Please, Hold Me Tight Chapter 1

poster ff alle

By Sparkdey

Please, Hold Me Tight Chapter 1

Jeon Jungkook BTS || Han Hara (OC) || Park Jimin BTS

PG – 15

AU || Fluff || Romance || Friendship

Disclaimer : FF ini pure ide author dengan beberapa bantuan dari teman – teman. Jungkook dan Jimin adalah milik orang tua mereka, Big Hit Entertainment, dan ARMYs. Don’t be plagiator!! Please respect~

Note : FF ini merupakan requestan dari teman ARMY, jadi tolong dibaca dan berikan apresiasi berupa komentar atau like nya ya hehe, kamsahamnida^^

 

-Hara POV-

———-Surabaya, Indonesia. 14:32———-

Aku baru saja pulang dari sekolahku bersama dengan sahabatku, Park Sera. Ya, kami berdua adalah salah satu murid pertukaran pelajar Korea – Indonesia. Kami berdua beserta 13 pelajar Korea yang lainnya sudah terpilih menjadi kandidat pertukaran pelajar di sekolah kami yang di Korea. Aku juga tidak mengerti mengapa pihak sekolah memilihku.

Selama 2 minggu di Indonesia, kami semua tinggal di sebuah wisma yang dekat dari sekolah kami. Tentu saja, di wisma ini kami pure menggunakan bahasa Korea kami. Jika di sekolah, kami menggunakan bahasa Inggris.

“Hara-ya, 2 hari lagi kita akan kembali ke Korea” kata Sera.

“Ne, aku sudah merindukan Korea” kataku.

“Kau merindukan Korea atau merindukan ‘dia’?” Tanya Sera dengan senyum jahilnya.

“YA! Dia siapa maksudmu eoh? Aku tidak mengerti maksudmu” kataku dengan sedikit gugup.

Memang benar, yang aku rindukan adalah ‘dia’ bukan Korea. Namun Korea adalah tempatku bertemu dengan ‘dia’. ‘Dia’ yang mampu membuatku terus tertawa dan tersenyum namun juga mampu membuatku sedih dan menangis. Ya, ‘dia’ adalah seseorang yang telah mewarnai hidupku selama 3 tahun belakangan ini.

‘Jeongmal bogoshippo’ batinku sambil melihat layar ponselku dengan wallpaperku bersamanya.

“Kau tidak ingin merapihkan barangmu? Setidaknya kita bisa sedikit bersantai besok” sahut Sera.

“Ah ne, besok aku ingin menghabiskan waktu berjalan – jalan di sekitar sini. Kau mau ikut?” tawarku.

“Ide yang bagus” kata Sera.

Aku merapihkan sedikit barangku dan memasukkannya ke dalam koperku, begitupun dengan Sera. Kami berdua sekamar selama 2 minggu di wisma ini. Benar, kita berdua akan sangat sulit jika dipisahkan. Karena kami sudah bersahabat sejak 6 tahun yang lalu.

Aku keluar dari kamar dan duduk di ruang makan sambil memainkan laptopku. Saat ini di Korea sudah pukul 5 sore, dan ‘dia’ pasti sedang sibuk di sekolah. Aku merindukannya.

Aku membuka skype milikku dan melihat ‘dia’ online. Aku terkejut, seharusnya di jam seperti ini dia masih berada di sekolah. Aku sangat ingin menghubunginya saat ini, namun aku takut. Tiba – tiba ada panggilan masuk di skype-ku. Bukan panggilan biasa, tapi itu adalah sebuah video call dari ‘dia’.

‘Oh God, apa yang harus aku lakukan?!’ batinku.

Aku mengklik tombol untuk mengangkat panggilan itu.

“Kenapa lama sekali eoh?!” tanyanya.

Dan aku masih terdiam memandangi layar laptopku. Sungguh tidak kupercaya yang ada di layar laptopku ini adalah ‘dia’.

“YA! Jangan diam saja!” bentaknya.

“Ah.. ah ne. waeyo? Bukankah kau berada di sekolah? Mengapa kau bisa online?” tanyaku dengan agak gugup.

“Kau tidak suka aku menghubungimu?” tanyanya dengan ketus.

“Ah bukan begitu maksudku…” kataku.

“Annyeong Jim!” teriak seseorang dari belakangku.

“Annyeong Sera!” sapa dia balik.

Ya, dia adalah Park Jimin. Dia yang sudah mengisi hari – hariku selama 3 tahun ini. Aku senang bersama dengannya. Dan aku pun tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika tidak bertemu dengannya. Dia sahabatku dan Sera. Namun Sera lebih sibuk dariku dan juga Jimin. Sera adalah ketua dari sebuah organisasi di sekolah kami dan Jim adalah wakil dari Sera. Sedangkan aku? Aku hanya seorang murid biasa yang setiap pulang sekolah langsung pulang. Namun itu semua berubah ketika aku sudah bertemu dengan Jimin.

