[Sequel of MWAG] Tian Mi Mi (Chapter 7)

1x

Title     : Tian Mi Mi

Genre  : AU, Romance, Marriage Life

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : 17 +

Length : Multi chapter

Auhtor : Chang Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : Zesavanna @saykoreanfanfiction

***

Luhan sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari bangunan megah yang menjulang dengan indah di hadapannya. Sebuah rumah yang sangat megah, sangat mewah, dan Luhan bisa menjamin rumah ini pasti sangat indah. Meskipun tidak lama berada di Kanada dulu, tapi memiliki rumah seperti ini di Negara maju terbilang sulit. Yeah…Luhan akhirnya tahu mengapa ibu mertuanya memutuskan untuk berpisah ketika tahu perusahaannya bangkrut. Meskipun tidak bisa dibenarkan, tapi menerima kenyataan memang tak semudah itu. Luhan bisa membayangkan kehidupan mewah seperti apa yang harus ditarik paksa dari kehidupan ibu mertuanya.

“Dulu kau tinggal disini?” tanya Luhan masih terpana dengan bangunan bercat putih di hadapannya ini.

Ariel yang berdiri di samping Luhan akhirnya ikut memandangi rumah lamanya yang benar-benar tak pernah lagi ia pijak semenjak ia pergi ke Cina. Dan dengan sangat jelas, Ariel bisa merasakan gemuruh kuat di dalam dadanya.

“Tidak. Ini rumah liburan kami. Dad sengaja membangunnya untuk liburan musim panas kami, makanya ia membangunnya di pinggiran kota Toronto,” jelas Ariel sambil berusaha menahan sesak di dadanya. Yeah…perpisahan di antara keluarganya sudah berlalu sejak bertahun-tahun yang lalu, tapi Ariel tidak tahu menahan kenangan itu agar tidak berputar di kepalanya adalah hal yang sangat sulit.

Luhan yang menyadariadanya perubahan dalam suara Ariel, buru-buru merangkul pundak Ariel, “Kalian keluarga yang bahagia…”

Ariel terkekeh pelan dan menyeka air matanya yang dengan kurang ajarnya justru menyentuh kulit pipinya, “Bahagia itu tak terdefinisi, ya…” kemudian Ariel pun langsung membawa tasnya dan menyeret kakinya untuk melangkah mendekati gerbang yang senada dengan warna dinding bangunan di hadapannya.

“Sekarang hanya Clinton dan kekasihnya yang tinggal di sini. Dad hanya bisa menyisakan rumah ini. Dan…karena Henry memutuskan untuk tinggal sendiri, dan aku harus ikut Mom, akhirnya Clinton membawa kekasihnya untuk tinggal bersama.” Jelas Ariel sambil menekan bel di sisi pagar.

“Wow…tinggal bersama? Lalu ayahmu?”

“Dad…dad memutuskan tinggal di Niagara.”

“Hello? Who’s there?”

Ariel dan Luhan secara bersamaan menoleh ke arah interkom, “It’s me, Kelly. Ariel. I’m Ariel Lau. Remember me?” Ariel menyahuti suara dari balik interkom. Yeah, terus terang saja, Luhan selalu merasa kagum saat Ariel bicara Bahasa Inggris.

Dan tak lama setelah itu, pintu gerbang terbuka dan menunjukkan sesosok wanita berambut coklat tua dengan mata berwarna hijau –dia benar-benar orang barat—dan yang begitu menarik perhatian, perut wanita itu agak buncit. Hei…jangan bilang jika wanita hamil ini adalah kekasih kakak iparnya.

“Ariel!” jerit wanita itu dengan logat kanada yang sangat jelas. Ariel pun ikut histeris dan memeluk wanita itu, kemudian mereka berbicara sesuatu –yang tidak bisa Luhan tangkap dengan cepat. Intinya, mereka bahagia saat ini.

“And…this is…” wanita yang tadi dipanggil Kelly kali ini menatap Luhan.

Ariel pun memeluk lengan Luhan dan menunjukkan senyuman lebarnya ke arah Kelly, “My husband. His name is Luhan, I told you before,” jelas Ariel dengan nada bangga.

