Rompecorazones #5

rmpcrzns(1)

Credit pic: diramadhani

Taeyong, Nayoung, others.

by Cca Tury

Previous: [1] [2] [3] [4]

“Taeyong tahu, mungkin ini akan benar-benar menjadi susah.”

Ketika memasuki kelas, Nayoung tersenyum. Meski tidak bisa dikatakan mereka sudah baik-baik saja, setidaknya Taeyong dan Sungjae tidak perlu adu mulut karena mereka tetap duduk di tempat yang sama. Sepertinya kini mereka sudah tidak keberatan untuk duduk bersebelahan.

“Jadi apa hubunganmu dengan Taeyong?”

Nayoung sedikit kaget ketika Sejung, salah satu temannya, merangkul tiba-tiba dari balik punggung. Kejadian di kantin kemarin benar-benar menjadi headline berjudul cinta segitiga yang memanas. Bahkan untuk berjalan di koridor saja Nayoung sudah menjadi tak nyaman, tatapan mata dengan bisik-bisik lirih sungguh mengganggu.

Nayoung hanya bisa berdecak malas sebenarnya, orang-orang awam memang terbiasa begitu, mereka lebih suka mengambil kesimpulan sebelum meneliti lebih lanjut apa yang sebenarnya terjadi.

Nayoung melepas pelukan temannya itu dan kemudian duduk di meja nya, “Berhentilah bergosip, Jung.”

“Hei, aku tidak. Hanya saja, sungguh, banyak sekali orang yang membicarakanmu di sekolah. Terutama gadis labil penggemar Lee Taeyong.” Sejung terkekeh sembari duduk di bangku di hadapan Nayoung.

“Dan kau salah satu gadis labil penggemarnya?” Nayoung menggeleng kepalanya.

“Ish, enak saja! Eh—tapi tak mengapa sih, dia tampan.” Lagi-lagi kekehan khas milik seorang Kim Sejung terdengar, “Ayolah, beritahu aku apa hubunganmu dengan Taeyong?” Dia belum menyerah.

“Kami hanya teman sekelas, kau tahu itu, kan?”

Sejung berdecak, “Oi, aku juga teman sekelasnya. Maksudku, hubungan lain yang bisa membuat dia seenaknya menarik tanganmu dan berteriak marah, KAU MENCIUMNYA!” Sejung bahkan memperagakan ucapan Taeyong kemarin. “Kurasa dia bukan orang gila yang seenaknya menarik tangan orang jika tidak ada suatu hubungan spesial.”

Nayoung menghela nafasnya. Kim Sejung, salah satu teman dekatnya, benar-benar hobi menggali-gali.

“Oke. Baiklah, kau tidak ada hubungan dengannya. Lalu Kim Seolhyun, si manis, apa hubungannya dengan Taeyong?” Pertanyaan Sejung kali ini sukses membuat Nayoung mengangkat kepalanya dan berkerut. “Kulihat mereka pergi ke sekolah bersama. Gadis labil koridor sekolah pun sedang membicarakannya.”

Sebenarnya ini juga yang mengganggu Nayoung. Sejak kak Chanyeol mengatakan Taeyong pergi dengan seorang gadis, hatinya menjadi tak menentu. DIa juga bahkan melihat kemarin, Taeyong bersama Seolhyun. Apa seorang gadis yang dimaksud kak Chanyeol adalah si Ms. popular sekolah mereka?

“Tidak bisa kah tangan ini hanya aku yang memegangnya?”

“Tidak bisa kah senyum indah itu hanya aku yang melihatnya?”

Bahkan kalimat-kalimat ini masih terus mengiang di telinga Nayoung. Lalu, apa artinya jika dia bersama gadis lain? Dia mempermainkan Nayoung?

Sungguh, Nayoung benar-benar terganggu.

***

“Lee Taeyong?”

Nayoung duduk di meja yang berada di dekat pintu belakang kelasnya, oleh karena itulah dia bisa dengan jelas melihat Kim Seolhyun, gadis populer sekolah, melambai tangan dan tersenyum indah untuk Taeyong yang duduk di ujung sana di dekat jendela kelas mereka. Nayoung bahkan secepat mungkin melirik Taeyong, mencari tahu bagaimana balasan yang diberikan oleh teman masa kecilnya itu.

