Soul Exchanged – Chapter 2

soul-exchanged-chapter-2.jpg.jpeg

Soul Exchanged
Chapter 2
.
Park Nira, Oh Sehun, Kim Jongin
Sligt! Mistery, lil Comedy, Romance, lil fantasy
PG-17
By
Raditri Park
Plot & Story just my mine. Kim Jongin ISN’T MINE! & Oh Sehun is not mine too…:3
Find me on https://raditripark12.wordpress.com/
Prologue | Chapter 1 | Chapter 2

All started when they…
They act like without a script

.

Jantung Nira alias roh Oh Sehun berdegub keras-keras. Bukan, bukan deguban jantung seseorang karena jatuh cinta. Oh Sehun belum pernah jatuh cinta ngomong-ngomong. WAOW!

Deguban jantung Sehun kali ini antara gugup dan takut bercampur kesal dan ingin marah. Tapi Sehun tidak punya pelampiasannya. Sungguh malang!

Bagaimana tidak, Sehun telah berusaha keras bersikap semuanya baik-baik saja. Tapi tampaknya Jongin tidak bisa diajak kompromi. Pria berkulit tan ini tidak mudah peka ternyata. Apa yang harus dilakukan Sehun sekarang? Mereka berjalan dengan Jongin menggenggam tangannya—tangan Nira sebenarnya, dengan banyak pasang mata yang melirik iri.

Sehun berharap ini benar-benar mimpi dan bersumpah dia akan menjadi jiwa yang lebih baik di masa yang akan datang.

Bukan hanya genggaman itu saja, siksaan ini telah berlangsung sejak Sehun membuka mata.

Sehun pikir dia akan ketahuan saat itu juga ketika Jongin memandanginya setelah keluar dari kamar mandi. Kebiasaan Nira setelah mandi adalah minum air putih di dapur, tapi ‘Sehun’ melenggang melewati dapur dan buru-buru ke kamarnya. Ngomong-ngomong soal mandi, demi Tuhan, Sehun telah melihat semua. SEMUANYA!!

YA TUHAN!! BAGAIMANA JIKA PARK NIRA TAHU HAL INI?? DIA AKAN MERASA DUNIANYA HANCUR!

Tapi tenang, Sehun menyisihkan rasa kemanusiaannya. Dunia Nira tidak benar-benar hancur karena Sehun sadar situasinya sekarang. Sehun mandi ala kadarnya. Dan kenyataan menghantam wajah tampannya ketika teringat Jongin menunggunya di luar kamar mandi. Oh Tuhan…

Sehun pikir begitu tiba di kampus mereka bisa berpisah untuk sementara, namun nyatanya Jongin tidak bisa melepasnya begitu saja. Dan parahnya, begitu keluar area parkir motor, Jongin menggenggam tangan mungil ‘Nira’ dengan senyum manja. Terus menggenggam hingga melewati lapangan luas penuh orang lalu lorong-lorong kelas dan berpuluh-puluh pintu, tidak lupa ratusan pasang mata di area kampus. OH GOD! Kenapa hidup Sehun harus seperti ini?

Sehun frustasi. Seumur hidupnya ia belum pernah merasakan berpacaran, namun ketika ia mendapat kesempatan merasakannya kenapa harus dengan cara seperti ini? Sehun memohon pada Tuhan untuk menyebutkan kesalahan fatal yang pernah dia perbuat dan berjanji akan memperbaikinya asalkan dia bisa keluar dari tubuh ‘gadis ini’ dan kembali ke tubuhnya sendiri.

Tapi sialnya, Jongin tidak juga menyadari penolakkan ataupun gesture aneh dan perilaku tidak biasa yang ditunjukkan Sehun—dengan tubuh Nira. Paling tidak Jongin seharusnya mencurigai gadisnya yang menolak suapan tangan romantis dari Jongin pagi tadi, atau melarang Jongin mengusap rambut lembut Nira. Dan SEHARUSNYA, Jongin menyadari perubahan cara berpakaian Nira yang tidak seperti biasanya sekaligus wajah polos tanpa make up Nira.

“Jongin,” Sehun memanggil nama itu dengan getaran aneh. “T-tanganku terasa pegal.”

Dan saat itu juga Jongin melepas genggaman.

