Princesa de la Corona (series – Krisis)

imagese

Title : Princesa de la Corona (Series – Krisis)
Writed by : @atika_s27 / Krystalaster27
Genre : Sad, school life, and family
Cast : Son Naeun (a-pink)
Other cast : Jungkook (BTS) berubah marga menjadi Son, Kim Jongwoon (SJ), Choi Sully (f-(x)), Jessica Tyler (OC) and other…

Summary : Son Naeun seorang siswi di Seoul International High School yang menyimpan banyak kisah dibalik kepribadian anehnya. Korona yang disia-siakan, itulah jati dirinya. Hidup dalam perlakuan diskriminasi yang tak berujung… Dengan apa ia melalui garis takdir ini dan akankah ia bisa bertahan?

Disclaimer : Alur cerita real berasal dari imajinasi liar saya, cast hanya sebagai pinjaman untuk memudahkan visualisasi bagi readers.

Ini ff Series, tiap chapternya akan berbeda tetapi tetap menyambung. ^_^
Jika tidak dibaca, hati-hati menyesal. Kkkkkk #sayanggakbohongloh!

Series sebelumnya :
Cadangan,

.
.
.
.
.

Krisis
Ambang kehancuran
Awal sebuah cobaan
Masa untuk pengujian
Atau akhir kehidupan?
Hanya Tuhan yang mampu tuk ungkapkan

Krisis
Harus dengan apa melaluinya?
Kesabaran, ketenangan, dan perjuangan
Tak lupa doa yang dipanjatkan
Agar yang kuasa berkenan tuk meringankan

Krisis
Masa tersulit dalam hidup
Masa puncak dari emosi yang meletup
Juga masa akhir dari takdir yang tertutup

Krisis
Saat binar kebahagiaan meredup
Saat kuncup tawa mengatup
Juga saat air kenikmatan tak bisa ditangkup

‘Son Naeun’

.
.
.
.
.

Lapisan putih yang melapisi hampir sebagian rumah, jalan, juga pepohonan kini mulai menipis. Aktifitas yang beberapa pekan terakhir di lakukan lebih pendek mulai berjalan normal, hiruk pikuk keramaian kota juga sudah memadati jalanan. Pagi di akhir musim dingin, itulah definisi singkat untuk panorama yang terbentang saat ini.

Brakk

Gebrakan meja membuat semua murid 1-A1 terkejut bukan main,  apalagi melihat kemurkaan seorang seonsaengnim yang sekarang berkacak pinggang.

Pemilik eye smile terbaik se Seoul International High School yang tak lain adalah Kim Jongwoon, memandang ke satu titik fokus dengan tajam. Image ramah luntur begitu saja dari peraih peringkat  5 handsome list teachers of SIHS, itulah penilaian singkat dari segerombolan fans siswi yang ada di kelas 1-A1.

“Naeun haksaeng, kenapa kau tidak fokus?” Sontak saja seluruhnya memusatkan perhatian pada siswi cupu yang sedang menunduk.

Perlahan siswi itu berdiri, membungkuk dalam sambil mengucapkan maaf. “Mianhae Kim seonsaengnim.”

Masih dengan tatapan tajamnya, Kim seonsaengnim bersedekap. “Jika sakit tidak perlu masuk. Kau hanya akan mengganggu konsentrasi yang lain Naeun haksaeng.” Sebagian siswi merasa tercekat, aura membunuh yang menguar dari tubuh Kim saem sangat terasa.

Siapapun tau jika Kim Seonsaengnim yang sudah menyandang gelar professor itu sangatlah menyeramkan jika marah. Sudah ribuan murid yang berlutut karena tidak kuat menjalani hukuman darinya, mereka selalu berakhir menangis terisak di halaman sekolah.

“Ne, saya janji akan fokus.”
Aneh, wajah itu tetap datar. Son Naeun tetaplah dengan sifat menjengkelkannya, sebagian siswi menengguk ludah karena takut melihat kemurkaan Kim saem yang mungkin akan meledak setelah ini.

“Baguslah, kalau begitu ulangi apa yang aku ucapkan tadi di depan kelas. Jelaskan secara bersamaan dengan jawabanmu untuk soal nomer 2.” Well, seperti dugaan mereka. Kim Seonsaengnim tetap memberikan hukuman dalam versi yang lebih ekstrim.

Presentasi adalah bencana bagi para murid, mereka selalu gemetar dan berakhir memalukan hanya dengan tatapan menusuk Kim seonsaengnim. Bukan hanya itu, taruhannya adalah nilai raport mereka yang terancam kosong, sehingga orangtua mereka dipanggil agar menghadap Kim saem untuk memohon nilai.

Tukk

Siswi cupu itu sudah berdiri di depan kelas, terlihat santai juga luwes saat meletakkan buku serta memasang flashdisk pada laptop. Kim seonsaengnim duduk kembali ke tempatnya lalu bersedekap, mengamati semua gerak-gerik dari Son Naeun.

Flashdisk? Apa ini lelucon. Bukankah flashdisk hanya digunakan untuk slide show dari microsoft power point. Son Naeun hanyalah siswi miskin dengan penampilan kucelnya yang membuat siswa tampan merasa jengah, wajah cupu itu bagaikan sebuah aib untuk Seoul International High School. Semua siswi di SIHS itu sangat modis, gadis pesolek yang suka tebar pesona adalah pemandangan yang lumrah.

Flip

White board itu mulai menampakkan sebuah opening slide dari presentasi. Di bagian paling bawah tercantum nama Son Naeun sebagai pembuat slide. Aksi kecil tersebut berhasil membuat mulut Jessica Tyler menganga, tidak percaya jika Son Naeun yang berasal dari kalangan bawah, mau bersusah payah menyediakan slide show.

Naeun menegapkan punggungnya,  menyapu setiap sisi kelas dengan gerakan netranya. “Annyeonghaseyo. Today, i will explanation about atoms. Atom adalah bagian terkecil dari suatu benda yang sudah tidak bisa dibagi lagi….” Itulah gaya seorang Son Naeun yang cerdas.

Presentasi multi bahasa juga multi konsep, meskin Son Naeun selalu mencampurkan banyak bahasa seperti korea, b.inggris, dan spanyol, juga beberapa bahasa mandarin, meksiko, hingga jepang. Entah bagaimana mereka semua memahami penyampaiannya, beberapa siswa bahkan pernah memuji jika presentasi seorang Son Naeun, lebih baik ketimbang Cho seonsaengnim yang dikenal sangat lihai menyampaikan materi. Jangan salah sangka, mereka hanya memuji dalam hati.

Kim seonsaengnim menyimak, kadangkala alisnya menyatu saat mendapati kalimatnya tadi diubah sedemikian rupa oleh Son Naeun. Nyatanya Son Naeun meski terlihat melamun tapi tak ada satu kalimat yang terlewat, sepertinya siswi mungil itu memiliki konsentrasi paralel. Bisa terfokus lebih dari satu kegiatan yang sedang terjadi.

Presentasi tersebut berjalan mulus tanpa hambatan sekalipun, bahkan Son Naeun mampu menjelaskan step by step cara menjawab soal. Menghapus pemikiran para siswa yang tadinya malas menatap deretan rumus.

“Ada yang perlu ditanyakan?” Naeun menatap satu persatu teman sekelasnya, tangan kirinya sudah mendekap sebuah buku tebal sedangkan tangan kanannya menggenggam spidol. Pose siaga untuk menjawab jikalau ada yang menanyakan contoh soal lain.

Jessica Tyler mengangkat tangannya,  dengan santai mencetuskan pemikirannya. “Siapa nama ilmuwan yang dipakai sebagai standarisasi model atom sederhana saat ini?” Senyum sensualnya terpantri ketika mengakhiri pertanyaan.

