Death Green [1/2]

Death Green [War]

A Story by ZIA

Lee Hyuk Jae/Aloys Bazin, Eliane Bazin (OC)

the plot is mine. Don’t copy and paste.

“Aku bahkan rela jika harus mati untukmu.”

 

 

Perjalanan jauh, yang entah kapan akan berhenti. Sama seperti arti sebuah nama Lee Hyuk Jae. Seorang lelaki yang tumbuh tanpa kedua orang tua. Hari-hari jalani dengan penuh kacau, menjadi seorang yang dicari bahkan hanya karena kesalahan yang diri-nya pun tak mengerti. Setelah kematian kedua orang tuanya, satu tahun setelah itu, gadis berparas sempurna tanpa cacat sedikit pun menghampiri. Memperkenalkan diri menyebut ia adalah penyelamat.

“Hyuk …”

Suara lembut itu menginterupsi. Menghentikan kegiatan Hyuk Jae dengan tumpukan kertas di atas meja. Meluangkan waktu demi sang kekasih untuk menoleh. Gerakan tubuh meng-isyaratkan ia bertanya, tetapi sang kekasih hanya tak peduli. Dan itu membuat Hyuk Jae tanpa dipinta harus mengalah, melangkah mendekati.

“Iya Sayang, kenapa?” tangan kasar itu membelai surai cokelat milik kekasih, menenangkan. Lelaki itu mengerti jika, Eliane, sang kekasih, tak suka diacuhkan. Si gadis hanya bisa membalas dengan tatapan lembut, cukup seperti itu bisa membuat gadisnya luluh.

“Apa ini akan berhasil?” titah gadisnya—sarat akan kekhawatiran.

Mendengar lontaran kalimat tersebut membuat Hyuk Jae menarik Eliane dalam dekapan. “Kebohongan pasti terungkap suatu saat, hanya berdoa dan berusaha. Aku yakin Tuhan mendengarnya.”

Perkataan Hyukjae tersebut membuat Eliane sedikit merasa lega. Gadis itu kemudian mengeratkan dekapannya, takut—tentu saja—takut jika akan kehilangan pria yang disayanginya.

Death Green

HY Group. Perusahaan baja terbesar di Korea. Sudah memproduksi lebih dari 40 juta ton baja dan menargetkan proyek pabrik baja senilai US$23 miliar di negara bagian Eropa Barat, Perancis. Pemilik, Hyun Ki Kim, seorang yang dikenal dengan kerja kerasnya yang mengatur segala aset perusahaan. Menjadi orang yang disegani di luar sana, tanpa ada yang tahu jika ia berbuat kotor dalam kepemimpinan-nya.

“Sebentar lagi …, ini adalah akhir dalam proyek. Setelah kita sudah mendapatkan apa yang kita mau, bahkan AccorHotels akan menjadi milik kita.”

Betapa busuk strategi lelaki berumur 40 tahunan itu. Merebut HY Group dari tangan Lee Nam Hyun, pemilik HY Group dahulu sebelum jatuh ke tangan kotor-nya. Sekretaris yang di samping pun hanya bisa tersenyum lepas melihat kebahagiaan yang didapat dari boss-nya tersebut.

Telepon berbunyi. “Ada yang ingin bertemu dengan anda, Tuan.

Gesekan pintu terdengar terbuka. Menampakkan sosok lelaki gagah dengan jas yang tersampir di bahu kanan-kirinya. Aura amarah pun menghampiri lelaki tersebut, sebelum akhirnya ia harus menepis amarahnya dengan memperkanalkan diri. Tidak asik jika harus berakhir seperti ini, bukan?!

“Saya Aloys Bazin. Anak dari CEO Sebastien Bazin.”

Death Green

5 Years Ago, 2010 March 14

06:35 p.m

AccorHotels. Merupakan perusahaan multinasional Perancis terbesar, berpartisipasi dengan CAC 40 dan beroperasi di 92 negara. Berkantor pusat di Paris, Perancis. Grup ini memiliki, mengoperasikan dan sistem waralaba sekitar 3.700 hotel di 5 benua dengan berbagai merek dagang mulai dari tingkatan budjet dan penginapan ekonomis hingga akomodasi mewah di beberapa tempat eksotis.

Tempat berada Hyuk Jae saat ini. Seperti siswa SMU pada umumnya yang tak mengerti soal bisnis, hanya mementingkan pekerjaan sekolah. Duduk disalah satu kursi sembari menunggu sang Ayah. Setelah beberapa menit pemuda itu menunggu, Ayahnya pun keluar dari pintu bergaya Eropa tersebut. Tak mengerti dengan raut wajah sang Ayah, seperti amarah tak terkendali, perasaan kecewa, sedih, dikhianati.

