Memory – Chapter 1

Memory 2

 “Come and leave.”

Title : Memory

Author : Tricila

Cast : Jessica Jung as Jung Soo Yeon

Sehun EXO as Oh Sehun

Main cast : Find your self

Genre : Angst, Friendship, Tragedy

Rated : PG – 13

Length : Chapter [1/?]

Note : Tokoh milik kita semua. Kejadian hanyalah fiktif belaka. Alur cerita sepenuhnya milik saya. Pay attention for typo.

.

.

Chapter 1 – Can I?

2007, SMU Sekang, Gangnam-gu, Seoul.

“Permisi, apa kau tahu di mana kelas 2-4?”

“Di sana.”

“Terima kasih.”

Suara hentakan sepatu terdengar samar. Keramaian di sekolah itu mengalahkan suara gema yang berasal dari sepasang sepatu yang kini tengah berlari. “Bagus.” Kebisingan dalam kelas itu terasa khas ketika memasuki gendang telinga gadis 17 tahun itu. Namun, seketika kebisingan itu sirna ketika dirinya melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas. Tatapan penuh tanya begitu saja dilemparkan oleh siswa lain di dalam kelas.

Tanpa basa-basi, Jung Soo Yeon—siswa pindahan itu langsung mencari bangku yang sekiranya bisa ia duduki. “Dia siapa?” tanya seorang gadis yang berdiri di pojok ruangan dengan rambut ombrenya. “Aku Jung Soo Yeon.”. “Mungkin dia adik kelas salah masuk kelas. Nanti juga dia akan keluar,” jawab lawan bicara gadis berambut ombre. “Adik kelas apanya? Aku ini seumuran dengan kalian.”

TET! TET!

“Hei, ada acara penyambutan untuk duta sekolah kita, ‘kan? Ayo turun!” seru salah seorang gadis yang terlihat lebih displin dari anak lain. Serentak seisi ruangan keluar dari kelas. “Aku bagaimana?” batin Soo Yeon.

Soo Yeon yang masih duduk di bangkunya itu membuat siswa lain menatapnya. Satu diantara mereka sempat berbicara kepadanya, “Ayo!”. Soo Yeon sedikit tersenyum dengan sikap keramahan siswa itu.

Aula sekolah sudah ramai dengan banyaknya siswa yang berebut kursi bagian depan, ingin melihat duta sekolah yang katanya memiliki predikat siswa tercantik dan tertampan di sekolah. Park Ji Rae—nama yang tertera pada nametag seorang siswi berpipi tembam itu berjalan mendekati Soo Yeon. “Kau anak baru, kan? Mau duduk di sebelahku di depan sana?” tawarnya ketika tahu bahwa Soo Yeon belum mendapatkan kursinya. “Ah, baiklah.”

Acara penyambutan kedatangan duta sekolah dari perjalanan pertukaran pelajar di London berlangsung meriah. Mulai dari disempatkannya duta sekolah untuk bernyanyi sekedar melepas rindu, sampai duta sekolah menceritakan kegiatan yang ternyata tak jauh berbeda dengan sekolah di Korea Selatan. “Ah, aku Park Ji Rae, dan kau?” tanya Ji Rae. “Aku tahu. Nametag-mu yang memberi tahuku,” jawab Soo Yeon dengan candaan khasnya. “Benar. Aku terlalu bodoh untuk menyadari jika aku memakai nametag. Kalau kau? Kau tidak memakai nametag, jadinya aku tidak bodoh jika tak mengenalmu.”

“Jung Soo Yeon.”

“Nama yang bagus.”

Suara itu bukan berasal dari Ji Rae maupun Soo Yeon. “Siapa yang bicara?” tanya Ji Rae kebingungan. “Yang pasti itu bukan aku,” jawab Soo Yeon seraya tetap mencari asal suara itu. “Aku yang bicara.”

“Lu Han?”

“Siapa dia?” Ji Rae dengan cepat menyikut pelan lengan Soo Yeon. “Kau belum tahu dia?” bisiknya. Soo Yeon menggeleng pelan, “Aku baru 20 menit masuk ke sekolah ini, Ji Rae-ya. Memang dia siapa?”. “Dia adalah anak pemilik sekolah yang tampan, kaya, keren dan dia pemain basket handal di sekolah kita. Oh, kerennya dia. Juga, dia sangat terkenal di sekolah. Dan sekarang dia memujimu!” jelas Ji Rae semangat.

“Ah.”

“Hanya itu?”

“Lalu apa?”

“Kau tidak merasa senang atau gembira?”

“Tidak.”

“Sama sekali?”

“Lupakan.”

“Baiklah, sekarang mari kita sambut duta sekolah putra kita. Lu Han!” ucap sang MC yang langsung mengalihkan pembicaraan mereka berdua. Lu Han tiba-tiba saja sudah berada di atas podium dengan senyuman khasnya yang memikat hati. “Hai,” sapanya hangat. “Hai!!” jawab para siswi penuh semangat. “Ah, kalian bersemangat sekali. Terima kasih,” lanjut Lu Han.

Kelas 2-4…

            Soo Yeon duduk di bangkunya dengan tenang ditengah seribu tatapan yang tengah menyelidik ke arahnya. Seolah tak ingin temannya ditatap penuh selidik, Ji Rae buru-buru menghampiri kawan barunya itu. “Hei, Soo Yeon-ah, kau mau duduk di depan bersamaku?” tawar Ji Rae yang berhasil mengalihkan perhatian Soo Yeon dari ponselnya. “Baiklah. Sepertinya kau suka tempat paling depan,” ujarnya seraya mengemasi barangnya dan berpindah tempat duduk.

“Kau tidak risih?” tanya Ji Rae. “Apanya?” tanya balik Soo Yeon disertai wajah polosnya. “Eh? Kau tidak menyadarinya? Anak-anak sedang menatapmu, Soo Yeon-ah,” jelas Ji Rae kemudian direspon santai oleh teman baru sebangkunya itu. “Terserah mereka.”

