. Badanku memang pegal tapi tak mungkin aku bangun siang. Besok aku ada kuliah pagi, jam 8.

Lampu lalu lintas kembali berwarna hijau dan aku langsung melajukan mobilku.

oOOo

Aku menghentikan mobilku di depan rumah dengan pagar berwarna putih. Pagar yang mengelilingi rumah itu tidak tinggi, hanya sebatas pinggangku —fungsinya pasti hanya sebagai hiasan.

Aku memasuki pekarangan rumah dengan cara melompati pagar karena pagarnya sudah terkunci. Aku berjalan menyusuri jalan kecil yang membimbingku sampai ke depan pintu rumah. Jari telunjukku sudah kuarahkan ke arah bel rumah yang terletak di bagian kiri dinding pintu.

Niatku aku urungkan, menyadari betapa larutnya saat ini. Pasti semua penghuni rumah sudah terlelap dan sedang berkelana di alam mimpi. Aku menegadah ke atas. Di lantai dua rumah masih ada lampu yang menyala dan itu berasal dari kamar yang aku yakini sebagai kamar Eddy hyung.

.

.

.

Aku mengintip ke dalam kamar Eddy hyung melalui jendela kamarnya. Aku cukup merasa bersyukur aku menemukan tangga taman di dekat pagar —untung saja aku tidak pulang.

Eddy hyung sudah aku anggap seperti kakak kandungku sendiri. Dan melihatnya sedih seperti tadi rasanya membuatku sedih juga —selain itu apa yang dialaminya mengingatkanku pada pengalamanku sendiri.

 Malam kemarin Hyemin noona sudah mengatakan hal ini padaku dan ketika aku menyuruhnya untuk memberi tahu Eddy hyung, ia berkata akan melakukannya secara empat mata karena baginya Eddy hyung adalah teman yang berharga. Aku menyesal tidak berhasil memberitahukannya mengenai hal itu lebih awal hari ini —tapi ini bukan sepenuhnya salahku. Dirinya sendiri yang tidak mengangkat teleponku pagi ini, dan bahkan ia tidak menelponku balik.

“Psst.” Aku mendesis seraya mengetuk pelan kaca jendela kamar Eddy hyung.

Dari sini aku dapat melihat kepala Eddy hyung  yang terlengkup di atas tempat tidur mulai bergerak.

“Eddy hyung. Oh Jongseok. Ireona.” Aku kembali mengetuk kaca jendela, kali ini sedikit lebih keras.

.

.

.

“Tidak ada makanan untukmu. Makan malam sudah dibereskan.”

Aku dibuat melongo oleh perkataan Eddy hyung. Baru saja aku masuk ke dalam kamarnya dari jendela dan ia mengtakan hal itu padaku. Padahal kali ini aku kemari bukan untuk meminta makanan, lagipula aku sudah makan di airport tadi.

“Siapa yang mau minta makan malam?” Ujarku berusaha terdengar jengkel.

“Lalu? Kalau tidak ada perlu pulang sajalah. Aku mau beristirahat.”

Sebagaimanapun menyebalkan dan merepotkannya diriku, tidak pernah ia sedingin ini padaku. Aku hanya menduga kalau ini disebabkan oleh rasa patah hatinya. Tanpa berpikir lebih panjang aku berjalan mendekatinya dan memeluknya —sebuah pelukan bersahabat.

Dan selang beberapa detik kemudian ia mendaratkan tinjuan cukup keras pada dadaku. Sakit sekali, aku tidak bohong. Orang yang lebih pendek dariku ini seorang olahragawan, tenaganya bukan main.

“Pulanglah, Youngjin. Aku sedang tidak ingin bercanda.”

“…”

“Kau tidak tahu apa yang kurasakan.”

Aku menghela napas, “justru kau yang tidak tahu apa-apa, hyung. Dulu aku…” Aku memejamkan mata sebelum menceritakan padanya kejadian bertahun-tahun lalu.


—14 Maret 2007—

“Nara-ya!” Youngjin berlari menghampiri Lee Nara, teman semasa kecil sekaligus teman baiknya di masa SMA ini. 

Senyum mengembang di wajah Nara ketika Youngjin berlutut persis di hadapannya sembari mengarahkan kedua tangannya yang menopang sekotak coklat persisi di hadapan gadis berambut hitam itu.

“Selamat hari white-day” ujar Youngjin.

“Wah! Terima kasih banyak, Youngjin.” Nara bertepuk tangan girang sebelum mengambil kotak berisi coklat yang memang ditujukan untuknya.

Youngjin bangkit berdiri dan menggandeng tangan Nara seraya keduanya berjalan menyusuri trotoar menuju ke rumah masing-masing yang letaknya bersebelahan. Berpegangan tangan seperti ini sudah biasa bagi Youngjin maupun Nara, tidak ada yang merasa canggung.

