Twins on The Playground—(Chapter 1)

twins1

Twins on the Playground

a l s h a b a e ’ s

School life, romance, sad, mix

Jeon Jungkook

Jeon Jungki

Baek Nara

Oh Gain

Other BTS’ members

Chaptered

PG 15

.

A story about shady, broken, uneazy teenagers that chasing their dream and love desperately. Contains lots of high school cliche and typo. Happy reading ;3

.

.

(ff ini juga aku post di btsffindo dan wp pribadi)

.

Synopsis & Teaser | Prologue

.

.

Chapter 1

“AKU BENCI SEKOLAH!!”

Seorang gadis berteriak sangat kencang di atap sekolah. Ia meremas rok seragamnya erat, kemudian meneriakkan kata-kata yang patut untuk disensor.

Agak mengganggu sebenarnya mendengar seorang gadis mengumpat dan mengucapkan kata yang kurang pantas. Namun mengingat setelah libur musim panas berakhir ia bukan lagi bagian dari sekolah ini, semuanya terasa normal.

“Seharusnya aku membakar sekolah ini sebelum kepergianku. Huh, mereka semua pasti akan menyesal,” dengusnya kemudian bersandar di pagar besi dengan tangan terlipat di dada.

Menghela nafas panjang, ia langsung tersentak saat sebuah kaleng kosong mendarat di kepalanya.

YA!

Gadis itu segera berbalik, siap untuk menumpahkan kekesalannya. Tapi sorot matanya langsung berubah begitu ia bertemu pandang dengan sosok yang tidak diharapkannya.

Eo-eomma?” ia tergagap.

Wanita paruh baya itu bersedekap kemudian berkata dengan nada Busan yang kental. “Apa yang kau lakukan di atas sana berteriak dan memaki seperti orang gila, hah? Baek Nara, cepat turun sebelum aku sendiri yang akan menurunkanmu!”

Gadis yang dipanggil Baek Nara itu langsung menunjukkan tampang tak berdosa dan bersembunyi di antara pagar besi.

 

***

 

Eomma, lepaskan! Aku tidak mau!”

Nara terus saja berusaha melepas sang ibu yang menarik kuat lengannya. Mereka terlihat seperti orang aneh, yang bertengkar di depan sebuah salon berkelas.

Setelah berhasil membuat Nara turun dari atap sekolah tadi siang ibunya itu langsung menariknya memasuki sebuah mobil hitam seperti seorang penculik. Bahkan saat ditanya mau pergi kemana pun wanita itu hanya diam saja dan menganggapnya seperti angin lalu. Ternyata mereka ingin pergi ke tempat yang paling dibenci Nara.

Eomma, jangan lakukan ini padaku.” pinta Nara memelas.

“Sekali ini saja menurutlah pada ibumu.”

“Mulai sekarang aku akan jadi anak penurut, tapi tidak untuk ini!”

“Tapi ini yang ibu mau!”

Andweyo!!”

Setelah perdebatan yang cukup panjang dan menghabiskan waktu, mereka berdua akhirnya berhasil masuk ke dalam salon itu. Tanpa membuang banyak waktu lagi sang ibu langsung menyerahkan Nara ke salah satu petugas yang berada paling dekat dengannya.

“Tolong beri sedikit perubahan untuk anakku.” Mengelus rambut pendek sebahu Nara, sang ibu tersenyum.

“Apa?! aku tidak—“

Petugas itu mengangguk. Berhasil membawa Nara pergi sebelum ia sempat mengelak.

 

4 jam kemudian

 

“Nyonya Baek, bagaimana?”

Sesaat setelah tirai meja rias disibakkan, Nara langsung bertatap muka dengan sang ibu, yang tadinya sedang asik membaca majalah fashion. Wanita itu menahan nafas, seolah tidak percaya. Sampai tak sadar majalah yang tadi ada di genggaman tangannya sudah merosot.

Dengan kedua tangan menangkup pipi putrinya, wanita itu bertanya, “Ya Tuhan, apa ini benar kau, Baek Nara?”

Pipi Nara seketika bersemu karena ucapan ibunya. Ia menyentuh tangan sang ibu yang bertengger di pipinya. “Eomma, kenapa berlebihan sekali?”

