Princesa de la Corona

imagese

Title : Princesa de la Corona (Series – Cadangan)
Writed by : @atika_s27 / Krystalaster27
Genre : Sad, school life, and family
Cast : Son Naeun (a-pink)
Other cast : Jessica Tyler(OC)

Poster : copas dari google (belum bisa bikin cover karena software rusak)
Summary : Son Naeun seorang siswi di Seoul International High School yang menyimpan banyak kisah dibalik kepribadian anehnya. Korona yang disia-siakan, itulah jati dirinya. Hidup dalam perlakuan diskriminasi yang tak berujung… Dengan apa ia melalui garis takdir ini dan akankah ia bisa bertahan?

Disclaimer : Alur cerita real berasal dari imajinasi liar saya, cast hanya sebagai pinjaman untuk memudahkan visualisasi bagi readers.

Ini ff Series, tiap chapternya akan berbeda tetapi tetap menyambung.


.
.
.
.
.

Cadangan…
Pengganti yang utama
Perenggut posisi yang seharusnya
Padahal raga ini yang terluka
Padahal jiwa ini yang berduka
Tapi sang cadangan yang mendapatkannya

Cadangan…
Melihatnya membuatku heran
Mendengar suaranya membuatku tertekan
Tersenyum padanya sama saja menyerahkan kebahagiaan

Cadangan…
Nyatanya sang panglima tetap kalah
Panglima memang yang berperang
Tapi akhirnya cadangan yang menggenggam penghargaan
Miris bukan?

Happy reading…!!! ^_^

XX Agustus 2011

Jam istirahat sudah berakhir, kerumunan siswa mulai berjalan memasuki kelasnya masing-masing. Gurat kelelahan itu nampak jelas dari sebagian murid yang menguap, ini adalah hari Senin yang dinobatkan sebagai hari tersibuk dan terlama. Pagi tadi mereka sudah menjalani upacara lalu setelah ini mereka harus melewati 2 jam pelajaran terakhir, belum lagi jadwal ekschool hari ini + bimbel bagi semua murid tingkat akhir.

@Class X-A1

Seorang siswi berdiri di atas meja yang ada di deretan depan demi menyedot perhatian teman-teman sekelasnya. Senyuman lebar menghiasi wajah cantik itu, tak lupa dengan pose anggun yang dilakukan, seperti mengibaskan rambut bersemu coklatnya juga mengedipkan sebelah mata.
“Hei teman-teman!!! Aku akan mengikuti olimpiade di Seoul University…” Pemberitahuan itu diucapkan dengan suara lantang dan menggebu, sepertinya penyampaian berita sedang bahagia.

Hampir seluruh penghuni keras terperangah takjub, mereka bangkit dari tempat masing-masing lalu mulai membentuk kerumunan di sekeliling siswi tadi. “Waahhh, daebakkk!!!” Seruan itu adalah koar dari mereka. Satu-persatu dari mereka mulai mengucapkan kalimat sanjungan beserta support untuk siswi cantik itu.

Senyuman itu semakin lebar ditambah pose sok keren dengan tangan yang terlipat di dada, juga dagu terangkat. “Aku akan mentraktir kalian jika aku berhasil memenangkan olimpiade itu.” Sentuhan pose terakhir dengan menjentikkan jarinya.

“Woahhh…!!!” Great, atmosfer di kelas menjadi semakin riuh setelah siswi itu mengumandangkan kata ‘Traktir’. Tentu saja semuanya sangat senang, kapan lagi mereka mendapatkan kesempatan makan gratis di kantin yang menjual menu sangat mahal.

Seorang siswi lain yang masih duduk tenang di kursinya memutar bola mata, ia tidak suka dengan kelakuan sok dari siswi yang berdiri di atas meja itu. “Cihhh, tukang pamer.”

Menurutnya itu sangat berlebihan, berdiri di atas meja dan mengumumkan diri sendiri. Tindakan bodoh itu tentu saja membuat sebagian siswa mendekat, mereka takkan mungkin melewatkan pemandangan kaki jenjang dari siswi terpopuler di sekolah. Dan sepertinya siswi cantik sok keren itu terlalu hanyut hingga tidak menyadarinya.

Wajah kesal siswi itu berubah drastis saat menatap teman yang duduk di samping kirinya, senyuman tipisnya terbentuk indah. “Naeun-ah, tadi kau juga dipanggil kan. Ada urusan apa?” Tangan kanannya menopang dagu, matanya menuntut sebuah penjelasan.

Teman sebangkunya tadi memang dipanggil ke kantor guru bersama siswi sok keren tadi, mungkin saja kan jika siswi di sebelahnya ini juga ikut.

Naeun mengalihkan pandangan dari buku tebal yang sedang di bacanya,  membalas tatapan teman sebangkunya. “Aku juga ikut dalam olimpiade itu.” Jawaban itu disampaikan dengan intonasi dan ekspresi sangat datar.

Siswi itu menepuk bahu Naeun, senyum lebar diberikannya dengan tulus. “Wahh, kau memang pantas mendapatkannya.”

Bangga, tentu saja! Siapapun tau jika Son Naeun adalah siswi yang cerdas di sekolah ini. Hanya segelintir orang yang mau menyapa Naeun, itu semua karena kepribadiannya yang dinilai aneh. Tapi bagi siswi itu Naeun adalah teman yang baik, ia lebih suka dengan gadis pendiam yang aneh daripada gadis cerewet seperti siswi yang masih tebar pesona di atas meja itu.

“Eum…” Anggukan singkat itu Naeun berikan, ia meletakkan bukunya lalu melipat lengan di atas meja, menelungkupkan wajahnya di lipatan lengannya.

Berbagai tanda tanya muncul di pikiran siswi itu saat melihat temannya yang terlihat tidak bersemangat, ia menggoyangkan bahu Naeun dengan pelan. “Naeun-ah kau kenapa?”

“Aniya, aku hanya pusing.” Naeun menjawab dengan lirih membuat siswi tadi makin khawatir.

Otaknya berpikir dengan cepat. “Perlu ke UKS?”

Kepala itu terangkat sedikit, Naeun menatap teman sebangkunya dengan sebelah mata. “Aniya! Gwenchana Sully.”

Siswi itu mengangguk, ia mengerti jika Naeun mungkin ingin seperti ini. Sebagai teman yang baik, ia mulai mengambil sebuah buku tebal milik Naeun tadi lalu membacanya.
‘Biarkan Naeun istirahat dan kau bisa membaca novel miliknya Choi Sully.’ Itu adalah suara hati dari siswi yang duduk di sebelah Naeun, dia adalah Choi Sully yang sudah sebangku dengan Naeun sejak Junior High.