“Mau melihat sekitar sekolah?” Kang So Ra, dengan senyuman manisnya mengulurkan tangan untuk menjabat tangan si anak baru. Tangan Soo Yeon menyambut jabatan itu dan berjalan mengekor So Ra yang telah berjalan beberapa langkah di depannya.

***

1 bulan kemudian …

Sehun terlihat sibuk dengan game yang ada di ponselnya. Tak mempedulikan apapun yang berjalan mendekatinya atau menjauhinya, tak mempedulikan apapun yang terjadi di sekelilingnya bahkan tetap memainkan ponselnya selagi Guru Ahn menuliskan berbagai rumus di papan tulis.

Namun, gebrakan meja dari seorang gadis berumur 17 tahun itu sukses mengalihkan perhatian seorang Sehun. “Apa?” bentak Soo Yeon ketika Sehun menatapnya dengan tajam. “Kau mengacaukan game-ku,” jawab Sehun tak kalah sengit. “Dan kau mengacaukan konsentrasiku.”

Sehun terkekeh, mengisyaratkan bahwa konsentrasi Soo Yeon tak lebih penting dari game-nya itu. “Untuk apa terlalu keras belajar kalau akhirnya kau akan mendapat nilai terendah?” ujarnya kemudian berjalan menuju pintu kelas.

Tiba-tiba bola kasti hijau dilempar tepat ke kepala belakang Sehun. “Argh! Aish, apa-apaan ini?” geramnya seraya menengok ke belakangnya. “Kau?” tanya Sehun dengan penuh emosi ke arah Soo Yeon, “Bukan. Aku tidak melakukan apapun.”

“Aku.”

Suara berat itu terdengar begitu saja dari arah belakang Soo Yeon. “Hansol Vernon? Kau yang melakukannya? Ah, apa urusanmu denganku?” celoteh Sehun dengan tangan kiri yang menahan sakit di kepalanya. “Hanya ingin melemparnya,” jawabnya santai.

Kini perhatian seisi kelas terpusat kepada tiga insan yang berdiri di belakang kelas itu. Wajah bingung dan menahan rasa sakit tak luput menggambarkan ekspresi Sehun sekarang, “Apa? Kau mulai menyukai anak pindahan ini jadi melemparnya?” Vernon tersenyum simpul. “Tidak. Aku bahkan tidak tertarik dengannya,” katanya kemudian melenggang pergi setelah mengambil bola kastinya itu.

“Apa ini? Mereka tidak pernah akur jika aku diantara mereka.”

***

Satu bulan berlalu, semuanya berjalan sebagai mana mestinya. Jung Soo Yeon dengan mudahnya beradaptasi dengan lingkungan, dan kawan baru. Proses pembelajaran yang cukup menyenangkan dibalut kehumorisan sang guru dalam mengajar. Pemberian tugas yang selalu saja menumpuk dan membebani siswa telah terjadi dalam kurun waktu.

Anyeonghasseo, untuk pembelajaran kali ini ibu minta kalian membentuk kelompok terlebih dahulu,” ujar Guru Kim seraya menata bukunya. Suara gaduh menyertai pembentukkan kelompok di kelas itu. Jung Soo Yeon tidak perlu berdiri kesana-kemari, teman-temannya dengan cepat mendekatinya. “Soo Yeon-ah, aku bergabung denganmu, ya,” kata So Hyun, teman yang selalu menempel padanya ketika ada pembelajaran secara kelompok.

“Kelompok terdiri dari 6 anggota, jangan sampai ada yang tidak memiliki kelompok. Bagi secara rata dan jangan mengintimidasi teman kalian sendiri. Setelah itu perwakilan tiap kelompok mengambil kertas soal di meja saya,” instruksi Guru Kim penuh dengan ketegasan tiap katanya. “Sehun-ssi, apa kau belum mendapat kelompok?” lanjutnya ketika melihat Sehun masih duduk di bangkunya dengan menyilangkan kaki kanan di atas kaki kiri—lebih tepatnya terlihat santai. “Ya. Aku belum mendapat kelompok. Bisa ibu mencarikannya untukku?” tawarnya dengan mulut yang masih mengunyah permen karet.

“Ah, yang benar saja. Dasar berandalan.”

“Berani sekali dia berbicara seperti itu.”

“Kurang ajar sekali anak itu. Kemana saja orangtuanya selama ini? Apa ibunya tidak mengajarinya,” celetuk salah seorang siswa bernama Kim Joon Ah dengan tatapan penuh kebencian yang keluar dari matanya. Tak lebih dari 3 detik, Sehun telah mencengkram kuat krah seragam Joon Ah. “Tunggu, ada apa denganmu Sehun-ah?” kata Joon Ah dengan tergagap.

“Oh Sehun! Ada apa denganmu? Lepaskan Joon Ah sekarang juga!” gertak Guru Kim disertai pandangan mengerikannya. “Jangan sekali-kali kau membicarakan orangtuaku lagi. Jika aku mendengarnya sekali lagi, kupastikan kau akan tidur berbulan-bulan di ruang ICU,” ancam Sehun kemudian melepaskan Joon Ah dan duduk seperti semula.

“Jung Soo Yeon, ibu lihat kelompokmu kekurangan satu anggota. Bisakah kau memasukkan Sehun kedalam kelompokmu?” tanya Guru Kim. Soo Yeon tersentak dari lamunannya, “Ya? Ya.”

Tanpa ‘a-i-u-e-o’, Sehun langsung menarik kursinya tepat di samping kursi si gadis anak baru 2 bulan itu. “Apa-apaan ini, dia memilih duduk di sebelahku daripada teman sebangkunya yang jelas-jelas ada di depannya? Dasar laki-laki,” batin Soo Yeon kemudian berusaha serius mendiskusikan soal yang telah diambil So Hyun.

