Growing Pain [Part I]

growingpain

Author : AiDi

[Part 1] [Part II] [Part III] [Part IV]

Genre : Angst, Romance, Friendship

Rating : PG 17

Length : Chaptered

Main Cast : Choi Siwon, Lee Donghae, Lee Hyukjae, Shim Chae Rin (OC), etc..

Summary : FF ini menceritakan sebuah persahabatan yang terjadi hampir 10 tahun, namun di pada akhirnya persahabatan yang cukup lama tersebut harus berakhir hanya dengan sebuah kebohongan kecil yang membawa dampak begitu besar bagi kehidupan Siwon, Donghae dan Hyukjae. Akankah Chae Rin bersatu dengan Siwon ? Atau…Siwon kehilangan Chae Rin dan juga sahabat sahabat nya?..

————————————————————————–

“Come on Hae, kau yakin EunRi benar-benar telah meninggal ?”

“Aku harap ini hanya lelucon, Siwon. Aku bahkan belum…” dan kalimat itu pun terhenti dari bibir Donghae. Dia sadar akan satu hal.

“Belum sempat menemui nya ? Sejak awal kau yang memutuskan untuk mempercayai gadis itu. Melihat sosok nya secara nyata pun kau tidak pernah, Hae. Dengan mengatas namakan cinta kau letakkan kepercayaan mu begitu saja pada gadis maya itu”.

Tak heran jika Siwon terlihat begitu kesal menanggapi berita duka akan kematian Jung EunRi, Donghae’s girlfriend.

“Kau hanya mengenal nya melalui sebuah pesan singkat, Hae..hubungan macam apa yang hanya berjalan dalam sebuah genggaman ponsel”

“Aku tahu. Tapi perasaan ku mengatakan bahwa EunRi memang ada. She is real, Siwon”. Bahkan hingga detik ini pun Donghae masih berusaha yakin bahwa gadis yang dicintai nya-tanpa pernah bertemu sekali pun itu Nyata. Hanya mengatas namakan Cinta, Donghae meletakkan seluruh kepercayaan nya pada sosok EunRi yang abu-abu.

“Kita ke pemakaman nya sekarang”

“Tidak..” Tak perlu menunggu satu menit, Donghae segera menolak ajakan Siwon. Donghae sadar hal itu percuma. Kedatangan nya, pertemuan pertama nya dengan EunRi tidak akan mengembalikan EunRi yang Ia tahu telah pergi.

“Lebih baik kau selesaikan pekerjaan mu, dan aku harap tidak ada lagi perdebatan tentang EunRi. Biarkan dia tenang disana, Siwon”

Sekeras apapun Siwon, dia tahu benar kapan harus berhenti berdebat dengan sahabat nya. Siwon memutuskan untuk kembali ke rumah nya, meninggalkan Donghae sendiri di Lee Coorperation hingga Donghae benar benar merasa lebih baik.

“Aku tidak peduli dengan anggapan orang lain, EunRi-ah. Bagi ku, kau ada. Kau nyata. Kau ada dalam dunia ku, selalu..Wait me there, honey”..Donghae mengusap lembut bingkai foto  yang didalam nya bertuliskan sebuah nama “Lee HaeRi”. Nama yang begitu indah untuk Donghae, nama yang ingin sekali EunRi berikan jika kelak dia mempunyai sebuah putri kecil bersama Donghae.

08.30 @lee corporation..

“Selamat pagi Chef, tidak menyangka seorang Chef hebat seperti Anda bisa ditempat seperti ini sepagi ini” sapa seorang wanita muda saat Siwon baru saja memarkirkan Audi nya.

“Selamat pagi..” Siwon membalas sapaan wanita muda itu dengan lesung pipi yang tersungging di ke dua pipi nya. Nampak nya Siwon tidak mengenali siapa wanita muda yang ada di hadapan nya sekarang.

“Shim Chae Rin…” wanita tersebut tampak begitu percaya diri mengulurkan tangan nya untuk memperkenalkan diri.

