Please, Hold Me Tight Chapter 2

poster ff alle

By Sparkdey

Please, Hold Me Tight Chapter 2

Jeon Jungkook BTS || Han Hara (OC) || Park Jimin BTS

PG – 15

AU || Fluff || Romance || Friendship

Chapter 1 ||

Disclaimer : FF ini pure ide author dengan beberapa bantuan dari teman – teman. Jungkook dan Jimin adalah milik orang tua mereka, Big Hit Entertainment, dan ARMYs. Don’t be plagiator!! Please respect~

Note : FF ini merupakan requestan dari teman ARMY, jadi tolong dibaca dan berikan apresiasi berupa komentar atau like nya ya hehe, kamsahamnida^^

 

Cerita sebelumnya…

“Tidak usah, Jungkook-ah. Aku bisa” katanya.

“Ani. Kau tidak terlihat baik – baik saja! Cepat hentikan mobil ini sekarang dan biarkan aku menyetir” aku memaksa Jin hyung.

“Arraseo arraseo” jawabnya lalu menghentikan mobil ini dan berganti posisi.

“Kita akan kemana?” kataku yang kini sudah di bangku kemudi.

“Busan” jawab Jin hyung.

“Bu… busaaann?” kataku kaget lalu menghentikan mobilnya.

“Apa kau gila hyung?! Itu jauh sekali!” teriakku.

“Kau harus ikut dan membantuku kali ini, Jungkook-ah” kata Jin hyung dengan tatapan seriusnya.

“Baiklah hyung” jawabku.

-Author POV-

Kini Jungkook dan Jin sudah berada di Busan. Bahkan sampai sekarang pun, Jin tidak memberi tahu Jungkook apa alasan mereka datang ke Busan. Jungkook berjalan mengekori Jin di belakangnya. Mereka berhenti di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi. Mereka masuk ke dalam gedung itu dan menaiki lift. Jin menekan tombol 15.

TING…

Pintu lift terbuka dan mereka keluar dari lift. Jungkook terkejut dengan pandangannya kali ini. Dia menoleh ke arah Jin lalu menggeleng pelan.

“Hyung…” panggil Jungkook.

“Untuk apa kau membawaku kemari?” Tanya Jungkook.

“Untuk menenangkanku. Aku butuh bantuanmu” Jin lalu berjalan menuju ke dalam sebuah hall gedung ini.

Ya, mereka sedang ada di hall yang sedang disewa untuk sebuah acara pernikahan. Lebih tepatnya pernikahan dari mantan pacar Jin. Mantan pacar Jin mengirimkan sebuah undangan untuknya, undangan pernikahan. Untuk membuktikan bahwa Jin memang pria gentle, dia pun menyanggupinya untuk datang. Namun dengan membawa Jungkook bersamanya.

Jin berharap bahwa Jungkook mampu menenangkannya jika Jin sedang berada di ambang emosi melihat mantan pacarnya sudah mendapatkan pendamping baru. Jin melangkah ke sebuah ruangan yang merupakan ruangan untuk pengantin wanita.

“Hyung…” Jungkook menghentikan langkah Jin untuk masuk ke dalam ruangan itu.

“Is that okay?” Tanya Jungkook.

“I’m Okay” jawab Jin.

Jin memutar kenop pintu itu dan berjalan masuk dengan Jungkook yang mengikuti di belakangnya. Begitu masuk, seorang wanita cantik mengenakan gaun pengantinnya yang berwarna biru muda itu menoleh ke arah kami.

“Jin oppa…” lirihnya.

“Ya, ini aku” jawab Jin.

“Kau sudah hidup bahagia sekarang. Aku turut berbahagia untukmu. Kau jangan lupa makan dan bahagia tentunya” kata Jin.

“Ne… ne oppa” jawab wanita itu.

“Hyung… kajja” ajak Jungkook.

Jungkook dan Jin keluar dari ruangan itu. Jin berdiri mematung di depan pintu ruangan itu. Seperti berfikir apa yang baru saja dilakukannya. Jin menoleh ke arah Jungkook.

“Eottoke?” Tanya Jin.

“Mwo?” Jungkook merasa heran.

