Protect you [Chapter 1]

IMG_20160503_015215

Protect you

By

Hayyziyi

Cast

Park Jisoo | Lee Taeyong | Kim Jongin

Rating

PG-15

Genre

  Romance 

“ku dengar kau berkencan dengan siswa dari Sekolah Hodang.” dibanding kalimat tanya, perkataan laki-laki yang kuklaim sebagai sahabatku sejak kecil itu lebih cocok disebut kalimat pernyataan. Bagaimana tidak? Karena satu sekolahpun langsung heboh saat mengetahui aku berkencan dengan Kim Jongin, atau yang lebih terkenal dengan sebutan Kai.

Kuakui pemuda itu memang tampan. Sangat. Kulitnya yang eksotis, entah faktor gen atau karena dia merupakan atlit futsal di Hodang menambah kerupawanan wajahnya

Sepertinya aku perlu menjelaskan. Aku bukan siswi yang begitu terkenal di sekolahku. Tapi bukan berarti aku culun. Aku lumayan well know untuk ukuran murid SMA yang tidak mengikuti satupun ekstrakurikuler di sekolah. Lalu bagaimana aku bisa mengenal Kai?

Sebenarnya itu bisa disebut kecelakaan kecil. Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang dari supermarket dengan kantung belanjaan ditangan kanan-kiriku. Namun naasnya saat itu seekor anjing Beagle berlari kearahku. Aku yang tidak siap dengan terjangannya kontan jatuh dengan belanjaanku yang berserakan dimana-mana.

Dan sepertinya entah merasa bersalah atau kepala anjing jadi pusing setelah menabrakku, dia diam tak bergeming dengan lidah menjulur keluar melihatku yang mengaduh kesakitan. Beruntungnya saat itu sebelum mulut jahatku sempat mengumpat, Kai datang dengan tergesa. Wajahnya terlihat panik begitu mengetahui anjing kesayangannya menabrakku.

Dia buru-buru membantuku membereskan belanjaanku dan meminta maaf berkali-kali. Aku yang saat itu memang tidak tahu siapa Kai hanya mengiyakan saja lalu cepat-cepat berlalu karena memang belanjaanku yang cukup berat membuatku ingin cepat-cepat sampai di rumah.

Katakanlah aku terlalu percaya diri, tapi kurasa karena responku yang terlalu acuh pada Kai, membuatnya tertarik padaku.  Saat aku sudah berjalan beberapa langkah ia dengan setengah berlari menghampiriku, diikuti oleh anjingnya tentu saja. Kai menawarkan diri untuk mengantarku pulang karena merasa bersalah, dia juga menawarkan membantuku membawakan kantung belanjaanku.

Tentu saja saat itu aku langsung mengiyakan, bukan karena ia tampan. Dia memang tampan. Tapi sahabatku yang satu ini jauh lebih tampan –menurutku sih- jadi anggaplah aku sudah kebal dengan pesona laki-laki tampan.

Lalu begitulah, kami sering bertemu tanpa sengaja –atau yang akhir-akhir ini ku sadari bahwa itu kesengajaan yang direkayasa Kai- dan sering mengobrol bersama. Bertukar nomor handphone, lalu kami berkencan.

Hanya sesimple itu. Tapi aku heran, kenapa satu sekolahku bisa tahu aku berkencan dengannya. Karena seingatku aku tidak pernah bercerita pada siapapun mengenai Kai

“hey kau belum menjawab pertanyaanku.”

“menyebalkan! Berhenti menjepretku dengan karet, Taeyong!” aku balas melemparinya dengan bantal. Sial, aku baru saja menata kamarku dan sekarang bahkan spreinya sudah berantakan kemana-mana

“makanya jawab aku.”

“iya, aku berkencan dengannya. Puas?”

Setelah menjawabnya aku mengecek ponselku. Ada satu notifikasi line dari Kai

 

From : Kkamjong

Sedang apa? Ayo beli es krim bersama. Kutraktir :) 

“hei, Jisoo kemari.”

Kulihat Taeyong kini menyandarkan tubuhnya pada headboard. Dia menatapku dengan poninya yang telah ia sisipkan ke belakang. Aku menghembuskan nafasku dalam. Sepertinya Taeyong akan mengintrogasiku. Buru-buru kulangkahkan kakiku mendekatinya.