Kadang Sully berpikir, berapa volume otak Naeun yang sebenarnya? Temannya itu terlalu mencintai buku dari jenis bahasa, eksak, ilmiah, sejarah, hingga novel pun sudah digeluti dan semuanya berimbas pada mata Naeun yang harus memakai kacamata. Minus di mata Naeun sudah mencapai angka 2, meskipun begitu Naeun seringkali masih bertindak bodoh, memaksakan membaca padahal penerangan tidak cukup.

Gadis berkacamata ‘Son Naeun’ yang dikenal cuek dengan penampilan dan selalu menomer satukan pendidikan, mengesampingkan gaya hidup yang biasanya dilakukan remaja yakni bersenang-senang, shopping, pergi ke salon, bergosip, maupun berkencan. Naeun sering disebut kuno, jelek, kudet, bahkan brengsek, tapi gadis itu tetap diam dan membisu, ia tidak pernah membalas cemoohan dari sekumpulan pengusik yang menurutnya tidak penting.

.
.
.
.
.

Senja di bagian barat itu menjadi saksi suasana ramai yang tadi melingkupi sebuah toko mulai berangsur sepi, seorang gadis mungil terlihat sedang mengelap kaca jendela yang kotor dengan teliti. Peluh sudah mengucur membasahi dahi, tetapi semua itu tidak memudarkan senyuman tipisnya. Senyuman yang jarang sekali terlihat sejak tiga tahun lalu.

“Apa semuanya sudah bersih?” Seorang pria keluar dari balik kasir, menyodorkan segelas air putih pada gadis itu.

Tangan mungil itu menerima gelas tersebut, menengguk air mineral yang saat ini terasa sangat menyegarkan untuknya. “Eoh, sudah mengkilap seperti yang terlihat.” Jarinya menunjuk jendela kaca, menunjukkan hasil kerjanya pada pria paruh baya tadi.

“Bagus… Kau sangat pintar mengelap kaca Naeun-ah.” Pria paruh baya tadi mengusak rambut gadis mungil yang bernama Naeun, ia sangat bangga dengan pegawai mudanya yang sangat rajin itu.

Tukk

Gelas yang sudah kosong itu diletakkan di atas meja kecil, Naeun melepaskan sarung tangannya. “Ahjussi, besok hingga 3 minggu kedepan saya ingin libur dulu. Bolehkan?” Tatapan itu begitu sendu dengan lingkaran hitam yang samar di bawah mata.

“Wae? Apa penyakitmu kambuh?” Dahi pria paruh baya itu berkerut samar, apakah pegawai mudanya sedang sakit. Mengingat sangat sulit membedakan raut wajah Naeun, gadis mungil itu selalu terlihat pucat setiap hari.

Gelengan kecil dan senyum tipis itu membuat hati pria paruh baya tadi sedikit lega. “Aniya, saya ditunjuk untuk mewakili sekolah pada olimpiade 3 minggu lagi. Saya butuh belajar lebih…” Naeun melirihkan suaranya diakhir, tatapannya masih sama seperti sebelumnya ‘sendu dan tidak berbinar’ seolah menyimpan banyak kesedihan.

“Ah jadi begitu, baiklah. Belajarlah yang giat, kau itu sangat cerdas. Ahjussi yakin kau mampu.” Dukungan yang sangat tulus diberikannya, pria paruh baya itu memang tau jika Naeun adalah siswi yang cerdas. Baginya gadis itu adalah sebuah permata yang sangat bersinar, Naeun memiliki hati selembut kapas dan jernih seperti air. Sayangnya banyak orang yang memandang gadis itu sebelah mata.

Terkejut, Naeun sedikit takut untuk menelisik ekspresi pria paruh baya di hadapannya. “Ahn ahjussi tidak marah?” Tanyanya sedikit ragu.

Kekehan itu meluncur, dengan gemas Ahn ahjussi mengusak kepala Naeun sekali lagi. “Untuk apa ahjussi marah, justru ahjussi senang. Naeun-ah, lebih baik kau tak usah bekerja… Ahjussi bisa memberimu uang setiap bulan, kau tak perlu memaksakan diri seperti ini.” Ketidaktegaan itu selalu mengusik hatinya, seharusnya Naeun bisa sekolah dengan baik tanpa harus bekerja, menikmati masa remaja seperti kebanyakan anak Senior High.

Tapi takdir berkata lain, gadis mungil ini harus kehilangan segalanya sejak 5 tahun silam, sebuah kejadian memilukan yang membuat Naeun berubah drastis menjadi kaku dan dingin.

Naeun menggeleng, baginya Ahn ahjussi sudah terlampau baik untuk menerimanya bekerja. Walaupun Ahn ahjussi adalah keluarga jauhnya, tapi ia cukup tau diri untuk tidak membebani orang lain. “Ahjussi… Saya hanya tidak ingin berhutang budi, biaya berobat dan sekolah tidaklah sedikit. Saya masih kuat untuk sekedar menjaga toko ini.” Tenaganya memang tak sebanding dengan remaja pada umumnya, terlalu lemah dan sering jatuh sakit.

Ahn ahjussi merogoh saku mengambil beberapa lembar won dari dompetnya. “Terserah kau sajalah, ahjussi takkan pernah menang jika berdebat denganmu. Pulanglah, sudah menjelang petang dan ini gajimu untuk minggu ini.” Naeun menerima uang itu, dahinya mengernyit saat mendapati nominal yang terlalu besar.

“Ahjussi ini ter-” Perkataan Naeun terpotong saat Ahn ahjussi mencubit pipinya.

“Simpan saja, itu sebagai bonus karena kau bekerja dengan rajin. Kau pasti membutuhkannya untuk tiga minggu kedepan, buktikan pada ahjussi dengan membawa pulang trophy kemenangan, itu sudah cukup.” Sepasang obsidian itu terlihat berkaca-kaca, Naeun mengangguk dan membungkukkan badan berulang kali sambil menggumamkan terima kasih.

Senja di saat itu sekali lagi menjadi saksi bisu pengorbanan seorang gadis mungil bertubuh kurus, Naeun yang sedang berjalan menyusuri trotoar sembari menundukkan kepala, menghindari tatapan orang-orang yang ada di sekitarnya. Jika senja mampu berbicara, ia pasti meminta pada Tuhan agar gadis itu diberikan sedikit saja kemudahan. Tapi kenyataannya senja hanyalah sebuah panorama yang hanya bertugas meneduhkan langit di penghujung hari, menonton setiap perjuangan hidup Son Naeun dalam keheningan.