“Choi Siwon.. Maaf, seperti nya kita..” belum selesai pertanyaan yang akan dilontarkan Siwon tetapi wanita muda tersebut dengan cepat memotong nya “Kita sempat bertemu beberapa kali di Macau. Kita bekerja pada satu hotel yang sama saat Chef bertugas di Macau 3 bulan yang lalu”.

“Ah..pantas jika aku tampak begitu familiar bagi mu”

“Aku yang tampak tidak familiar untuk seorang Chef seperti anda” baik wanita tersebut maupun Siwon ke dua nya tertawa mendengar penjelasan singkat dari wanita yang ber nama Shim Chae Rin tersebut.

Tak butuh waktu yang lama Nampak nya ke dua nya terlihat akrab satu sama lain. Banyak sekali yang di perbincangkan hingga mereka tidak sadar tujuan masing-masing di Lee Coorporation.

“Selamat pagi Chef” sapa Yoonhe begitu ramah pada Siwon.

“Selamat pagi, apa Donghae sudah datang ?”

“Tuan Lee ada di dalam ruangan nya, beliau tidak pulang sejak semalam. Jika Anda ingin menemuinya, silahkan masuk. Saya akan persiapkan minuman untuk anda dan Tuan Lee”

“Terima kasih Yoonhe, tapi sepertinya kau tidak perlu. Aku akan menyiapkan nya sendiri nanti..” balas Siwon dengan begitu ramah dan segera beranjak melangkah kan kakinya ke dalam satu ruangan di depan nya.

Donghae masih tertidur di atas sofa di dalam ruang kerja yang luas itu. Siwon bisa melihat dengan jelas raut wajah sahabat nya, begitu berantakan. Tidak ada kesan sama sekali yang menunjukkan bahwa Donghae seorang CEO Perusahaan besar ternama. Rupanya kabar kematian EunRi benar-benar membuatnya terguncang. Dalam tidur nya pun Donghae tetap mendekap sebuah bingkai foto yang berisi sebuah nama, Lee HaeRi.

“Hae-ah..” siwon membangunkan Donghae dengan membawa dua cangkir kopi panas yang ia letakkan di meja tepat didepan sofa dimana Donghae tertidur sejak semalam.

Perlahan aroma kopi tersebut membuat ke dua mata sembap itu terbuka.

“Siwon, kau..”

“Bersihkan wajah mu sekarang, cepat. Sebelum Kopi ini menjadi dingin”

Setelah Donghae beranjak dari sofa, Siwon mengambil bingkai foto tersebut. Dalam benak nya dia tidak bisa berpikir bagaimana seorang CEO cerdas seperti Donghae bisa mencintai seorang gadis yang tidak jelas keberadaan nya. Menjalin sebuah hubungan tanpa ada pertemuan sekalipun. Mencintai dan mempercayai tanpa ada keraguan sekalipun dari Donghae.

“Jung EunRi..aku tidak peduli kau nyata atau tidak. Aku tidak peduli apa niat sesungguhnya dari sebuah hubungan konyol seperti ini. Tapi aku sendiri yang akan memastikan bahwa Donghae tidak akan selamanya seperti ini. Dia harus bangun dan melihat kenyataan yang sesungguh nya..Pardon me, Jung EunRi”.

Sebelum Donghae kembali, Siwon dengan cepat dan sigap keluar menemui YoonHe, sekretaris Donghae yang Ia temui tadi.

“Bisa minta tolong ? Buang barang ini, dan pastikan Donghae tidak menemukan nya”

“Tapi..”

“Tenang saja, karir mu tidak akan terancam hanya karna sebuah bingkai foto ini. Terima kasih”, YoonHe pun tak kalah sigap untuk segera mengambil bingkai foto milik atasan nya tersebut. Untuk sementara YoonHe menyimpan nya didalam laci meja kerja yang slalu Ia tempati ini.