Kelly pun menatap Luhan dengan berbinar dan mengulurkan tangannya ke arah Luhan, “Nice to meet you. Sorry I couldn’t come to your wedding party.”

Luhan pun balas menjabat tangan Kelly, “Tidak apa-apa, aku tahu pernikahanku snagat mendadak dan jarak Kanada-Cina tidak sedekat itu,” bukan Luhan yang bersuara, melainkan Ariel yang langsung menyela.

“Oya, Luhan. Dia Kelly, calon kakak iparku. Dia sedang hamil empat bulan,” Ariel pun memperkenalkan Kelly dengan Luhan –dan Luhan harus menyamarkan ringisannya karena hamil di luar nikah terlalu tabu baginya –meskipun Luhan pernah bergonta-ganti pasangan tidur.

 

***

 

Luhan tidak tahu ternyata Ariel bisa begitu cerewet saat berada di dekat orang lain. Sedari tadi, semnejak Luhan masuk ke rumah yang megah ini, Luhan bisa mendnegar Ariel yang bicara ini dan itu bersama Kelly. Dan yang Luhan pahami, sepertinya Kelly memang sudah berpacaran dengan Clinton sejak mereka duduk di bangku sekolah. Bisa dibayangkan berapa lama hubungan mereka. Hampir mirip seperti hubungan Fei dan Kris, hanya saja mereka sepasang sahabat yang tidak menaikkan status mereka.

“Kau bisa tunggu di kamarku di atas, aku harus membantu Kelly untuk memasak. Clinton akan pulang jam empat sore nanti,” kata Ariel sambil berjalan menunjukkan kamar yang dimaksud.

Luhan sedikit merengut tidak setuju, “Dan meninggalkanku sendirian. Kau kejam.”

Ariel pun mengecup pipi Luhan –mengabaikan ketidaksetujuan Luhan—dan membukakan pintu kamar lama Ariel. Sekali lagi, Luhan dibuat takjub dengan rumah ini. Kamar dengan dinding dan atap kaca. Luhan pernah mendatangi tempat seperti ini, tapi Luhan yakin ia belum memiliki tempat seperti ini.

“Ini…kamarmu?”

Ariel mengangguk dan menjatuhkan dirinya dengan cepat ke atas ranjang dengan sprai berwarna biru muda, “Tempat favoritku.”

Luhan pun berjalan mendekati ranjang dan memandang ke sekeliling, “Kamarmu tetap rapi.”

“Kelly tetap menjaga tiap ruangan di rumah ini. Ah, disana kamar mandinya jika kau mau mandi. Kau bisa melakukan apa yang kau mau, tapi tidak untuk urusan dapur,” jelas Ariel sambil berjalan pelan ke arah balkon kamarnya yangmasih terlihat sama seperti terakhir ia mendatangi tempat ini.

Well, sebenarnya Ariel merasa sedih untuk menginjakkan kakinya lagi di tempat ini. Ariel tidak ingat kapan terakhir kali ia mengunjungi tempat ini, Ariel hanya tahu ia merasa menyesal karena tidak benar-benar menikmati setiap waktu yang ia miliki bersama keluarganya dulu.

“Kalian masih punya tempat tinggal, lalu kenapa kalian tidak tinggal di sini saja?” tanya Luhan dengan nada hati-hati. Ia sebenarnya kurang enak membahas masalah sensitif ini, tapi Luhan tahu Ariel tidak akan angkat suara sebelum ia sendiri yang menanyakannya langsung.

Ariel pun menarik napas panjang, “Orang dewasa memiliki cara berpikirnya sendiri. Dan kami, para anak-anak hanya bisa mengikuti apa yang mereka inginkan,” jawabnya tanpa menoleh ke arah Luhan yang berada di samping kirinya.

“Ya…kurasa aku mengerti, sama seperti Mama dan Papa yang memutuskan untuk berpisah rumah meskipun tidak bercerai secara resmi, orang dewasa memang membingungkan.”

 

***

 

Whitney kembali melirik arloji di tangan kirinya yang menunjukkan pukul dua siang. Whitney pun mendesah panjang, ini adalah menit ke tiga puluh lima sejak ia datang ke kafe tempat ia dan Max membuat janji. Padahal, ia merasa terlambat datang, tapi tanpa diduga Max justru lebih terlambat. Ia bahkan tidak memberi kabar sama sekali padanya.