Tap

Tap

Tap

Suara kaki itu terdengar ketika alas sepatu Naeun berpijak pada lantai, dengan cepat ia memasuki kamarnya yang memang ada di urutan paling dekat dengan ruang tamu. Menyampirkan tas, meletakkan sepatu, lalu mandi dengan cepat dan mengganti baju. Beberapa menit kemudian Naeun sudah rapi dengan setelan santainya, kaos lengan panjang dan celana training.

“Eomma.!!! Aku pulang!!!” Seperti biasa, Naeun selalu berteriak lantang setelah membersihkan diri. Menurutnya menyapa saat masih berbau keringat sangat tidak enak, lagipula eommanya pasti ada di halaman belakang saat senja seperti ini.

Nyonya Son mengusap pipi putrinya dengan lembut, guratan usia yang mulai tampak di wajahnya mulai terlihat. “Aigoo… putri eomma sudah pulang. Ekschoolmu padat ya?”

Kepala itu menunduk, Naeun hanya mengangguk mengiyakan. “Eumm. Eomma masak apa?” Lontaran kalimat tanya itu membuat senyum di wajah nyonya Son pudar.

Helaan nafas itu terdengar, dengan langkah cepat Naeun memutar tubuh dan berjalan ke dapur, hatinya berharap agar dugaannya salah.

Tukk

Tutup nasi itu terbuka, tertampanglah sebuah meja makan yang kosong. Tak ada apapun di sana bahkan sebutir nasi yang sejatinya ingin dirasakan Naeun, ia memang belum makan sejak kemarin malam. Semuanya benar, ibunya belum memasak apapun karena bahan makanan tidak ada.

Tatapan itu masih sama, tapi kali ini senyuman tipis menghiasi bibir pucat itu. “Kenapa eomma tidak bilang jika beras dan lauk-pauknya habis?” Naeun berkata dengan santai meskipun perutnya sudah terasa sangat lapar, jika diperhatikan tubuhnya juga mulai gemetar meskipun sangat samar.

Nyonya Son yang baru tiba hanya bisa menunduk, ia tau jika putrinya itu lapar tetapi meja makan justru kosong  “Mianhae Naeun-ah, eomma menunggu appamu pulang.”

Sepasang mata itu terpejam menyembunyikan netra yang mulai berkabut tipis. “Menemui pemesan lagi?” Bahkan suara yang keluar terdengar lirih. Mengerjap beberapa kali sambil mengalihkan pandangan, Naeun tak ingin ibunya melihat kesedihannya.

Nyonya Son mendudukkan dirinya,  menyamankan posisi kakinya yang lelah karena berdiri terlalu lama.
“Ne… Appamu ingin meminta uang lagi untuk merapungkan mesin… Naeun-ah, kau ingin pergi ke mana?” Sedikit terkejut melihat Naeun yang melenggang pergi memasuki kamarnya.

Cklek

Pintu itu terkunci saat gadis bertubuh mungil itu keluar , Naeun memang jarang mengunci bahkan menutup pintu kamarnya. Hanya pada saat tertentu saja ia mengunci pintu.

Tangan ringkih itu mengambil sebuah hodie yang tergantung di sebelah dinding dekat dapur, mengantungi ponsel lalu berbalik menatap eommanya. “Membeli beras, ramen, juga sedikit sayur. Sebentar lagi Jungkook pulang dari bimbel, ia akan mengamuk kalau meja makan tetap kosong. Adikku yang bawel itu adalah monster makanan.” Candaan kecil dilontarkannya tapi nyonya Son tau jika putrinya tidak berniat melucu.

Grep

Cekalan itu menangkap pergelangan tangan Naeun, gelengan kecil itu mengisyaratkan agar si gadis tidak pergi. “Naeun-ah, tapi uangnya tidak ada. Appamu belum pulang.” Sebagai seorang ibu dia tidak akan tega, Naeun baru saja pulang dari sekolah dan sekarang harus pergi lagi untuk mencari bahan makanan.

Sejak 3 tahun silam, memang hanya suaminya yang mencari nafkah. Kehidupan berubah drastis dari yang berkecukupan berubah menjadi serba kekurangan. Tuan Son hanya bekerja wiraswasta yang mendapatkan hasil tidak menentu.

Naeun mengangguk, melepaskan cekalan tangan eommanya. “Gwenchana, aku masih punya sisa dari uang saku.” Senyuman tipis ia berikan untuk memberitahu jika tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Pengakuan itu tak ayal membuat nyonya Son sedikit terkejut, setahunya Naeun sangat jarang meminta uang saku lalu darimana putrinya ini memiliki sisa? Astaga! Apa mungkin Naeun tidak pernah membeli apapun saat di sekolah.
“Naeun-ah, uangmu kau simpan saja untuk sekolahmu besok.” Sedih saat mengetahui putrinya bahkan menyisihkan uang demi berjaga-jaga, memang sudah beberapa kali dalam 3 tahun terakhir mereka mengalami krisis ekonomi. Entah bagaimana Naeun selalu bisa membeli bahan makanan meskipun itu sedikit.

“Gwenchana eomma, aku pergi dulu.” Punggung itu menjauh seiring dengan langkah pelan seorang remaja yang menitih jejak, keluar dari hunian sederhana lalu kembali ke trotoar yang mulai dipenuhi pejalan kaki.

Sekali lagi untuk hari ini, senja harus melihat tubuh mungil itu menitih langkah sembari bertumpu pada pagar yang dilewatinya. Gadis itu, Son Naeun dengan tubuh gemetarnya berjuang demi membeli bahan makanan di toko yang ada pada ujung tikungan tempat tinggalnya.

“Naeun-ah, kau sungguh baik. Eomma bangga memiliki putri sepertimu, bersabarlah nak karena eomna yakin jika Tuhan akan memberimu sebuah kebahagiaan di masa depan nanti.” Setetes air mata terjatuh, nyonya Son membekap mulutnya erat untuk menghalau isak tangisnya.

Melihat putrinya yang bertubuh kurus itu kembali menapaki jalan setapak demi sesuap nasi untuk makan, membuat hatinya sedih. Ia mengusap air mata dengan cepat dan memasang senyuman terbaik, sebentar lagi Jungkook (putra bungsu keluarga Son yang baru berusia 8 tahun) akan pulang dari bimbel, berteriak kelaparan lalu merajuk sambil membanting barang, hal itu sudah merupakan pemandangan umum jika si kecil sedang lapar lalu tak menemukan makanan.

