Soul School Chapter 12

 

audi-ff

By Sparkdey

Poster made by marsyasara

Soul School Chapter 12

School Life || Romance || Friendship

PG – 17

Jeon Jungkook BTS || Kim Taehyung BTS || Mark Tuan GOT7 || Jung Krystal Fx || Kim Sujin (OC) || Min Ji Eun (OC)

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7A || Chapter 7B || Chapter 8 || Chapter 9 || Chapter 10A || Chapter 10B || Chapter 11 || Chapter 12 ||

Desclaimer : FF ini pure ide dari author sparkdey dengan beberapa bantuan dari teman – teman dan terinspirasi dari beberapa K-Drama. Dan hanya di posting di FFIndo dan blog pribadi author. Jika kalian menemukan cerita yang sama, mohon beritahukan kepada author. Terima kasih^^

NB : terdapat beberapa kata kasar, mohon maaf bila kurang berkenan. Lebih baik untuk tidak membaca kalimat itu atau skip FF ini.

Happy Reading!!~

 

Cerita sebelumnya…

“Arrghh!” teriakku.

Aku merasakan sakit di dalam kepalaku. Entah apa yang sudah dilakukan oleh vampire itu padaku. Kini jarak vampire itu denganku sudah sangat dekat. Dan masih dengan tatapan mata yang seakan – akan ingin membunuhku secara perlahan.

“Arrghh!!!” teriakku semakin menjadi ketika rasa sakit yang sangat luar biasa.

Genggamanku pada Krystal semakin melonggar. Aku mencoba membuka mulutku dengan sekuat tenaga.

“Krys…. La… lari!!” kataku pelan namun dapat didengar oleh Krystal.

Tangan vampire itu kini sudah ada di leherku dan Krystal sudah berlari menjauhiku dan vampire yang kini sudah mulai mencekikku. Aku mulai kesulitan bernafas dan aku berusaha untuk melakukan perlawanan pada vampire ini.

Aku mengcengkram tangan vampire yang ada di leherku ini sebisa mungkin aku mencoba melepaskan cengkramannya. Namun hasilnya nihil dan aku hanya bisa berserah diri saat ini, aku tidak tahu apakah akan ada yang menyelamatkanku atau tidak.

“Arrghhh!!” aku merasakan perih di leherku saat ini.

‘Kumohon Tuhan, jaga Krystal’ batinku.

-Mark POV-

Aku mengambil tas yang diberikan oleh Sekretaris Park. Aku memeriksa apa isi dalam tas ini. Ada beberapa perlengkapan P3K dan juga lampu. Tunggu… lampu? Untuk apa?

Aku mengeluarkan lampu yang menurutku untuk apa selalu kubawa bersamaku. Aku menyalakan lampu itu dan warna yang dikeluarkan adalah ungu, seperti lampu dengan sinar UV.

“Untuk apa ini?” tanyaku pada Sekretaris Park sambil menunjukkan lampunya.

“Tuan muda bisa membuktikannya sekarang. Teman tuan muda sedang berlari kemari dan di belakangnya ada sosok yang mungkin anda tidak asing lagi” jelas Sekretaris Park.

Aku menoleh ke arah hutan dan benar ada seseorang yang sedang berlari menuju ke arahku. Semakin lama semakin jelas siapa yang berlari dan siapa yang mengejarnya.

“Krystal? Dan… VAMPIRE?!” kataku kaget.

Dengan cepat aku menyalakan lampu yang sedang kupegang saat ini. Aku mengarahkannya ke arah Krystal dan sosok yang mengejarnya, vampire. Ku lihat vampire itu langsung menutupi matanya dan kembali berlari masuk ke dalam hutan.

“Gwenchanayo?” tanyaku pada Krystal yang masih mengatur nafasnya.

“Jung..kook…hhhh tolong Jungkook” kata Krystal yang sulit mengatur nafasnya.

“Jungkook? Ada apa dengan Jungkook?” tanyaku sambil membantu Krystal berjalan dan duduk di depan gerbang sekolah.

“Vampire…” Krystal mengarahkan tangannya menuju hutan. Tempat dimana ia baru saja keluar dan dikejar oleh sosok yang sangat menyeramkan.

“Sekretaris Park..” panggilku dan dia langsung mengerti apa maksudku.

“Kajja kita masuk. Di luar sini dingin sekali” ajakku pada Krystal.

“Shireo… sampai Jungkook berada di sini aku akan masuk” Krystal menolak ajakanku.

“Baiklah… aku akan menemanimu di sini. Sekretaris Park sedang mencari Jungkook saat ini. Kita serahkan saja semuanya pada Sekretaris Park. Dia Sekretaris yang terlatih, kau tidak perlu khawatir lagi” jelasku.

Saat ini jam di ponselku sudah menunjukkan pukul 05:37 AM dimana matahari akan muncul sekitar satu jam lagi. Aku masih menemani Krystal dan menunggu kedatangan Sekretaris Park dengan membawa seseorang bersamanya, Jeon Jungkook. Aku mempercayai semua ini pada Sekretaris Park.

Aku dan Krystal tidak menunggu lama dan keluarlah Sekretaris Park bersama dengan seseorang yang Krystal tunggu, Jungkook. Dengan cepat Krystal langsung berlari dan memeluk Jungkook.

