[Oneshot] I will Let You Go

poster1

Author: Fay du Ciel

Cast:

Jung Eunji (APINK), Park Jinyoung (GOT7), Yoon Bomi (APINK), Jackson Wang (GOT7)

Disclaimer:

Assalamu’alaikum! Pertama-tama, saya ingin bilang berteriak sekeras-kerasnya, “Akhirnya saya bisa posting di FFINDO juga!”. Fict ini adalah debut saya sebagai author di FFINDO (yeay!) jadi mohon dimaklumi kurangnya diksi atau buruknya tata bahasa saya /bow/ Genre fict saya kali ini juga nggak beda dari karya-karya saya yang sebelumnya. (Jangan lupa mampir ke blog saya di Dancing with The Rain )

Yah, bagaimanapun, saya tetap bukanlah apa-apa tanpa saran dan kritik para pembaca. Don’t be a silent readers ya guys!

(PS: honestly, 80% kisah ini dialami sendiri oleh author *sigh*)

Baiklah, selamat menikmati!

______________________________________________________________

“Bisa geser ke kiri sedikit? Ya, begitu.” Aku bergumam dari balik kamera, “Sudah pas! tahan ya!”

Cklik!

Aku mengusap peluh yang mengalir dari balik snap back, “Jjang! Sekarang kita istirahat dulu ya? Aku sudah menyiapkan bekal untuk kalian.” Aku menawarkan sambil mengeluarkan empat rice box dari ransel.

Gomawo, Eunji-ah. Kau sampai repot-repot menyiapkan ini semua.” Ujar Park Jinyoung sambil tersenyum, lalu meraih sodoran rice box dariku.

“Santai saja, aku tidak merasa repot kok.” Jawabku berusaha santai, padahal hampir pingsan saking nervous-nya. Aslinya sih pengen jawab, Apa sih yang tak kuberikan padamu, Park Jinyoung? Tapi ya tentu saja itu tidak mungkin.

Hari ini aku, Bomi, Jackson dan Jinyoung sedang melakukan sesi pemotretan di taman kota yang letaknya dekat dengan sekolah kami. Aku meminta bantuan Jackson dan Jinyoung untuk menjadi model di lomba fotografi yang akan kuikuti bulan depan. Sementara Bomi membantuku membawa properti foto yang lumayan banyak dengan sepeda motornya.

“Bagianku mana nih?” Jackson bertanya lantang, membuyarkan lamunanku yang sedari tadi sibuk menatap Jinyoung. Aku mendengus, dasar parasit. “Ini. Ambillah.”

“Thanks!” serunya sambil nyengir kuda. Aku mengangguk sekilas dan kembali sibuk mencuri pandang ke arah Jinyoung yang sedang asyik melihat-lihat foto hasil jepretanku di kamera.

Daebak, terus saja kau tatap dia sampai berlumut.” aku tersentak dan membalik badan. Kali ini Bomi yang dengan usil menggodaku. Aku melotot dan ber-psst-psst! mengirimkan kode “jangan keras-keras!” padanya. Bomi yang memang sudah tahu sejak awal soal perasaanku pada Park Jinyoung hanya terkikik geli dan mengambil posisi duduk di sebelahku.

“Sampai kapan kau bakal bertingkah seperti ini? Curi-curi pandang setiap ada kesempatan…” bisik Bomi sambil menempelkan badan padaku. “Masih bagus jika kau bisa menghasilkan uang dengan memperhatikannya. Sedangkan kau? Jangankan uang, kau justru bisa patah hati karena dia!” desisnya pedas di telingaku.

Aku meliriknya tajam, “Ya! Kenapa kau tak pernah sekalipun mendukungku? Bukankah harusnya kau ikut senang jika aku senang?”

“Hei, hei, justru aku menolongmu sebelum kau sungguh-sungguh sakit hati karena Park Jinyoung. Apa kau lupa, dia sudah punya seorang gadis?” tukas Bomi tepat sasaran.

Aku tak menggubris ucapan sahabatku itu dan malah melamun. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Bomi mengingatkanku untuk berhenti menyukai Park Jinyoung.