“Oh, dan aku baru sadar kita harus berpisah.” Sehun berpikir keras menemukan tatapan cinta dibumbui senyum manis menggoda Jongin padanya—ralat, pada Nira. “Baiklah, maaf pagi ini aku tidak bisa mengantarmu sampai di kelasmu, aku ada sedikit perlu dengan Kyungsoo. Tapi, saat jam makan siang nanti aku akan menjemputmu.”

Dan Jongin mundur dengan tanpa menghilangkan senyumannya. Memberi isyarat pada Nira  untuk lekas berbalik dan berjalan ke kelasnya sendiri. Sehun yang menyadarinya segera beranjak. Inilah saat-saat yang paling dinanti oleh Sehun.

“Ah ya… tidak apa-apa, aku bisa ke kelasku sendiri.” Wajah Nira begitu sumringah, karena roh Sehun benar-benar bahagia sekarang. Ia bebas dari siapapun. Dan Nira berbalik setelah mengumbar senyum termanis di mata Jongin, senyum Nira yang mampu meneduhkan hati Jongin, senyum Nira yang mampu meluluhkannya dalam beberapa detik.

Lalu Jongin berbalik menuju kelasnya setelah memastikan Nira baik-baik saja tanpa digoda pria lain.

Asal tahu saja, Kim Jongin dan Park Nira adalah deretan sepasang kekasih yang paling pantas untuk dicemburui di kampus mereka. Dan wajar saja, di sepanjang perjalanan mereka menerima banyak berpasang mata penuh tatapan iri.

Kim Jongin seorang mahasiswa populer di fakultasnya. Sebelum berpacaran dengan Park Nira seminggu yang lalu, lokernya selalu penuh dengan surat cinta dan banyak kado. Bahkan beberapa perempuan pernah terang-terangan memintanya untuk menjadi kekasih mereka. Tapi Jongin menolak mereka dengan baik-baik, sebelum seorang perempuan yang ditemuinya di Cafe dekat kampus mereka berhasil membuka hatinya. Dialah Park Nira.

Pertemuan mereka memiliki kisah yang sangatlah klise. Hanya karena sama-sama berdiri di depan pemesanan kopi, sama-sama sibuk sendiri dengan ponsel masing-masing dan sama-sama menerima pesanan kopi mereka, mereka memutuskan pertemuan mereka di Cafe itu akan mereka jadikan sebagai tempat perayaan hari jadi mereka nantinya.

Karena, hanya gara-gara setelah kopi di masing-masing tangan, mereka sama-sama memuntahkan kopi mereka saat baru seteguk meminum. Tempat duduk mereka berseberangan, jadi mereka saling menoleh dan melirik kopi hingga mereka tersadar kopi mereka tertukar. Dan di saat itulah Park Nira menyadari, tawa Jongin adalah candu yang mampu membuat dunianya berhenti dengan oksigen yang dalam kecepatan cahaya lenyap dari bumi jika barang sehari saja tak menemukannya.

Karena kecanduannya itu, Nira tidak bisa tidur semalaman, tidak bisa jauh-jauh dari Jongin, tidak bisa berpikir jika tak menemukan Jongin dimanapun Nira berada. Begitupun sebaliknya, Jongin pikir dia akan menemukan perempuan sempurna untuk hidupnya, tapi kenyataannya, Jongin harus rela hatinya terjatuh untuk perempuan yang saat minum kopinya harus belepotan sana-sini. Jongin rela hari-harinya dipenuhi keluhan manja dan amarah tanpa jelas dari Nira. Jongin rela melakukan apapun untuk Nira. Katakan dengan sorak sorai bahwa pria ini gila.

Jadi, ketika Jongin mengungkapkan perasaannya, Nira tanpa ragu menolak Jongin jika pria itu menjauhinya, tidak berada di sisinya, dan tidak memerhatikannya barang sesaat pun.

Dan bisa dilihat, bahkan Nira meminta Jongin tinggal satu apartemen dengannya dan bersikap itu bukanlah suatu masalah yang besar.

Tapi apa yang kita lihat sekarang? Sungguh malang pasangan kekasih ini!

Sesungguhnya… Jongin menyadari perubahan Nira sejak pagi tadi. Ia berbohong tentang Kyungsoo, ia tidak memiliki keperluan apapun dengan Kyungsoo pagi ini. Jongin hanya mencoba meneliti perubahan raut muka seperti apa setelah Nira tidak bersamanya.

Jongin menoleh sekilas, menemukan punggung Nira menjauhinya. Dan Jongin berharap gadis itu menoleh padanya, tapi nyatanya tidak.