Whitney pun mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke atas meja. Mendadak, ia berubah tidak tenang –mungkinkah Saeron Lee tidak mau menemuinya? Apakah Saeron Lee masih membencinya? Atau yang lebih buruk, apakah ia akan siap dengan segala kemungkinan yang terjadi saat ia dan Saeron bertemu?

Saeron yang ia kenal bukan lagi Saeron anak sepuluh tahun. Saeron sudah beranjak remaja, dan gadis kecil itu mungkin memiliki dendam yang besar kepadanya –sama seperti saat mereka bertemu di pemakaman Seungri beberapa tahun lalu.

Seungri. Seungri Lee.

Whitney tersenyum kecut saat nama itu akhirnya terucap lagi setelah beberapa tahun ini ia berusaha keras untuk mengubur kenangan lamanya bersama Seungri. Whitney tidak terkejut saat kegelisahan lamanya mulai kembali menganga, ia memiliki kenangan yang tak terlalu baik di tempat kelahirannya sendiri, di tempat yang telah membesarkannya –hingga akhirnya hidupnya berubah buruk ketika keluarganya terpisah dan Seungri muncul pada saat itu.

Kenangan tua. Whitney sangat tahu betapa kekanakan jika ia mulai membahas ini kembali, mengulang kembali semua perasaan yang ternyata masih belum berubah meskipun waktu telah menyeretnya sejauh ini. Meskipun…waktu telah merenggut Seungri dan mencekik semua kenangan manis mereka menjadi pahit.

“Carissa White?”

Whitney mendongakkan kepalanya dan secara bersamaan ia merasakan dadanya terpukul begitu keras ketika ia mendapati Max tekah berdiri di depannya entah sejak kapan. Lelaki yang masih sama –bersikap ramah meskipun hanya untuk tata karma tolol semata. Lelaki yang paling pandai berakting untuk menutupi perasaannya sendiri. Max Shim.

Whitney pun memutar bola matanya, mengalihkan retina matanya untuk menangkap dua sosok lain yang berada di dekat Max. dan salah satunya, ada Saeron yang…memang telah berubah cukup banyak. Dada Whitney bergemuruh hebat. Whitney tahu ia memang tak akan pernah siap untuk mendapatkan tatapan kebencian yang tak kunjung berubah dari Saeron.

“Lama menunggu? Maaf, kami terjebak macet tadi. Ada kecelakaan lalu lintas,” lihat, kan? Max selalu beramah tamah meskipun semua itu tidak lagi penting sekarang.

“Ah…Saeron, duduklah! Dia…maksudku, kau masih mengingat…”

“Kau datang?”

Bukan hanya Max yang terkejut saat Saeron memotong ucapannya, tapi Wendy yang bahkan hanya menjadi penonton bayaran pun ikut terkejut saat Saeron angkat suara dengan aura tidak menyenangkan untuk pertemuan pertamanya dengan Carissa White.

Dan…mungkin, hanya Whitney atau Carissa yang menyambut hangat aura dingin itu dengan tarikan sudut bibir bernada hangat di wajahnya.

 

***

 

“Max Shim :
Hari ini Carissa White dan Saeron akan bertemu.”

Tanpa sadar, Luhan sempat menahan napas ketika pesan tak terduga dari Max masuk ke ponselnya. Luhan tersenyum kecut, bahkan dengan brengsek ia memaki Max yang dengan lancangnya membahas kembali soal Carissa dan Saeron. Walaupun tentu saja Luhan tahu ia lah yang gila di sini. Hanya ia satu-satunya pengecut yang tak berani untuk berjalan dan menatap masa lalunya.

Luhan pun menggeleng keras dan menaruh ponselnya kasar. Ia baru saja bermimpi buruk –ia bertemu Seungri dalam mimpinya. Dan setelahnya Luhan bangun dengan napas tak teratur, kemudian setelah kesadarannya hampir penuh –dan berniat mengecek jam lewat ponselnya, ia disambut oleh ‘pengumuman’ dari Max.

Carissa dan Saeron bertemu.

