[Lu’s Birthday] Reloaded – It’s Strange, With You (end)

maxresdefault (1)

“Aku meragukanmu?” air mata Ariel mulai pecah, “Aku menjalani hubungan ini setahun lebih, dan kau bilang aku meragukanmu?” Ariel pun menyeka air matanya kasar, “Aku bahkan menyewa flat di Korea meskipun pelatihan bahasa Koreaku sudah selesai, dan kau bilang aku meragukanmu?” Ariel tersenyum kecut, “Miris sekali hidupku. Aku menghabiskan waktu dengan pria yang bahkan tidak bisa mengerti perasaanku.” Ariel pun langsung menarik kakinya dari tempat itu. Ariel tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan. Ia brengsek. Ia menyalahkan dirinya. Dan Ariel terus menangis menyesali semua sikapnya.

Di sisi lain, Luhan justru terpekur ketika melihat air mataAriel membelah kedua pipinya sebelum Ariel pergi dari tempat itu –meninggalkan Luhan dengan dadanya yang berdentum dengan sangat keras. Luhan ingat ketika ia membuat Haneul menangis, dan dengan air mata yang hanya menggumpal di pelupuk matanya, Luhan berjanji tidak akan membuat perempuan mana pun menangis lagi. Tapi hari ini, seolah melanggar janjinya sendiri dan menelan semua ludahnya yang telah ia jatuhkan ke tanah, Luhan membiarkan keegoisannya sekali lagi mengukir air mata untuk seorang perempuan.

Luhan pun bangun dari kursinya –hendak mengejarAriel. Namun langkah Luhan terhenti oleh bibi penjual ayam di sana, “Nona itu belum membayar pesanannya, kau akan membayarnya kan anak muda?”

Luhan mendesis sebal dan mengeluarkan sejumlah uang, “Ambil kembaliannya,” kata Luhan sebelum ia mengejarAriel.

 

***

 

Ariel terus saja menggigit bibir bawahnya sembari menghapus air mata yang terus saja melelh tiada henti. Ariel tidak bermaksud berteiak di depan Luhan. Ariel tidak bermaksud mengungkit siapapun dan membandingkannya dengan Luhan. Ariel seharusnya mengerti, Luhan pergi dari Seoul dan datang kemari untuk menemuinya, dan seharusnya Ariel bisa menekan rasa kesalnya dan bukannya malah marah-marah pada pria itu.

Ariel terus menyeret kakinya dengan tangan yang masih berusaha menghapus air matanya. Ariel mencintai Luhan, dan harusnya Ariel juga tahu Luhan mencintai Ariel. Ariel seharusnya memberikan kesempatan pada Luhan untuk memberi penjelasan, ataupun melakukan pembelaan. Seharusnya Ariel bisa berpikir secara realistis dan tidak mengedepankan perasaannya.

Dan…itulah kesalahan yang selalu Ariel lakukan. Ariel bahkan masih belum bisa mengubah sifat buruknya yang satu itu. Egois, mengedepankan emosi, lalu menyalahkan orang lain atas masalah yang terjadi.

“Berhenti menangis, aku mohon…” Ariel terkesiap ketika sebuah tangan menarik lengan Ariel dengan keras dan membuatnya terlempar ke arah pelukan orang yang menariknya, “Aku tidak tahu apakah kata maaf cukup untuk memperbaiki masalah ini, aku juga tidak tahu apakah kalimat aku mencintaimu juga sudah cukup untuk meyakinkanmu bahwa aku benar-benar tulus mencintaimu. Persetan soal perempuan lain yang terlihat lebih baik darimu. Aku sudah bersaamu, dan aku mencintaimu, aku hanya butuh kau memahami ini..” Ariel tahu suara ini, Ariel juga mengenal aroma parfum yang meguar dari tubuh pria ini. Dan Ariel sama sekali tidak bergerak dari pelukan Luhan, meskipun beberapa saat lalu Ariel bertingkah seolah ia akan menampar Luhan jika pria ini menyentuhnya sedikit saja.

