Please, Hold Me Tight Chapter 3A

poster ff alle

By Sparkdey

Please, Hold Me Tight Chapter 3A

Jeon Jungkook BTS || Han Hara (OC) || Park Jimin BTS

PG – 15

AU || Fluff || Romance || Friendship

Chapter 1 || Chapter 2 ||

Disclaimer : FF ini pure ide author dengan beberapa bantuan dari teman – teman. Jungkook dan Jimin adalah milik orang tua mereka, Big Hit Entertainment, dan ARMYs. Don’t be plagiator!! Please respect~

Note : FF ini merupakan requestan dari teman ARMY, jadi tolong dibaca dan berikan apresiasi berupa komentar atau like nya ya hehe, kamsahamnida^^

 

Cerita sebelumnya…

Aku masuk ke dalam mobilku dan melajukan mobilku menuju tempat permainan ski terdekat. Aku berjalan memasuki tempat itu dan membayar biayanya. Aku masuk ke area permainan ski. Cukup ramai di sini. Aku mulai berjalan ke atas dan melakukan sebuah luncuran ke bawah.

“Yuhuuuu~” teriakku yang asik sendiri.

“Ya ya ya!” aku tidak dapat mengontrol kecepatanku begitu sampai di bawah.

Aku menabrak seorang yeoja yang sedang berlatih ski itu. Aku merasa tidak enak padanya. Aku membantunya berdiri.

“Joesonghamnida Agassi. Aku benar – benar minta maaf. Aku tidak dapat mengontrol kecepatanku” kataku sambil membungkukkan badanku lalu pergi meninggalkannya.

“Hara-ya! Kau tidak apa – apa?” teriak seseorang dari depanku pada yeoja di belakangku.

“Jim! Nan gwenchana!” balasnya.

‘Hara?’ batinku.

-Jungkook POV-

‘Hara?’ batinku.

Nama itu tidak asing bagiku, sepertinya aku pernah melihat nama itu atau mendengar nama itu. Namun aku lupa dimana.

Aku melanjutkan kegiatanku dengan bermain ski sendirian. Jin hyung menyebalkan, dia bilang dia sedang sibuk dan tidak bisa menemaniku bermain ski. Dia tidak tahu bahwa aku sedang kesepian. Tiba – tiba ponselku bergetar.

From : Hoseok

Eodiseo? Kita harus bertemu…

Ada apa dengan isi pesan yang Hoseok kirimkan padaku? Apa dia sedang mendapatkan masalah?

To : Hoseok

Aku sedang bermain ski. Baiklah kau ingin kita bertemu dimana?

SEND…

Ponselku bergetar lagi.

From : Hoseok

Kau yang menentukannya saja.

Aku langsung membalas pesan Hoseok.

To : Hoseok

Baiklah, di kedai es krim Namsan. Aku akan ke sana 10 menit lagi.

SEND…

Aku menyudahi permainan ski ku dan keluar dari arena ski. Aku menuju parkiran mobil dan ketika aku ingin memasuki mobilku, aku melihat seorang yeoja yang pernah bertemu denganku di kedai es krim. Sepertinya namanya adalah Han Hara. Apakah dia yang aku tabrak tadi di arena ski?

Aku melajukan mobilku menuju kedai es krim Namsan. Aku memarkirkan mobilku dan berjalan memasuki kedai itu. Seperti biasa aku di sambut oleh karyawan di sini, lalu aku berjalan menuju spot favoritku.

Aku belum sempat memesan es krim karena aku harus menunggu Hoseok untuk sampai di sini terlebih dahulu. Aku melihat dua orang, yeoja dan namja yang baru saja masuk ke kedai lalu memilih tempat duduk di depanku. Yeoja itu seperti mengenaliku, karena dia tersenyum padaku saat ini.

‘Ada apa dengannya? Apakah dia gila?’ batinku.

“Es krim untukmu. Anggap saja aku mentraktirmu hari ini. Kamsahamnida untuk traktiranmu kemarin” kata yeoja itu.

Aku seperti mengenalnya. Apakah dia Han Hara?

“Ah ye, kamsahamnida” jawabku singkat sambil menganggukkan kepalaku.

Dia kembali ke tempat duduknya di meja depanku ini. Ah jadi tujuan dia memberikan aku es krim ini karena untuk membayar es krimnya yang ku bayarkan tempo hari? Bagaimana dia bisa tahu jika aku menyukai es krim coklat?