“Ayo pulang Hyuk Jae!”

Bahkan ucapannya. Hyuk Jae hanya berpikir kiranya kenapa bisa membuat sang Ayah menjadi seperti itu. Pemuda itu pun bahkan tak bisa mengerti.

Menunggu jadwal penerbangan ke Incheon pada pukul 07:00 p.m, namun sang Ibu tak kunjung datang, membuat kedua pria bermarga Lee tersebut khawatir. Dari sisi barat, seorang wanita datang dengan membawa berbagai macam tas di tangan. Setelahnya, kedua Ayah-Anak tersebut bisa bernapas lega.

“Sayang.”

“Ibu,”

Yang dipanggil hanya bisa tersenyum menunjukkan deretan gigi rapi-nya. “Sorry …,”

Memakan waktu sekitar 12 jam hingga sampai di Incheon, Korea Selatan. Tiba di Korea pukul 6 pagi. Tak ingin absen sekolah, membuat Hyuk Jae harus cepat mengganti baju dan melesat jalanan Seoul menggunakan Gallardo putih pemberian sang Ayah.

Kabar buruk tiba saat Hyuk Jae pulang dari sekolah. Kematian kedua orang tua, membuat pria itu hampir gila. Pun dengan kabar kedua orang tuanya bunuh diri karena lari dalam masalah, akibat pelanggaran kontrak dengan salah satu perusahaan di Korea. Sungguh gila. Otak Hyuk Jae tak bisa mencerna apa yang telah terjadi.

Menjadi pria tanpa tujuan hidup, berpikir untuk menyerahkan diri pada Tuhan atas apa yang menimpa keluarganya. Hari-hari jalani dengan kacau, tidak sekolah, pergi melarikan diri, tidur di mana saja, bahkan pembantu-pembantunya kesulitan menemukan dirinya.

Satu tahun setelah itu, seseorang datang mengejutkan.

“Hai namaku Eliane Bazin.”

Kedua alis pria itu bertaut, tak mengerti. “Aku diutus Papa untuk menemanimu di sini,” ujar Eliane ragu-ragu, kemudian melanjutkan “Ayahku, Sebastien Bazin. CEO dari AccorHotels. Anak dari sahabat Tuan Nam Hyun, Ayahmu.”

AccorHotels?

Bayangan pria itu teringat akan hari di mana kematian kedua orang tuanya. Ia berpikir jika kematian mereka disebabkan saat sang Ayah keluar dari dalam pintu yang berarsitektur Eropa itu. Di mana sang Ayah dengan kali pertama membentaknya. Esok harinya bahkan dikejutkan dengan berita kematian kedua orang tuanya. Setelah terbayang akan hal tersebut, api amarah terlihat jelas menggambarkan wajah pria itu saat berhadapan dengan gadis yang diketahui anak dari pemilik AccorHotels.

“Tenang …, semua terjadi bukan karena Ayahku, Ayahku sedang menyelidiki apa yang telah terjadi selama ini. Percayalah,”

“Kau berkata padaku untuk percaya perkataanmu? Ini kali pertama kita bertemu, dan kau mengatakan padaku untuk mempercayai semua perkataanmu?!”

Eliane hanya bisa memejamkan matanya sejenak setelah mendapatkan semburan dari pria di hadapan. Sebelum akhirnya mengeluarkan secarik kertas, kemudian memberikannya pada Hyuk Jae.

Jika kau mendapat kesulitan, pergilah ke Paris dan temui Paman Bazin. Ia adalah satu-satunya sahabat Ayah-Ibu sejak dulu. Percayalah padanya, ia akan membantumu.

Ayah

Hyuk Jae tak percaya Ayahnya meninggalkan sesuatu sebelum ia pergi. Itu tulisan Ayah, tentu, itu tulisan Ayah. Hyuk Jae tahu itu, tapi mengapa bisa ada pada gadis di depannya kini. Ia bahkan tak tahu kapan Ayahnya menulis surat singkat tersebut.

Hyuk Jae bergeming, walau manik elangnya menatap sorot hazel di depan. Mencari kebohongan yang terdapat dalam lawan bicaranya tersebut. Namun nihil.

“Jadi, Lee Hyuk Jae-sshi?” ucap Eliane menyadarkan.

“Baiklah,”

Eliane hanya bisa tersenyum tulus melihat reaksi pria di hadapannya tersebut.

 

.

.

.

To Be Countinued

ZIA

One response to “Death Green [1/2]

  1. Pingback: Death Green [1/2] | ZIA LEE·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s