Soul School Chapter 13

audi-ff

By Sparkdey

Poster made by marsyasara

Soul School Chapter 13

School Life || Romance || Friendship

PG – 17

Main Cast            :

Jeon Jungkook BTS || Kim Taehyung BTS || Mark Tuan GOT7 || Jung Krystal Fx || Kim Sujin (OC) || Min Ji Eun (OC)

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7A || Chapter 7B || Chapter 8 || Chapter 9 || Chapter 10A || Chapter 10B || Chapter 11 || Chapter 12 || Chapter 13 ||

Desclaimer : FF ini pure ide dari author sparkdey dengan beberapa bantuan dari teman – teman dan terinspirasi dari beberapa K-Drama. Dan hanya di posting di FFIndo dan blog pribadi author. Jika kalian menemukan cerita yang sama, mohon beritahukan kepada author. Terima kasih^^

NB : terdapat beberapa kata kasar, mohon maaf bila kurang berkenan. Lebih baik untuk tidak membaca kalimat itu atau skip FF ini. Maafkan ada sedikit adegan NC + 17, jadi untuk yang di bawah umur jangan baca yaa hehe demi kebaikan kalian^^~

Happy Reading!!~

Cerita sebelumnya…

“Ku kira kau benar – benar menyukaiku” jawab Taehyung.

“Mana ada seorang yeoja yang mau dengan namja brengsek sepertimu” kata Ji Eun.

“Ada” jawab Taehyung.

“Dimana?” Tanya Ji Eun.

“Seorang gadis di depanku saat ini yang mengenakan jaket jeans dengan kaus putih dan celana jeans biru dongker dan sepatu sneakers berwarna hitam yang sedang mengobati lukaku sekarang” jelas Taehyung.

“Berarti dia adalah yeoja bodoh yang ingin menyukaimu” jawab Ji Eun.

“Kau sudah selesai. Aku pergi. Annyeong!” Ji Eun pergi meninggalkan Taehyung namun dengan cepat Taehyung menghalangi pintu ruang kesehatan.

“Apa yang kau lakukan bodoh? Cepat menyingkir” kata Ji Eun.

Dengan cepat Taehyung mencium Ji Eun pada keningnya. Ji Eun merasa terkejut dengan perlakuan Taehyung kali ini. Untuk apa kali ini dia mencium kening Ji Eun. Lalu Taehyung memeluk Ji Eun dengan erat.

“Aku menyukaimu, Min Ji Eun. Maaf aku sudah berkata tidak menyenangkan tadi pagi. Aku menciummu karena aku menyukaimu. Itu bukan bercanda sungguh. Terima kasih sudah menyelamatkanku lagi hari ini dan kau terluka karenaku. Aku minta maaf karena tidak bisa melindungimu tadi” jelas Taehyung.

“Tapi, Taehyung-ah…” kata Ji Eun yang masih berada di pelukan Taehyung.

-Ji Eun POV-

“Tapi, Taehyung-ah…” kataku yang masih berada di pelukan Taehyung.

“Kumohon jangan ada tapi – tapian, Ji Eun-ah” pinta Taehyung yang terus mengeratkan pelukannya padaku.

“Bagaimana dengan Krystal? Kau mencintainya” kataku sambil melepaskan pelukannya.

“Aku memang mencintainya, tapi aku lebih mencintaimu Min Ji Eun” jelas Taehyung yang wajahnya semakin mendekat padaku seperti ingin menciumku.

“Maaf, Tae” aku memalingkah wajahku lalu pergi meninggalkan dia seorang diri.

“Ji Eun! Min Ji Eun!!” teriak Taehyung namun aku tidak berhenti.

Aku berlari menuju taman Soul School dan duduk di bangku yang ada di sana dengan pemandangan blue rose di depanku. Aku bingung akan apa yang harus aku lakukan pada Taehyung. Perasaan ini aneh, semakin aku menolak kehadiran Taehyung di kehidupanku, semakin aku merasa aku tidak ingin menjauh darinya.

‘Apa yang harus aku lakukan ya Tuhan’ batinku.

Di sini terasa nyaman sebelum kehadiran Jungkook di taman ini. Apa yang dia lakukan di sini? Membuatku semakin merasa kesal dengan melihatnya sekarang ini. Aku tidak mengerti dengan apa yang ada di fikiran Jungkook saat ini. Dia sangat tega memukuli sahabatnya sendiri hanya karena adik sepupunya yang bahkan telah menyiksa batin sahabatnya.

Aku beranjak dari tempatku duduk dan ingin pergi dari tempatku berada sekarang. Namun sebuah tangan memegang pergelangan tanganku dan menahan kepergianku dari tempat ini.

“Ji Eun-ah…” panggil Jungkook dengan suaranya yang lirih.

“Lepaskan aku, Jeon” pintaku tanpa menoleh kepadanya sedikit pun.

“Dengarkan penjelasanku dulu” kata Jungkook.

“Penjelasan apa lagi huh?” tanyaku yang kini tengah menatapnya.

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk memukulmu tadi. Apa itu sakit?” tanyanya sambil memegang bibirku dengan ibu jarinya.

“Argh!” pekikku karena perih.