Luhan pun mempererat pelukannya, Ariel masih menangis, dan untuk pertama kalinya Luhan melihat Ariel menangis untuk sesuatu yang nyata, dan bukannya film yang mereka tonton bersama, buku yang dibacanya, ataupun drama yang selalu ia ceritakan. Dan jika saja situasinya memungkinkan, Luhan ingin berkata bahwa setidaknya ia merasa cukup senang ketika Ariel menangis karenanya –artinya Luhan cukup berarti bagi Ariel. Sayangnya, Ariel tidak suka candaan di suasana hatinya yang tengah serius. Dan Luhan tidak ingin memperparah pertengkaran mereka hanya karena candaan bodoh Luhan lagi.

 

***

 

Luhan pun menghentikan mobil sewaannya di depan sebuah hotel berbintang tempat Ariel menginap. Well, salah satu ketakjuban Luhan, meskipun Ariel selalu berpenampilan sesederhana mungkin, dan tidak pernah membicarakan harta dan semacamnya, Ariel selalu memberi kejutan seperti ini –memesan kamar hotel yang mahal, pergi ke luar negri sesukanya, menyewa tempat tinggal di Negara yang sering ia kunjungi, ataupun membeli hadiah dengan harga yang tidak murah.

“Berapa lama kau akan berlibur di Jeju?” tanya Luhan sambil megalihkan pandangannya ke arah Ariel yang masih terlihat pendiam. Ariel bahkan belum mau melihat ke arah Luhan.

“Sisa batas penyewaanku dua hari lagi di hotel ini, sepertinya aku akan langsung kembali ke Indonesia setelah liburanku selesai,” sahut Ariel sambil membuka sabuk pengamannya, “Kau sendiri….sudah memesan kamar hotel, kan? Jika belum, kau bisa memesan di sini…”

Luhan langsung mengibaskan tangannya ke arah Ariel, “Aku takut merengek padamu agar kita bisa sekamar. Kurasa aku akan memesan kamar di hotel lain,” Ariel pun langsung mencubit pinggang Luhan dan Luhan pun tertawa pelan.

Luhan pun menjatuhkan kepalanya ke atas stir sambil memandang wajah Ariel, “Aku tahu kau butuh waktu sendiri malam ini. Beristirahatlah,” Luhan pun menegakkan punggungnya dan mengambil sesuatu dari jok belakang, “Dan…ini hasil tes kesehatanmu dari dokter San. Sepertinya dia tahu kita sedang bertengkar, dia memintaku untuk menjadikan ini alasan agar kita bisa bertemu. Katanya aku harus memberikan ini padamu,” jelas Luhan sambil menaruh dokumen yang dimaksudnya dip aha Ariel.

Ariel terlihat menggigit bibir bawahnya. Ini yang membuatnya menjadi sangat malas untuk melakukan cek kesehatan di SNU Hospital, semua orang yang mengenal Luhan di sana tahu jika Ariel adalah kekasih Luhan, dan secara otomatis mereka tahu jika Ariel adalah gadis sakit-sakitan yang memiliki masalah dengan jantungnya. Luhan memang tidak penah mempermasalahkannya, tapi bagi Ariel ini masalah. Entah mengapa ia merasa buruk karena membuat nama kekasih Luhan sedikit ternodai dengan riwayat penyakit Ariel.

“Jika kau mau aku bisa jadi dokter pribadimu. Kau tahu, meskipun aku adalah dokter bedah, tapi aku pintar dalam segala macam…” Luhan merengut ketika Ariel malah membungkam mulutnya.

“Berhenti pamer dan bicara omong kosong,” kata Ariel sambil menarik tangannya kembali, kemudian ia pun membuka dokumen kesehatannya yang diberikan dari dokter San.