Karena ketidakseriusan Sehun dalam ambil peran di kelompoknya, membuat Soo Yeon kesal bukan main. “Sehun-ah, apa kau tidak punya pekerjaan? Bantu kami menyelesaikan soal ini. Jangan hanya bergumam dengan nyanyian tidak jelas itu. Kau tidak kasihan padaku dan mereka yang mengerjakan tugas ini sendiri tanpa bantuanmu? Paling tidak bantu mengerjakan 1 soal,” tukas Soo Yeon. “Kenapa?” tanya balik Sehun yang nyaris membekukan bibir Soo Yeon. “Kenapa apanya?”

“Soal kelompok itu.”

“Ah, ini.”

Sehun mengambil secarik kertas dari tangan Soo Yeon dan tak sengaja mengenai tangan lawan bicaranya itu. Ia membacanya dengan saksama. “Seharusnya kau tidak menempatkan tanda plus itu di sini. Tandanya harusnya negative. Lihat, jawabannya berbeda. Oh hei, apa kau tidak tau rumusnya? Begini saja tidak bisa. Kalau kau begini terus kita bisa dapat nilai jelek. Begitu saja tidak tau,” jelas Sehun kemudian melemparkan kertas itu ke atas meja dan dirinya mulai menyibukkan diri dengan ponselnya itu.

“Tapi, Sehun-ah. Kenapa aku selama ini tidak sadar kalau kau cukup pintar di matematika?” ucap Jeong Han terkagum-kagum. “Karena kau terlalu bodoh untuk menyadarinya,” jawab Sehun santai. Kekaguman teman sekelompoknya itu dalam sekejap sirna dengan perkataan sombong pria tampan nan angkuh itu.

***

Soo Yeon mendekat ke arah sahabatnya yang tengah mengobrol dengan teman lelakinya di belakang kelas. “Ji Rae-ya, ikuti aku,” bisiknya kemudian berjalan mendahului Ji Rae. “Aku pergi dulu,” kata Ji Rae sebelum benar-benar mengikuti Soo Yeon.

“Ada apa?” tanya Ji Rae ketika telah sampai di atap sekolah. Soo Yeon mengeluarkan ponselnya dan memberikannya ke lawan bicaranya itu. “Apa ini?” tanyanya sekali lagi kebingungan. Gadis bermarga Jung itu menyengir kuda, “Ji Rae-ya, bisakah kau memberiku nama kontak S.N.S-nya Sehun?”

“Eh?! Sehun?!” pekik Ji Rae terkejut. “Mau kau apakan kontaknya?” lanjutnya didampingi ekspresi yang tak biasa. “Jangan sebarkan ini, Ji Rae-ya! Sebenarnya mau ku-invite,” jawab Soo Yeon dengan suara pelan pada bagian akhir. “Tunggu, kau menyukai Sehun? Tolong jawabannya tidak,” prediksi Ji Rae yang membuat Jung Soo Yeon kebingungan dengan pernyataan temannya.

“Sehun, ada apa dengan dia?”

***

Sehun’s Home.

Ahjumma, aku pulang!”

Ahjumma berumur 50 tahun itupun segera keluar dari dapur untuk menyapa tuan mudanya yang baru saja pulang sekolah. “Tuan, bagaimana keadaan sekolah hari ini? Apakah menyenangkan?” tanyanya begitu ramah. “Sama saja. Selalu membosankan,” jawab Sehun santai seraya menuangkan air es ke dalam gelasnya dan meneguknya perlahan. “Aku tidak tahu kenapa setiap hari terasa panas.”

Hening menyelimut ruang dapur dalam sekejap. Ahjumma masih berdiri di dekat meja makan dengan tas punggung milik Sehun ditangannya dan si pemilik tas yang masih memegangi gelas kosongnya. “Apa Ayah tadi kesini?” celetuknya yang sempat membuat terkejut Ahjumma. “Tidak, Tuan.”

Sehun berdeham, “Ahjumma, aku sudah bilang berkali-kali jangan panggil aku dengan sebutan itu. Sebutan itu membuatku merinding. Panggil aku Sehun. Se-Hun. Oke?” kata laki-laki jangkung itu disertai senyumannya kemudian mengambil tasnya dan masuk ke kamarnya.

Soo Yeon’s Home.

“Bagus! Aku dapat kontak S.N.S-nya, baiklah. Sekarang mari kita invite dia,” kata Soo Yeon seraya menyentuh layar ponselnya. Satu jam, dua jam, tiga jam. Gadis bermarga Jung itu terlihat mondar-mandir dari ranjang sampai ke meja riasnya. Rasa cemas dan bimbang menyelimuti matanya yang tengah menunggu notifikasi yang akan muncul di layar ponselnya.

10.06 p.m

“Dia ini sebenarnya anak manja atau memang dia tidak mau acc S.N.S-ku?” gumam Soo Yeon. Jari-jarinya yang lentik itu menari di atas layar ponsel dengan niatan mengirim ulang invite kepada orang yang ia maksud. “Oh, ayolah. Dia kan punya image anak berandalan, apa masuk akal jam 10 dia sudah mendengkur di kasurnya?”

Sehun’s Home.

TING!

Tangan putih yang sedikit basah itu meraih ponselnya yang baru saja berbunyi di atas meja kecilnya. “J.S.Y?” kata Sehun  heran ketika nama itu tertera pada invite list di kontak S.N.S-nya. “Siapa J.S.Y itu? Dari mana dia tau kontakku?” tanyanya seraya berpikir keras tentang pengirim invite-an tersebut. “J.S.Y sepertinya singkatan nama yang tidak asing ditelingaku. Tapi, dia siapa? Ah! Cek foto profilnya.”