Carilah namja lain, masih banyak yang mengantri untuk menjadi kekasihmu!

Uh, Jinyoung itu memang selalu baik pada semua orang. Bukan hanya padamu, Jung Eunji.

Jangan hanya mengharapkan Park Jinyoung yang sudah punya kekasih, dong.

Dan lain-lain, dan lain-lain.

Aku tahu perbuatanku ini nggak sehat. Menyukai Park Jinyoung, maksudku. Menyukai seseorang yang sudah memiliki kekasih, tentu saja bakal membuatku cemburu setiap saat, kan? Belum lagi jika di sekolah berpapasan dengannya saat sedang bersama kekasihnya. Di lorong, di kantin, di perpustakaan… ah, aku sendiri tak bisa membayangkan betapa menyakitkannya itu. Cemburu itu tidak sehat. Aku tahu itu. Aku tahu itu—tapi tak bisa berhenti.

Aku tak bisa berhenti menyukai Park Jinyoung.

Namanya Park Jinyoung. Sebetulnya dia tak bisa dibilang sangat tampan. Satu tingkat di atas lumayan, mungkin. Dia kurus dan tinggi. Tipikal namja pemain basket. Dan dia super-baik. Kenapa super? Karena dia memang benar-benar baik. Well, tidak hanya padaku sih—seperti yang dikatakan Bomi. Tapi justru itu yang menjadi poin plus lainnya yang kusuka dari Jinyoung. Kalau dia hanya baik pada satu orang saja, bukankah itu malah aneh? Kesannya dia bermuka dua. Tapi Park Jinyoung berbeda. Jarang sekali dia menolak untuk membantu.

Seperti yang kami lakukan hari ini.

Sejujurnya, aku tidak begitu tertarik pada lomba fotografi ini. Oke, aku memang punya passion di bidang fotografi, tapi itu nggak lantas membuatku tertarik pada setiap lomba bertitel fotografi. Seandainya bukan karena persyaratannya yang memikatku, aku tidak bakal mengikutinya. Dan persyaratan yang membuatku tertarik itu adalah model harus namja, dan minimal dua orang.

Hore! Sorak hatiku waktu itu.

Itu artinya aku bisa minta tolong padanya, kan? Pada Jinyoung? Aku yakin dia pasti mau membantu. Oh, ayolah, dia kan memang cocok jadi model. Posturnya tinggi, dan wajahnya pun lumayan. Kudengar dia juga pernah ikut kelas modelling, walau itu sudah lama sekali sih.

Ah, masa bodoh. Yang penting sekarang, tinggal bagaimana menyampaikan padanya bahwa aku butuh bantuan untuk lomba fotografi ini. Seharian itu aku tersenyum membayangkan bakal menghabiskan waktu seharian bersamanya.

~~~

Rupanya rencanaku itu tidak berjalan semulus yang kubayangkan. Malam setelah aku membaca poster lomba fotografi itu, aku menghubungi Park Jinyoung via e-mail. Kebetulan malam itu beberapa temanku banyak yang sedang online. Aku senang bukan kepalang saat melihat Jinyoung termasuk salah satunya. Aku langsung membuka kotak chatting dan mengirim pesan padanya.

Anneyong Jinyoung-ssi. Aku Jung Eunji dari kelas bahasa. Bisakah aku eminta bantuanmu?

Ada lomba fotografi bulan depan. Aku ingin kau yang menjadi modelku. Bagaimana? Bisakah? Balaslah secepatnya ya.

Beberapa menit kemudian aku menerima balasannya.

            Eunji? Wah, tidak biasanya kau mengirim pesan padaku.

            Bagaimana ya?aku tak begitu percaya diri di depan kamera.

            Bagaimana jika kutawarkan pada Jackson? Bukankah dia ikut kelas modelling?

Tanpa sadar, aku bergumam kecewa. Untung saja saat itu aku sedang berada di kamar. Buru-buru kubalas lagi pesannya. Aku tidak boleh menyerah, biarpun acara foto-foto itu hanya sehari.

Hm, bisa saja. Tapi aku membutuhkan dua model. Bagaimana jika kau jadi salah satunya?

Kudengar kau dulu pernah ikut kelas modelling juga?

Lagipula, sebenarnya aku bingung harus meminta tolong pada siapa…

Yah, memang ada sedikit unsur pemaksaan, tapi aku tidak peduli. Aku ingin bersikap egois sekali ini saja. Dan sepertinya usahaku cukup sukses, karena setelah itu dia membalas:

Hm baiklah. Tp aku tidak bs menjamin hasilnya ya.

            Lagipula sudah lama sekali sejak terakhir kali aku ikut kelas itu…

            Tapi gwenchana.. aku akan berjuang! ^^

Berhasil! Dia mau! Aku langsung tersenyum-senyum sendiri sembari mendekap boneka pandaku di dada. Setelah itu aku langsung menutup laptop, meletakkannya di atas meja belajar, dan berbaring dengan perasaan bahagia di atas kasur.