Itu tidak buruk, tentu saja.itu adalah kabar yang seharusnya menjadi kabar yang sangat baik mengingat bagaimana Carissa dan Saeron tidak memiliki hubungan yang baik meskipun Carissa telah berusaha untuk menjadi wali dari Saeron.

“Kenapa kau muncul lagi di mimpiku? Kau tidak bernaksud memintaku bertemu adikmu, kan?” gumam Luhan sambil menatap kosong dinding di depannya.

“Kau sudah bangun?”

Luhan memutar kepalanya ke arah pintu dan mendapati Ariel dengan rambut terkepang yang tengah tersenyum hangat ke arahnya. Secara otomatis, Luhan pun merasa hatinya ikut menghangat. Yeah…meskipun Ariel tidak melakukan apapun dan tidak tahu mengenai masalahnya, tapi Luhan justru merasa tenang tiap kali Ariel tersenyum ke arahnya.

“Kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu pucat?” tanya Ariel sambil berjalan mendekat ke arah Luhan dengan raut khawatir. Luhan mudah sakit, dan Ariel tidak ingin membayangkan Luhan justru harus beristirahat tepat ketika semua keluarganya berkumpul.

“Kau tidak kelelahan, kan?” tanya Ariel lagi masih dengan nada khawatir. Ariel pun meletakkan tangannya di kening Luhan –mengecek suhu tubuh Luhan. Namun tiba-tiba, Luhan menarik tubuhnya dan memeluknya erat.

“Hei…kau baik-baik saja, kan?” tanya Ariel yang justru bertambah khawatir dengan tingkah Luhan yang menurutnya aneh.

Luhan tidak menjawab, ia justru semakin mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Ariel. Aku tidak baik-baik saja. Ya…Luhan sama sekali tidak baik-baik saja sejak ia menginjakkan kakinya di Kanada. Ia meninggalkan Kanada bukan dengan kenangan yang cukup baik untuk diingat. Dan semua ini selalu melemparkan peraasaan Luhan pada jeritan kosong lamanya –ia seorang pengecut dan masih seorang pengecut.

“Luhan?”

“Aku baik-baik saja. Aku hanya…sedikit mimpi buruk.”

Ariel mengerutkan dahinya. Aneh. Tidak biasanya Luhan berkata ia mengalami mimpi buruk atau semacamnya. Namun, Arie memutuskan untuk tidak banyak bertanya dan memeluk Luhan semakin erat, kemudian mengusap rambut lelakinya dengan lembut.

“Mungkin kau agak kelelahan. Mau kubuatkan teh? Kita bisa berkumpul di bawah, Clinton sudah pulang sepuluh menit lalu.”

Clinton…apa? Clinton? Clinton kakak ipar Luhan sudah pulang?

Luhan pun melepas pelukannya dan menatap wajah Ariel dengan nada terkejut, “Kakakmu sudah pulang?”

Ariel mengangguk dengan polos untuk menjawab pertanyaan Luhan. Dan dengan kalang kabut, Luhan langsung melompat dari tempat tidur dan menarik kakinya cepat menuju kamar mandi. Oh Tuhan! Kakak iparnya sudah datang dan ia justru malah tertidur seperti orang bodoh!

 

***

 

Luhan duduk dengan kaku di hadapan kakak iparnya –Clinton Lau, dan dia adalah kakak tertua Ariel, anak sulung dari keluarga Lau, dan ia adalah pria yang sangat kaku dan dingin. Dia memiliki tubuh yang tinggi, bahkan sekilas posturnya mirip seperti Kris. Dan kesimpulan singkat yang ditariknya adalah, Ariel dan Clinton memiliki segaris sifat yang sama –pendiam.

Luhan pikir, ia akan disambut dengan hangat juga candaan serta senyuman yang serta merta akan didapatnya karena ia adalah anggota baru keluarga ini. Tapi Clinton lebih kaku dari seorang Kris yang terlihat seperti boneka di kantornya, ia ahkan tersenyum seadanya dan langsung mengajak Luhan untuk bicara berdua saja.