Terlihat seorang gadis dengan rambut panjang berwarna coklat yang dibiarkan terurai yang berterbangan dengan senyuman manis yang menghiasi paras wajahnya yang cantik. Dibalut dengan kemeja berwarna cream dan background sebuah gedung sekolah di belakangnya. “Jung Soo Yeon? Ah, benar. J untuk Jung, S untuk Soo, dan Y untuk Yeon. Jung Soo Yeon. Aish, kenapa aku sebodoh itu,” gumam Sehun. “Tapi untuk apa dia meng-invite S.N.S-ku? Biarkan sajalah.”

Soo Yeon’s Home.

Masih dengan aktivitasnya sebelumnya, melototi layar ponsel dan memeganginya erat. “Aish, dia benar-benar mengabaikannya? Ayolah Oh Sehun! Aku tau kau belum tidur. Pencet acc saja sepertinya susah sekali,” gerutu Soo Yeon kemudian melempar ponselnya ke sembarang arah.

***

“Hei, Cyntia. Jangan foto dia, berikan ponselku,” ujar Soo Yeon seraya merebut ponsel yang dipakai temannya itu untuk memotret Sehun yang tengah memainkan ponselnya di pojok kelas. “Oh ayolah. Ini kesempatan bagus untuk dapat gambarnya. Kau bisa lihat ini saat kau rindu padanya, dan saat itu juga kau akan berterima kasih padaku,” jawab Cyntia santai. Mata kecil itu berkedip beberapa kali, “Lakukan sesukamu, Lee Cyntia.”

“Oke. Tapi aku tidak bertanggungjawab kalau-kalau ada yang tau tentang foto ini.”

“Tidak mungkin.”

Dua hari kemudian…

Keributan di kelas ketika jam kosong tak bisa terhindarkan lagi. Mengerjakan tugas dari sang guru merupakan kegiatan yang langka berada di kelas. Gosip, suara nyanyian yang buruk, canda tawa, suara tembakan yang keluar dari ponsel menjadi satu berdesakkan masuk ke gendang telinga.

“Hei, Jung Soo Yeon. Kenapa kau repot-repot mengerjakan tugas seperti kentut itu? Tinggalkan tugas kentut itu dan bergabunglah bersama kami,” kata  Jin Ah, si perempuan kekar sambil menepuk bangku sebelahnya agar Soo Yeon duduk di sebelahnya. “Lupakan. Aku lebih suka tugas kentut ini dari pada menghabiskan kuota internetku. Uang susah dicari,” jawab Soo Yeon simple tanpa melihat ke arah Jin Ah. “Dia sangat perhitungan sekali.”

Keseruan di antara mereka berempat— Jin Ah, Yoo San, Tae Yong, dan Soo Bi— dengan mudahnya memecahkan konsentrasi Jung Soo Yeon yang dalam hitungan minggu sudah terkenal dengan konsentrasinya yang tinggi. “Hei, Baek Yoo San. Lihat, dua hari yang lalu Soo Yeon mengirimiku foto lewat S.N.S, ternyata itu foto Sehun!” kata Jin Ah dengan lantangnya mempermalukan Soo Yeon.

“Hei, Song Jin Ah! Kenapa kau lihatkan padanya? Aku malu!” omel Soo Yeon. “Kau ini kenapa? Kau yang mengirimkannya jadi aku perlihatkan saja ke Yoo San. Itu akan membantumu untuk mendekati Sehun, Soo Yeon-ah,” jelas Jin Ah. “Ah, aku malu, aku malu, aku malu, aku malu. Aku sangat malu! Ini memalukan, Jin Ah-ya!”

“Jung Soo Yeon menyukai Sehun?”

“Anak pindahan itu menyukai Sehun? Pilihan yang salah.”

“Dia sudah salah besar.”

“Hei, Jung Soo Yeon. Sudah kubilang kalau Sehun itu sudah punya pacar anak SMU di Gangnam. Jadi tidak ada kemungkinan jika Sehun menyukaimu,” celetuk si Yoo San. Terkejut bukan main, hatinya begitu berdebar ketika mendengar kalimat itu. “Kau tidak pernah mengatakan padaku. Tapi, pacar?” ulang Soo Yeon. “Iya. Pacarnya Sehun ada di SMU Gangnam.”

“Yoo San-ah! Kenapa kau tega sekali mengatakan itu?” geram Jin Ah kemudian memukuli Yoo San dengan buku tebalnya. “Ah! Sakit! Lalu kenapa kau tega mempermalukan Soo Yeon?!” ungkit Yoo San yang membuat perempuan kekar yang notabene-nya adalah teman dekat Soo Yeon merasa bersalah.

Gadis tegar itupun bangkit dari lantai dan pergi meninggalkan kelas. Sesak di dadanya dan bendungan air mata yang hampir jatuh tak tertahankan lagi. “Apa ini? Menangis karena lelaki yang kau sukai dalam waktu 9 minggu? Ayolah, Jung Soo Yeon. Aku mohon perasaan ini cepat hilang. Tidak baik menyukai orang yang sudah dimiliki orang lain.”

***

Wajah muram itu tak bisa lepas dari Soo Yeon. Sikap ceria dan senyuman manisnya selama beberapa hari ini menghilang begitu saja. Jin Ah yang menyadari perubahan sikap Soo Yeon tidak berani untuk mengucapkan kata maaf ataupun kata lain yang membuat hubungan mereka membaik. Perilaku dingin Soo Yeon membuat teman-teman dekatnya merasa kaku dengan kehadiran dirinya.

“Um, Soo Yeon?” sapa Ji Rae dengan nada yang terdengar ragu-ragu. “Ada apa?” jawab Soo Yeon tanpa memandang kedua mata lawan bicaranya. Ia masih sibuk dengan novel tebalnya yang beberapa hari ini menemaninya. “Soo Yeon-ah, jangan begitu. Kalau kau seperti ini, itu akan membuat kita tidak nyaman. Aku benar, kan?”