Meski dengan wajah datar, dengan jelas Nayoung melihat Taeyong ikut melambaikan tangan membalas. Tidak perlu munafik, Nayoung tidak suka pemandangan yang seperti ini. Rona wajahnya bahkan berubah seketika. Dengan tajam matanya terus menatap Taeyong, berharap lelaki itu menyadari perubahannya.

Mungkin hanya lima atau tujuh detik ketika Taeyong beranjak dari tempat duduknya, mata mereka bertemu. Nayoung yakin Taeyong sudah menyadari aura wajahnya, tapi lelaki itu benar-benar menyebalkan. Dia bahkan dengan santai berjalan dengan senyum tipis.

“Whoaa, another love triangle.” Sejung terkekeh menggoda. “Kemarin kau, Taeyong, dan Sungjae. Sekarang kau, Taeyong, dan miss popular?”

Tapi, daripada meladeni Sejung, Nayoung lebih tertarik melirik gadis di sampingnya, Park Sooyoung. Gadis itu pasti mendengar dengan jelas kata love triangle yang melibatkan Sungjae yang disebut Sejung tadi. Setelah selesai membereskan buku-bukunya, Sooyoung hanya tersenyum sedikit kaku, lalu beranjak dari mejanya,

“Kau akan makan siang? Ayo pergi bersama,” ajak Nayoung.

“Aku akan ke perpustakaan lebih dulu. Kau duluan saja, nanti aku menyusul.” Dia tersenyum, lalu melangkah ketika Nayoung sudah menganggukkan kepala.

Sebenarnya Nayoung tidak dekat sama sekali dengan Sooyoung. Dia tidak pernah satu meja, bahkan satu kelas dengan Sooyoung sebelumnya. Sooyoung juga lebih senang menghabiskan waktu makan siang dengan teman-teman dari kelas yang sebelumnya. Selama ini pun Sooyoung yang dia tahu didengarnya dari Sungjae. Teman lelakinya itu mengenal Sooyoung lebih dulu karena mereka berada di klub musik yang sama di sekolah sebelum mereka berada di kelas yang sama.

Nayoung benar-benar tidak tahu bagaimana perasaan seorang Park Sooyoung pada Yook Sungjae, temannya. Tapi, yang jelas kata love triangle tadi menganggu.

“Eish!” Nayoung berdecak kesal untuk Sejung. “Berhentilah mengatakan cinta segitiga. Lagi pula aku dan Sungjae tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya teman!” Nayoung membereskan bukunya, lalu beranjak. “Sungjae menyukai gadis lain!” Nayoung melangkah. Dengan senyuman nakal Sejung mengekori.

“Lalu dengan Lee Taeyong? Pasti kau ada hubungan apa-apa? Ya, kan?” Lagi-lagi Sejung menggali-gali. Nayoung memang tidak pernah cerita tentang Taeyong pada Sejung sebelumnya, hanya Sungjae yang tahu tentang teman masa kecilnya, bahkan nama dan wajah orangnya pun baru Sungjae ketahui kemarin. Jadi wajar saja jika Sejung terus bertanya, apalagi jika urusannya dengan masalah hubungan spesial. Sejung tidak pernah melewatkan cerita tentang hubungan spesial.

“Berhentilah mengurusi hubungan orang lain, lebih baik kau perbaiki hubungan spesialmu!”

“Ish! Kau mengejekku? Oi! Hubungan spesialku akan baik-baik saja meskipun—“ Kalimat Sejung terhenti sejurus dengan kakinya yang ikut terhenti. Dia bahkan hampir saja menabrak Nayoung di depannya karena gadis itu tiba-tiba saja terhenti.

Sejung ikut melirik ke arah mata Nayoung menatap tajam.

“Sudah kukatakan itu akan menyenangkan, tadi malam bahkan kau ikut menggerakkan badanmu.”

Begitu yang Nayoung dan juga Sejung tangkap dari percakapan miss popular dan anak baru dari kelas mereka.

Sudah Nayoung katakan, dia agak terganggu dengan pemandangan yang seperti ini. Kenapa mereka harus bicara di koridor di depan kelas mereka. Kenapa tidak mencari tempat lain yang tidak bisa ditangkap oleh netra Nayoung?

Ketika mata kedua orang itu melihat Nayoung dan Sejung yang terhenti sangat dekat dengan mereka, Nayoung segera saja berlagak seolah tidak terjadi apa pun,

“Ayo, Sejung ah.” Ucapnya dan berusaha melangkah santai.