“Kenapa harus omong kosong? Aku benar-benar bisa jadi dokter pribadimu jika kau mau. Bukankah itu lebih mudah? Kita juga bisa bertemu lebih sering, kan?”

Ariel menggeleng tidak setuju dengan mata yang sibuk menyelami isi kertas yang dipegangnya, “Bekerja saja dengan benar, dokter Lu. Tugasmu adalah menangani pasien tanpa melihat ras, suku, dan agama. Dan aku adalah pasien dokter San yang harus ditangani olehnya dengan sepenuh hati,” Ariel pun mengalihkan pandangannya ke arah Luhan, “Ngomong-ngomong, kapan kau akan kembali ke Seoul? Kau terlalu sering mengambil libur belakangan ini.”

“Kenapa kau sangat peduli pada profesiku? Bukankah jauh lebih bagus seperti ini? Aku bisa melihatmu lebih sering dan kita bisa menyelesaikan masalah kita. Aku takut sekali saat kau tiba-tiba menghilang seperti itu,” sahut Luhan dengan nada tak peduli dengan kepala yang terbaring di atas stir.

“Karirmu adalah impianmu. Dan aku mencintai impianmu sama seperti aku mencintai impianku sendiri.”

“Meskipun aku sering meninggalkanmu?”

“Kau sering melakukannya.”

“Meskipun aku sering membatalkan kencan kita?”

“Aku sudah biasa dengan itu.”

“Meskipun kita jarang berkomunikasi?”

“Aku percaya padamu. Dan aku menyanggupi semua ucapanmu itu karena aku sudah sering melakukannya. Jadi berhenti bicara aneh-aneh dan beristirahatlah,” kata Ariel sambil mengecup kening Luhan, “Dan jangan terlalu lama di Jeju. Kau bukan pemilik rumah sakit itu.” Diam-diam Luhan menarik sudut bibirnya –yeah, Ariel ternyata memang tetap tidak bisa marah terlalu lama padanya.

Luhan pun mengangguk dan balik mengecup kening Ariel, “Jangan marah lagi padaku. Dan beristirahatlah, besok sore kita bertemu lagi.”

“Luhan…”

“Ayolah…kau lebih mencintai profesiku, ya?” rengek Luhan mulai sebal. Entah mengapa ia jadi tidak suka dengan sisi Ariel yang seperti ini. Ariel mungkin benar, Luhan benar-benar dungu untuk memutuskan mengambil cuti rumah sakit selama beberapa hari hanya untuk bertemu dengan Ariel. Tapi bukankah normalnya Ariel akan merasa ini sangat romantis dan ia akan mengucapkan terima kasih?

“Ya. Aku lebih menyukai profesimu,” canda Ariel yang membuat Luhan melotot ke arahnya. Tapi Ariel tidak peduli, ia pun keluar dari mobil Luhan dan langsung masuk ke dalam hotelnya.

Tanpa sepengetahuan Ariel, Luhan tetap membiarkan mobilnya terparkir di depan hotel tempat Ariel menginap. Entahlah, rasanya seperti ada sesuatu yang menguap dalam dadanya dan membuatnya mersa kosong ketika Ariel menarik dirinya dari hadapan Luhan. Berlebihan, sih. Tapi itulah kenyataannya. Luhan mulai tahu, goncangan semacam ini dalam hubungannya pasti akan datang lagi, dan Luhan tidak yakin apakah ia bisa mempertahankan dongeng indahnya yang telah ia bangun satu setengah tahun ini.

Tidak pernah ada yang tahu, kan?

 

***

 

Ariel kembali mengecek jam di ponselnya. Dan angka 04.55 tertera dengan jelas, seolah mengejek Ariel yang mulai kebosanan karena Luhan terlambat 35 menit dari janjinya semalam. Luhan tidak pulang ke Seoul secara tiba-tiba dan lupa mengabari Ariel, kan? Rumah sakit masih berbaik hati untuk membiarkan mereka tetap bersama hari ini, kan?