Jongin sadar penolakkan itu. Jongin tahu perbedaan sikap Nira padanya. Apa mungkin karena demam semalam? Atau… karena gadis itu sedang mendapat bulanannya?

Yang Jongin tahu, seorang perempuan akan mudah marah dan mudah kehilangan mood jika mereka sedang mendapat bulanan mereka. Baiklah, katakan Jongin sedang berusaha berpikir positif sekarang. Ya, tidak akan terjadi apa-apa pada Nira.

Kau tenang saja, Jongin. Nira akan baik-baik saja.

.

-oOo-

.

Sehun membawa raga Nira dengan tergesa. Dia hampir lupa kalau dia tidak tahu letak kelas Nira. Bodoh!

Sejenak berhenti. Dengan serius Sehun mengamati keadaan sekelilingnya. Dan jantungnya berdetak cepat seperti dia baru menyadari bahwa rohnya terdampar di tubuh gadis ini. Tapi, tampaknya degupan ini lebih dari sekedar masalah pertukaran roh itu.

“Pagi Nira, ayo masuk kelas. Lee Saem dalam perjalanan kemari. Aku melihatnya dari belakang.” Seorang gadis menepuk pundaknya lalu segera masuk tepat di depan pintu sebelahnya.

Tiba-tiba wajah Sehun mengeras. Tatapan benci, kerutan emosi dan gertakkan amarah di gigi telah memperjelas, Sehun tidak menyukai tempat ini.

Ini mimpi buruk. Demi apapun, mendadak Sehun benci tempat ini.

Setelah lirikkan tidak sukanya di pintu kelas, Sehun memantapkan langkah meninggalkan koridor yang mulai disesakki gerombolan mahasiswa lain yang baru memasuki kelas.

Shit!

‘Sehun’ menggumam keras sembari berjalan mantap dengan wajahnya yang memerah marah.

.

-oOo-

.

Keberadaan dua roh saat ini berada di tempat yang berbeda dan masing-masing dari Oh Sehun dan Park Nira tidak begitu familiar dengan tempat tinggal ‘raga yang ditempati roh mereka’. Apartemen Sehun berada tidak jauh dari Univesitas Korea, tepatnya di Distrik Seongbuk, Anam-ro, Seoul. Sedangkan Apartemen Nira pun sama, tidak jauh dari Universitas Nasional Seoul, tepatnya di Gwanak, Seoul. Universitas Korea berada di bagian utara Sungai Han dan Universitas Nasional Seoul di bagian selatan Sungai Han.

Jadi, ini akan sulit!
.
.
“JADI, KAU JALAN KAKI? OHH~”

Chanyeol seperti baru menemukan dirinya membolos kelas dan tertangkap dosen pembimbingnya. Pria ini yang telah menarik dan membungkam mulut Oh Sehun bak menculik anak umur 5 tahun dari pintu gerbang sekolahnya. Menyeratnya lalu menahannya di sini.

‘Pria ini apa-apaan… siapa sih dia?’ dalam hati Nira menggerutu keras. ‘Lalu apa masalahnya jika aku tidak membawa mobil.’

“Kenapa?” seru Nira tidak tahan.

“Kenapa kau bilang?” Chanyeol bertanya lagi penuh nada sarkastik. “Seorang Oh Sehun berjalan kaki dan—WAOW! Apa saja yang kau lakukan semalam? Tidur dengan gadis fakultas sebelah, huh? Kupikir seorang Oh Sehun meski tidak tidur semalaman dia tidak akan pernah meninggalkan pelajarannya. Lalu apa yang kulihat sekarang?”

Chanyeol menatapnya seperti bukan menatap Oh Sehun. Cerdas sekali pria ini! Pria tinggi berkulit putih di hadapannya sekarang memang berwajah Oh Sehun, tapi tentu bukan Oh Sehun yang dia kenal.

Nira mati-matian menahan ekspresinya yang syok bukan kepalang. Sebentar! Nira tidak salah dengar, kan? Soal, tidur dengan gadis fakultas sebelah?!

Tolong ulangi!

Tidur. Dengan. Gadis. Fakultas. Sebelah.

Ya Tuhan!

Orang seperti apa yang ditempati roh Nira sekarang? Kenapa begitu mengerikan bahkan dari penilaian orang lain. Apa benar yang dikatakan pria tinggi dengan telinga lebar ini? Oh Sehun. Seorang. Maniak? OH GOD!