Naeun mengangguk, dengan cepat menjawab. “Bohr dan Rutherford.”

‘Astaga! Sungguh keterlaluan kau Jessica Tyler! Menanyakan sesuatu yang tidak tercetak di buku materi Fisika saat ini.’ Itulah pemikiran seperempat murid yang mengaku kutu buku, padahal sejatinya mereka tak ada bandingnya dengan Naeun.

Kali ini Woohyun mengangkat tangan,  ia menunjuk slide show yang masih menyala di white board. “Bagaimana cara menghafal rumus hukum coulomb itu?”

Naeun menggeser atensinya,  menunjuk slide dengan laser kecil untuk menandai. “Rumusnya: F = K. ((Q1.Q2) : r2) kalian bisa menghafalnya dengan Fasa KaQiQu RemukRemuk.”

Double wow!!! Itu metode paling praktis yg pernah terdengar. Kim seonsaengnim bahkan menarik sudut bibirnya, sepertinya ia terpesona dengan metode Naeun yang lebih mirip sebagai plesetan sebuah keluhan.
Fasa KaQiQu RemukRemuk (Rasa Kakiku RemukRemuk), siswa di sudut belakang bahkan terkikik geli.

“Apa ada yang perlu ditanyakan lagi?”

Naeun tersenyum tipis sangat singkat tetapi berhasil menarik perhatian dua siswi yang sedari tadi fokus memperhatikan. “Baiklah, terima kasih atas waktunya. Penjelasan lebih lanjut akan disampaikan oleh Kim seonsaengnim.” Punggung yang tadi ditegapkan itu membungkuk dalam, menandakan presentasi sudah usai.

Prok

Prok

Prok

Tepukan tangan membahana di ruang kelas tersebut, hal yang lumrah dilakukan setelah menonton presentasi dari Naeun. Meski gadis cupu itu aneh dan kucel, tetapi tak akan ada yang berani menghina kecerdasannya. Atau mereka akan menghadapi panceklik karena Son Naeun tidak menyumbangkan pemikirannya saat ulangan.

Masa bodoh dengan peraturan *dilarang mencontek saat ulangan*, setiap murid punya batasan toleransi atas tingkat berfikir. Jadi daripada membiarkan otak mengepulkan asap, lebih efisien menerima hasil instant. Simple kan?

“Tunggu, tetap berdiri di sana dan jawab pertanyaan dariku Naeun haksaeng.” Intrupsi itu berasal dari Kim seonsaengnim saat Son Naeun hampir mengangkat tumitnya.

Guru ber-eye smile itu diam, menelisik ekspresi Naeun yang tetap terlihat santai. “Menunjukkan kecepatan alat itu mengubah energi listrik menjadi energi bentuk lain atau banyaknya energi listrik yang diubah menjadi energi lain tiap detik. Bisa kau sebutkan apa yang kumaksud?” Ia mengucapkan sebuah pertanyaan berupa desripsi dengan versi tanpa titik koma dan tenses berbelitnya.

Kim Jongwoon saem, sadarkah anda jika sudah melakukan permainan kata yang berhasil merusak saraf sebagian murid karena dipaksa berfikir.

“Daya suatu alat listrik (Amperemeter dan Voltmeter). Apa ada lagi seonsaengnim?”

Triple wow! Son Naeun, engkau berhasil meluluh lantakkan pemikiran atas rasa ragu yang tadi menggeluti nalar. Entahlah berapa muat volume otak dari siswi kucel tersebut, mereka tak ingin menebak. Otak mereka bahkan sudah macet saat mendengar pertanyaan Jongwoon saem, itulah sebabnya instant lebih baik dibanding memeras otak sendiri.

“Cukup. Kau boleh duduk Naeun haksaeng.” Naeun membungkuk sekali lagi lalu menghampiri mejanya, di sana Sully sudah menyambut dengan tatapan berbinarnya yang polos.

‘Aigoo… Pertanyaan itu bahkan membuat siswa-siswi lain bingung, tetapi Naeun haksaeng bisa menjawabnya dengan lancar. Ini ajaib, Lee seonsaengnim sungguh salah jika meremehkan seorang Son Naeun.’ Tatapan tajam itu menyembunyikan kekaguman, entah apa yang direncanakan oleh Son Naeun.

Sudah kesekian kalinya Son Naeun melamun saat jam pelajaran berlangsung, tetapi ketika seonsaengnimdeul memberinya tugas presentasi. Siswi pendiam itu berhasil membuat mereka takjub dan terheran. Pertama kalinya dalam sejarah, seorang siswi mampu melampaui cara mengajar gurunya, konsep yang to the poin dan terperinci, bahasa campuran yang santai, serta beberapa istilah lucu untuk menghafalkan rumus maupun nama ilmiah. Seonsaengnimdeul merasa Skak mat! Mereka bahkan melakukan taruhan konyol secara bergantian.

*Son Naeun haksaeng harus melakukan presentasi, jika ia melamun saat pelajaran berlangsung*
Dan hari ini Kim Jongwoon merasa puas, ia berhasil membuktikan secara on air. Son Naeun secara perlahan menebarkan pesonanya, membuat julukan ‘brengsek dan tengil’ berubah menjadi ‘cerdik dan misterius’.

.
.
.
.
.

Brakkk

Pintu itu sekali lagi harus teraniaya, dibuka dengan keras dan setengah dibanting. Sepertinya sebentar lagi si-penghuni kamar harus merelakan pintu itu.

Seorang bocah setinggi satu meter berjalan cepat menghampiri remaja yang sedang bersandar di dashboar ranjang sambil membaca sebuah buku. Situasi seperti ini sudah umum, sehingga remaja tersebut langsung menutup bukunya dan memandang bocah pengganggu aktifitasnya.

“Nuna, minggu depan aku harus membayar uang spp sekolah.” Bocah itu bersedekap, mempoutkan bibirnya setelah mengangsurkan secarik kertas tagihan sekolahnya.

Remaja itu mendesis kecil, bocah di hadapannya ini berlagak seperti preman yang sedang memalak korbannya. “Jungkook-ah, kau bilang saja pada eomma.” Lama-kelamaan Naeun jengah juga menghadapi adiknya yang memiliki kepribadian labil ini.

Gelengan tegas itu diiringi dengan hentakan kaki. “Shireo… Nuna saja yang bilang.”

Mengacak rambut lalu melepas kacamatanya, bersiap menerjang bocah gembul yang notabene adiknya sendiri. “Aishh, kau ini selalu saja meminta pada nuna.”

“JUNGKOOK!!!” Teriakan keras itu bukan berasal dari Naeun melainkan dari sekumpulan bocah yang sepantaran dengan Jungkook. Telinga Naeun bahkan sedikit berdengung, itulah hebatnya pasukan kecebong, meski mereka berteriak dari radius 100 meter sekalipun tetap saja memekakkan telinga.

“Nuna, aku pergi dulu ne! Teman-teman sudah menantiku.” Jungkook berlari meninggalkan nuna-nya, menjeblak pintu masuk rumah dengan kekerasan yang sama.

Brakkk

Sontak saja Naeun berteriak. “Yakkk, Jungkook-” Mulutnya terkatup, percuma saja jika ia meneruskan kalimatnya. Toh, yang dituju sudah melalang buana dengan bocah-bocah yang menanti di depan pagar rumah.

Naeun memakai kacamatanya lagi, membenahi kuciran rambutnya yang tadinya berbentuk kuncir kuda menjadi tergelung ke atas.

Tap

Tap

Tap

Langkahnya cukup lirih menuju kamar kedua orangtuanya yang ada di dekat dapur.