Yeah, Luhan pernah merasa gentar saat berhadapan dengan ibu mertuanya. Namun pertemuannya dengan Clinton adalah yang pertama kali, dan Luhan tidak tahu Clinton memiliki sifat yang ‘separah’ ini. Luhan bisa saja bertarung dengan pengusaha lain untuk memenangkan tender ataupun berusaha membesarkan perusahaan yang dibangun keluaranya, namun ternyaa menghadapi kakak iparnya adalah hal yang lebih sulit dari yang ia kira. Luhan bahkan merasa ragu untuk bertemu dengan ayah mertuanya nanti, juga kedua kakak Ariel yang lain.

Oh, God. Benar. Masih ada dua kakak iparnya lagi yang belum ia temui.

“Sepertinya kau kelelahan sesampainya di sini. Adikku tidak merepotkanmu, kan? Dia biasanya terlampau semangat jika sudah melakukan apa yang ia suka,” Clinton membuka percakapan mereka dengan basa-basi yang mengerikan. Entahlah. Entah Luhan yang bodoh atau Clinton memang yang tak pandai mencairkan suasana hati Luhan. Intinya, Luhan masih merasa gugup.

Luhan tersenyum kecil dan mencoba menatap kolam renang yang cukup luas di hadapannya –bahkan rumah ini memiliki kolam renang di dalam rumah, “Maaf aku justru tertidur sesampainya di sini. Yeah…Ariel tidak mengizinkanku untuk mendekati dapur, dan aku malah tertidur setelah selesai mandi tadi,” Luhan memejamkan mata dan mengumpat keras dalam hati. Percakapan bodoh apa yang Luhan buat?

Clinton terkekeh pelan dan menyesap kopinya, “Ariel memang agak suka mengatur dan cerewet,” katanya setelah meletakkan gelas kopinya, “Ah…Ariel bilang kalian dikenalkan karena ibuku bekerja di tempat ibumu, apakah Mom sudah lama bekerja di rumahmu?”

Luhan sedikit mengerutkan dahinya –ibu mertuanya bahkan sudah seperti ibunya sendiri. Bukan hanya sudah lama bekerja di rumah Luhan, bahkan ibu mertuanya sejak dulu sudah tahu detail tentang Luhan, mulai dari jam bangun Luhan hingga makanan yang tidak Luhan suka. Ibu mertuanya selalu menyiapkan apa yang ia butuhkan. Dan…Luhan pikir, seharusnya pertanyaan ‘apakah dia sudah lama bekerja di tempatmu’ bukan pertanyaan yang tepat. Luhan sudah mengenal wanita yang kini menjadi pianis itu sejak dia dipaksa kembali ke Cina setelah ia menghabiskan masa sekolahnya di Korea.

“Ya…beliau sudah lama bekerja dengan ibuku. Aku bahkan sudah menganggapnya seperti ibuku sendiri. Dia wanita yang hebat, juga seorang pianis yang luar biasa. Aku akan sangat merasa beruntung jika aku bisa melihat masa jayanya dulu.”

Clinton terlihat tesenyum dengan nada kesedihan yang ia sembunyikan, “Kami semua terkejut ketika Ariel mengirimkan video Mom yang tengah memainkan piano kembali. Sudah lama sekali sejak kami melihat jemari Mom menari di atas tuts piano,” Clinton sedikit mengenang momen ketika ponselnya berdenting sekali dan menunjukkan pesan singkat berisi video dari aplikasi Line. Clinton pikir, Ariel hanya sedang menunjukkan konser piano temannya yang bernama Zhang Yixing itu, tapi aku justru dibuat menangis ketika mendapati Mom tengah memainkan piano.”

Luhan agak meringis saat Clinton menggunakan kata ‘teman’ untuk menunjukkan hubungan Yixing dan Ariel dulu. Sepertinya Ariel dan Yixing sudah begitu serius, sampai semua orang –bahkan Stephen Oh—tahu mengenai hubungan mereka. Luhan tidak ingin mengurai perasaan lamanya, tapi rasa bersalah itu menggigitinya dengan bebas.

“Ariel juga pianis yang hebat. Aku tidak tahu dia begitu pandai bermain piano,” kata Luhan sambil membayangkan saat Ariel memainkan piano. Luhan sudah lebih sering melihat Ariel menghabiskan waktunya dengan bermain piano, tapi Luhan selalu merasa jika Ariel tetap mengagumkan seperti pertama kali ia terkagum-kagum dengan nada yang dimainkannya.

