Please, Hold Me Tight Chapter 3B

poster ff alle

By Sparkdey

Please, Hold Me Tight Chapter 3B

Jeon Jungkook BTS || Han Hara (OC) || Park Jimin BTS

PG + 15

AU || Fluff || Romance || Friendship

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3A ||

Disclaimer : FF ini pure ide author dengan beberapa bantuan dari teman – teman. Jungkook dan Jimin adalah milik orang tua mereka, Big Hit Entertainment, dan ARMYs. Don’t be plagiator!! Please respect~

Note : FF ini merupakan requestan dari teman ARMY, jadi tolong dibaca dan berikan apresiasi berupa komentar atau like nya ya hehe, kamsahamnida^^

 

Cerita sebelumnya…

“YA! Kalian meninggalkanku huh?” teriak Taehyung yang masih mengunci pintu rumahnya.

“Bawa mobilmu sendiri, Taehyung-ah” kata Jimin lalu melajukan mobilnya menuju sekolahan.

Di dalam mobil suasana hening. Tidak ada lagu yang di putar pada mobil Jimin. Hana memandang keluar jendela dan Jimin berkonsentrasi menyetir.

“Jim” panggil Hana.

“Hmm” jawab Jimin.

“Mengapa kau mengajakku berangkat sekolah bersama?” Tanya Hana.

“Agar kau cepat sampai di sekolah” jawab Jimin.

“Aku masih bisa naik bus, Jim” kata Hana.

“Selama kau bisa cepat sampai sekolah dengan naik mobil bersamaku, mengapa tidak?” jawab Jimin ketus.

“Jim… maaf jika pertanyaanku membuatmu marah. Tapi lebih baik aku turun di sini saja. Di sini sudah dekat dengan sekolah. Gomawo, Jim” kata Hana lalu turun dari mobil Jimin.

“YA! Kim Hana mau kemana kau?!” teriak Jimin melalui jendela mobilnya yang di buka.

-Hara POV-

Aku terbangun dari tidurku. Hari ini aku harus masuk sekolah. Aku bersiap – siap lalu turun ke bawah untuk sarapan bersama. Aku memikirkan Jimin, seharusnya aku senang jika Jimin memiliki perasaan yang sama denganku, tapi mengapa aku menolaknya? Aku bisa memilikinya selamanya jika aku menjadikannya sahabatku. Tapi jika aku memilihnya sebagai pasangan hidupku… aku takut aku akan kehilangannya. Jimin adalah segalanya bagiku. Namun aku tidak ingin mengikuti rasa egoisku.

“Hara-ya, dimana Jimin? Biasanya setiap pagi dia selalu ikut sarapan bersama kita” Tanya eomma.

“Aku juga tidak tahu eomma, dia tidak membalas pesanku” jawabku.

Memang benar Jimin tidak membalas pesanku atau mengangkat telfon dariku. Aku khawatir padanya setelah kejadian kemarin malam di halaman belakang rumahku. Aku memegang kalung pemberian Jimin. Ya, aku memakainya bukan membuangnya. Walaupun aku sangat tidak pantas untuk menerima kalung ini dari Jimin.

“Kalung? Kau membeli kalung, Hara-ya?” Tanya appa.

“Aniya appa, ini pemberian dari Jimin sebagai hadiah kepulanganku ke Korea” jelasku.

“Eomma appa, aku berangkat sekolah dulu ne” kataku lalu mencium pipi eomma dan appa.

“Kau naik apa, Hara-ya? Ingin bareng appa?” tawar appa.

“Aku naik bus saja appa” lalu aku melambaikan tanganku pada appa dan eomma yang masih sarapan di ruang makan rumah kami.

Aku melangkahkan kakiku berjalan keluar komplek rumahku menuju halte terdekat. Aku duduk sambil mendengarkan lagu kesukaanku, BTS. Tak berapa lama bus sudah datang. Aku menaiki bus namun aku terpeleset dari tangga untuk masuk ke dalam bus karena air dan sepatuku licin. Aku hampir saja terjatuh ke tanah jika seseorang tidak menahanku di belakang.

“Gwenchana?” tanyanya sambil menahan badanku.

Aku membetulkan posisiku dan masuk ke dalam bus.

“Nan gwenchana” jawabku pada orang yang telah menolongku.

“Jungkook-ssi?” panggilku setelah aku menyadari bahwa yang menolongku adalah Jeon Jungkook.