“Uangnya tidak cukup yeobo.” Itu suara nyonya Son yang tidak sengaja tertangkap pendengaran Naeun. Membuat tubuh ringkih itu mematung seketika, ini adalah topik yang sudah menghantui keluarga Son sejak 3 tahun silam.

“Besok aku akan mencari pinjaman.” Suara bariton itu tentu saja berasal dari tuan Son.

“Andwae, hutang kita sudah menumpuk. Bagaimana jika kita tidak mampu melunasinya? Kasihan anak-anak.”

Gadis itu merapatkan tubuhnya di balik dinding, ia membekap mulutnya agar tidak bersuara. Menguping adalah tindakan tercela, namun Naeun perlu mendengar percakapan ini agar ia mengetahui penyebab maupun jalan keluar dari perundingan atas panceklik yang dimaksud.

“Apa kita harus meminta pada Taeyeon?”

Kepala Naeun menggeleng, ia tidak setuju dengan usul appa-nya.

“Yeobo, kurasa itu mustahil. Taeyeon tidak mungkin mau membantu, dia juga punya kewajiban sendiri.” Nyonya Son juga menggeleng.

Son Taeyeon adalah putri pertama keluarga Son yang sudah membina rumah tangga, tinggal terpisah dengan suami dan kedua anak berusia batita.

“Lalu kita harus bagaimana? Tagihan listrik bulan lalu bahkan belum terbayar.” Suara tuan Son terdengar lagi.

Tagihan listrik? Ya Tuhan, ini sudah keterlaluan. Sekarang nyaris akhir bulan, sedangkan biaya listrik sebulan berkisar 20.000 won. Jumlah yang sangat besar bagi Naeun.

“Besok aku akan menjual beberapa barang bekas, kurasa itu cukup jika untuk membayar tagihan.” Tuan Son menyuarakan pemikirannya.

Walaupun bengkel miliknya sudah tidak selaris dulu, tapi barang bekas produksi rasanya masih cukup untuk dijual demi melunasi tunggakan.

“Lalu bagaimana dengan Naeun? Jadwal cek up-nya dua minggu lagi.”

Naeun menyandarkan punggungnya, tatapan datarnya berubah menhadi kosong, eommanya masih sempat memikirkan kesehatannya meskipun sedang terjepit oleh kerisauan prekonomian.

“Sabarlah! Tuhan pasti mendengar doa kita.”

Tanpa sadar Naeun menghembuskan nafasnya, karena terlalu menyimak percakapan, ia lupa caranya bernafas dengan benar. Nafasnya terasa sedikit berat, mungkin ia menahan nafasnya saat mendengar nama Taeyeon disebutkan.

“Sungguh, aku rasanya ingin mencecar mereka dengan umpatan. Mereka terlalu serakah, aku muak jika begini terus.”

“Son Yoomi, sadarlah! Tak ada satupun hal yang terjadi tanpa kehendak dari Tuhan.” Teguran itu sangat bijak, Naeun juga setuju dengan appanya. Eomma-nya tak boleh berpikiran buruk, Tuhan bisa saja lebih murka.

“Hiks, aku hanya kasihan dengan Naeun. Hiks, Ini sudah 13 tahun ia sakit…” Isakan itu menggetarkan hati Naeun, eomma-nya terlalu rapuh saat sedang diliputi emosi.

13 tahun. Angka yang cukup tinggi untuk lamanya sebuah penyakit bersarang. Mengikis tubuh Naeun secara perlahan hingga menjadi kurus di usianya yang saat ini menginjak 16 tahun.

Tubuh ringkih itu berjalan meninggalkan tempat, berjalan dengan pelan dan tanpa suara menuju kamarnya. ‘Jungkook-ah, mianhae. Sepertinya eonni tidak bisa mengatakan pada eomma tentang tagihan spp sekolahmu.’

.
.
.
.
.

Hari Senin, waktu untuk mengawali jadwal padat setelahlibur seharian penuh. Sebuah toko terlihat di antara rumah-rumah yang berjajar rapi.

Pukul 1.30 Naeun yang baru saja tiba di toko, menatap penuh harap pada Ahn ahjussi. “Ahn ahjussi, bisakah saya menambah jam kerja untuk hari ini hingga sabtu nanti?”

Terkejut, Ahn ahjussi meletakkan kalkulator yang sedari tadi dibawanya. “Waeyo?”

Kepala itu menunduk, “Saya butuh uang…” tak ada yang mendesaknya untuk berbohong kan? Jujur lebih baik disaat terdesak seperti ini.

Ahn ahjussi menghela nafas, rupanya pegawai mungilnya tengah kesulitan. “Untuk obatmu?”

Gelengan kecil itu menggerakkan kunciran Naeun. “Aniya, uang itu untuk Jungkook.”

Menghembuskan nafas lega, Ahn ahjussi menarik laci meja kasir. “Berapa yang kau butuhkan? Kebetulan ahjussi punya tabungan cukup banyak bulan ini.”

Kepala yang tertunduk itu terangkat,  “Aniya ahjussi, saya tidak ingin berhutang budi. Cukup ijinkan saya menjaga toko hingga pukul 7.” Naeun menolak tegas. Sudah cukup ia berhutang budi selama ini, jika dipikirkan tubuhnya masih kuat untuk dipakai bekerja hingga jam makan malam.

Diam, Ahn ahjussi berpikir sejenak. “Baiklah jika itu maumu…” Mengijinkan Son Naeun menjaga toko mini marketnya hingga pukul 7, tidak buruk juga.

“Terima kasih Ahn ahjussi.” Naeun tersenyum, benar-benar tersenyum meskipun itu sangat singkat. Namun senyuman itu berhasil membuat Ahn ahjussi termangu, Son Naeun terlihat begitu cantik saat binar matanya berubah. Mata yang biasanya nampak sendu berubah berpendar penuh kehangatan.

‘Son Naeun, aku baru sadar jika kau sangatlah cantik. Senyuman tadi berhasil melunturkan kesan dingin yang mendominasi dirimu. Andai kau mengubah penampilan berpakaian, serta memoleskan make up tipis untuk menutupi wajah pucat itu. Lalu melepas kacamata dan menggerai rambut halus itu, pasti seluruh siswa tak bisa berhenti berdecak kagum.’

Dalam diam, Ahn ahjussi mengamati pegawai mungilnya yang sedang memasang masker dan topi. Son Naeun terlalu pandai berkamuflase, dengan sedikit sentuhan saja gadis itu bisa berubah banyak.

.
.
.
.
.

Langkah sepasang kaki kurus itu terhenti ketika melihat seorang pria paruh baya yang sedang menelfon seseorang. “Terima kasih tuan Lee. Saya akan mengirim mesinnya segera. Uang transfernya 3 juta won sudah saya terima.”

Obsidian itu berkabut tatkala mendengar nominal uang yang sangat besar. Naeun, menundukkan kepalanya. Tak sanggup melihat mantan karyawan appa-nya yang sekarang terlihat berjaya.

Lima tahun silam, keluarganya masih hidup berkecukupan. Waktu dimana tuan Son bisa memperkerjakan 5 pengangguran, menggaji mereka 50.000 won setiap hari. Tapi seiring berjalannya waktu, mereka yang ditolong perlahan berubah menjadi serakah. Menebar rumor kejelekan keluarga Son juga mengambil klien tetap tuan Son.

Munafik, itulah yang disimpulkan oleh Naeun. Appanya menolong dengan baik hati, namun dibalas dengan pengkhianatan yang nyaris membuat keluarganya kelaparan.

‘Ya Tuhan! Engkau memang adil. Dulu appa bisa mendapatkan uang dengan mudah dan sekarang untuk makan saja rasanya sangat sulit.’