“Aku mengkhawatirkanmu, Jungkook-ah. Kumohon jangan tinggalkan aku” kata Krystal.

“Hey, aku sudah di sini saat ini. Aku tidak mungkin meninggalkanmu” jawab Jungkook yang membalas pelukan Krystal.

“Kajja kita masuk ke dalam” ajak Jungkook.

“Ah ye, jeongmal gomawo, Mark-ah. Sudah menolongku. Dan kau juga Sekretaris Park. Aku berhutang budi pada kalian” kata Jungkook sambil melewatiku dan Sekretaris Park.

“Kerja bagus Sekretaris Park” kataku sambil menepuk bahunya pelan.

Aku mengekori Jungkook dan Krystal untuk masuk ke dalam sekolah. Dan kami disambut oleh seseorang yang sudah menunggu di sana. Seorang pria dengan rambut berwarna coklatnya dan lesung pipi yang tegambar jelas di pipinya ketika dia sedang tersenyum ke arah kami. Aku tidak tahu dia siapa sampai pada akhirnya Jungkook dan Krystal menyebutkan ‘Kim Sajangnim’ pada pria itu. Dapat aku pastikan bahwa dia adalah Kepala Sekolah Soul School ini.

“Annyeong Kim Sajangnim. Perkenalkan, aku Mark Tuan. Aku ingin masuk ke sekolah ini dan aku sudah membawa berkas dan juga titipan dari aboeji untuk anda” kataku.

“Baiklah, mari kita bicarakan hal ini di ruanganku” ajak Kim Sajangnim.

Aku memberikan sebuah amplop pada kepala sekolah yang merupakan titipan dari aboeji. Kepala sekolah melihat apa isi dari amplop itu lalu tersenyum. Dia berjalan ke arahku dan berbicara padaku.

“Apa kau yakin ingin masuk ke sekolah ini?” tanyanya padaku.

“Aku yakin, Kim sajangnim” jawabku.

“Jangan berbohong padaku, Mark” aku terkejut dengan apa yang dikatakan oleh kepala sekolah.

“A.. aku tidak berbohong” jawabku.

“Kau berbohong. Jika kau tidak yakin untuk berada di sekolah ini, kau boleh pergi sekarang. Aku akan memberikanmu waktu 1 hari untuk berfikir” jelas kepala sekolah.

“Aku diminta untuk bersekolah di sini oleh aboeji. Aku juga tidak tahu kenapa harus bersekolah di sini. Tapi di sini ada seseorang yang sangat aku sayangi dan ingin ku lindungi” jelasku.

“Jung Krystal” sahut kepala sekolah.

“Ne?” aku bingung.

“Jung Krystal. Dia yang ingin kau lindungi” kepala sekolah kini berjalan menuju meja nya.

“Ah ne, Kim sajangnim. Anda benar. Tapi tolong rahasiakan ini dari aboeji” pintaku.

“Baiklah. Aku sudah tahu apa tujuanmu ke sini. Kau boleh sekolah di sini, namun kau harus mengikuti ujian yang belum kau ikuti” kata kepala sekolah.

“Ne kim sajangnim” jawabku.

“Aku akan memanggil Sehun seongsanim untuk mengantarkanmu ke dorm” kata kepala sekolah.

 

-Author POV-

Namjoon menghubungi Sehun yang kini sedang berada di lobby bersama guru yang lainnya. Namjoon meminta Sehun untuk mengantar Mark ke dorm namja. Sehun memenuhi perintah dari Namjoon.

“Mark-ssi, ikut denganku akan aku tunjukkan jalan menuju dormnya” kata Sehun begitu sampai di ruangan Namjoon.

“Ne seongsanim” jawab Mark.

Mark mengikuti Sehun dari belakang. Menaiki tangga menuju dorm namja. Kini mereka sampai di depan pintu dorm. Dan Sehun mengetuk pintu dorm itu namun tidak ada yang menjawabnya. Pelan – pelan Sehun membuka pintu itu dan mendapatkan Jungkook sedang tidur.

“Ini kamarmu. Kau akan sekamar dengan Jungkook dan juga Taehyung. Beristirahatlah, sebentar lagi kau akan dipanggil untuk mengikuti beberapa test yang kau lewatkan” jelas Sehun.

“Kamsahamnida seongsanim” Mark membungkukkan badannya.

Sehun kembali ke aktivitasnya semula dan Mark masuk ke dalam kamar itu. Dengan pelan – pelan Mark berbaring di kasur dengan maksud untuk tidak membangunkan Jungkook yang sedang tertidur pula situ.

Taehyung dan Ji Eun kini berada di ruang kesehatan Soul School. Ji Eun merawat Taehyung dan juga Sujin yang terluka akibat sebuah test yang baru saja mereka jalani. Ji Eun mengganti perban pada kaki Sujin.

“Ji Eun-ssi, kau masih ingat kata – kataku eoh?” Tanya Sujin yang tiba – tiba saja terbangun.

“Ah mianhae Sujin-ssi, apa aku membangunkanmu?” Tanya Ji Eun.