“ya!” pekikku kaget ketika Taeyong dengan tidak sabaran menarik tanganku hingga aku terduduk dihadapannya “kenapa sih, Taeyong” aku bersungut

“kau serius berkencan dengannya?”

molla. Aku baru berkencan dengannya tiga hari yang lalu, Tae.”

“baru berkencan? Atau sudah berpacaran?”

“kami baru berkencan, Tae. Tenang saja.” Dia mengacak rambutnya frustasi.

“dia cukup terkenal, Ji”

“iya aku tau, lalu kenapa?” tanyaku heran

“teman wanitanya banyak.”

“lantas?” oke aku tidak paham. Sungguh.

“aku takut dia mempermainkanmu.” Setelah berkata seperti itu dia menutup wajahnya yang kuyakini memerah. Astaga, bisa malu juga dia ternyata.

“hahaha, ya ampun, Taeyong. Lalu apa masalahnya?” setelah berkata seperti itu dia tidak kunjung menjawab. Dia malah membaringkan badannya terlungkup, sehingga kini yang tertangkap mataku hanya punggungnya yang terbalut kaos abu-abu

“arrggh! Kau ini bodoh atau bagaimana sih Ji.” suaraya terdengar sengau karena wajahnya yang tertutup bantal “aku tidak ingin kau sakit hati, bodoh.”

Setelah itu hening. Aku tak membalas perkataannya. Kini aku ikut-ikutan berbaring disebelahnya. Menatap langit-langi kamarku yang bertaburkan bintang glow in the dark yang pernah kupasang bersama Taeyong saat SMP

Menyadari aku yang tak kunjung menjawabnya, Taeyong memiringkan tubuhnya menatapku. Aku yang sadar bahwa sedang ditatap olehnya tersenyum kecil

“Taeyong ah, sepertinya kita harus menempel bintang baru. Kemarin bintang-bintang itu jatuh saat aku tidur.” ucapku lalu menunjuk langi-langit kamarku yang tempelan bintangnya sudah tidak sebanyak dulu

“kita bisa membelinya nanti.” Dia kemudian merubah posisinya menjadi berbaring, kemudian menyusupkan lengannya dibawah kepalaku. Membuat kepalaku yang semula beralaskan bantal berubah menjadi beralaskan lengan kekarnya yang memelukku posesif. “sebelum itu, kau harus bercerita padaku tentang teman kencanmu itu.”

yeah, ngomong-ngomong tentang teman kencanku, dia barusan mengirimiku pesan.”

“dia bilang apa?” tanyanya kemudian menarikku ke pelukannya.

“dia mengajakku makan es krim” jawabku sambil memainkan ujung kaosnya

“cih, yang benar saja laki-laki seperti itu popular. Triknya benar-benar kuno”

“dia memang bukan playboy sepertimu, Tae.”

“dan bisa kupastikan aku seribu kali lebih tampan dari pada dia”

“untuk yang satu itu aku tidak bisa mengelak.” aku terkikik kemudian mendorong dadanya “hey, ini sudah jam tiga. Bukankah kau ada kencan dengan Hyuna?” aku bangkit dari dekapannya kemudian menghampiri ponselku yang tergeletak diatas meja belajar

“apa yang sedang kau lakukan? Jangan bilang kau ingin membalas pesan teman kencanmu itu.” Taeyong berujar dengan nada kesal

“tentu saja, apalagi memang?”

“letakan ponselmu, Ji” kuhiraukan perkataan Taeyong yang sarat akan kecaman

“ya! Park Jisoo!”

Buru-buru kusentuh layarku yang menampilkan tulisan ‘send’ saat ekor mataku menangkap Taeyong yang beranjak dari kasurku kemudiann menghampiriku dengan wajah menyeramkan. Dia dengan cepat menyambar ponselku, kemudiann melepas baterai yang semulai bersemayam dengan indah didalamnya

“dengarkan aku, Park Jisoo.” wajah Taeyong yang berubah merah bukanlah pertanda baik

Buru-buru kutangkupkan wajahnya yang terasa panas ditelapak tanganku “aku mendengarmu, Lee Taeyong.” kuusap wajanya pelan yang kini sudah tidak semerah tadi “jangan marah, okay?”

