Memory – Chapter 3

Memory 2

“Although can’t touch you, it’s okay.”

Author : Tricila

Cast : Jessica Jung as Jung Soo Yeon

Sehun EXO as Oh Sehun

Main cast : Find your self

Genre : Angst, Friendship, Tragedy

Rated : PG – 13

Length : Chapter [3/?]

Note : Tokoh milik kita semua. Kejadian hanyalah fiktif belaka. Alur cerita sepenuhnya milik saya. Pay attention for typo.

.

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2

.

Chapter 3 – Her and Him

Soo Yeon tercengang mendengar suara itu. Sepertinya ia mengenalnya. Bukan, dulu ia sering mendengarnya. Mirip suara ibu. Tapi tidak mungkin, pikir Soo Yeon. Dengan keberanian yang minim, gadis yang bersembunyi di belakang punggung Sehun itu keluar dan terpaku ketika melihat sosok wanita berumur 40 tahunan dengan dandanan menor dan glamour di sana-sini. Ya. Dia benar. Dia pernah mendengar suaranya. Dia sering mendengarnya suaranya. Tetapi itu dulu.

Ibu?

Wanita itu, juga sama terpaku ketika melihat Soo Yeon yang keluar dari persembunyiannya. Tak menanggapi ucapan sengit yang dilontarkan Sehun untuknya. Dia hanya memandangi perempuan yang kini berada di dalam genggaman Sehun seolah-olah dirinya berbahaya untuk perempuan itu. “Si-siapa dia?” tanyanya tergagap kepada Sehun.

“Kau tidak perlu tahu.”

Soo Yeon menelan ludahnya. Begitu besar keinginannya untuk berlari ke arah ibunya dan memeluknya erat. Namun, sekarang ia tidak bisa dan tidak mungkin untuk melakukan hal itu untuk saat ini. “Dia.., cantik dan manis,” puji ibu tiri Sehun yang tertuju untuk Soo Yeon dan membuat hatinya berdesir. Orang yang dipuji itupun tak menanggapinya. Masih menahan tangisannya dalam diam dan tak percaya akan semua hal yang terjadi.

“Sehun-ah, kamar mandinya ada di mana?” tanya Soo Yeon beralasan ingin cepat pergi dari tempat itu. “Ikuti ahjumma itu,” perintah Sehun setelah menyuruh ahjumma-nya mengantar Soo Yeon.

Belum sempat sampai ke kamar mandi, saat Soo Yeon melewati ibunya, tangisannya mulai menetes saat dirinya melirik ibunya yang juga meliriknya dengan tatapan sedih. Soo Yeon mempercepat langkahnya agar tidak ketahuan oleh Sehun. “Nona Soo Yeon, ada apa? Kenapa menangis?” tanya ahjumma ketika menyadari mata Soo Yeon berlinang air mata. “Ti-tidak,” jawab singkat Soo Yeon kemudian memasuki kamar mandi setelah menitipkan tasnya pada ahjumma.

Seketika tangisannya pecah. Suara tangisannya berbaur dengan suara air yang mengalir dari kran yang memang sengaja dinyalakannya agar meredam suaranya. “Ibu, kenapa? Apa ini alasanmu meninggalkanku 7 tahun lalu? Ibu… Jahat,” lirih Soo Yeon memukul-mukul dadanya yang semakin sesak. Ia terperosot ke lantai kamar mandi yang setengah basah. Membenamkan wajahnya pada lututnya. Menangis sejadi-jadinya mengingat kejadian sebelumnya sangat menyayat hati.

Suara ketukan pintu menyadarkannya dari kesedihan yang mendalam. “Soo Yeon-ah? Kenapa lama?” terdengar suara Sehun yang khas dari balik pintu itu. Soo Yeon buru-buru bangun dan menyeka air matanya. Setelah mencuci muka dan mematikan air kran yang dinyalakannya tadi, ia keluar dengan fake smile yang biasa lakukan kepada ayahnya. Namun, mata bengkaknya tak bisa berbohong. Sial. Aku tidak mungkin menceritakannya, pikir Soo Yeon setelah mendengar pertanyaan tentang penyebab matanya bengkak.

Soo Yeon didudukkan di sofa ruang tengah. Saat itu juga, ia tidak melihat ibunya di sekitarnya. Hanya ada dirinya, Sehun, dan ahjumma yang sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka sebelum pergi.  “Kenapa matamu bengkak?” tanyanya sekali lagi. Gadis dengan poni sedikit basah itu menggeleng. “Jangan menipuku. Kau menangis.”

“Kau sudah tahu tapi kenapa masih bertanya?”

“Maksudku, kenapa kau menangis? Di kamar mandi pula. Tidak ada tempat yang lebih elite?” kata Sehun bermaksud bergurau namun hanya mendapat respon datar dari Soo Yeon. “Lupakan. Mana tugas bahasa inggrismu?” tanya Soo Yeon tanpa menatap Sehun dan tetap mengeluarkan kotak pensilnya. “Hei, Jung Soo Yeon. Aku serius.”

Soo Yeon menghela napas, lalu memasukkan kembali barangnya yang telah dikeluarkannya dari tas. “Aku pulang dulu,” pamit Soo Yeon kemudian beranjak dari duduknya dan melenggang pergi. Sehun hanya menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh dari pandangannya, dan akhirnya menghilang di balik pintu apartemennya. “Ada apa dengan gadis itu?”

***

Lift berdenting, begitu pula Soo Yeon yang melangkah keluar dari gedung itu. Tepat di pintu depan gedung Galleria Foret, beberapa pengawal yang sempat ia lihat di sekitar apartemen Sehun tadi mencegah langkahnya. “Maaf. Anda dipanggil Nyonya,” ucap salah satu dari mereka yang menghadang Soo Yeon. “Maaf. Tapi saya tidak mengenal orang yang ajussi panggil Nyonya,” kilah Soo Yeon cepat kemudian melanjutkan jalannya lagi. Tetapi tak semudah itu jika dia sudah masuk ke area pengawal itu. “Silahkan ikut kami.”