“Ne? AHHHH NEO!!” serunya membuatku terkejut.

“Ah mianhae” lanjutnya.

“Kamsahamnida Jungkook-ssi, kau menolongku lagi” kataku.

“Ne, kebetulan saja tadi aku berada di belakangmu, Hara-ssi” katanya.

“Jadi kau siswa Namsan High School?” Tanya Jungkook.

“Ne, kau juga?” tanyaku.

“Kau bisa melihat seragamku” kata Jungkook.

Aku melihat seragam yang dipakainya, sama persis denganku namun bedanya aku memakai rok dan dia memakai celana. Aku tersenyum padanya sebagai pertanda bahwa kami berada di sekolah yang sama.

“Aku tidak pernah melihatmu di sekolah, kau kelas berapa?” Tanya Jungkook.

“2-3” jawabku singkat karena aku masih bersenandung dengan riangnya.

“Kau tidak pernah keluar kelas? Bahkan saat istirahat?” tanyanya lagi.

“Ne? istirahat? Aku bermain dengan Jimin dan juga Sera tapi jika mereka sedang rapat, aku diam di kelas atau ke kantin sendiri” jelasku.

DUGG…

“Aw… appo” aku mengusap kepalaku yang terkena tiang karena bus berhenti mendadak.

“Gwechana? Apa itu sakit?” Tanya Jungkook sambil mengusap kepalaku yang terkena tiang.

Aku memandanginya. Pertama kalinya aku berada di jarak yang dekat dengan seorang namja. Selama ini dengan Jimin aku tidak pernah sedekat ini. Ya walaupun aku sering memeluknya.

“Hey, itu sangat sakit eoh?” tanyanya lagi yang mampu membuatku mengedipkan mataku.

“Ah sudah tidak sakit” jawabku.

Aku turun dari bus dan berjalan menuju sekolahku. Ya aku jalan beriringan dengan Jungkook. Dapat aku rasakan bahwa semua mata tertuju padaku dan juga Jungkook. Mengapa mereka memandangi kami? Ada yang salah dengan kami? Aku melihat diriku sendiri dan merapihkan seragamku.

“Kau kenapa?” Tanya Jungkook.

“Mereka… mengapa mereka melihat kita seperti itu?” tanyaku.

“Ah…” dia seperti baru sadar akan sesuatu hal.

“Hara-ssi, maukah kau membantuku?” bisiknya padaku.

“Kau ingin aku membantumu apa?” tanyaku.

Jungkook tidak menjawab pertanyaanku dan dia langsung mendaratkan tangannya pada bahuku. Dia merangkulku. Aku terkejut. Apa maksudnya dia seperti ini?

“Apa maksudmu, Jungkook-ssi?” tanyaku.

“Berpura – pura lah menjadi pacarku” pinta Jungkook.

“Mwo? Memangnya kenapa?” tanyaku.

“Agar aku terhindar dari fansku” jawab Jungkook.

‘Fans? Jungkook mempunyai fans?’ batinku.

“Ah baiklah. Sampai kapan?” tanyaku.

“Hanya seminggu saja” jawabnya.

“Okay” jawabku.

Aku melangkahkan kakiku menuju kelasku. Tentu saja di antar oleh Jungkook sampai di depan kelasku. Namun aku tidak mengerti bagaimana Jungkook bisa memiliki fans di sekolah ini. Memangnya dia siapa? Apakah dia actor baru? Atau dia member dari sebuah boyband ternama?

 

-Jungkook POV-

Aku mengantarkan Hara sampai di depan kelasnya. Mulai dari hari ini sampai 7 hari ke depan aku dan Hara berpacaran, meskipun bohongan. Ini semua aku lakukan untuk menjauhkan fans itu dariku. Aku tidak menyukai jika aku terus diikuti oleh yeoja – yeoja itu. Dan hanya dengan cara inilah aku akan terhindar dari fansku.

“Aku ke kelas dulu ne. belajarlah dengan baik, Hara-ya” kataku sambil mencubit pipi kanannya pelan.

“Ne, kau juga….. oppa” dia memanggilku oppa.

Aku berjalan menuju kelasku dan duduk di mejaku. Mengambil headset dan memutar sebuah lagu. Aku menyenderkan kepalaku di meja dan tanganku menjadi alasnya. Aku memejamkan mataku. Rasanya ingin tidur saat itu juga jika Namjoon tidak mengerjaiku.