“Bagaimana ekspresiku… tadi?” Tanya Jin lagi.

“Kau cukup tegang hyung” jawab Jungkook.

“Apa aku terlihat keren?” Tanya Jin sambil memegang bahu Jungkook.

“Ne? ah kau cukup keren tadi” jawab Jungkook.

“Aktingku keren eoh?” Tanya Jin.

“Mwo? Acting? Ah ne hyung, keren sekali actingmu!” seru Jungkook sambil menggarukkan tengkuk kepalanya.

Kini Jungkook dan Jin sedang mengambil makan malam mereka di acara pernikahan itu. Jin banyak sekali mengambil makanan. Dan Jungkook hanya bisa melihatnya saja. Kali ini Jungkook benar – benar tidak tahu harus apa.

Setelah makan mereka kembali masuk ke mobil dan pulang menuju Seoul. Jin kini tidak sanggup menyetir, pada akhirnya Jungkook lah yang menggantikannya menyetir. Melelahkan memang, namun tidak ada pilihan selain itu.

Perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh dan memakan waktu yang lama. Jungkook sudah sampai di rumahnya dan membantu Jin turun dari mobilnya. Jungkook sudah memutuskan untuk membawa Jin ke rumahnya karena saat ini sudah sangat larut.

 

-Jimin POV-

Aku memasuki sebuah toko. Aku ingin membelikan suatu barang untuk Hara dan juga Sera untuk menyambut kepulangan mereka ke Korea. Aku jadi semakin tidak sabar bahwa besok adalah hari kepulangan mereka ke sini. Aku mencari – cari barang yang sekiranya cocok untuk Hara dan Sera.

Lalu aku terpaku pada suatu barang yang menuruku cocok untuk Hara. Aku berjalan menuju barang itu dan aku membelinya untuk Hara. Setelah itu aku masuk ke toko yang lain dan mencari barang untuk Sera. Aku menemukan sebuah barang yang unik. Dapat aku pastikan barang itu pasti Sera akan menyukainya. Sera sangat suka dengan hal – hal yang unik.

Setelah membeli 2 barang yang aku butuhkan, aku pergi ke sebuah kedai es krim dimana kami bertiga sering berkumpul di sini. Ya di kedai ini memang kedai favorit kami bertiga. Aku memesan es krim rasa vanilla dan mint lalu aku memakannya di sini.

Tak habis – habisnya senyumku ini terus terukir di wajahku ini mengingat bahwa besok kedua sahabatku itu akan pulang dan kami bertiga berkumpul kembali. Aku menatap kedua barang di depanku dan tersenyum lagi.

“Hara-ya, Sera-ya, besok kita bertemu ne? Aku tidak sabar bertemu dengan kalian” kataku sambil tersenyum kecil.

Aku menghabiskan es krimku dan segera pergi dari kedai es krim ini. Aku mengemudikan mobilku menuju rumahku. Aku hari ini membolos sekolah, namun siang ini aku harus kembali ke sekolah untuk mengambil beberapa berkas yang ketinggalan di ruangan.

Aku sudah sampai di rumahku dan berganti pakaian menjadi seragam sekolahku. Aku menyisir rambutku dan langsung mengambil tas lalu berangkat menuju sekolah.

“Ah sial… aku lupa menaruh barang untuk Hara dan Sera di rumah” decakku.

Aku melanjutkan perjalananku menuju sekolah. 15 menit perjalanan kini aku sudah sampai di sekolah. Aku memarkirkan mobilku lalu masuk ke dalam ruang organisasiku.

“Jim? Mengapa kau tidak masuk ke kelas?” Tanya Hana.

“Ah eoh umh… aku ada urusan penting tadi” jawabku.

“Kau juga mengapa kau di sini?” tanyaku.

“Aku sedang mengambil beberapa desain yang ketinggalan kemarin” jawab Hana.

“Ahh begitu. Yasudah aku masuk ke ruanganku dulu ne” kataku.

“Jim” teriak Hana lalu melemparkan sebuah kunci padaku.

“Aku ke kelas dulu” Hana lalu pergi.

