Memory 2

“I believe your promise.”

Author : Tricila

Cast : Jessica Jung as Jung Soo Yeon

Sehun EXO as Oh Sehun

Genre : Angst, Friendship, Tragedy

Rated : PG – 13

Length : Chapter [2/?]

Note : Tokoh milik kita semua. Kejadian hanyalah fiktif belaka. Alur cerita sepenuhnya milik saya. Pay attention for typo.

.

Prolog | Chapter 1

.

Chapter 2 I Believe

Dengan ragu Soo Yeon menyetujui permintaan Sehun dengan anggukan kecil. “Aku akan malu setelah mengatakan ini. Jadi, jangan melihatku dengan tatapan anehmu itu. Mengerti?” jelas Sehun. “Baiklah. Cepat katakan hal yang akan membuatmu malu itu. Aku tidak sabar.”

“Apa aku bisa menjadi  temanmu?”

“Apa?”

“Teman rahasia.”

“Apa maksudmu?”

Soo Yeon segera membalikkan badannya karena tak mendengar jawaban dari pertanyaan yang seharusnya dilontarkan oleh Sehun. Namun, kosong. Tak ada seorangpun di belakangnya sekarang. Rasa bingung menyelimuti sorotan kedua mata yang tengah mencari sesosok itu. “Kau dimana, Oh Sehun?”

“Teman rahasia? Dia memintaku untuk menjadi teman rahasianya? Ah, apa-apaan ini.”

***

Annyeong!” sapa Soo Yeon dengan menunjukkan sepatu sebelah kirinya yang dibawanya. “Kemana sebelah sepatumu?” tanya Yeo Jin. “Sebenarnya aku juga tidak tau.  Seingatku aku sedang masuk ke ruang musik dan melepas sepatuku di depan pintu. Tapi saat aku keluar hanya ada ini. Oh ayolah. Kenapa harus dipikir panjang? Apa kalian tidak berpikir kalau ini seperti cinderella? Cinderella kehilangan sebelah sepatunya saat pesta, dan aku kehilangan sebelah sepatu saat sekolah. Setelah itu, ada pangeran yang menolong cinderella, ah manisnya,” ujar Soo Yeon dengan senyuman khasnya.

Kakinya yang putih itu berusaha ia sembunyikan di bawah kursinya. “Kau kedinginan?” tanya So Hyun. “Um. Sedikit. Cuacanya lebih sejuk dibanding biasanya,” jawab Soo Yeon asal. “Yah, kurasa aku akan ujian dengan kaki kedinginan,” lanjutnya mulai menggosok punggung kakinya agar tetap hangat. “Tidak apa? Mau kupinjami sandalku?”

“Aku tak apa.”

Tak lama kemudian pengawas ujian datang dan membagikan soal ujian dengan muka garangnya itu. “Aku pasti kuat.

Selama berjam-jam ia berjalan di atas lantai tanpa alas kaki. AC yang dibiarkan menyala dalam ruang ujian membuat lantai berkeramik putih itu semakin dingin daripada biasanya. “Uh, dinginnya,” gumam Soo Yeon seraya berusaha menghangatkan kakinya.

Bel pulang sekolah telah berbunyi, tidak perlu waktu sampai 10 menit, ruang ujian itupun hanya ada dua insan yang masih menyibukkan dirinya dengan peralatan alat tulisnya. “Hei, di mana aku meletakkan pensilku? Kenapa sekarang tidak ada?” gumam Soo Yeon lalu mengeluarkan seisi tasnya ke meja.

TUK!

Suara kecil dari pensil di ruangan sepi itu menarik perhatian Soo Yeon dalam hitungan detik. Tatapan mata itu kembali menatapnya penuh arti. “Cari di sekelilingmu orang yang sepertiku,” cetusnya kemudian melenggang pergi. “Kata-katamu kemarin, apa kau serius?” tanya Soo Yeon sebelum Sehun benar-benar menghilang di balik pintu. “Pikirkan lagi tentang itu, bodoh.”

Masih tanpa alas kaki, gadis bermarga Jung itu menyusuri jalanan aspal panas dengan sesekali melompat karena suhu tinggi dari aspal hitam itu. Dengan tatapan aneh dari orang-orang sekitar yang melihatnya telanjang kaki, membuat Soo Yeon beberapa kali berdecak kesal. Entah mengapa, kali ini halte bus terasa lebih jauh dua kali lipat dari biasanya. “Apa halte busnya pindah sejauh ini? Dasar menyebalkan,” umpatnya.

“Tidak.”

Suara berat itu terdengar begitu saja di telinga Soo Yeon tepat setelah kalimat umpatannya selesai. ‘Seperti ada yang berbicara denganku’. Pria tinggi itu kini berada di samping gadis bertelanjang kaki itu. “Se-Sehun? Kenapa kau di sini?” tanya Soo Yeon terkejut setengah mati ketika menyadari Sehun tengah berbicara padanya. “Karenamu.”

“Apa?”

“Kubilang karenamu, bodoh.”

Langkahnya terhenti. Rasa panas yang menyengat di telapak kakinya tergantikan oleh rasa canggung dan terkejut yang bercampur menjadi satu saat itu juga. Degup jantungnya mulai tak terkendali lagi karena beberapa kata itu. “Karenaku?” ulang Soo Yeon.

Sehun yang sudah berada di depan Soo Yeon beberapa langkah terpaksa berjalan berbalik ke arah Soo Yeon. Sehun meletakkan tasnya pada dadanya kemudian berjongkok membelakangi Soo Yeon. “Naiklah,” katanya singkat. “Apa?”

“Kau ini dungu atau apa? Naik ke punggungku, bodoh.”

“Hei, kupikir aku yang salah dengar. Tapi, kenapa dari tadi kau memanggilku bodoh?”