‘Ah ya, aku baru ingat aku belum mengobati lukaku’ batinku.

“Mian, apa itu sangat sakit? Biarkan aku mengobati lukamu” pinta Jungkook.

“Tidak perlu. Aku yang akan mengobati lukanya” kata seseorang dari belakang Jungkook.

Aku menoleh ke sumber suara itu. Aku sudah hafal sekali dengan pemilik suara itu. Dia adalah Kim Taehyung. Suara yang berat dan rendah itu. Dia memiliki deep voice menurutku.

“Jangan ikut campur urusanku, Tae” kata Jungkook.

“Aku belum selesai bicara dengannya” lanjutnya.

“Apa kau masih ingin mendengarkan Jungkook, Ji Eun-ah?” Tanya Taehyung padaku dan aku hanya menggelengkan kepalaku.

“Dia tidak ingin bersamamu, Jungkook-ah” kata Taehyung sambil meggandeng tanganku untuk ikut bersamanya.

Aku mengikuti Taehyung kemanapun pergi saat ini karena dia tidak mau melepaskan tanganku dari genggamannya. Kini Taehyung membawaku ke ruang kesehatan lagi. Merasa bosan aku berada di sini hampir seharian.

Taehyung mendudukkan aku di ranjang ruang kesehatan. Dia pergi mengambil kapas dan juga alcohol yang tadi kugunakan untuk mengobatinya. Dia menuangkan alcohol pada kapas itu lalu mengobati lukaku.

“Kau sanggup mengobati lukaku tapi kau tidak sanggup mengobati lukamu” kata Taehyung di sela – sela kegiatannya dan aku hanya diam.

“Jangan merelakan nyawamu untukku lagi, aku seperti pria bodoh yang tidak bisa melindungi wanita” jelas Taehyung.

“Pengobatanmu selesai. Aku ingin kau mempercayaiku, Ji Eun-ah” pinta Taehyung.

Aku hanya diam. Aku menatap matanya lekat – lekat untuk mencari tahu apakah dia sedang serius atau dia sedang berbohong. Namun nihil hasilnya. Aku tidak menemukan tanda – tanda kebohongan pada Taehyung. Dia sedang serius kali ini.

“Aku tidak berbohong. Kau bisa melihat mataku” kata Taehyung.

“Wae? Kenapa kau mencintaiku? Dan mengapa kau tidak memilih Krystal yang jauh lebih baik dariku?” tanyaku.

“Ssstt… jangan berkata seperti itu” jari telunjuk Taehyung kini berada di bibirku.

“Yang menentukan terbaik untukku adalah diriku sendiri, bukan orang lain. Jika aku memilihmu, maka kau lah yang terbaik untukku” jelas Taehyung.

Aku menatap mata Taehyung dan rasanya aku ingin nangis sekarang juga.

“Mengapa kau bisa menyukaiku? Jelaskan padaku” pintaku.

Taehyung menggenggam kedua tanganku dan berdiri mensejajarkan matanya dengan mataku. Jantungku semakin berdetak tidak karuan. Ada apa ini?

“Kau ingat? Saat pertama kali kita bertemu aku bilang padamu bahwa kau adalah yeoja yang menarik perhatianku. Memang benar saat itu kau sangat menarik perhatianku. Setelah beberapa hari aku mengenalmu, aku semakin penasaran denganmu. Aku juga tidak tahu mengapa aku bisa penasaran denganmu. Dan pada akhirnya aku jatuh cinta padamu. Tanpa alasan” jelas Taehyung.

“Tanpa alasan?” tanyaku heran.

“Ne, tanpa alasan. Karena sampai sekarang aku pun tidak tahu apa yang membuatku sulit untuk jauh darimu” jawabnya.

Hidung Taehyung menyentuh hidungku. Mataku menutup perlahan dan menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah dia akan menciumku lagi? Tidak, dia memelukku dengan erat. Detak jantungku semakin berdetak tidak karuan.

“Saranghae, Min Ji Eun. Jeongmal saranghae” bisik Taehyung di telingaku.

“Nado, Tae” jawabku.

Taehyung tersenyum padaku dan begitupun aku. Taehyung mengacak rambutku pelan. Aku suka jika dia sudah bertingkah seperti ini, tersenyum padaku, mengacak rambutku pelan. Tiba – tiba Taehyung mencium bibirku sekilas.

“YA!” teriakku dan dia hanya tertawa.

“Kau tidak punya izin untuk ini!” kataku sambil menunjuk bibirku.

“Lalu bagaimana caranya agar punya izin untuk…. Itu?” Taehyung sempat menjeda pertanyaannya karena dia sudah menciumku sekilas… lagi!

“YA! Pervert namja!!!” teriakku sambil memukul dadanya yang bidang itu.

“Ah sakit, kau tahu itu?” katanya pelan.

“Ah mian, aku memukul terlalu kencang eoh?” tanyaku panic.

“Hahaha aku bercanda. Kau lucu sekali” Taehyung mencubit kedua pipiku.

“YA! Aku benci padamu, Tae” kataku sambil menjulurkan lidahku padanya lalu pergi meninggalkannya.

‘Tae, sungguh! Aku mencintaimu!’ batinku.