Kini aku sendirian berada di ruangan ini. Aku menyalakan laptop dan mengeluarkan beberapa berkas yang sempat aku bawa pulang dan mempelajarinya. Aku kembali melihat – lihat isi berkas itu. Terdapat beberapa materi yang tidak dapat aku pahami.

‘I need you, Sera’ batinku.

Aku mengacak rambutku kasar karena aku benar – benar tidak mengerti tentang materi ini sedangkan besok adalah rapat yang akan membahas materi ini. Apa yang harus aku lakukan? Jika ada Sera di sini pasti aku dapat menyelesaikannya.

Aku keluar dari ruanganku untuk mengambil minum. Lalu pintu ruangan terbuka dan masuklah seseorang yang tidak asing bagiku. Dia adalah salah satu anggota organisasi ini yang bekerja di bidang keuangan. Dia adalah Min Yoongi.

Min Yoongi dengan gayanya yang sedikit berantakan itu, baju di keluarkan, memakai sepatu  tidak benar, rambut yang di cat warna mint dan sedikit sensitive. Dia salah satu partner Sera, kata Sera dia adalah orang yang sangat teliti dan juga dapat dipercaya. Namun aku belum pernah sama sekali berbicara dengannya.

“Min… Yoongi?” kataku pelan.

“Kau memanggilku?” tanyanya.

“Ah tidak…” jawabku.

‘Apa aku perlu meminta bantuan dia untuk membantuku?’ batinku.

Aku menggelengkan kepalaku lalu meneguk air yang ada di gelasku. Aku kembali masuk ke dalam ruanganku dan kembali memahami materi – materi itu. Aku mencari tentang materi itu di internet dan menemukannya. Setidaknya aku akan sedikit lebih paham sekarang ini.

Ada panggilan masuk dari Skype… itu adalah video call. Siapa yang menelfonku di siang hari seperti ini? Aku langsung membuka Skype ku dan melihat yang menelfonku adalah Hara. Aku sangat senang Hara menelfonku saat ini.

“Annyeong Jim!” sapa di sebrang sana.

“Se… Sera?” tanyaku.

“Wae? Kau terlihat kecewa jika aku bukan Hara” katanya sambil melipatkan tangannya di depan dada.

“Bukan begitu maksudku…. Aish” kataku.

“Ada apa memanggilku? Di siang hari seperti ini?” tanyaku.

“Ada kabar gembira Jim!” sahut seseorang di samping Sera.

“Hara? Apa kabar gembira itu?” tanyaku.

“Kami akan pulang ke Korea hari ini. Kemungkinan besar kami akan sampai nanti malam” jawab Sera.

“MWOOO?!!!” teriakku kaget.

“Waeyo? Kau tidak suka kami pulang hari ini?” Tanya Hara.

“Ani. Aku hanya terkejut…” jawabku.

“Baiklah. Kami harus bersiap – siap ke bandara dulu ne, Annyeong Jim” kata Sera lalu memutuskan video call kami.

‘Sungguh di luar perkiraanku’ batinku.

 

-Hara POV-

Kepulanganku ke Korea dipercepat menjadi hari ini. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku senang. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Jim. Sekarang aku sudah berada di mobil yang akan mengantarkan kami ke bandara.

Kemungkinan besar nanti malam aku sudah sampai di Korea dan aku harap Jim menyambutku di bandara. Sungguh hanya bisa berharap. Entah mengapa aku tidak ingin langsung pulang ke rumah, melainkan ingin bermain dengan Jim. Oh God, aku ingin cepat sampai di Korea saat ini juga.

Aku baru ingat… Jim begitu terkejut mendengar kepulangan kami ke Korea adalah hari ini. Seharusnya dia senang bukan jika kami pulang hari ini? Namun mengapa dia terkejut? Seperti ada hal yang dia sembunyikan dariku.

“Jangan melamun… sebentar lagi kau akan bertemu dengannya. Tenang saja” Sera menyenggol lenganku.

“Aku tidak memikirkannya” jawabku.

“Aku tidak bilang kau sedang memikirkannya” kata Sera.

“Ah jadi daritadi kau melamun karena sedang memikirkan Jimin huh?” Tanya seseorang dari belakangku, Min Gi.

“YA! Min Gi-ya, aku tidak memikirkan Jimin” bantahku.