“Sudah menunggu lama eoh?” Tanya seseorang yang baru saja datang.

“Ani, Hoseok-ah. Kau ingin membicarakan hal apa padaku?” tanyaku.

“Ah silahkan duduk” aku mempersilahkannya untuk duduk.

“Jadwal perfom kita di majukan menjadi lusa. Kita harus latihan extra” kata Hoseok.

“Lalu mengapa kau repot – repot untuk menemuiku di sini? Kau bisa mengirimkan pesan padaku” tanyaku lagi.

“Aku tidak mengatakan hal ini di pesan. Bahwa nanti di show underground akan ada produser dari sebuah entertainment. Aku tidak tahu entertainment darimana, tapi kita harus mengatur sebuah strategi” jelas Hoseok.

“Strategi apa maksudmu?” tanyaku heran.

“Ini kesempatan kita, Jungkook-ah. Kesempatan untuk menjadi lebih terkenal lagi. Hey, kita bisa menjadi trainee di sana” Hoseok sedang berusaha membujukku untuk mengikuti strateginya.

“Baiklah jelaskan padaku, strategi apa yang akan kita jalani” pintaku.

Hoseok menjelaskan semua strateginya padaku. Aku hanya mendengarkannya namun tidak terlalu berkonsentrasi karena yeoja di meja depanku ini. Yeoja itu sedang asik bercanda bahkan tertawa dengan pacarnya itu. Sepertinya yeoja itu periang. Namun aku benar – benar masih heran dengan yeoja itu, karena dia satu sekolah denganku namun aku tidak pernah melihatnya.

“Eotte?” Tanya Hoseok.

“Ah aku setuju. Aku ikut denganmu” jawabku.

“Deal?” Tanya Hoseok lagi.

“Deal” kataku sambil tersenyum.

Aku melanjutkan makan es krimku yang di berikan oleh yeoja itu.

“Hoseok-ah, pesanlah es krim yang kau mau, aku mentraktirmu” kataku sambil menyerahkan kartu kreditku.

“Gomawo, Jungkook-ah” dia langsung tersenyum senang lalu ke kasir untuk memesan es krim itu.

Yeoja itu beserta dengan namjachingu nya berjalan keluar. Mereka sudah selesai makan di kedai ini. Aku mengamati mereka hingga mereka menghilang dari pandanganku. Aku langsung teringat dengan kertas yang di berikan oleh yeoja itu. Tertera namanya dan nomor ponselnya di sana.

‘Han Hara’ batinku.

Aku mengetikkan nomor ponsel yeoja yang bernama Hara ini di ponselku lalu menyimpannya. Aku mengetikkan sebuah pesan untuk yeoja itu.

To : Han Hara

Terima kasih untuk es krimnya.

SEND…

Tidak berapa lama ponselku bergetar. Tertanda ada sebuah pesan masuk. Aku langsung mengambil ponselku dan mengeceknya.

From : Han Hara

Its okay. Ah bolehkah aku tahu namamu?

Aku tersenyum melihat isi pesan itu. Sudah 3 kali bertemu dan dia baru saja menanyakan namaku?

“Mengapa kau tersenyum sendiri melihat ponselmu?” Tanya Hoseok.

“Ani. Aku hanya heran pada seorang yeoja yang sudah bertemu denganku 3 kali, namun baru kali ini dia menanyakan namaku. Aneh bukan?” jelasku.

“Mungkin dia baru penasaran denganmu” tebak Hoseok.

“Atau karena dia sudah punya pacar lalu dia menunda untuk menanyakan namaku?” tanyaku lagi.

“Mungkin saja. Dia menghargai perasaan pacarnya kalau seperti itu kejadiannya” kata Hoseok.

To : Han Hara

Jeon Jungkook imnida.

SEND…

 

-Jimin POV-

Aku mengantarkan Hara pulang ke rumahnya. Dia belum ada istirahat semenjak kepulangannya ke Korea dari Indonesia. Dia tersenyum sendiri saat melihat ponselnya. Aku menjadi penasaran apa yang membuatnya tersenyum senang seperti itu.

“Waeyo? Kau seperti habis dapat lotre. Senang sekali kelihatannya” tanyaku.