 

-Taehyung POV-

Aku tertawa melihat tingkah Ji Eun padaku. Dia lucu sekali, aku sangat gemas padanya. Ingin rasanya aku memilikinya, memintanya menjadi yeojachinguku, tapi aku takut. Takut jika semua ini terlalu cepat, dan aku tidak mungkin memintanya menjadi pacarku di kondisi yang seperti ini.

Aku kembali ke dorm ku dan merebahkan tubuhku di kasur. Sepi, kemana perginya Mark dan Jungkook? Ah mengingat soal Jungkook, sampai kapan dia akan terus membenciku?

Aku melihat luka di kakiku dan langsung membuka perban itu. Sudah lebih baik dari sebelumnya. Namun bodohnya diriku, mengapa aku melepas perban ini? Akhirnya aku kembali ke ruang kesehatan untuk mengambil perban baru.

Aku mengambil perban dan juga obat merah untuk mengobati lukaku ini lalu membungkusnya dengan perban. Sedikit susah melakukan ini karena aku tidak pernah bisa memperban diriku sendiri. Seseorang mengetuk pintu ruang kesehatan.

“Perlu bantuan eoh?” tanyanya dari ambang pintu.

“Krys…” lirihku.

Krystal berjalan menghampiriku dan membantu memperban kakiku. Dia terlihat habis menangis dan wajahnya sangat sedih saat ini. Oh tidak, aku dilanda kebingungan saat ini. Krystal atau Ji Eun? Di antara mereka berdua, mana yang harus aku pilih?

“Tae aku ingin membicarakan sesuatu padamu” kata Krystal sambil menatapku.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanyaku.

“Aku tidak ingin membicarakannya di sini” kata Krystal lalu pergi keluar dari ruang kesehatan.

Aku mengikuti langkah Krystal di belakangnya. Krystal pergi keluar dari sekolah ini menuju halaman belakang Soul School. Entah apa yang ingin dia bicarakan, namun ia terlihat sangat sedih kali ini. Seperti ada sesuatu yang menganggu fikirannya.

“Wae? Mengapa harus di sini?” tanyaku datar.

“Taehyung-ah, apa kau benar – benar mencintai Ji Eun?” Tanya Krystal dengan tatapan yang sendu.

“Mengapa kau bertanya hal seperti itu?” tanyaku heran.

“Jika kau hanya ingin menanyakan hal itu, aku akan pergi” kataku lalu membalikkan badanku.

Krystal menahan tanganku dan membuatku berbalik menghadapnya saat ini. Dia menggenggam tanganku.

“Tae, aku mencintaimu. Aku belum memberimu jawaban karena aku ingin melihat usahamu untuk mendapatkan cintaku kembali” jelas Krystal.

“Usaha apa lagi yang harus ku lakukan huh? Aku sudah menunggumu sejak dulu, kau bahkan tidak memberitahuku jika kau ke California. Wae? WAE?” bentakku pada Krystal.

“Mianhae… aku benar – benar tidak maaf untuk tidak memberitahumu” jawab Krystal.

“Semua sudah terlambat, Krys” jawabku.

“Aku sudah mencintai yeoja lain, dan aku merasa nyaman padanya” lanjutku.

“Apa yeoja itu adalah Ji Eun?” Tanya Krystal.

“Ne, geurae” jawabku lalu pergi.

“TAEHYUNG-AH!” teriak Krystal.

Aku tidak menghiraukan teriakan Krystal dan aku berjalan terus tanpa menoleh ke belakang atau bahkan menghampiri Krystal. Sama sekali aku tidak memiliki niat itu. Terus berjalan dan masuk ke dalam dorm ku.

‘Pengumuman untuk seluruh calon siswa Soul School bahwa satu jam dari sekarang akan diadakan test selanjutnya, diharapkan kalian semua akan berkumpul di lobby dalam waktu 1 jam lagi’

Aku mendengar pengumuman itu. Aku memutuskan untuk tidur sejenak dan memasang alarm untuk membangunkanku dan bersiap – siap mengikuti ujian. Aku memejamkan mataku dan bersiap untuk masuk ke alam mimpiku.

———- Lobby Soul School. 2:30 PM ———-

Aku bersama kelima temanku sedang berkumpul di lobby sekolah dan di hadapan kami semua sudah ada kepala sekolah dan seongsanim kami. Kepala sekolah menyatakan permintaan maaf pada kami karena telah melakukan test yang sangat terlarang dengan memasuki hutan yang penuh dengan vampire itu.

“Setelah ini kalian akan memulai sebuah test tertulis. Kalian semua tolong ikuti Jimin seongsanim” perintah Seolhyun seongsanim.

Kami semua mengikuti Jimin seongsanim menuju sebuah ruangan kosong, seperti studio dance namun tidak ada kaca di sekeliling ruangan ini. Kami berbaris di depan Jimin seongsanim.

“Apa kalian sudah tau test apa yang akan aku berikan kali ini?” Tanya Jimin seongsanim.

Kami semua diam dan tidak ada yang menjawabnya.

“Baiklah aku akan memberi tahu test apa ini. Test ini berhubungan dengan kekuatan dalam kalian, energy positif yang ada pada diri kalian” jelas Jimin seongsanim.