Sehun berdiri dari menghela napas panjang, “Itu karena kau bodoh. Hei, aku mau menggendongmu, tapi kalau kau tidak mau, terserah. Aku pergi.” Kaki panjang itu mulai berjalan menjauh dari Soo Yeon yang masih berdiri terpaku di tempatnya. “Aku mau!” seru Soo Yeon yang berhasil membuat langkah Sehun terhenti. Dia tersenyum simpul ketika mendengar kata itu. Ya, tersenyum.

Soo Yeon naik ke punggung Sehun dengan hati-hati. “Aku berat?” tanyanya saat Sehun mulai beranjak berdiri dan berjalan pelan. “Iya. Sangat berat,” jawabnya tanpa basa-basi. Soo Yeon memukul bahu orang yang tengah menggendongnya itu. “Hei, Oh Sehun. Permintaanmu tiga hari yang lalu…”

“Kenapa? Kau menolaknya?” tanggap Sehun dengan cepat sebelum Soo Yeon menyelesaikan kalimatnya. “Bukan begitu. Tapi, apa kau yakin?” tanya gadis itu dengan ragu. Sehun menghentikan langkahnya dan menurunkan Soo Yeon di tengah perjalanan. Ia membalikkan badannya sehingga bisa menatap kedua mata berwarna coklat itu, “Kau  menerimanya atau menolaknya?” pertanyaan itu dalam sekejap membuat lawan bicaranya gelagapan.

“Entahlah.”

“Jawab dengan benar, Jung Soo Yeon.”

“Beri aku alasan kenapa aku harus menjadi teman rahasiamu, Oh Sehun.”

Sehun POV

Aneh bukan? Meminta seseorang untuk menjadi temanmu. Seperti yang kulihat biasanya, semua orang hanya langsung berteman tanpa ada permintaan seperti yang baru saja kulakukan. Tapi, walaupun terlihat aneh, aku ingin melakukan itu.

‘Kenapa?’

Kalian bertanya seperti itu, kan? Aku takut kalau-kalau orang yang ingin kuajak berteman tidak mau berteman denganku. Maksudnya? Kalian tahu, aku adalah anak dari sepasang suami-istri yang telah bercerai saat aku berumur 8 tahun. Orang-orang sering menyebut anak dalam keluarga seperti ini dengan kata ‘broken home’. Sebenarnya aku tidak pernah suka dipanggil anak broken home oleh teman-temanku, tentu saja siapa yang suka? Tapi bagaimana? Aku tidak bisa mengelaknya karena memang ini yang terjadi pada keluargaku.

Biasanya orang-orang tidak ingin berteman denganku dengan alasan aku pernah menjadi seorang brutal saat SMP dan kondisi keluarga yang tak memungkinkan untuk mendidikku dengan maksimal. Masuk penjara anak selama 1 bulan membuat predikatku semakin menurun. Ah ya, tentang teman se gengku? Mereka bukan temanku. Mereka hanya kumpulan orang yang senasib denganku. Makanya, kupikir mereka bisa mengisi waktu luangku.

Tapi, saat aku mengenal Soo Yeon lebih, aku hanya merasa jika dia bisa dipercaya. Walaupun awalnya kami benar-benar saling membenci, namun entah kenapa justru kebencian itu yang membuatku yakin jika dia bisa dipercaya. Mungkin karena kupikir dia tidak menyukaiku sebagai laki-laki, atau karena dia hanya memandangku sebagai temannya. Yah, mungkin seperti itu alasannya.

Author POV

Soo Yeon termenung, berpikir ulang akan keputusan yang akan ia berikan pada lelaki yang kini duduk di kursi jalan. Sambil memandang mobil lalu lalang di tengah jalan, dirinya menimbang-nimbang keuntungan dan kerugian pertemanan rahasia yang akan dijalaninya nanti. “Hei, Oh Sehun,” panggil Soo Yeon. “Oh Sehun?” Lagi. Dia menghilang dari tempatnya semula.

“Oh Sehun!” panggil Soo Yeon seraya mencari kesana-kemari dengan kaki yang masih tanpa alas. “Kenapa?” celetuk seseorang dari belakang Soo Yeon. “Hei, Sehun! Dari mana saja kau? Aku mencarimu dengan kaki yang—“

“Aku membelikan sandal untukmu,” jawabnya dengan ekspresi datar. Mulut Soo Yeon yang tadinya mengoceh, terdiam ketika mendengar jawaban Sehun. “Aku lelah kalau harus menggendongmu sampai halte,” lanjut Sehun seraya melemparkan sepasang sandal berwarna pink itu ke arah Soo Yeon. “Lalu, kenapa kau menawariku? Huh?” tanya balik Soo Yeon dengan dagu yang ia naikkan 5 derajat lebih tinggi. “Kupikir kau tidak seberat itu.”

Gadis itu mengerucutkan bibirnya, “Pakai sandal itu dan ayo cepat jalan. Kau akan terlambat pulang dan dicari orang rumah,” kata Sehun kemudian berjalan mendahului Soo Yeon yang tengah berusaha cepat-cepat memakai sandal itu. “Huh? Kau?” tanya Soo Yeon disertai wajah polosnya. “Apanya?” Sehun tidak mengerti perkataan gadis 17 tahun itu. “Kau juga akan terlambat pulang dan dicari orang rumah jika kau mengantarku pulang.”

Dia terkekeh karena perkataan Soo Yeon baru saja. “Tidak ada yang menungguku pulang, Jung Soo Yeon. Mau aku pulang jam berapapun tidak akan ada yang mengoceh seperti orangtua kebanyakan,” jawabnya dengan enteng. “Ayahmu atau Ibumu? Walau mereka sudah berpisah seperti ceritamu tadi, tapi pasti salah satu dari mereka tinggal bersamamu kan?”