~~~

“Eunji-ssi? Apa kita akan melanjutkan sesi fotonya?” lagi-lagi aku tersentak dan dengan grogi tersenyum pada Jinyoung, “E-eh, terserah kalian saja. Apa kalian sudah lelah?” tanyaku salah tingkah. Jackson menggeleng, “Belum. Tapi sepertinya langit sudah mulai mendung…” ujarnya sambil menunjuk ke atas. Aku mendongak dan ternyata memang benar, langit sudah mulai gelap.

Beberapa detik kemudian, hujan turun. Kami berempat berbondong-bondong mengangkat barang bawaan dan properti foto ke bawah sebuah pos. Sialnya, teras pos itu sangat sempit, jadi terpaksa kami harus berdesakan berempat di bawahnya, dengan badan menempel pada dinding. Parahnya lagi, ternyata dindingnya penuh dengan semut. Mau tidak mau, aku harus merelakan badanku basah daripada kameraku yang jadi korban.

Tiba-tiba lalu badanku tertutup oleh sebuah bayangan gelap, dan untuk sesaat aku tidak merasakan hujan. Refleks aku menatap ke atas dan langsung menahan napas. Park Jinyoung menaungiku dengan jaketnya.

“E-eh, kau tak perlu melakukan itu. Badanmu bisa basah…” Kataku gugup.

Tapi Jinyoung justru tersenyum, “Sudahlah, gwenchana. Girl exist to be protected, bukan?”

Buru-buru aku merunduk, berharap setengah mati wajahku yang memerah tidak tampak olehnya.

~~~

Ya. Yoon Bomi. Aku penasaran, apa ya yang dipikirkan olehnya waktu melihatku?” Bomi tersedak soda yang sedang diminumnya, “Maksudmu… Park Jinyoung?”Aku mengangguk dalam posisi melamun. Mendadak Bomi tertawa keras. Aku melirik tersinggung ke arahnya, “Kenapa kau tertawa?” ketusku.

Bomi buru-buru menepuk pundakku, “Mianhata… Tiba-tiba bertanya seperti itu.” Ujarnya di sela tawa, “memangnya ada apa? Tiba-tiba saja penasaran pada apa yang dipikirkan olehnya.”

Aku menghela napas, “Yaaa, habis Jinyoung itu aneh, sih. Apa kau ingat waktu kita sesi foto di taman? Sewaktu sedang bersamaku, dia bersikap sangat romantis. Tapi begitu sedang bersama kekasihnya, seolah-olah dia ingin menunjukkan pada seisi dunia bahwa dia sayang pada kekasihnya itu dan tidak menyimpan perasaan apapun padaku… aku jadi bingung…”

Kulirik Bomi yang duduk di sampingku, “Wah, wah, wah, itu tanda-tanda namja bajingan.” Tukasnya langsung. Aku kontan melotot, “M, mwoya? Bagaimana bisa?”

“Ya tentu saja. Di belakang kekasihnya dia berbaik hati pada gadis lain. Tapi di depan, dia memuja-muja kekasihnya itu.” Jelas Bomi, “coba sebutkan padaku, di bagian mana dia tidak bersikap bajingan?” tambahnya.

Bahuku langsung merosot, “super-baik dan bajingan ternyata beda tipis ya…” gumamku.