Soo Yeon menghela napas berat, dan akhirnya mengalah untuk mengikuti mereka. Dia tiba di lobi apartemen mewah itu. Dari jauh, nampak wanita itu sedang menyesap kopi hitamnya. Matanya terpejam menikmati rasa pahit dan manis dari minuman itu. Lalu matanya melebar ketika mendapati Soo Yeon yang sudah berdiri di depannya. “Duduklah,” ucap lembut wanita itu—atau lebih tepatnya ibu kandung Soo Yeon—ramah disertai senyumannya.

“Cantik,” pujinya sambil menatap lekat anaknya itu. Gadis itu hanya diam tanpa ekspresi. Tak berniat untuk menjawab atau melemparkan satu katapun untuk wanita yang pernah dipanggilnya ‘ibu’ itu. “Berapa lama kita tidak bertemu?” tanya Park Soo In masih dengan senyuman tulusnya.

“Bagaimana kau bisa bertemu Sehun?”

“…”

“Apa kau satu kelas dengan Sehun?”? Seingat ibu—“

“Maaf. Tetapi anda bukan ibu saya,” potong Soo Yeon cepat dan membuat ibunya itu diam seribu bahasa. Beberapa menit mereka saling terdiam. Saling menatap. Dan saling menahan air mata. “Kalau sudah tidak ada yang ingin anda bicarakan, saya permisi. Terima kasih atas tehnya,” kata Soo Yeon membungkuk 90 derajat lalu pergi dari lobi itu.

Ibunya masih terpaku mendengar ucapan anaknya yang begitu menggores hatinya sampai ke bagian terdalam. Tetesan air matanya mengalir seiring langkah Soo Yeon yang semakin jauh. “Maafkan aku,” gumam Soo Yeon.

***

Rambutnya setengah basah. Tubuhnya yang mungil itu menggigil di balik selimut tebal berwarna soft pink. Dahinya menempel kompres yang diberi oleh ahjumma beberapa saat lalu.  Ayahnya sudah ditelpon, namun tak kunjung datang karena macet. Tatapannya tak fokus, pikirannya mengulang berkali-kali kejadian beberapa jam lalu. Saat ibunya menatapnya. Memujinya. Dan menangis karena penyesalannya.

Dering ponselnya menggema sesaat setelah suara bel pintu depan berbunyi. Tangannya yang lemah itu meraih ponselnya yang ada di nakas. “Halo?” ucapnya gemetar. “Kau sakit?” tanya Sehun dari seberang telpon. “Hanya demam. Kenapa? Kau mau menagih janjiku yang harusnya mengerjakan tugas bahasa inggrismu tadi?”

“Harusnya sih memang begitu. Tapi tidak. Apa yang kau bicarakan dengan wanita ‘itu’ di lobi apartemen tadi?” tanyanya serius, tak terdengar nada bercanda di setiap penekanan katanya. Soo Yeon terdiam. Lalu angkat bicara setelah beberapa saat, “Kau melihatnya?” balas Soo Yeon ragu. “Tentu saja. Aku melihat wanita itu menangis, kau juga. Ada apa? Apa yang dibicarakan wanita itu sampai membuat kalian berdua menangis? Atau yang lebih tepat, ada hubungan apa kalian?”

Hening. Soo Yeon memilih diam seribu bahasa tentang berbagai pertanyaan yang diajukan temannya itu. “Haha.. Kau ini apaan sih? Ibu tirimu dan aku tidak menangis. Aku tadi menguap, jadinya ada sedikit air mata,” bantah Soo Yeon sebisanya.

Sehun mengerutkan keningnya, masih tidak percaya dengan alasan yang Soo Yeon buat. “Baiklah,” ucapnya mengakhiri telpon. Setelah memasukkan ponselnya ke saku celana, ia berjalan ke arah dapur, membuka kulkas, dan meminum air mineral dingin. “Akan kucari sendiri.”

***

Tak seperti yang diharapkan, pagi itu Soo Yeon merasa tubuhnya semakin lemas dan sempat tak kuat untuk menopang tubuhnya sendiri. Ayahnya memaksa Soo Yeon agar tidak perlu berangkat ke sekolah hari itu, tetapi, bukan Jung Soo Yeon apabila ia tidak mendesak ayahnya agar mengizinkannya berangkat.

Walaupun wajahnya pucat pasi, ia tetap mempersiapkan dirinya seperti biasa. Berusaha tidak merasakan rasa sakit disekujur tulangnya yang semakin menusuk ketika berhadapan langsung dengan angin luar Desember. Dingin. Sangat dingin. Dan semakin dingin. Ayahnya menyuruh Soo Yeon untuk berangkat bersamanya, dan diterimanya dengan mudah karena ia sudah merasa tidak mungkin untuk berjalan cukup jauh dalam kondisinya saat ini.

“Kau bisa meminta anak itu mengantarmu pulang kalau kau merasa lebih sakit,” ujar Direktur Jung sambil tetap menatap lurus. Anaknya yang sedari tadi membuang pandangan ke luar jendela mengalihkan pandangannya ke ayahnya dengan tatapan tak mengerti. “Anak itu? Siapa?” tanyanya menyuarakan rasa ingin tahu dari kepalanya. “Kemarin saat ayah sudah tiba di sekolahmu, berniat menjemputmu, ternyata kau mengirimiku pesan agar tak perlu menjemput. Dan ayah sempat melihatmu masuk ke mobil laki-laki tampan dan tinggi itu. Mungkin kalian dekat, mintalah bantuan ke anak itu kalau kau merasa lebih sakit.”

Yang dimaksud Sehun? batin Soo Yeon. “Dia Sehun. Oh Sehun,” jawab Soo Yeon kemudian menatap lurus ke depan. Kening Direktur Jung mengerut, tampak sedang berpikir keras. “Tunggu. Ayah sepertinya pernah melihat Sehun-Sehun itu…, ah, benar. Ayah pernah melihatnya berjalan tepat di belakangmu saat kau pulang malam. Saat itu ayah ada di luar, benar. Ayah yakin itu dia.”