Naeun meninggalkan tempat itu, menitih langkah menuju rumahnya yang masih berjarak setengah kilometer. Biarlah Tuhan yang membalaskan di akhirat nanti, andai keluarganya harus mati kelaparan. Itu lebih baik ketimbang membalas kejahatan dengan kejahatan.

Tuhan pasti memberikan kebahagiaan. Meski arti kata bahagia yang sebenarnya hanyalah jika seorang umat sudah mendapat rahmat berupa surga. Hadiah kecil dari Yang Maha Kuasa untuk hambanya yang pantang menyerah dan sabar.

.
.
.
.
.

Rutinitas Naeun berjalan agak lambat,  ia tidak lagi mandi dengan cepat karena rasa lelah. Sepasang netranya menyapu ruang dapur, tepat di depan kompor nampak ibunya sedang berkutat dengan peralatan dapur.

Grep

Nyonya Son sedikit terkejut mendapat pelukan erat dari arah belakang, tubuhnya sempat menegang lalu kembali melemas saat menyadari jika putrinyalah yang memeluk. “Naeun-ah, akhir-akhir ini kau pulang malam terus. Apa tugas sekolahmu sangat banyak sehingga harus kerja kelompok dengan Sully?”

“Eumm…” Hanya sebuah gumaman yang menjawab, Naeun masih menghirup aroma alami yang menguar dari tubuh eomma-nya.

Nyonya Son mengusap tangan Naeun yang melingkar di perutnya lalu melanjutkan aktifitasnya yang sempat terjeda. “Tidak bisakah jika Sully saja yang ke sini? Eomma khawatir kau kelelahan lalu kambuh lagi.”

Sudah tiga hari putrinya pulang saat jam 7, tepat 10 menit sebelum makan malam dimulai. Lingkaran hitam di bawah mata Naeun menjelaskan jika putrinya tidak mendapatkan tidur yang cukup.

“Gwenchana eomma, aku akan menjaga diri dan meminum obat dengan teratur.” Naeun menggerakkan kepalanya yang bersandar di bahu nyonya Son, menenggelamkan hidungnya di ceruk leher itu. Hal sederhana ini paling mujarab untuk menghilangkan rasa penatnya.

“Tapi-” Perkataan nyonya Son terpotong oleh teriakan…

“Eomma!!! Aku tidak suka kimchi!!! Aku ingin telur!!!” Jungkook adalah pelakunya, bocah itu menghentakkan kakinya dengan kesal sambil bersedekap di samping meja makan.

Naeun melepaskan rangkulannya, berjalan menuju meja makan untuk melirik menu yang sudah terhidang.

Nasi goreng kimchi, dan sandwich. Tidak singkron sama sekali, namun bagi Naeun, menu tersebut sudah sangat layak. Well, dia tidak rewel yang penting ia tidak makan seafood, itu saja sudah cukup.

Nyonya Son meletakkan empat gelas teh hangat di setiap sisi meja. “Jungkook-ah, mianhae untuk hari ini hanya ada kimchi. Kau makan itu saja ne!” Memberi pengertian secara halus untuk putranya.

Pengertian hanyalah senjata mainan untuk saat ini, Naeun hanya diam memperhatikan adiknya yang mulai mengerucutkan bibir. Prediksinya sebentar lagi bocah gembul itu akan melayangkan protesnya. “Shireo!!! Aku bosan! Teman-teman saja bisa makan daging, ayam, bahkan lobster setiap hari. Kenapa aku tidak bisa? Wae? Waeyo?” Lihat, benarkan. Jungkook itu polos juga labil sehingga sangat mudah dipengaruhi oleh teman sebayanya.

Nyonya Son mengusap rambut putra bungsunya dengan lembut. “Jika appamu punya uang banyak, eomma janji akan memasak daging yang banyak untukmu.” Sebagai seorang ibu, ia tentu ingin memasak banyak hidangan lezat tetapi keadaan tidak memungkinkan untuk saat ini.

“Shireo, Jungkook ingin sekarang!!! Sekarang!!!” Jungkook memekik, ia memprotes atas rasa ketidak layakan yang melingkupi hatinya.

Plakkk

Naeun terkejut, matanya membelalak melihat tangan yang sudah merawatnya kini menampar pipi gembul namdongsaengnya.

“Eomma…” Lirihan suara itu menggambarkan betapa hancur hatinya, Naeun menggelengkan kepala untuk menepis isi pikirannya yang mendadak dipenuhi hipotesa buruk.

“Kau terus merengek seperti ini. Eomma juga ingin memasakkanmu makanan yang lezat dan bergizi, tetapi keadaan berkata sebaliknya Jungkook-ah. Belajarlah untuk berhemat! Kau selalu saja merengek saat menginginkan sesuatu!” Ocehan itu meluncur dengan cepat, emosi nyonya Son sangat buruk sekarang.

“Eomma…” Jungkook menundukkan kepala, apa ia salah jika ingin makan enak? Padahal seluruh temannya bisa, kenapa ia tidak?.

Otak kecilnya tidak bisa mengerti cara berpikir orang dewasa yang menurutnya sangat berbelit-belit. Yang ia tau saat ini, eommanya marah hanya karena ia meminta makanan enak.

Naeun berdiri, mengusap puncak kepala Jungkook lalu mendorong bahu itu dengan pelan. “Jungkook-ah, masuk ke kamarmu! Nuna akan membelikan telur, jangan keluar kamar sampai besok pagi! Mengerti?” Harus ada yang menengahi disini agar atmosfer buruk segera menguap, makan malam yang akan dilaksanakan lima menit lagi bisa kacau jika dibiarkan.

“Ne,…” Jungkook mengangguk kecil.

“Khaa!” Mendengar kata ‘pergi’ dari nuna-nya, dengan sedikit enggan Jungkook berjalan menuju kamarnya.

“Naeun-ah, jangan memanjakan namdongsaengmu! Biarkan saja ia makan malam dengan kimchi. Jungkook harus belajar berhemat sesekali.” Ternyata nyonya Son masih diliputi rasa kesal.

Naeun mengambil hodienya yang tergantung di tempat biasa,  memakainya cepat. “Gwenchana eomma. Jungkook masih sangat kecil, ia belum mengerti dengan keadaan yang sebenarnya.”

“Kau jadi pergi?”

Punggung itu sudah hampir menghilang di belokan dapur, tapi Naeun berbalik sebentar untuk menjawab pertanyaan eommanya. “Eum, sebentar lagi toko tutup jadi Naeun harus cepat.”

Tuan Son yang kebetulan baru saja memasuki rumah sedikit terheran karena putrinya keluar, mulutnya sudah terbuka untuk menanyakan ‘kemana kau pergi Naeun-ah?’ Tapi langkah kecil Naeun sudah membawa raga itu meninggalkan halaman depan.

Kali ini bukan senja yang menjadi saksi bisu, melainkan rembulan di atas langit malam yang nampak mendung. Menyaksikan seorang gadis pucat menitih langkah menembus udara malam yang menusuk, salju memang sudah menipis hingga menyisakan sedikit tumpukan di atas tempat-tempat yang tak terjamah. Hawa ingin masih tetap ada, menimbulkan asap putih yang menguar dari hidung kecil Son Naeun.

Kini Rembulan mengerti penyebab senja yang seringkali menyuruhnya berjaga lebih awal, senja ingin menunjukkan sosok bidadari calon penghuni surga. Manusia bertubuh mungil yang tak pernah mengeluh juga menghujat takdir, Son Naeun terlalu berharga untuk berjuang sendirian dan menyimpan pergolakan batin, padahal usia gadis itu masih remaja.