“Ani, aku hanya tidak bisa tidur dengan nyenyak di sini” jawab Sujin.

“Ingin kubuatkan teh hangat?” Tanya Ji Eun.

“Jika aku tidak merepotkanmu” jawab Sujin.

Ji Eun keluar dari ruang kesehatan Soul School. Sujin merubah posisinya menjadi duduk dan melihat perban di kakinya yang baru saja diganti oleh Ji Eun. Sujin mencoba berjalan menuju ranjang dimana Taehyung berbaring. Sujin melihat Taehyung sedang tidur dengan nyenyak. Perban di kakinya pun baru diganti oleh Ji Eun.

‘Anak itu, Min Ji Eun, sangat baik’ batin Sujin.

Sujin melihat wajah Taehyung yang begitu polos. Sujin mengamatinya perlahan dan mengingat kembali kenangannya dengan Taehyung sewaktu kecil. Tawanya, tangisnya, candanya bersama Taehyung sewaktu kecil mampu membuat Sujin menitikkan air matanya.

“Noona? Kau menangis eoh?” Tanya Taehyung yang terbangun dari tidurnya.

“Ah mian, aku membangunkanmu eoh” sahut Sujin.

“Noona, uljima” kata Taehyung.

“Aku tidak menangis, pabo!” kata Sujin.

“Noona bohong. Ceritakan padaku apa yang membuatmu sedih noona” pinta Taehyung.

“Ani, tidak ada yang membuatku sedih” aku memeluk Taehyung dengan erat.

“Aku menyayangimu, Tae” sahut Sujin dalam pelukannya.

“Noona? Noona kenapa? Tidak biasanya kau seperti ini” Tanya Taehyung.

“Sudah kubilang aku tidak apa – apa” Sujin melepaskan pelukannya pada Taehyung.

“Jinjja? Noona tidak berbohong padaku kan?” Tanya Taehyung.

“Tentu saja tidak, pabo!” jawab Sujin.

Ji Eun sudah selesai membuatkan teh untuk Sujin. Ji Eun berjalan kembali ke ruang kesehatan Soul School. Berjalan menuju ruangan yang berada di akhir dari koridor lantai 1. Sebelum masuk ke dalam ruangan kesehatan, Ji Eun melihat Sujin sedang memeluk Taehyung dan dia menangis.

‘Apa aku benar – benar harus menjauh dari Taehyung?’ batin Ji Eun.

“Maaf membuatmu lama, Sujin-ssi. Aku sudah membuatkan teh untukmu” kata Ji Eun sambil menaruh secangkir teh pada meja di samping ranjang Sujin.

“Ah kau sudah bangun, Taehyung-ah?” Tanya Ji Eun.

“Ne. jadi kau hanya membuatkan teh untuk noona ku saja umh?” Tanya Taehyung.

“Ah mian aku tidak tahu. Baiklah tunggu sebentar ne, aku akan membuatkannya” kata Ji Eun.

“Tidak perlu. Lagipula aku tidak terlalu menyukai teh” jawab Taehyung.

“Ah ne” Ji Eun kembali duduk.

“Ah sebaiknya aku kembali ke dorm ne” kata Sujin.

“Mwo? Akan aku antar, Sujin-ssi” kata Ji Eun.

“Tidak perlu. Lebih baik kau menjaga Taehyung di sini. Dia masih anak kecil yang butuh teman untuk menemaninya” sahut Sujin.

“YA~ noona! Aku bukan anak kecil lagi eoh!” bantah Taehyung.

“Ah ne, hati – hati, Sujin-ssi” kata Ji Eun.

Sujin keluar dari ruang kesehatan Soul School dan berjalan menaiki tangga menuju dorm yeoja. Sepanjang dia melangkahkan kakinya, dia semakin berfikir apa yang harus dia lakukan untuk menjauhkan Ji Eun dari Taehyung.

Kini dia sampai di depan dorm yeoja. Dia membuka pintu kamarnya perlahan dan melihat Krystal sedang tertidur nyenyak di ranjangnya. Sujin merebahkan badannya dan melipat tangannya di belakang kepalanya sebagai bantalan.

‘Apa yang harus aku lakukan?’ batin Sujin.

 

-Taehyung POV-

Aku terbangun dari tidurku karena aku merasakan sebulir air mengenai keningku. Aku membuka mataku perlahan dan itu adalah noona ku yang sedang menangis. Aku menanyakan padanya mengapa ia menangis namun jawabannya adalah ‘tidak apa – apa’. Tidak mungkin noona ku menangis jika tidak ada alasannya. Pasti noona sedang sedih.

Saat noona memelukku aku melihat ke sekeliling dan di sini tidak ada Ji Eun. Aku tidak tahu mengapa 2 hari ini yang aku cari adalah sosok Ji Eun, bukan sosok Krystal lagi. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa setiap aku tidak melihat Ji Eun di sekelilingku, aku menjadi mengkhawatirkannya? Rasa khawatir ini sama seperti yang aku rasakan pada Krystal dulu.

‘Apa aku menyukai Ji Eun?’ batinku.

Kini noona sudah kembali ke dorm dan di ruangan ini hanya ada aku dan Ji Eun. Hanya berdua saja. Aku dan Ji Eun.