“Ah aniyo. Aku mendapatkan pesan dari seorang namja yang waktu itu mentraktirku es krim di kedai karena aku lupa membawa dompet saat itu” jelas Hara.

“Ahhh~ namja yang tadi kau berikan es krim coklat eoh? Yang duduk di meja belakang kita?” tanyaku lagi.

“Ne, geurae. Namanya Jungkook. Jeon Jungkook” jawab Hara.

‘Jeon Jungkook?’ batinku.

Aku berhenti tepat di depan rumah Hara. Aku memarkirkan mobilku di depan rumah Hara lalu ikut Hara masuk ke dalam rumahnya.

“Hara-ya, welcome back to Seoul. Aku punya sesuatu untukmu” kataku begitu kami sampai di halaman belakang rumah Hara.

“Mwo? Apa itu Jim?” Tanya Hara.

Aku mengeluarkan sesuatu dari kantung celanaku. Ya ini merupakan hadiah untuk Hara, atau mungkin juga mewakili perasaanku padanya? Ah semoga saja dia suka.

“Aku ingin memberikanmu ini” kataku sambil menunjukkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk bunga.

“Jim… kau serius ingin memberikanku kalung ini?” Tanya Hara terkejut melihat kalung ini.

“Aku serius, Hara-ya” jawabku sambil tersenyum padanya.

“Wae? Kau tidak suka? Aku bisa menukarkannya dengan yang lain” lanjutku.

“Jim… ini mahal. Aku tahu itu” sahut Hara.

“Itu tidak penting. Aku ingin kau menerimanya” aku memaksanya.

“Jim…” panggilnya lirih.

“Aku tidak bisa menerima ini. Mianhae” jawab Hara.

“Tapi, Hara-ya…” kataku.

“Kau bisa memberikan itu pada Sera, jika kau mau” kata Hara lalu beranjak pergi meninggalkanku.

Dengan cepat aku menahan kepergian Hara. Aku membalikkan badannya sehingga aku bisa menatapnya.

“Hara-ya, tidak bisakah kau menganggapku dan melihatku sebagai seorang pria? aku membeli kalung ini untukmu, Han Hara, bukan untuk orang lain” jelasku.

“Apa maksudmu Jim?” tanyanya heran.

Aku bernafas secara kasar lalu menghirup udara dalam – dalam dan membuangnya perlahan.

“Aku mencintaimu, Han Hara. Tidak bisakah kau melihat itu?” tanyaku sambil memegang bahunya.

“Jim… aku juga mencintaimu…” jawabnya.

“Tapi hanya sebagai sahabatku saja, tidak lebih dari itu. Aku senang bersamamu, aku menyukaimu, aku menyayangimu, tapi aku takut jika suatu saat nanti kita akan berpisah jika kita menjalani hubungan yang lebih dari ini. Aku tidak menginginkan itu, Jim. Aku tidak ingin berpisah darimu. Maka dari itu aku membuang perasaanku yang berlebih padamu, aku hanya menganggapmu sebagai sahabatku yang selalu ada untukku. Maafkan aku, Jim” dia memelukku lalu menangis di dadaku.

“Hara, jebal…” kataku lirih.

“Jim, aku tidak bisa. Maafkan aku” kata Hara lalu melepaskan pelukannya padaku.

“Aku mengerti, aku tidak akan memaksamu, Hara-ya. Aku memberikan ini padamu. Terserah padamu, kau ingin memakainya atau membuangnya. Aku pulang” kataku setelah memberikan kalung itu pada Hara.

Aku keluar dari rumah Hara lalu melajukan mobilku menuju arah pulang rumahku. Setelah berfikir cukup lama, aku tidak akan langsung pulang, melainkan aku akan mampir ke sebuah club.

Aku memarkirkan mobilku di depan club itu lalu keluar dan melempar kunciku pada petugas yang berjaga di depan club ini. Lalu aku berjalan masuk dan duduk di depan bartender yang sudah sangat mengenalku ini.

“Kali ini kau kenapa?” tanyanya begitu aku duduk di depannya.

“Nan gwenchana” jawabku.

“Vodka? Bourbon?” tanyanya.

“Vodka, please” jawabku.

Dia adalah temanku yang bekerja di sini sebagai pekerjaan sampingannya. Dia adalah Kim Namjoon. Kami satu sekolah namun berbeda kelas denganku. Aku berada satu kelas dengan Hara dan Sera. Ah mengingat tentang Hara, aku merasakan sesuatu yang sangat sakit di hatiku.