Soo Yeon mengerjap tak percaya. Sehun mengikutinya? Malam itu, sepertinya malam saat ia benar-benar menjadi teman rahasianya. Dia tahu rumahnya? Soo Yeon terus berpikir ketika sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah disiapkannya terlupakan sejenak. “Ayah,” panggil Soo Yeon lirih. Direktur Jung menoleh ketika mendengar nada serius dari panggilan anaknya saat itu.

“Aku bertemu ibu.”

“Ayah, aku bertemu ibu,” ulang Soo Yeon setelah tak mendapatkan respon dari ayahnya. “Oh? Kita sudah sampai. Turunlah. Jangan lupa minum obat yang diberikan dokter setelah makan siang,” kata Direktur Jung mengalihkan perhatian. Soo Yeon mengatupkan bibirnya rapat-rapat, antara kecewa, sedih, dan marah dengan sikap ayahnya.

Setelah memberi hormat pada ayahnya, mobil yang tadi ia naiki pergi meninggalkan dirinya yang memandangi jalanan dengan kecewa. Kecewa dengan ibunya, kecewa dengan ayahnya, dan kecewa terhadap diri sendiri.

Tiba-tiba suara yang tak asing itu membuyarkan lamunannya. “Hei, Soo Yeon-ah, kau tidak masuk?” tanya Ji Rae sambil merangkul pundak kawannya itu. “Oh? Wajahmu pucat. Kau sakit?” selidiknya ketika mendapati wajah Soo Yeon yang tak seperti biasanya. Lengkungan manis di bibirnya menghilang, seperti terbawa angin, kulit putih meronanya berganti menjadi kulit putih pucat. “Kau mau ke unit kesehatan? Sepertinya kau belum kuat berjalan cukup jauh.”

Sambil dipapah teman setianya itu, Soo Yeon memaksakan senyuman kecut. “Tidak. Apa halaman sejauh itu dengan kelas kita?” tanya Soo Yeon dengan nada sedikit bergurau. Ji Rae menghela napas, “Kau tahu? Lobby sekolah luasnya sama seperti lapangan depan, kita juga harus naik 1 lantai. Apalagi kelas kita ada di pojok. Setiap ruang kelas itu luas Soo Yeon, dan koridornya juga panjang. Kau tidak mau pingsan di tengah jalan kan?”

“Kau berharap aku pingsan di tengah jalan?”

“Bukan. Bukan itu maksudku…, tapi nanti kalau kau memaksakan aku tidak kuat menggendongmu ke unit kesehatan. Badanku memang cukup besar, tapi tidak sekuat yang kalian pikir. Oh ayolah, Soo Yeon-ah, kau membuatku kehabisan kata.”

Soo Yeon terkekeh pelan karena berhasil membuat kawannya mati kutu. Dalam tawaan pelannya, tiba-tiba seseorang menggendongnya di punggungnya. “Oh? Vernon-ah, apa yang kau lakukan? Turunkan aku,”  perintah sekaligus bentak Soo Yeon. Vernon mengabaikan perintah Soo Yeon sekaligus tatapan aneh siswa lain yang melihat mereka. Dengan santai, ia berjalan menuju lobby sekolah.

Saat tiba di lobby sekolah, Vernon menurunkan Soo Yeon. “Hei, kau ini apa-apaan? Menggendong orang seenaknya,” omel Soo Yeon sedangkan di belakangnya terdapat Ji Rae yang terkikik pelan karena bisa membuat Soo Yeon cukup sehat—dengan bukti Soo Yeon bisa mengomeli orang lain—dan wajahnya tidak sepucat beberapa menit lalu.

“Ji Rae yang memintaku,” katanya kemudian melenggang pergi. Soo Yeon mendengus kesal, tak habis pikir dengan kelakukan manusia angkuh yang berjalan tanpa dosa di depannya itu. Rasanya… Ingin melempar sepatunya ke kepala orang itu.

Barus sadar dari kekesalannya, begitu ia memutar tubuhnya ke belakang, Soo Yeon melihat Ji Rae sudah kabur dari tempatnya semula. “Dasar tidak berguna,” umpatnya.

“Aku tak berguna?”

Soo Yeon menoleh dan tersentak mendapati Sehun yang ada di sampingnya dan tetap menatap punggung Ji Rae yang semakin jauh. “I-iya. Kau sama sekali tidak berguna!” bentaknya kemudian berjalan dengan langkah lebar—selebar yang ia bisa dengan kondisi sedikit demam—tanpa menoleh ke belakang.

***

‘Ayah, aku bertemu ibu’, kata-kata itu terus terngiang dipikiran sang Direktur Jung yang tengah menjalani rapat mengenai kegiatan akhir tahun Perusahaan H. Meskipun tetap ikut serta membolak-balikkan kertas yang ada di hadapannya, otaknya bahkan tak bisa mencerna satu kalimatpun yang dikatakan Direktur Perencanaan.

Ia tahu betul anaknya merindukan ibunya, tetapi ada hal yang membuat Soo Yeon tak boleh bertemu lebih lama dengan ibunya. Hal yang akan membuat anaknya marah kepada ayahnya, hal yang akan membuat kehangatan mereka sirna, dan yang paling ditakutkan adalah… Hal yang akan membuat mereka berpisah.

“Kalau begitu, bagaimana tentang laporan dari Direktur Pemasaran kebanggaan kita?” tanya Presdir Kang begitu semangat. Direktur Jung diam dan tetap dengan pikiran sebelumnya. “Direktur Jung,” panggil Presdir Kang sekali lagi yang langsung menyadarkan Direktur Jung. “Ya? Ya. Baiklah, bisa kita lihat tingkat pemasaran bulan ini melonjak 2% dari sebelumnya, promosi yang dilakukan juga menambah…”

***

“Baiklah, semuanya sudah dapat pasangan?” seru Guru Jang—guru olahraga—dengan penuh semangat ketika siswanya tersenyum lebar tepat setelah ia mengumumkan akan bermain game ini. Melindungi pasangan yang berada di belakangnya agar tidak terkena bola yang dilempar musuh. Tidak dibagi dalam 2 tim, tetapi mereka hanya dibagi pasangan laki-laki dengan perempuan.