Aku senang di saat berdua seperti ini dengan Ji Eun. Melihatnya tertawa melihatnya cemberut karena ulahku. Itu sudah menjadi sebuah senyuman untukku.

‘Oh tidak. Apa aku benar – benar menyukaimu, Min Ji Eun?’ batinku.

Aku melihat Ji Eun sedang merapihkan ranjang yang tadi digunakan oleh noona. Merapihkannya menjadi seperti semula sebelum kami ke sini. Aku senang melihatnya dengan tatapannya yang serius melakukan sesuatu hal di hadapannya.

“Ji Eun-ah” panggilku.

“Ne?” dia menoleh padaku.

“Umm… bagaimana keadaan tanganmu? Sudah lebih baik?” tanyaku.

“Eoh” jawabnya singkat.

“Ji Eun-ah” panggilku lagi.

“Ne?” jawabnya.

“Mianhae” kataku.

“Mwo? Minta maaf untuk apa?” tanyanya sambil mendekat padaku.

“Karena sudah selalu merepotkanmu” jawabku memalingkan wajahku dari tatapannya.

“Ah tidak apa, aku hanya ingin membalas kebaikanmu” jawabnya sambil melihat kakiku.

Saat aku menolehkan wajahku untuk melihatnya, wajah Ji Eun sudah berada dekat dengan wajahku.

“M… mwo? Apa yang kau lakukan?” tanyaku dengan sedikit gugup.

“Ah mian, aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik – baik saja. Apa wajahku terlalu dekat?” tanyanya.

‘Sebuah pertanyaan bodoh macam apa yang kau utarakan, Min Ji Eun’ batinku.

“A.. ani. Itu tidak terlalu dekat. Jika terlalu dekat itu…. Seperti ini” kataku sambil menyentuhkan hidungku pada hidungnya.

Aku dapat merasakan deru nafasnya Ji Eun. Rasanya aku ingin menciumnya saat ini juga. Namun aku tidak bisa. Aku tidak mempunyai hak untuk itu.

“YA! Apa yang kau lakukan, Kim Taehyung bodoh?!” teriak Ji Eun.

“Aku hanya membuktikan saja jarak yang dekat itu seperti apa” jawabku lalu menolehkan wajahku lagi.

“Tapi tidak dengan hidungmu yang menempel pada hidungku bodoh!” bentak Ji Eun.

“Jadi kau ingin bibirku yang menempel pada bibirmu?” tanyaku dengan sedikit senyum jahil dariku.

“YA! Tidak! Tentu saja tidak!” bantah Ji Eun.

“Seperti ini?” aku menempelkan bibirku pada bibir Ji Eun.

Aku mencium Ji Eun. Akhirnya aku mencium Ji Eun. Aku sudah menahan perasaanku untuk tidak menyentuh Ji Eun namun aku tidak bisa. Hatiku terus menolak jika aku memerintahkan untuk menjauh dari Ji Eun. Aku tidak bisa dan tidak siap untuk menjauh darinya.

‘Apa yang telah kau perbuat padaku Ji Eun? Kau membuatku semakin penasaran’ batinku.

Aku melepaskan bibirku dari bibir Ji Eun. Dia terlihat sangat terkejut dengan perbuatanku tadi. At least aku hanya menempelkannya saja untuk melihat reaksi apa yang akan dia keluarkan. Namun dia hanya diam terpaku.

“Pervert namja!” teriak Ji Eun lalu pergi namun dengan cepat aku langsung menahan tangannya untuk tidak pergi meninggalkanku.

“Mianhae. Mianhae Min Ji Eun” kataku.

“Sungguh, aku minta maaf. Aku tidak ada maksud apapun. Aku… aku hanya bercanda Ji Eun-ah” jelasku.

“Ber.. bercanda kau bilang?!” teriak Ji Eun.

“Dasar namja pabo!” teriaknya dan Ji Eun melepaskan tanganku secara paksa.

Aku langsung turun dari ranjang dan berusaha untuk mengejar Ji Eun. Namun aku terjatuh lagi. Aku tidak bisa mengejarnya. Kondisi kakiku tidak memungkinkan untuk berlari. Aku memukul lantai sekeras mungkin untuk meluapkan emosiku.

“Kau sangat bodoh Kim Taehyung” kataku pada diriku sendiri.

Aku menjadi kesal pada diriku sendiri. Bagi Ji Eun itu bukanlah sebuah candaan. Dan aku juga sudah bodoh menjawabnya kalau itu adalah sebuah candaan. Itu mewakili perasaanku. Sejujurnya aku masih belum mengerti perasaan apa yang ada padaku saat ini untuk Ji Eun. Aku harus mencari tahu perasaan apa yang ada pada diriku ini untuk Ji Eun dan juga Krystal.

Sekalipun aku mencintai keduanya, aku harus memilih salah satu di antara mereka berdua. Di antara mereka yang benar – benar aku cintai.

 

-Ji Eun POV-

Aku benar – benar sedih mendengar sebuah pernyataan yang keluar dari mulut Taehyung. Dia menciumku dan dia menjelaskannya dengan bilang bahwa itu adalah sebuah candaan. Yang benar saja! Aku merasa sedih dia melakukan itu hanya karena sebuah candaan bukan dari hatinya atau perasaannya padaku. Dasar namja bodoh!