Son Taeyeon, Son Naeun, dan Son Jungkook memiliki kepribadian bahkan wajah yang sangat berbeda satu sama lain. Son Taeyeon sangat modis dengan dandanan tomboy serta make up yang membingkai wajah cantiknya, kepribadian anak pertama keluarga Son itu normal seperti perempuan pada umumnya, shopping, ke salon, bergosip, maupun berkencan. Kulit putih juga tubuh yang berisi, meski tinggi Son Taeyeon berselisih 5 cm lebih pendek dari Naeun. Namun itu bukan masalah karena ia sering memakai high heels.

Son Naeun, gadis pucat yang pendiam. Tubuhnya kurus dan mungil di usianya yang menginjak 16 tahun. Memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi daripada kakak perempuannya. Tidak perduli pada make up maupun pakaian modis, lebih suka bergelut dengan buku daripada mencari kekasih. Sering sakit dan menjadi korban pembully-an.

Son Jungkook, labil dan malas belajar. Mendapat peringkat terburuk sejak playgroup, akan mengamuk jika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Lebih sering meminta uang pada Naeun, namun akan melupakannya jika Taeyeon datang berkunjung. Jungkook itu gembul dan pendek, tapi merasa dirinya paling tampan diantara pasukan kecebong.

.
.
.
.
.

Jam istirahat kali ini, Sully memilih tetap stay di kursinya. Sekotak bekal dan sebungkus plastik kecil berisi camilan sudah tertata di meja, tak ketinggalan sebotol air mineral.

“Ige.” Choi Sully menggeser kotak bekalnya ke hadapan Naeun.

Naeun mendorong balik kotak bekal itu ke arah Sully. “Aniya.”

Bukan Choi Sully namanya jika ia tidak keras kepala dan mendorong kembali kotak itu. “Aishh, terima saja apa susahnya sih!”

Andai kotak bekal bisa protes, pasti ia sudah mengeluh pusing karena aksi saling dorong yang dilakukan Naeun dan Sully.

“Itu makananmu Sully-ya.” Naeun menghela nafas, inilah susahnya menghadapi Sully saat mode keras kepalanya kumat.

“Aigoo… Naeun-ah, mana mungkin aku serakah dan membiarkan diriku tambah gendut. Kau saja yang makan, aku sudah kenyang.” Lebay mode on, namun tak dipungkiri jika Naeun merasa tergelitik melihat tingkah teman sebangkunya ini.

“Tapi-”

“Makan!” Gertakan itu membuat Naeun mendengus.

“Baiklah.” Meski enggan, ia membuka kotak bekal itu lalu menyantapnya.

‘Makanlah yang banyak Naeun-ah, kian hari tubuhmu semakin kurus hingga aku merasa melihat tengkorak berjalan.’ Lirikan curi-curi pandang itu dilakukan oleh Choi Sully.

Tukk

Sumpit itu diletakkan, Naeun menoleh ke sampingnya dengan kening berkerut. “Kau berkata sesuatu Sully-ya?”

“A-aniya! Aku dari tadi hanya diam.” Bagus, tergagap adalah ciri orang yang tertangkap basah.

“Ohh…” Naeun hanya mengangguk, tak ambil pusing dengan kebohongan Sully yang sangat jelas diketahuinya.

‘Aigoo… Aku lupa jika Naeun selalu peka saat ada yang membicarakannya.’ Oh My God! Bodohnya kau Sully, dari dulu Son Naeun sangat peka terhadap siapapun yang sedang membicarakannya. Mungkin karena terlalu sering diperbincangkan, Naeun memiliki radar khusus.

Sekali lagi Naeun menolehkan kepalanya, kali ini sepasang atensinya memincing penuh selidik. “Sungguh demi kingdom protista. Kau sedang membicarakanku kan Sully?” Ya, inilah ciri khas Son Naeun. Dia terlalu menggilai sains sehingga bicara saja harus menggeret biologi.

“Aishhh, ne. Aku memang membicarakanmu. Kau itu terlalu mencintai buku hingga lupa makan dan tidur. Matamu bahkan nyaris menandingi panda.” Sully memutuskan mengatakan hal lain, ia tidak pandai berbohong tetapi sangat pandai mengubah kalimat.

Ekspresi itu meluntur, Naeun kembali memusatkan diri pada makanannya. “Panda? Eum, gomawo.”

Kening Sully berkerut samar, ia tidak faham sisi mana dari ucapannya yang membuat Naeun berterima kasih. “Gomawo? Kau tidak salah?”

“Tentu saja tidak. Panda sangat imut.” Dengan acuhnya, Naeun hanya mengendikkan bahu.

“Mwoya?” Terkejut, Sully menggelengkan kepala.

Biasanya seorang gadis akan mencibir, bahkan mengoceh panjang kali lebar kali tinggi jika dikatakan mirip panda. Tapi Naeun malah berterima kasih, Ya Tuhan dengan apa sejatinya engkau menginstal otak Son Naeun? Gadis itu kelewat ajaib dengan wajah datar dan sikapnya yang tidak bisa di prediksi.

“Naeun-ah, sebenarnya kau kemana saja setiap sepulang sekolah?” Sebagai teman yang baik, Sully ingin memastikan kemana saja Son Naeun melalang buana.

“…” Tak ada respon, Naeun masih fokus menelan makanannya.

“Eommamu sering mengirimiku pesan akhir-akhir ini, awalnya aku bingung tetapi akhirnya aku jawab saja jika kita sedang belajar kelompok dan kau tertidur di rumahku.” Sully mulai menceritakan sebab ia bertanya.

“…” Tak ada respon, kali ini Naeun sedang menutup kotak bekalnya tanda jika semua isi kotak tersebut sudah tandas tak bersisa.

“Tak masalah jika kau memilih diam. Aku hanya berpesan agar kau tidak lupa makan juga minum obat.” Sully lama-lama khawatir juga.

“…” Masih tetap tak ada respon, Naeun kali ini sedang menengguk minuman dan menenggak sebutir obat wajibnya.

Sepasang netra milik Sully mulai berkabut. “Melihatmu seperti tengkorak berjalan sangat menakutkan Naeun-ah.” Hebat Choi Sully, kau berhasil membocorkan isi pikiran awalmu tadi.

Pletak

“Appo… Kenapa memukulku?” Bibir Sully mengerucut, tangan kanannya mengusap puncak kepala yang sedikit berdenyut.

Naeun berdiri, meninggalkan temannya sendiri, tak lupa ia mengucapkan sebuah kalimat yang sukses membuat Sully terpaku. “Karena kau menyamakanku dengan tengkorak.” Mata itu terbelalak, Sully menepuk bibirnya yang selalu saja tidak dapat membohongi Naeun.

“Yahhh… kok pergi.” Tersadar jika ditinggalkan, Sully mulai memasukkan semua makanan ringannya ke dalam kantung plastik, meneteng kantung tersebut sambil berlari kecil.

“Naeun-ah hajiman!!! Aku ikut!!!” Suara nyaring itu diucapkan saat Sully melihat punggung Naeun yang akan berbelok. Ia mempercepat larinya sebelum ketinggalan jejak Son Naeun.

.
.
.
.
.

Seorang gadis bertubuh mungil sedang memindahkan beberapa barang ke dalam rak, peluh sudah membanjiri namun hal itu tidak mengurangi kecekatannya.

“Ini bayaranmu.” Gerakan tangan yang sedang menata botol air mineral itu terhenti, gadis mungil itu berdiri lalu menerima beberapa lembar uang dari seorang pria paruh baya.

“Gomawo Ahn ahjussi, tapi ini sedikit berlebihan.” Naeun mengangsurkan beberapa lembar won yang berlebih itu.