“Tidak. Aku hanya tinggal bersama Ahjumma yang memasak dan membersihkan apartement-ku. Itupun dia akan pulang kalau sudah jam 6. Ah ini sudah jam 7, pasti dia sudah pulang,” jelas Sehun santai disertai seulas senyuman yang membuat Soo Yeon merasa kasihan pada dirinya.

“Hei, Oh Sehun,” panggil Jung Soo Yeon yang membuat langkah mereka berhenti. “Aku menerimanya,” lanjutnya tanpa menatap sepasang mata yang tengah mengamatinya itu. “Apanya?” tanya Sehun seakan lupa perihal permintaan yang ia ajukan beberapa hari lalu. “Aku mau menjadi teman rahasiamu.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu justru membuat Soo Yeon semakin bingung. “Apa maksudmu dengan ‘kenapa’?” kata Soo Yeon meminta penjelasan. “Bukan. Kupikir kau menolaknya. Jadi, kenapa?” tanya Sehun dengan menatap dalam mata si lawan bicara. “Karena aku percaya padamu.”

Kesunyian menghampiri kedua insan itu. Melanjutkan setengah perjalanan menuju halte bus terasa lebih lama karena kecanggungan kedua pihak. “Haha, apa-apaan ini. Ah, busnya sudah datang. Naiklah,” kata Sehun memecahkan keheningan dengan alasan melihat bus yang akan dinaiki Soo Yeon datang. Soo Yeon menatap Sehun bingung. “Apa?”

“Bagaimana bisa kau tau ini bus yang akan kunaiki? Apa kau tau rumahku?” tanya Soo Yeon dengan penuh selidik. “Eh? Tidak. Cepat naiklah. Dengan begitu aku bisa lebih cepat pulang,” jawab Sehun mengalihkan pembicaraannya. Soo Yeon mulai melangkah masuk ke bus dengan pikirannya yang masih bingung akan perkataan ‘teman rahasia’nya baru saja.

Bus itu sudah berjalan menjauh dari pandangan Sehun, dan kini berganti sebuah mobil bermerk BMW hitam yang berada tepat di depan Sehun. Seorang pria paruh baya keluar dari dalam mobil dan berjalan menghampiri pria jangkung berwajah tampan itu. “Silahkan masuk, Tuan,” ucapnya seraya membukakan pintu belakang dari mobil itu.

Sehun memasuki mobil itu dengan ekspresi yang tak datar lagi. Ia tersenyum. Tersenyum bahagia karena telah memiliki teman. “Ajussi, bisakah kau mengantarku ke rumah yang kemarin malam kita datangi itu?” tanya Sehun. “Baiklah.”

Terlihat bus yang dinaiki Soo Yeon tepat berada di depan mobil yang tengah dinaiki Sehun. Ketika bus itu berhenti di halte pemberhentian Soo Yeon, Sehun pun ikut serta turun dari mobilnya dan menyuruh ajussi untuk menunggunya di tempat itu sementara dirinya mengikuti teman rahasianya dari belakang.

***

            Dengan senyuman yang masih merekah manis di bibirnya, Soo Yeon melangkah dengan gembira menuju halte bus. Jalan-jalan sepi di malam hari harus ia lewati, termasuk salah satu gang yang selalu membuatnya teringat akan sesuatu. “Ah, blok b? Kalau tidak salah di sini Sehun memintaku,” ujarnya ketika melihat papan bertuliskan ‘Blok B’.

Tiba-tiba suara orang kesakitan berbaur dengan suara orang tertawa terdengar di gendang telinga Soo Yeon. Hal itu langsung membuatnya untuk berhenti tepat di balik mobil dekat gang blok B. Ia memberanikan diri untuk melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi di dalam gang itu.

“Sehun?” kata itu keluar begitu saja ketika melihat paras lelaki yang itu tengah dikeroyok sekumpulan laki-laki yang sebaya dengannya. Pukulan demi pukulan mendarat tepat di perut dan pipi kirinya berulang-ulang. Darah yang keluar dari mulutnya menambah rasa takut yang menggerayangi tubuh mungil Soo Yeon. Takut, tak percaya, dan bingung begitu cepat menyelimuti hatinya.

‘Bagaimana ini? Apa mungkin aku menghentikan mereka sendirian? Kumohon seseorang datanglah,’ batinnya dengan kecemasan yang sudah memuncak sampai ubun-ubun. ‘Sehun, kumohon bertahanlah sebentar lagi. Aku akan coba hubungi Vernon. Tunggulah.’

Dengan tangannya yang bergetar hebat, Soo Yeon menguatkan diri untuk berusaha memencet tombol ponsel menuju kontak Vernon. “Halo? Vernon-ah, cepat ke blok B belakang sekolah. Kumohon bawa teman-temanmu juga. Cepat!” ujar Soo Yeon dengan nada sedikit berbisik ketika telponnya tersambungkan. “Hei, Jung Soo Yeon. Kau pikir kau siapa? Menyuruhku untuk ke belakang sekolah lagi saat aku baru saja membuka pintu rumah? Cih, yang benar saja,” jawab Vernon dengan ketus. Emosinya semakin memuncak dengan jawaban itu.

“Hei, Hansol Vernon!” teriak Soo Yeon dengan nada 2 oktaf lebih tinggi dari sebelumnya dan tak mempedulikan apa yang akan terjadi padanya setelah teriakannya baru saja. “Kau tidak perlu teriak sebegitunya. Aku masih—“

“Kubilang datanglah ke blok B bersama gerombolanmu itu sekarang juga, atau aku sendiri yang akan melawan geng brengsek yang menghajar Sehun sekarang.”