Ariel pun mengerucutkan bibirnya sambil memutar-mutar gelas cappuchinonya yang mulai dingin. Jika boleh jujur, sebenarnya hal yang membuatnya tidak suka dari Luhan, ketika Luhan harus meninggalkannya demi pekerjaannya yang seolah terus mengejarnya. Ariel bisa saja berkata tidak apa-apa, tidak masalah, kemudian bersikap biasa saja meskipun Luhan ternyata harus meninggalkannya sendiri ketika kencan, ataupun membatalkan kencan mereka meskipun Ariel secara sengaja datang dari Indonesia ke Korea demi bertemu Luhan.

Itu sering terjadi, dan Ariel mungkin harus terus memakluminya sepanjang hubungan mereka. Meskipun kadang, Aeiel merasa frustasi jika Luhan mulai tidak bisa dihubungi saat Ariel membutuhkannya dalam keadaan genting. Yeah…Ariel hanya berusaha bersikap dewasa. Toh, kadang justru Ariel lah yang harus menghilang dari pandangan Luhan karena kuliah ataupun pekerjaannya. Meskipun tentu saja, Ariel tak memiliki alasan untuk membatalkann kencan secara sepihak.

“zai wo yanzhong
zhai wo xinzhong
you ni de chuixian jiu you weilan tiankong…”
(“in my eyes
in my heart
because you appeared there’s clear blue skies…”)

Ariel mengerjapkan matanya ketika lagu kesukaannya tiba-tiba dinyanyikan oleh band yang sejak tadi mengisi panggung dan menyanyikan beberapa lagu indie –dan tentunya kebanyakan Ariel tidak tahu lagu-lagu itu. Namun tiba-tiba saja, band itu justru menyanyikan lagu penyanyi asal Cina –namanya Luhan dan yang pasti bukan Luhan kekasihnya yang bergelut bersama rumah sakit. Your Song. Judul lagunya Your Song, dan Ariel selalu merasa si penyanyi Luhan menyanyikan lagu ini hanya untuknya tiap kali Ariel mendengarkan lagu ini.

Yeah…mungkin tidak apa-apa Ariel menunggu Luhan sedikit lagi. Ia bisa menikmati lagu Your Song versi band di tempat itu –yang Ariel sendiri tidak tahu apa nama band tersebut. Meskipun agak aneh, tapi vokalis band tersebut memiliki suara yang bagus. Dan tentunya Ariel bisa menikmatinya hingga band tersebut menyanyikan lagu milik Luhan lagi, kali ini yang berjudul Promises. Hey…mereka tidak secara sengaja menyanyikan lagu ini untuk Ariel, kan?

Kemudian di lagu terakhir, yaitu lagu Adventure Time, tiba-tiba kaca tembus pandang yang menjadi dinding pembatas di sampingnya diketuk oleh seseorang. Meskipun enggan berpaling –karena band tersebut benar-benar menggoda dengan suara halus dan musik aransemen yang tak kalah bagus, tapi akhirnya Ariel tetap menarik pandangannya untuk menoleh ke arah samping kiri.

“Hai! Menunggu lama?”

Ariel mengerjapkan matanya ketika mendapati tulisan yang ditempelkan di dinding oleh seseorang. Kemudian Ariel dapat melihat wajah yang setengahnya masih tertutupi oleh kertas dengan tulisan aneh itu –setidaknya itu aneh bagi Ariel. Dan tentu saja, Ariel langsung mengetahui sepasang mata yang tersenyum itu adalah mata Luhan.

Kemudian, Luhan pun mengganti kertas yang di tempelkannya, “Aku sengaja membuatmu menunggu. Hehe, jangan marah ya! Tapi kau pasti suka lagu-lagu penyanyi Cina itu, kan?”