“Sejak kapan kau disini ?” tanya Donghae yang baru saja memasuki ruangan nya. Kini Ia pun sudah tampak jauh lebih segar, rupanya Ia sempat mengganti pakaian nya dengan yang baru.

“Minumlah dulu..”

“Thank you, Chef” Donghae pun menunjukkan senyum kecil dari bibirnya

“Haissh..berapa kali ku bilang, jangan pernah memanggil ku Chef, Hae! Santai lah sedikit..”

“Hahahaha..Choi Siwon, sampai kapan kau tidak bisa menerima panggilan itu ? Itu profesi mu, dunia pun mengakui kehebatan mu sebagai seorang Chef handal”

“Cih! Kau..sampai kapan kau terpuruk seperti ini ? Seorang CEO cerdas, berkharisma, tapi…”

“Ya ! Kau lupa yang ku katakan, Choi Siwon ?! Jangan mempermasalahkan dia lagi”

“Lupakan dia.. life must go on, Hae”

“Tanpa kau ajari aku sudah paham lebih dulu. Kau sendiri, kapan kau melupakan YoungJi ? Dia bahkan telah bahagia dengan keluarga kecil nya. Aku sempat bertemu dengan nya, dan ke dua putri nya yang kembar itu. Betul betul mirip YoungJi, ke dua matanya indah seperti bulan. Terlebih jika mereka tersenyum..”

“Stop, Hae.. Jangan berbicara tentang masa lalu. Aku telah melupakan nya”

Donghae yang cerdas sama sekali tidak mempercayai bahwa sahabat nya telah melupakan YoungJi. Mantan tunangan nya..mantan teman hidup seorang Choi Siwon selama hampir 10 tahun dalam hidupnya. Bagaimana mungkin Siwon bisa dengan mudah melupakan seseorang yang sudah menemani nya hampir 10 tahun. Sedangkan Donghae, yang hanya satu tahun bersama EunRi rasanya tidak mungkin sanggup melupakan sosok EunRi.

“Kau fikir aku mempercayai nya ?” donghae terlihat tersenyum dengan sinis menatap Siwon.

“Aku baru saja bertemu dengan seorang wanita, tepat di depan perusahaan ini. Mungkin ini yang dinamakan jodoh, Hae. Aku dan dia sempat bekerja di hotel yang sama saat di Macau, namun baru kali ini kita saling berbicara. Dengar aku baik baik Hae, kau harus segera melupakan EunRi. Perusahaan tidak akan berjalan dengan baik jika CEO nya seperti ini. EunRi hanya masa lalu, sedangkan masa yang akan datang masih akan terus berlanjut. Kau harus terima kenyataan”

“Tidak secepat itu, Siwon”

“Cepat atau lambat kau harus melupakan nya. Aku akan ke Hongkong, penerbangan siang nanti. Mungkin akan lama, jaga diri mu baik baik. Atau kau hubungi Hyukjae selama aku pergi”..

Bandara Incheon tampak ramai sekali siang itu. Sambil menunggu keberangkatan nya, Siwon tidak bisa berhenti sedikitpun untuk mencemaskan keadaan Donghae. Di saat terpuruk seperti ini seharusnya Siwon ada di sisi nya. Bagi nya, Donghae bukan sekedar sahabat. Bahkan melebihi sahabat, Siwon slalu menganggap Donghae seperti adik nya.

Donghae memang cerdas, mudah beradaptasi dimanapun dia berada, mudah bersosialisasi, mudah sekali orang orang untuk menyukai kepribadian Donghae yang terbilang cukup baik dan menarik. Tapi terlepas dari semua kesempurnaan itu, Siwon tau jelas betapa rapuh nya seorang Donghae. Siwon tau jelas luka seperti apa yang pernah dirasakan Donghae, terlebih mengenai ketidakharmonisan keluarga Donghae.