Soo Yeon menutup bukunya dengan kasar. “Lalu?” lanjutnya dengan tatapan sengit di matanya. Mulut Ji Rae terbungkam ketika melihat mata sahabatnya yang terlihat begitu emosi dan tak sudi untuk bergabung bersamanya ketika ada Jin Ah. “Maafkanlah Song Jin Ah,” ucapnya memberanikan diri. “Aku terlalu malu hari itu, Ji Rae-ya. Bisakah kalian memberiku waktu untuk sendiri? Mood-ku akan kembali dalam 2 hari.”

“Baiklah.”

***

Masih dengan game-nya, kakinya menjulur ke atas meja dengan santai tanpa memedulikan pandangan orang lain. Suara tembakan berkali-kali berbunyi dan membuat beberapa siswi di dalam kelas itu melirik sengit pada Sehun.

“Hei! Bisa kau pelankan suara game-mu itu?”

Dengan ekspresi datar dan tanpa melihat lawan bicaranya, Sehun dengan entengnya menjawab ‘tidak’ secara cepat. “Aish! Kau membuat game-ku kalah. Dasar bodoh,” umpatnya seolah-olah Ji Yeon yang melakukannya. Ji Yeon hanya bisa mendengus mendengar perkataan Sehun yang tak mengenakkan hati. Apa boleh buat? Dia mau dipukul kalau menjawab? pikir Ji Yeon.

“Kau yang bodoh.”

Seisi kelas langsung mencari sumber suara itu, termasuk Sehun—untuk pertama kalinya memedulikan omongan siswa kelas itu. “Siapa yang bicara?” protes Sehun dan langsung mematikan game-nya. “Aku. Kenapa? Tak suka?” tantang Jung Soo Yeon penuh keberanian. “Kau…, anak baru  itu, ‘kan?” tanyanya sambil bangkit dari tempat duduknya menuju tempat duduk si pelaku.

“Iya.”

“Berani sekali kau.”

“Lalu? Apa kau lebih berani dengan perempuan? Setauku hanya laki-laki pengecut yang berani menyakiti perempuan,” jawab Soo Yeon dengan ketus sembari menyamakan tingginya dengan Sehun. Sehun terbelalak, tak percaya bukan main dengan jawaban Soo Yeon yang akan memberinya image pengecut jika dirinya melukainya.

“Rumornya Soo Yeon suka dengan Sehun, ada apa dengan dia?”

“Bukankah beberapa hari lalu Jin Ah mempermalukan Soo Yeon? Jadi ini pelampiasan Soo Yeon agar tidak terlihat menyedihkan?”

“Ah, ini memusingkanku.”

“Jung Soo Yeon! Kau mengirimiku sms untuk makan kimbap, ‘kan? Ayo!” sela Ji Rae yang tiba-tiba datang dan langsung menarik lengan Soo Yeon yang tengah menatap tajam Sehun. Sehun tertawa kosong, masih tak percaya akan keberanian si anak baru yang langsung menantangnya begitu saja.

“Hei, kau ini kenapa? Baru enam hari yang lalu kau bilang kalau kau suka pada Sehun. Tapi sekarang apa? Kau berusaha melupakannya?” desak Ji Rae saat sudah keluar dari kelas 2-4. Soo Yeon hanya terdiam kaku dan memilih untuk duduk di kursi dekat tangga. “Aku tidak tahu. Perasaanku berubah-ubah sejak Jin Ah melakukan hal itu padaku. Aku terlihat menyedihkan, ‘kan?”

Ji Rae menempati bangku tepat di sebelah Soo Yeon. Mengatakan ‘semua akan baik-baik saja’ dan berusaha menghiburnya dengan cara paling jitu. “Soo Yeon-ah, aku sudah menyelamatkanmu dari tukang gosip itu. Kau tidak mau memberiku imbalan?” goda Ji Rae mulai melancarkan rencananya. Soo Yeon menghela napas dan kemudian beranjak dan memasukkan koin pada mesin minum yang ada tak jauh dari bangkunya dengan malas. “Kau hanya memberiku minuman kaleng? Beri aku kimbap.”

Soo Yeon memberikan beberapa lembar uang 1.000 won kepada Ji Rae. “Beli sendiri sana. Aku ingin sendiri,” ujarnya kemudian melenggang pergi meninggalkan temannya itu dengan wajah bingung yang tergambar jelas di wajahnya.

“Ada apa denganku? Ini bukan diriku yang biasanya. Memang efeknya sampai seperti ini hanya gara-gara Sehun yang menatapku sampai seperti itu? Tidak. Apa karena—tidak mungkin. Hanya karena Sehun sudah punya kekasih aku harus seperti ini? Huh, tidak masuk akal. Hatiku kacau bukan karena dia. Aku tau. Gila! Gila! Gila!” umpat Soo Yeon frustasi seraya memukul kepalanya menggunakan tangannya yang setengah mengepal. Lagi, dia mencoba rileks dengan menghela napas di atap sekolahnya ini.

Tanpa sadar, air mata mengalir di pipinya. Membasahi kulit mulus itu. “Ah, sial. Kenapa harus menangis? Ini sepele, Jung Soo Yeon,” Soo Yeon menundukkan kepalanya, melihat air matanya yang menetes ke rok sekolahnya itu.

“Aku jadi rindu Ibu.”

***

Pagi itu, Soo Yeon tengah merapikan baju seragam yang dikenakannya. Tiba-tiba suara ahjumma, tukang bersih-bersih rumah itu mengatakan jika ada  seorang temannya yang menunggunya di luar. “Teman?” gumamnya kemudian mengambil tasnya dan keluar dari kamar.