‘Energi positif?’ batinku.

“Kalian duduklah secara melingkar” perintah Jimin seongsanim.

Kami mulai mencari posisi untuk duduk melingkar. Aku duduk di antara Sujin noona dan Ji Eun tentunya. Aku menggenggam tangan mereka berdua seerat mungkin.

“Aku akan mentransferkan energy positif milikku. Tutuplah mata kalian” lanjut Jimin seongsanim.

Kami semua mulai menutup mata kami dan dapat aku rasakan sesuatu telah masuk ke dalam tubuhku. Hangat. Itu yang dapat aku rasakan. Lalu Jimin seongsanim memerintahkan kami untuk membuka mata kami semua. Aku membuka mataku dan kini banyak cahaya di mataku. Aku dapat melihat sesuatu hal yang biasanya tidak aku lihat.

Aku melihat berbagai macam warna yang keluar dari tubuh teman – temanku dan juga Jimin seongsanim. Warna yang keluar dari Jimin seongsanim adalah pelangi. Dan warna yang keluar dari teman – temanku adalah putih. Aku tidak mengerti ini energy positif yang seperti apa. Mengapa mengeluarkan warna dari tubuh teman – temanku? Apa tujuannya?

“Sepertinya kalian terlihat bingung karena berbagai macam warna yang keluar dari tubuh kalian. Baiklah aku akan menjelaskannya sekarang. Kalian berdiri dan berbarislah” perintah Jimin seongsanim.

“Aku akan menjelaskan warna – warna nya. Yang pertama adalah warna yang paling dasar yaitu warna putih selanjutnya adalah warna hijau yang artinya kalian sudah mampu mengeluarkan energy positif kalian untuk melawan hal – hal yang berkaitan dengan pengambilan alih fikiran…” jelas Jimin seongsanim.

“Pengambilan alih fikiran? Tolong jelaskan pada kami apa maksudnya seongsanim” pinta Sujin noona.

“Pengambilan alih fikiran itu seperti hal nya kalian sedang berhadapan dengan mahluk lain atau bahkan dengan teman kalian sendiri dengan cara menatap mata kalian dan dia mentransferkan energy yang lebih kuat dan itu mengakibatkan kepala kalian menjadi sakit lalu fikiran kalian akan di ambil alih oleh yang menatap kalian saat itu juga” jelas Jimin seongsanim.

“Selanjutnya ada warna pelangi. Itu adalah tingkatan terakhir dalam ilmu tenaga dalam. Yang artinya kalian memiliki semua kemampuan dari energy positif yang kalian miliki” lanjut Jimin seongsanim.

“Sekarang kalian berbaris lah menghadapku dan coba keluarkan energy positif kalian dalam waktu 5 menit untuk menggeser barang ini” perintah Jimin seongsanim sambil menunjuk 6 barang di hadapan kami.

“Aku akan mencatatnya di dalam kertas ini” lanjut Jimin seongsanim.

“Tapi seongsanim, kami tidak tahu caranya” sahut Krystal.

“Kalian harus mencari tahu sendiri caranya” jawab Jimin seongsanim.

Aku mencoba segala macam cara untuk mengeluarkan energy positifku. Namun usahaku gagal. Bahkan barang itu tidak bergerak 1 mm pun. Apa yang harus aku lakukan agar energy positifku keluar? Aku menatap Ji Eun lalu tersenyum. Dia sedang berusaha. Tiba – tiba Ji Eun menoleh ke arahku, dia tersenyum padaku.

Aku menjadi lebih semangat dari sebelumnya. Lalu aku mencoba berkonsentrasi dan benda itu jatuh dari meja. Apakah aku berhasil? Aku menjadi bingung.

“Baiklah Kim Taehyung, kau lulus” sahut Jimin seongsanim.

“Ne?” kataku bingung.

“Kau boleh keluar dari ruangan ini” lanjut Jimin seongsanim.

“Aku sudah selesai? Seongsanim…?” tanyaku tidak percaya.

“Ne kau sudah selesai. Keluarlah” perintah Jimin seongsanim.

Aku keluar dari ruangan itu dan duduk di pagar depan ruangan ini. Ruangan ini terletak di lantai 2 gedung sekolah ini. Aku ingin menunggu Ji Eun keluar dari ruangan ini. Dan benar setelah aku menunggu 5 menit, Ji Eun keluar dari ruangan itu.

“Huh?” aku meliriknya bingung.

“Kau sudah selesai?” tanyaku.

“Eoh” jawabnya singkat lalu berjalan mendahuluiku.

“YA! Aku menunggumu bodoh” teriakku dan dia berhenti.

“Siapa yang kau panggil bodoh?” tanyanya.

“Neo” jawabku sambil sedikit tertawa.

Dia langsung melanjutkan berjalan mendahuluiku. Dia tidak tertawa atau tersenyum padaku kali ini. Ada apa dengannya? Apa aku membuat kesalahan padanya?

“Ji Eun-ah” panggilku namun dia tidak merespon panggilanku.

“YA! Min Ji Eun” teriakku dan dia tetap mengacuhkanku.

Aku langsung berjalan cepat lalu menahan tangannya dan memutar balikkan badannya menghadapku.