Itu sudah cukup menjadi alasan mengapa selama ini Siwon berusaha melakukan apa saja untuk kebahagiaan sahabat nya, dia berusaha ada dalam suka maupun duka nya. Namun tidak dengan saat ini, ketika pekerjaan menuntut nya untuk professional. Mungkin setelah di Hongkong dia bisa menemukan cara untuk membantu Donghae bangkit dari masa masa sulit nya ini.

Siwon bergegas memasuki pesawat, dengan segala macam perasaan yang berkecamuk didalam hati nya.

Beberapa hari di Hongkong, ber jam jam menghabiskan seluruh waktu nya di dapur, ternyata cukup menguras tenaga dan pikiran Siwon. Bahkan dia seperti tidak ada waktu untuk mengingat permasalahan Donghae.

“Mungkin malam ini aku harus menghubungi nya” gumam nya.

Di sisi lain, tanpa Siwon ketahui ternyata Donghae perlahan telah kembali menjadi Donghae yang semula. Dia berhasil melewati masa masa terberat nya. Sebenar nya tanpa Siwon cemaskan secara berlebihan, harusnya dia tahu bahwa Donghae masih mempunyai kemungkinan untuk bisa bangkit lebih cepat dari Ia perkirakan.

Ddrrtt….ddrrtt..

Getaran ponsel nya mengalihkan Donghae dari tumpukan berkas-berkas yang sedari pagi menyita waktu nya.

“Chef Choi Siwon..rupanya kau masih ingat untuk menghubungi ku” tawa renyah terdengar seketika melepas kesunyian malam diruang itu.

“Semua nya baik baik saja ?” tanya Siwon to the point.

Donghae jelas mengerti apa yang menjadi focus pertanyaan Siwon. “Ya, semua baik baik saja. Kau benar, keberadaan Hyukjae ternyata sangat berguna hahaha”..

“Kau sendiri ? Sampai kapan di Hongkong ?”

“Kemungkinan lama”

“Kau menghubungi ku hanya untuk bertanya seperti itu ?”

“Ya. Tapi baguslah kalau semua baik baik saja. Maaf tapi seperti nya orang orang di dapur membutuhkan ku, Hae”

Klik…sambungan suara itu pun terputus. Bahkan sebelum Donghae menjawab apapun.

Seperti biasa. Siwon merasa ada sedikit kekecewaan.

Sahabat yang slalu Ia prioritaskan, yang slalu Ia cemaskan, tetapi sepertinya tidak dengan Donghae. Mengenal Siwon cukup lama pun seperti mengenal orang-orang baru pada umum nya. Tidak mempunyai arti yang begitu berharga dalam hidupnya. Berbeda dengan Hyukjae, sahabat Donghae dan Siwon. Hyukjae tampak mempunyai arti yang lebih penting dibanding Siwon.

“Hyuk, terima kasih untuk beberapa hari ini. Siwon benar, kehadiran mu cukup membantu”

“Jadi, apa rencana mu selanjutnya ?”

“Aku sendiri masih memilih agenda mana yang akan ku ambil setelah ini”

“Pilihlah dari yang menurut mu paling mudah untuk kau kerjakan. Apapun pilihan mu aku pasti akan slalu mendukung mu, Tn Lee”ujar Hyukjae.

Sore itu Hyukjae dan Donghae tengah menunggu kedatangan seseorang di café yang tidak jauh dari pusat kota Seoul.

“Haiss..dasar wanita! Selalu lambat dalam melakukan apapun”, Hyukjae pun mulai gusar karna tamu yang mereka tunggu hampir telat dua jam. Hampir 4 cangkir kopi yang mereka berdua habiskan selama menunggu kedatangan tamu tersebut.

“Ya ! Anchovy ! Jaga ucapan mu, wanita memang  terkadang lambat melakukan beberapa hal, tapi itu lah gunanya kita sebagai laki laki. As a Leader” ini salah satu yang menarik dari seorang Lee Donghae, selalu pandai mengambil hati wanita.

“Apa dia menarik, Hae ?”