Vernon terbelalak dengan perkataan Soo Yeon. “Apa? Sehun? Hei, mereka pakai seragam warna apa?” tanyanya begitu cepat. “Apa pentingnya? Sekarang cepat datang kemari, Vernon-ah!” kata Soo Yeon tak bisa lagi menahan emosinya. “Jika aku tau sekolah mereka, aku bisa memilih temanku yang lebih tinggi cara bertarungnya. Cepat beritahu aku!”

Soo Yeon langsung mendeskripsikan seragam orang-orang yang tengah memukul Sehun itu. Setelah Vernon menjawab ‘ya’, dirinya berharap Vernon akan datang dalam waktu 2 menit meskipun itu mustahil. “Sehun-ah, kumohon tunggulah sebentar lagi.”

Lima menit kemudian…

Deruman motor menggema begitu saja di jalanan yang sepi itu. Membuat seluruh anggota geng yang menghajar Sehun berhenti seketika. “Siapa itu? Berani-beraninya mengganggu acara kita,” omel seorang yang lebih terlihat seperti ketua dalam geng itu. “Mati kalian,” ledek Sehun disertai tawaan mengejeknya. “Kau bilang apa? Ayo katakan sekali lagi, bodoh!”

Berpuluh-puluh anak SMU Sekang turun dari kendaraannya. Dengan membawa tongkat kayu di tangannya, wajah mereka terlihat sangar untuk siap berkelahi. “Apa yang kalian lakukan, hah?! Kalian menantang kami?” seru Vernon seraya menatap mereka sangar. “Hei, Jung Soo Yeon. Kami sudah datang, jadi cepatlah mendekat ke arah Sehun bersamaan dengan Junhui di belakangmu. Mengerti?” imbuhnya ketika melihat Soo Yeon bersembunyi di balik mobil sedan hitam itu.

“Kau tidak perlu bersembunyi di situ lagi. Ayo,” tutur Junhui menarik lengan Soo Yeon dan membawanya tepat berada di depannya. “Sekarang kau menyuruhku untuk melawan mereka?” gelagap Soo Yeon dengan raut wajah tegang. “Tidak. Berjalanlah dengan santai ke Sehun dan aku akan mengikutimu.”

Dalam sekejap, pertarungan antara SMU Sekang dan SMU Victory berlangsung. Mereka saling menonjok, menyikut, dan menendang satu sama lain. Bahkan, beberapa dari SMU Sekang sempat memukulkan tongkat kayu yang mereka bawa ke punggung siswa SMU Victory.

Junhui yang pada dasarnya telah memiliki kemampuan wushu, dapat mengalahkan siswa SMU Victory yang ingin melukai Soo Yeon dengan mudah. Hanya dengan menendangnya atau melayangkan satu kali tinju, orang-orang itu akan pergi dengan sendirinya dari pandangan mereka berdua.

Geng SMU Victory itu pergi setelah mendapat berpuluh-puluh pukulan dari teman satu geng Vernon. Tanpa banyak bicara, mereka mengatakan bahwa mereka akan kembali dengan lebih banyak orang. “Silahkan, bodoh! Aku akan menunggumu dengan senang hati!” ledek Vernon disertai senyuman khasnya.

“Sehun-ah! Oh Sehun! Hei, kau jangan mempermainkanku seperti ini! Bangunlah, dasar bodoh!” cemas Soo Yeon mendapati Sehun yang pingsan di tengah jalanan yang gelap itu. Dengan berlumur darah di mulutnya, Soo Yeon memangku kepalanya tanpa rasa jijik. “Dasar brengsek, jangan seperti ini, Oh Sehun!” jeritnya mulai histeris.

Setelah selesai mengusir berandalan itu, Vernon berjalan mendekat ke Soo Yeon dan Sehun. “Aku dan teman-temanku akan pulang. Tapi, mau kutelponkan ambulance?” tawarnya masih dengan lagak sombongnya. “Ya. Terima kasih. Cepat telponkan,” jawab Soo Yeon cepat. Tiba-tiba tangan dingin itu menyentuh pergelangan tangannya dengan lembut sehingga membuat Soo Yeon menatap pemilik tangan dingin itu.

“Sehun-ah?”

“Jangan lakukan,” ucapnya terbata-bata. “Apanya?” tanya Soo Yeon tak mengerti. “Ambulance. Jangan lakukan. Aku benci rumah sakit,” Soo Yeon mengangguk mengerti dan melarang Vernon untuk melakukan itu. “Ponsel. Hubungi ajussi untuk menjemputku dengan 2 mobil.” Dengan gesit, Soo Yeon mengambil tas Sehun yang tak jauh darinya—mengambil ponsel Sehun yang diyakininya ada di dalam tas itu. “Halo?  Ajussi, tolong jemput Sehun dengan 2 mobil di blok B belakang sekolah. Sehun? Saya tidak bisa menceritakan ini. Tolong cepat. Baiklah. Terima kasih.”

Keadaannya masih sama sampai ajussi penjemput Sehun itu datang. Tentu saja, beliau terkejut atas keadaan tuan mudanya saat ini. Tersandar pada pundak seorang gadis yang belum dikenalnya dan banyak luka lebam dan darah di tubuhnya. “Oh Sehun! Apa yang terjadi? Ya Tuhan,” tandasnya seraya memapah Sehun menuju mobil. “Jung Soo Yeon, pulanglah memakai mobilku satunya,” perintah Sehun lemah setelah didudukkan pada kursi belakang. “Apa? Pulang? Tidak. Aku akan ikut denganmu,” bantah Soo Yeon cepat tanpa pikir panjang. “Orang rumah akan khawatir kalau kau ikut bersamaku.”

Seakan menganggap ajussi berjas hitam itu adalah orang yang tak bisa dipercaya, Soo Yeon bersikukuh untuk ikut ke rumah ‘teman rahasia’-nya itu. “Kalau kau ingin aku cepat diobati, maka pulanglah lebih cepat,” bujuk Sehun untuk kesekian kalinya. “Vernon dan temannya sudah pulang. Apa hanya kau yang akan menonton sisa darahku yang ada di jalan itu?”