“Sayang sekali tahun ini kita tidak sekelas ya, Youngjin.”

Youngjin mengangguk tanda setuju, “tapi tidak apa-apa. Kita ‘kan masih bisa bertemu setiap istirahat. Ditambah lagi…”

“Pergi dan pulang selalu bersama. Bukan begitu?” Potong Nara.

Youngjin kembali mengangguk, kali ini sambil tertawa.

—18 Agustus 2007—

Youngjin berdiri di depan rumah Nara dengan sekotak kue ulang tahun di pangkuan tangannya. Angin yang berhembus membuatnya menggigil, hanya sesekali. Ia kembali menekan bel rumah tetangganya, namun masih tetap tidak ada jawaban dari dalam.

Dalam diam Youngjin menunggu sambil berdiri sampai kedua kakinya merasa lelah dan ia pun memutuskan untuk duduk di dekat pintu.

“Saengil chukkahamnida. Saengil chukkahamnida. Saranghaneun Lee Nara. Saengil chukkahamnida~” Youngjin bernyanyi pelan, masih melatih suara beratnya itu agar bisa menyanyikan lagu selamat ulang tahun yang menurutnya pantas untuk diperdengarkan pada Nara.

Setengah jam sudah berlalu, langit sudah semakin gelap. Lampu otomatis di sepanjang jalan mulai menyala. Dan Youngjin masih duduk, menunggu di depan rumah Nara.

Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia masih bisa tersenyum dan cahaya lampu sorot mobil yang melaju ke garasi rumah tempatnya menunggu membuat senyumannya semakin merekah. Dari dalam mobil turun Nara beserta kedua orangtuanya.

Nara tampak sangat anggun dengan dress yang dikenakan.

“Wah, halo, selamat malam, Youngjin.” Sapa Nyonya Lee.

“Selamat malam, Lee ahjumma.” Sahut Youngjin sambil tersenyum.

“Kamu sedang apa di sini?”

Youngjin menyodorkan kotak kue ulang tahun yang masih berada dalam pangkuan kedua tangannya pada nyonya Lee, “ini aku bawakan kue untuk Nara. Kalian habis dari mana?”

Tampang terkejut nyonya Lee memancing rasa bingung pada Youngjin.

“Nara tidak memberitahumu, nak?”

“Tidak memberitahu soal apa?” Youngjin balik bertanya.

“Youngjiiiin!” Nara tiba-tiba saja berlari menghampirinya dan memeluk Youngjin dari belakang.

“Maafkan aku!” Ujar gadis itu. Wajahnya masih terbenam di punggung lebar Youngjin.

“Untuk?” Tanya Youngjin yang kini memalingkan wajahnya ke belakang ke arah Nara.

“Aku lupa mengirim pesan padamu. Soal pesta ulang tahunku.”

Youngjin terdiam sesaat. Ini bukan kali pertamanya Nara lupa memberitahukannya sesuatu, jadi ia rasa wajar-wajar saja. Semua orang pasti pernah lupa, bukan begitu?

“Tidak apa-apa, Nara. Tidak apa-apa.” Youngjin melepas pelukan Nara dan ia berbalik menghadap ke arah Nara.

“Selamat ulang tahun, Lee Nara.” Ujarnya sebelum menyerahkan kotak berisi kue yang ia pegang kepada Nara.

—22 September 2007—

Youngjin menopang dagu dengan kedua tangannya yang terkepal. Tatapannya tertuju pada soal demi soal yang tertera pada buku PR miliknya. 

“Banyak juga, ya.” Gumamnya seraya membalik halaman.

Di atas meja tepat di sebelah buku, ponselnya bergetar dan menimbulkan bunyi gesekkan yang terdengar cukup jelas di seisi perpustakaan kota. Segera ia meraih ponselnya untuk menghentikan getaran.

Satu notifikasi pesan dari Nara. Youngjin membuka pesan itu dan rasa kecewa mendominasi perasaanya. Pesan itu berisi bahwa Nara sangat menyesal karena tidak bisa datang untuk mengerjakan PR bersama hari ini —ada latihan klub drama sampai malam untuk mempersiapkan pementasan bulan depan.

Youngjin menghela napasnya seraya memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana. Ia kemudian mengeluarkan alat tulisnya dan mulai mengerjakan pekerjaan rumahnya.

.

.

.

Youngjin memfoto hasil pekerjaan rumahnya dan kemudian mengirimkannya pada Nara dengan pesan tambahan: Kau hanya tinggal menyalin saja. Semangat untuk latihannya. Jangan lupa, banyaklah makan dan beristirahat.