“Ada apa denganmu?” Tanya Namjoon.

“Sudah kubilang, aku ini tidak apa – apa” aku berbohong.

“Hara?” tebaknya namun aku diam saja.

“Baiklah aku mengerti. Ingat, kau jangan sampai mabuk!” perintahnya.

Aku meneguk vodka yang ada di hadapanku saat ini. Rasanya seperti bebanku menjadi hilang walaupun hanya sejenak saja. Aku mengambil ponselku dan langsung menelfon seseorang.

“Yeoboseyo?” sapanya di sebrang sana.

“Taehyung-ah, bisa kah kau menemaniku di club hari ini?” tanyaku.

“Aku sedang pergi bersama adikku” jawabnya.

“Ajaklah adikmu ikut bersamamu” pintaku.

“YA! Apa kau gila huh? Aku tidak akan membiarkannya pergi ke club! Dia adikku satu – satunya, Jimin-ah” bantahnya.

“Arraseo, baiklah ku tunggu kau di sini” kataku lalu memutuskan telfonnya.

Aku kembali meneguk vodka yang sudah di berikan lagi oleh Namjoon. Ini sudah gelas ketiga yang ku teguk. Aku menunggu kehadiran Taehyung di sini.

Tak berapa lama aku menunggu, sosok yang aku tunggu sudah datang. Dia hanya sendirian, kemana Hana? Aku sudah mulai mabuk namun aku tidak ingin berhenti minum. Aku ingin menghilangkan beban yang ada di fikiranku sekarang ini. Aku butuh seseorang untuk mendengarkan ceritaku.

“Ada apa denganmu huh?!” bentak Taehyung begitu sampai di club ini dan duduk di sampingku.

“Kau sudah hik datang rupanya” kataku di selingi cegukan akibat aku sudah mulai mabuk karena minum.

“Ya ya yaa! Kau sudah mulai mabuk, Jimin-ah! Berhenti minum dan ceritakan padaku apa yang terjadi padamu” pinta Taehyung.

“Hara hik… dia menolakku, Taehyung-ah” kataku lalu mengambil gelasku yang masih berisi vodka itu.

“Jangan minum lagi, Jimin-ah. Kau sudah menyatakan perasaanmu padanya huh?” tanyanya sambil menahan gelas berisi vodka itu.

“Sudah dan dia hik… dia menolakku dengan hik alasan tidak ingin kehilanganku” jawabku yang semakin pusing.

“Kau sudah mabuk. Kajja kita pulang, dimana mobilmu?” Tanya Taehyung.

“Parkiran. Kunciku berada di pegawai di luar” jawabku.

“Namjoon-ah, aku harus mengantar Jimin pulang dulu. Sampai bertemu besok di sekolah” sahut Taehyung.

Taehyung membantuku berjalan dan masuk ke dalam mobil. Aku sudah tidak sanggup untuk menyetir karena aku sudah dalam keadaan yang mabuk. Akhirnya Taehyung menggangtikanku menyetir.

“Jimin-ah, dimana rumahmu?” Tanya Taehyung namun aku sudah tidak sanggup lagi untuk menjawabnya.

‘Hara… waeyo? Kenapa kau menolakku?’ batinku.

 

-Author POV-

Taehyung menunggu jawaban dari Jimin untuk memberitahukan dimana letak rumahnya. Mereka memang teman satu sekolah bahkan satu kelas, sering bermain bersama dan pergi ke club bersama namun di antara mereka tidak tahu dimana rumah teman – temannya.

Taehyung tidak memiliki pilihan lain selain membawa Jimin ikut pulang bersamanya ke rumah. Jimin terlihat seperti sedang tertidur namun mengeluarkan racauan yang tidak jelas dan memanggil nama Hara.

Taehyung sudah sampai di rumahnya, dia memarkirkan mobil Jimin di garasi rumahnya, bersebelahan dengan mobil miliknya. Taehyung menekan bel rumahnya dan di sambut oleh adik kesayangannya.

“Oppa?” Tanya Hana.

“Mengapa kau belum beranjak tidur huh?” Tanya Taehyung.

“Aku menunggumu oppa. Kau tidak membalas pesanku dan eomma khawatir, jadi aku menunggumu pulang” jelas Hana.