“Pulanglah, Nona. Saya akan menjaga tuan muda Sehun dengan baik, anda tidak perlu khawatir tentang lukanya. Sudah ada dokter pribadi yang sedang dalam perjalanan menuju apartement,” imbuh ajussi mengimbangi perkataan Sehun. Soo Yeon pun goyah, “Baiklah. Aku akan pulang dengan bus.”

“Hei, Jung Soo Yeon!”

“Apa?”

“Dengarkanlah aku sekali ini saja.”

Pada akhirnya Soo Yeon berusaha memenuhi permintaan Sehun. Meskipun hatinya tak sepenuhnya tenang, dia tetap memasuki mobil yang sudah disediakan Sehun untuknya. “Tunggu,” kata Soo Yeon kemudian berjalan mundur beberapa langkah sehingga kini tepat berada di depan Sehun seperti semula. “Apa lagi?”

Deg!

Sehun terkejut bukan main ketika Soo Yeon memeluknya tiba-tiba. Ajussi pun ikut terkejut saat itu juga dan langsung memalingkan wajahnya. “Ibuku pernah bilang, jika kau melihat orang sakit, peluklah orang itu apapun kondisinya,” tutur Soo Yeon setelah mengakhiri pelukkan singkatnya itu. Sehun menatap Soo Yeon dengan tatapan bingung, dan berkata, “Kau masih percaya takhayul seperti itu?”

“Itu bukan takhayul. Ibuku, aku percaya ibuku. Cepat sembuh,” jawab Soo Yeon kemudian benar-benar masuk ke mobil.

***

“Hei! Hei! Hei!” sambar Kang Ji Hyun—si penyebar gosip—dengan napas yang tak beraturan karena dirinya baru saja berlari seperti kesetanan. “Aku punya berita baru tentang Sehun yang berkelahi semalam.”

Deg!

Soo Yeon yang saat itu belajar, awalnya berencana untuk menghiraukan obrolan mereka yang tidak penting itu langsung berubah haluan ketika nama ‘Sehun’ keluar dari bibir Kang Ji Hyun. Konsentrasinya terhadap buku matematika lenyap seketika. “Bagaimana dia bisa tahu Sehun berkelahi semalam?”

Segera hampir seisi kelas mengerubungi tempat duduk Ji Hyun saat itu juga. Rasa penasaran mereka tidak bisa dibendung lagi apabila sudah menyangkut siswa bermarga Oh itu. Si pembuat onar, si kurang ajar, dan masih banyak sebutan ‘si’ yang menunjukkan image jelek bagi Sehun. Kerumunan orang di belakang Soo Yeon itu tentu saja semakin mengganggu konsentrasinya ketika berusaha mengendalikan dirinya sendiri.

Soo Yeon meletakkan pulpennya dan menghembuskan napas panjang kemudian menyandarkan punggungnya pada bangkunya. Dia menggigit bibir bawahnya seolah mengatakan ‘Baiklah, aku menyerah. Akan kudengarkan gosip kalian’.

“Sehun berkelahi? Dasar berandal itu.”

“Benar. Sehun berkelahi dengan anak geng SMU Victory. Parah sekali, dia benar-benar cari mati. Kupikir Sehun tidak akan berangkat ke sekolah hari ini. Mungkin dia sudah masuk rumah sakit,” tutur So Hyun. Wajah Soo Yeon merespon perkataan So Hyun dengan menaikkan sebelah alisnya, ‘Sehun akan berangkat hari ini. Mau taruhan?’ batinnya. “Jadi apa berita barunya?” tanya Baekhyun sudah tak sabar lagi.

“Ada seorang gadis yang memanggil gengnya Vernon untuk menyelamatkan Sehun.”

“APA?!” pekik mereka hampir bersamaan. “Gadis itu berani memanggil gengnya Vernon? Sudah kuduga. Gadis ini tidak takut dengan geng SMU Victory dan sekarang dia berani memanggil gengnya Vernon? Astaga. Ternyata aku masih bisa percaya jika dewa pelindung itu ada.”

Matanya sedikit terbelalak akan gosip, tidak, berita yang baru saja ia dengar baru saja. Ya, temannya sedang membicarakan gadis misterius yang jelas-jelas sekarang berada di depannya. “Dan yang lebih parahnya lagi, ada yang bilang kalau gadis itu sangat mirip dengan Soo Yeon.”

“APA?!!” pekik mereka lebih keras dari sebelumnya dan membuat Soo Yeon tersentak terkejut. “Soo Yeon? Soo Yeon siapa?”

“Soo Yeon kita. Jung Soo Yeon.”

Saat itu juga, untuk menelan ludahnya saja sungguh sulit. Apalagi menjawab pertanyaan teman-temannya yang langsung bergantian menyerbunya dengan berpuluh-puluh pertanyaan. Dia hanya mengendalikan napasnya yang tak beraturan itu dan berusaha untuk tetap tenang seolah-olah bukan dirinya yang dimaksud.

“Jung Soo Yeon, ayo. Kau bilang ingin makan jjajjangmyun kan?” potong Ji Rae berusaha menyelamatkan Soo Yeon dari kerumunan orang kepo itu. Soo Yeon mendongak dan mengangguk cepat tanpa pikir panjang. Ji Rae menarik tangan Soo Yeon dan berjalan keluar kelas. “Ah, apa-apaan Ji Rae ini.”

“Dia benar-benar tidak tahu kondisi. Kita ingin tahu kebenarannya!”

