MR. MARSHMALLOW – PART 1

mr marshmallow posterYYYY

Previous Chapter : Teaser

MR. MARSHMALLOW

Panggung megah itu menjadi pusat perhatian bagi para pengunjung Anyang Art High School yang berada di daerah Anyang, Gyeonggi-do. Beberapa lakon dalam drama ‘Snow White and Seven Dwarfs’ sedang dimainkan oleh beberapa hagsaeng jurusan seni peran, tak terkecuali seorang yeoja imut di balik kostum pohonnya. Yeoja itu sekarang sedang sibuk menggaruk bokongnya yang gatal akibat kostum pohon yang sudah berpuluh tahun ini dipakai oleh Anyang untuk beberapa pentas.

Ini sudah pertunjukkan yang keempat dan Park Jiyeon masih saja betah diberi lakon sebagai benda mati. Jiyeon tidak bisa berakting. Dia selalu sakit perut ketika Lee Youn Mi―guru dramanya―menyuruhnya untuk mengucapkan sebaris dialog beserta pengkhayatan ekspresi.

“Jeosonghamnida, bisakah aku permisi ke toilet?” Jiyeon memegang erat perutnya.

Youn Mi tidak punya cukup kesabaran untuk menolerir setiap alasan yang diucapkan Jiyeon hanya untuk menghindari latihannya. Akhirnya setiap pertunjukkan digelar, dia selalu ditunjuk untuk memerankan benda mati.

Seperti pertunjukkan kali ini, dia merasa gatal-gatal karena kostum yang dipakainya sepertinya menyimpan ribuan kutu. Terutama pada bagian bokong yang sulit dijangkau. Dia sudah memiringkan tubuhnya ke sana-sini untuk mencoba menggaruk bokongnya. Youn Mi yang melihat keanehan itu langsung melayang-layangkan tangannya dari balik panggung, mencoba menangkap perhatian Jiyeon.

“Gongju-nim, kau tidak harus mati ditangan ibu tirimu yang jahat itu,” ucap Pangeran yang sedang berlakon tepat di depan Putri Salju yang tertidur akibat menelan apel beracun.

Jiyeon tetap berusaha keras menggaruk bokongnya, sampai akhirnya bagian tubuhnya yang lain ikut menjadi gatal. Youn Mi masih mencoba menangkap perhatiannya, ditambah dengan bisikan kecil seperti, “Jiyeon-ah…pstttt…Jiyeon-ah…”

Mereka harus mencuci kostum ini, gumam Jiyeon dalam hati. Perannya sebagai benda mati sepertinya gagal. Dia jadi terlihat seperti pohon menari. Setengah penonton yang menyadarinya mulai tersenyum, mengikik pelan dan bahkan ada yang tidak bisa menahan tawa.

Sampai akhirnya tibalah Pangeran melakukan tugasnya untuk mencium Putri Salju. Dan Jiyeon semakin giat mencoba menggaruk bagian tubuhnya yang sudah sangat gatal. Posisi tubuhnya yang berada di dalam kostum sebesar itu sudah tidak benar. Menyadari bahwa keseimbangan tubuhnya sudah benar-benar parah, Jiyeon menghentikan acara garuk-menggaruknya. Terlebih lagi karena dia menangkap adegan ciuman yang sebentar lagi akan dilakukan oleh Pangeran.

Jiyeon tidak mengedipkan matanya sedikitpun, bahkan dia tidak sadar kalau tubuhnya lama-kelamaan semakin maju dan tiba-tiba saja…

BRUK!

Youn Mi memekik.

Para lakon yang lain menoleh dan melotot melihat posisi absurd yang sangat mengerikan di depan pelupuk mata mereka.

Para penonton ikut memekik lalu tawa membahana meledak di aula besar itu.

Jiyeon beserta kostum pohonnya yang besar meniban Pangeran dan Putri Salju. Dia berusaha menarik kembali tubuhnya untuk berdiri, tetapi kostumnya yang berat seperti tidak mau bergerak. Kejadian ini membuat para penonton geli dan tertawa terbahak-bahak. Di balik panggung, Youn Mi mengurut keningnya seraya mendesah, “Park Jiyeon, kenapa kau selalu mengacaukan pertunjukkanku?”

**

Wajahnya yang coklat menyerupai warna batang pohon terlihat sangat berantakan karena sudah bercampur dengan keringat. Rambutnya pun tidak kalah mengerikan, acak-acakan dan kusut. Park Jiyeon dengan polosnya menunduk seraya mengucapkan maaf kepada seluruh teman-temannya yang berlakon di atas panggung tadi. Tak terkecuali pada Lee Youn Mi dan kedua temannya, si Pangeran dan Putri Salju. Berkat dia, pertunjukkan siang ini gagal total.

Sebenarnya kejadian seperti ini sudah berlaku sebanyak tiga kali semenjak Jiyeon ikut serta dalam setiap pertunjukkan yang digelar oleh Youn Mi.

“Neo!” Choi Na Mi, si Putri Salju, menuding wajah Jiyeon sambil melotot. “Bisakah kau diam saja selama menjadi pohon? Pohon tidak perlu bergerak atau bicara kan? Kau sudah merusak pertunjukkan kami!”

