HYUNG

‘Dia ingin dipanggil ‘hyung’’

z-ins21_jardine4nj

S_Leith Present

| Kim Jongin [EXO] – Luhan [EXO] |

| Oneshoot || Friendship – Angst || Rate -15 |

NOTE : Pernah dipublis di wp pribadi.

No Plagiat and Don’t be Plagiator (cari ide itu butuh perjuangan, chingu :)). Enjoy the story and sorry for some typos.

Happy reading!! \(^_^)/

 

 

~~~Hyung~~~

            Di bawah langit terukir beragam kisah. Angin berkelana membawa sejuta cerita. Cerita sedih jua bahagia. Tirai lusuh cerita terbuka, bukanlah kisah semanis madu alurnya. Bermula ketika seekor burung pipit yang bertengger santai di dahan pohon tiba-tiba mengepakkan sayap dan terbang jauh akibat suara ricuh yang berasal dari bawah sana.

‘BUK!’ Terempas ke tanah basah sisa hujan tadi sore. Menggoreskan garis-garis berdarah di siku sebelah kanan.

‘BUK!’  Tendangan di kaki terasa nyeri, hanya mampu menggigit bibir agar suara rintihan yang mereka benci tidak terdengar. Anak-anak yang berdiri di pinggir hanya menonton dengan ngeri, pun simpati. Ingin marah tapi tak bisa, ingin melawan namun tak kuasa. Aku hanya mampu menerima segala pukulan yang juga meninggalkan luka maya di dada.

“Jangan! Kumohon.” Seorang anak lelaki yang lebih tua dariku bersimpuh di depanku seraya menangkupkan kedua tangan.

Setelah puas mulut mereka melontarkan berbagai makian, mereka pun berhenti dan salah seorang menyempatkan diri  meludah ke arahku, untungnya air menjijikkan itu tidak mendarat di tubuhku.

“Masuk!” perintah yang tadi meludah, sang ketua. Anak-anak yang menonton kocar-kacir masuk ke bangunan tua berlumut yang mereka sebut tempat tinggal. Sementara anak lelaki yang tadi membelaku dengan cekatan meraih lenganku dan mengalungkan ke lehernya, memapahku masuk ke bangunan itu.

Lima tahun yang lalu status yatim piatu tersemat padaku, menuntun jiwa yang rapuh ini berada di atap yang sama dengan adik ibuku, paman. Namun hati paman tak semurni yang kukira. Bujukan keluarganya dengan uang sebagai problematika memaksa paman bertindak, meninggalkanku di pusat kota, membuangku layaknya sampah. Hingga aku pun terdampar di sini. Sambutan ramah dan tawa ceria mengawali semuanya. Seorang pria berwajah picik memperkenalkan tempat yang dihuninya sebagai ‘rumah kebahagiaan bagi anak-anak terlantar’. Walau tiga pria dengan dandanan preman yang menjabat sebagai anak buahnya membuatku takut, namun aku tak punya pilihan. Apalagi anak-anak lain menyuguhkanku senyum bersahabat, yang kini baru kusadari bahwa itu hanyalah senyum paksa menyimpan pedih. Ya, sama sepertiku. Mereka tak punya pilihan ketika tak seorang pun keluarga bersedia mengulurkan tangan menyalurkan kasih sayang. Dan baru sehari aku merasakan lelahnya menjadi anak jalanan, langsung saja hal yang dihindari anak-anak lain menyapaku sebab pundi-pundi uang yang kukumpulkan tak memenuhi standar.

Kini, di kala anak-anak lain memaksa diri memejamkan mata, dia dengan sigap mengambil segelas air. Membasuh darah di siku dan kakiku menggunakan sobekan kertas tak terpakai.

“Jangan menangis ya, nanti kau dimarahi lagi,” peringatnya dengan halus begitu melihat dua butir air mata mengalir mulus di pipiku.

“Dan tahanlah rasa sakitnya, maaf tak ada handsaplast.” Aku hanya mengangguk, tak seharusnya ia minta maaf. Ini semua bukan salahnya. Seusai tadi sibuk mengobatiku, ia mengajakku tidur di tikar usang yang bolong sana sini. Ya, inilah tempat tidur kami, para anak jalanan.