Tentu tidak! Tenang saja~ ini hanya hiperbola dari seorang Park Chanyeol, teman karib Sehun sejak awal semester. Tapi masalahnya, Nira sudah terlanjur berpikir ‘macam-macam’ tentang pria yang ‘ditempatinya’ sekarang. Bagaimana ini?

Lantas kenapa Chanyeol bisa berkata seperti itu?

Tentu saja karena apa yang Sehun lakukan pagi ini di luar dari kebiasaannya. Ke kampus berjalan kaki dan tidak menggunakan mobilnya tanpa alasan jelas. Tidak pernah sekalipun Sehun pergi tanpa mobilnya. Pria ini tidak suka lamban, itulah alasannya.

Dan, seumur hidup Chanyeol mengenal Oh Sehun tidak pernah sekalipun Sehun membolos satu mata pelajarannya, meski Chanyeol sempat—pernah membujuknya untuk membolos. Sehun. Tidak. Akan. Pernah. Mau.

Meski Sehun tidak masuk di kategori pria baik-baik dengan segala attitude baiknya pada semua orang, tapi ketahuilah, Sehun adalah seorang yang rajin dan serius jika menyangkut Program Studi yang diambilnya, Art & Design. Pemuda Oh ini memiliki ambisi kuat dalam seni dan disain. Bahkan melebihi siapapun.
Walaupun gurat wajahnya tidak menunjukkan ketertarikkan tinggi pada dunia seni, tapi kau tidak akan pernah tahu seberapa besar Sehun mencintai seni. Sehun tidak berbohong. Dia bahkan rela memilih seni ketimbang Ayahnya!
Seni merubah semua jalan Oh Sehun.

.

-oOo-

.

“Kemana saja kau?”

“Huh?”

Sehun—dengan raga Park Nira mendongak aneh, sedikit tidak rela menghentikan aktivitas minumnya. Dan di sana Sehun menemukan raut pria ini menatapnya dalam dan serius di waktu yang bersamaan. Sehun tidak mengerti apa yang terjadi. Sehun sudah berbaik hati mau menemui pria ini pas makan siang, sesuai janji mereka pagi tadi. Lagipula Sehun sedang lapar, jadi Jongin pasti membelikan sesuatu untuknya.

Meski sebenarnya, Sehun tidak ingin menemuinya. Rasa-rasanya dia akan bertemu dengan orang asing. Selain itu, topik apa yang cocok dibicarakan orang asing? Sehun sendiripun tidak tahu, jadi dia memilih diam. Dan, Sehun takut pria ini akan bertanya macam-macam yang jelas-jelas Sehun tidak bisa menjawab. Karena Sehun mulai tahu bahwa pria di depannya ini adalah kekasihnya—kekasih Nira, oke! Jadi, Sehun tetap melakukannya untuk gadis ini—gadis yang ditempati rohnya. Sehun bukan tipikal manusia kejam terhadap pasangan kekasih ngomong-ngomong.

“Kau kemana saja pagi ini? Jongdae tidak menemukanmu di kelas, bahkan dari awal sampai sebelum kita bertemu sekarang.”
Mata ‘Nira’ melebar diam-diam. Sehun tidak pernah menduga akan pertanyaan ini. Ternyata pria ini mempunyai mata-mata di kelasnya.

“Jongdae tidak mengadu, justru dia bertanya padaku. Dia pikir kau bersamaku atau sesuatu terjadi padamu. Sekarang aku tanya, apa yang terjadi padamu?” Jongin menatapnya penuh tuding. “Kau membolos?”

Nira alias Sehun berdehem sesaat, tiba-tiba saja tenggorokannya terasa gatal. Jantungnya sudah memompa keras di dalam sana. Sehun kesal, tidak seharusnya dia takut. Tapi keadaan benar-benar menyulitkannya. Membuat dadanya semakin sesak saja.

“Jawab aku, Nira! Apa yang terjadi padamu?”

Jika bisa, Sehun ingin berteriak di depan wajah Jongin. Sehun benar-benar tertekan. Selain karena pertukaran roh yang konyol, tidakkah dunia tahu bahwa Sehun sangat membenci tempat ini, lebih tepatnya program studi yang diambil gadis ini.