Dengan setengah tertatih nyonya Son mempersiapkan segala peralatan memasak, agar saat Naeun pulang nanti, ia bisa langsung memasak. Malam ini setidaknya Tuhan masih memberikan secuil berkahnya agar keluarga Son bisa menyuap hasil bumi, membuat perut lapar mereka sedikit terisi untuk menghadapi hari esok.

.
.
.
.
.

Di dalam mansion, Cho Younghwa (Cho seonsaengnim) sedang mengajar dua orang siswi yang akan menjadi peserta olimpiade 2 minggu lagi. Sejauh ini kedua siswinya sangat disiplin, datang ke mansion miliknya setiap pukul 2 siang lalu pulang pukul 5 sore.

Tuk

Cho seonsaengnim menutup bukunya, memandang dua siswi di hadapannya yang mengenakan gaya berpakaian berbeda.
“Baiklah, apa kalian sudah paham?” Pertanyaan sama kesepuluh yang ia ucapkan dalam kurun waktu 4 jam terakhir.

“Ne…” Jawaban yang juga sama dari siswi berkacamata dan mengenakan setelan sederhana.

“Aniya, saem! Ini terlalu sulit.” Dan, jawaban yang juga sama dari siswi satunya, siswi itu tampak modis dengan dress mahal juga make up natural yang memoles wajah cantiknya.

Cho seonsaengnim menghela nafas, mengacak rambutnya sedikit frustasi. “Hahhh… Jessica, sebenarnya yang salah disini itu siapa? Naeun saja bisa faham meskipun dijelaskan setengah.” Sungguh, ia nyaris menyerah mengajari siswi modis yang entah bagaimana terpilih sebagai kandidat peserta olimpiade. Jessica Tyler lebih pantas menjadi model ketimbang bergelut dengan soal eksak, pasti otak kepala sekolah sedang bergeser karena nyatanya Jessica lebih sering berkaca dan selfie daripada mengerjakan soal.

Jessica hanya mengendikkan bahu lalu menatap deretan soalnya, mengerjakan dengan santai berbekal otak pas-pasan miliknya.

“Aishh…” Dipastikan desisan itu berasal dari Cho seonsaengnim. Dosa apa dia, sehingga harus mengajar siswi yang lebih mencintai cermin ketimbang buku.

Pipp

Nada notifikasi itu membuat Jessica menolehkan kepala, obsidiannya memicing untuk melihat ponsel yang dikeluarkan Naeun dari tasnya.
“Cihh… Ponsel kuno.” Cibiran itu tentunya terdengar tapi Naeun mengacuhkannya, ia sudah kebal dengan kalimat cibiran perti itu.

Tik

Tik

Suara pencetan itu juga terdengar ketika jari pucat itu menekan tombol :’pilih’ dan ‘buka pesan’, sepasang pupil itu bergerak melihat barisan kata yang terpampang di layar.

From : Eomma
Naeun-ah, apakah ekschoolmu masih lama? Ini sudah sore sayang… Kau harus pulang agar tidak sakit, udara sore ini cukup dingin.

Jemari kurusnya dengan cekatan mengetik balasan, ia baru sadar jika sekarang sudah hampir pukul 6 sore.

To : Eomma
Ne… Sebentar lagi eomma.

“Cho seonsaengnim, bisakah saya pulang sekarang?” Pulang, itulah yang sekarang ia pikirkan. Udara beberapa hari terakhir cukup dingin dan ia tidak ingin jatuh sakit karena pulang tanpa mengenakan jaket.

Cho seonsaengnim mengalihkan fokusnya dari laptop untuk menatap siswi di hadapannya. “Kau ada kepentingan ya?”

“Ne…”

Tug

Sebuah buku yang memiliki tebal satu sentimeter diletakkan oleh Cho seonsaengnim di hadapan Naeun.
“Baiklah, kerjakan semua soal di sini. Serahkan jawabannya padaku besok saat jam istirahat.” Inilah sikapnya, ia memang mengijinkan Naeun pulang tetapi memberi tugas yg mungkin 20 kali lebih banyak dari Jessica. Ketentuannya bimbel pertama hari ini selesai pukul 7, tetapi Naeun meminta ijin pulang lebih dulu.

Dengan santai Naeun memasukkan buku itu, mengabaikan tatapan terkejut dari Cho saem yang tidak menyangka jika dirinya langsung menerima tugas itu. “Ne, kalau begitu saya pulang dulu saem.” Hey, biasanya murid selalu menawar sebuah tugas jika dirasa itu terlalu banyak, tapi Son Naeun malah bersikap biasa saja seolah tugas itu adalah cemilan wajibnya.

“Eoh, hati-hati.” Cho seonsaengnim masih terpaku hingga terlambat merespon Naeun yang pamit. Ia memang bukan guru yang mengajar kelas 1-A1, tetapi mengajar murid tingkat akhir yang akan mengikuti sonneung (ujian kelulusan).

“Aku menyerah. Cho saem, soal ini membuat kepalaku pecah.” Gerutuan itu sudah jelas berasal dari seorang siswi bernama Jessica Tyler.

“Yakkk, kerjakan soalmu!” Cho saem berteriak.

Semuanya terasa adil, Son Naeun begitu pendiam sedangkan Jessica terlalu cerewet. Sepertinya satu jam kedepan ia harus bersabar menghadapi seorang siswi yang hiperaction.

.
.
.
.
.

Dini hari di kediaman Son, terdengar suara batuk dari kamar paling depan.

“Uhukk… Uhukkk… hahhh… hahhh… uhukk.” Naeun mencengkram selimutnya dengan erat, tangan kanannya meraba nakas untuk mengambil obat.

Pyarrr

Gelas air yang terletak di nakas tidak sengaja tersenggol oleh tangannya saat berusaha menggapai obat. ‘Siapapun, tolong aku!’ Suara hati itu menjerit, Naeun masih terus terbatuk hingga pernafasannya terasa sangat sesak.

Cklek

Bantuan datang, nyonya Son melangkah memasuki kamar dengan segelas air yang dibawanya.
“Naeun-ah, ini sayang.” Nyonya Son mengangsurkan segelas air tersebut, membantu putrinya untuk bersandar dan menengguk obatnya.

“Gomawo eomma…” Suara itu sangat lirih. Naeun merasa tubuhnya sangat lemas, selalu saja seperti ini jika penyakitnya kambuh.

Usapan lembut itu diberikan, Naeun memejamkan matanya yang terasa berat. “Eomma ambilkan roti dulu ne. Kau harus menyuap sesuatu agar tidak gemetar karena meminum obat.” Dengan sedikit tertatih, nyonya Son melangkah menuju dapur untuk mengambil sarapan.

