Rompecorazones #4

rmpcrzns(1)

Credit pic: diramadhani

Taeyong, Nayoung, others.

by Cca Tury

Previous: [1] [2] [3]

“Tidak bisakah senyum indah itu hanya aku yang melihatnya?” -Lee Taeyong-

“YEAAH! WOW!”

Bapak Ahn, wakil kepala sekolah berseru. Taeyong dan Sungjae tidak yakin dengan arti seruannya itu. Yang jelas itu bukan ungkapan hati senang karena wajahnya benar-benar merah padam dengan mata yang menyala. Berkali-kali ia mengerat giginya.

“KAU! Yook Sungjae!” Lagi-lagi pak Ahn berseru. “Kau bahkan belum pernah punya catatan buruk sedikit pun di sekolah kita ini, bagaimana bisa kau merusaknya dalam hitungan detik! Poinmu berkurang hampir setengah!” Pak Ahn menghempas buku catatan siswa di atas meja kerjanya. Sungjae menelan ludah membasahi kerongkongan. Berkelahi di sekolah memang merusak buku catatan kebaikan siswa. Sebelum ini dia bahkan tidak pernah mencoba mencoret-coret atau mengotori aset sekolah untuk menghindari kotornya buku catatan siswa. Tapi, itu benar-benar menjadi kotor dengan sekali pukulan.

“Lee Taeyong!” Pak Ahn berpindah pada Taeyong. “Kau bahkan baru dua hari di sini, dan kau sudah memukul temanmu? Catatan kebaikanmu bahkan belum ada dan kau sudah mengotorinya!”

Taeyong hanya menghela nafas jengah. Melirik sembarangan asal bukan pak Ahn yang berteriak di depan wajahnya. Tidak masuk akal sekali, menurut Taeyong, bagaimana bisa seseorang dinilai dengan beberapa poin di buku catatan kebaikan? Apalagi jika dikatakan untuk menjaga nama baik sekolah, sungguh, hal seperti itu sama sekali tidak bisa membatasi sikap seseorang. Jangan katakan jika ibu tirinya yang membuat peraturan semacam ini. Apa ibu tirinya sama saja dengan ayah? Gila kehormatan? Gila nama baik?

“Jadi bagaimana ini?! Hukuman apa yang pantas untuk kalian?!”

Taeyong berdecak lagi. Poin kebaikan sudah dikurangi dan mendapat hukuman pula, mereka kira sekolah ini semacam wajib militer? Wah, dia jadi ingin benar-benar tahu seberapa terpandangnya sekolah milik ayah dan ibu tirinya ini, hingga penghuninya tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apa pun.

“Baiklah, kalian—“

Belum selesai kalimat pak Ahn, pintu ruang bimbingan konseling terbuka. Pak Ahn membungkuk badan menyapa kepala sekolah yang datang. Taeyong terkekeh jengah tak bersuara, bahkan dia sudah bosan melihat wajah ini di rumah mereka, dan kenapa pula dia perlu datang mengurusi perkelahian kecil macam ini.

“Hukuman kalian membersihkan aula sekolah dan semua toilet siswa laki-laki sepulang sekolah,” ujar ibu kepala sekolah. Sungjae menundukkan kepalanya dengan lirih iya yang lemah menerima hukuman. Sebenarnya dia keberatan karena jika boleh jujur, toilet siswa lelaki adalah neraka, apalagi jika dimasuki sepulang sekolah.

“Yook Sungjae, kau boleh kembali ke kelasmu. Dan Lee Taeyong—“ Ibu kepala sekolah melirik dan sejenak menghela nafasnya sebelum melanjutkan kata-kata. “Ikut aku ke ruang kepala sekolah!”

***

Nayoung langsung saja mendekati Sungjae yang baru keluar dari ruang bimbingan konseling sekolah. Lalu matanya bersirobok singkat dengan milik Taeyong yang juga ikut keluar dari ruangan. Tapi, Taeyong kemudian terus melangkah, mengikuti ibu kepala sekolah.

“Taeyong kenapa?” tanya Nayoung pada Sungjae. Dia sedikit khawatir. Taeyong bukan pendengar yang baik, apalagi jika ibu tirinya yang menasehati. Berharap saja tidak terjadi sesuatu.

“Dia di panggil ibu kepala sekolah menuju ruangannya. Aku tak tahu kenapa hanya dia, apa mungkin karena dia mantan kriminal yang memukul siswa biasa-biasa saja?”