“Ah sekarang aku butuh bantuanmu untuk membawa Jimin ke kamarku” perintah Taehyung.

“Jimin? Yang wakil organisasi itu?” Tanya Hana heran.

“Ne, kau pasti mengenalnya. Dia satu organisasi denganmu kan?” Taehyung membuka pintu mobil dan membawa Jimin keluar dari mobil.

“Aahhh! Dia? Ne, dia adalah atasanku oppa” jawab Hana.

“Cepat bantu aku. Dia mabuk sekali hari ini” perintah Taehyung.

Hana membantu Taehyung membawa Jimin ke kamar Taehyung. Hana menidurkan Jimin di ranjang Taehyung lalu membuka sepatu serta kaos kakinya. Setelah itu Hana keluar dari kamar Taehyung dan beranjak ke kamarnya.

“Hana-ya, hari ini oppa tidur di kamarmu ne?” pinta Taehyung.

“YA! Oppa! Lalu aku tidur dimana eoh?” Tanya Hana.

“Bersamaku di sini. Atau kau tidur di kamar eomma dan appa” jawab Taehyung.

“Shireo. Aku tidak ingin membangunkan eomma. Eomma pasti sudah tertidur lelap” kata Hana.

“Hey, ayolah biarkan oppa tidur di kamarmu hari ini saja. Oppa tidak ingin membangunkan Jimin” Taehyung sedikit memaksa adiknya itu.

“Baiklah. Tapi oppa tidur di bawah ne? aku hanya memberikan bed cover dan bantal untukmu” kata Hana mengalah pada kakaknya itu.

“Baiklah” jawab Taehyung.

“Oppa jangan macam – macam padaku!” kata Hana ketus.

“Iya nona Kim” jawab Taehyung sambil mengacak rambut adiknya pelan.

Taehyung merebahkan bed cover di lantai lalu menaruh bantal di atasnya dan merebahkan tubuhnya. Dia merelakan kamarnya di pakai oleh Jimin. Taehyung menutup matanya lalu tidur dengan lelapnya.

Jimin membuka matanya perlahan dan mengerjapkannya. Dia melihat ke sekeliling ruangan ini dan ini bukan di kamarnya. Dia merasa bingung dengan keberadaannya saat ini. Jimin bangun dari tidurnya lalu duduk di tepi ranjang.

“Eoh, Jim, kau sudah bangun?” Tanya seseorang masuk ke kamar itu.

“Huh? Hana-ya?” Tanya Jimin heran.

“Sedang apa kau di sini?” lanjut Jimin.

“Ini rumahku, Jim. Aku ingin mengambil seragam oppa ne. kau mandi lah dan bersiap. Pakailah seragam oppa lalu kita berangkat” jelas Hana.

“Chakkaman… oppa? Kau punya seorang kakak laki – laki?” Tanya Jimin heran.

“HANA-YA!! DIMANA SERAGAMKUUU?” teriak seseorang dari bawah.

“NE OPPA SEBENTAR” teriak Hana.

“Dari suaranya saja kau pasti sudah tahu siapa oppa ku kan? Annyeong Jim!” sapa Hana lalu pergi keluar dari kamar itu.

Jimin berdiri lalu berjalan masuk ke kamar mandi dan kemudian bersiap. Dia memakai seragam sekolah milik Taehyung. Setelah selesai, Jimin turun ke bawah untuk menghampiri mereka.

“Annyeong” sapa Jimin begitu turun dari tangga.

“Jimin-ah, kajja kita sarapan bersama” ajak Taehyung.

Jimin berjalan mendekat meja makan lalu duduk di samping Hana. Jimin terdiam sejenak dan berfikir kembali mengapa dia berada di rumah Taehyung dan Hana saat ini. Seingatnya dia berada di club semalam dan setelah itu dia tidak sadarkan diri. Jimin memegang kepalanya yang masih sedikit terasa pusing.

“Jim, gwenchana?” Tanya Hana dan Jimin hanya menganggukkan kepalanya.

Dalam situasi seperti ini, sekarang Jimin yakin bahwa Taehyung memiliki seorang adik perempuan dan Hana memiliki seorang kakak laki – laki. Selama Taehyung dan Jimin berteman, Jimin tidak pernah tahu bahwa Taehyung memiliki seorang adik. Dan selama berada di organisasi, Hana termasuk anggota yang pendiam dan tidak banyak omong.