‘Aku membencimu, Kim Taehyung’ batinku.

Aku berlari masuk ke dalam dorm dan merebahkan tubuhku di kasur. Aku mengambil ponselku dan melihat ada sebuah pesan. Aku membuka pesan itu.

From : Jeon Jungkook

Ji Eun-ah, kau sedang dimana? Apa kau bisa menemaniku jalan – jalan di halaman sekolah?

Aku tersenyum melihat isi pesan itu. Setidaknya ada yang membuat hatiku senang karena ada Jungkook yang memintaku menemaninya nanti. Aku langsung membalas pesan Jungkook.

To : Jeon Jungkook

Aku di dorm. Baiklah, kapan kau ingin aku menemanimu?

SEND…

Tak lama ponselku bergetar. Ada sebuah pesan masuk.

From : Kim Taehyung

Maafkan aku Ji Eun-ah. Sungguh aku tidak bersungguh – sungguh menjawab bercanda. Itu… itu bukan dari hatiku yang menjawab itu

Aku membanting ponselku dengan kesal. Bagaimana mungkin dia dengan mudah aku maafkan setelah menyakiti hatiku. Dan dia bilang itu bukan dari hatinya yang menjawab itu? Hahaha sungguh bodoh! Ponselku bergetar lagi.

From : Jeon Jungkook

Sekarang juga. Apa kau bisa? Aku sudah berada di lobby. Kemarilah

Aku membalas pesan dari Jungkook.

To : Jeon Jungkook

Baiklah. Aku akan turun sekarang. Chakkaman ne

Aku langsung berganti pakaian dan memakai parfum yang ku bawa. Aku turun dan menemui Jungkook di lobby dengan pakaian celana jeans berwarna biru dongker, kaus berwarna putih dan jaket jeans berwarna biru muda.

“Menunggu lama eoh?” tanyaku.

“Ani. Kajja” ajak Jungkook.

Aku tersenyum padanya dan berjalan di sampingnya. Kami keluar dari lobby dan mulai berjalan menyusuri taman dari Soul School. Taman ini begitu indah. Aku sangat menyukainya. Di sini terdapat blue rose. Aku suka bunga itu. Aku memegang bunga mawar itu dan tersenyum senang. Setidaknya aku merasa terhibur saat ini.

“Ji Eun-ah” panggil Jungkook.

“Hmm” jawabku hanya dengan gumamku saja karena aku masih sibuk melihat blue rose di hadapanku ini.

“Aku ingin bertanya sesuatu hal padamu” kata Jungkook.

Kelihatannya Jungkook ingin menanyakan sesuatu hal yang sangat serius padaku. Aku menoleh padanya dan menatap padanya dengan sedikit senyuman.

“Eoh. Kau ingin bertanya apa?” tanyaku.

“Apa kau menyukai Taehyung?” tanyanya.

Pertanyaan yang diutarakan oleh Jungkook mampu membuatku terkejut dan ekspresiku berubah saat itu juga. Aku menjadi kesal dan tidak tersenyum lagi. Jungkook membuatku kembali ke rasa kesalku pada Taehyung.

“Mengapa kau bertanya seperti itu?” tanyaku.

“Aku hanya ingin tahu saja” jawabny lalu kembali berjalan.

“Aku… aku tidak menyukainya” jawabku.

“Apa kau tidak berbohong padaku?” Tanya Jungkook yang tiba – tiba berbalik ke arahku.

“Tidak” aku memalingkan wajahku.

“Kau berbohong” sahutnya lalu kembali berjalan.

“Dulu aku dan Taehyung adalah sahabat. Kami berdua saling membutuhkan satu sama lainnya. Namun persahabatan kami hancur karena dia sudah menyakiti adik sepupuku, Krystal. Aku sudah berkali – kali memperingatkannya untuk tidak menyakitinya namun pada kenyataannya dia menyakitinya. Dan Krystal masih terus saja membela Taehyung di depanku. Aku benci itu. Krystal dan Taehyung masih saling mencintai. Namun perlahan aku mengamati mereka, Taehyung tidak seperti dulu” jelas Jungkook.

“Tidak seperti dulu?” tanyaku.

“Aku rasa Taehyung menyukaimu, Ji Eun-ah” jawab Jungkook.

Aku langsung berhenti dan menalarkan perkataan Jungkook barusan. Taehyung suka padaku? Hahaha itu mustahil. Tidak mungkin dia menyukaiku sedangkan kemarin dia terlihat sangat khawatir pada Krystal.

“Kau kenapa? Apa kau sakit?” Tanya Jungkook sambil memegang keningku.

“Tidak. Aku hanya terkejut dengan perkataanmu tadi. Tidak mungkin Taehyung menyukaiku, Jungkook-ah” kataku sambil menurunkan tangan Jungkook dari keningku.

 

-Jungkook POV-

“Kau kenapa? Apa kau sakit?” Tanyaku sambil memegang kening Ji Eun.

“Tidak. Aku hanya terkejut dengan perkataanmu tadi. Tidak mungkin Taehyung menyukaiku, Jungkook-ah” katanya sambil menurunkan tanganku dari keningnya.