Seusai kejadian itu, ketua menyuruh ia bekerja bersamaku agar aku tak mengulang kesalahan yang sama. Mulai hari ini dan seterusnya aku berkeliling kota bersamanya, Luhan. Kami bernyanyi diiringi instrumen dari ukulele yang beberapa senarnya telah putus. Kami mengamen dengan waspada, berjaga-jaga jika ada petugas keamanan yang memergoki.

Geumanhe, geumanhe!!” Seorang bibi pemilik toko kelontong yang kami singgahi menutup sebelah telinga sambil marah-marah. Harmonisasi yang kami ciptakan memang berantakan, suaraku yang parau dan petikan ukulele Luhan yang sumbang. Syukurlah tangan si bibi yang menganggur menyodorkan uang receh.

Tiba-tiba, ‘Puk…puk…puk…’ “Kajja! Kajja!” Luhan menepuk panik pundakku begitu netranya menangkap dua sosok berseragam dengan topi khasnya berjalan mendekat, petugas keamanan.

Menyadari hal tersebut, langsung saja kakiku terayun cepat menyusul Luhan yang telah lari lebih dulu. Sialnya kedua petugas keamanan yang semula asyik mengobrol itu diberkati mata yang jeli hingga mereka tak tinggal diam, mengejar kami sembari berseru, “YA!!!”

Kuikuti sosok Luhan yang terus berlari tanpa tujuan. Karena terlalu fokus padanya, tak sengaja aku menabrak beberapa pejalan kaki. Bahkan seorang nenek melontarkan sumpah serapah sebab keresek berisi buah-buahan yang dibawanya tersenggol jatuh dan aku malah berlalu begitu saja.

“Ya berhenti kalian!! Bantu aku memungut buah-buahku,” perintah si nenek seraya menunjuk dua petugas keamanan yang mengejar kami.

Dua petugas keamanan segera berhenti, “Tapi, Nek….”

“Tidak usah tapi-tapian. Apa kalian tega melihat seorang nenek merangkak di jalan sendirian?!! Aigooo…. dasar pemuda zaman sekarang!” keluh si nenek menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dua petugas keamanan saling pandang kemudian dengan terpaksa membantu si nenek memungut buah-buahnya yang berserakan di jalan, apalagi beberapa menggelinding ke selokan.

Luhan menghentikan larinya. Ia memegang lutut dengan napas tersengal. Ayunan kakiku juga berhenti, tepat di belakangnya aku mengatur napas yang terengah-engah. Luhan menoleh ke belakang, melihatku sekaligus mengecek keadaan. “Sepertinya mereka kehilangan jejak. Sebaiknya kita pulang saja, kajja!” Dan ia kembali melangkah dengan napas yang belum sepenuhnya normal.

Namun aku hanya diam, mataku terpusat pada tiga anak berseragam sekolah yang tengah mengayuh sepeda. Mereka bercanda dan tertawa, sangat bahagia. Tanpa sadar kepalaku berputar mengikuti kepergian mereka.

Enak ya bisa sekolah, masa depan tidak suram seperti ini, batinku menjerit. Ingin marah tapi pada siapa?

Ya! Ayo pulang.” Tahu-tahu Luhan sudah berdiri di sebelahku.

Dengan lunglai aku pun melangkah lebih dulu. Sementara Luhan menyempatkan diri menengok ke arah ketiga anak tadi, otaknya memikirkan sesuatu.

Suatu siang aku dan Luhan duduk di sebuah bangku taman sambil mencomot roti keju di tangan masing-masing seusai mengamen di pasar. Luhan tampak rakus.

Ahjumma penjual ddeobbeoki tadi baik ya. Andai semua orang juga baik seperti itu,” ujarku sambil mengunyah roti pemberian itu.

Luhan hanya diam mendengarkan, matanya asyik memandang sekeliling taman.

“Kenapa kau melarangku menolong anak yang kemarin dipukuli ketua?” tanyaku kemudian.

Luhan mengibas-ibaskan tangannya yang terkena remah roti. Setelah menelan ia menjawab, “Sebenarnya kita semua hidup sendiri-sendiri. Membantu yang lain artinya kau tamat.”

“Tapi kenapa kau menolongku? Apa kau dianak emaskan?”