Begitulah beberapa protes dari teman sekelasnya ketika dua sahabat itu kabur begitu saja. “Terima kasih,” Soo Yeon bernapas lega lalu meminum cola yang diberikan Ji Rae. Setelah meneguk minumannya, Ji Rae meminta traktir jjajjangmyun kepada Soo Yeon sebagai imbalannya. “Ah, sudah kutebak. Kau selalu seperti ini.”

“Halo? Ajussi, 2 jjajjangmyun ke SMU Sekang… 20 menit? … Baiklah,” kata Soo Yeon selesai menelpon restoran jjajjangmyun instant. “Puas?” tandasnya kemudian meminum cola-nya lagi. Temannya itu hanya terkekeh puas.

25 menit kemudian…

“Baiklah. Kembaliannya untuk ajussi saja. Terima kasih,” kata Soo Yeon seraya menerima pesanan jjajjangmyun-nya itu. Dengan ekspresi datar, tangannya secara otomatis memberikan salah satu jjajjangmyun itu kepada Ji Rae. Tentu saja, si penerima merasa bahagia.

Namun, tak sesuai perkiraannya, jjajjangmyun yang baru ia buka di bagian pinggirnya itu tiba-tiba dicuri oleh Sehun. “Oh, terlihat enak,” katanya kemudian membuka seluruh tutup jjajjangmyun itu tanpa rasa bersalah—bahkan dia tak melihat raut wajah Ji Rae yang sangat kesal padanya.

Tanpa banyak bicara, Soo Yeon memberikan jjajjangmyun-nya kepada Ji Rae dan beranjak pergi meninggalkan dua manusia yang tergila-gila dengan jjajjangmyun itu. Sehun dan Ji Rae menatap bingung Soo Yeon yang berjalan ke arah lobby kemudian saling bertatap seolah tidak menemukan jawabannya.

“Dia kenapa?” tanya Sehun setelah memakan sesuap jjajjangmyun-nya. Ji Rae mengangkat pundaknya ragu. “Tadi, anak-anak membicarakanmu yang diselamatkan Soo Yeon dan teman-teman se-gengnya Vernon. Lalu aku melihatnya dan langsung menariknya keluar. Dan sebagai imbalannya aku meminta makanan yang sedang kau makan itu. Kalau dia ngambek seperti itu, aku tidak tahu.”

“Tunggu. Kau tahu hubunganku dengan Soo Yeon?”

“Tentu saja. Apa yang tidak kuketahui antara kalian?”

Sehun hanya terdiam, memikirkan alasan Soo Yeon yang tidak mau duduk bersamanya. Marah? Tentang apa Soo Yeon harus marah? Toh dia sudah memenuhi janjinya untuk berangkat ke sekolah hari itu. Sedih? Memang Sehun melakukan apa padanya?

***

            Tertera dengan jelas tulisan ‘OSH’ pada layar ponselnya. Dengan malas, Soo Yeon membuka sms yang dikirim Sehun untuknya. “Pasti pertanyaan,” tebak Soo Yeon tak bersemangat tetapi seolah bisa membaca pesan untuknya itu tanpa membukanya.

From : OSH

Time : 21.44

‘Kau marah?’

Soo Yeon mendecih setelah membaca pesan itu. “Ah, apa-apaan dia ini. Marah? Kenapa aku harus?”

From : JSY

Time : 21.47

‘Tidak.’

Sehun kesal dengan jawaban singkat tetapi butuh waktu lama untuk mengetiknya, seperti yang dilakukan Soo Yeon baru saja. Kekesalannya itu berubah menjadi semakin cepat dia mengetik pesan yang akan dia kirim.

From : OSH

Time : 21.47

‘Kalau tidak marah, kenapa pergi saat aku duduk?’

Soo Yeon tak habis pikir dengan pola pikir anak manusia yang satu ini. Begitu sensitive saat dia mengabaikannya di sekolah. Padahal dia sendiri yang meminta Soo Yeon untuk menjadi ‘teman rahasia’ untuknya.

From : JSY

Time : 21.49

‘Kau bilang kita ini teman rahasia. Jadi aku rahasiakan betul-betul.’

Sehun berusaha mengelak dengan apapun yang ia lihat tadi siang di dekat lapangan bola sekolah.

From : OSH

Time : 21.50

‘Tapi hanya ada Park Ji Rae di sana, dan Ji Rae sudah tahu apa yang terjadi.’

From : JSY

Time : 21.51

‘Kau tidak sadar banyak mata di sana? Bisa saja anak-anak tukang gosip itu lewat dan mengatakan yang tidak-tidak.’

From : OSH

Time : 21.52

‘Tetap saja kau harus duduk bersamaku jika aku mendekatimu!’

Kelewat emosi, Soo Yeon berusaha mengendalikan diri agar tidak perlu membuang ponselnya yang berharga itu ke kamar mandi.

From : JSY

Time : 21.54

‘Ah, tidak tahu! Aku mau tidur. Berhenti mengirimiku pesan. Dasar berisik!’

From : OSH

Time : 21.54

‘Kau bisa membuat mode silent di ponselmu.’

From : OSH

Time : 21.58

‘Kau sudah tidur?’

From : OSH

Time : 22.00

‘Benar-benar sudah tidur? Atau kau hanya tidak mau membalas pesanku?’

“Ah, gila! Ada apa dengan orang ini?! Dan ada apa denganku bisa-bisanya mau menjadi temannya?! Kalau begini yang gila siapa? Aku atau Sehun? Dasar gila!!” omel Soo Yeon di tengah malam yang kemudian dijawab oleh anjing tetangga sebelah. “Apa? Anjing pun bisa mengerti aku. Kenapa manusia ini tidak? Bodoh! Aku mau tidur, bodoh!”