Setahun yang lalu Naeun pernah nyaris pingsan karena gemetar, obat yang nekat dikonsumsi di tengah malam untuk meredakan rasa sakitnya. Penyakit itu memang sering kambuh secara tiba-tiba, tak perduli itu sedang pagi bahkan tengah malam sekalipun.

Kabut bening merembes keluar dari sepasang kelopak mata itu, Naeun menangis untuk yang pertama kalinya di tahun ini. “Tuhan, aku mohon kuatkan diriku hingga olimpiade itu tiba. Aku tidak ingin jatuh sakit lalu mengecewakan semuanya.” Untaian doa itu terucap bersamaan dengan fajar yang terbit dari ufuk timur.

.
.
.
.
.

Seoul University hari ini terlihat sangat padat, ribuan murid serta guru dari berbagai Senior High memenuhi setiap koridor kampus. Hari olimpiade yang dinantikan, seleksi demi seleksi penyisihan sudah dilaksanakan untuk memilih 20 peserta yang akan masuk ke tahap akhir.

Langkah itu berhenti, Im seonsaengnim memutar tubuh Naeun agar menghadap sebuah ruangan tertutup di samping mereka. “Itu ruangannya, hampiri dosen yang paling muda dia yang menjadi penguji akhir untukmu. Tak perlu gugup dan takut karena saem yakin kau pasti menang.”

Naeun menunduk, ia menarik nafas dalam untuk menetralisir kegugupannya. “Im saem…” Bahkan suaranya sekarang nyaris menyamai bisikan, terlalu lirih.

Alis itu bertaut, “Waeyo?” Im seonsaengnim tidak mengerti dengan perubahan Naeun. Sejak tadi siswinya terlihat baik-baik saja dengan wajah datarnya, lalu mengapa sekarang ini berubah menjadi murung? Ini sangat aneh mengingat Naeun adalah orang yang jarang berekspresi.

Gelengan itu nampak lemah. “Peserta lain terlihat lebih hebat daripada saya. Saya tidak yakin…” Rupanya kegundahan hati akan rendahnya kepercayaan itulah yang berhasil melunturkan wajah datar Naeun.

Im seonsaengnim mengusap bahu siswinya, senyuman lebar itu menghiasi wajah ketika ia mengucapkan sebuah kalimat dukungan. “Naeun-ah, percayalah pada dirimu sendiri! Kau itu jenius…”

“Saya tidak jenius saem.” Sekali lagi gelengan itu bergerak, Im seonsaengnim yang merasa gemas akhirnya meraih dagu Naeun agar menatapnya.

“Aniya, menurut saem kau itu jenius. Manusia cerdas hanya mengandalkan otak untuk menganalisis, tetapi manusia yang jenius menggunakan otak dengan sebuah mimpi. Kau ingat Thomas Alfa Edison?” Tugas seorang guru adalah untuk mendukung muridnya, meyakinkan anak didik bahwa semua pasti bisa diraih.

“Eum, seorang ilmuwan yang pernah di keluarkan dari sekolah karena dianggap bodoh.” Ya, Naeun tentu mengingatnya karena Thomas Alfa Edison adalah tokoh ilmuwan yang diidolakannya.

Jemari lentik itu beralih mengusap surai lembut Naeun. “Semua manusia punya cara tersendiri, seperti Thomas Alfa Edison yang tetap kekeuh melakukan berbagai eksperimen untuk mewujudkan mimpinya. Tak perduli meskipun masyarakat mencemooh dan menganggapnya gila.”

“Hahhh, baiklah saem.” Hembusan nafas lega itu sedikit mengangkat kerisauan hatinya.

“Peserta olimpiade dari Seoul Senior High School.” Suara panggilan dari panitia membuat Naeun sedikit terperanjat, degup jantungnya berlomba saat ketegangan itu kembali terasa.

“Ini waktunya, buktikan pada semuanya jika kau bisa. Jangan perdulikan tatapan merendahkan itu, yakinlah pada hatimu. Berdoa agar Tuhan memudahkan segalanya, ia tau yang terbaik untukmu.” Pesan itu di ucapkan oleh Im seonsaengnim untuk mengiringi langkah Naeun yang mulai menghampiri panitia.

Ia yakin jika siswinya mampu untuk meraih nilai tinggi, Naeun memang pendiam tetapi ia memiliki wawasan dan pola pikir yang luas. Air tenang yang menghanyutkan, seperti itulah karakternya.

Cklek

“Silahkan duduk!” Dosen muda tersenyum mempersilahkan Naeun untuk duduk di kursi yang tersedia.

“Haksaeng sudah siap?” Ia mulai menyalakan aplikasi untuk seleksi akhir.

Meski ragu, Naeun menganggukkan kepalanya. “Ne…”

Dosen itu mulai mengucapkan kalimat pembukanya. “Ini  adalah seleksi ujian terakhir dari 3 tahapan penyisihan olimpiade. Berdasarkan 5 soal esai yang tadi haksaeng jawab, saya ingin mengujinya sekali lagi dengan 3 soal yang sedikit lebih sulit. Tetapi haksaeng harus menjawabnya secara langsung, sambil menghitung dan menulis jawabannya pada layar touchscreen monitoring. Jawaban haksaeng akan dinilai oleh profesor secara langsung untuk dibandingkan dengan jawaban dari peserta lain. Setelahnya saya akan langsung menguji dengan 15 soal lisan, haksaeng harus menjawab tanpa menggunakan kertas sebagai media hitung. Apa haksaeng sudah faham? Jika ada yang belum jelas bisa ditanyakan.”

Dahi itu berkerut samar, Naeun menatap panitia lalu mulai mengucapkan pertanyaannya. “Perihal poin…”

Anggukan serta senyuman lebar itu diberikan oleh sang dosen,  dari sekian peserta baru kali ini ia mendapati pertanyaan ini. “Pertanyaan yang bagus untuk memperkirakan perolehan poin secara individu, agar haksaeng bisa memperkirakan sendiri. Poin setiap pertanyaan sesi pertama maksimal adalah 10, tetapi jika kurang sempurna poin menjadi 6, jika salah poin -5, dan jika tidak bisa menjawab poin -10. Poin untuk sesi ujian lisan adalah setengah dari poin sesi pertama.”

“Baiklah…”

“Oke, kalau begitu sekarang waktunya… ”

.
.
.
.
.

Atensi itu sedikit berkilat saat melihat hot topik yang terpampang pada selebaran di mading.

Sreet

Selebaran itu diambil dan diremas kuat dalam telapak tangan.