Pria paruh baya itu mendorong tangan Naeun. “Anggap saja bonus. Kau sudah membantu banyak di sini, bahkan kau menjaga Ahreum juga padahal dia sangat rewel. Pulanglah! Besok hari Minggu, kau harus istirahat dengan cukup.” Tangan besar itu mengusap kepala Naeun, kemudian mengambil gendongan bayi yang tersampir di bahu gadis itu.

Gendongan itu tidak kosong, ada bayi yang sudah terlelap di sana. Bayi perempuan yang cantik bernama Ahn Ahreum, usianya baru enam bulan. Pria paruh baya itu memasang gendongan ke bahunya sendiri, menepuk-nepuk punggung kecil bayi manis itu yang sedikit menggeliat karena perpindahan posisi.

“Ne ahjussi.” Naeun berjongkok lagi lalu menata sisa botol yang ada di kardus ke dalam rak mini market itu.

Ahn Ahjussi mengulurkan paper bag berukuran sedang. “Oia, bawa ini juga.”

Gadis mungil itu menggeleng, ia melepaskan masker dan topi yang dikenakannya. “Ahn ahjussi, mianhae tapi saya tidak bisa menerimanya.” Bagi Naeun, pria paruh baya itu sudah sangat baik memberikan upah lebih.

“Sudahlah… Ini hanya minyak goreng, gula, dan sedikit beras. Istriku bisa marah jika kau tidak menerimanya.” Ahn Ahjussi mendesak pegawai mudanya itu. Naeun itu keras kepala jadi ia harus menjadi keras kepala juga.

“Tapi-” Gadis mungil itu mengatupkan bibirnya saat Ahn ahjussi memotong perkataannya.

“Naeun-ah, ia sangat senang bisa mengikuti aktifitas ibu-ibu sosialita tanpa repot membawa Ahreum. Kau harus menerima ini agar aku selamat dari ocehannya. Tolong selamat diriku Naeun-ah! Aku tidak ingin tidur di pos satpam malam ini.” Siapapun tau jika Ahn ahjumah adalah ibu yang cerewet, modis, serta cantik di usianya yang menginjak 35 tahun. Ahjumah cantik itu bahkan masih sering menjewer telinga suaminya sendiri di depan Naeun, jadi rasanya pengusiran ke pos satpam bukanlah hal yang mustahil.

“Geurae ahjussi. Gomawo dan mianhae karena saya tidak bisa memberi apapun, padahal ahjussi sudah sangat baik.” Gadis itu membungkuk dalam, menunjukkan rasa hormatnya yang tulus.

Pria paruh baya itu tersenyum, mendorong bahu mungil itu. “Khaa… pulanglah!”

“Aigoo… Ahjussi mengusirku eo? Baiklah aku akan pulang sekarang. Selamat malam ahjussi!” Sekali lagi Naeun membungkuk, ia berjalan menuju meja kasir untuk mengambil tas sekolah juga sepatunya.

Ahn ahjussi menimang putri bungsunya yang tiba-tiba menangis saat Naeun pergi meninggalkan toko. Kalau dipikir heran juga, Ahreum yang rewel bisa menjadi diam dan penurut jika Naeun yang menjaganya. Berawal dari undangan perkumpulan ibu-ibu sosialita yang harus dihadiri, Naeun bersedia menjaga Ahreum sambil bekerja di toko. Namun siapa sangka jika besok-besoknya Ahreum menangis ingin digendong Naeun, jadi sekarang ini nyonya Ahn merasa sangat bebas karena ia bisa melakukan aktifitasnya tanpa kerepotan.

‘Terima kasih Tuhan, kau memberikan rizki yang cukup untuk hari ini.’ Itulah suara hati gadis mungil yang sedang menapaki trotoar. Langit malam cukup cerah kali ini, berjuta bintang berkerlip di atas sana sedangkan sang rembulan mengintip dari balik awan.

.
.
.
.
.

Pukul 02.00 dini hari. Waktu dimana orang-orang masih terlelap dengan damai, Naeun terjaga saat ia merasakan rasa nyeri yang menghujam berulang kali.

“Akhh… uhukk… uhukk… eomma, uhukkk…” Naeun terbatuk, ia meringkuk di atas ranjang sambil meremas seprai.

Nafasnya tercekat, menyulitkannya untuk meraup udara dengan normal. Perlahan ia mengangkat tubuhnya menjadi duduk lalu menurunkan kakinya.

“Uhukk, eomma…” Rasa sesak yang dirasakan makin mencekik lehernya. Ia harus bisa meraih obat yang disimpannya di dalam tas sekolah sejak tadi pagi.

Brugg

Kaki itu tak mampu menahan bobot tubuh yang bahkan seringan kapas. Bulir-bulir keringat sudah membasahi seluruh tubuh ringkih itu, belum lagi wajah pucat yang terlihat memprihatinkan.

Naeun merangkak mendekati meja belajarnya, semakin ia bergerak semakin kuat rasa sesak tersebut menyiksanya. ‘Tuhan, kuatkan aku!’ Doa dipanjatkan saat kepalanya mulai terasa pening.

Tukk

Berhasil, tas sekolah itu kini sudah tergeletak di lantai. Naeun menyeret tubuhnya sekali lagi untuk bersandar, pening itu semakin menyakitkan.

‘Ayolah, dimana kau bersembunyi?’ Suara hatinya tak sabar, pasalnya botol obat miliknya tidak ketemu juga.

“Uhukk… uhukkk…” Naeun terbatuk lagi, pandangannya mulai mengabur. Ia memprediksi jika waktunya hanya tersisa 10 menit sebelum rasa pening yang kini menguat seiring dengan mengaburnya pandangan, membuatnya jatuh pingsan karena terlambat menerima pertolongan.

Tukk

Dapat, akhirnya obat yang dicari ketemu juga. Naeun, mengambil botol air minumnya yang masih terisi setengah lalu menelan obatnya.

Ia melemaskan tubuhnya, menunggu obat tadi bereaksi. Tangan kanannya terangkat sedikit, menyentuh dadanya yang masih terasa nyeri. ‘Kenapa dengan ini? Beberapa hari terakhir aku merasakan rasa nyeri yang berbeda. Apakah penyakitku semakin parah? Jika benar, apakah aku bisa bertahan?’

Obsidian itu tidak menangis namun semuanya digantikan dengan tatapan kosong, jika prediksi tersebut benar maka Naeun lebih memilih tidak melakukan cek up rutinnya. Hatinya tidak siap untuk menerima kenyataan, seandainya penyakit yang bersarang ditubuhnya tidak bisa di tangani lagi.

.
.
.
.
.

Senin, awal dari hari yang ditunggu oleh Son Naeun. Langkah kecilnya memasuki sebuah kamar yang nampak seperti kapal pecah. Ruang privasi dari seorang bocah yang notabene adalah adik kandungnya.

“Jungkook-ah, ini uang spp-mu. Jangan bilang apapun pada eomma dan appa tentang ini!” Amplop coklat itu dimasukkannya ke dalam tas ransel adiknya.

Penghuni kamar yang masih bersantai menikmati waktu pagi menggeliatkan tubuhnya. “Waeyo nuna?” Mata bulat itu mengerjap sesekali.

Naeun mendengus, adiknya memiliki pemikiran yang sulit ditebak dan sukar diberi perintah. Tipikal anak kelahuran di atas tahun 2000 memang ajaib. “Kau masih ingin dibiayai atau tidak?” Membalikkan pertanyaan dengan pertanyaan adalah hal yang menjadi keahlian Son Naeun.

Dengan polosnya, bocah yang sekarang duduk di kelas 3 elementary school itu mengangguk. “Eoh, tentu saja aku mau.”

“Kalau begitu tutup mulutmu!” Naeun menepuk bibir Jungkook dengan pelan.

Jungkook mengangguk. “Ne.”