—5 Mei 2008—

Youngjin berjalan keluar dari ruang kepala sekolah dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Akhirnya ia diberi izin untuk mendaftar di universitas yang sama dengan Nara.

Kabar gembira ini ingin segera ia kabarkan pada Nara.

“Hai Youngjin.”

“Oh, halo Chanyul.”

“Senyum-senyum saja. Ada apa ‘sih?” tanya Chanyul.

“Tak ada urusannya denganmu. Hahaha. Eh, apa kau melihat Nara?”

Chanyul mengangguk seraya menunjuk ke ruang kelas 12-4.

“Oke, trims, Yul! Oh iya, sore nanti aku akan menjemputmu ke perkumpulan komunitas.”

“Wiiih! Gaya nih yang sudah bisa menyetir hahahaha. Baiklah, kutunggu ya!”

Youngjin melambaikan tangannya pada Chanyul sambil berlalu. Kedua kakinya melangkah menuju ke ruang kelas 12-4. Baru ketika ia hendak membuka pintu terdengar suara banyak orang di dalam. Ia mengurungkan niatnya.

“Nara, kau jadian dengan Youngjin ya?”

Youngjin tersenyum sendiri mendengar pertanyaan yang entah dilontarkan oleh siapa itu. ‘Sebentar lagi. Sekarang sih belum’ sahut Youngjin dalam hati.

“Ah, tidak kok. Kau jangan mengada-ada, Yeonju.”

Itu suara Nara.

“Aku hanya menganggapnya teman kok.”

Youngjin mengepalkan tangannya. Perutnya terasa terkocok. Kalau ia punya penyakit asam lambung mungkin sekarang ia sudah muntah.

“Tapi kalian dekat sekali. Kalau kau hanya menganggapnya teman sebaiknya kau jaga jarak. Kalau terlalu dekat seperti itu nanti dia baper.”

Jantung Youngjin berdegup kencang. Antara panik dan penasaran. Gelisah dengan bagaimana tanggapan Nara.

“Yah… Kalau dia baper ya salahnya sendiri. Untukku dia hanya teman, tidak lebih.”

“Lagipula aku rasa tidak ada salahnya untuk selalu dekat dengannya. Ia cukup berguna. Dua bulan lalu ia belajar menyetir, dengan begitu ia bisa mengantarku setiap pagi ke universitas.”

Youngjin merasakan detakan jantungnya melemah. Untuk sesaat ia merasa oksigen telah direnggut dari sekitarnya. Pernapasannya tercekat. 

“Eh, ngomong-ngomong, ke kantin ‘yuk. Aku lapar!”

Tubuh Youngjin tak bergeming. Ia berdiri mematung di depan pintu. Begitu pintu terbuka dari dalam pun ia masih berdiri di sana, tatapannya tertuju ke arah pintu yang terbuka —kemudian tertuju ke arah Nara yang keluar dari dalam kelas bersama beberapa siswi lain.

“….”

Youngjin dapat melihat kedua mata Nara melebar.

“Nara. Kebetulan sekali kita bertemu,” Youngjin memaksakan sebuah senyum.

“Aku hendak memberitahumu kalau aku tidak jadi mendaftar di universitas yang sama denganmu. Maaf ya. Aku rasanya lebih tertarik dengan universitas yang disarankan oleh pihak sekolah.” Youngjin melanjutkan dan kembali tersenyum.

Apakah senyum palsunya disadari oleh Nara? Ia tidak peduli.

“Sampai jumpa pada pesta perpisahan ya, Nara.” Ia berlalu begitu saja melewati Nara dan sama sekali tidak menoleh ke belakang.


Aku merasakan mataku memanas. Aku tahu sebentar lagi air mata akan mengalir dari kedua pelupuk mataku dan aku berusaha sekuat mungkin agar air mata tak mengalir.

Ketika kupalingkan wajahku untuk menatap Eddy hyung, lelaki itu telah berjalan ke arah TV. Dengan posisinya yang memunggungiku aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan —aku hanya bisa menebak ia sedang menyalakan TV.

Hyung?” Panggilku.

Ia tidak menjawab. Ia kemudian duduk di atas lantai dengan posisi bersila. Ia menepuk-nepuk space kosong di sebelahnya.

“Ayo, duduk sini. Kita main Playstation sampai pagi. Begitu matahari terbit aku akan membuatkanmu sushi.”

Aku tersenyum seraya berjalan menghampirinya. “Terima kasih banyak hyung!” Aku berujar kemudian memeluknya dari samping begitu aku duduk di sebelahnya.

“Hentikan. Jangan memelukku terus.”

“Tidak apa. Hubungan kita ‘kan bromance.” Sahutku sembari memamerkan sebuah cengiran lebar.

author's note:
 Bagaimana menurut kalian?
 Jangan lupa commentnya ya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s