Nayoung berdecak kesal. “Berhenti mengatainya kriminal!” Padahal Sungjae mengakui dirinya sudah ahli dengan kasus yang dilakukan Taeyong, tapi sepertinya dia tidak tahu dengan fakta Taeyong adalah anak kepala sekolah.

“Ini pakai di wajahmu!” Nayoung menyodor kasar plester luka untuk Sungjae.

“Kau mau kemana?” tanya Sungjae pada Nayoung yang mulai melangkah.

“Melihat Taeyong.”

“Wah, kau benar-benar menyukainya ya?”

“Aku tidak bilang begitu!” seru Nayoung, dia bahkan mempercepat langkahnya.

“Padahal dia juga menyukaimu.” Dengan senyuman, Sungjae berbicara sendiri, Nayoung yang sudah cukup jauh pasti tidak mendengar kalimatnya. Tapi sungguh, Sungjae yakin sekali dengan kalimatnya, karena rasa sakit pukulan Taeyong di wajahnya masih terasa berdenyut. Pukulan yang ia dapat karena Taeyong melihat tangannya memegang lengan Nayoung tadi.

Sungjae lalu terkekeh kecil sembari melambai tangan mengiringi kepergian Nayoung yang bahkan sudah tidak melihatnya lagi.

***

“Taeyong, berhati-hatilah di sekolah. Jangan sampai kau menjelekkan nama ayahmu!”

Taeyong tak menjawab. Baginya, nasehat yang seperti ini sudah basi. Dia sudah terlalu sering mendengar kalimat jangan menjelekkan nama ayah itu.

“Ibu hanya tidak mau kau berurusan dengan polisi lagi. Kau pikir bagaimana khawatirnya aku dan—“

“Jangan bersikap seolah anda adalah ibuku.” Taeyong tersenyum manis dengan terpaksa. Dia bosan dengan sikap baik ibu yang ini. Dia bahkan tidak bisa sama sekali membaca apa maksud dari sikap baik itu.

“Berhentilah bersikap begitu. Tidak bisakah kau terima aku sebagai ibumu? Kau juga anakku, sama seperti Chanyeol. Dan kau tidak perlu takut dengan aku dan Chanyeol yang akan mengambil kekayaan ayahmu. Semua itu milikmu!”

“Sebaiknya anda tidak membicarakan masalah pribadi di sekolah.” Sikap Taeyong masih saja dingin. Ibu menghela nafas, memijat pelan kepalanya yang tiba-tiba sakit. Ini sudah tahun ke lima, entah bagaimana cara meyakinkan seorang Lee Taeyong.

“Jika tidak ada yang ingin anda katakan. Apa tidak sebaiknya aku kembali ke kelasku?”

“Taeyong ah.”

“Aku permisi dulu.” Taeyong benar-benar tidak mendengarkan suara ibu. Setelah menundukkan kepala memberi salam, dia melangkah keluar dari ruangan ibunya itu.

***

“Apa kau baik-baik saja?”

Begitulah yang langsung di dengar Taeyong ketika dia keluar dari ruangan kepala sekolah. Taeyong sedikit kaget sebenarnya, tapi ada hal lain yang menyita kekagetannya. Mata Nayoung yang terlihat sendu. Gadis ini pasti mengkhawatirkannya lagi.

“Eum. Aku tak apa.” Taeyong menjawab, lalu mulai melangkah.

Nayoung menahan tangannya, “Ayo ke klinik sekolah?” ajaknya, memberi kerutan di dahi Taeyong.

“Kelas sudah berlangsung.”

“Ayo membolos.”

“Lim Nayoung, kau gila?”

Nayoung tak mengacuhkan, dia malah menarik tangan Taeyong untuk berjalan bersimpangan dari arah menuju kelas mereka. Setidaknya dia harus membersihkan luka dan lebam di wajah teman masa kecilnya ini. Lagi pula banyak sekali yang ingin Nayoung katakan.

***

“Aw! Tidak bisakah kau pelan-pelan!” Taeyong meringis, bibirnya mengoceh. Obat luka yang dioles Nayoung di wajahnya menyakitkan.

“Dan tidak bisakah kau diam?!” Nayoung membalas. “Lagi pula ini salahmu. Kenapa harus kau pukul Sungjae? Kau pikir dia lemah? Dia pasti akan membalas jika ada yang menyentuh wajahnya. Sungjae itu adalah judoka! Kau bahkan bukan apa-apa.” Nayoung mengoceh. Tangannya terus mengurusi wajah lebam Taeyong. Benar saja, jika Pak Ahn tidak datang tadi, mungkin lebamnya akan lebih parah dari ini. Meski dia tahu Taeyong suka sekali memukul teman kencannya waktu lalu, tetap saja dia tidak tahu jenis bela diri ada yang Taeyong kuasai. Yang dia tahu Taeyong hanya bisa menari. Dan Sungjae, menurutnya sudah tergolong hebat untuk dijadikan lawan, teman dekatnya satu itu bahkan sudah terlalu sering membawa pulang medali. Jika Taeyong benar tak memiliki kemampuan bela diri apa pun, seharusnya dia tak macam-macam dengan Yook Sungjae.