Jadi, untuk pertama kalinya, ‘Park Nira’ tidak menempati kelas paginya. Oh Sehun membawanya entah kemana, yang jelas Sehun muak jika terus-terusan berada di lingkup fakultas yang diambil Park Nira.

Demi Tuhan, Sehun membencinya.

College of Business Administration alias Perguruan Tinggi Jurusan Administrasi Bisnis.

Karena program studi itu, membuat Sehun menjadi pribadi yang berbeda, membuat Sehun menjadi pemuda yang semula penurut berubah menjadi pemuda pembangkang yang pernah ada.

Di dalam keluarga, Sehun berposisi menjadi anak tunggal dari seorang pebisnis sukses Direktur Oh, begitu para bisnismen menyebutnya. Direktur Oh adalah pemilik terbesar Real Estate di Korea Selatan. Memiliki banyak wilayah seperti di daerah Gangnam, Incheon, Busan, Seoul, bahkan hingga Pulau Jeju. Dengan keadaan seperti itu, satu-satunya harapan terbesar Direktur Oh sebagai penerusnya hanyalah putranya, Oh Sehun.

Oh Sehun awalnya seorang pemuda super ceria dengan segudang kemampuan. Memiliki banyak teman dan seorang pemuda aktif di kelas kegiatan menari dan menggambar. Dan dia masuk dalam jajaran siswa berbakat di bidang olahraga semasa Senior High. Tentu itu menjadi suatu kebanggaan bagi orang tuanya. Tapi bagi Ayahnya, hanya satu pengharapan untuk Oh Sehun yaitu, melanjutkan usaha bisnisnya.

Begitu lulus Sekolah Senior High, Ayahnya meminta untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang berkaitan dengan bisnis, memperdalam diri di bidang bisnis dan meninggalkan segala bakat yang pemuda itu kuasai. Karena apapun yang terjadi, di mata sang Ayah, Oh Sehun akan tetap menggantikannya. Bisnis sang Ayah telah dirintis sejak Sehun dalam kandungan, jadi jika berhenti di tengah jalan hal itu akan sangat disesalkan.

Dan bukan Oh Sehun namanya jika dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.

Di satu sisi Ayah Sehun memintanya untuk memilih sekolah di Perguruan Tinggi Manajemen Bisnis, tapi Sehun menolak mentah-mentah. Sehun bersikeras mengikuti kemauannya untuk mengejar pendidikan di bidang Seni. Tentu saja Ayah Sehun tidak mengijinkan. Dan tanpa penjelasan lebih lanjut semua tahu apa yang terjadi pada hubungan Ayah-Anak ini.

Ayah Sehun marah besar dan Oh Sehun sudah terlanjur menjadi keras hati.

Hingga malam pertengkaran itu terjadi.

“Ayah tidak pernah mengajarimu untuk bicara keras. Selama ini Ayah tidak pernah menolak keinginanmu, tapi apa yang sudah kau lakukan sekarang?”

Bagi Sehun, malam itu adalah malam untuk pertama kali Ayahnya menatap dengan tajam padanya.

“Lebih baik kau pergi! Aku tidak pernah memiliki anak sepertimu. Anggap kau tidak memilikiku. Pergilah! Aku tidak ingin melihatmu lagi.”

Dan saat itu juga, Ibu Sehun menghambur pada Ayah  Sehun, meminta untuk menarik kata-kata. Meyakinkan pada suaminya bahwa Sehun hanya terbawa emosi, mungkin Sehun mendapat pengaruh dari temannya kalau anak laki-lakinya ini terlalu terobsesi pada seni. Dan berbagai bujuk rayu terus-terusan perempuan paruh baya itu sebutkan, hanya untuk membela putra semata wayangnya.

Tapi nihil, Ayah Sehun sudah terlampau jauh memelihara gengsinya.

Dan tanpa berkata-kata, Oh Sehun beringsut pergi melewati pintu depan, menapak keras dengan langkah kesal. Oh Sehun pergi  dan mungkin tidak akan kembali. Itu yang ada di kepala Sehun.

Sehun berpikir, bagaimana bisa jika minatmu tidak pada satu bidang tapi kau tetap dipaksa untuk melakukannya. Bagaimana bisa hal tidak adil itu terjadi padanya?

Sehun meminta bahkan memohon pada Ayahnya untuk mengijinkan, tapi apa yang Ayah Sehun pikirkan tampaknya tidak sejalan dengan Sehun. Ayah Sehun tidak tergoyahkan sedikitpun.

.