***

            Keesokan harinya, Soo Yeon masih berharap agar Vernon tidak menjemputnya lagi seperti beberapa hari lalu. Sambil merapikan dasinya, dia menggigit roti tawar yang telah disediakan ahjumma untuknya. Tiba-tiba, pandangannya bertemu dengan satu pigura yang diletakkan di meja riasnya. Terlihat keluarga yang bahagia di foto itu. Ayah, ibunya, kakaknya, adiknya termasuk dirinya sendiri yang tersenyum lebar di foto yang berlatarkan sungai Han.

“Nona, tuan ingin menemui anda sebentar,” tutur ahjumma dari balik pintu kamar Soo Yeon dan langsung membuatnya sadar. “Oh? Baiklah,” jawabnya sekenanya. Soo Yeon pun menyambar tasnya dan keluar dari kamarnya, mendapati ayahnya yang sudah beberapa hari ini tak dilihatnya di rumah sedang duduk di sofa sambil meminum kopinya.

Ayahnya pun menoleh ke belakang karena merasa diperhatikan oleh orang lain. “Soo Yeon-a? Kenapa hanya berdiri di sana? Duduklah,” ucap ayahnya disertai senyuman khasnya. Soo Yeon menuruti perintah ayahnya, kemudian hanya menatapnya tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. “Sudah berapa lama kita tidak jumpa?” tanyanya basa-basi.

Direktur Pemasaran dari Perusahaan H merupakan jabatan yang membuat ayah Soo Yeon—Jung Ha Kyung—kurang memperhatikan anaknya beberapa hari ini. “Lima hari,” jawab Soo Yeon menundukkan kepalanya. Dengan ragu, Soo Yeon melemparkan sepatah kata, “Ayah, aku merindukan ibu.”

Reaksi ayahnya itu di luar dugaan Soo Yeon, beliau hanya tersenyum kecil mendengar perkataan anaknya, bukan marah-marah seperti 2 tahun lalu saat Soo Yeon mengatakan hal yang sama. “Kau rindu ibumu?” lanjutnya setelah meneguk sedikit kopinya. Soo Yeon mengangguk pelan, “Iya. Sebenarnya, ibu ada di mana selama ini?”

“Ayah juga tidak tahu. Ayah sudah mencarinya 4 tahun lamanya, tapi orang suruhan ayah belum ada yang menemukannya,” jawab ayah Soo Yeon sambil melipat koran paginya. “Apa kau masih tetap merahasiakan jika keluargamu utuh?” lanjutnya menatap Soo Yeon serius. Ia mengangguk pelan, matanya membendung air mata karena merasa tersiksa jika harus merahasiakan status keluarganya yang dipandang harmonis oleh siapapun walaupun sebenarnya kedua orangtuanya sudah berpisah semenjak dia berumur 10 tahun.

“Ayah, aku harus berangkat ke sekolah,” ucap Soo Yeon lalu pergi setelah memberi hormat kepada sang ayah. “Kau akan diantar ajussi hari ini,” tutur ayah Soo Yeon sebelum Soo Yeon sampai ke depan pintu. “Baiklah.”

***

Memang sudah bisa ditebak, saat istirahat kedua, Sehun mengirim sms untuk Soo Yeon agar menemuinya di atap sekolah. Terpaksa, Soo Yeon harus membatalkan traktirannya untuk Ji Rae pada saat itu. Walau pertanyaan Sehun memang sudah bisa ditebak, Soo Yeon tetap menemui teman rahasianya itu di atap sekolah.

“Ada apa?” tanya Soo Yeon ketika merasa bahwa Sehun sudah berada di belakangnya. Ia membalikkan badannya dan mendapati Sehun dengan beberapa luka baru di wajahnya dan lengan kanannya. “Apa ini? Kau dipukuli lagi?” tanya Soo Yeon langsung mendudukkan Sehun di bangku panjang yang ada di dekatnya. Sehun mengangguk dan memberikan beberapa plester luka kepada Soo Yeon. “Pasangkan itu untukku.”

Soo Yeon mendengus, “Kekanak-kanakkan sekali. Kau memintaku ke sini hanya untuk memasangkan plester ini untukmu? Cih,” Sehun menatapnya sinis. “Kau itu yang kekanak-kanakkan. Kau ingat siapa yang memohon berkali-kali untuk ikut ke rumahku agar bisa yakin kalau aku diobati dengan benar? Cih,” balas Sehun tak kalah sengit sehingga membuat Soo Yeon mengerucutkan bibirnya.

Sehun menatap lekat Soo Yeon yang tak jauh dari wajahnya. “Omong-omong, kapan kau dipukuli lagi? Dipukuli siapa?” tanya Soo Yeon sambil merekatkan plester di pipi kiri Sehun. Sadar akan pertanyaan itu, Sehun buru-buru menjawabnya. “Kemarin malam. Dipukuli Vernon.”

“Apa? Vernon? Kenapa?”

“Kau terlihat bersemangat kalau membicarakan satu orang itu.”

“Lupakan plester itu kalau tidak mau memberitahuku.”

“Karena membuatmu khawatir. Puas?” ungkap Sehun akhirnya sebelum Soo Yeon beranjak dari bangku itu. Soo Yeon tertegun dengan alasan Sehun dipukuli oleh Vernon. “Apa? Khawatir?” ulang Soo Yeon tak percaya. Sehun memberikan plester lagi ke tangan Soo Yeon, “Pasangkan lagi.”

“Dia terlihat menyukaimu. Ingat. Kau hanya boleh menjadi teman rahasiaku,” perintah Sehun tegas. “Iya. Aku tahu. Jangan banyak bicara,” omel Soo Yeon kemudian sedikit menekan tepat di luka dekat bibir Sehun. “Ah! Sakit!” jerit Sehun kesakitan justru disambut tawaan Soo Yeon yang cukup keras.