“Sebenarnya di antara kami berempat, dia adalah anak yang paling bodoh dalam urusan musik,” Clinton tertawa kecil mengenang masa lalunya, “Saat kecil, Ariel adalah anak yang paling banyak mengeluh karena tidak bisa bermain dan justru terikat dengan jam belajar alat musik. Mom yang tidak lagi menjadi pianis, akhirnya mengajarkan kami untuk bermain alat musik, terutama piano. Meskipun sekarang hanya aku satu-satunya yang bergelut dalam bidang musik,” dan Clinton terus menceritakan keluarga Lau, pekerjaan Henry yang menjadi seorang dokter, Whitney yang berkuliah di Austria, juga ayah mertuanya yang tinggal di Niagara. Dan Luhan bersyukur, ternyata obrolan aneh mereka bisa berakhir dengan cukup baik seperti ini. Clinton ternyata tidak seburuk apa yang ia pikirkan.

 

***

 

Luhan pikir, kedua kakak iparnya yang lain tidak akan berbeda jauh dengan sifat Clinton yang agak kaku dan dingin. Tapi setelah pria bernama Henry Lau datang ke rumah dan mendapat sambutan paling heboh dari Ariel, Luhan akhirnya mengubah persepsinya tentang sikap kaku keluarga Lau. Yeah…ia bahkan terperangah saat melihat Henry melompat heboh saat melihat Ariel, dan Luhan berpikir ia akan terkena serangan jantung karena ia tidak pernah melihat Ariel menjerit senang seperti ia melihat Henry. Kemudian, Henry Lau itu memeluk Clinton dengan senyum lebar dan mengumbar kata rindu, kemudian mengecup Kelly dan mengusap perutnya, seolah ia berbicara dengan janin yang dikandung oleh Kelly.

Sayangnya, kehangatan Henry tidak berlaku untuknya. Henry awalnya hanya menatap tajam Luhan, kemudian menyelami penampilan Luhan dari ujung kepala hingga ujung kaki lewat retina matanya.

“Jadi, kau yang bernama Luhan? Pria yang berani merebut Ariel-ku dan membuat kami semua dilangkahi oleh anak paling malas di keluarga ini?” katanya dengan nada serius –meskipun Luhan merasa ucapan Henry terlampau konyol untuk ukuran dokter.

Ariel pun memukul lengan Henry, “Jangan berkata hal-hal bodoh!” Ariel mendelik sewot.

Tapi Henry sama sekali tak mengindahkannya dan justru melangkah mendekat ke arah Luhan, “Demi Tuhan, aku tidak menyangka akan memiliki adik ipar yang wajahnya mirip seperti mahasiswa begini,” Henry pun memutar kepalanya ke arah Clinton, “Clinton, kau yakin adik kita tidak menikahi mahasiswa? Dia tidak terlihat seperti pengusaha. Mom pasti hanya bercanda saat mengaari kita,” katanya masih dengan nada serius yang sama.

“Berhenti bercanda! Kau menakutinya,” ujar Kelly sambil tertawa dan menepuk pundak Henry singkat sebelum ia pergi menuju ruang makan, yang kemudian disusul oleh Clinton.

“Tapi aku serius, Kelly!” teriak Henry sebelum kembali menatap Luhan.

“Tapi dia tampan, dan aku mencintainya,” kata Ariel sambil merangkul Henry. Mereka terlihat akrab sekali. Bahkan Henry bisa membuat Ariel yang dikenalnya hilang dalam waktu 0,1 detik.

“Hei…kau sudah besar ya, sudah menyebut cinta dengan nada seperti itu,” Henry memicingkan matanya ke arah Ariel.

Kemudian Luhan kembali diberi tatapan tajam yang masih belum berubah dari Henry, “Tapi…yeah, aku menyukaimu. Selamat datang di keluarga kami, dan terima kasih sudah menjaga anak paling bodoh ini,” Henry pun memeluk Luhan dan langsung berteriak kesakitan karena Ariel mencubit pinggang Henry.