“Guru, aku benar-benar harus melindungi Soo Yeon?” seru Sehun dari pojok aula -dengan nada aku-tidak-mau-melindungi-dia. “Ya! Kau benar-benar harus melindungi Soo Yeon kalau tidak mau kalah cepat!” balas Guru Jang yang hendak mengoper bola tangan tetapi terhenti ketika Sehun berbicara, “Kalau begitu, Soo Yeon, ayo kita mengaku kalah.”

“Hei Oh Sehun! Mana bisa kau bilang seperti itu? Seperti pengecut saja. Kau tidak mau kena pukul bola tangan? Buktikan kalau kau ini sebenarnya tahan banting!” ujar Oh Kwon Ri memprovokasi Sehun. “Benar! Kalau kau kalah, traktir kami makan hotdog nanti malam!” tambah Jung Na Ra—pasangan Oh Kwon Ri. “Kalau kami kalah, kami akan memberikan yang kalian mau!”

Tangan Sehun mengepal, seperti biasa, dia tidak suka dipandang remeh oleh siapapun. Ia terkenal dengan julukan tahan banting juga, walaupun pernah beberapa kali dipukuli habis-habisan, tapi saat itu Sehun hanya sedang tidak berminat untuk berkelahi saja. “Baiklah. Akan kulindungi Jung Soo Yeon dan kena pukul bolamu itu. Baiklah. Guru! Aku main!”

Mendengar ucapan Sehun, entah kenapa Soo Yeon seperti pernah mendengarnya di masa lampau. Seperti hal yang tidak asing di telinganya. Atau mungkin teman laki-lakinya dulu pernah mengatakan hal yang sama saat ia bermain dulu? Entahlah, hal itu pasti hanya kebetulan.

Sehun membuyarkan lamunan Soo Yeon dengan berkata, “Pegang kausku erat-erat atau peluk aku dari belakang erat-erat. Kalau kita kalah, berarti kau yang akan mentraktir mereka. Mengerti?” Soo Yeon tertegun ketika mendengar Sehun menyuruh dirinya memeluknya. “Cih, yang benar saja. Aku tidak mau pelukkan denganmu. Pegang kausmu saja sudah cukup.”

Peluit dibunyikan oleh Guru Jang, bersamaan dengan beliau melempar bola tangan itu ke arah siswanya yang langsung berlarian tak karuan bersama pasangan mereka masing-masing. “Ingat! Yang melepaskan pasangannya akan kalah!” Guru Jang mengingatkan kembali tentang peraturan ke-2 permainan itu.

Bola dioper ke Sehun, dan Sehun berhasil menangkapnya dengan mudah. “Nice catch,” gumamnya kemudian melemparkan bolanya lagi ke arah Oh Kwon Ri dan Jung Na Ra. Tepat mengenai bagian punggung Na Ra, “Nice shoot.

“Sampai kapan kau mau memuji dirimu sendiri?” tanya Soo Yeon ketus sambil tetap mengikuti gerakan tubuh Sehun yang kesana-kemari. “Sampai kita menang,” jawab Sehun sambil  menoleh ke belakang, mencari di mana lokasi bola tangan itu. Sehun mendapati bola dipegang oleh Park Ji Rae yang ada tepat di belakang Soo Yeon. Pergerakannya yang cepat, membuat Sehun reflek memutar tubuh Soo Yeon sehingga kini berada di dalam pelukannya, dan bola itu mengenai punggung Sehun.

Semua siswa langsung berhenti berlari atau tertawa ketika melihat pemandangan itu. Mungkin beberapa siswa yang benar-benar terkejut sampai menahan nafas dan menahan matanya agar tidak berkedip. Sehun memeluk Soo  Yeon. Sontak Soo Yeon terkejut dengan sikap Sehun yang tiba-tiba memeluknya. Semua yang terjadi begitu cepat sehingga Soo Yeon tak terasa ia sudah ada di pelukan orang itu.

“Sehun berpelukan dengan Soo Yeon!” teriak Kang Ji Hyun begitu histeris sehingga menyadarkan Soo Yeon untuk segera melepaskan pelukan dadakkan itu. Begitu pula dengan Sehun, ia langsung melempar balik bola yang tadi sempat mengenai punggungnya itu tanpa kata yang keluar dari mulutnya.

Permainan tetap berlangsung, namun suasana canggung menyelimuti satu pasang pemainnya. Soo Yeon agak ragu saat ia disuruh lagi untuk memegang kaus Sehun. Ingin mengaku kalah, tapi ia tidak bisa membuang uangnya begitu saja hanya karena mentraktir hot dog satu kelas. Meskipun canggung, Sehun tetap berusaha melempar bola itu ketika bola itu mengenainya.

“Uuh.., berpelukan dengan mantan orang yang disuka,” goda Ji Rae sambil menyerahkan salah satu botol air mineral yang dibawanya setelah pelajaran olahraga selesai. “Seheboh itu sampai aku tidak bisa menelan ludahku sendiri,” gumam Soo Yeon. Soo Yeon memperbaiki posisi duduknya sehingga kini menghadap temannya yang ada di sampingnya. “Park Ji Rae,” panggilnya pelan tapi masih terdengar Ji Rae. “Apa?”

“Sehun… Apa dia terlihat senang saat memelukku?”

Ji Rae terkekeh mendengar pertanyaan konyol dari Soo Yeon. Tak disangka, ternyata orang ini masih memendam rasa yang sama walaupun sudah dibatasi sebagai teman rahasia dengan Sehun. Tapi, sebenarnya tidak ada salahnya untuk berharap kan? Seperti yang pernah Soo Yeon bilang, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin.

“Apa ini? Pertanyaan konyol,” jawab Ji Rae santai. “Ternyata kau masih suka orang itu… Baiklah. Tak jadi mengenalkan dia,” lanjutnya. Pernyataan Ji Rae itu membuat Soo Yeon bingung. “’Tak jadi mengenalkan dia’?” ulang Soo Yeon. Ji Rae mengangguk, “Ada adik temanku yang naksir sama Sehun. Dia memintaku untuk mengenalkannya, tapi aku masih memikirkannya karena bisa jadi kau masih menyukainya. Ternyata benar. Dan, akhirnya aku tidak perlu mengenalkannya. Aku tidak mungkin membiarkanmu menonton dua manusia yang berpacaran tepat di depanmu.”