“Aku melihat itu dari tatapan dan sikap Taehyung padamu. Walaupun aku membencinya tapi aku mengenalnya sangat dekat” kataku.

“Dia menyukaimu, Ji Eun-ah” lanjutku.

“Aku rasa kau masih shock, Jungkook-ah. Lebih baik kau beristirahat lagi. Annyeong!” dia lari pergi meninggalkanku.

Aku masih berada di taman Soul School sendirian. Aku memeriksa ponselku dan tidak ada notifikasi apapun di sana. Wonwoo hyung tidak menghubungiku sama sekali. Aku ingin pulang ke rumah, namun aku tidak bisa.

Bagaimana mungkin secepat itu Taehyung menyukai Ji Eun? Aku tahu Ji Eun adalah seorang yeoja yang baik dan manis. Tapi… oh God, ingin kau kemanakan adik sepupuku, Taehyung-ah? Kau sungguh gila!

Aku merasa kesal dan semakin membenci Taehyung. Aku berfikir bagaimana jika Krystal mengetahui bahwa sekarang Taehyung menyukai seorang yeoja lain? Apa yang akan Krystal rasakan dan lakukan? Sungguh kelakuan Taehyung sudah di luar batas. Aku harus menemuinya sekarang!

Aku berjalan menuju dorm namja untuk mencari Taehyung. Aku membuka pintu kamar dan hanya melihat Mark di sana. Aku keluar dari dorm dan mencari Taehyung di ruang kesehatan. Dan benar, aku menemukannya di sana.

“Ya! Kau namja brengsek!” teriakku dan Taehyung terkejut dengan kedatanganku ke sini.

“Ada apa?” tanyanya seakan – akan tidak ada masalah.

“Kau benar – benar brengsek, Tae!” aku mengcengkram baju Taehyung.

“Apa yang kulakukan?” tanyanya dengan nada yang sedikit meninggi.

“Kau bodoh! Mengapa kau menyukai Ji Eun? Kau sudah berjanji pada Krystal akan menunggunya sampai kapanpun dan sekarang kau mengacuhkan Krystal dan kau…. ARRGHH benar – benar namja brengsek!” aku sangat geram pada Taehyung.

“Mark. Mark menyukai Krystal” jawabnya.

“Dasar bodoh! Krystal tidak menyukai Mark! Dia menyukaimu, bodoh!” teriakku di depan wajahnya.

“Bisa kau lepaskan ini? Ini sungguh membuatku sulit bernafas” Taehyung melepaskan tanganku dari bajunya secara paksa.

“Cih” kataku.

“Mark menyukai Krystal. Dan Mark ada di sini. Aku yakin kau pasti tahu itu, Jungkook-ah. Dia sudah melakukan segala cara untuk menjauhkanku dan menjatuhkanku di mata Krystal. Dan sampai sekarang pun Krystal tidak memberikanku jawaban atau setidaknya clue untuk menjawab pertanyaanku selama ini. Dan selama itu Ji Eun selalu berada di sampingku. Awalnya aku biasa saja terhadap Ji Eun. Tapi dia terus berusaha ada untukku” jelasnya.

“Apa kau tau hah?! Krystal mempertaruhkan nyawanya untuk noona mu!” teriakku lagi di depan wajahnya sambil menunjuk wajahnya.

“Aku tahu itu. Ji Eun mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanku” dia menjawabku lagi.

‘Oh tidak. Kesabaranku sudah mulai habis’ batinku.

“Oh God, Taehyung-ah, jangan memancing amarahku” kataku sambil menghembuskan nafasku kasar.

“Aku tidak pernah memancing amarahmu, Jeon. Kau yang selalu emosi padaku. Rasa bencimu padaku terlalu besar” kata Taehyung lalu beranjak pergi dari ruang kesehatan.

“Urusanmu belum selesai denganku, Tae” kataku sambil menahan bahunya.

“Apa yang ingin kau permasalahkan lagi?” tanyanya seakan – akan menantangku.

Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memukulinya? Dia benar – benar brengsek. Dia sudah menyakiti hati Krystal lagi. Aku tidak ingin Krystal mengetahui ini semua.

“Jeon Jungkook, hentikan semua ini” sahut seseorang dari ambang pintu ruang kesehatan.

Aku menoleh pada sumber suara. Dan suara itu berasal dari adik sepupuku, Jung Krystal. Apa yang dia lakukan di sini? Untuk apa dia ke sini? Mengapa dia datang di saat yang tidak tepat?! Argh! Sungguh menyebalkan! Aku sudah benar – benar emosi kali ini.

“Tidak, Krys. Aku tidak bisa sabar lagi kali ini!” aku sudah berada di puncak emosiku.

“Neo! Namja brengsek! Kau harus membayar semua ini!” aku langsung memukul pipi Taehyung.

Taehyung jatuh tersungkur ke lantai dan bibirnya mengeluarkan darah. I got it. Itu balasan untuk menyukai Ji Eun. Lalu aku membangunkan Taehyung dan akan memukul pipinya lagi. Dengan segala kekuatan aku keluarkan untuk memukul Taehyung. Namun yang aku pukul kali ini bukanlah Taehyung.