“Ah jadi rumor yang beredar itu benar eoh?” Tanya Min Gi pada Sera.

“Rumor? Rumor apa?” tanyaku pada Sera.

“Astaga… kau ini kemana saja eoh? Seluruh anak sekolah sudah tahu rumor yang beredar itu!” Sera menepuk jidatnya pelan.

“Aku? Aku selalu aktif di sekolah” kataku lalu mengalihkan pandanganku ke jendela.

“Rumor itu adalah….” Kata Sera ingin membuatku penasaran.

“Ne?” sahutku.

“Kau berpacaran dengan Jimin” sahut Min Gi.

“IGE MWOYAAA?!” teriakku kaget.

“Aku tidak berpacaran dengan Jim!” bantahku.

Aku heran mengapa banyak rumor yang beredar di sekolah bahwa aku adalah pacar dari seorang Park Jimin? Apa mereka gila? Kami berdua adalah sahabat, bahkan Sera pun ada di tengah – tengah kami. Ya walaupun aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Jimin.

Kini kami sudah sampai di bandara, aku mengambil koperku dan menariknya memasuki bandara untuk melakukan cek in. Aku dan teman – temanku kini menunggu pesawat yang akan membawa kami pulang ke Korea. Cukup lama menunggunya. Aku mencharge ponselku di sana dan duduk di kedai kopi.

“Sera-ya, apa menurutmu aku dan Jim terlalu dekat?” tanyaku.

“Kalian berdua sudah seperti pasangan suami istri menurutku” jawab Sera.

“YA! Aku sedang serius” kataku lalu meminum kopi yang ada di depanku.

“Menurutku, ya” jawab Sera.

“Apa aku harus menjauhi Jim? Agar rumor itu menghilang” tanyaku lagi.

“Untuk apa? Apa kau yakin kau bisa hidup tanpa Jim? Dia yang selalu ada untukmu, Hara-ya” jelasnya.

“Molla. Aku merasa tidak enak pada Jim karena rumor yang beredar” jelasku.

“Kau tidak perlu menjauhinya. Aku berani jamin 100% kau tidak akan bisa jauh – jauh darinya” sahut Sera.

“Aku menyukai Jim” kataku.

“Aku tahu itu. Dan Jim juga menyukaimu” jelas Sera.

“Jim? Menyukaiku? Itu mustahil Sera-ya” kataku sambil tertawa pelan.

“Berani bertaruh padaku? Aku sudah berteman denganmu 6 tahun, aku sudah berteman dengan Jim 3 tahun, aku mengenal kalian seperti apa” jelasnya.

“Tatapan Jim padamu dan tatapan Jim padaku sangat jauh berbeda, Hara-ya. Apa kau tidak mengerti juga eoh?” lanjutnya.

“Tapi aku tidak pernah melihat bahwa Jim menyukaiku. Sikapnya padaku dan sikapnya padamu adalah sama” kataku.

“Terserah padamu saja” Sera pergi meninggalkanku.

“YA! Tunggu aku!” teriakku sambil mengejar Sera.

Aku berlari mengejar Sera yang sudah berada jauh di depanku saat ini. Kini saatnya aku untuk masuk ke dalam pesawat dan take off menuju bandara Incheon. Aku sudah tidak sabar lagi.

Tapi apa benar bahwa Jim menyukaiku? Sikapnya padaku sungguh masih seperti biasanya. Dan sikapnya pada Sera pun sama. Selama ini dia tidak memberi pertanda bahwa ia menyukaiku. Apa yang harus aku lakukan?

———-Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan. 9:40 KST———-

Aku sudah sampai di Korea Selatan sekarang ini. Sungguh senang aku sudah kembali ke negaraku. Indonesia sangat menyenangkan, orangnya ramah – ramah aku sangat suka. Aku berjalan keluar untuk mengambil bagasiku alias koperku. Cukup lama aku menunggunya karena memang begitu turun dari pesawat aku langsung lari keluar.

Cukup lama aku menunggu akhirnya koperku datang. Aku langsung mengambilnya dan menunggu koper Sera. Kami menunggu lagi dan akhirnya koper milik Sera datang. Kami langsung keluar dan berkumpul dengan teman – teman dan seongsanim yang ikut bersama kami.