Nara memang belum melihat perubahan yang terjadi padanya setelah makeover paksa yang didalangi ibunya ini. Tapi hasilnya tidak mungkin sebagus itu, ‘kan? Mereka hanya mengunjungi sebuah salon, bukan tempat operasi plastik yang akan mengubah wajahnya secara permanen.

Penasaran, Nara membalikkan badan. Mematutkan diri di depan cermin. Matanya yang dihiasi lensa kontak abu-abu itu membulat.

Ia takjub dengan bayangannya sendiri.

“Apa ini benar aku? Apa ini benar Baek Nara?” gumamnya tanpa sadar sambil meraba cermin kemudian wajahnya secara bergantian.

Gadis bermata bulat, rambut panjang coklat tua, kulit putih yang cantik, dengan sweater abu-abu dan rok hijau kotak-kotak 15 cm di atas lutut…

“A-apa—“

Sang ibu menaruh tangan di pundak Nara, berdiri sejajar dengan senyum bangga terulas di wajah.

“Gadis Seoul harus terlihat cantik. Dan anakku,” ia mengangkat dagu Nara, membuat keduanya bertatapan. “kau sudah seperti salah satunya.”

 

***

 

Rinai hujan mulai membasahi kota Seoul yang dihiasi keramaian. Seorang lelaki berseragam rapi dengan tas menggantung di bahu kanan itu berjalan meninggalkan gedung sekolahnya. Tiba-tiba ponselnya yang ada di saku berdering singkat, menandakan ada sms. Ia langsung mengambilnya.

 

Untuk : Jungkook

Malam ini aku pulang telat lagi. Mungkin aku baru pulang besok pagi, atau mungkin aku tidak akan pulang. Tolong buatkan alasan yang bagus jika ayah dan ibu menanyakanku.

 

Lelaki yang disebut Jungkook itu seketika tertawa mengejek.

“Anak nakal itu,” desisnya.

Memasukkan ponsel kembali ke dalam saku, ia melanjutkan perjalanannya.

 

***

 

Langit malam Seoul yang terlihat muram itu mengeluarkan gemuruh, tanda akan turun hujan. Nara yang duduk di bangku belakang sebuah mobil sedan menghela nafas panjang.  Ia menyenderkan kepala di kaca jendela mobil, lemah. Perjalanan dari Busan ke Seoul cukup menguras tenaganya. Terlalu lama melamun, perlahan rasa kantuk mulai mengambil alih kesadarannya.

CIIIT..BRUUUK!

Nara yang sudah hampir terlelap itu langsung terjaga begitu mobilnya berhenti mendadak.

Eomma, apa yang barusan ditabrak ahjhussi?” tanyanya panik pada sang ibu yang sedang asyik bermain gadget di sebelahnya.

“Tsk, paling hanya tikus yang sedang tersesat. Jangan dihiraukan. Ajhussi, ay—“

“Demi Tuhan, Ibu! Dia seorang laki-laki!!” Nara langsung memekik keras saat menurunkan kaca jendela, dan menemukan seorang lelaki tergeletak di depan mobilnya dengan keadaan yang sangat memprihatinkan.

Tanpa pikir panjang Nara langsung turun dari mobil dan menghampiri lelaki itu. Bersamaan dengan rintik hujan yang mulai berjatuhan.

“Sayang, jangan hujan-hujanan. Nanti dandananmu rusak,” titah sang ibu dari dalam mobil. Tapi Nara hanya menganggapnya angin lalu.

“Anak itu. Katanya mulai hari ini ia ingin jadi anak penurut. Namun lihat bagaimana dia mengabaikanku barusan,” dengusnya jengkel kemudian kembali memainkan gadgetnya.

Berjongkok, Nara menepuk pipi lelaki itu panik. “Bangun. Kumohon, sadarlah,” tidak ada jawaban. “Ahjhussi!”

Pria yang baru saja keluar dari mobil dengan gemetaran itu langsung menyodorkan payung untuk Nara.