“Kau ini kenapa eoh?” tanyaku bingung dan dia hanya diam sambil menatapku.

“Kau marah padaku eoh?” tanyaku lagi dan dia masih diam.

“Hey, jawab pertanyaanku sayang” kataku dengan sedikit menggoda.

“Sayang?” tanyanya heran.

“Kalau begitu, chagi?” kataku.

“Apa bedanya bodoh!” dia melepaskan tanganku lalu pergi meninggalkanku.

“Hey kau ini kenapa? Aku telah berbuat salah padamu?” tanyaku benar – benar bingung.

“Kau fikirkan sendiri saja apa salahmu” jawabnya lalu menaiki tangga menuju dorm yeoja.

‘Sial. Apa yang sudah aku lakukan sehingga Ji Eun marah padaku?’ batinku.

 

-Jungkook POV-

Aku baru saja keluar dari ruangan test yang diberikan oleh Jimin seongsanim. Sungguh susah test kali ini. Bahkan aku tidak mengerti bagaimana caranya agar barang itu jatuh. Apa karena konsentrasiku kali ini? Tetapi namja brengsek itu keluar lebih dulu dariku. Dia mendahuluiku kali ini. Sial!

Aku duduk di lobby Soul School dan memainkan game kesukaanku, piano tiles. Permainanku berakhir ketika ada tangan seseorang yang mengganggu layarku dan mengangguku bermain.

“Apa maksudmu, Krys? Kau tahu.. aku kalah dan aku baru saja akan mencetak high score terbaru” kataku kesal.

“Aku ingin cerita denganmu. Tapi tidak di sini, Jungkook-ah” sahut Krystal.

“Baiklah. Aku ikut denganmu” jawabku.

Aku berjalan mengikuti Krystal hingga kami sampai di taman dimana terakhir aku ke sini bersama dengan Ji Eun. Ah yeoja itu benar – benar mengesalkan sekali. Aku duduk di bangku dan di sampingku adalah Krystal.

“Kau ingin bercerita apa eoh?” tanyaku.

“Aku bertemu dengan Taehyung sebelum test dilakukan. Aku mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Tapi dia sudah tidak mencintaku. Dia mencintai Ji Eun, Jungkook-ah. Hatiku sakit” Krystal mulai menitikkan air matanya.

“Hey sudahlah, lupakan saja namja brengsek itu. Kau bisa membuka hatimu untuk Mark. Kau tahu kan dia mencintaimu sejak dulu? Bahkan lebih dulu daripada Taehyung. Mengapa kau tidak bisa membuka hatimu untuknya?” tanyaku.

“Aku tidak bisa. Aku masih mencintai Taehyung” jawab Krystal.

“Kau ingin tahu sesuatu dariku tidak?” tawarku.

“Apa itu?” tanyanya penasaran sambil menghapus air matanya yang jatuh ke pipi.

“Aku mencintai Ji Eun. Aku tidak tahu mengapa aku bisa mencintainya. Aku ingin memilikinya, aku ingin merebutnya dari Taehyung. Segala macam cara akan aku lakukan untuk merebut Ji Eun dari Taehyung” jelasku.

“Kau sudah gila, Jungkook-ah” kata Krystal terkejut.

“Kau tahu kan aku belum pernah menyukai seorang yeoja?” tanyaku dan Krystal menganggukkan kepalanya.

“Aku akan melakukan apapun untuk merebut Ji Eun. Apapun! Bahkan jika aku harus menculiknya akan aku lakukan” jelasku.

“Kau tidak akan pernah bisa merebut Ji Eun dariku, Jeon” suara seseorang yang tiba – tiba hadir di antara aku dan Krystal sanggup membuatku naik darah.

“Mengapa kau selalu datang dan membuatku emosi, Tae?” tanyaku dengan menahan emosiku.

“Kau yang membuatku emosi lebih dulu, Jeon” Taehyung melangkah maju mendekat padaku.

Aku berdiri dari posisi dudukku dan berjalan menghampiri Taehyung. Kini kami sudah berhadapan dan mata kami saling memandang. Tatapan benci dari Taehyung dan tatapan benci dariku. Kami sama – sama mengeluarkan smirk kami. Pertarungan dimulai!

“YA! Ji Eun adalah milikku. Jangan pernah berani untuk menyentuhnya, Jeon!” dia memegang bajuku.

“Lepaskan, Tae. Lepaskan tangan busukmu dari bajuku” perintahku sambil menatapnya dengan tatapan benci.

“Haha, kau fikir aku tidak berani melawanmu, Jeon? Aku selalu mengalah padamu dan rela dipukuli olehmu karena aku masih menganggap kau adalah sahabatku” jelas Taehyung lalu melepaskan cengkramannya pada bajuku.

“Oh ya? Bukankah kau tidak bisa berkelahi, Taehyung-ssi?” kataku dengan sedikit penekanan pada kata berkelahi.

“Kau ingin membuktikannya?” tawarnya dengan senyum yang seakan – akan meremehkanku.

“Kita lihat saja siapa yang akan menang” kataku dengan senyuman menantangku.