Soo Yeon tersanjung dengan kalimat Ji Rae. Dalam dan menyentuh. Ia menjadi merasa lebih berharga untuk orang lain. “Ah, kau ini. Membuatku tersanjung,” ungkap Soo Yeon sambil menggeliat di lengan Ji Rae yang empuk itu. “Hei, geli. Hentikan! Geli!”

***

Pria bertubuh tegap berisi itu duduk di sebuah kafe yang dekat dengan kantornya. Jam makan siang, dia menunggu seseorang sambil membolak-balikkan daftar menu yang sudah diberikan oleh pelayan. Setiap bel di atas pintu masuk kafe berdenting, pria itu selalu menoleh ke arah tersebut, seolah berharap orang yang ditunggunya cepat menemuinya.

Ketika bel di atas pintu masuk kafe itu berdenting untuk kesekian kalinya, akhirnya orang yang ditunggunya itu datang. Melihat sekeliling untuk mencari sosok yang akan ditemuinya, dan menemukannya di sudut kafe itu. Menghampirinya dengan senyuman hambar yang semakin terlihat dipaksakan.

“Duduklah.”

Wanita berumur 40 tahunan itu duduk sesuai perintah dari orang itu. “Ada apa memanggilku kemari? Kau tahu urusan kita sudah selesai 8 tahun lalu,” katanya tanpa menatap lawan bicaranya. “Aku tahu urusan kita sudah selesai 8 tahun lalu. Tapi kau membuka urusan itu lagi. Kenapa kau menemuinya?” tanya pria itu tanpa basa-basi. Wanita itu menghela napas, lalu memanggil pelayan untuk memesan minuman dan mengabaikan pertanyaan pria yang ada di depannya.

“Kau pasti juga tahu kalau bukan aku yang menemukannya. Dia yang menemukanku,” jawab wanita itu tanpa ekspresi setelah menyesap americano-nya. “Apa maksudmu?” pria itu mengerutkan dahinya sehingga tampak kerutan yang semakin membuatnya terlihat tua. “Anak tiriku temannya. Dan dia pergi ke apartemen anak tiriku. Jangan berpura-pura tidak tahu kalau dia mencariku. Aku tahu, selama ini ada beberapa orang yang mengikutiku, dan kudengar orang itu suruhannya.”

Pria itu memikirkan tiap kata yang terlontar dari mantan wanitanya yang ada di hadapannya itu. “Aku pergi.”

Wanita berhias glamour itu semakin menjauh dari pandangan sang pria hingga menghilang di dalam mobil bermerek Lexus abu-abu yang melaju.

***

Soo Yeon berjalan menyusuri  trotoar jalanan Gangnam dengan perasaan gelisah. Matanya memang menatap lurus ke depan, langkah kakinya memang berjalan seperti sebagaimanamestinya, tetapi pikirannya melayang memikirkan detakan jantungnya saat dipeluk Sehun. Ia takut detakan jantungnya yang begitu cepat akan terdengar ke telinga Sehun. Ia malu. Takut. Tak tahu harus bagaimana menghadapi Sehun dikemudian hari kalau benar Sehun mendengar detakan jantungnya.

“Aku harus bagaimana?” dengusnya mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi membayangi otaknya. Soo Yeon mendengus kesal sambil menendang kerikil yang ada di depannya. Dengan ponsel dalam genggamannya, Soo Yeon terus bergumam seperti itu sampai ia menabrak seorang lelaki bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam lengkap dengan topi hitam yang menutupi hampir setengah wajahnya. “Oh, maaf.”

“Aku harus bagaimana? Kalau sampai mendengar, aku harus bagaimana?” ia bergumam kembali setelah orang yang ditabraknya itu pergi dari hadapannya.

“Apanya?”

Soo Yeon tersentak ketika mendengar suara itu lagi. Soo Yeon meniup sedikit poni yang di dahinya. “Hei, kau mau sampai kapan tiba-tiba muncul di dekatku seperti itu?” keluhnya sambil menghentakkan kakinya jengkel.

Sehun mengerucutkan bibirnya membalas kekesalan Soo Yeon padanya. Pura-pura ngambek untuk menarik perhatian gadis itu agar tidak jengkel terhadapnya. Namun nihil. Gadis itu justru melanjutkan langkahnya dengan langkah besar-besar yang lebih besar dari tadi pagi.

“Kau merasa lebih baik?”

“Kenapa?”

“Langkahmu lebih besar dari yang tadi pagi.”

Langkahnya langsung berhenti mendengar sahutan Sehun. “Kau mendengarnya?” tanya Soo Yeon dengan raut serius. Sehun menatapnya bingung, “Mendengar apa? Ada yang teriak minta tolong?” ia berbalik bertanya, dan saat itu juga Soo Yeon menghela napas—terlihat lega—lalu melanjutkan langkahnya lagi menuju halte bus dekat sekolah.

Sehun tetap mengikuti gadis itu dari belakang tanpa kata. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celananya, dan matanya menerawang ke langit Seoul. Tanpa sadar Sehun menabrak Soo Yeon yang berhenti mendadak lagi. “Kenapa?” tanyanya ketika Soo Yeon menatapnya penuh arti.

“Kau mau sampai kapan mengikutiku setiap hari saat pulang sekolah? Kau mau mengantarku pulang setiap hari?” gerutunya sambil meremas tali tas sekolahnya. Sehun menarik tangan mungil yang tengah meremas tali tas sekolahnya sendiri ke dalam genggamannya, lalu menempelkannya ke dada bidangnya yang terbalut mantel coklatnya.

Soo Yeon dapat merasakan detak jantung Sehun ketika tangannya menyentuh dada Sehun. Normal. Dia tidak merasakan apapun saat bersamaku, batinnya. “Aku melakukannya dari hati. Jadi, sampai hatiku bosan untuk mengantarmu aku akan berhenti mengantarmu,” tuturnya tulus dan pelan.