Dan, setidaknya Luhan bisa merasakan kehangatan yang tidak ia dapatkan dari keluarganya di Cina. Ia hanya seorang anak tunggal yang mendapat tuntutan untuk impian keluarganya, sebagai penerus perusahaan. Dan disini, justru Luhan melihat adik-kakak yang saling bercanda dan menghangatkan suasana dengan cerita tidak penting mereka. Sesuatu yang jarang Luhan temui

Luhan juga sempat berpikir, pasti kakak ipar perempuannya juga akan ‘semenarik’ Clinton dan Henry. Meskipun Ariel bilang perangai kakak perempuannya kurang menyenangkan –Ariel bilang Whitney Lau bukan hanya dingin, tapi juga kaku dan sedikit arogan—tapi Luhan tidak lagi segugup sebelumnya, ketika ia masih menebak alur pertemuannya dengan Clinton dan Henry.

Meskipun…yeah, nama Whitney Lau ini sedikit digambarkan misterius. Saat di hotel, Ariel menjelaskan jika Whitney kabur dari rumah dan memutuskan untuk tinggal sendiri, kemudian dia hilang kontak hingga akhirnya ia menghubungi kembali dan mengatakan bahwa ia berada di Eropa untuk berkuliah. Katanya, Whitney tidak menjelaskan dia berkuliah di kampus apa, dia hanya menjelaskan dia berada di Austria dengan jurusan kedokteran.

Luhan sendiri sebenarnya tidak asing lagi dengan nama Whitney Lau. Di rumahnya dulu, ibu mertuanya sering menyebut nama Whitney Lau. Bahkan, Luhan pikir putri ibu mertuanya yang berkuliah di Korea adalah Whitney. Tapi siapa kira ternyata nama Whitney itu akan menjadi keluarganya.

Makan malam berjalan dengan lancar. Clinton yang terus menunjukkan keromantisannya dengan Kelly, Henry yang terus mengusili Ariel dan bertanya sesuatu pada Luhan, kemudian sedikit cerita Ariel dan Kelly tentang makan malam yang sudah mereka siapkan –dan sedikit cerita liburannya bersama Ariel sebelum mereka datang kemari.

“Ariel dulu bukan gadis yang suka dengan pekerjaan perempuan, aku terkejut sekali saat dia bilang mau membantuku dan…” Kelly menghentikan ucapannya, juga dengan senyum yang perlahan luntur, “Whit…ney?”

Serempak, seisi meja langsung memutar kepala mereka ke arah pandang Kelly. Semua orang terkejut dengan kedatangan wanita yang dipanggil ‘Whitney’ oleh Kelly. Tentu saja semua orang merasa terkejut yang bercampur senang, ini kali pertama sejak Whitney kembali ke rumahnya, kepada keluarganya.

Tapi sepertinya, hanya Luhan satu-satunya yang merasa tubuhnya akan tumbang saat itu juga. Whitney yang ada dalam bayangannya, sama sekali bukan wanita yang tengah berdiri tanpa senyum dan menatap setiap anggota keluarganya, lalu mengubah warna matanya menjadi tajam ketika matanya bertemu dengan mata Luhan.

Tidak mungkin. Seharusnya Whitney Lau kakak iparnya yang datang, dan bukannya gadis yang membuatnya sempat mengalami kesulitan dan meninggalkan Kanada. Seharusnya Whitney Lau kakak dari Ariel yang datang, seorang mahasiswa kedokteran yang sedang berkuliah di Austria, dan bukannya Carissa White yang merupakan seorang model yang datang ke sana.

 

=to be continued=

20160515 PM0924

7 responses to “[Sequel of MWAG] Tian Mi Mi (Chapter 7)

  1. Waahh gmn tuh carrissa sm luhan …. Nantinya apalg akn trjd sm mrk,,, n gmn sm ariel y next … Dtunggu next fighting😀

  2. yess akhirnya publish juga kelanjutannya setelah sekian lama menunggu😀
    Seneng banget pokoknya, jangam bilang whitney masa lalu luhan antara seungri, luhan dan whiteney (carrisa).
    apa jadinya mereka dalam satu rumah. gak kebayang deh suasananya kaya apa, apa mereka akan pura2 gak kenal atau whiteney yang akan terusterang sama ariel dan buat keributan.

  3. Setelah sekian lama akhirnya update juga ff nha,,,mkin penasaran dngn certita selanjut nha,,,cepetan dong min uodate nha 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s