“Ah, apa kau ingin adik sepupu tercintamu ini menjadi saksi kekalahanmu, Jeon?” Taehyung menunjuk Krystal yang masih diam.

“Krys… pergi dari sini. Ini urusan kami berdua” perintahku.

“Shireo” dia membantahku.

“Krys, kubilang pergi!” bentakku.

“AKU TIDAK MAU, JEON JUNGKOOK” bentak Krystal.

“Terserah padamu” aku mengacuhkan Krystal dan berkonsentrasi pada namja di hadapanku saat ini.

“Ku peringatkan kau, Jeon. Jangan pernah kau menyentuh Ji Eun. Dia adalah milikku” jelas Taehyung.

“Aku tidak akan membiarkan yeoja sepolos dia untuk bersamamu! Tidak akan pernah!” aku memukul pipi Taehyung hingga ia jatuh tersungkur.

“BRENGSEK KAU JEON!!” teriak Taehyung lalu dia memukul pipiku hingga bibirku mengeluarkan darah.

“Aw baby Taehyung kini sudah bisa berkelahi ternyata” aku meludahkan darah yang masuk ke dalam mulutku lalu aku memukul perut Taehyung dia memegang perutnya.

“Sudah kubilang, aku akan merebutnya darimu!” teriakku lalu memukul pipi Taehyung yang satu lagi.

“Tidak akan aku biarkan itu!” dia bangkit lalu memukul pipiku dua kali.

“Jangan berani menantangku, Jeon. Aku tidak selemah yang kau kira!” Taehyung mencengkram bajuku.

“Cih” kataku sambil meludah di wajah Taehyung.

“Hahaha apa kau takut padaku, Jeon?” tanyanya sambil membersihkan wajahnya lalu dia menendang perutku dan memukul punggungku. Aku jatuh tersungkur di tanah. Sial, aku kalah dari Taehyung.

‘Aku harus mengalahkan Taehyung’ batinku.

“Aku.. tidak… akan pernah takut pada namja brengsek seperti dirimu!” bantahku.

Aku bangkit dari posisiku. Sambil menahan sakit pada punggung dan perutku aku mendorong Taehyung hingga ia terjatuh dari tanah, aku menindihnya lalu memukul wajahnya berkali – kali. Hidungnya sudah berdarah dan bibirnya sudah berdarah.

“Jungkook-ah, hentikan. Aku tidak bisa membiarkan kalian seperti ini lagi” kata Krystal.

“Jangan ikut campur!” teriakku.

“JUNGKOOK!!” teriak Krystal lalu menarikku dari Taehyung.

“Urusanku belum selesai” jawabku.

“Hah ternyata hanya segini saja kemampuanmu, Jeon?” Taehyung meledekku.

“Jungkook, kajja kita pergi” Krystal menarik tanganku.

Aku melepaskan tangan Krystal padaku lalu berlari ke arah Taehyung dan memukul Taehyung sekali lagi. Dia terjatuh lagi namun dengan cepat dia bangkit lalu menghajarku balik. Dia memukul wajahku berkali – kali dan terakhir dia memukul perutku hingga aku terjatuh di depan Krystal.

“Taehyung, hentikan!” teriak Krystal.

“Kajja, kita obati lukamu” Krystal membantuku untuk berdiri dan berjalan.

 

-Author POV-

Taehyung kini masih berada di taman itu seorang diri. Dia duduk di tanah dan bersandar pada bangku. Dia tidak mengerti mengapa Jungkook ingin merebut Ji Eun darinya. Taehyung menghapus darah yang mengalir dari hidung dan sudut bibirnya. Kini dia sudah tidak tahu bagaimana bentuk wajahnya kali ini.

“Huahh segar sekali di sini” sahut Ji Eun yang baru keluar menuju halaman Soul School.

Ji Eun berjalan menuju taman yang berisikan blue rose, bunga favoritnya. Sambil bersenandung kecil Ji Eun melangkah dengan riang ke taman itu. Namun langkah Ji Eun terhenti ketika melihat sosok yang sangat dia kenali sedang duduk di tanah dan menjadikan bangku sebagai sandarannya.

“Taehyung?” tanyanya pada diri sendiri.

“Astaga itu Taehyung!” Ji Eun langsung berlari ke arah Taehyung.

“Astaga, mengapa wajahmu penuh luka, Taehyung-ah?!” kata Ji Eun panic setelah melihat wajah Taehyung yang penuh luka dan juga darah.

Tidak ada jawaban dari Taehyung. Pandangan Taehyung menatap blue rose di hadapannya dan fikirannya yang kosong membuat Ji Eun semakin panic.

“Jawab aku bodoh” wajah Ji Eun kini berada tepat di depan wajah Taehyung.

“Menyingkir dariku” kata Taehyung.

“Kenapa kau senang sekali merusak wajahmu, Tae?” Tanya Ji Eun khawatir.

“Bukan urusanmu” jawab Taehyung kesal.

“Biar aku tebak… umm kau habis berkelahi dengan Jungkook?” Tanya Ji Eun polos.

“Bisa kah kau diam?” pinta Taehyung.

“Baiklah. Aku akan pergi” kata Ji Eun lalu berdiri dan segera pergi dari taman itu.