A-aga-sshi, saya tidak menabraknya. Dari tadi saya sudah mengklakson berkali—“

“Apakah hal seperti itu penting sekarang? Lebih baik, ahjhussi bantu aku mengangkatnya ke mobil,” potong Nara tegas. Entah bagaimana ceritanya lelaki yang tak dikenal ini bisa terluka separah itu, ia tak punya waktu untuk mempertanyakan itu sekarang. Karena lelaki itu jatuh di depan mobilnya, Nara merasa memiliki tanggung jawab untuk menolong.

 

***

 

Panik.

Itulah suasana di ruang tunggu bernuansa putih ini.

Ketiganya langsung berdiri saat seorang dokter muda keluar dari ruangannya. Di dada kirinya terdapat sebuah papan nama bertuliskan Kim Seokjin. “Apa kalian keluarganya?”

“Iya,” jawab sang ibu.

Dokter itu menghela nafas. Tanpa sadar Nara menelan ludahnya gugup.

“Di tubuhnya memang terdapat banyak luka, tapi untungnya luka itu tidak membahayakan organ dalamnya. Jadi dia hanya perlu banyak istirahat.”

Setelah mendengar penuturan dokter barusan kecemasan langsung menguap dari tubuh ketiganya. “Boleh aku melihatnya?” tanya Nara hati-hati.

“Tentu saja. Tapi jangan buat dia terbangun,” jawab dokter berwajah manis itu. Nara kemudian membungkuk 35 derajat, berterimakasih. Lalu dokter itu izin untuk mengurus pasien lain.

Nara menarik kenop tanpa mengeluarkan suara. Matanya langsung tertumbuk pada seseorang yang sedang terbaring lemas di ranjang, dengan infus yang mengalir di telapak tangan kirinya.

Perlahan tapi pasti Nara melangkah maju. Ia mengisi keranjang buah di sebelah ranjang dengan beberapa buah-buahan yang tadi dibelinya. Ia kemudian mengamati lelaki yang sedang beristirahat itu dalam diam.

Rambut pendeknya lurus berkilau, mata bulat yang besar, hidung lancip, dan mulut yang sedikit menganga. Nara terkikik kecil melihat betapa polos wajah pemuda di depannya ini saat tidur. Khawatir jika nanti bisa ada lalat yang masuk jika mulutnya dibiarkan terlalu lama terbuka, tangan kanan Nara bergerak untuk menutupnya.

Namun saat tangan gadis itu ada di dagunya, sebuah tangan yang dihiasi selang infus membuat Nara berhenti. Diam-diam Nara menahan nafas, terkejut pergelangan tangannya tiba-tiba digenggam oleh orang asing. Dengan pelan dan hati-hati Nara mencoba melepaskan genggaman itu.

“Jangan.. jangan pergi,” gumam lelaki itu dalam tidurnya. Lelaki itu sempat melihat Nara, tapi dihiasi cahaya putih yang membuatnya tampak seperti malaikat.

Nara tidak tega dan membiarkan posisinya seperti ini untuk sementara. Pandangannya beralih pada sepasang tindik bulat hitam di telinga lelaki itu, lalu kepalanya yang dibebat perban dan wajah yang dipenuhi lebam.

“Lelaki ini pasti anggota gangster,” ujar Nara pada dirinya sendiri.

Mungkin jika lebam itu dihilangkan, lelaki ini akan terlihat lebih.. manis. Ia segera menggelengkan kepalanya. Baek Nara, hal bodoh apa yang baru saja kau pikirkan?

Tiba-tiba ponsel di atas nakas berdering nyaring. Tanpa pikir panjang Nara segera menekan tombol jawab agar bunyinya tidak mengganggu lelaki yang sedang tidur di hadapannya ini. Belum sempat Nara mengucap salam, suara di seberang langsung membanjiri telinganya tanpa ampun.

Ya, Jungki! Apa yang sedang kau lakukan saat ini? Apa kau punya makanan? Kalau punya, mari kita membaginya sama-sama. Atau mungkin kau malah sudah makan? Kalau sudah, kau makan pakai apa?”

Hening.

Yeo-yeoboseyo?” sahut Nara hati-hati.

“Eh? Apa aku salah nomor?”

“Tidak, ini benar nomornya Jungki. Tapi dia sedang istirahat di rumah sakit sekarang.”

MWO?! Bagaimana bisa?”