“Kau menyukainya?”

“EH?”

“Yook Sungjae itu. Apa kau menyukainya?” ulang Taeyong.

Nayoung berdecak, “Yang benar saja,” ucapnya terkekeh kecil.

“Lalu apa? Kau bernyanyi bersamanya di pentas sekolah. Kau selalu bersamanya. Kau tersenyum untuknya. Dia bahkan berani memegang tanganmu! Oh, dan satu lagi. Kalian berciuman!”

Nayoung mengerut dahi sebenarnya, tapi hanya sesaat, karena setelahnya dia malah tertawa renyah.

“Apa?!”

Sudah lama sekali rasanya melihat Taeyong yang mengeluh dengan nada manja. Taeyong yang sekarang lebih terbiasa dengan sikap dingin dan menyelesaikan masalah dengan marah-marah atau bahkan memberi pukulan. Nayoung benar-benar rindu dengan Taeyong yang selalu tersenyum dan merengek manja.

“Eish! Jawablah. Jangan menertawaiku!”

Nayoung mengakhiri perawatan wajah Taeyong dengan memberi plester luka di pipi Taeyong, lalu dia tersenyum dan ikut duduk di ranjang klinik tepat di samping Taeyong.

“Hei, boleh aku memeluk?” pintanya pada Taeyong. Bahkan belum selesai kerutan di wajah Taeyong, Nayoung sudah masuk di dada teman masa kecilnya. “Aku merindukanmu,” lirihnya.

Taeyong menelan ludahnya. Dia bingung harus berbuat apa. Terakhir dia memeluk Nayoung dengan erat adalah ketika mereka masih duduk di tingkat satu di sekolah dasar. Waktu ini mereka bermain peran menjadi papa mama yang saling mencintai. Setelahnya hanya pelukan biasa yang tidak berarti, tidak ada yang menempel begitu erat seperti ini. Berharap saja Nayoung tidak menyadari detak jantungnya yang sudah mulai tidak menentu ini. Berurusan dengan Nayoung akhir-akhir ini benar-benar menghilangkan akal sehatnya.

“Aigoo. Yong-ku ini lucu sekali.” Nayoung melepas pelukannya, lalu mengacak rambut Taeyong dengan senyuman manis. Sebenarnya ini senyuman yang dimaksud Taeyong, senyuman yang telah lama hilang dari Nayoung untuknya.

 “Ayo kembali ke kelas,” ujarnya lalu beranjak untuk mulai melangkah, tapi Taeyong menahan tangannya.

“Young ah…”

Deg. Cukup keras jantung Nayoung berdetak ketika dengan lembut tangan Taeyong menahannya. Jantung itu bahkan kemudian berdegup jauh lebih cepat dari sebelumnya. Nayoung menelan ludahnya.

“Tidak bisakah tangan ini hanya aku yang memegangnya?”

Nayoung mengigit bibir bawahnya.

“Tidak bisakah senyum indah itu hanya aku yang melihatnya?”

***

11 responses to “Rompecorazones #4

  1. whohoho yong kau benar2 berkelahi? daebak. kenapa kalian gak saling jujur aja kan udah suka sama suka.

  2. kusuka sama karakter Sungjae yang gak selow (?) sama Taeyong tapi diem-diem dia ngedukung Nayoung sama Taeyong banget aaaaahhh kamuuu semoga cepet jadian sama Sooyoung ><
    kata siapa kurang gereget? di sini udah mulai kerasa bapernya dan tebakan aku bener kaan, berantemnya mereka malah bikin Taeyong sama Nayoung jadi makin deket hehehehehehehe. semakin bikin gemas saja. lanjutkan, Mbak Cca!:mrgreen:

  3. Pertama-tama mau minta maap dulu, soalnya sy cuma jd silent reader minta ditabok/eh?/ di chapter2 sebelumny. Chapter in bikin senyum2 lho, serius. Lucu ngebayangin Nayoung meluk Taeyong. Ati2 ntar anak orang jantungan he..he… Kata-katanya juga enak dibaca. Ditunggu chapter selanjutnya y, kak/author-nim/bingung mau manggil apa xD/ Semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s