Begitu keluar kamar, ahjumma yang meneriakinya tadi menyodorkan segelas susu coklat hangat padanya dan diterima oleh Soo Yeon. “Ayah sudah berangkat?” tanyanya setelah meneguk habis susu coklat hangat itu. Ahjumma itu mengangguk pelan kemudian berkata, “Teman nona sudah menunggu 10 menit di luar. Dia berpesan untuk cepat keluar karena di luar dingin.”

Soo Yeon mendengus, “Teman seperti apa dia yang menyuruhku cepat-cepat? Park Ji Rae?” Soo Yeon keluar dari rumahnya dan mendapati orang yang disebut oleh ahjumma itu tengah duduk di sepeda tanpa boncengan di belakangnya. “Ver-non?”

Dengan headphone yang menggantung di lehernya, coat coklat tua dan tas punggung, juga sepeda yang ada di sampingnya membuat Soo Yeon terdiam dalam sekejap. “Ah, dingin. Kenapa lama?” gerutunya sambil mengusap kedua lengannya sendiri. Soo Yeon masih terpaku di depan pintu rumahnya, tidak melangkah satu kalipun untuk menghampiri Vernon. “Kau…, bagaimana bisa…”

“Mencari alamat rumahmu itu terlalu mudah. Apalagi kalau itu ternyata dekat rumahku. Kau tidak tahu ayahku yang memegang saham paling banyak di SMU Sekang? Aku cukup bilang, ‘Ayah, carikan alamat anak baru Jung Soo Yeon’. Selesai,” potong sekaligus jelasnya kemudian diakhiri dengan cengiran kuda. Soo Yeon memutar bola matanya malas, “Jadi, apa motivasimu datang ke sini?”

“Berangkat bersama!”

“Apa?!”

***

Tidak diragukan lagi. Pandangan siswa lain langsung terpusat pada dua insan yang berjalan beriringan itu. Selain tidak ada pilihan karena bus yang akan dinaikinya sudah berangkat tepat saat Soo Yeon berada di 30 meter ke arah halte, kedatangan bus selanjutnya pasti akan lama dan bisa membuatnya terlambat. “Aku pergi dulu.”

Ternyata tak semudah yang dipikir Soo Yeon, seolah tak mau dipandangi ‘mereka pasti bertengkar’ oleh siswa lain, Vernon segera menarik lengan kanan Soo Yeon dengan cepat ketika ia hampir memulai langkah cepatnya. Apa ini? Skinship dengan dia? batinnya tetap dengan ekspresi datar. “Kau tidak bisa meninggalkanku.”

“Kau masih mau dilihat anak lain seperti itu? Lagi pula, kalau terus-terusan berjalan bersama mereka bisa lebih salah paham,” bantah Soo Yeon  berusaha melepaskan genggaman Vernon. “Kita kan tidak ada hubungan apa-apa. Kenapa mereka bisa salah paham?” sanggah Vernon. Soo Yeon menghembuskan napas kesal, tak mengerti dengan sikap lelaki 17 tahun yang ada di depannya kini. “Aku tahu. Maka dari itu, lebih baik lepaskan tanganmu itu dan berjalanlah sendiri.”

Perlahan, genggaman tangan Vernon mengendur dan Soo Yeon memanfaatkan hal itu untuk melepaskannya dari ikatan Vernon kemudian segera berjalan 2x lebih cepat dari sebelumnya. “Cih, dasar anak baru,” gerutu Vernon kemudian memberikan sepedanya pada siswa jangkung yang tengah berjalan di dekatnya dan menyuruhnya untuk memarkirkan sepeda itu untuknya.

Lorong sekolah tetap dipenuhi siswa yang mengobrol atau sedang berpacaran meskipun bel sekolah akan berbunyi 5 menit lagi. Seakan tak peduli pelajaran apa yang akan mereka hadapi, mereka tidak belajar sedikitpun untuk persiapan ujian beberapa minggu lagi. Namun, ditengah rumpian mereka, Soo Yeon mendengar namanya dan Vernon disebut-sebut dalam percakapan itu.

Sial. Gosipnya pasti sudah menyebar. Kenapa hal 7 menit lalu bisa menyebar secepat mobil balap? gerutu Soo Yeon dalam hati kemudian segera masuk dalam kelasnya.

“Hei, Jung Soo Yeon. Kau berangkat bersama Hansol Vernon?” tanya Ji Rae yang duduk tepat di depannya. Soo Yeon mendengus kesal lalu menyandarkan punggungnya dengan penuh emosi. “Oh, ayolah! Ada apa dengan kalian? Kalian berpikir kalau kami pacaran, ‘kan? Berangkat bersama memang salah? Lantas kalau aku berangkat bersama Sehun kalian akan menganggap kami pacaran?” cerocos Soo Yeon mengeluarkan semua isi pikirannya tanpa memperhatikan sekelilingnya.

Ji Rae terkejut setengah mati begitu mendapati Sehun yang berada di belakang Soo Yeon yang tengah menyerocos itu. “Apa? Berangkat bersama? Pacaran? Denganmu? Cih, jangan harap,” cibirnya kemudian melanjutkan jalannya menuju bangkunya yang berada di pojok ruangan—bagian belakang pastinya.

“Kau pikir aku berharap, hah?” elak Soo Yeon cepat dengan mata yang setengah melotot. Sehun menatapnya dengan santai sambil meletakkan tasnya di samping meja, “Lalu kenapa kau harus menyebut namaku yang menjadi contoh konyolmu itu? Apa kalau bukan berharap?”

Bel jam pertama itupun menyelamatkan Soo Yeon dari pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya itu. Ya, dia bisa bernapas lega selagi tidak perlu menjawab pertanyaan itu. Namun tetap saja pertanyaan itu mengganggunya selama pelajaran berlangsung. Membuatnya tidak bisa konstentrasi dan membuat matanya untuk berusaha mencuri pandang terhadap Sehun.