“Baiklah. Hari ini kalian harus beristirahat karena besok kalian harus masuk sekolah, arraseo?” kata Kim seongsanim.

“Neee, Kim seongsanim” jawab kami bersamaan.

Aku berpamitan dengan teman – temanku. Aku berjalan bersama Sera menunggu taxi yang selanjutnya. Tiba – tiba seseorang yang mengalungkan tangannya ke bahuku.

“ANNYEEEONGGG!!!” teriaknya di kupingku.

“YA! Jangan berteriak!” bentak Sera.

“Ah mian. Aku terlalu bersemangat datang ke sini” jawab orang itu.

“Jim? Sejak kapan kau di sini?” tanyaku.

“Sejak 2 jam yang lalu. Aku melihat Kim seongsanim dan bersembunyi” jawab Jim.

“Bersembunyi katamu?” Tanya Sera.

“Untuk apa bodoh kau bersembunyi dari Kim seongsanim?” Tanya Sera lagi.

“Aku hanya ingin bersembunyi saja” jawab Jimin.

“Kajjaaaa!!! Kalian akan aku antar pulang!” Jimin terlihat begitu bersemangat.

Aku masuk ke dalam mobil Jimin dan Jimin mulai menjalankan mobilnya. Suasana agak canggung karena sudah 2 minggu kami tidak bertemu. Lalu Sera lah yang memulai pembicaraan.

“Jim, antarkan aku lebih dulu. Aku sudah lelah dan ngantuk” kata Sera.

“Baiklah nona Park” jawab Jimin.

Aku membuka jendela mobil Jimin dan melihat – lihat jalanan kota pada malam hari. Sangat indah bagiku. Seperti sudah bertahun – tahun aku tidak tinggal di Korea. Tak berapa lama kini kami sudah sampai di depan gedung apartement Sera.

“Mau ku antar?” tanyaku.

“Tidak perlu. Aku duluan ne” kata Sera begitu keluar dari mobil Jimin.

“AAAA!!” teriak Jimin.

“Jangan berteriak bodoh” kataku kesal.

“Kau tunggu di sini ne, aku ingin memberikan ini pada Sera” kata Jimin yang langsung mengejar Sera ke dalam gedung apartement.

 

-Jungkook POV-

Jin hyung sudah pulang kemarin. Kini sudah pukul 8:00 AM KST, aku harus bergegas menuju sekolahku. Sungguh hal yang sangat membosankan jika harus sekolah. Terlebih lagi banyak rumor yang beredar di sekolah itu. Sungguh menjijikkan.

Aku masuk ke dalam mobilku dan melajukannya menuju sekolahku. Sepanjang perjalanan aku hanya berkonsentrasi menyetir. Sesampainya di sekolah aku langsung di sambut oleh para gadis yang suka padaku. Sangat menyebalkan.

“Aaaa Jungkook oppa” teriak beberapa gadis di belakangku.

Apa mereka tidak punya kegiatan lain selain mengikuti diriku dan meneriakkan namaku? Aku terus berjalan dan masuk ke dalam kelasku. Duduk di paling belakang sebelah kanan dan dekat dengan jendela merupakan spot favoritku.

“Suruh diam seluruh fansmu di luar sana. Itu menganggu tidurku!” perintah Yoongi.

“Baiklah” aku berjalan keluar dan memerintahkan para gadis itu untuk pergi.

Aku kembali duduk di spot favoritku. Memutar sebuah music dan memakai headset lalu tidur. Aku tidak pernah serius jika berada di sekolah. Selama seongsanim masuk ke dalam kelas pun aku hanya sibuk mencoret – coret buku ku dan tidak memperhatikan seongsanim. Yang terpenting adalah nilai yang dihasilkan saat ujian.

Bel pulang sekolah sudah berbunyi dan liburan pun sudah di mulai sekarang. Entah liburan apa aku juga tidak mengerti. Dan aku senang karena ada liburan dalam satu bulan ini. Aku langsung pergi menuju parkiran dan melajukan mobilku menuju sebuah tempat.