“Ji… Ji Eun?!” teriakku kaget.

“Gwenchanayo?” tanyaku saat melihat yang jatuh tersungkur adalah Ji Eun.

Aku membantu Ji Eun berdiri dan meminta maaf padanya. Aku berniat membersihkan luka pada bibir Ji Eun yang akibat dari pukulanku tadi dengan ibu jariku. Namun Ji Eun menepis tanganku dengan kasar.

“Jeon Jungkook, apa kau fikir tindakanmu kali ini adalah benar huh?” Tanya Ji Eun.

“Ji Eun… sungguh aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu” kataku.

“Kau tidak perlu meminta maaf padaku, tapi kau harus meminta maaf pada Taehyung” nada bicara Ji Eun meninggi.

“Ji Eun-ssi… keluarlah” sahut Krystal.

“Shireo” jawab Ji Eun singkat.

Ji Eun membantu Taehyung untuk duduk di ranjang ruang kesehatan. Dan melihat luka yang ada pada bibir Taehyung. Lalu Ji Eun kembali berjalan ke arahku.

“Kau tadi bertanya, apakah aku suka pada Taehyung atau tidak? Akan aku jawab sekarang” kata Ji Eun.

“Aku menyukainya sejak aku pertama kali bertemu dengannya. Aku merelakan nyawaku di hutan di depan vampire – vampire itu hanya untuk melindungi orang yang aku sayangi. Selama ini Sujin selalu memberitahuku untuk segera menjauh dari Taehyung karena Taehyung sangat mencintai Krystal. Segala macam cara sudah aku coba, namun aku tidak bisa. Aku mencintai Taehyung. Apapun akan aku lakukan agar Taehyung bahagia” jelas Ji Eun.

“Ji Eun-ssi, hentikan!” sahut Krystal.

“Diam kau, Krystal!” bentak Ji Eun.

“Awalnya ku fikir kau adalah anak yang penuh tanggung jawab dan baik hati Jungkook-ah. Namun semua persepsiku tentang dirimu adalah salah besar! Aku sempat menyukaimu karena kau adalah namja yang peduli dengan wanita. Namun aku salah besar, yang kau pedulikan adalah adik sepupumu, Krystal. Apa kau fikir kau itu tidak egois? Kau sangat egois Jeon Jungkook!” Ji Eun benar – benar serius padaku kali ini.

“Jika memang dia mencintai adik sepupuku, dia tidak mungkin menyukaimu Ji Eun-ah” kataku yang kini lebih mendekat pada Ji Eun.

“Lalu apa urusanmu jika dia menyukaiku? Apa itu sangat mengganggumu Jeon Jungkook? Kau sangat egois. Kau hanya memikirkan dia, Jeon” Ji Eun memanggilku dengan nama margaku. Aku benci ini.

“Ji Eun-ah…” Taehyung memegang bahuku.

“Diam kau, Taehyung” Ji Eun menepis tangan Taehyung dari bahunya.

“Jika Taehyung memang mencintai Krystal, aku rela. Aku akan menjauh darinya. Namun apa yang Krystal perbuat pada Taehyung? Dia mencampakkannya. Dia tidak memberi jawaban pada Taehyung. Dia menggantungkan Taehyung. Dan kau, kau masih membela adik sepupumu itu dengan memukul Taehyung berkali – kali? Apa yang ada di otakmu, Jeon?! Hanya rasa emosi yang menyelimuti otakmu!” jelas Ji Eun.

Aku melirik pada Krystal. Dia sudah menahan rasa tangisnya mendengar semua perkataan Ji Eun di sini. Rasanya aku ingin memeluk Krystal saat ini juga namun aku tidak bisa.

“Jeon Jungkook, tolong dengarkan ini. Jika memang Krystal mencintai Taehyung, dia akan melakukan apapun untuk menghentikanmu. Namun apa yang dia perbuat? Dia hanya diam saja di ambang pintu ruangan ini. Dan aku.. aku yang menghentikanmu, Jeon. Jadi buanglah sifat egois dan keras kepalamu ini. Ada seseorang yang sangat mencintai Krystal dan ada seseorang yang mencintai Taehyung. Jika kau memang sayang pada adik sepupumu itu, kau tidak akan berani menyentuh lelaki yang dia sayang. Apa kau sudah gila Jeon?” lanjut Ji Eun.

“Jungkook-ah, sudah. Aku sudah mengerti sekarang. Lepaskan Taehyung dan jangan ada dendam lagi pada Taehyung” pinta Krystal.

“Tapi, Krys…” perkataanku terpotong.

“Tidak ada tapi – tapian. Aku memang mencintai Taehyung, tapi aku lebih menyayangimu, Jungkook-ah. Kau yang selalu ada di sisiku. Kau kakak sepupu terbaikku. Jadi kumohon hentikan semua ini. Aku akan menjadi gila jika kau memiliki dendam pada sahabatmu sendiri” jelas Krystal.

“Kumohon, hentikan semua ini dan kalian kembali bersahabat” pinta Krystal.

“Mianhae, Krys, tapi aku tidak bisa” aku berjalan menuju Taehyung namun Ji Eun menghalangiku.

“Minggir, Ji Eun-ah” pintaku.