“Namjoon-ah, jebal. Aku ingin tidur” sahutku.

“Hari ini tidak ada guru, Lee seongsanim tidak masuk. Kau ingin ke studio bersama kami tidak?” tawar Namjoon.

“Baiklah aku ikut” kataku tanpa berfikir lama.

Aku berjalan di belakang Namjoon dan Yoongi. Kami berjalan menuju studio music sekolah kami. Jika tidak ada guru, kami memang sering ke sini. Mereka adalah sahabatku. Dan mereka juga lah yang membuatkan music untuk show undergroundku dengan Hoseok.

Sebelum masuk ke studio aku melihat sekelompok yeoja sedang menarik paksa seorang yeoja menuju kamar mandi yeoja yang memang sepi dan jarang digunakan itu. Aku cuek dan tidak perduli. Hingga pada akhirnya manik mataku melihat seorang yeoja di sana.

“Kalian masuklah duluan. Aku ingin ke toilet sebentar” kataku lalu pergi menuju sekelompok yeoja itu.

Aku berjalan ke sana dengan tatapan yang menahan amarah. Bagaimana aku tidak marah? Mereka menyentuh gadisku. Ralat, gadis bohonganku.

“Apa yang kalian lakukan?” tanyaku saat aku masuk ke toilet wanita.

“J.. jungkook?” lirih salah satu di antara mereka.

“Dimana pacarku?” tanyaku.

“Dia pacarmu? Jangan mau bersamanya, Jungkook-ah! Dia hanya yeoja genit yang suka menggoda laki – laki. Lebih baik kau bersamaku” yeoja itu mulai menggaet lenganku.

“Apa urusan kalian dengannya?” tanyaku menahan amarah.

“Dia pacarku dan kalian menyentuhnya! Jangan kalian kira aku tidak bisa berlaku kasar pada wanita!” bentakku.

“Dia sudah bermain – main dengan Jimin, Jungkook-ah!” balasnya.

“Lalu kenapa? Apa masalahmu?!” bentakku lagi.

“Hey, ayolah Jungkook-ah, aku masih lebih cantik dan popular daripada dia” kata yeoja yang bernama Cho Gaeun.

“Aku tidak peduli. Kau….” Aku mendekatkan diri padanya.

“Sangat menjijikkan” lanjutku.

Aku langsung membuka pintu toilet dan menemukan Hara dengan kondisi kedinginan karena basah kuyup.

“Kalian menyiramnya?!” bentakku.

“Sialan kalian!” lanjutku.

“Dia perlu di kasih pelajaran, Jungkook-ah!” balas Gaeun itu.

“Cepat kalian keluar dari sini!” perintahku, lalu mereka pergi.

“Gwenchana? Hey, jawab aku” tanyaku pada Hara.

Dia tidak menjawabnya namun hanya menatapku. Aku langsung melepas blazer seragamku dan memakaikannya pada Hara. Aku mengajaknya keluar dan menuju studio music. Setidaknya, di sini dia akan merasa aman.

Aku membuka pintu studio music, dimana di dalam sudah ada Namjoon dan Yoongi. Aku mengajaknya masuk ke dalam dan mendudukkannya di depan penghangat studio ini. Ya, Korea sedang musim dingin.

“Dia kenapa?” Tanya Namjoon.

“Di serang oleh fansku” jawabku singkat.

“Kau, Han Hara kan?” Tanya Yoongi dan dia mengangguk pelan.

“Ah jadi kau yeoja yang bernama Hara? Yang sering di ceritakan oleh Jimin di club?” sahut Namjoon.

“Aku selama ini hanya mengenal namanya saja, namun belum pernah bertemu langsung dengan dia” kata Yoongi sambil menunjuk Hara.

“Shut up guys. Dia sedang kedinginan” kataku.

BRUKK…

Aku melihat dia terjatuh ke lantai. Apakah dia pingsan? Aku langsung menghampirinya.

“Hara-ssi…” panggilku.

“Hara-ya…” panggilku lagi namun tidak ada jawaban.

“Badannya panas, Jungkook-ah” kata Yoongi setelah memegang kening Hara.

“Cepat bawa dia ke UKS!” perintah Namjoon.

“Aku akan memberi tahu Sera dan Jimin” kata Yoongi yang langsung keluar dari studio music.