Setelah memberikan informasi yang sekiranya perlu, Nara memutus sambungan. Orang yang tadi bicara di seberang dengannya, Taehyung, menjanjikan akan datang sebentar lagi jadi Nara tidak perlu menunggu. Kalau sudah begini ia baru bisa pulang dengan tenang.

Nara melepas genggaman erat yang mengunci pergelangan tangannya dengan hati-hati.

“Selamat malam, Jungki,” ia berbisik lalu meninggalkan ruangan itu.

 

***

 

Matahari mulai merangkak naik. Nara yang masih asyik di dunia mimpinya harus kembali pada kenyataan saat alarmnya berbunyi. Ia duduk di ranjang sambil merenggenggangkan badan dan menguap lebar. Dua hari terasa berlalu cepat sekali. Musim panas sudah berakhir, dan hari ini akan jadi hari pertamanya memasuki sekolah baru.

Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk berulang kali. “Nara-ya, ayo cepat bangun. Ini hari pertamamu sekolah,” ujar sebuah suara dari balik pintu yang ia yakini adalah suara ibunya.

“Iya, eomma,” jawabnya sambil menghilangkan kotoran di matanya. Sebenarnya Nara masih ingin meniduri pacarnya, alias tempat tidur dan memilih bolos saja daripada harus sekolah. Tapi mengingat ia masih ingin namanya ada di silsilah keluarga besar ‘Baek’, Nara sebaiknya tidak melakukan itu.

 

 

***

 

“Heol. Baik, aku siap untuk hari ini.” Kedua tangan Nara terkepal. Matanya memancarkan kilat semangat yang membara, meyakinkan dirinya sendiri.

Di sekolah barunya ini di Seoul, kejadian yang sama tidak akan terulang lagi. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, juga pada ibunya tepat sebelum mereka meninggalkan Busan tempo hari untuk tidak kembali melakukan kesalahan. Dan di dalam kamus Baek Nara tidak ada kata munafik.

Pluk!

Nara tersentak begitu merasa ada yang baru saja mendarat di pucuk kepalanya, dan membuat rambutnya yang dikucir kuda lepek. Dengan mulut menganga lebar Nara menebarkan umpatan di dalam hatinya.

Secepat kilat Nara berbalik, bertemu pandang dengan seseorang yang melangkah dengan santainya seolah tidak ada yang terjadi barusan.

YA! apa-apaan ini?” sentak Nara pada orang yang memasang wajah datar itu.

“Apa?” sahutnya tak kalah keras.

“Kau lihat yang terjadi pada rambutku? Aku baru saja mencucinya pagi ini. Apa kau sama sekali tidak menyesal?” tak peduli dirinya menjadi pusat perhatian, Nara tetap menyemburkan amarahnya.

“Tapi aku tidak—“

“Jangan mencoba mengelak. Sudah jelas-jelas kau berdiri tepat di belakangku. Pasti kau yang melakukannya!”

“Kau berani sekali membentakku lebih dari satu kali, heh?”

Nara mengernyit bingung. “Memangnya kenapa? Apa kau orang yang berkuasa di sini? Dengan rambut pirang seperti itu, sekolah pasti—YA!”

Omelan Nara yang seolah tak ada juntrungnya bila diteruskan itu terhenti begitu saja saat orang yang diajaknya berdebat tiba-tiba mengacak rambut lepeknya dengan beringas.

“Tutup mulutmu sebelum aku mengacak milikmu yang lain,” lelaki itu berucap dengan nada mengancam, kedua tangan dimasukkan dalam saku. Ia kemudian pergi begitu saja.

Sesaat Nara sempat dibuat bungkam dengan ancaman itu. Tapi dasar gadis yang tak kenal takut itu tidak bisa begitu saja dibuat diam.

“Persetan kau setan rambut pirang! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!” teriak Nara pada lelaki yang sudah memasuki koridor itu. Sementara dirinya masih ada di lapangan sekolah, dengan puluhan pasang mata tertuju padanya.

Nara, seolah sudah terbiasa dengan perhatian itu tetap melanjutkan langkahnya dengan menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Umpatan tak pernah hilang dari mulutnya di setiap langkah yang dirajutnya untuk menuju koridor sekolah. Rusak sudah moodnya di pagi yang cerah ini. Menyebalkan.