Tap

Tap

Tap

Cklek

Lee seonsaengnim menengadah, keningnya sedikit mengernyit melihat kehadiran seorang siswi ke ruangannya. Siswi itu mendekat lalu meletakkan selebaran yang tadi ditemukannya ke atas meja, selebaran yang kini tengah hangat diperbincangkan.

*PENGUMUMAN*

Jessica Tyler siswi Seoul International Senior High (SIHS) meraih peringkat pertama dengan poin nyaris sempurna pada ajang olimpiade tingkat Senior High se Korea Selatan.

Dewan pendidikan Korea Selatan menyatakan SIHS sebagai Senior High dengan prestasi terbaik. Enam peserta lain juga menempati peringkat 10 besar, sebuah kemajuan yang sangat mengembirakan untuk sekolah. Rekor tertinggi yang pernah diraih peserta untuk mata pelajaran Matematika.

By: Tim Mading

Datar, mimik wajah itu tetap kaku walaupun si empunya sedang bergulat dengan emosi yang bergejolak di hatinya. “Saem, apa ini tidak keliru? Kenapa nama Jessica yang dituliskan di sertifikat? Bukankah saya yang menang dan mengikuti olimpiade di mata pelajaran matematika?” Pertanyaan atas pengumuman tadi mulai menuntut jawaban.

Di luar dugaan memang, kepala sekolah Park bahkan mengambil cuti selama tiga hari untuk menghindari siswi dihadapannya. Semua memprediksi jika siswi ini akan mengamuk dan mencecar semua guru, tapi sekarang yang terjadi malah sebaliknya. Siswi itu masih menampilkan poker face tanpa gurat kemarahan sedikitpun.

“Tidak ada kesalahan apapun Naeun. Dari awal kami memang mendaftarkan nama Jessica Tyler sebagai peserta olimpiade. Seongsaengnimdeul sudah sepakat untuk menjadikanmu peserta tetapi Jessica sebagai cadangannya, semuanya kami lakukan mengingat kau sering sakit. Sekolah tidak ingin terkena sanksi berupa blacklist jika pesertanya tidak hadir, jadi kami mendaftarkan nama Jessica daripada namamu, seandainya kau mendadak sakit sekolah bisa mengirimkan dia. Kemampuanmu memang sangat baik tetapi kesehatanmu bagaikan ranjau yang selalu membuat kami was-was.” Sepasang atensi itu terpejam sejenak lalu balas memandang Lee seonsaengnim yang masih duduk sambil menyender di kursi jabatannya sebagai wakil kepala sekolah.

“Jadi semuanya sia-sia…” Suara itu meluncur dengan lirih, padahal ingin sekali Naeun menonjok bahkan mengumpat seluruh guru yang menyetujui pemikiran konyol itu.

Lagi, ini adalah kesekian kalinya ia dipermainkan oleh gurunya. Apa dia sebodoh itu hingga para guru tega mempermainkan perasaannya secara diam-diam, menghempaskannya dengan penipuan setelah memberikan pujian yang membuatnya melayang.

Dengan teganya Lee seonsaengnim mengambil selembar kertas dari lacinya, meletakkan kertas itu di atas selebaran tadi.

*Sertifikat Olimpiade*

Diberikan kepada: Jessica Tyler
Sebagai juara pertama bidang Matematika

Tangan itu terkepal, sepertinya Lee seonsaengnim memang berniat menghancurkannya. Menunjukkan sertifikat penghargaan dengan nama Jessica yang tidak pernah mengikuti olimpiade itu, mengejek kebodohannya yang mudah sekali dipermainkan.

“Tidak ada yang sia-sia disini Naeun haksaeng, keikutsertaanmu dalam olimpiade membawa Seoul Senior High School pada list 5 besar sekolah internasional yang paling diperhitungkan. Kau meraih juara pertama dengan nilai nyaris sempurna, mengalahkan 189 peserta dari seluruh Senior High di Korea Selatan.”

Cukup sudah, Naeun tidak sanggup lagi berada di ruangan ini. Apapun yang akan diucapnya pastilah salah, ia takkan menang melawan argument seorang guru.

Tubuh mungil itu berbalik, memunggungi Lee seonsaengnim yang masih terlihat santai di tempatnya. “Maaf saem, saya butuh waktu untuk menerima ini. Bagaimanapun saya telah mengorbankan waktu demi belajar, tapi yang saya dapatkan adalah sebuah diskriminasi dan kebohongan…. Lee saem, saya sungguh kecewa dengan dengan sekolah ini. Saya memang sering sakit, tetapi itu semua kehendak dari Tuhan.”

Tap

Tap

Tap

Langkah kaki itu masih normal, tidak terseok maupun berlari kecil karena pergolakan batin yang dirasakan Naeun. Mimik wajah itu tetap datar tapi kali ini tatapan mata yang sayu itu tak bisa disembunyikan lagi, beruntung lensa kacamata telah membantu menyamarkan.

Tak ada satupun makhluk yang menginginkan penyakit bersarang di tubuhnya, semua ingin sehat dan hidup bahagia. Naeun sadar jika sekali lagi ia dipandang berbeda hanya karena fisiknya yang lemah.

‘Ya Tuhan… Sabarkan hatiku! Sungguh sekalipun aku tak pernah mengeluh saat kau memberiku penyakit ini, tapi kenapa semuanya selalu memandangku sebelah mata?’

Flash back

Ruang guru terasa mencekam, mereka sedang berdebat untuk menentukan siapa peserta terakhir yang layak mengikuti olimpiade matematika.

Lee seonsaengnim menggeser sebuah catatan absensi ke bagian tengah meja agar semua guru bisa melihatnya. “Son Naeun, dia lemah. Jika kita memasukkannya dalam list peserta, saya takut dia tidak bisa menghadiri olimpiade itu.” Memang banyak coretan merah disana yang menunjukkan ketidak hadiran siswi bernama Son Naeun.

Kim seonsaengnim mengajukan pendapatnya, jarinya masih setia menari di atas keyboard laptop. “Kalau begitu biarkan Jessica Tyler masuk ke dalam list peserta.” Setahunya hanya ada dua kandidat yang pantas saat ini, jika Son Naeun yang jenius itu tidak bisa berarti opsi terakhir ada pada Jessica Tyler.

“Maaf, tapi Kim seonsaengnim taukan jika kemampuan Jessica masih di bawah Son Naeun. Ini olimpiade yang cukup menggemparkan, jika kita mengirim Jessica sama saja dengan merusak reputasi sekolah.” Ketidaksetujuan itu dikemukakan oleh Im seonsaengnim, posisi sebagai wali kelas 1-A1 menjadikannya lebih memahami siapa yang pantas untuk mengikuti olimpiade.