Aku pasti gila.

***

Beberapa hari ini, entah kenapa masalah yang melibatkan Soo Yeon dan Sehun terus terjadi. Mulai Sehun yang menabrak Soo Yeon sehingga menumpahkan minumannya ke baju Sehun, sampai mereka berdua yang harus dihukum oleh guru piket karena ribut tentang buku Soo Yeon yang disobek Sehun beberapa lembar hanya untuk menggambar animasi yang dianggapnya tidak penting.

“Ah, gila! Bagaimana caraku bisa melupakan Sehun kalau dia sendiri terus berkeliaran di depanku? Gila, ada apa dengan guru Kang sampai harus menghukum kita? Toh, yang melakukan kesalahan lebih dulu Sehun, kenapa aku harus ikut dihukum?” keluh Soo Yeon pada Ji Rae setelah menyelesaikan tugasnya membersihkan pintu depan sekolahnya. Ji Rae tidak bisa menanggapi apapun, hanya bisa menyodorkan sebotol air mineral yang memang dibelikannya untuk sahabatnya itu.

“Kau sudah selesai?”

“Ah! Apalagi sekarang?!” tanya Soo Yeon penuh emosi ketika manusia tinggi dan tampan itu menanyainya. Sehun terkesiap melihat amarah yang membara terlihat jelas di mata Soo Yeon. “Yang benar saja! Kau ini kenapa sampai sebegitunya marah denganku?” protes Sehun tak kalah menyebalkannya. Soo Yeon mendengus, “Kau masih bertanya kenapa? Kau yang melakukan kesalahan dan kenapa aku ikut dihukum? Kau pikir aku ini  marah tanpa sebab?”

Di tengah keributan yang menjalar antar keduanya, Park Ji Rae yang tak mau ambil pusing dengan berbagai caci maki yang mereka lemparkan satu sama lain itu dengan cara mengambil langkah perlahan menuju ke luar lobby untuk melarikan diri.

“Sudahlah. Aku tidak mau melakukannya. Ji Rae, ayo pergi,” kata Soo Yeon kemudian menoleh ke belakang berniat mengajak pergi Ji Rae. Tetapi, tidak ada siapapun di belakangnya. “Ji Rae? Park Ji Rae? Kau…, dasar,” omelnya lalu menghilang di balik pintu lobby meninggalkan Sehun yang belum sempat mengatakan sesuatu padanya.

***

Tiga hari kemudian…

Terlihat Oh Sehun sedang asik bergurau dengan teman se-gengnya. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti itu membuatnya bisa melepas tawanya dengan bebas. Tawa khas yang menghiasi wajah tampan itu tak bisa luput dari pandangan seorang Jung Soo Yeon begitu saja. ‘Kesempatan emas’ adalah tepatnya untuk menggambarkan ekspresi gadis berusia 17 tahun itu.

“Senang sekali kau ini. Sampai-sampai kau tidak mendengarku, ‘kan?” goda Ji Rae. “Ayolah, yang benar saja jika kau benar-benar menyukai anak itu,” lanjutnya. Soo Yeon tak habis pikir, bahkan teman dekatnya ini juga melarangnya untuk mendekati Sehun. “Hei, kita belum tahu kehidupannya seperti apa, ‘kan? Kita hanya tahu perbuatannya di sekolah. Jangan menilai orang hanya dari satu sisi,” tukas Soo Yeon tegas. “Tapi semua itu sudah—“

Ahjumma, pesan minuman es-nya satu, ya?”

“Soo Yeon-ah, kau begitu cepat berubah ya. Dengarkan aku.”

“Kau hanya akan mengatakan bahwa perbuatannya di sekolah sudah bisa membuktikan kepribadiannya, ‘kan? Bagaimana jika dia memiliki kepribadian ganda? Semua orang bisa memiliki kepribadian ganda, Ji Rae-ya. Sehun juga belum tentu anak nakal seperti yang kita kira. Bisa saja Sehun anak rajin atau pintar. Buktinya dia bisa mengerjakan tugas dari Guru Kim. Ayolah, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Ji Rae­-ya,” jelas Soo Yeon.

“Hei, Soo Yeon­-ah. Dia mendekat kemari,” kata Ji Rae gelagapan. “Siapa?”. “Sehun,” jawab Ji Rae mulai cemas. “Tidak mungkin. Berapa ahjumma? 4 ribu won? Ini 5 ribu won, kembaliannya untuk ahjumma saja. Terima kasih,” jawab Soo Yeon tak menganggap ucapan Ji Rae lalu mulai menyedot es coklatnya itu. “Sehun ke sini. Dia dari belakangmu, Soo Yeon-ah. Bagaimana ini?”

“Oh Sehun? Mendekat ke arah kita? Kita yang tidak pernah diliriknya sama sekali? Ayolah, tidak mungkin,” kata Soo Yeon seraya menyedot minumannya. “Kau yang mengatakan ‘tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini’, Soo Yeon­-ah, dan sekarang Sehun benar-benar—“.

Kalimat Ji Rae tak secepat tangan Sehun. Kenyataanya bahwa sekarang posisi Soo Yeon telah berada tepat di depan mata lelaki bermata cokelat itu. Minuman es yang dipesan gadis 17 tahun beberapa saat lalu itu telah tumpah ke jalanan panas yang dibalut aspal hitam rata itu. “Se-sehun-ah?” ucap Soo Yeon tergagap ketika matanya bertemu dengan mata Sehun.

“Kenapa? Kalian membicarakanku?”

“Soo Yeon-ah, aku pulang dulu!” seru Ji Rae langsung berlari terbirit-birit meninggalkan Soo Yeon. “Ji Rae-ya! Kau tidak bisa meninggalkanku!” kata gadis berambut cokelat itu kemudian melangkah untuk mengejar temannya itu. “Dan kau juga tidak bisa meninggalkanku,” sela Sehun tanpa memerhatikan ekspresi shock perempuan itu kemudian langsung menarik tangan Soo Yeon dan membawanya ke suatu tempat.