Jimin selalu mengajakku bermain ketika ada waktu kosong pada saat istirahat dan tidak ada pelajaran. Bahkan kami berdua sering menghilang pada jam pelajaran karena kami berdua pergi bermain ke mall. Sera tidak akan membutuhkan Jimin di organisasi jika Sera masih bisa mengatasinya.

 

-Jimin POV-

———-Seoul, Korea Selatan. 4:40 PM———-

“Kenapa lama sekali eoh?!” tanyaku pada seseorang yang ada di layar laptopku, Han Hara.

“YA! Jangan diam saja!” bentakku.

“Ah.. ah ne. waeyo? Bukankah kau berada di sekolah? Mengapa kau bisa online?” tanyanya dengan agak gugup.

“Kau tidak suka aku menghubungimu?” tanyaku dengan ketus.

“Ah bukan begitu maksudku…” jawabnya.

“Annyeong Jim!” teriak seseorang dari belakang Hara.

“Annyeong Sera!” sapaku balik.

“Bagaimana kabar kalian? Apakah Indonesia menyenangkan?” tanyaku.

“Kami baik – baik saja. Ah lusa kami akan kembali ke Korea, Jim!” seru Sera.

“Jinjja?! Aku tidak sabar menunggu kalian!” seruku sambil tersenyum.

“Kau tidak sabar menungguku atau… tidak sabar menunggu seseorang di sampingku ini?” kata Sera dengan senyum jahilnya.

“YA!” teriak Hara dan Sera langsung pergi meninggalkan kami berdua.

“Jim…” panggil Hara.

“Ah ye. Waeyo?” tanyaku.

“Sesampainya aku di Korea, temani aku main ski. Kau bisa tidak?” Tanya Hara dengan sedikit malu – malu.

“Dapat kutebak wajahmu kali ini sedang memerah, Hara-ya” kataku sedikit menggodanya.

“YA! Kau hanya perlu menjawab bisa atau tidak, Jim!” katanya sambil menutupi pipinya.

“Aku senang melihatmu lagi, Hara-ya. Jeongmal bogoshippo” kataku dengan raut wajah yang serius.

“Hahahaha kau lucu sekali ketika sedang serius, Jim! Hhahaha” Hara tertawa karenaku.

“Baiklah, aku akan menemanimu nona muda. Kabari aku jika kau sudah sampai di Korea!” pintaku.

“Eoh! Baiklah aku harus bersiap – siap dulu sekarang. Bye bye Jim!” dia memutuskan video call kami.

Aku sangat senang bisa bercengkrama kembali dengannya, Han Hara. Sahabatku yang telah mengisi hari – hariku selama 3 tahun belakangan ini. Aku menyukainya? Bisa dibilang seperti itu. Tapi aku tahu, Hara tidak mungkin menyukaiku. Hara hanya menganggapku sahabatnya. Sera pernah bercerita denganku jika Hara menyukaiku, namun aku tidak melihatnya dari tatapan mata Hara padaku. Tatapannya hanya melambangkan jika aku ini hanyalah teman dekatnya.

Aku menutup laptopku dan kembali ke aktivitasku yang semula. Memperlajari berkas – berkas yang masuk ke organisasiku ini dan menganalisanya untuk bahan rapat nanti. Aku adalah wakil dari Sera. Selama Sera pergi ke Indonesia, aku harus menggantikannya di sini. Beruntunglah di sini aku dibantu dengan beberapa anggota organisasi yang lain.

“Jim, ini ada tambahan berkas yang harus kau analisa untuk rapat minggu depan” kata Kim Hana, dia adalah anggota organisasiku yang bergerak dibidang desain.

“Baiklah. Gomawo Hana-ya” kataku.

‘Tambahan berkas lagi?’ batinku.

Aku memasukkan berkas – berkas yang belum aku pelajari dan analisa ke dalam tasku. Aku mematikan laptop dan memasukkannya ke dalam laci meja lalu bersiap – siap pulang. Sungguh sangat melelahkan menjadi wakil ketua di saat ketua sedang tidak ada di sini.

‘Jadi ini yang dirasakan oleh Sera? Sungguh yeoja yang kuat’ batinku.

“Hana-ya” panggilku.

“Ne, Jim?” jawabnya yang tidak menoleh padaku sama sekali.

“Aku pulang duluan ne?” kataku.

“Hati – hati, Jim” jawabnya.

“Ah jangan lupa kunci ruangan ketika kau sudah selesai” aku memperingatkannya.

Aku menutup pintu ruangan organisasi. Aku berjalan ke parkiran dan masuk ke dalam mobilku. Aku terdiam sejenak dan berfikir.

‘Lusa Hara akan pulang… apa aku perlu menyiapkan sesuatu untuknya?’ batinku.

Aku tersenyum sendiri begitu aku menemukan sebuah ide untuk menyambut kepulangan Hara ke Korea. Aku sudah sangat merindukannya saat ini. Kuharap mereka cepat sampai ke Korea!

 

-Jungkook POV-

Malam ini aku berada di sebuah ruangan dengan kaca di sekelilingku. Ya, aku sedang berada di sebuah studio dance. Studio ini ada di dalam rumahku, orang tuaku yang membuatkannya untukku agar aku tidak perlu keluar rumah dan berkeliaran di jalanan mencari sebuah studio dance.