“Im saem, Naeun itu sering sakit. Bagaimana jika saat olimpiade tiba, ia tidak hadir? Sekolah ini bisa di blacklist.” Lee seonsaengnim tetap kekeuh dengan pendapatnya, ia memang tidak menyukai murid yang sering absen meskipun murid tersebut menyandang gelar teladan sekalipun.

“Saya yang akan menjaminnya!” Im seonsaengnim sadar jika ia sedang melontarkan jaminan konyol, semua guru tau kalau siswi Son bisa sakit kapan saja.

“Lebih baik Park sajangnim saja yang memutuskan.” Cho seonsaengnim yang sejak tadi diam mulai jengah juga. Padahal saat menentukan peserta lain, atmosfir ruang guru masih tenang tanpa argument yang pasti akan berubah menjadi perang jika dibiarkan.

Park sajangnim (Kepala sekolah sekaligus pemilik Seoul International High School) berpikir sejenak, mengamati profil dua orang siswi yang terpampang di hadapannya. “Daftarkan atas nama Jessica Tyler, tetapi kita mengirim Son Naeun… Cho saem, anda bertanggung jawab membimbing Son Naeun dan Jessica Tyler sebagai peserta olimpiade Matematika. Biarkan Jessica menjadi cadangan…” Ia sadar keputusannya memang gila, tetapi tidak ada cara lain.

Jessica Tyler adalah cucu dari pemilik JJ corporation, sekolah bisa dituntut jika Jessica tidak diikutsetakan pada olimpiade dan dijadikan cadangan. Tapi jika hanya sekedar mengandalkan Son Naeun maka reputasi sekolah sedang dipertaruhkan. Keduanya sama beresiko, jalan keluar satu-satunya hanyalah mendaftarkan nama Jessica, tapi melatih Naeun dan Jessica secara bersamaan. Jika Naeun (kandidat terkuat yang memiliki prestasi gemilang) jatuh sakit saat hari olimpiade, maka Jessica yang akan menggantikan walaupun prediksi awal sudah menyimpulkan 90% kekalahan. Siapapun yang ikut, sertifikat tetaplah berukir nama Jessica Tyler.

Terperangah, Im seonsaengnim tidak menyangka jika kepala sekolah menyetujui ide gila Lee seonsaengnim. “Park sajangnim ini keterlaluan! Jika Son Naeun haksaeng tau, ia bisa kecewa.” Ia memang guru yang paling dekat dengan para murid, nalarnya tak mampu membayangkan reaksi Son Naeun jika mengetahui hal ini.

“Im seonsaengnim, saat ini yang terpenting adalah sekolah kita bisa mendapatkan peringkat pertama.” Kalimat penegasan yang sarat akan reputasi itu meluncur bebas dari Lee seonsaengnim.

“Bagaimana dengan pendaftarannya?”

“Kebetulan persyaratan pendaftaran hanya menyebutkan data profil dan catatan prestasi. Bukan hal yang sulit untuk membuat catatan prestasi atas nama Jessica Tyler berisikan nilai Son Naeun.” Lee seonsaengnim menyodorkan catatan palsu hasil karyanya, membuat kepala sekolah Perk langsung mengakhiri rapat. Semuanya sudah selesai jadi tak perlu diperpanjang lagi.

.
.
.
.
.

Kim Youngwoon ‘ketua osis’ betjalan cepat menuju sebuah ruang kelas di koridor timur sekolah, ia mendapatkan tugas dari kepala sekolah untuk memanggil dua peserta olimpiade yang terakhir.

“Son Naeun, Jessica, kalian dipanggil ke ruangan kepala sekolah.” Ya, begitulah dirinya yang selalu to the poin.

Dua siswi yang dipanggil langsung bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ruang kepala sekolah. Mereka berfikir ada kepentingan apa hingga kepala sekolah memanggil?

“Kalian akan mengikuti olimpiade akhir bulan ini, Cho seonsaengnim akan memberikan pelatihan pada kalian.” kepala sekolah Park menjelaskan perihal keikutsertaan mereka, Naeun hanya diam dan mengangguk sebaliknya Jessica memekik nyaring karena terlalu senang.

sepasang atensi itu beralih menatap siswi yang diam dengan ekspresi datarnya. “Naeun, kau bisa kembali lebih dulu.” Perintah kepala sekolah pada Naeun.

“Ne…” Naeun membungkuk lalu berpamitan untuk undur diri sesuai perintah kepala sekolah. Tanpa ia ketahui jika Park sajangnim berbincang pada Jessica mengenai ide serta keputusan para seonsaengnim yang menggunakan identitas Jessica sebagai peserta.
Flash back end

.

.

.

.

.

Cadangan, bagi Naeun itu sebuah lelucon yang sangat tidak masuk akal. Ia ditipu habis – habisan tetapi yang mampu ia lakukan hanya membisu, melakukan protes sekalipun itu percuma karena seluruh murid tau jika Jessica adalah pemenangnya. “Kenapa selalu seperti ini? Hiks, pa-padahal aku yang menang. Hiks, mereka jahat.” semua usahanya tidak membuahkan hasil seperti yang diinginkannya.

“Padahal aku ingin memberikan kejutan pada eomma… Bahkan nama sertifikat itu juga dicantumkan nama Jessica Tyler. Hiks, mereka keterlaluan! Hiks, padahal aku sudah belajar seharian. Hiks.” Tak ada alasan untuknya berusaha tetap tegar, semua yang terjadi hari ini sangat merugikan untuknya.

Tok

Tok

Tok

ketukan pintu itu membuat Naeun terperanjat, ia mengusap air matanya dengan cepat lalu menepuk pipinya untuk menghentikan isak tangisnya.

“Naeun…” Sapaan lirih itu menggetarkan hatinya, Naeun menundukkan kepala untuk menghindari tatapan eommanya.

“Eo-eomma, wae?” Sial, bahkan suaranya tercekat saat berbicara. Ia mungkin bisa membohongi banyak orang dan pura-pura tegar, tetapi saat di hadapan eommanya, semuanya hanyalah kamuflase yang bisa terkuak dengan mudah.

Nyonya Son menggeleng, mengambil posisi di samping ranjang dan mengangkat dagu putrinya agar ia bisa melihat ekspresi yang tersembunyi itu. “Tidak ada apa-apa, eomma hanya ingin menemuimu.”

“Eoh…”

“Kau menangis?” Pertanyaan bodoh untuk mengumpan adalah yang paling tepat saat ini, Naeun bukanlah orang yang terbuka sehingga perlu mengumpannya agar berbicara perihal isi pikirannya.