Dia menarik nafas dalam kemudiann memalingkan wajahnya kearah lain. Setelah itu dia melepaskan tangkupan tanganku dan berjalan kearah pintu

“kau ingin kemana, Tae?”

“kencan.”

Lalu suara berdebam dari pintukulah yang mengakhiri pembicaraan kami. Aku menghelas nafasku kasar. Sedikit menyesal karena telah menolah tawaran Kai tadi. Tapi setelah kupikir-pikir memang lebih baik aku menolak ajakannya. Apa jadinya jika Taeyong tau aku menerima ajakan Kai tepat didepan matanya? Aku tidak bisa membayangkan akan berakhir seperti apa keadaan kamarku jika itu terjadi

Taeyong memang mengerikan jika sedang marah. Emosinya sangat tidak stabil. Aku pernah mengatakan padanya untuk belajar mengendalikan emosinya. Awalnya dia tersinggung dan membentakku. Kemudian dia meninggalkanku dengan wajahnya yang merah padam. Meskipun setelah itu dia meminta maaf karena telah membentakku, hal itu lantas membuatku sedikit takut padanya.

Sifatnya tentu bukan tanpa alasan. Anggap saja sebuah pelarian dari sang ayah. Ayah Taeyong sangat keras dan otoriter dalam mendidik anak-anaknya. Tidak ada yang bisa Taeyong lakukan selain berkata ‘ya’. Kurasa dari situlah kepribadian Taeyong yang emosional terbentuk. Hidup dengan tiga orang laki-laki dalam satu atap tidaklah mudah. Ditambah dengan perangai ketiganya yang hampir sama. Jika aku jadi Taeyong mungkin aku sudah gila.

Ibu Taeyong sudah meninggal sejak kami masih sekolah dasar. Hingga kami SMA tidak pernah kudengar ayah Taeyong dekat dengan wanita lain. Sebut saja beliau adalah orang yang setia. Tapi aku bingung kenapa kesetiaan beliau tidak menurun pada kedua anaknya. Baik Taeyong maupun Lee Joon oppa -kakak Taeyong- keduanya gemar mempermainkan perasaan wanita.

Aku beranjak membereskan spreiku yang awut-awutan. Kemudian meraih novel yang kupinjam dari perpustakaan beberapa hari yang lalu. Aku baru membaca sekitar 15 menit ketika pintu kamarku kemudian terbuka dan menampilkan Taeyong masih dengan kaos abu-abu yang melekat ditubuhnya. Ditangannya terdapat kantung plastik yang ku prediksikan di dalamnya ada beberapa makanan ringan dan es krim. Aku mengangkat sebelah alisku

“kukira kau kencan dengan Hyuna” setelah mengatakan itu kepalaku kembali berhadapan novel. Mataku menyusuri kata demi kata yang tiba-tiba saja sulit tercerna olehku. Entah sejak kehadiran Taeyong diruangan ini membuat konsentrasiku buyar

Taeyong melangkahkan kakinya menuju karpet bulu-buluku yang berada tepat disamping tempat tidur. Kulihat dia mengeluarkan seluruh belanjaannya. Mataku tanpa sengaya menangkap es krim strawberry yang ia letakan diatas meja disamping tempat tidurku

“aku tidak dalam mood yang bagus untuk berkencan” setelah mengatakan itu terdengar suara renyahan kripik kentang yang menggema dari mulutnya. Bisa kupastikan setelah ini aku harus membersihkanya kembali. Oh karpet bulu-buluku yang malang

“ohh” setelah mengatakan itu mataku kembali terfokus pada novel digenggamanku. Berusaha menyelami kata yang dipaparkan oleh penulis. Kegiatanku berjalan lancar hingga suara Taeyong kembali menginterupsiku

“aku membelikanmu es krim.”

“…” aku hanya membalasnya dengan anggukan

“cepat makan sebelum meleleh.”

“letakan saja di kulkas. Akan kumakan nanti.” setelah itu tidak ada percakapan diantara kami. Aku sibuk dengan novelku. Mungkin Taeyong sibuk memakan camilannya.

“Ji.”

“hm?”