-oOo-

.

Begitu menginjakkan kaki di Apartemen Sehun, ‘Nira’ membuang tasnya di sofa ruang tamu lalu berlari ke kamar dan melempar tubuhnya yang panjang ke ranjang empuk Sehun.

Dan ngomong-ngomong, Nira tidak menyadari perbedaan keadaan apartemennya yang bersih tak ternoda. Nira tidak tahu kalau Sehun punya asisten rumah tangga yang dipesan ibunya khusus untuk membantunya. Kalau begini ceritanya, Nira tidak perlu repot beres-beres rumah, bukan? Beruntung sekali kau Nira!

Ah nyenyaknya. Akhirnya ‘Nira’ bisa kabur dari kehidupan Sehun di kampus. Nira menyesal menghabiskan waktunya seharian untuk tebar pesona di sana. Sebenarnya bukan tebar pesona, Park Nira! Kau tidak tahu saja kalau Sehun menjadi idola di kampus, khususnya di Fakultas Seni dan Disain.

Nira tidak mau membayangkan lagi bagaimana gadis tinggi berkulit putih dengan rok 20 senti di atas lutut tadi yang mendekatinya. Atau sekumpulan gadis yang mengikutinya bahkan hingga hampir ke toilet sekalipun. APA-APAAN TEMAN-TEMAN SEHUN INI!

Demi rok mini gadis tadi yang mengerikan, Nira tidak akan menginjak kampus itu lagi meski ada ujian bagi pria ini sekalipun.

Selain itu, hal yang paling membuat Nira lega adalah… dia bisa terhindar dari teman-teman Sehun yang mengesalkan. Mereka terus-terusan bertanya kenapa, kenapa dan kenapa? Dan repotnya, Nira tidak tahu harus menjawab apa.

Well, APAPUN yang Sehun lakukan hari ini jelas berbeda 180 derajat dari biasanya. Tentu hal itu mengundang kerutan tanda tanya di kepala teman-teman Sehun. Seperti, Sehun lupa kelasnya, Sehun lupa dosen Lee yang selalu membanggakannya, bahkan Sehun lupa bagaimana memulai menggambar suatu benda untuk nantinya disebut Seni Modern yang nantinya dapat diaplikasikan di era modern seperti sekarang ini (Park Nira bahkan lupa bagaimana maksud soalnya), Sehun lupa dimana lokernya, Sehun lupa kalau hari ini harus mentraktir teman Sehun—si cerewet Baekhyun (dan Nira benar-benar terganggu  dengan suara pemuda mungil ini), Sehun lupa minuman kesukaan Chanyeol dan Sehun lupa segala-galanya.

Sumpah, Nira pusing!

Dan Nira berakhir melarikan diri sebelum kelasnya usai. GAWAT! JIKA SEHUN TAHU, PEMUDA ALBINO ITU AKAN MARAH BESAR PADA NIRA. YA TUHAN. (Kalian semua tentu tahu ‘kan bagaimana perjuangan Sehun mempertahankan pendidikkannya di bidang seni)

Dan sekarang, tanpa rasa berdosa Nira menikmati tubuhnya yang remuk rebahan di ranjang Sehun. Mengawang ke langit-langit kamar. Memikirkan, apa yang sebenarnya membuat jiwanya berada di tubuh pemuda tukang tebar pesona ini. Bagaimana bisa? Nira lupa apa saja yang telah dia lakukan hingga terjadi hal konyol seperti ini. Sehari saja sudah membuatnya kalang kabut, bagaimana dengan hari-harinya ke depan?

Tidak mungkin ‘kan Nira tidak mandi selamanya?! Jangan bahas hal itu lagi!

Tidak mungkin Nira terus-terusan menghindar dari teman-teman Sehun! Apalagi gadis-gadis di kampus Sehun yang super genit. Nira yang sejatinya perempuan benar-benar muak! Demi Tuhan!

Tidak mungkin juga Nira membohongi mereka terus. Hei~ ini bukan kesalahannya! Jangan hakimi Nira karena saat ini semua berada salam situasi yang berbeda.

Ini tidak bisa dibiarkan! Secepatnya harus diselesaikan. Tapi, bagaimana? Apa ‘Nira’ perlu ke Gwanak Seoul untuk menemui dirinya sendiri? Apa akan semudah itu?