***

Taeyong tersenyum kecil sembari terus melirik gadis yang sok angkuh ketika melewatinya. Taeyong bukan anak kecil lagi, jadi hal yang seperti ini sudah sangat bisa ia pahami. Apalagi setelah ucapannya kemarin di klinik sekolah. Wajar saja gadis itu bersikap begitu. Hanya saja, terlihat menggemaskan sikap yang seperti itu di mata Taeyong. Jadi, meski dia tahu ini tidak akan baik-baik saja, izinkan Taeyong melihat sikap seperti itu beberapa saat saja.

“Wah. Sungguh aku benar-benar penasaran.” Ucapan Seolhyun menghentikan senyuman Taeyong, menghentikannya melirik gadis yang berjalan bersama sahabatnya, dan membuatnya terpaksa melirik Seolhyun.

Seolhyun menunjuk gadis yang berjalan dengan sahabatnya tadi, “Lim Nayoung. Aku penasaran dengannya.” Seolhyun tersenyum manis. “Demi mengetahui tentangnya kau bahkan rela berubah pikiran dalam hitungan detik,” ucap Seolhyun. Berkat Nayoung-lah akhirnya Taeyong mau ikut dengannya, pertunjukan tadi malam pun bahkan Taeyong sukarela memberikan beberapa gerak tariannya. Padahal, dia hanya memberikan sedikit bocoran tentang gadis itu.

“Kau bahkan membuat keributan di kantin. Kau juga menghajar orang yang sudah menciumnya di acara pentas drama sekolah,” tambah Seolhyun lagi. Semenjak kedatangan Lee Taeyong di sekolah, semua menjadi agak kacau. Mulai dari pembicaraan tentang mantan narapidana, sampai si tampan Taeyong anak pemilik Daehan Group. Hari ini pun tetap sama, pembahasannya menjadi siapa sebenarnya Lim Nayoung bagi Lee Taeyong.

Sebenarnya dirinya pun ikut menjadi bahan gossip, karena kedekatannya di sekolah dengan Lee Taeyong. Tetapi sungguh, hal itu tidak bisa dikatakan sebagai prestasi, karena kenyataannya Lim Nayoung lebih berpengaruh.

“Apa dia orang spesial?” tanya Seolhyun.

“Eum. Sangat.” Tanpa ragu-ragu Taeyong menjawab.

Mendengar jawaban tanpa ragu-ragu itu, Seolhyun tersenyum kecil. Entahlah, senyum kecil itu bisa dikatakan tulus atau tidak. Tapi sungguh, jawaban tanpa ragu-ragu itu sedikit mengganggu. “Ah, begitu ya? Apa orang lain tidak bisa lagi menjadi spesial bagi Lee Taeyong?”

“EH?” Ucapan Seolhyun terdengar sangat lirih di telinga Taeyong. Dia bahkan tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

Seolhyun tersenyum lagi, lalu menggeleng. “Tak ada. Aku akan kembali ke kelas,” ucapnya membuat Taeyong berkerut. “Ohya, nanti malam pertunjukan terakhir, aku akan menjemputmu.” Setelah melambaikan tangan, Seolhyun melangkahkan kakinya pergi.

Taeyong hanya mengedik bahu setelahnya.

“Tae, ayo makan siang.”

Taeyong melirik. Anak Thai yang mengadunya dengan Yook Sungjae kemarin, ternyata. Chittaphon.

Taeyong lalu melingkari tangannya di leher lelaki itu, dia sedikit mencekik, “YA! Karena ulahmu wajahku menjadi begini.” Alasan saja sebenarnya, karena sesungguhnya memar di wajah itu dia yang memulai, bukan gara-gara mulut Ten kemarin.

“Tae, Le—lepas, leherku!” Ten bahkan memukul lengan Taeyong di lehernya.

“Traktir aku makan siang!”

“Hei, kenapa harus? Kau kan anak orang kaya. Aku hanya perantau. Akk—leherku!”

Taeyong terkekeh, lalu menarik anak Thai itu. Menjadi pemeras sekali-kali tak mengapa, kan?