Ariel mulai menikmati ‘pertunjukkan’ ini, ia pun menyangga kepalanya dengan tangan kanan dan menunggu tulisan berikutnya yang akan ditunjukkan Luhan. Dan ia tertawa kecil saat membaca tulisan berikutnya.

“Sebenarnya aku ingin menyanyikan lagu-lagu itu, tapi aku tahu suaraku tak sebagus Luhan Luhan penyanyi itu. Aku akan lebih menggoda ketika memakai jas dokter ketimbang memegang mic.”

Ariel mengangguk menyetujuinya. Luhan tidak cocok menyanyi dan ia akan terlihat lebih tampan dengan jas putih kebesarannya.

“Dan…maaf jika ini tidak romantis, aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku tidak bisa menulis puisi apalagi membacanya. Nilaiku C soal sastra, jadi biar kau saja yang menulis puisi cinta sebanyak dan seindah yang kau bisa.”

Ariel kembali tersenyum membaca tulisan Luhan.

“Dan…soal lamaranmu tempo hari, aku belum bisa menerimakanya,”

Ariel mengerutkan dahinya –dan ia tak merasakan apapun saat membaca tulisan itu selain bingung.

“Lain kali jangan melamar laki-laki duluan, ya? Aku tidak bisa menerima lamaranmu untuk saat ini, karena aku akan melamarmu nanti…”

“Satu tahun lagi, kau mau menungguku, ya? Jangan kembali pada Kai Kai itu, kau harus menungguku sampai aku mendapat gelar professor dan bisa membelikanmu tempat tinggal, kendaraan, dan cincin yang layak. Aku tidak kaya, jadi kau harus menabung dulu untuk membuat ayahmu yakin bahwa hidupmu akan baik-baik saja nantinya saat kau hidup bersamaku.”

Dan entah bagaimana tiba-tiba saja setetes air mata lolos begitu saja –bahkan Ariel tak merasakan air mata itu menggumpal di kelopak matanya.

“Aku tak mau membelikanmu cincin dulu, jadi aku membelikan kalung itu dan seharian ini begitu sibuk untuk mencari kalung yang pas. Suka tak suka kau harus memakainya atau aku akan menciummu.”

Ariel tertawa kecil dengan air mata yang masih belum mau berhenti. Ia pun menerima kotak kaling yang disodorkan ke arahnya oleh seorang pelayan wanita. Ariel pun menerima kotak kalung itu dan membukanya. Yeah…cantik. Ariel tidak tahu apalagi yang harus ia katakana selain kalungitu cantik dan ia bahagia.

“Kau harus memakaikannya!” kata Ariel sambil menunjuk kalungnya.

Luhan pun mengangguk dan berkata “Nanti,” yang tidak begitu terdengar. Kemudian ia pun mengangkat kertas terakhirnya, “I love you. And I feel…it’s strange, with you.”

Ariel pun mendekatkan dirinya ke arah kaca dan berhadapan dengan Luhan. Ia pun menempelkan kedua telapak tangannya ke arah kaca dan berhadapan sejajar dengan Luhan. Kemudian, Luhan pun melakukan hal yang sama dan berkata pelan, “I love you.”

Ariel pun mengangguk pelan dan mengucapkan hal yang sama, “Aku juga…”

 

=the end=

20160509 PM1012

Happy birthday Luhan and I love you wkwk

Sorry untuk keterlambatan ff ini, aku sempet sakit dan sebangun sakit aku disambut dua makalah yang harus selesai hari ini. Hehe…

Doakan presentasiku besok lancar ya…

Thanks for reading ^^

2 responses to “[Lu’s Birthday] Reloaded – It’s Strange, With You (end)

  1. Kyaaa lulu dear aku jadi melting. . . Duh duuh so sweet banget sih mereka jadi pengen deeeh. . .
    Berakhir dengan membahagiakan itu melegakan padahal kupikir mereka bakalan putus
    Semoga lancar ya kak presentasinya!!!! Semangat!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s