Srekkk

Naeun berpindah dengan cepat untuk menyingkap korden tipis yang menutupi sinar matahari. “Cepat mandi! Ini sudah hampir jam 6, dasar ketela!”

Jungkook mendesis saat telinganya terasa sakit. “Aissh… Tak perlu menjewerku nuna!” Sempat-sempatnya nuna-nya itu menganiaya telinganya sebelum menyingkap korden.

Kaki pendek itu menghentak, Jungkook menekuk wajahnya bahkan hingga ia memasuki toilet. Awal hari yang mengesalkan untuk bocah gembul yang labil itu.

Naeun menata seprai, memunguti pakai serta mainan namdongsengnya yang tercecer di lantai.

Pukk

Kakinya tidak sengaja menyentuh sepasang sepatu milik Jungkook, ia menunduk mengusap sepatu itu dengan pelan. Sepatu yang sudah nampak usang, jelek, dan kotor. Son Jungkook bukanlah bocah yang merawat barangnya dengan penuh perhatian, namdongsaengnya itu sangat boros dengan barang. Jika Naeun mengganti sepatu dua tahun sekali, maka Jungkook akan mengganti sepatu setiap semester berganti. Kebiasaan Jungkook yang bermain sepakbola dengan kemampuan payahnya, tentu saja membuat sepatu cepat rusak.

‘Aku ingin sekali memberikanmu kehidupan yang lebih layak. Tapi sepertinya, Tuhan sedang memberikan kita ujian Jungkook-ah.’ Tatapan itu berubah kosong, Naeun menegakkan badannya lalu berjalan menuju dapur untuk memasak.

Tap

Tap

Tap

“Masih kurang 20.000 won.” Sepasang obsidian dibalik kacamata itu menutup rapat. Naeun melanjutkan langkahnya yang tadi terhenti saat mendengar gumaman eommanya.

“Eomma…” Ia mendekati wanita paruh baya itu setelah menghempaskan baju kotor Jungkook ke dalam keranjang cucian.

Nyonya Son menengokkan kepala. “Eoh, waeyo Naeun-ah?”

“Ige.” Naeun mengulurkan uang 20.000 won pada eommanya.

Dengan halus nyonya Son mendorong telapak tangan itu, “Naeun-ah, simpan saja uangmu.” Kebutuhan putrinya masih banyak yang belum terpenuhi.

Naeun bukanlah seseorang yang akan berdiam diri saat melihat kesulitan, ia meletakkan uang itu di atas meja lalu melenggang pergi menuju kamarnya. “Sudahlah eomma.”

Nyonya Son menyentuh lembaran uang itu dengan sedikit gemetar, ia sungguh terharu dengan sikap Naeun yang mengedepankan keluarga. ‘Uang sakunya bahkan hanya tiga perempat dari Jungkook, tapi Naeun masih sempat menyisihkan demi membantu.’ Sedikit terkesiap saat menyadari sebuah fakta yang sudah lama terjadi.

Uang saku Naeun memang lebih sedikit daripada Jungkook, semua itu berawal sejak Jungkook menangis karena diejek oleh teman-temannya sebagai anak miskin.

‘Mianhae eomma! Sekali lagi aku harus berbohong. Tapi jika eomma tau tentang pekerjaanku, eomma pasti marah dan menyuruhku berhenti. Tubuh ringkih ini masih kuat untuk bekerja meskipun harus merasakan lelah setelahnya, itu lebih baik daripada aku hanya berdiam diri dan melihat keluargaku menderita.’ Tanpa nyonya Son sadari, Naeun sudah menyusuri terotoar dengan balutan seragam yang melekat ditubuhnya.

Naeun sudah menyuruh Jungkook untuk menyampaikan pada eomma dan appa, jika ia berangkat lebih pagi. Pertahanannya bisa runtuh jika tetap bertahan di rumah, lagipula ia tidak pernah sarapan jadi biar hari ini eommanya yang memasak.

.
.
.
.
.

Ruang guru dipenuhi oleh aura mencekam, semuanya berawal dari dua seonsaengnim yang bertatap muka dengan saling melempar tatapan tajam.

“Siapa kandidat terkuat semester kali ini?” Kim Jongwoon seonsaengnim melontarkan pertanyaannya, kesepuluh jari mungilnya terlihat gesit mengetikkan sebagian hasil rapat.

“Son Naeun.” Im Yoona seonsaengnim mengucapkan nama siswi andalannya dengan senyuman manisnya.

Tatapan tajam dari sepasang netra berkilat sejenak, “Im seonsaengnim sepertinya anda keliru, Son haksaeng tidak memenuhi kriteria murid teladan yang pantas menyandang peringkat pertama.” Lee seonsaengnim menyeringai.

Im seonsaengnim mengepalkan tangannya, mengangkat dagu lalu mengucapkan pemikirannya. “Dengan tidak mengurangi rasa hormat. Lee seonsaengnim, dari segi apakah anda menyimpulkan siswi Son tidak pantas?”

Sepertinya Im seonsaengnim sungguh berniat menerima undangan perdebatan. “Tentu saja dari segi absensinya.” Lee seonsaengnim menyenderkan punggungnya.

Seorang guru yang sedari tadi sibuk mengisi tabel kini mendongakkan kepala. Ia adalah Park Jungsoo (Park sajangnim) pemilik kuasa penuh atas Seoul International High School. “Satu-satunya jalan terbaik yaitu dengan melihat perolehan total nilai Son haksaeng, tersisa 1 bulan sebelum UKK dilaksanakan. Seperti hasil rapat sebelumnya, nilai raport 60% diambil dari ulangan harian yang dilaksanakan secara acak mulai besok,  20% dari hasil UKK, dan 20% terakhir dari rata-rata nilai harian. Saya menghimbau agar tidak ada yang saling menjatuhkan hingga seluruh nilai terkumpul. Peraturan juga menyebut bahwa absensi, nilai sikap, dan keaktifan mempengaruhi 10% saat rekam nilai akhir. Apa Lee dan Im seonsaengnim setuju?” Hanya ini satu-satunya cara untuk menghentikan adu argument yang berlangsung, antara dua seonsaengnim beda kedudukan yang berada di sisi kanan dan kiri meja.

“Ne, saya setuju.” Jawaban kompak itu mengakhiri adu mulut.

Tanpa sepengetahuan siapapun, Lee seonsaengnim memunculkan seringainya diam-diam ketika seluruh seonsaengnimdeul sudah meninggalkan ruang guru.

.
.
.
.
.

Jam istirahat adalah waktu untuk menyuap makanan di kantin mahal, berkencan dengan kekasih di halaman sekolah, atau bergosip ria dengan teman akrab. Namun di dalam kelas, Son Naeun memilih berdiam diri sambil membaca buku Sejarah Perang Dunia.

“Son Naeun haksaeng, kau dipanggil oleh staff TU.” Seorang siswa memanggil Naeun, siswa yang dikenal sebagai ketua osis Seoul Internasional High School.

Tuk

Tuk

Tuk

Naeun melangkahkan kaki menyusuri selasar sekolah yang masih padat dengan hilir mudik penghuni sekolah. Kepalanya sudah jarang menunduk saat berjalan sejak peristiwa penghianatan 3 bulan silam, ia ingin menunjukkan poker face agar seonsaengnimdeul tau jika dirinya bukanlah manusia lemah.

Tuk

Sepasang kaki beralaskan sepatu murah itu berhenti melangkah, Naeun membungkuk pada staff Tata Usaha yang sudah menunggu kehadirannya.

Menundukkan kepala sedikit untuk menyamai posisi wajahnya dengan celah kecil. Tempat pembayaran sekolah lebih mirip disebut loket, penampilannya yang menggunakan jendela kaca bercelah kecil, seorang staff berkacamata yang berada di dalamnya dengan komputer canggih.