Saat tiba di depan lokernya, Nara langsung membukanya lebar-lebar dan melempar tasnya ganas. “Tuhan, jangan buat aku sekelas dengan orang seperti dia,” Nara mencicit lalu membanting lokernya.

Ia membalikkan badan, dan dunianya tiba-tiba terasa melambat ketika ia melihat seorang lelaki berseragam sama dengannya melintas di depannya. Bibir Nara mendadak kelu. Benarkah itu..

“J-jungki?” gumamnya tanpa sadar.

Nara hampir tidak mempercayai penglihatannya. Kalau yang barusan ini Jungki, lalu siapa yang terbaring lemah di rumah sakit dua hari belakangan ini?

Dipenuhi oleh rasa penasaran, Nara membuntuti lelaki yang diyakininya sebagai Jungki itu kemanapun ia melangkah. Mulai dari saat menaruh barang di lokernya, bahkan ketika lelaki itu ke kamar kecil (Nara hanya menunggu di depan pintu saja) ia tetap mengikuti. Sampai saat ia melewati ruang guru, dan seorang guru yang dilihatnya di administrasi kemarin menghentikan langkahnya.

“Kau pasti Baek Nara, ‘kan?” tanya wanita yang mulai hari ini jadi gurunya dengan senyum tiga jari tersungging di wajah.

“Iya, songsaengnim” jawab Nara sopan.

“Mari ikuti aku. Ada beberapa urusan yang harus kita selesaikan,” ucapnya sambil menggiring Nara ke dalam kantor guru.

Dengan berat hati Nara mengikutinya. Pandangannya masih tidak lepas dari lelaki yang mirip sekali dengan Jungki itu, sampai tubuhnya akhirnya menghilang di persimpangan koridor.

 

***

 

“Hai, namaku Baek Nara. Aku pindahan dari Busan.”

Setelah mengucap kata perkenalan itu Nara tersenyum manis. Ia berusaha mengabaikan beberapa gadis yang langsung berbisik-bisik di ujung kelas –kemungkinan besar membicarakannya— juga para lelaki yang iseng mengucapkan kata-kata dengan logat Busan untuk menggodanya. Nara pun menjawabnya dengan nada Busan juga, untuk bersenang-senang.

Di hari pertama kedatangannya, ia sudah bisa membuat anak-anak di kelas tertawa. Pagi yang indah. Walaupun tadi sempat terjadi insiden yang tak diharapkan, untungnya Nara dapat mengatasi itu.

“Nara, kau boleh duduk di sebelah Gain.”

“Gain hari ini sakit, songsaengnim,” sahut siswi-siswi yang tadi (mungkin) menggosipinya itu serentak. Nara tebak, Gain pasti bagian dari mereka. Dan ia harus duduk dengan salah satu dari bagian mereka juga. Heol, bagaimana lagi.

Setelah dipersilahkan, Nara langsung mengambil posisi duduk di pojok kelas, kursi nomor tiga dari depan. Kursi sebelah kirinya yang kosong ia buat untuk menaruh tas. Nara sudah bersiap-siap untuk mencatat sebelum tiba-tiba dua orang yang duduk di depannya membalik badan, menatap tepat ke arahnya seperti sedang meneliti sebuah spesies baru.

Gadis berkucir dua berbisik, sepelan mungkin supaya guru tidak mendengarnya. “Annyeong, namaku Go Hyemin. Salam kenal,” disusul dengan perempuan ber-eyesmile di sebelahnya. “Kalau aku Jang Minjoo.”

Nara tersenyum kecil. “Kuharap kita bisa jadi teman baik.”

“Dan kuharap kalian bisa fokus pada pelajaranku. Simpan waktu perkenalan kalian untuk istirahat nanti, anak-anak,” sentak Guru Min, guru yang terkenal karena galaknya. Ia mengacungkan penggaris kayu ke arah 3 siswanya yang terlihat seperti tikus ketakutan seolah sedang mengayunkan pedang samurai.

N-ne. Jwaeseonghabnida, seongsaengnim,” ucap Hyemin dan Minjoo serentak. Sementara Nara hanya membungkuk dalam, tak tau harus melakukan apa setelah itu.