~~~

Ya! Jung Eunji! Cepatlah kemari!” bisik Bomi sambil menggerak-gerakkan tangannya menyuruhku menghampirinya. Aku berlari-lari kecil dan ikut bersembunyi di balik pohon depan kelas kami, “Ada apa?” tanyaku cuek, walau sebenarnya aku penasaran juga.

Bomi menuding-nuding ke arah kantin, “Itu, lihat Park Jinyoung dan Kim Nara, kekasihnya. Mesra sekali kan, mereka?” bisiknya heboh. Dan di sanalah mereka, Park Jinyoung dan Kim Nara, berjalan ke arah kantin dengan bergandengan tangan dan saling bertatapan mesra.

Aku langsung merengut, “Teganya kau menunjukkan itu padaku…” ucapku kesal. Bomi menghela napas dan merangkulku menuju kelas, “Eunji, darling, aku menunjukkan mereka padamu bukan supaya kau patah hati…” ujar Bomi lembut, “tapi supaya kau membuka matamu, bahwa Park Jinyoung tidak akan beralih padamu… biarpun kesannya dia sangat baik padamu, dia akan tetap mesra dengan Kim Nara. Seperti tadi itu.” Lanjutnya sabar.

Tanpa sadar, air mataku menetes. Aku menangis di pelukan Bomi. Untung saja saat itu kelas sedang sepi, “Aku bodoh sekali ya? Bisa-bisanya berharap pada namja yang sudah punya kekasih…”

Bomi mengelus rambutku, “Tidak kok. Kau tidak bodoh. Ini justru bisa jadi pelajaran buatmu, lain kali jangan terlalu berharap banyak pada namja seperti itu.” Ucapnya pelan, “dia itu bajingan. Masih untung Kim Nara sepertinya belum tahu bahwa Jinyoung mendekatimu.”

Kata-kata Bomi yang terakhir membuatku tertegun, “Mendekatiku? Aku tidak merasa dia mendekatiku…” tanyaku heran.

Bomi terdiam sesaat, “Wah, kau tidak tahu ya? Jinyoung sudah lama memiliki nomor-mu. Dia memintanya dariku. Waktu aku bertanya untuk apa, dia mengelak. Ya kupikir pasti dia ingin mendekatimu. Apalagi melihat sikapnya padamu waktu sesi foto itu. Padahal sudah punya pacar… dasar sialan.” Sungutnya.

Sesaat aku terpana mendengar penjelasan Bomi. Park Jinyoung mendekatiku? Bagaimana mungkin aku tak sadar?

Tapi kemudian aku tertawa, “Ah, masa bodoh. Bukankah ada berjuta-juta namja di dunia?”

Bomi langsung memelukku erat mendengar perkataanku, dan kami tertawa bersama.

 -END-

Yak, sekian fict debut dari saya! silahkan tinggalkan jejak anda di bawah ini ya!  Sebagai author newbie, saran dan kritik sangat saya harapkan ^^

3 responses to “[Oneshot] I will Let You Go

  1. HALOOO KAMUU RESCUUU! OMG AKU KAGET BANGEETT KAMU ADA DISINIII!!!
    SELAMAT ATAS FICT DEBUTMU YAAA AWW SYUKA BANGEETT❤
    DAN SATU LAGI AKU MASIH KAGET KAMU JADI AUTHOR DISINI DUUHHH IKUT SENENG :*

    KU TUNGGU FICT MU YANG LAAIIINN!! SEMANGAT NULIS TERUS MWAAAHHHH

    • haaaii!
      aku juga kaget btw! thankyou beybeeh❤ haha iyaa ini sedang progress makanya belum bisa apdet fict2 yg lainn
      OKEE TERIMAKASIH BANYAAK HWHW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s