“Son Naeun-si, saya ingin memberitahukan jika jatah beasiswa per-semester milik Naeun-si sudah habis.” Staff TU mengangsurkan selembar kertas yang berisi catatan total biaya sekolah.

Kedua manik Naeun bergerak-gerak menyapu deretan huruf dan angka yang tercetak di sana. “Berapa sisanya?” Ia faham sekarang, rupanya jatah beasiswanya hanya cukup untuk melunasi biaya sekolah hingga bulan lalu.

“500.000 won untuk biaya spp bulan ini serta bulan depan + biaya ulangan + tabungan wajib.” Rincian singkat yang berhasil direkam Naeun dengan sekali dengar.

Ia melipat kertas kuitansi rincian beasiswanya tadi, mengantongi kertas tersebut ke dalam saku jasnya. “Tenggat waktunya?”

Sekilas staff TU melirik lingkaran penanda di kalender yang tergantung pada dinding. “15 Mei, tepat seminggu sebelum ulangan dilaksanakan. Saya harap agar Naeun-si segera melunasinya. Jika tidak, maka nomer peserta UKK terpaksa tidak bisa kami berikan.”

Peraturan Seoul International High School tak bisa diganggu gugat, sudah banyak murid yang didepak keluar karena tidak sanggup membayar.

“Ne… Saya mengerti.” Naeun mengangguk.

Staff TU tersenyum tipis. “Naeun-si adalah siswi yang cerdas. Saya berdoa agar Naeun-si bisa meraih ranking pertama di semester ini, mendapat beasiswa semester dan sebuah thropy penghargaan.” Sebagai staff sekolah, tentu ia tau mengenai Son haksaeng yang sudah menjadi perbincangan hangat di lingkungan sekolah.

“Kansahamnida atas doanya Kim Ryeowook-si.” Naeun mengangguk.

“Cheonma…” Sebuah kata itu mengakhiri interaksi singkat yang tengah berlangsung. Naeun sudah memutar tubuhnya lalu kembali menyusuri koridor sekolah.

‘Son Naeun, siswi yang berhasil menarik perhatian seonsaengnimdeul dengan hasil test masuk yang mendapat nilai sempurna. Siswi dengan wajah datar dan sikap pendiamnya.’ Itulah topik awal yang sempat diperbincangkan saat Son Naeun memijakkan kakinya di sekolah elite yang penuh dengan peraturan.

.
.
.
.
.

Pukul 10 malam, waktu yang dipilih sebagian besar orang untuk terlelap.
Namun itu semua berbanding terbalik dengan gadis bertubuh mungil yang menerobos badai salju terakhir, mengabaikan tatapan heran dari orang-orang yang tak sengaja melihatnya dari celah jendela. Badai salju yang disinyalir sebagai badai terakhir penyambut musim semi.

Tok

Tok

Tok

Kepalan tangan pucat itu menggedor sebuah pintu, tangan pucat yang nyaris membeku karena tidak berbalut sarung tangan.

Cklek

Akhirnya pintu itu terbuka, menampilkan seorang pria paruh baya yang sudah memakai piama tidur. Kedua manik itu tidak percaya, mengerjab beberapa kali untuk meyakinkan penglihatan.

Ahn ahjussi menarik tubuh itu masuk ke dalam rumah, menggiringnya duduk di sebelah perapian.
“Naeun-ah, waeyo?” Ia butuh penjelasan, hal apakah yang membuat Son Naeun nekat menerobos badai salju terakhir dengan coat tipis.

“Ahn ahjussi, bolehkah saya meminjam uang?” Obsidian itu berkaca-kaca, siap mengucurkan air mata sebentar lagi.

Tangan itu terulur, mengusap lelehan liquid bening yang terlalu berharga untuk dijatuhkan. “Untuk apa Naeun-ah?”

Tatapan itu masih datar, namun ada setitik pancaran penuh luka yang berhasil menyayat hati Ahn ahjussi yang melihatnya. “Saya harus melunasi biaya sekolah ahjussi. Saya bersedia bekerja tanpa dibayar hingga hutang saya lunas, saat ini saya bingung ingin minta tolong pada siapa. Hanya Ahn ahjussi yang saya harapkan.” Penawaran bodoh diucapkan oleh Son Naeun, seharusnya gadis itu berhak untuk bahagia, seharusnya gadis itu tak perlu membanting tulang untuk membantu kedua orangtuanya.

Grep

Nyonya Ahn yang mengawasi dari balik pintu tak kuasa lagi, ia merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Mengusap bahu itu dengan pelan, menghantarkan kehangatannya untuk Son Naeun. Sementara Ahn ahjussi berjalan menuju kamar untuk mengambil uangnya, ia tidak akan penah tega membiarkan gadis baik itu semakin menderita dengan bekerja tanpa bayaran.

Memaksa, hal itulah yang akan dilakukan oleh Ahn ahjussi agar Naeun mau menerima bantuannya. Gadis itu tidak boleh berhenti sekolah hanya karena lilitan biaya yang mencekal mimpi setinggi langitnya. Naeun memiliki cita-cita menjadi seorang peneliti, kecintaannya terhadap sains dan antariksa sangat kuat.

Tangisan yang paling menyakitkan bukanlah sebuah tangisan yang terisak-isak hingga meraung-raung, karena terisak adalah bentuk luapan hati yang terasa sesak, sedangkan meraung adalah bentuk luapan mulut yang tak tahan menanggung rasa sakit.

Tangisan yang paling menyakitkan adalah menangis dalam diam tanpa ekspresi. Tangisan yang timbul saat hati, pikiran, bahkan raga sudah merasa tak sanggup menampung kepedihan. Tangisan dalam diam terjadi saat emosi tak bisa terluapkan, hingga rasa sakit itu tetaplah menyelimuti bahkan saat air mata sudah tak menetes lagi.

Son Naeun, gadis mungil itu berhasil membuat langit malam merenung karena melihat pengorbanannya. Berusaha tetap tegar di hadapan keluarganya namun dalam hati ia selalu menangis, tanpa bisa meluapkan emosinya.

To be continue

Hai, jumpa lagi dengan writers pendatang baru. Bow!!!
Saya hanya akan memposting ff Princesa de la Corona d ffindo, saya ingin wp ini kembali seramai dulu saat saya masih belum punya akun dan sering gonta ganti id koment.

Boleh d rekomendasikan ^_^, tunggu next series y!

Klau berminat bsa mampir k wp saya: https://krystalaster.wordpress.com

Ad ff judulnya Death Topic & Asterium, saya pasti senang sekali jika ada yang berkunjung.

Kamsahamnida!!!

Jadilah readers yg cinta damai & baik. Hargai setiap karya dg tidak melakukan bashing. ^_^

 

 

 

 

4 responses to “Princesa de la Corona (series – Krisis)

  1. Hiks…..bkin mewek di akhiry…..naeun kasian bgt kamu,ahn ahjussi baik bgt untung aza istriy jg baik dan gak pelit…..

    Kim saem pemilik eye smile terbaik disekolah itu bkin saya mkin klepek2 akan pesonay jd dy guru fisika?tp ttp garang n klo mrah itu menyeramkan,

    Naeun emg jenius bgt,rasain tu jessica melongo sma jawaban naeun yg bhkan gak da ďibuku,metode penghapalan rumusy lucu..fasa qaqiqu remuk remuk jd trdngr kya ràsà kakiku remuk remuk….
    Ñetxxxxxxzxxxxxxx……

  2. Npa jdi gi sih,,bkin sdih ajah dan dah buat nangis kta saat ngebcany author-nim,,
    Really nice story,,hope u updte soon,,
    Sangat d nantikan klnjutan crtany,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s