“Mungkin, jika kita melihat seorang Choi Siwon ku rasa Chae Rin tidak akan jauh berbeda dengan nya. Sempurna”  jawab Donghae seraya menyesap sedikit kopi miliknya.

“Chae-Rin ? Nama yang indah. Ah, keluarga Choi memang bibit ‘golden DNA’, Hae” ujar Hyukjae, sementara ke dua mata nya sibuk memperhatikan arah pintu café. Berharap ke dua matanya menangkap sosok perempuan sempurna yang ada di bayangan nya.

“Aku rasa juga begitu, tapi Chae Rin hanya adik tiri nya. Jadi masih ada kemungkinan jika dia tidak akan se sempurna keluarga Choi”.

Adik tiri pun tidak nyata, ini hanya permulaan awal scenario dari Siwon.

Tak lama kemudian sosok wanita itu pun menghampiri ke dua pria lajang tersebut. Dengan tubuh nya yang begitu ramping, tinggi proporsional, mata seindah mulan sabit, senyum yang menawan, tubuh yang terbalut mantel Pink, benar benar menunjukkan bahwa dia wanita yang anggun. Pantas jika menjadi bagian dari keluarga Siwon.

“Maaf telah membuat kalian menunggu lama” tampak sekali gurat penyesalan di wajahnya, dua jam bukan lah waktu yang sebentar untuk para pria itu. Namun apa lah arti dua jam itu sekarang, Hyukjae begitu terpesona ketika melihat sosok yang ada di depan nya. Bagaikan bidadari dalam mimpinya.

Dengan senyum yang tak kalah menawan nya, Donghae mengulurkan tangan nya dan mulai membuka suara. Memecahkan keheningan sesaat yang terjadi sejak Chae Rin berdiri dihadapan mereka. Paras nya yang begitu cantik tlah berhasil membuat Hyukjae dan Donghae tak bisa berkata-kata.

“Kami bisa mengerti, delay dalam penerbangan sudah hal biasa bukan ? Kau mau duduk sebentar atau..”

“Terserah oppa saja, aku tidak bisa meminta kali ini. Aku sudah berbuat kesalahan” senyum manis pun tersungging dari bibir mungil Chae Rin.

“Oh ya, perkenal kan. Dia Lee Hyukjae, sahabat ku dan Siwon. Anggap saja dia seperti kakak mu juga”

“Shim Chae Rin imnida..Maaf karna pertemuan pertama kita aku telah merepotkan” Chae Rin pun membungkuk 90 derajad didepan Hyukjae yang kala itu masih belum tersadar penuh bahwa yang didepan nya adalah wanita yang nyata, bukan bidadari dalam mimpinya.

“Santai saja, aku bukan kakak mu yang slalu menuntut untuk ontime” jawab Hyukjae dengan gummy smile- nya yang khas.

“Shim Chae Rin ? Ah, aku kira kau memakai nama keluarga seperti kakak mu. Tapi lupakan lah, aku akan memanggil mu Cherry. Aku rasa lebih mudah memanggil mu Cherry. Dan aku yakin kau tak akan menolak kan” Hyukjae penuh percaya diri sekali mengatakan nya, seolah olah dia tidak pernah kesal sebelum nya mengingat dua jam yang hampir membuat nya mati dalam ke bosanan.

Tak butuh waktu yang lama, mereka bertiga segera meninggalkan café tersebut.

From : Siwon Oppa

‘bagaimana ? apa semua berjalan sesuai rencana ? Jangan lupa untuk sering memberi ku kabar’

Setelah membaca pesan singkat dari Siwon, Chae Rin pu merebahkan tubuh nya diatas ranjang yang luas dan bernuansa putih.

Permainan di mulai..dan cukup melelahkan pikiran nya.

“Chef hebat seperti Choi Siwon ternyata mampu melakukan hal gila seperti ini. Aku pikir dalam hidup nya hanya berisi tentang makanan dan dapur. Pertama kali nya  menemukan persahabatan laki laki semacam ini” gumam Chae Rin saat Ia menutup matanya sejenak.