“…”

“…”

“tentang yang tadi, aku minta maaf.”

aku tersenyum tipis “lupakan saja. Aku tahu kau hanya emosi” aku bicara tanpa menatapnya. Jujur aku masih sedikit kesal padanya. Aku kesal dengan sifatnya yang selalu bertindak sesuka hati

“kau tidak menatapku.”

“kau tidak lihat aku sedang membaca?”

Taeyong beranjak mendekatiku. Merebut paksa novelku kemudia meletakannya dimeja. Apa kubilang. Dia memang selalu bertingkah sesuka hatinya

“apalagi, Tae?” aku berujar dengan nada kesal

“aku minta maaf, Ji”

“kau tidak benar-benar tahu ya makna dari meminta maaf?” aku tersenyum tipis sambil menatapnya

“aku minta maaf, Ji. Aku menyesal membentakmu seperti tadi”

Selalu begitu. Raut wajahnya yang memelas selalu berhasil membujuk egoku untuk mengalah

“iya. Lupakan saja, Tae. Sudah kubilangkan aku paham kau hanya sedang emosi tadi” aku tersenyum, kali ini sembari menatapnya. Bisa kulihat raut wajahnya yang terlihat lega saat aku tersenyum padanya

“hahh. Kau tau? Kau membuatku takut tadi” dia kemudian membaringkan tubuhnya diranjangku. Lengannya bergerak posesif mengunciku dalam kungkungannya

“takut kenapa?”

“entah. Aku takut setiap kali mendapatimu bicara tanpa menatapku. Meskipun tatapanmu itu menyebalkan dan mengintimidasi, tapi aku suka saat kau menatapku” dia menampakan deretan gigiya yang terpajang rapi. Membuatku gemas ingin mencubit pipinya

“kenapa harus takut? Dan sekedar pemberitahuan, tatapanku itu tidak mengintimidasi tuan.”

“hahaha. Entah. Aku lebih nyaman saat kau menatapku. Dan lagi, ketika kau bicara tanpa menatapku membuatku merasa aku bisa kehilanganmu kapan saja.” dia bicara sambil mengeratkan pelukannya padaku

“kau terlalu berlebihan, Tae.” Aku balas melingkarkan lenganku pada perutnya “oh iya, kau sudah memberitahu Hyuna  kalau kalian tidak jadi kencan? Jangan sampai dia menunggumu.”

“tentu saja sudah. Laki-laki macam apa yang membiarkan wanita menunggu?” serunya diikuti tawa jenaka

what the hell. Kau bahkan mempermainkan hati banyak wanita, Tae.” sungutku

“sekedar pemberitahuan ya. Aku tidak mempermainkan mereka. Mereka yang memintaku menjadi kekasih mereka. Justru karena aku baik aku mengiyakan ajakan mereka agar mereka senang.”

“menyenangkan pantatmu. Setelah itu kau akan memutuskan mereka, dan membuat mereka menangis berhari-hari, Tae.”

“jangan salahkan aku kalau begitu. Mereka yang terlalu agresif. Membuatku risih. Ya sudah kuputuskan.”

“sialan kau. Seharusnya tidak usah kau pacari mereka dari awal.”

“aku hanya mencari yang tepat Ji. Wajarkan kalau aku ingin mendapatkan seseorang yang tepat?”

Aku tidak membalas ucapannya. Sudah terlalu malas berdebat dengannya mengenai kebiasaanya mengencani banyak wanita. Dia pasti memiliki 1001 alasan untuk mengelak dari tudinganku bahwa dia mempermainkan hati wanita

“oh ya Ji, ngomong-ngomong kapan kau akan mengenalkanku dengan teman kencanmu itu?” dia melepaskan pelukannya berganti menatapku

“Kai maksudmu?”

“siapa lagi? Memang teman kencanmu ada berapa?” tanyanya sinis

“hehehe” aku meringis “memang harus kukenalkan padamu?”