Aku menggendong Hara menuju UKS. Suhu badannya semakin meningkat. Aku menjadi khawatir. Dia menjadi seperti ini karena ulahku yang meminta bantuannya untuk menjadi pacar bohonganku.

Sesaimpainya di UKS, aku langsung menidurkan Hara di ranjang, aku mengambil selimut lalu menyelimuti badannya hingga sebatas lehernya. Aku mengambil handuk kecil dan air untuk mengkompresnya. Setidaknya, ini merupakan tanggung jawabku.

Aku memeras handuk itu lalu menaruhnya di kening Hara. Aku begitu terkejut ketika 4 orang datang bersamaan ke ruang UKS. Mereka adalah Namjoon dan Yoongi beserta seorang yeoja dan namja yang aku tidak mengenali mereka.

“Hara!” teriak namja dan yeoja itu bersamaan.

“Dia sedang sakit. Suhu badannya tinggi” kataku.

“Kau siapa?” Tanya yeoja itu.

“Jeon Jungkook imnida” kataku memperkenalkan diri.

“Ah ye, Park Sera imnida. Park Jimin” kata yeoja yang bernama Sera itu dan memperkenalkan Jimin.

‘Ah pacar Hara namanya Park Jimin?’ batinku.

“J.. Jungkook-ssi” panggil Hara begitu membuka matanya.

Aku mendengar dia memanggilku. Aku langsung mendapatkan sorotan mata tidak menyenangkan dari namja yang bernama Park Jimin ini. Tatapan dia seakan – akan ingin mengajakku berkelahi saat ini juga.

“Ne, Hara-ssi, aku di sini” jawabku lalu mendekat padanya.

“Gwenchana?” tanyanya.

‘Bodoh, seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu’ batinku.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Gwenchana?” kataku sambil mengambil handuk dari keningnya.

“Sera… Jimin…” katanya begitu melihat pacar dan sahabatnya itu.

“Mengapa kau bisa di serang mereka?” tanyaku.

“Di serang? Siapa yang berani menyerang sahabatku?!” kata Sera.

“Fansku” jawabku singkat.

“Sera-ya, tenang lah sedikit” kata Yoongi menenangkan Sera.

“Sebaiknya kita keluar dari sini, Yoongi-ya” ajak Namjoon.

“Mereka mengancam akan mencelakakan dirimu jika aku tidak mengikuti mereka” jawabnya sambil menatapku intens.

“Aku pergi ke ruang guru dahulu. Aku harus meminta izin untuk Hara pulang ke rumah lebih cepat hari ini” sahut Sera.

“Mereka tidak akan berani menyentuhku, Hara-ssi. Mereka berkata seperti itu hanya karena ingin menjauhkanmu dariku” jelasku.

“Jungkook-ssi, bisa kita berbicara sebentar?” Tanya Jimin.

“Baiklah” kataku.

 

-Author POV-

Jimin ingin membicarakan suatu hal pada Jungkook. Ini menyangkut tentang Hara pastinya. Jimin membawa Jungkook keluar dari ruang UKS dan mengajaknya mengobrol di depan ruang UKS.

“Apa yang kau lakukan pada Hara ku?” Tanya Jimin.

“Aku tidak melakukan apapun. Kami hanya sedang menjalankan sebuah misi” jawab Jungkook.

“Misi apa yang sedang kau jalankan? Dan mengapa dia bisa sampai basah kuyup lalu sakit seperti itu?” Tanya Jimin menginterogasiku.

“Aku membutuhkannya untuk menjauhkan fans yang selalu mengangguku” jawab Jungkook.

“Apa kau sadar akan tingkah lakumu itu?” Tanya Jimin lagi.

“Memangnya apa urusanmu? Siapa kau?” Tanya Jungkook sedikit menantang.

“Aku… sahabatnya” jawab Jimin.

‘Ah jadi dia hanya sahabatnya? Kupikir dia pacar Hara’ batin Jungkook.

“Kau hanya sahabatnya, sedangkan aku adalah pacarnya. Dia milikku, Jimin-ssi” jawab Jungkook.

“Kau hanya memanfaatkannya untuk kepentingan dirimu sendiri. Aku tidak terima sahabatku dimanfaatkan oleh bocah brengsek sepertimu!” kata Jimin dengan nada yang meninggi.