“Shireo” jawabnya.

Dengan paksa aku menyingkirkan Ji Eun dan aku langsung memukul Taehyung lagi.

“Jeon Jungkook!” teriak Krystal.

“Maafkan aku Krys, tapi aku tidak bisa menahan semua ini” kataku lalu pergi setelah memukul Taehyung.

 

-Author POV-

Jungkook keluar dari ruang kesehatan di ikuti dengan Krystal di belakangnya. Kini di ruang kesehatan hanya ada Taehyung dan juga Ji Eun. Ji Eun membantu Taehyung ke posisi duduk di atas ranjang.

“Diam di sini. Aku akan mengobati lukamu” perintah Ji Eun.

Taehyung hanya diam saja karena dia menahan perih di bibirnya saat ini. Benar – benar tindakan Jungkook sudah di luar batas kali ini. Tak berapa lama Ji Eun kembali dengan kapas dan juga sebotol alcohol.

Ji Eun mulai membasahi kapas dengan alcohol dan mulai mengobati luka pada bibir Taehyung. Ji Eun benar – benar telaten untuk mengobati luka pada Taehyung. Taehyung benar – benar tidak tahu harus apa untuk membalas kebaikan Ji Eun padanya.

Dengan cepat Taehyung langsung memeluk Ji Eun dengan erat. Ji Eun yang berada di pelukannya saat itu juga ingin menangis, namun ia tidak bisa, ia harus menahannya saat ini.

“Gomawo. Kau sudah menyelamatkanku lagi kali ini. Mianhae kau jadi terluka karena aku” kata Taehyung yang masih memeluk Ji Eun.

“Lepaskan aku, Tae. Kau harus segera di obati” jawab Ji Eun.

Taehyung melepaskan pelukannya terhadap Ji Eun. Taehyung mengamati wajah serius Ji Eun untuk yang kesekian kalinya. Taehyung tersenyum.

“Mengapa kau tersenyum?” Tanya Ji Eun.

“Gwenchana” jawab Taehyung.

Ji Eun kembali konsentrasi untuk mengobati Taehyung. Kali ini sudah kapas kelima yang dia gunakan untuk membersihkan luka pada Taehyung. Taehyung tersenyum lagi namun kali ini Ji Eun tidak menanyakannya.

“Ahh” teriak Taehyung.

“Wae? Aku menekannya terlalu keras ya?” Tanya Ji Eun panic.

“Tidak. Aku hanya ingin menggodamu” jawab Taehyung.

“Menyebalkan” gumam Ji Eun.

“Ji Eun-ah…” panggil Taehyung.

“Apa yang kau katakana tadi benar?” Tanya Taehyung penasaran.

“Tidak. Aku hanya bercanda” jawab Ji Eun kembali mengobati Taehyung.

“Ah jadi kau bercanda” gumam Taehyung.

“Memangnya kenapa?” Tanya Ji Eun.

“Ku kira kau benar – benar menyukaiku” jawab Taehyung.

“Mana ada seorang yeoja yang mau dengan namja brengsek sepertimu” kata Ji Eun.

“Ada” jawab Taehyung.

“Dimana?” Tanya Ji Eun.

“Seorang gadis di depanku saat ini yang mengenakan jaket jeans dengan kaus putih dan celana jeans biru dongker dan sepatu sneakers berwarna hitam yang sedang mengobati lukaku sekarang” jelas Taehyung.

“Berarti dia adalah yeoja bodoh yang ingin menyukaimu” jawab Ji Eun.

“Kau sudah selesai. Aku pergi. Annyeong!” Ji Eun pergi meninggalkan Taehyung namun dengan cepat Taehyung menghalangi pintu ruang kesehatan.

“Apa yang kau lakukan bodoh? Cepat menyingkir” kata Ji Eun.

Dengan cepat Taehyung mencium Ji Eun pada keningnya. Ji Eun merasa terkejut dengan perlakuan Taehyung kali ini. Untuk apa kali ini dia mencium kening Ji Eun. Lalu Taehyung memeluk Ji Eun dengan erat.

“Aku menyukaimu, Min Ji Eun. Maaf aku sudah berkata tidak menyenangkan tadi pagi. Aku menciummu karena aku menyukaimu. Itu bukan bercanda sungguh. Terima kasih sudah menyelamatkanku lagi hari ini dan kau terluka karenaku. Aku minta maaf karena tidak bisa melindungimu tadi” jelas Taehyung.

“Tapi, Taehyung-ah…” kata Ji Eun yang masih berada di pelukan Taehyung.

 

TO BE CONTINUE…

Hai gimana kabar kalian? Ga sabar ya nungguin ff ini? Wkwkwk maaf ya kelamaan di update nya. Author sibuk soalnya hehe :”)

Tapi kali ini di update dengan lebih greget kok/?

Dan buat Taehyung Ji Eun shipper, gimana menurut kalian soal moment taeun? Suka ga? Hahaha

Oke di tunggu deh ya komentar atau like kalian~

Kamsahamnida reader-nim :*

2 responses to “Soul School Chapter 12

  1. Pingback: Soul School Chapter 13 – FFindo·

  2. Pingback: Soul School Chapter 14 END | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s