Dance merupakan suatu kegemaranku. Aku tidak akan bisa untuk keluar dari hobiku ini. Dengan dance ini aku sudah bertemu dengan beberapa teman baru. Aku sudah bertemu dengan Jung Hoseok yang benar – benar pandai menari. Aku mengagumi Hoseok ketika dia sedang menari.

Keringat sudah mulai turun membasahi pelipisku dan bajuku sudah sangat basah. Sudah berapa lama aku di ruangan ini? Sepertinya sudah sejak 3 jam yang lalu aku berada di ruangan ini. Aku mengambil air minum dan meneguknya untuk menghilangkan rasa hausku.

“Jeon, ada yang mencarimu” kata Hoseok.

Ya saat ini aku dan Hoseok berada di studio dance rumahku. Kami berdua sedang melakukan sebuah kolaborasi untuk sebuah pertunjukkan underground.

“Nugu?” tanyaku.

“Molla. Coba kau temui dia saja” jawab Hoseok.

“Baiklah. Kau bisa bilas dulu di sebelah sana” kataku sambil menunjuk sebuah pintu di pojok ruangan.

“Eoh” jawabnya singkat.

Aku berjalan menuruni tangga dan menuju ruang tamuku. Di sana sudah ada seseorang dengan tuxedo berwarna hitam dan rambutnya yang berwarna blonde itu. Dia berdiri ketika melihatku.

“Jin hyung?” sapaku bingung.

“Jeon Jungkook, aku membutuhkanmu!” sahut Jin hyung begitu memanggilnya.

“Silahkan duduk hyung. Ada apa hyung?” tanyaku.

“Jebal, aku benar – benar butuh bantuanmu, Jungkook-ah!” serunya.

“Ah ye, kau membutuhkan bantuan dariku untuk apa?” tanyaku lagi.

“Kau harus ikut denganku sekarang juga!” Jin hyung menarik tanganku.

“Chakkaman hyung! Aku belum mandi…” kataku.

“Ah aku lupa. Aku berikan kau waktu 15 menit dari sekarang, mandi dan bersiaplah. Ah jangan lupa kau memakai pakaian yang formal” perintah Jin hyung.

“Arraseo hyung” jawabku lalu pergi meninggalkannya sendirian di ruang tamuku.

Aku kembali ke studio dance dan menemui Hoseok yang sudah terlihat segar karena habis mandi.

“Hoseok-ah, aku harus pergi sekarang juga. Hyungku menungguku di bawah. Kau tidak apa kan pulang sendiri? Ani, maksudku aku tidak mengantarkanmu ke bawah” jelasku.

“Gwenchana. Aku pulang ne, annyeong!” dia keluar dari studio dance.

Aku masuk ke dalam kamarku dan menyiapkan pakaian yang harus aku pakai. Pakaian formal eoh? Jin hyung ingin membawaku kemana? Dan mengapa harus memakai pakaian formal?

Kuputuskan untuk mengambil setelan jasku yang berwarna putih ini dan masuk ke kamar mandi. Aku membasahi rambutku. Terasa sangat segar sekali setelah mandi.

15 menit pun aku sudah siap dan kini aku sudah berada di mobil Jin hyung. Dia terlihat sangat tergesa – gesa saat ini. Berbagai pertanyaan yang aku ajukan pun tidak ada yang dijawabnya satupun.

“Hyung…” panggilku.

“Jin hyung….” Panggilku lagi.

“YA! Kim Seokjin-ssi!” aku menaikkan intonasi suaraku.

“Ah ye, eoh” jawabnya.

“Biarkan aku yang menyetir. Kau terlihat sangat gusar sekali” kataku.

“Tidak usah, Jungkook-ah. Aku bisa” katanya.

“Ani. Kau tidak terlihat baik – baik saja! Cepat hentikan mobil ini sekarang dan biarkan aku menyetir” aku memaksa Jin hyung.

“Arraseo arraseo” jawabnya lalu menghentikan mobil ini dan berganti posisi.

“Kita akan kemana?” kataku yang kini sudah di bangku kemudi.

“Busan” jawab Jin hyung.

“Bu… busaaann?” kataku kaget lalu menghentikan mobilnya.

“Apa kau gila hyung?! Itu jauh sekali!” teriakku.

“Kau harus ikut dan membantuku kali ini, Jungkook-ah” kata Jin hyung dengan tatapan seriusnya.

“Baiklah hyung” jawabku.

 

TO BE CONTINUE…

Hai hai FF baru nih genre baru juga cerita baru juga hahaha. Eotte? Suka ga? Apa masih ngambang ceritanya? Apa kurang panjang juga ceritanya? Yaudah kalo gitu tinggalin jejaknya dongg biar tau kesan kalian gimana sama ff ini hihiw~

Kamsahamida reader-nim :*

14 responses to “Please, Hold Me Tight Chapter 1

  1. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 9 – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s