Chae Rin hanya berbicara dengan diri nya sendiri. Sebelum Ia benar benar terlelap dalam tidurnya, Ia memikirkan banyak hal tentang permainan gila ini. Tak habis pikir oleh nya, masa cuti nya akan dihabiskan dengan ber-akting.

Ber-akting seolah-olah dia adalah adik tiri Siwon yang telah lama terpisah dari keluarga Choi. Tanpa Donghae sadari, Chae Rin lah sosok wanita yang sempat Siwon cerita sejak pertemuan terakhir mereka. Chae Rin pun belum menyadari adanya getaran perasaan yang berbeda dari seorang Chef yang sebetulnya Ia kagumi sejak lama.

“Berpura-pura menjadi orang lain. Ini mudah, Chae Rin. Kau hanya perlu menghabiskan waktu bersama ke dua orang itu. Sampai Siwon kembali ke Seoul, demi seorang Lee Donghae agar terlepas dari bayang-bayang EunRi”..Chae Rin masih berusaha meyakinkan diri nya sendiri bahwa permainan ini tidak lah begitu sulit. Toh Siwon tidak menuntut Chae Rin untuk menjadi kepribadian yang lain. Cukup menjadi diri nya sendiri dan membuat Donghae kembali menemukan semangat hidupnya yang baru.

To : Siwon Oppa

‘Semua baik-baik saja. Aku masih tidak menyangka pertemuan kita waktu itu akan berakhir seperti ini. Tapi tenang lah oppa, sahabat mu akan segera kembali seperti yang kau harapkan. Selamat malam, jangan lupa istirahat’

Bahkan ketika matanya mulai terasa berat pun sepertinya Chae Rin masih harus memikirkan Chef yang Ia kagumi.

Bagaimana tidak, sosok Siwon yang terlihat begitu sempurna, ternyata menyimpan begitu banyak rahasia. Beban yang tak sedikit, tak mudah, semua seakan akan ada dipundak nya. Mungkin wajar jika semua itu bisa membawa pengaruh buruk pada kesehatanya.

“Hai, good morning!” hyukjae terlihat semangat sekali pagi ini. Terlalu bersemangat juga menyapa Chae Rin hingga tanpa sadar Ia mengecup pipi kanan Chae Rin.

“Oppa…! Kau mengagetkan ku saja. Kau sendirian ? Donghae oppa kemana ?”

“Dia harus bertemu beberapa client nya pagi ini. Tapi dia akan meluangkan waktunya untuk menemani mu hari ini. Sementara ini kita hanya berdua, cherry. Kau merasa keberatan ?”

“Tidak sama sekali, oppa” chae rin pun tersenyum dengan manis nya kali ini, tak pelak senyum nya pun berhasil membuat Hyukjae sedikit tersedak ketika mengunyah sandwich buatan Cherry-nya.

“Sekarang ceritakan pada ku, bagaimana bisa kau memutuskan untuk kembali pada keluarga Choi” sementara itu, Hyukjae begitu menikmati sarapan paginya yang berbeda kali ini. Dengan bidadari manis seperti dalam mimpinya.

“Siwon oppa dan aku bukan lah dua anak kecil seperti dahulu, kita sama sama sudah dewasa. Tidak ada gunanya mempermasalahkan apa yang sudah terjadi dengan ke dua orang tua kita, toh kita tidak sedang menjalani kehidupan di masa lalu. Jadi kita putuskan untuk menjalani hubungan ini dengan baik, bagaimanapun juga sebuah keluarga jauh lebih baik jika menghabiskan waktu bersama. Bukan memisahkan diri hanya karna kekesalan dimasa lalu. Tapi sayang sekali, oppa sepertinya akan lama di Hongkong”

Meski ini hanya permainan, namun raut kesedihan yang baru saja terlihat dari muka Chae Rin bukan lah main-main. Tanpa Ia sadari Ia sedih karna Ia sadar akan sedikit sekali waktu yang bisa Ia dapatkan untuk bisa berada dekat dengan sosok yang Ia kagumi. Yang lebih menyedihkan, ketika Ia sadar perasaan nya pun telah ikut dipermainkan karna sandiwara gila ini.