BRUKK…

Ji Eun menoleh ke belakang setelah beberapa langkah keluar dari taman itu. Taehyung tertidur di tanah. Ji Eun sangat panic dan langsung berlari ke arah Taehyung. Sesampainya Ji Eun pada Taehyung. Ji Eun langsung menggoyangkan tubuh Taehyung.

“Taehyung?” panggil Ji Eun namun tidak ada jawaban dari Taehyung.

“Astaga Taehyung, kau kenapa?” Ji Eun menggoyangkan badan Taehyung.

“Tae, berbicaralah kumohon” namun tetap tidak ada jawaban dari Taehyung.

“Taehyung…?” panggil Ji Eun lagi.

“Tae, jangan mati. Jangan tinggalkan aku” Ji Eun mulai menitikkan air matanya.

“Aku tidak mati bodoh” jawab Taehyung tiba – tiba.

“Kau menyebalkan Tae” kata Ji Eun kesal.

“Kau menangisiku? Lucu sekali” kata Taehyung.

“Lucu apanya? Aku panic kau tiba – tiba ambruk seperti itu” kata Ji Eun sambil menghapus air matanya.

“Hahaha mianhae. Badanku sudah tidak kuat lagi. Semuanya sakit, terutama di sini” kata Taehyung sambil memegang dadanya.

“Wae? Apa tadi kau di pukul Jungkook tepat di sini?” Tanya Ji Eun sambil memegang dada Taehyung.

“Bukan bodoh. Maksudku, hatiku yang sakit” kata Taehyung lalu menggenggam tangan Ji Eun di dadanya.

Cukup lama Taehyung dan Ji Eun menikmati momen ini hingga mereka tidak sadar bahwa ada yang mengamati mereka dari kejauhan saat ini.

“Kajja kita obati lukamu. Apakah kau sanggup berjalan?” Tanya Ji Eun sambil membantu Taehyung berdiri.

“Aku bisa” jawab Taehyung lalu tersenyum.

Taehyung dan Ji Eun kini memasuki lobby dan berjalan menaiki tangga untuk mencapai ruang kesehatan lagi. Sepertinya ruang kesehatan Soul School adalah tempat favorit Taehyung. Karena setiap hari pasti Taehyung mampir ke ruang kesehatan ini karena hasil perkelahiannya dengan Jungkook, sahabatnya sendiri. Ah sepertinya mereka sudah tidak bersahabat lagi.

Ji Eun mengambil kapas, alcohol, dan plester untuk mengobati Taehyung. Dengan hati – hati Ji Eun membersihkan luka Taehyung. Mulai dari bibir, pipi, dan pelipis Taehyung.

“Sepertinya ruang kesehatan ini menyukaimu, Tae” sahut Ji Eun di sela – sela kegiatannya.

“Sepertinya perkataanmu benar, Ji Eun-ah” kata Taehyung menyetujui.

“Berhentilah bertengkar dengan Jungkook, aku tidak suka melihat kau terluka seperti ini” pinta Ji Eun.

“Maaf, tapi aku tidak bisa menahan emosiku jika Jungkook mengatakan hal seperti tadi” jelas Taehyung.

“Argh” pekik Taehyung.

“Ah mianhae” Ji Eun melanjutkan lagi membersihkan luka Taehyung.

“Memangnya Jungkook mengatakan hal apa?” Tanya Ji Eun.

“Dia mengatakan bahwa dia akan merebutmu dariku” jawab Taehyung.

Ji Eun menghentikan akivitasnya mengobati luka Taehyung dan terdiam sejenak. Lalu mensejajarkan wajahnya dengan wajah Taehyung lalu mendekatkan wajahnya pada Taehyung hingga hidun mereka bersentuhan.

“Lihat aku baik – baik, Tae. Aku tidak menyukai Jungkook ataupun mencintainya saja tidak. Aku hanya mencintai namja bodoh di depanku ini” kata Ji Eun setelah menjauhkan wajahnya dari Taehyung.

“Berhenti menggodaku, Ji Eun-ah jika kau tidak ingin aku cium” kata Taehyung.

“Hey, tatap aku. Tidak ada yang menggantikan posisimu di hatiku, Tae” kata Ji Eun lalu melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.

Ji Eun menempelkan plester pada pelipis Taehyung lalu membersihkan perlengkapan yang sudah dia pakai. Membuang kapas yang telah terpakai dan menaruh kembali alcohol berserta peralatan lain ke tempat semula.

“Ji Eun-ah” panggil Taehyung.

“Ne?” Ji Eun menghampiri Taehyung.

“Bagaimana jika nanti ada namja yang lebih baik dariku? Apa kau akan meninggalkanku?” Tanya Taehyung dengan tatapan intensnya pada Ji Eun.

“Mengapa kau bertanya hal bodoh seperti itu?” Tanya Ji Eun balik.

“Jawab, Ji Eun-ah” perintah Taehyung.

“Tidak akan Tae. Aku mencintaimu” jawab Ji Eun.

“Sungguh mencintaiku?” Tanya Taehyung lagi.

“Sungguh – sungguh mencintaimu, Tae” jawab Ji Eun.