Melihat kedua orang di depannya langsung memperhatikan Guru Min, Nara juga mengikuti jejaknya. Ia baru saja ingin mengeluarkan buku catatan dari tas, namun gerakannya langsung terhenti saat ekor matanya menangkap seseorang yang duduk persis di sebelah kirinya, hanya terpisahkan oleh satu kursi, adalah orang yang tadi pagi ia buntuti.

Orang yang mirip sekali dengan Jungki.

Nara terus saja memperhatikan orang itu sampai lamunannya dibuyarkan oleh secarik kertas yang dilemparkan Hyemin ke tempat duduknya. Buru-buru ia membaca tulisan di kertas itu.

 

Nanti kita bicara lagi.

 

Dengan senang hati Nara membalas isi surat itu.

 

Tentu saja^^

 

Ia kemudian memberikannya lagi pada Hyomin. Gadis itu dan Minjoo langsung membacanya, lalu kembali memperhatikan Guru Min. Sepertinya ada yang akan mendapatkan teman setelah ini.

Mencoba untuk fokus, Nara menulis apa saja yang Guru Min katakan. Meskipun pada akhirnya pandangannya kembali tertuju pada lelaki di sebelahnya yang sedang serius sekali mencatat itu.

 

***

 

“Sampai disini dulu pembelajarannya. Terima kasih, dan jangan lupa kumpulkan pr kalian.”

Ucapan Guru Min yang diiringin dengan bel istirahat itu seolah jadi surga bagi siswa kelas 2-1 yang baru saja memeras otaknya untuk mengerjakan soal matematika yang sudah seperti malapetaka untuk mereka. Belum lagi segudang pr yang diberikan oleh guru itu. Heol, berat memang. Tapi yang bisa murid lakukan hanya melakukan sesuai perintah, bukan?

Seperti dugaan Nara, Hyomin dan Minjoo langsung mendatangi mejanya. “Nara-ya­, mau ke kantin bersama kami?” tanya Minjoo.

Nara yang sedang berkutat dengan bukunya menolak. “Maaf, aku belum selesai mengerjakan ini. Kalian duluan saja.”

“Baiklah.” Lalu keduanya pergi.

Beberapa menit terperangkap dalam keheningan, dengan dahi yang mengerut dalam Nara mencoba menyelesaikan soal matematika dari Master Min—julukan yang diberikan oleh murid kelas ini untuknya. Nara selalu begitu, jika menemukan satu saja soal yang susah sekali untuk dipecahkan, perasaannya tidak akan bisa tenang sebelum bisa menuntaskannya.

Ia kemudian bersorak gembira. “Wah, akhirnya selesai!”

Baru saja ingin meninggalkan kursinya, namun langkah Nara tiba-tiba berhenti ketika ia melihat sosok di depannya sedang duduk sambil menyumpal telinga dengan headphone hitamnya yang bergambar tengkorak.

“Jungki?” sapa Nara ragu-ragu.

Tidak ada jawaban.

Nara langsung menurunkan headphone itu ke lehernya.

“Jungki, apa yang kau lakukan disini?,” tangan Nara menyentuh dahi, pipi, kemudian dagu lelaki itu, menggoyangkannya. “Luka dan lebammu sudah benar-benar hilang. Bagaimana bisa mereka hilang secepat itu?”

“Kau bicara pada orang yang salah,” ujar lelaki itu tenang, seolah kejadian itu bukan yang pertama kalinya.

“Salah bagaimana? Aku ingat jelas hari itu aku yang mengantarmu ke rumah sakit—“

“Rumah sakit? Untuk apa?! Apa yang terjadi pada kembaranku?” tanya lelaki itu. Nadanya cenderung datar, namun kedua mata belo itu jelas menampakkan raut cemas.

Lalu seketika bel berbunyi. Para siswa langsung buru-buru memasuki kelas dengan terpaksa, berbeda dengan Guru Shin—guru mungil yang Nara temui tadi pagi, yang memasang raut wajah gembira. Seolah baru mendapat lotere.

“Namaku Jungkook. Dan..” Jungkook berhenti sejenak, tampak sedang menata kalimatnya. “Jangan pernah panggil aku Jungki,” , “Kita lanjutkan nanti lagi.”