Soo Yeon buru-buru  menarik tangannya dari genggaman Sehun. “Cih, kau ini apa-apaan? Pakai alasan hati. Kau pikir kita ini pacaran sampai perlu pakai hati di setiap kegiatan kita?” gurau Soo Yeon sambil tertawa kecil berusaha mengabaikan jantungnya yang masih berdegup. “Mungkin.”

Ia membeku. Kata singkat itu begitu peka pada telinganya. Rasa panas menjalari pipinya di udara yang dingin itu. Bahkan udara musim dingin saat itu tak bisa menembus rasa panas yang dirasakannya akibat kata singkat yang keluar dari mulut mungil Sehun beberapa saat lalu.

‘Ah, kenapa kata pacaran harus keluar dari mulut ini? Sialan.’

Sehun menarik tangan Soo Yeon lagi ke dalam genggamannya. “Ayo, busnya sudah datang,” ucapnya sambil menarik gadis yang tengah tenggelam dalam pikirannya ke arah halte bus yang beberapa langkah di depannya itu.

***

Soo Yeon’s POV

Kenapa aku harus mengatakan hal seperti itu di depannya? Dasar bodoh. Kau pikir kita ini pacaran sampai perlu pakai hati di setiap kegiatan kita? Pacaran? Kenapa harus mengatakan hal itu? Memalukan. Dan kenapa aku tidak memikirkan jawaban yang akan terlontar? Memang benar-benar bodoh. Lagi pula bukannya dia menyukai orang lain? Dasar.

Bahkan meskipun dia tetap tidak tahu kalau jantungku berdegup kencang saat dipeluknya tadi, kenapa aku tetap membuatku diriku memalukan dan tak bisa berbuat apa-apa? Ayolah. Kenapa aku bisa menjadi seperti ini di hadapan seorang Oh Sehun? Ini bukan pertama kalinya aku berkencan. Sebelumnya, aku pernah menjalani satu kencan dengan laki-laki tertampan di SMU Busan, tapi kenapa aku bisa benar-benar terlihat menyedihkan di hadapan dia?

Dasar bodoh.

Sehun’s POV

Kenapa aku harus mengatakan hal seperti itu di depannya? Dasar bodoh. Aku melakukannya dari hati… Mungkin. Oh ayolah. Jawaban apa itu? Bagaimana bisa jawaban itu terlontar dari seorang Oh Sehun? Dan di hadapan si anak baru Jung Soo Yeon? Aku tidak bisa bertindak secepat itu. Ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Tapi, nasib baik aku masih bisa mengendalikan detak jantungku agar tidak terasa olehnya. Bisa mati malu aku.

Apalagi kalau aku sampai kelepasan mengatakan kalau aku ingin melihatnya untuk terakhir kalinya di setiap hari sebelum pulang. Aneh. Tentu saja aneh. Ada yang mengganjal kalau belum melihatnya tersenyum atau melihatnya masuk ke bus tujuan halte dekat rumahnya.

Memalukan.

***

Author’s POV

Singkatnya, kini Soo Yeon berdiri di ambang pintu pagar rumahnya. Sehun menatapnya dengan kaku tanpa sepatah kata yang keluar. Mereka hanya saling diam dan tidak bergerak sedikitpun. Beberapa menit mereka seperti itu, dan sesekali pandangan mereka bertemu, tetapi keduanya langsung mengalihkan pandangannya.

Apa ini? Salah tingkah.

“Masuklah,” kata Sehun pada akhirnya. Soo Yeon mengangguk pelan dan berjalan masuk. Sebelum benar-benar masuk, Soo Yeon membalikkan tubuhnya. “Hati-hati.”

Sehun tersenyum simpul sebelum melangkahkan kakinya pergi dari rumah itu. Setelah melihat gadis itu masuk ke rumahnya, ia menghela napas lega. “Huh, apa ini? Sehun yang tidak pernah salah tingkah di depan siapapun menjadi seperti ini karena seorang Jung Soo Yeon? Cih, tidak mungkin,” gumamnya mengeluarkan semua pikirannya.

***

“Kau diantar Oh Sehun lagi?” tanya ayah Soo Yeon ketika anaknya itu memasuki ruang tengah. Soo Yeon tersenyum lalu semakin menjauh dan menghilang di balik pintu kamarnya. Setelah itu terdengar suara ayahnya yang tengah menelpon seseorang. “Ikuti anak itu.”

Apa? Ikuti anak itu? Sehun?

Soo Yeon mengabaikan pikirannya yang tidak-tidak dan melanjutkan kegiatannya yang tengah mengganti seragam sekolahnya. Sambil sesekali tersenyum ringan, mengingat betapa bodohnya kejadian hari ini. Mulai dari berpelukan, jantungnya berdegup kencang, sampai mengatakan perumpamaan pacaran. Dia juga sadar kalau Sehun juga sama-sama melakukan hal bodoh. Melihatnya dengan wajah salah tingkah merupakan hal membahagiakan untuknya.

“Dasar. Sama-sama bodoh tapi malah menertawakan diri sendiri,” gumamnya kemudian mencari ponselnya di tasnya. Beberapa saat berlalu sampai ia tidak bisa menemukan ponselnya. “Di mana ponselku?” tanyanya pada dirinya sendiri sambil tetap menggeledah isi tasnya. Mengeluarkan isi tas itu ke atas meja belajarnya dengan perasaan gelisah dan mengobrak-abriknya dengan cemas.

Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu yang mengganjal. Ia langsung menghentikan pergerakan tangannya yang masih mengobrak-abrik barangnya itu. “Tidak mungkin.”

Kakinya langsung berlari keluar dari kamarnya dan menghampiri telpon rumah yang tak jauh dari ruang tengah. Ia membuka buku telpon dengan buru-buru dan memencet tombolnya ketika nomornya berhasil ditemukan, menelpon seseorang yang kemungkinan membawa ponselnya.

“Halo, Ji Rae-a,” ucapnya ketika telpon itu sudah tersambung. “Siapa?” tanya Ji Rae dari seberang. “Ah, ini Soo Yeon. Jung Soo Yeon. Aku menelpon dari telpon rumah,” jawabnya menjelaskan situasinya dengan nada cemas. “Ah, Soo Yeon. Tunggu, kenapa kau cemas seperti itu? Dan apa yang terjadi dengan ponselmu?”