Taehyung tersenyum lebar dan menarik Ji Eun ke dalam pelukannya. Ia memeluk gadis itu dengan erat seakan – akan tidak akan melepaskan gadis yang berada di dalam pelukannya ini. Sungguh Taehyung merasa sangat bahagia karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan dengan yeoja yang berada di pelukannya ini.

“Ji Eun-ah, aku ingin bicarakan sesuatu padamu. Hal yang serius” sahut Taehyung kemudian melapaskan yeoja itu dari pelukannya.

“Eoh, apa itu? Aku akan mendengakannya” jawab Ji Eun sambil tersenyum dan menampilkan lesung pipinya.

“Would you be mine?” Tanya Taehyung sambil menggenggam kedua tangan Ji Eun.

“Aku tahu ini terlalu cepat untuk mengatakannya padamu, tapi aku sudah tidak bisa menahan ini lebih lama. Aku selalu memikirkannya setiap malam. Aku tidak ingin kehilanganmu, Ji Eun-ah. Aku sungguh – sungguh mencintaimu. Aku sempat takut untuk menyatakan perasaanku padamu. Karena aku takut kau akan menolakku” jelas Taehyung.

“So, be mine please, would you?” Tanya Taehyung lagi.

“Hmmm” Ji Eun berfikir.

“Hey, ayolah. Jangan membuatku menunggu jawabanmu. Berikan aku kepastian” pinta Taehyung.

“Baiklah aku akan menjawabnya” kata Ji Eun.

“Yes, I would, Tae. Aku mencintaimu” lanjut Ji Eun.

“Sungguh?” Tanya Taehyung tidak percaya.

“Ne, sungguh!” jawab Ji Eun yang langsung memeluk Taehyung.

Ji Eun tersenyum tiada hentinya, begitupun dengan Taehyung. Mereka sangat bahagia kali ini. Cinta mereka tidak bertepuk sebelah tangan. Cinta mereka menyatu. Taehyung sangat bahagia karena akhirnya yeoja yang membuatnya penasaran sejak awal bertemu dapat dimilikinya.

“Berarti aku sudah bisa memiliki hak untuk ini?” Tanya Taehyung sambil menunjuk bibir Ji Eun.

“Tidak. Kau tidak punya hak untuk ini” jawab Ji Eun sambil memeletkan lidahnya pada Taehyung.

“Aish.. jangan menggodaku. Aku sudah memperingatkanmu Min Ji Eun” kata Taehyung.

Dengan cepat Taehyung mendorong Ji Eun pada dinding yang berada di belakang Ji Eun. Taehyung mengunci Ji Eun sehingga Ji Eun tidak dapat bergerak kemana pun atau bagaimana pun.

Taehyung mendekatkan wajahnya pada wajah Ji Eun. Hidung mereka bersentuhan. Ji Eun memejamkan matanya. Taehyung mencium kening Ji Eun. Salah satu bentuk kasih sayang yang tulus dari Taehyung untuk Ji Eun.

“Mengapa kau menutup matamu, bodoh?” Tanya Taehyung.

“Ah? Eoh? Umhh tidak apa tadi mataku seperti kemasukan sesuatu” Ji Eun mengelak.

“Kau ingin aku menciummu di sini?” Tanya Taehyung sambil menunjuk bibir Ji Eun.

“Tidak. Kau tidak punya hak untuk ini” bantah Ji Eun.

“Benarkah?” Tanya Taehyung sambil menyunggingkan bibirnya. Dia mengeluarkan smirk nya.

Dengan cepat Taehyung menempelkan bibirnya pada bibir Ji Eun. Ji Eun terkejut dengan sikap Taehyung yang seperti ini. Taehyung memejamkan matanya, begitu pun dengan Ji Eun. Mereka berciuman. Ya berciuman untuk pertama kalinya. Selama ini Taehyung hanya menggoda Ji Eun dengan hanya menempelkan bibirnya saja pada bibir Ji Eun. Namun sekarang berbeda, ciuman kali ini merupakan keinginan dari keduanya, bukan dari salah satu pihak.

“Bagaimana?” Tanya Taehyung begitu melepaskan ciumannya.

“Aku mendapatkannya kan?” kata Taehyung sambil mengedipkan salah satu matanya (wink).

“Kau memaksaku Tae” jawab Ji Eun.

“Tapi kau menikmatinya” kata Taehyung dengan smirk andalannya itu.

“Pervert namja!” teriak Ji Eun.

“Hahaha maafkan aku. Aku tidak akan menciummu lagi di sini” kata Taehyung sambil menunjuk bibir Ji Eun.

‘Sebuah panggilan untuk calon siswa Soul School yang bernama Kim Taehyung… diharapkan untuk menemui Kepala Sekolah di ruangannya sekarang juga’

 

TO BE CONTINUE…

Hallo~ author balik lagi nih hahaha

Gimana chapter kali ini? Rada hot ya akhirannya? Maaf ya huhu

Oke deh, sekarang tinggalin komentar atau like kalian ya sebagai bentuk apresiasi kalian hehe

Soalnya itu akan sangat membantu author untuk terus berkarya heeh

Kamsahamnida, reader-nim :*

8 responses to “Soul School Chapter 13

  1. Pingback: Soul School Chapter 14 END | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s