 

***

 

Setelah melalui beberapa jam yang terasa sangat panjang, akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Nara segera membereskan barang-barangnya dan mendekati Jungkook.

Mengikuti cara yang dilakukan Hyomin, Nara membuat janji dengan Jungkook dengan melemparkan gumpalan kertas ke mejanya yang bertuliskan, ‘Ayo kita jenguk Jungki bersama-sama setelah pulang sekolah’ dan Jungkook mengiyakannya.

“Ayo,” ajak Nara berjalan duluan, diikuti Jungkook di belakangnya.

Nara dan Jungkook berjalan beriringan, namun tidak ada sepatah kata yang keluar dari keduanya. Kaku dan canggung.

Tepat saat Nara ingin membuka mulut, Jungkook memasang headphone hitam di telinganya. Membuat Nara kembali menelan kalimatnya.

Waktu terus berlalu. Namun hanya kediaman yang menghantar keduanya. Keadaan ini lama-kelamaan membuat Nara jengah. Untuk yang kedua kalinya hari ini, Nara kembali menarik headphone lelaki di sebelahnya ini.

Annyeong? Ada orang di sebelahmu tapi kau malah mendengar musik?” tanya Nara dengan nada mengejek.

“Lalu apalagi yang harus kulakukan?” Jungkook balas bertanya.

“Katakanlah sesuatu.”

“Sebenarnya daritadi aku menunggumu mengatakan sesuatu.”

Nara mengerjapkan matanya saat angin musim semi tiba-tiba menerpa. “Well­, kalau kita sama-sama menunggu tidak akan ada yang terjadi.”

“Jadi kau menyuruhku bicara?”

“Karena aku sedang tidak punya topik untuk dibicarakan, jadi… iya.”

Memasukkan kedua tangan ke saku, Jungkook mengalihkan pandangannya. Seolah sedang berpikir keras. “Bagaimana rambutmu bisa tidak lengket lagi?”

“Rambutku?!” Nara tampak terkejut dengan topik yang Jungkook ambil. “Oh, kau pasti melihat pertengkaranku dengan setan rambut pirang itu tadi pagi. Aku membersihkannya di wastafel, lalu mengeringkannya dengan tisu. Sebenarnya aku malu, tapi.. hahaha..” ia menghentikan ucapannya dengan tawa garing.

“Uhm, maafkan aku.”

“Maaf? Untuk apa?” tanya Nara dengan tanda tanya besar di wajahnya.

“Tidak. Maksudku, kita sudah sampai,” seolah tak mau membahasnya lagi Jungkook langsung mengalihkan pembicaraan.

 

***

 

Mereka akhirnya sampai di kamar Jungki.

Jungkook hanya bisa menatap kembarannya itu dalam diam, sementara Nara dengan sigap mengambil pisau, piring kecil, serta apel merah dari keranjang buah dan mengupasnya.

“Ugh..” perhatian keduanya langsung terpusat pada seseorang yang sedang mengerang di ranjang, berusaha mendudukkan diri.

Jungkook dan Nara segera menghampirinya.

Ya, ini pertama kalinya kau sadar, ‘kan? Bagaimana keadaanmu?” tanya Nara khawatir. Jungkook berusaha membantunya duduk.

Jungki menatap Nara sambil mengerjapkan mata beberapa kali. “Tadi malam aku melihat sesosok bidadari, ternyata itu kau,” gumamnya hampir tak terdengar.

Nara yang seolah tak percaya apa yang baru saja didengarnya mengernyitkan dahi. “Mwo?!”

Jungkook langsung menoyor kepala Jungki, agar saudara kembarnya itu benar-benar kembali ke dunia nyata.

YA, bocah, gadis ini bertanya bagaimana keadaanmu tapi kau malah bicara ngelantur. Pikirkan dulu sebelum bicara,” titah Jungkook.

“Baik, baik, kapten,” Jungki mengiyakan secara terpaksa.

“Terserahlah. Kau berhutang cerita padaku.”

Nara hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah mereka berdua.

“Baek Nara, terima kasih karena sudah mengantarku ke sini. Dan ngomong-ngomong, kau pasti sudah bertemu dengan kembaranku ini ‘kan?”