Bagaimana mungkin dia bisa membuat Donghae jatuh hati padanya, ketika disaat yang bersamaan Ia sadar bahwa perlahan hati nya slalu mencari cari sosok seorang Siwon.

“Tapi kalian sudah terlihat begitu akrab satu sama lain, seperti tidak ada masalah”, bukan hal yang aneh jika pernyataan seperti ini akan terlontar dari bibir Hyukjae ataupun Donghae. Dan Chae Rin pun telah menyiapkan jawaban yang tepat,

“Siwon oppa yang membuat keadaan kita bisa sehangat sekarang, Oppa. Kalian sendiri sudah berapa lama bersahabat ?”

“kurang lebih 7 tahun aku bersahabat dengan nya, kecuali dengan donghae. Dia lebih dulu mengenal kakak mu”

“Itu waktu yang tidak sebentar, oppa. Apa kalian sudah seperti saudara ? Maksud ku, missal saja apa kalian tahu kebiasaan satu sama lain, karakter masing masing dari kalian, bahkan..hal terpenting seperti perasaan, dan kesehatan, apa kalian saling tahu ? Aku ingin tahu lebih banyak tentang persahabatan kalian, Oppa”

Chae Rin cukup pintar memanfaatkan situasi. Kesempatan yang tepat untuk memastikan bahwa memang Siwon sebenar nya sedang tidak dalam keadaan yang baik..

“Um…tau” jawaban yang cukup menggantung menurut Chae Rin.

“Donghae, dia yang terbiasa terlihat peka. Dia benci makan sendirian, kau bisa buktikan itu nanti. Dia yang paling mudah menangis. Ceroboh. Dia pandai membuat lagu, meski seorang CEO Perusahaan besar tapi jiwa seni tetap ada dalam diri nya” hyukjae begitu hafal semua tentang Donghae. Tanpa sedikitpun dia menyebutkan tentang Siwon.

“Aku tidak keberatan jika Donghae oppa membuat satu lagu untuk ku, selama ini tidak ada yang membuat lagu untuk ku” kali ini Chae Rin berpura-pura untuk terlihat seolah olah dia tertarik dengan Lee Donghae.

“Katakan itu di depan nya, Cherry. Orang seperti Donghae pasti akan sulit menolak permintaan seperti itu, terlebih dari gadis yang menggemaskan seperti mu” hyukjae sedikit tersenyum ketika memuji Cherry-nya.

“lalu bagaimana dengan Oppa ku ? Aku tidak mendengar sedikitpun tentang nya dari Oppa”

“Siwon ? Dia yang paling beruntung diantara kita bertiga. Kalaupun ada hal yang tidak menyenangkan, mungkin hanya ketika YoungJi berpisah dengan nya. Tapi hal itu tetap tidak sebanding dengan apa yang terjadi dalam hidup ku dan Donghae. Kakak mu orang yang beruntung meski kurang ekspresif”

Chae Rin hanya bisa tersenyum sedikit ketika HyukJae menjelaskan tentang Siwon. Ada sedikit kekhawatiran yang berkecamuk di dalam hati dan pikiran nya saat ini..

“Oppa, Cherry ke kamar sebentar. Ponsel ku tertinggal di kamar, aku takut Siwon oppa menghubungi ku. Habiskan sarapan nya atau aku tidak akan memasak lagi untuk Oppa”, sedikit mengancam tetapi Chae Rin tetap mempesona dimata HyukJae saat itu.

Tbc..

 

6 responses to “Growing Pain [Part I]

  1. Pingback: Growing Pain [Part IV] | FFindo·

  2. Pingback: Growing Pain [Part III] | FFindo·

  3. Pingback: Growing Pain [Part II] | FFindo·

  4. Pingback: Growing Pain [Part V] – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s