“Kalian benar – benar adik kakak?” Tanya Jimin memecah suasana.

“Benar. Tolong kau rahasiakan hal ini dari teman – teman ne” pinta Taehyung.

“Wae? Kenapa kalian merahasiakannya?” Tanya Jimin.

“Itu…” jawab Hana.

“Jika kalian tidak memberikan alasan yang kuat aku bisa saja menyebarkan hal ini ke teman – teman” jawab Jimin.

“Baiklah akan aku jelaskan. Aku dan Hana memang adik dan kakak, kami berbeda 2 tahun. Aku hanya tidak ingin teman – teman tahu bahwa kami adik dan kakak karena aku tidak ingin teman – temanku mendekatinya lalu mempermainkannya. Jadi selama di sekolah kami hanya seperti hoobae dan sunbae. Jika ada orang yang mengetahui hal ini, aku takut kejadian yang dahulu terulang lagi padanya” jelas Taehyung.

“Kejadian apa?” Tanya Jimin semakin penasaran.

“OPPA!” bentak Hana.

“Mian, Jimin-ah, aku tidak bisa memberi tahu hal ini padamu” jawab Taehyung.

“Aku berangkat duluan ne, oppa jangan lupa kunci pintu” kata Hana lalu mencium pipi Taehyung.

“Annyeong oppa, annyeong Jim” sapa Hana.

“Hana-ya, chakkaman” sahut Jimin.

“Wae?” Tanya Hana.

“Kau naik apa ke sekolah?” Tanya Jimin.

“Bus” jawab Hana.

“Sudahlah, nanti aku terlambat! Annyeong” teriak Hana.

“Berangkatlah bersamaku” kata Jimin.

Hana menghentikan langkahnya lalu terdiam di tempatnya sekarang ini. Taehyung yang melihat kejadian ini hanya bingung dengan sikap Jimin yang begitu tiba – tiba mengajak adiknya untuk berangkat bersama ke sekolah. Dengan cepat Jimin mengambil kunci mobilnya dan mengenggam tangan Hana lalu membukakan pintu mobil untuk Hana. Hana bingung namun mengikuti saja keinginan Jimin kali ini.

“YA! Kalian meninggalkanku huh?” teriak Taehyung yang masih mengunci pintu rumahnya.

“Bawa mobilmu sendiri, Taehyung-ah” kata Jimin lalu melajukan mobilnya menuju sekolahan.

Di dalam mobil suasana hening. Tidak ada lagu yang di putar pada mobil Jimin. Hana memandang keluar jendela dan Jimin berkonsentrasi menyetir.

“Jim” panggil Hana.

“Hmm” jawab Jimin.

“Mengapa kau mengajakku berangkat sekolah bersama?” Tanya Hana.

“Agar kau cepat sampai di sekolah” jawab Jimin.

“Aku masih bisa naik bus, Jim” kata Hana.

“Selama kau bisa cepat sampai sekolah dengan naik mobil bersamaku, mengapa tidak?” jawab Jimin ketus.

“Jim… maaf jika pertanyaanku membuatmu marah. Tapi lebih baik aku turun di sini saja. Di sini sudah dekat dengan sekolah. Gomawo, Jim” kata Hana lalu turun dari mobil Jimin.

“YA! Kim Hana mau kemana kau?!” teriak Jimin melalui jendela mobilnya yang di buka.

 

TO BE CONTINUE…

Hai gimana dengan chapter 3A nya nih? Hahaha akhirannya ga ngegantung ya? Eh apa gimana? Hahaha

Oke deh jangan lupa tinggalin like atau komentarnya ya sebagai bentuk apresiasi.

Ada yang kepo dengan cerita selanjutnya dan apa kejadian masa lalu Taehyung dan Hana?

Kamsahamida, reader-nim :*

12 responses to “Please, Hold Me Tight Chapter 3A

  1. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 3B – FFindo·

  2. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 4 – FFindo·

  3. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 5 – FFindo·

  4. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 6 | FFindo·

  5. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 7A | FFindo·

  6. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 7B | FFindo·

  7. Kadayyy… baru baca sampe part ini *padahal udh sampe part 7😂* suka plotnya kaa…pengennya sih hara ama jimin..hmmm

  8. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 8 | FFindo·

  9. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 9 – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s