“haruslah! Aku harus tahu laki-laki seperti apa yang berani mengencani sahabatku!” dia bersungut

“untuk apa? Kau bahkan tidak pernah mengenalkan teman kencanmu padaku” aku mengerutkan dahiku

“tentu saja berbeda Ji. Teman kencanku ‘kan banyak. Lagi pula mereka tidak mungkin menyakitiku. Berbeda denganmu. Kalau teman kencanmu mempermainkanmu, mereka harus bersiap memperoleh tinju dariku!” Taeyong memamerkan tangannya yang terkepal

“ah malas. Lagipula Kai dan kau itu berbeda. Dia tidak suka mempermainkan hati wanita”

“ck. Kau terlalu naif, Ji. Hati laki-laki siapa yang tahu. Bisa saja besok dia bermain dengan wanita lain”

“ya! Kau mendoakanku seperti itu ya?!” aku mencubiti pinggangnya

“aduh aduh Ji ampun. Bukan. Bukan seperti itu. Aku hanya mengantisipasi” dia kemudian mencekal tanganku “kau satu-satunya harta yang kumiliki. Aku tidak ingin kau terluka” dia menatapku dengan mata teduhnya. Membuatku terpaku untuk beberapa saat

“ya kau benar. Kau akan selalu melindungiku ‘kan, Taeyong?” aku bertanya sambil menatap matanya

“tentu saja, kau  ‘kan sahabatku Ji” Taeyong bicara sambil menatapku dengan matanya yang teduh. Tetaplah seperti ini, Tae. Tetaplah menjadi Taeyong yang melindungiku

TBC

halawww aku bawa ff baru lagi :3 kali ini cast nya siabang ganteng keluarannnya SM :3 lg kesemsem banget sama abang yang satu ini. Ngiler banget lah kalo udah liat dia joget joget pake pasang wajah datar datar menggodanya itu ugghhh. komen dong biar aku semangat ngelanjutinnya :’) kasi masukan juga, kira-kira kalian pengen ff ini atau ffku yang lain kelanjutannya gimana. Soalnya jujur kalo protect you aku belum terlalu ada gambaran. ada sih, cuma samar-samar/? pokoknya lagi kesemsem aja terus pengen bikin ff pake cast si abang ini titik. hohoho.

Mind to review?

 

Hayyziyi

4 responses to “Protect you [Chapter 1]

  1. Hi, Alya.

    Karena ini Taeyong. Aku pasti baca. Dan setelah di baca, ini ceritanya menarik. Haha…

    Teman masa kecil ya, tapi masing2 mereka sudah punya pasangan. Apa bisa bertahan seperti itu? Haha
    Karena kata seseorang, lelaki dan perempuan itu ga bisa hanya cuma berteman baik. Getaran-getaran itu pasti ada. Hoho..

    Ohya, itu Jisoo nya OC kah? Atau member idols? Aku bayangin yg real aja ya, soalnya aku suka banget sama Shin Ji Soo nya Tahiti, jadi aku bayangin cewenya jadi dia. Haha

    Dan ada beberapa sih yang aku harus komenin,
    Pertama, well know itu seharusnya well known.
    Kedua, digenggamanku, dimeja, disamping, diranjangku, dan mungkin ada beberapa yg lain lagi, itu seharusnya kata depan di, dipisah menulisnya menjadi di genggamanku, di meja, di samping, di ranjangku. Tapi untuk di yang diikuti kata kerja, nah itu baru disambung. Hehe

    Nice fict overall
    Ditunggu kelanjutannya ya, Al.
    Terus berkarya dan fighting!

    Cca Tury.

  2. Hai Hayyziyi,

    Walaupun aku SM-stan, tetep aja aku belum tau yang namanya Taeyong itu😀 cuma sekedar pernah baca doang,, tapi gara-gara ffmu ini kayaknya Taeyong cowok ganteng kayak Sehun.. kekeke,,

    Mau review dikit aja, karena sebagian udah dikomentar sama ccatury, kekeke..
    Penulisan selesai 1 paragraf biasakan ada tanda titiknya ya. Terus, kalau dialog itu, setelah tanda petik (“) pembuka, huruf paling depan harus kapital ya. Sama ada beberapa dialog, sebelum tanda petik (“) penutup, biasakan ada tanda koma (,) kalau mau ada kelanjutan penulisan di 1 paragraf atau tanda titik (.) kalau udah selesai di paragraf itu^^

    By the way, ditunggu kelanjutan ff ini yapss😀 aku suka kok, hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s