Aku sudah sampai di depan tempat yang aku tuju. Kedai es krim. Aku sudah lama ingin ke sini, namun selalu tidak bisa karena aku harus latihan dengan Hoseok. Aku memarkirkan mobilku dan masuk ke dalam kedai itu.

“Annyeonghaseyo, selamat datang di kedai kami” teriak salah satu karyawan kedai itu.

Di depanku ada seorang yeoja yang sedang memesan es krim dan dia cukup lama.

“Hey cepatlah” kataku.

“Ah mian. Kau bisa duluan. Silahkan” kata yeoja itu. Dia terlihat sedang panic dengan semangkuk es krim vanilla chocochip di atasnya.

“Semangkuk es krim coklat nya satu” kataku.

“Mianhae sajangnim. Struk nona ini belum di bayar, jadi anda tidak bisa memesan dulu” jelas kasir kedai itu.

“Bayarkan punya nona ini dan pesankan pesananku” kataku sambil menyerahkan kartu kreditku pada kasir.

“Ah kau tidak perlu membayarku” kata yeoja itu.

“Anggap saja aku sedang mentraktirmu” sahutku lalu mengambil pesananku dan pergi menuju spot favoritku.

Aku duduk di spot favoritku dan tiba – tiba yeoja itu berjalan menghampiriku dan duduk di depanku.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku.

“Ini nomor telfonku, jika kau ingin aku mengganti uangmu tolong kabari aku. Kamsahamnida sudah membantuku, aku benar – benar ceroboh tidak membawa dompetku hari ini. Joesonghamnida sudah merepotkanmu… Han Hara imnida” kata yeoja itu memperkenalkan diri.

“Ah its okay, Hara-ssi” jawabku.

Dia tersenyum padaku lalu pergi meninggalkanku. Kulihat dia keluar dari kedai ini dan naik ke dala mobil seseorang. Dari seragamnya, dia seperti bersekolah di sekolah yang sama denganku. Namun aku tidak pernah melihat dia di sekolah. Ah itu tidak penting.

Dengan cepat aku menghabiskan es krim coklatku dan pergi dari kedai ini. Aku ingin menikmati permainan ski hari ini, namun aku bingung ingin mengajak siapa. Apa aku harus mengajak seseorang untuk menemaniku? Aku mengambil ponselku dan menekan sebuah nomor yang sudah sangat aku hafal.

“Yeoboseyo?” jawabnya di sebrang sana.

“Eodiseo?” tanyaku.

“Waeyo?” tanyanya.

“Temani aku bermain ski” pintaku.

“Shireo. Aku sedang sibuk” jawabnya.

“Ya~~ hyung, jebal temani aku” rengekku.

“Aku benar – benar sedang sibuk Jungkook-ah” jawabnya lalu memutuskan pembicaraan telfon kami.

‘Jin hyung menyebalkan’ batinku.

Aku masuk ke dalam mobilku dan melajukan mobilku menuju tempat permainan ski terdekat. Aku berjalan memasuki tempat itu dan membayar biayanya. Aku masuk ke area permainan ski. Cukup ramai di sini. Aku mulai berjalan ke atas dan melakukan sebuah luncuran ke bawah.

“Yuhuuuu~” teriakku yang asik sendiri.

“Ya ya ya!” aku tidak dapat mengontrol kecepatanku begitu sampai di bawah.

Aku menabrak seorang yeoja yang sedang berlatih ski itu. Aku merasa tidak enak padanya. Aku membantunya berdiri.

“Joesonghamnida Agassi. Aku benar – benar minta maaf. Aku tidak dapat mengontrol kecepatanku” kataku sambil membungkukkan badanku lalu pergi meninggalkannya.

“Hara-ya! Kau tidak apa – apa?” teriak seseorang dari depanku pada yeoja di belakangku.

“Jim! Nan gwenchana!” balasnya.

‘Hara?’ batinku.

 

TO BE CONTINUE…

Hello gimana ff ini? Belum ketebak ya ceritanya bakalan kayak gimana? Wkwkwk

Yuk ah di komentarin aja atau di kasih like nya sebagai bentuk apresiasi hihiw~

Kamsahamnida reader-nim :*

25 responses to “Please, Hold Me Tight Chapter 2

  1. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 8 | FFindo·

  2. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 9 – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s