“Naeun-ah, eomma tau jika kau sedang memiliki masalah. Jika kau tidak mau bercerita tak apa, eomma hanya ingin kau ingat jika semua yang terjadi pada kita adalah takdir.” Perassaan sebagai seorang ibu tidak bisa dibohongi, ia hanya ingin menguatkan hati rapuh itu secra tidak langsung.

Beberapa hari terakhir, Naeun sering pulang sore dan belajar dua kali lebih lama daripada biasanya di dalam kamar. Apapun yang disembunyikan putrinya, nyonya Son hanya berharap jika itu bukanlah sesuatu yang fatal.

Obsidian itu kembali berkaca-kaca. “Eomma… Mianhae.” Naeun sungguh tidak sanggup jika ia harus berbicara jujur, kenyataan ini sangat melukai hatinya dan ia tidak ingin ibunya memikirkan masalah ini, emosi ibunya juga perlu dijaga.

Tatapan itu semakin lekat, ia faham sekarang… Nyonya Son merengkuh tubuh Naeun ke dalam pelukannya, mengusap punggung itu dengan lembut. “Sttt,… Diskriminasi atau penghianatan, semua itu sudah sering terjadi. Hanya saja bagaimana cara kita untuk menyikapinya. Tunjukkan pada mereka jika kau bisa bertahan, jangan menangis karena merasa berbeda. Setiap manusia memiliki sisi keistimewaan tersendiri, tapi tidak semua orang bisa melihatnya. Sabar lalu hadapi semuanya, diam adalah pilihan terbaik jika kau tak sanggup untuk tersenyum. Jangan membohongi hatimu sendiri, ini ujian untukmu agar Tuhan bisa mengetahui mana yang terbaik untukmu nanti.” Naeun adalah seseorang yang tegar tetapi ia akan sensitif jika ada yang mengungkit atau memandangnya berbeda, hanya dengan melihat sorot mata itu ia bisa tau jika putrinya menerima perlakuan buruk sekali lagi, entah siapa orang yang tega ,menyakliti hati putrinya yang selembut kapas.

“Terima kasih eomma…” Lengan yang sedari tadi diam kini mulai terangkat lalu membalas pelukan itu.

Ibu dan anak itu saling berbagi perasaan dalam diam, bukankah tuhan memberi anugrah berupa ikatan batin yang kuat. Meskipun bibir tidak berbicara tetapi sorot mata sudah cukup untuk menggambarkan semuanya, bahkan mata lebih jujur dari apapun hanya saja itu berlaku untuk mereka yang peka terhadap orang lain.

“Eo, tidurlah. Tadi dokter Kim memberitahu jika besok jadwal cek up dilaksanakan lebih pagi. Eomma sudah menitipkan surat ijinmu…” Usapan lembut itu berhenti, nyonya Son menarik tubuh Naeun untuk mengakhiri pelukan mereka.

“Emmm.”

matanya melirik ke arah jam dinding, pukul 11 malam. ini sudah terlalu larut bagi Naeun, putrinya harus segera tidur agar tidak kambuh. “Jangan lupa minum obatmu sayang.” Ia melangkah menjauh meninggalkan ranjang itu lalu berbalik saat hampir mencapai pintu, sepasang netranya memandang putrinya yang masih duduk diam dengan tatapan sedih itu.

“Ne…” Naeun mengangguk.

ia meraih gelas airnya lalu menengguk obatnya ketika siluet tubuh eommanya sudah pergi. Tubuhnya sungguh lelah hari ini, malam ini ia butuh istirahat agar lusa ia bisa sekolah dan menunjukkan pada semua seonsaengnim bahwa ia bukanlah sosok yang berbeda dari perkiraan mereka.

Benteng pertahanan seorang Son Naeun bukanlah sebuah bualan semata, sepertinya ia butuh sedikit bermain kali ini. Menunjukkan pada semuanya jika Son Naeun juga memiliki kekuatan untuk melawan secara tidak langsung, ia bukanlah sebuah boneka yang hanya akan terdiam saat tersakiti.

.
.
.
.
.

“Ini surat ijin Son Naeun.” Sully menyerahkan surat ijin Naeun ke ruang guru, ia langsung pergi setelah berpamitan.

Seringai tajam itu terbentuk, Lee seonsaengnim menatap Im seonsaengnim dengan ekspresi angkuhnya. “Im saem lihatkan! Siswi kesayangan anda itu langsung sakit setelah mengikuti olimpiade, Son haksaeng itu lemah.”

Im seonsaengnim meremas ujung blazernya, ia marah saat mendapati kalimat ejekan yang tersirat itu. “Lee seonsaengnim, bisakah anda menjaga ucapan? Son Naeun sudah berjasa memenangkan olimpiade itu tapi kenapa saem malah mengatainya.” nalarnya sungguh tak menduga jika Lee seonsaengnim mampu berkata sekasar itu, padahal Naeun-lah yang mengangkat reputasi sekolah dengan kemenangan olimpiade.

“Saya berucap berdasarkan fakta…” Dengan acuh, Lee seonsaengnim melenggang pergi.

To be continue

hai… saya writers baru, mohon ramah tamahnya! ini ff kedua saya yang dibuat dalam waktu singkat jadi saya mengharap agar readers memberikan respon yang baik.

terimakasih…

 

 

 

4 responses to “Princesa de la Corona

  1. Ngga tau nie mo ngomong ap,,
    It’s really nice n good story afterall,,,
    Naeunny skit ap y???
    Skap sang guru jga t’lalu amat y,,manfaatin murid d k’untungan skolah semata,,tpi salut deh am Im saem,,
    Ngga sabar nunggu part brkutny,,
    Keep writing^^

    • To Yesung and Blackangel

      Aigoo… Thanks, jadi terharu krena respon kalian.
      Naeun jga pngen nonjok, tpi dia anak baik. Jawabnya bsa d liat seiring series ff ini. ^_^ mian, ini blesnya lwat hp. Hehehe

    • Oia, bleh mampir k wp saya klau berminat. Kkkkkk
      Tpi ff Princesa de la Corona untuk saat ini hanya akn sya posting d ffindo. Kamsahamnida ^_^

      Sya masih ngetik series lanjutannya.

  2. Ihhhhhhhhhhh rasay ingin q tonjok itu lee saem yg menyebalkan……tega bgt mrk sama ñaeun..
    Jessiça dpt serifikaty yg mengerjkan soàl naeu.hanya karena dy cucu pemilik jj coorporation.apa itu peerusahan yg mendirikan sklah itu?
    Malang bgt nasiby naeun…..dy skit apa,koq sring kambuh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s