Sejenak, otaknya langsung berputar. Kalau Ji Rae menanyakan apa yang terjadi dengan ponselnya, berarti itu tandanya dia tidak membawa ponselnya kan? Mana mungkin ia bertanya kalau jawabannya sendiri ada di depan matanya?

“Kau tidak membawa ponselku?” tanya Soo Yeon memastikan. Ji Rae mengangguk, namun sadar bahwa Soo Yeon tak bisa melihatnya, “Ya. Aku tidak membawanya. Memang, ponselmu ketinggalan atau hilang?” tanyanya lagi membuat Soo Yeon tak bisa menjawabnya karena memang belum tahu jawabannya. “Aku tidak tahu. Aku juga baru menyadarinya saat ingin menghubungimu.”

Diam sejenak. Ji Rae tampak sedang berpikir tentang kejadian yang kemungkinan bisa menjadi jawaban dari pertanyaannya dan Soo Yeon. “Orang terakhir yang bersamamu sebelum kau masuk ke rumah?” katanya setelah pemikiran yang  cukup panjang. “Mm… Sehun tadi sempat mengantarku sampai depan rumah.”

“Mungkin Sehun tahu kapan terakhir kali kau menggunakan ponselmu sebelum hilang. Coba kau telpon Sehun,” usul Ji Rae dengan nada setengah lebih semangat dari sebelumnya. Soo Yeon menjepitkan telpon itu di antara telinga kanan dan pundak kanannya lalu mencari nomor Sehun di buku telpon itu. Ia memang sudah memasukkan nomor telpon temannya yang ia punya di buku telpon itu,  tetapi ia tidak ingat sudah memasukkan nomor Sehun atau belum karena ia tidak sempat beberapa hari ini. Nihil. Nomor orang itu memang belum ia masukkan ke buku telpon.

“Sial. Aku belum memasukkan nomornya ke buku telpon.”

“Aku punya. Mau kuberi?”

“Bagus. Berapa? … Mm… Tunggu, 89 berapa? … Baiklah. 890. Oke. Terima kasih, Ji Rae-a,” katanya sebelum menutup telponnya. Beberapa saat kemudian ia mengangkat telpon rumah itu lagi dan memencet tombol nomor sesuai nomor yang baru saja diberikan oleh Ji Rae.

Soo Yeon menunggu panggilannya tersambung sambil mengetuk-ngetukkan kakinya pada lantai marmer itu. “Halo? Sehun-a. Ini aku, Jung Soo Yeon,” tuturnya cepat setelah suara berat itu menjawab. “Kenapa? Merindukanku? Kita baru saja bertemu 1 jam yang lalu,” katanya dengan kepercayaan dirinya yang tetap tinggi.

“Cih. Tidak. Aku tidak merindukanmu. Kau melihat ponselku?” tanyanya langsung to the point. Sehun mengarahkan pandangannya ke seluruh apartemennya sebelum menjawab, mencari benda yang ditanyakan padanya. Tidak ada benda itu di apartemennya. “Tidak. Aku tidak melihat ponselmu dan di apartemenku juga tidak ada. Kenapa? Hilang? Dicuri? Atau ketinggalan?”

Soo Yeon mendesah pelan, kecewa dengan jawaban yang dilontarkan Sehun. Ia benar-benar tidak bisa kehilangan ponsel itu karena ada nomor telpon lama ibunya yang tidak berani ia tuliskan di buku telpon. Di ponsel itu juga ada nomor telpon beberapa produser yang dikenalkan ayahnya untuk membantunya meraih cita-citanya sebagai penyanyi. Dan yang terpenting, ia tidak boleh kehilangan kontak dengan orang suruhannya.

Diam sesaat. Hanya terdengar deru napas Sehun yang setengah terengah-engah. “Ponselmu. Seperti apa bentuknya?” tanyanya dengan nada aku-tahu-sesuatu. “Mirip dengan ponselmu. Tapi casing-nya berwarna soft pink. Kenapa? Ada di apartemenmu?”

“Tidak. Aku hanya bertanya. Siapa tahu tiba-tiba aku melihatnya.”

“Mm. Baiklah.”

Soo Yeon meletakkan kembali gagang telpon yang sedari tadi ditempelkannya pada telinganya dengan kecewa. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara mengembalikan semua nomor yang ada di ponselnya kalau ponselnya hilang atau dicuri orang. Ia juga memerlukan beberapa foto catatan sejarah yang ada di dalam ponsel itu. “Harus kutemukan.”

***

Sehun masih menatap benda itu di tangannya. Benda berwarna soft pink itu sedikit tergores di bagian sampingnya. Seperti habis terjatuh, pikirnya. Di meja depan televisi, ia menemuka ponsel Soo Yeon. Ia tidak tahu bagaimana ponsel itu bisa sampai ke apartemennya. Hari ini Soo Yeon tidak pergi ke apartemennya, dan kemarin saat Soo Yeon pergi dari apartemennya, ia yakin Soo Yeon telah membawa ponselnya karena dirinya sendiri telah melihat gadis itu memainkan ponselnya dengan malas saat istirahat pertama. Tidak mungkin ponsel itu mempunyai kaki untuk berjalan kemari kan? Hanya karena disebut smartphone, bukan berarti ponselnya bisa jalan sendiri.

“Siapa yang meletakkan ini di sini?” gumamnya kemudian meletakkan ponsel berwarna soft pink itu ke tempatnya semula lalu berjalan menuju kamarnya.

Ia menghempaskan tubuhnya ke ranjang yang berselimut putih itu. Kemudian mengambil remote televisi yang ada di nakas. Berkali-kali mengganti channel tetapi tidak menemukan satupun acara yang menurutnya bagus. “Ah, membosankan,” gerutunya sambil menguap sehingga gerutuannya terdengar lebih besar dari suaranya.

Tiba-tiba terlintas suatu kegiatan yang bisa membuatnya sedikit bahagia. “Sms  ke Soo Yeon saja,” kata Sehun bersemangat lalu dengan cepat mengambil ponselnya yang tergeletak di sampingnya. “Tunggu, ponselnya kan ada di rumahku. Benar juga, bagaimana dia bisa membalas sms-ku? Bodoh,” pikirnya kemudian membuang ponselnya lagi ke sembarang arah di ranjangnya.