“Dia menyetujui semua ini. Kami sudah sepakat. Apa yang menganggumu? Kau menyukainya?” Tanya Jungkook.

“Bajingan kau. Dia sahabatku. Dia milikku” ketus Jimin.

“Kalian memang bersahabat, namun sekarang Hara adalah milikku seutuhnya untuk saat ini. Jadi tolong, jika kau memang menyukainya sebaiknya buang jauh – jauh perasaanmu itu” perintah Jungkook yang kemudian pergi meninggalkan Jimin.

“Aku belum selesai denganmu, Jungkook-ssi” tangan Jimin menahan kepergian Jungkook.

“Lepaskan aku” pinta Jungkook dengan tatapan yang tidak suka pada Jimin.

“Menjauhlah dari Hara dan cari gadis lain untuk membantumu dalam keegoisanmu itu!” kata Jimin sambil mengcengkram kerah seragam Jungkook.

“Cih” kata Jungkook membuang muka lalu melepaskan paksa tangan Jimin dari kerahnya.

“Aku tidak mau” kata Jungkook.

“Dasar kau brengsek!” kata Jimin geram.

“Jika aku menyukainya, kau ingin apa? Huh? Cepat jawab aku!” bentak Jungkook.

“Kau memang brengsek!” Jimin semakin geram.

“Baiklah aku membuat sebuah penawaran untukmu. Kita bersaing secara sehat. Kita harus fair. Siapapun yang mendapatkan hati dan perhatian Hara dia pemenangnya dan yang kalah tidak boleh menganggu kehidupan Hara dan pasangan yang di pilih oleh Hara. Eotte?” tawar Jungkook.

“Aku setuju. Aku sudah dapat pastikan bahwa kau yang kalah” kata Jimin pergi lalu masuk kembali ke dalam ruang UKS.

“Kita lihat saja nanti” Jungkook mengeluarkan smirknya.

Jimin kembali masuk ke dalam UKS dan duduk di samping ranjang yang ditiduri oleh Hara. Jimin tersenyum kepada Hara dan dia membalas senyuman Jimin.

“Kajja, kita pulang. Aku akan mengantarkanmu” ajak Jimin.

“Aku ikut!” seru Jungkook.

“YA! Apa urusanmu?” Tanya Jimin ketus.

“Dia adalah tanggung jawabku. Aku yang menyebabkannya menjadi sakit seperti ini” jawab Jungkook lalu membantu Hara berdiri dan berjalan.

‘Sial. Aku kalah cepat darinya’ batin Jimin.

 

-Jimin POV-

Aku merasa kesal pada diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa kalah cepat dari Jungkook. Dengan pemandangan di depanku ini membuatku merasa muak. Melihat Hara dan Jungkook berjalan berdampingan dan ahhh… sudahlah. Aku sudah merasakan hal yang lebih dari itu.

Aku membawa mobilku ke depan gerbang sekolah, lalu Jungkook dan Hara masuk ke dalam mobilku. Sekarang aku bagaikan supir mereka. Kenapa? Karena saat ini aku duduk di depan sendiri dan Jungkook beserta Hara duduk di belakang. Sialan bocah itu!

Aku mengemudikan mobilku menuju rumah Hara. Setelah melewati pintu gerbang masuk ke perumahan Hara aku memelankan laju mobilku dan kini sampai di depan rumah Hara. Aku turun dari mobil dan berjalan masuk untuk membukakan pintu rumah Hara.

Aku menekan tombol pada gagang pintu. Rumah Hara memang menggunakan password dan aku sudah mengetahui password itu sejak lama. Orang tua Hara? Mereka tidak keberatan jika aku mengetahuinya. Pintu rumah Hara terbuka dan kini aku berjalan menaiki tangga dan membukakan pintu kamar Hara.

“Kau sudah tahu seluruh isi rumah ini ya” sahut Jungkook dengan nadanya yang menyebalkan itu.

“Tentu saja” jawabku dengan senyuman meremehkan Jungkook.

Jungkook menidurkan Hara di ranjangnya. Aku duduk di samping Hara dan tersenyum.

“Aku akan menemanimu di sini” kataku.

“Gomawo, Jim” jawab Hara tersenyum.

“Tidurlah” lanjutku.

Hara memejamkan matanya dan setelah menunggu cukup lama. Aku menarik Jungkook untuk keluar dari kamar Hara.

“Pulanglah. Aku akan menjaga Hara” perintahku.