Nara mengangguk. “Sama-sama, Jungki. Jangan kaku begitu, panggil saja aku Nara. Aku akan mengupaskan apel untuk kalian berdua.”

Setelah berpamitan Nara kembali ke tempat duduknya semula. Diam-diam, Nara memperhatikan dua orang berwajah identik itu dengan seksama. Keduanya benar-benar terlihat serupa. Hanya saja Jungkook memiliki rambut lebih ikal, sementara Jungki berambut lurus dan punya dua tindik di telinganya.

Nara jadi penasaran bagaimana rasanya punya saudara kembar. Membagi semua bersama, pasti akan sangat menyenangkan. Apalagi setiap kali bertatap muka akan terasa seperti sedang bercermin.

Nara jadi geli sendiri membayangkan bagaimana jika ia punya saudara kembar.

“Nara, apelnya sudah belum?” sahut Jungki bersemangat. Dua hari ini ia belum makan apa-apa.

Nara hampir saja melupakan apelnya karena keasyikan melamun.

 

***

 

Setelah beberapa lama menghabiskan waktu bersama si kembar, Nara akhirnya pamit pulang.

“Aku juga mau pulang,” sambung Jungkook.

“Kau tidak menemani Jungki?”

“Untuk apa aku ditemani orang seperti dia? Lebih baik kalian berdua pulang saja,” sahut Jungki dari belakang.

Jungkook dan Nara pun keluar dari rumah sakit. Kembali diselimuti keheningan.

“Pasti enak rasanya mempunyai saudara kembar.” Nara membuka percakapan.

Jungkook hanya tersenyum kecil.

‘Seandainya saja dia tau yang sebenarnya,’ batinnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Finally aku berhasil menyelesaikan chapter 1 woohoo ^0^)/

Gimana menurut kalian chapter ini? Jangan lupa tinggalkan jejak di bawah ini ya.. aku selalu menerima masukan dari kalian kok.

Sampai jumpa di chapter berikutnya~

21 responses to “Twins on The Playground—(Chapter 1)

  1. Lah kok udah tbc aja >_< hai authornim.. maaf baru coment. Saya baru menemukan cerita ini barusan ._.)/ *yo!*/sok asik/ Nara berani sekali duduk diantara orang asing ._. Kala aku mungkin milih ngacir kali ya.. #oot

    yah intinya keep writing authornim ^-^)/ ditunggu lanjutannya :9 fighting

    • yo! yo! lilbee /ikut2an sok asik/ wah sayang dong siapa tau orang asing itu bisa jadi temen /malah apa/ okee lanjutannya udah ada lho^^

  2. Kayaknya jungkook yang numpahin sesuatu deh ke nara, bukan orang berambut pirang itu.. Tapi dia nggak ngaku..? 😂

  3. hai kakak~^^
    sekarang tulisannya sudah lebih rapi nih, jadi enjoy bacanya hehe^^
    aku suka cerita awal part 1 ini, ringan tapi cukup bikin penasaran
    lanjut ya kak, pengen tahu gimana aksi si kembar itu selanjutnya *hihi, jadi ngingetin kembaran aku juga *plakk
    hwaiting!😀

  4. Pingback: Twins on The Playground—(Chapter 2) | FFindo·

  5. Hallo bae… Sorry for my late dropping comment hoho… Bahasanya bagus kek biasanya :’) keep goin. Tapi kalo boleh komen, aku ngerasa alurnya sedikit agak lambat. U wrote everysingle scene in this story. Yeah even though i know u cant skip/remove one up to 3 scenes, but yeah it think it’ll be better if u go straight to main focua of this ff :’) but overall is perfect hoho xD keep working😀

    Timun

    • mumun.. kemana aja lu?
      kemaren aku udah liat kamu nge like postinganku tapi kok komennya belum ada ahaha
      iya aku ngerasa agak aneh juga. dikit” skip, terus skip lagi. but bcs ini chapter pengenalan jadi aku biarin aja deh. di next chapter bakal aku kurangi kok hihhi.. thx for remind me btw<3

  6. Pingback: Twins on The Playground—(Chapter 3) – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s