“Tidak juga. Mungkin karena penghasilanku selalu lebih tinggi dari yang lain, makanya waktu itu mereka memaafkanku. Dan, kau mirip sekali dengan mendiang adikku, bisa dibilang itu alasanku menolongmu.”

Aku hanya mengucap ‘oh’ dalam hati.

“Emm… kau mau tidak memanggilku hyung?” Luhan menatapku penuh harap.

Tanpa sengaja sebuah tas tangan yang tergeletak di jalan tertangkap mataku. Bergegas aku pun menghampiri benda itu dan mengambilnya, tak menghiraukan permintaan Luhan.

“Bagus! Tas ini kelihatan mahal, pasti banyak uang di dalam,” ocehku dan hendak membuka resletingnya.

“Jangan!” Luhan merebut tas itu.

“Harus kita kembalikan. Kebetulan aku mengingat pemiliknya.” Luhan beranjak mencari sang empunya tas tersebut. Meski kecewa, aku tetap mengikutinya. Ternyata kegiatannya mengamati sekeliling taman ada gunanya.

Seusai lelah mencari ke sana-ke mari, akhirnya Luhan menemukan seorang wanita muda yang ciri-cirinya sama persis dengan yang ada di memorinya.

“Ah, jeongmal khamsahamnida.” Raut si wanita yang semula kusut langsung berubah gembira, bola matanya memancarkan rasa syukur.

“Kalau begitu ini untukmu sebagai ungkapan terimakasihku.” Si wanita mengambil selembar won dan menyodorkannya ke Luhan.

“Tidak usah. Lebih baik disimpan saja,” tolak Luhan halus.

Namun aku tak sependapat dengan Luhan. Tanpa ragu aku pun menyambar uang yang nominalnya besar tersebut. “Khamsahamnida”. Aku membungkuk, mengabaikan pelototan galak milik Luhan.

Setelah wanita itu berpamitan pergi, Luhan mendadak merampas uang yang kupegang. “Aku yang menyimpannya,” tegasnya tanpa mau dibantah. Aku pun hanya bisa cemberut, pasrah. Bagaimana pun yang berjasa adalah dia, bukan aku.

Hari terus berganti, rantai masa terus bergulir. Sekonyong-konyong keadaan memburuk. Akhir-akhir ini ketua meminta Luhan berbicara empat mata, dan puncaknya sudah lewat lima hari ia dikurung di ruangan khusus. Kata anak-anak lain Luhan dikurung karena kinerjanya menurun, padahal setahuku uang yang kami hasilkan selalu di atas target, anehnya lagi kenapa aku tidak ikut dikurung?  Imbas tidak adanya Luhan yang menemani, aku jadi  sering dipukuli anak buah ketua. Hal itu membuatku tak tahan. Seolah kegembiraan enggan mendekat. Seolah kesedihan adalah nyawa yang melekat dengan raga. Dan sebuah keputusan yang sebelumnya kusepak jauh lantas kupungut kembali, melarikan diri.

Begitu kesempatan hadir, keberanian yang menggebu pun bertindak. Ketua dan anak buahnya terkapar karena mabuk di sofa ruang tamu. Diam-diam aku merogoh saku jaket ketua yang memuat kunci ruangan tempat Luhan berada. Aku ingin membebaskannya, mengajaknya melarikan diri bersama. Tetapi, mendadak ketua tersadar dan tanganku dicekal olehnya.

“Mau mati kau ya?” Dia tersenyum sinis.

Meski takut, akhirnya aku nekat meraih botol soju di meja sebelahku dan melayangkannya dengan keras ke kepala ketua. Begitu dia pingsan, tiba-tiba anak buahnya meracau. Namun untunglah mabuk berat membuat mereka tetap memejamkan mata. Tanpa buang waktu aku mengambil kuncinya dan segera membuka pintu ruangan yang kumaksud.

‘Cekrek’. Ketika pintu sedikit terbuka aroma tak sedap menyergap hidung. Ruangannya gelap dan pengap, membuat sesak napas. Kemudian pintu kubuka lebar hingga seberkas cahaya dari luar membuat sosok kurus Luhan yang bergelung di ubin yang dingin terlihat, ia membelakangiku. Perlahan aku menghampirinya. Berlutut dan mencoba membalik badannya. Di saat itulah aku mencelos. Kaos yang dipenuhi noda darah dan debu. Wajahnya babak belur dengan bibir memucat. Kulit tangan dan kakinya juga dihias lebam dan luka-luka yang masih basah. Tak terasa air mataku meleleh. Aku tak sanggup melihatnya. Aku tak tahu seberapa sakit tubuh dan hatinya. Yang pasti ini semua membuatku marah. Padahal Luhan baik, tapi dia menderita. Sedang penjahat di luar sana malah asyik berpesta.