“Shireo. Dia tanggung jawabku” jawab Jungkook ingin masuk ke dalam kamar Hara.

“Jebal, Jungkook-ah. Aku yang akan di marahi oleh aboeji jika Hara sakit seperti ini dan tidak ada yang menemaninya. Tolong dengarkan aku kali ini saja” pintaku.

“Aku yang akan menemaninya. Kau kembalilah ke sekolah” perintah Jungkook.

“Jungkook-ssi! Aku benar – benar minta tolong padamu untuk kali ini saja mengikuti permintaanku” bentakku kesal.

“Bagaimana jika aku tetap tidak mau?” Tanya Jungkook.

“Kau akan menyesal nantinya” ancamku.

“Ahh~ kau sedang mengancamku?” tanyanya.

“Tidak. Aku hanya berkata jujur padamu. Cepat pergi!” kataku kini masuk kembali ke dalam kamar Hara dan mengunci kamar Hara.

Aku kembali duduk di tepi ranjang Hara. Aku menatapnya dengan seksama. Aku mengelus rambutnya pelan, takut dia terbangun. Aku memegang keningnya untuk memeriksa apakah suhu badannya sudah turun atau belum. Namun suhu badannya masih saja tinggi.

Aku mengambil handuk kecil dan juga air. Aku memasukkan handuk itu ke dalam air lalu memerasnya dan menaruhnya di kening Hara. Aku berharap Hara cepat sembuh. Agar aku bisa bermain dengannya lagi.

“Jim… itukah kau?” kata Hara begitu ia membuka matanya.

“Ne, ini aku. Apa kau sudah merasa baikan?” tanyaku mendekat padanya.

“Aku merasa… pusing. Jim, aku minta maaf” sahut Hara.

“Mwo? Meminta maaf untuk apa?” tanyaku heran.

“Karena aku… sudah menolakmu tempo hari” kata Hara.

“Tidak apa. Aku mengerti. Aku hanya seorang sahabat untukmu. Tapi apa aku boleh berharap lebih padamu?” tanyaku.

“Jangan, Jim. Aku takut menyakitimu” jawab Hara.

“Aku tidak akan terluka. Aku kuat, Hara-ya. Aku benar – benar berkata jujur tempo hari. Dan aku sangat senang, kau memakainya” kataku tersenyum.

“Aku menyayangimu, Jim” kata Hara.

“Nado, Hara-ya. Sekarang kau harus cepat sembuh. Akan aku pastikan setelah sembuh kau akan menyukaiku lebih dari seorang sahabat” kataku namun sambil tertawa.

“Silahkan jika kau berhasil membuatku suka padamu melebihi seorang sahabat, aku akan menerimamu” kata Hara yang juga ikut tertawa.

“Tapi aku serius, Hara-ya” sahutku dan Hara hanya menatapku.

“Jim… aku lapar” dia mengalihkan pandangannya dariku.

“Kajja kita makan” ajakku lalu membantunya berjalan menuruni tangga.

“Walaupun kau sakit, kau tetap harus banyak bergerak. Agar ototmu tidak mati nantinya” jelasku dan dia hanya menganggukkan kepalanya.

“Aku bisa menyuapimu, jika kau tidak sanggup memegang sendok” tawarku.

 

-Jungkook POV-

Latihanku kali ini sedikit kacau karena aku tidak bisa berkonsentrasi. Aku sedang memikirkan keadaan Hara. Dia menjadi sakit karenaku. Apa yang harus aku lakukan? Sedangkan besok adalah hari performance-ku. Aku tidak mungkin bisa menjenguk Hara besok. Dan aku juga tidak ingin kalah dari Jimin.

“Hoseok-ah” panggilku.

“Hmm” gumamnya.

“Aku ingin bertanya sesuatu hal padamu” aku berjalan mendekati Hoseok.

“Apa itu?” tanyanya.

“Kau mengajak bertaruh seseorang yang baru saja kau kenal untuk mendapatkan hati seorang wanita. Dan wanita itu adalah orang yang sedang membantumu saat ini dan dia sedang sakit saat ini karena dirimu. Dan kau ingin bertanggung jawab karena membuatnya sakit. Menurutmu itu kenapa?” tanyaku.

“Kau menyukai wanita itu” jawab Hoseok.

“Tapi aku baru saja bertemu dengannya. Maksudku dengan yeoja itu” kataku.