Tiba-tiba Nira mematung, ingin memukul kepalanya sendiri karena kebodohannya. Sehun memiliki 2 ponsel mewah, lalu kenapa Nira tidak memanfaatkannya?

Ya Tuhan… kemana saja otak Nira? Apa karena pertukaran roh ini membuatnya sedikit kehilangan kemampuan mengingat? Dengan 2 ponsel mewah itu Nira bisa mengirim pesan, telpon bahkan menyalakan GPS!

Tanpa pikir panjang, Nira beranjak cepat-cepat lalu meraih ponsel Sehun di tas yang dia buang di sofa depan. Dan tanpa babibu Nira menekan angka yang bahkan dia ingat di luar kepala.

Keterangan: memanggil…

Lalu nada terhubung berbunyi.

Tanpa sadar jantungnya berdegub keras-keras. Seperti menjadi nada sambung saat Nira menghubungi nomer ponselnya sendiri.

Degubannya semakin kuat saat pikiran Nira mengawang liar. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada raganya hingga rohnya menyasarkan diri di tubuh pemuda ini? Apa hal ini akan terjadi seperti di drama-drama fantasi yang pernah Nira tonton? Apa raganya masih baik-baik saja? Bagaimana jika…

Di waktu yang sama namun berbeda tempat, Jongin terkaget dari lamunnya sendiri. Menyadari nada panggilan pada ponsel di sampingnya. Ponsel Nira, tapi gadis itu sudah di dalam kamar sejak mereka tiba di Apartemen beberapa menit yang lalu.

‘Nira meninggalkan ponselnya?’ pikir Jongin sedikit sangsi.

Jongin mulai penasaran siapa gerangan yang menelpon Nira di saat-saat seperti ini. Tangan Jongin meraihnya dan mendelik kecil ketika menemukan deretan angka asing di layarnya.

“Halo?”

Jongin mengerut dalam. Jongin tidak salah dengar ‘kan? Nomor yang tidak dikenal ini dimiliki oleh seorang pria? Seorang. Pria!

“H-halo? Ada orang di sana? Park Nira?”  Nadanya terdengar ragu.

Jongin tak bersuara sama sekali, mengabaikan. Wajahnya menegang, menahan amarah. Jongin tidak salah dengar! Park Nira dihubungi seorang pria di ponselnya.

Ya Tuhan, bagaimana ini?

.

.

To be continued
2003-1904.2016

.

Main Cast:

Park Nira

Park Nira, 21 y.o
A student of College of Business Administration in Seoul National University

 

Oh Sehun

Oh Sehun, 22 y.o
A student of College of Art & Design in Korea University

 

cxsuwybuaaibmyp.jpg

Kim Jongin, 22 y.o
A student of College of Engineering in Seoul National University

.

Support Cast:

Park Chanyeol.jpeg

Park Chanyeol, 23 y.o
A student of College of Art & Design in Korea University

 

Byun Baekhyun.jpg

Byun Baekhyun, 23 y.o
A student of College of Art & Design in Korea University

.

Hollaaaa… lama ga ketemu ya~ kenjen~:”3 /bahasaalaytolongdimaklumi/ /efekdiduainKaisoalnya/ *ngimpi aja terus sono*

Oya sebelumnya mau klarifikasi(?) nii… maaf, ada kesalahan teknis di chapter 1, buat jurusan yang diambil Park Nira bukan College of Management Business tapi College of Business Administration, oke🙂

Terus… kalo temen-temen sekalian ada yang belum ngerti atau belum jelas soal, ini Sehun pa Nira ya…? Komen aja! Kalo bikin bingung, komen aja! Kalo ngebosenin pun, ya komen aja! Ga perlu sungkan ga enak hati atau apa aja. Segala kritik dan saran welcome~😉

Sampai ketemu di chap selanjutnya…

 

Raditri Park,
With❤

One response to “Soul Exchanged – Chapter 2

  1. ah….akhirnya update jg🙂
    jangan lama” ya kak updatenya,hehehe….
    waduh…itu si jongin lagi yg ngangkat tlfn nya,huwaaa….gmn nanti ya????
    apa dia akan marah sama nira krna mndapatkan tlvn dr pria lain???
    kak cepet pertemukan sehun dan nira dong….
    moga di chapter depan mereka bisa ktemu deh, dan merundingkan permasalahan yg mereka alami saat ini….
    please pertemukan sehun-nira segera ya kak🙂
    ditunggu next chapternya…
    semangat and keep writing kak ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s