Dengan bibir mengerucut, ia masih mengganti channel televisinya dengan malas. Sampai ada acara yang menurutnya cukup bagus untuk ditonton, ia menghentikan aksi mengganti channel itu. Walaupun tidak benar-benar menonton, ia sempat tergelak karena tingkah bodoh artis yang ada di acara itu.

Beberapa saat kemudian, Sehun mengambil ponselnya lagi. Menyentuh layarnya, sambil mencari hal yang sedang ia cari kemudian menempelkan ponselnya ke telinga kanannya. “Halo? Bisa bicara dengan Jung Soo Yeon?” ucapnya setelah suara seorang wanita paruh baya di seberang.

“Apa?” suara itu telah berubah menjadi suara gadis 17 tahun yang sering ia dengar. “Ayo bertemu,” ajak Sehun masih dengan posisi berbaring di atas ranjangnya. “Kenapa?” tanya Soo Yeon malas. “Ada yang ingin kutanyakan padamu.”

“Di mana?”

“Hangang Park.”

“Baiklah.”

***

Dengan balutan coat warna kesukaannya, Soo Yeon berjalan menyusuri taman Hangang yang cukup lengang saat malam. Lampu jalan berkelip indah di kedua sisi jalan bagi pejalan kaki. Beberapa pasangan berjalan sambil bergandengan tangan atau beberapa orang lain tampak asyik mengobrol dengan topiknya masing-masing. Namun, sampai 20 menit ia berjalan di sepanjang taman, ia masih belum menemukan sosok yang mengajaknya keluar saat waktu hampir mendekati jam tidurnya.

Tiba-tiba tangannya digenggam oleh tangan yang sering menggenggam pergelangannya. Jari tangan Sehun diselipkan di antara jari tangan Soo Yeon, sehingga lebih terasa hangat di musim dingin di bulan Desember. Tetapi, orang itu tak menghiraukan ekspresi beku yang terhias di wajah rupawan Soo Yeon.

Berniat untuk melepaskan gandengan itu, Soo Yeon tercekat ketika Sehun menatapnya dengan tajam dan justru semakin mengeratkan genggaman itu. “Ck, kenapa? Kenapa kau mau melepaskannya?” decak Sehun.

Soo Yeon tak menjawab dan hanya menatap lelaki yang tengah menggandengnya itu. Dengan jumper hitam yang tebal, masih ditambah dengan coat hitam yang tebal juga, dan celana jeans panjang, ia terlihat semakin tampan di bawah sinar lampu jalan yang berkelip.

“Se-seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kau menggenggam tanganku? Haruskah?” tandas Soo Yeon setelah berhasil mengembalikan kewarasannya. “Iya. Harus. Kau tahu ini dingin?” tukas Sehun lalu melonggarkan genggamannya. Soo Yeon menghela napas panjang, lalu berkata, “Kau bisa memasukkan tanganmu ke kantong jumper-mu itu, bodoh. Kalau kau tahu ini dingin cepat kat—“

Sehun memasukkan tangannya sekaligus tangan Soo Yeon ke kantong jumper-nya sesuai sarannya baru saja. Hal itu membuat gadis 17 tahun berbalut sweater dan coat  berwarna senada itu semakin membeku atas perlakuan yang ia terima malam ini. “Maksudku, tanganmu saja. Tanganku tidak perlu. Aku tidak kedinginan.”

Sehun memajukan bibir bawahnya, “Kau tidak kedinginan tapi tanganmu seperti es. Beku. Kenapa? Kau malu karena kugeng—“

“Tidak,” jawab Soo Yeon cepat sebelum Sehun menyelesaikan kalimatnya dan langsung menarik paksa tangannya dari kantong jumper Sehun. Sembari memasukkan tangannya ke kantong coat soft pink-nya itu, Soo Yeon berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya agar tak muncul semburat merah di kedua pipinya. “Lalu, apa yang mau kau tanyakan?”

Sehun menghentikan langkahnya, lalu berjalan menuju bangku taman yang tak jauh dari tempatnya berhenti. Soo Yeon menatap punggung itu bingung, namun tetap mengekor meski masih ada pertanyaan di otaknya. Sehun duduk di tengah bangku dengan kakinya yang dibiarkan melebar, dan Soo Yeon duduk di ujung bangku, dengan maksud memberi jarak antara mereka sehingga orang lain tidak perlu salah paham kepada keduanya.

Diam sesaat. Sehun membiarkan Soo Yeon merasakan hembusan angin malam yang menerpa helai-helai rambut coklatnya yang dibiarkan diurai. Merasa sudah waktu yang tepat, Sehun mendekatkan dirinya kepada gadis yang tengah memejamkan mata itu sambil bersandar ke punggung bangku.

Gadis itu membuka matanya, dan terlihat terkejut ketika Sehun duduk tepat di sebelahnya sampai lengannya bisa menempel di lengan Soo Yeon. “Apa?” gelagap Soo Yeon saat mendapati Sehun menatapnya penuh arti dan dalam.

“Apa kau tahu …”

-To Be Continued-

Ha ell.. author gak usah kebanyakan omong, langsung minta saran, kritik, atau komentar, like boleh juga😀 hehe… makasih buat para readers yang mau ngeluangin waktu buat baca ff-ku :*

9 responses to “Memory – Chapter 3

  1. itu apa yang disembunykan ayah sama ibu sooyeon,gara2 ceritanya terlalu sweet gue jadi lupa kalau sooyeon itu rada bermasalah dgn ingatannya
    btw semangat nulisnya😀

  2. cil ditunggu lanjutannya yah, ahh iya cepet banget yah si soo yeon sembuh dari sakitnya itu, kapan nih lanjutannya? jangan lama yah makin penasaran nih sama,si,sehun waktu bilang *apa kau tahu……***?

  3. Nah lo lagi asik baca malah tbc?
    Itu sehun pengen bilang apaan coba ??
    Keep writing ne author-nim…di tunggu kelanjutannya…

  4. Pingback: FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s