“Iya, kau menyukainya. Karena kau merasa penasaran padanya kan?” Tanya Hoseok lagi.

“Ne, aku penasaran dengan yeoja itu. Dia satu sekolah denganku namun aku tidak pernah melihatnya” jawabku.

“Jungkook-ah, kau menyukainya. Semua itu berawal dari rasa penasaran lalu timbul lah rasa suka. Jika kau sering bersamanya nanti, maka akan timbul rasa cinta dan sayang serta tidak ingin kehilangan” jelas Hoseok.

“Dan aku mulai sedikit ada rasa tidak ingin kehilangan Hara” kataku.

“Dia yeoja yang periang, dia lucu, dia cantik. Tapi dia mempunyai sahabat laki – laki yang menyukainya” lanjutku.

“Tapi, apa perasaanku ini tidak terlalu cepat?” tanyaku.

“Seseorang akan jatuh cinta pada waktu yang tidak di sangka – sangka, Jungkook-ah. Bisa dalam waktu yang cepat, bisa juga dalam waktu yang lama” jelas Hoseok.

“Aku mengerti. Ah tapi, apa aku harus terus melanjutkan taruhan ini?” tanyaku.

“Ah sebenarnya kami tidak bertaruh. Kami melakukan persaingan secara sehat untuk merebut perhatian dan hati dari Hara” lanjutku.

“Jika kau ingin dia menjadi milikmu, kau lanjutkan persaingan kalian. Jika kau hanya ingin meminta bantuan dia, kau bisa mundur. Maksudku, jika kau hanya ingin ‘memanfaatkan’ dia, kau bisa mundur dari persaingan ini dan biarkan sahabatnya itu untuk memilikinya” jelas Hoseok.

“Baiklah sekarang aku mengerti. Gomawo, Hoseok-ah” kataku sambil menepuk pundaknya.

“Lebih baik kau berkonsentrasi untuk performance kita besok” perintah Hoseok dan aku menganggukkan kepalaku.

Sebelum memulai latihan, aku mengetikkan sebuah pesan untuk Hara.

To : Han Hara

Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah lebih baik? Jangan lupa beristirahat, sayang!

SEND…

Dengan cepat ponselku bergetar. Aku mengambil ponselku.

From : Han Hara

Aku sudah lebih baik sekarang. Sayang? Apa maksudmu eoh? Bahkan kita saja tidak berpacaran…

Ah benar juga, dia hanya pacar bohonganku.

To : Han Hara

Setidaknya kau itu adalah pacar bohonganku. Jadi selama 7 hari ke depan, kau harus terbiasa dengan kata – kata seperti itu dan juga dengan tingkah laku ku. Arraseo?

SEND…

Ponselku kembali bergetar.

From : Han Hara

Arraseo, Jungkook-ssi!! Aku sudah berjanji untuk menolongmu selama 7 hari ke depan… jadi aku akan memaklumi semua panggilan sayang darimu dan juga tingkah lakumu…

Dengan cepat aku langsung membalas pesan Hara.

“Jungkook-ah! Letakkan ponselmu!” teriak Hoseok.

“Chakkaman!” balasku.

To : Han Hara

Dan kau juga harus memanggilku dengan panggilan sayang, Hara-ssi…

SEND…

From : Han Hara

Baiklah, sayang… aku sudah memanggilmu sayang. Jadi berhentilah mengirim pesan padaku!

Aku tersenyum melihat isi pesan dari Hara.

To : Han Hara

Hahaha… baiklah, cepat sembuh. Aku masih membutuhkanmu menjadi pacar bohonganku, bodoh

SEND…

‘Apa benar aku mulai menyukai Hara?’ batinku.

 

TO BE CONTINUE…

Hai bagaimana chapter kali ini? Semoga greget yaw hahay.

Maaf kalo chapter sebelumnya ga greget~

Terima kasih untuk masukan dan komentar kalian, reader-nim!

Oke, sekarang tinggalkan jejak kalian ya berupa komentar atau like. DON’T BE A SILENT READER!!!

14 responses to “Please, Hold Me Tight Chapter 3B

  1. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 4 – FFindo·

  2. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 5 – FFindo·

  3. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 6 | FFindo·

  4. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 7A | FFindo·

  5. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 7B | FFindo·

  6. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 8 | FFindo·

  7. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 9 – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s