***

“Aih, sudah kukatakan untuk tidak menjemput. Aku akan datang. Aku bukan lelaki yang suka mengingkari janji.” Taeyong mengoceh seraya tangan yang terus membenahi jaketnya. Dia agak risih dengan gadis yang selalu datang ke rumahnya. Satu-satunya gadis yang boleh datang ke rumahnya hanya Nayoung. Tapi Seolhyun, Taeyong belum tahu bagaimana Seolhyun bisa menemukan rumahnya—karena dia masih bersikeras mengatakan jika dia juga tinggal di daerah rumah Taeyong—sungguh, dia kurang menyukai gadis ini yang selalu saja datang ke rumahnya.

“Aku takut kau tidak tahu letak tempatnya.”

“Kau pikir aku berasal dari mana? Aku ini orang Seoul asli! Gangnam itu bukan apa-apa bagi—“ Ocehan Taeyong terhenti dengan suara ‘kriet’ pintu gerbang rumah sebelah yang terbuka. Mata Taeyong membulat ketika gadis dengan dua kantong besar berisi sampah di kiri kanan tangannya, yang keluar dari dalam rumah itu ikut terhenti melihatnya.

“Young ah,” sapa Taeyong. Dia tahu gadis itu semakin tak baik-baik saja, tatapannya semakin menakutkan melebihi sikap sok angkuh saat memergokinya di koridor sekolah.

Nayoung hanya sekilas melirik Seolhyun yang tersenyum manis dengan lambaian tangan, kembali dia menatap Taeyong, “Akan pergi?” tanyanya singkat, nadanya sungguh bisa diartikan jika dia sedang sangat kesal.

“Eum.” Taeyong menjawab singkat juga. Saat seperti ini, tidak ada gunanya menjelaskan dengan baik-baik. Dia juga tidak ingin Seolhyun semakin ikut campur urusan mereka.

“Hati-hati,” ucap Nayoung. Dia lalu melempar sekuat tenaga dua kantong sampah besar ke tempat pembuangan sampah yang tepat di seberang rumahnya. Biasanya, Nayoung sambil bersenandung ria mendekati tempat sampah itu ketika membuang sampah dari rumahnya. Dia bahkan dengan bersuka cita memunguti sampah yang berserakan di jalanan. Tapi kali ini, sungguh, dia sedang tidak berminat sama sekali, yang diinginkannya adalah cepat-cepat masuk ke dalam rumah.

“Hei, tidak bisa kah kau menunggu?” Suara Taeyong menghentikan langkah Nayoung yang terburu-buru, “Aku tidak akan pergi lama,” tambahnya.

Nayoung tidak menjawab, dia juga bahkan tidak berminat membalikkan badan dan mengangguk. Dia malah melanjutkan langkahnya yang terhenti beberapa detik itu.

Taeyong menghela nafasnya, ini mungkin akan benar-benar susah.

“Wah, ternyata dia benar-benar spesial, ya?” Seolhyun berkomentar.

Taeyong hanya meliriknya sekilas lalu berucap, “Ayo pergi.”

***

12 responses to “Rompecorazones #5

  1. kayanya seolhyun juga suka taeyong ya semiga aja dia gak memperkeruh keadaan diantara nayoung dengan taeyong.

  2. holaa
    aku langsung ngebut baca fic ini dari chap 1😄
    wanjir taeyong sama nayoung sama-sama jaim ih, bikin gregetan ><
    ditunggu next chapnya!!
    keep writing!!

  3. mbak aku semakin dibuat gemas sama mereka ugh sama sama saling suka juga tapi kok…ah ya sudahlah kupercayakan alurnya di tangan mbak cca saja. padahal taeyong udah tau kayaknya kalo nayoung ada rasa sama dia huft. :—(
    btw ini mbak cca gak ada niatan buat nambahin cast baru gitu biar cinta segitiga mereka semakin keruh? kan kalo taeyong udah ada seolhyun tuh, gak sekalian dibikin ada cowok yang naksir seolhyun juga biar taeyong makin panas? (abis kalo sungjae so pasti udah sama sooyoung) (kalo chittaphon hm gak deh gak cocok) (jahat).
    ah mau gimanapun ceritanya nanti tetep ditunggu lah chapter selanjutnya, mbak! 😆

  4. Nice 👍 ceritanya juga makin buat greget. Ditunggu chapt selanjutnya. Kalo boleh sih mbak chap selanjutnya dipanjangin dikit ☺. Keep writing author-nim ☺

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s