‘Kau berada dalam masalah jika bersama dengannya,’ terlintas dipikiran Soo Yeon ketika lelaki seumuran dengannya itu mengenggam tangannya cukup kuat. “Bagaimana jika kata Na Ri benar? Aku dalam masalah.”

Oh Sehun masih terus saja membawa Soo Yeon ke suatu tempat. Hingga tibalah mereka pada gang kecil yang jauh dari sekolah dengan pencahayaan kurang. “Oh sial. Dia membawaku ke tempat seperti ini? Apa-apaan, aku harus bisa lari dari sini. Kau bisa, Jung Soo Yeon, batinnya ketika tubuhnya dilempar cukup keras ke tembok yang membatasi gang tersebut.

“Pertama, jangan coba-coba lari dariku.”

“Dia mengetahui rencanaku?”

“Kedua, jangan banyak bertanya kenapa aku melakukan ini padamu.”

“Apa yang akan dia lakukan padaku? Dia tidak akan macam-macam, kan?”

“Ketiga, patuhi saja perintahku.”

“Ya Tuhan, tolong selamatkan aku. Sadarkan Oh Sehun. Dia tidak mungkin melakukan hal itu, kan? Jangan sampai Sehun orang seperti itu.”

Sehun menghembuskan napas panjang, seolah-olah akan tidak bernapas untuk beberapa saat. “Kau tidak berpikir macam-macam tentangku, kan?” tanyanya tiba-tiba. “Huh? Tidak,” jawab Soo Yeon gelagapan. “Aku ingin memberitahumu sesuatu, dan aku harap kau mau menerimanya. Jadi jangan berpikiran aneh-aneh tentangku,” lelaki jangkung itupun mendekatkan wajahnya dengan wajah Soo Yeon dengan jarak 10 cm. “Kau mau?”

Dengan cepat Soo Yeon langsung mendorong tubuh Sehun sampai ia terbentur tembok yang ada di belakangnya dan mengeluarkan suara dentuman yang cukup keras. “Hei, apa-apaan kau ini? Kau mau kulaporkan ke guru?” ancam gadis 17 tahun itu. Sehun meringis kesakitan seraya memegangi punggungnya. Wajah marah itu berubah drastis menjadi kecemasan yang tak terkira, “Hei, Sehun-ah. Kau tidak apa-apa? Apa sesakit itu?”

“Tidak.”

“Kau yakin?”

“Ini tidak sesakit dulu.”

“Apa maksudmu?”

Sehun berusaha bangkit dan kemudian melangkah pergi seraya memegangi punggungnya. “Aish, jangan dipikirkan!” katanya berusaha seriang mungkin. “Kau tidak apa-apa, kan?” tanya Soo Yeon berusaha mendekat dan mencoba menyentuh punggung laki-laki 17 tahun itu. “Oh hei! Jangan pegang punggungku!”

Soo Yeon tersenyum dan membatalkan niatnya, “Baiklah. Kau tidak seperti orang yang kesakitan,” katanya kemudian mulai melangkah pergi. “Tunggu,” kata itu menghentikan langkah Soo Yeon secara otomatis. Ketika gadis bermarga Jung itu ingin membalikkan badannya untuk melihat lawan bicaranya, “Jangan berbalik.”

“Eh? Kenapa?”

“Aturan ketiga, patuhi perintahku.”

Dengan ragu Soo Yeon menyetujui permintaan Sehun dengan anggukan kecil. “Aku akan malu setelah mengatakan ini. Jadi, jangan melihatku dengan tatapan anehmu itu. Mengerti?” jelas Sehun. “Baiklah. Cepat katakan hal yang akan membuatmu malu itu. Aku tidak sabar.”

“Apa aku bisa menjadi—”

 -To Be Continued-

Yess,,, hello everybody! Long time no see😀 Semoga kalian tertarik sama cerita dan alur yang aku buat ini yaa.. thanks

11 responses to “Memory – Chapter 1

  1. yah kenapa harus tbc sih? ahh bikin penasaran nih -_- mungkinkah si sehun akan mengungkapkan isi hatinya pada,gadis bermaga jung itu??? aaaahhh kepengen cepet capet baca lanjutannya aku =_-

  2. Gilakk:v lgi asik2 baca malah tbc u.u tpi gapapa lah. Itu ada si enon ma bias huuu :* :* :* penasaran sma klanjutannya. Fighting humm :*

    • Seasik itu kah? Wah,, aku sendiri gak nyangka kalo ini asik :v Oh ya? Kebetulan Vernon juga masuk list bias😀 Thanks ya udah baca :*

  3. Hihi … Lucu bget couple ni. Gmn ya gmbari sikap soyeon & sehun dsini. Gk tau knp?jadi suka gk ngerti am pola fkir keduanya…. Pnsran… Ditggu y thor… See u next time…. Oh ya sblumnya q readers baru dsini,& q jessica fans, & q suka bget bc ff yg jessica ada didalamnya termasuk sm couple siapa ja,yg dipsagan buat si jenong. Jadi slam kenal ya….

    • Hihi,, iya dong, lucunya kan kayak aku, hahaha… Mereka emang sengaja aku bikin pola pikir kayak anak SMA karena mereka anak SMA, jadinya labil😀 Oh begitu, samaan dong aku juga fansnya jessica, malah hampir semua ff main castnya jessica😀 Salam kenal juga..

      Makasih ya udah baca😀

  4. Pingback: FFindo·

  5. Pingback: Memory – Chapter 3 – FFindo·

  6. Suka banget…apa lagi bagian vernon jessica…kkk tapi hunsica tetap no.1
    Hehehehe keep writing

  7. Pingback: FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s