“Kau mau ke rumahku?” tawar Sehun tiba-tiba, membuat tawaan Soo Yeon mereda. “Apa? Kenapa tiba-tiba?” tanya Soo Yeon sambil menyeka sedikit air matanya yang keluar karena ia tertawa cukup keras. “Ayolah. Aku ingin kau mengerjakan tugas bahasa inggrisku.”

“Cih. Baiklah.”

***

            Sesampainya di depan gedung apartemen itu, mulut Soo Yeon menganga seolah tak percaya dengan tempat tinggal Sehun. Sehun yang sudah beberapa langkah di depan menyadari bahwa temannya itu tertinggal di belakang dan berbalik. “Kau tidak masuk?” tanyanya kemudian terkikik geli ketika melihat mulut Soo Yeon setengah terbuka. Soo Yeon menyadarkan diri dan berjalan menjajarkan langkah kakinya dengan Sehun dan mulai memasuki gedung itu.

“Kau benar-benar tinggal di sini? Di Galleria Foret?” tanya Soo Yeon meyakinkan diri ketika Sehun memencet tombol lift. “Iya. Kenapa? Rumahku ada di lantai 12,” jawab Sehun kemudian memasuki lift yang sudah terbuka dan diikuti oleh Soo Yeon. “Bukan. Maksudku, ini kan apartemen yang dihuni aktor Kim Soo Hyun itu. Dan harganya selangit.”

“Aku pernah satu lift dengannya. Ayahku tidak memusingkan harga kalau sudah berurusan dengan ibuku,” kata Sehun santai sambil menatap tulisan berwarna merah bergerak di atas pintu lift yang menunjukkan di lantai berapa mereka sekarang. “Jadi ibumu  yang memilihkannya?”

Sehun mengangguk. “Tunggu,” ucap Soo Yeon ketika menyadari sesuatu yang aneh dari percakapannya dengan Sehun baru saja. “Ibumu? Bukannya orangtuamu sudah…”

“Ibu tiri,” sahut Sehun mengerti kalimat selanjutnya yang akan diucapkan gadis 17 tahun yang ada di sebelahnya ini. Lift berdenting, menandakan mereka telah sampai di lantai 12, tempat yang dituju. “Kau punya ibu tiri? Sejak kapan?” tanya Soo Yeon ingin tahu sambil tetap mengekor Sehun.

“Sejak 5 tahun yang lalu,” jawab Sehun santai sambil memasukkan kode apartemennya. Ketika masuk apartemen, interior mewah begitu menyeruak ke mata Soo Yeon. Sofa kulit berwarna coklat muda terlihat menghadap TV berukuran 42 inchi yang berjarak 10 meter. Wallpaper bermotif daun-daunan berwarna hitam juga menghiasi tembok bercat coklat muda. Kerapian tata letak barang-barang dan keindahan citylight yang terlihat dari pintu yang terbuat dari kaca untuk menuju ke balkon. Furniture dan interior yang keren, batin Soo Yeon kagum.

Keduanya melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah yang sudah disediakan. Tak berapa lama kemudian, tampak ahjumma keluar dari dapur menghampiri Sehun dan Soo Yeon. “Nyonya datang kemari.”

Setelah mendengar ucapan ahjumma itu, wajah Sehun berubah menjadi muram lalu berjalan mendahului menuju ruang tengah. Soo Yeon yang bingung dengan sikap Sehun berusaha semampunya menyapa ahjumma dan mengenalkan dirinya kemudian menyusulnya.

Saat Soo Yeon tepat berada di belakang Sehun, suasana di ruang tengah itu menegangkan, membuat Soo Yeon tak berani membuka mulutnya untuk sekedar menyapa ibu tiri Sehun. “Untuk apa kau kemari?” tanya Sehun dingin—lebih dingin saat pertama kali ribut dengannya. “Sehun-ah, jangan begitu. Ibumu ini kemari—“

“Jangan sebut dirimu sebagai ibuku. Jangan berbicara seolah-olah kau benar-benar menyayangiku.”

Soo Yeon tercengang mendengar suara itu. Sepertinya ia mengenalnya. Bukan, dulu ia sering mendengarnya. Mirip suara ibu. Tapi tidak mungkin, pikir Soo Yeon. Dengan keberanian yang minim, gadis yang bersembunyi di belakang punggung Sehun itu keluar dan terpaku ketika melihat sosok wanita berumur 40 tahunan dengan dandanan menor dan glamour di sana-sini. Cardigan merah selutut dan tanktop hitam disertai rok yang senada. Tas bermerk mahal tergantung di tangannya. Dan Soo Yeon benar. Dia pernah mendengar suaranya. Dia sering mendengarnya suaranya. Tetapi itu dulu.

Ibu?

-To Be Continuued-

AnyeonghaSehun/? Kembali lagi dengan saya author yang massa otaknya kurang 1 ons di fanfiction Memory :v whatever, makasih udah meluangkan waktunya buat membaca ff yang setengah amburadul ini. Kritik, saran, dan komentar sangat diharapkan🙂

 

 

 

 

 

8 responses to “

  1. demi apappun gue suuka ff ini,berasa nonton drama korea wkwkwkwk
    ditunggu lanjutannya selama apapun itu tpi jangan kelamaan ya😀

    btw gue readerrr baru ni

    • Wehehe.. masa sih kayak drama korea? Alhamdulillah deh:v tenang aja masalah kelanjutannya, gak sampe 1 bulan kok:v

      Oo readers baru? Semoga betah sama ff di sini eaps:D

  2. Gak tau yaa itu ibunya Soo Yeon apa bukan😄😄Tunggu aja kelanjutannya, heheh… gak lama kok😁
    Makasih ya udah ngikutin ff ini:D

  3. Pingback: Memory – Chapter 3 – FFindo·

  4. Sumpah suka banget ama ni ff…penasaran sehun itu suka ya sama jessica??
    Keep writing

  5. Pingback: FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s