“Ayo pergi dari sini,” ujarku menatap mata Luhan yang sayu. Lekas aku melakukan hal serupa di kala ia menolongku jauh hari silam.

Namun, ketika aku susah payah memapahnya sampai halaman, ia ingin kembali. Ia ingin mengambil barangnya yang tertinggal.

“Aku saja.” Lantas aku berlari menuju kamar para anak jalanan.

Berhasil menemukan buntalan keresek hitam yang disembunyikan Luhan, aku mengendap melewati anak-anak yang tertidur. Mengetahui para penjahat itu masih tak berdaya, aku mengangkat gagang telepon di ruang tamu dan menelepon polisi, memberitahukan alamat bangunan ini. Tetapi,

Neo!!” Salah satu anak buah tersadar, dia memergoki. Lalu dia berupaya membangunkan rekan-rekannya.

Langsung aku berlari keluar dengan panik. Sesampainya di halaman, “Kau bisa lari kan?”

Sudah sepuluh menit berlalu. Di belakangku Luhan memaksakan diri berlari, aku tak tega, namun aku pun tak kuat menggendongnya. Hingga tiba-tiba ia terjatuh, sontak aku memutar haluan menghampirinya. “Kau tak apa?”

‘BUK!’ Tendangan di punggung mengempasku ke aspal jalan yang sepi kendaraan, keresek hitam terlepas dari genggaman. Rupanya mereka telah tiba. Para penjahat yang tak membiarkan mangsanya lolos.

Kemudian semua terjadi begitu saja. Ibarat putaran DVD rusak. Seorang menjadikan dirinya tameng dan seorang lain yang dilindungi menutup kedua telinga seraya memejamkan mata. Pukulan dan tendangan tak terelakkan. Terdengar gelegar tawa mengerikan dan tangis memilukan yang memecah malam. Alam yang membisu saksi kisah pahit yang tengah tergambar. Embusan angin begitu menggigit seolah ikut merasakan sakit. Beberapa menit berselang, sirine mobil polisi membelah malam yang mencekam. Menghentikan aksi brutal para antagonis. Melarikan diri pun percuma sebab gerakan gesit membuat luncuran panas peluru berhasil menembus anggota badan.

Aku membuka mata, langit gulita menyapa. Perlahan aku terduduk, tulang-tulang rasanya remuk. Kulihat Luhan yang telentang dengan mata terbuka, kondisinya bertambah mengenaskan. Dengan merangkak aku mendekatinya. Di samping wajahnya yang tak karuan Luhan tersenyum. Tangannya meraih tanganku, menyerahkan buntalan keresek hitam miliknya.

“Bukalah,” lirihnya.

Dengan benak penuh tanya aku membukanya. Seketika aku terkejut mendapati banyak lembaran uang di dalamnya. Kemudian kuambil secarik kertas kecil yang terselip.

Untuk sekolah Jongin, tulisan yang tertera. Selanjutnya Luhan hanya menutup mata rapat-rapat. Dengan denyut nadi yang tak lagi teraba, dengan napas yang tak lagi terasa embusannya.

Demi aku yang katanya mirip adiknya. Demi aku yang bukan siapa-siapanya. Dia rela berkorban, bahkan hingga nyawanya melayang. Demi aku……

Hyung…..” Kata yang diinginkannya akhirnya meluncur dari mulutku. Kata yang tak lagi bisa didengarnya.

Tetes-tetes air pun membasahi keresek yang kugenggam erat. Tetes-tetes yang kian menderas hingga membasahi tubuh Luhan yang kaku. Tetes-tetes yang juga membasahi diriku dengan tangis menggugu. Bumi yang berkabung, bumi yang ikut merasakan duka lara.

~~~The END~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s