Kepala Jiyeon semakin tertunduk.

“Mianhaeyo,” ucap Jiyeon sangat pelan.

Youn Mi menepuk tangannya beberapa kali dan para muridnya diam dari bisik-bisik kecil. “Pertunjukkan sudah selesai. Kalian tidak harus meributkannya lagi. Bersihkan diri kalian sebelum pulang,” ucap Youn Mi. Jelas sekali terdengar nada kekecewaan di dalam ucapannya.

Dengan ragu-ragu Jiyeon menghampiri Youn Mi.

Youn Mi menoleh lalu memandang sayu ke dalam mata Jiyeon. “Kenapa kau selalu melakukannya kepadaku?”

Jiyeon menggeleng. “Jeosonghamnida, Seonsaeng-nim. Tadi itu, bokongku sangat gatal dan…”

“Bokongmu gatal?” ulang Youn Mi menekankan.

Jiyeon mengangguk pelan.

Youn Mi mengurut keningnya seraya bertanya, “Bisakah kau menahannya selama pertunjukkan berlangsung?”

Dengan ragu-ragu Jiyeon menggeleng seraya menjawab, “Sepertinya kostum itu menyimpan ribuan kutu yang siap menyerang tubuhku.”

Youn Mi memegang kedua bahu Jiyeon. “Tadi itu benar-benar kejadian yang lucu. Para penonton sepertinya terhibur dengan aksi konyolmu. Gumawoyo, Jiyeon-ah,” ucap Youn Mi sebelum meninggalkannya sendirian di ruang kostum.

Entah itu pujian atau sindiran yang dikatakan Youn Mi. Jiyeon merasa buruk karena sudah menghancurkan pertunjukkan gurunya itu, termasuk dengan tiga pertunjukkan sebelumnya.

Pada pertunjukan yang pertama, Jiyeon berhasil mengotori kostum peri dengan susu coklatnya. Pertunjukkan kedua justru lebih parah karena dia membuat seluruh lampu aula dan panggungnya mati akibat air minumnya yang menumpahi saklar listrik. Dan kegagalan pertunjukkan yang ketiga terjadi karena Jiyeon tidak sengaja menarik karpet merah yang melapisi panggung. Si Cinderella yang saat itu sedang berlakon sendirian di atas panggung otomatis jatuh terjengkang.

Lamunan Jiyeon dibuyarkan oleh dua orang namja yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruang kostum. Si namja pertama dikenali sebagai kakak tiri Jiyeon, Park Cheondung. Dan yang satunya lagi, Onew adalah penggoda yeoja. Hanya yeoja gila yang tidak terpengaruh dengan kedipan matanya. Dia sahabat sekaligus teman kuliah Cheondung.

“Kenapa dengan wajah imut ini?” tanya Onew seraya memegang kedua pipi Jiyeon.

Jiyeon tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepalanya dengan pipi menggelembung.

“Kulihat pertunjukkan tadi ‘sukses’ besar,” ucap Cheondung yang sudah duduk pada salah satu meja rias. Dia sedang membalik-balik majalah fashion yang tergeletak di sana.

Onew terlihat sedang berpikir lalu bertanya, “Kau berperan sebagai apa?”

“Penyihir,” jawab Jiyeon asal.

Cheondung menahan tawanya. “Maksudmu, penyihir yang menyihir dirinya sendiri menjadi pohon yang menari-nari?”

Pipi Jiyeon semakin membulat karena diledek seperti itu.

“Menurutku, kau pohon yang sangat imut,” gumam Onew sambil mengelus kepala Jiyeon. Dia merapikan rambut Jiyeon yang menjengat keluar.

Berusaha untuk tidak perduli dengan komentar dari Cheondung dan Onew, Jiyeon bertanya, “Kenapa kalian ke sini?”

“Apalagi? Tentu saja menjemputmu pulang, Cagiya,” jawab Onew.

“Sudah kubilang jangan memanggilku ‘Cagiya’, aku bukan kekasihmu!” ucap Jiyeon sambil menekuk mukanya pada Onew.

“Ada beberapa hal yang harus kubicarakan denganmu,” ucap Cheondung seraya melempar majalah ditangannya ke sembarang tempat.

“Aigo!” Jiyeon melirik kakaknya. “Tumben sekali.”

“Bagaimana jika kubantu bersihkan wajahmu?” pinta Onew sambil menyabut gumpalan kapas dari dalam bungkusannya.

“Aniyo,“ jawab Jiyeon sambil berlalu menuju kamar mandi di ujung ruangan.

Onew mendesah sambil melihat tubuh Jiyeon yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. “Kenapa yeoja seimut dia tidak berperan sebagai Putri Saljunya? Dan andai aku bisa menjadi Pangerannya…”

“Micheosseo?” Cheondung meliriknya. “Namja setuamu lebih pantas menjadi ayahnya.”

“Mworago?” Onew menarik kepala Cheondung, lalu memitingnya pelan. “Apa umur dua puluh dua tahun masuk ke dalam kategori namja tua?”

**

“MWO?” pekik Jiyeon.

“Ne, Cagi,” jawab Onew sambil mengelus kepala Jiyeon dari kursi belakang. “Uridheul, tepatnya Oppa-mu ini, sudah mengizinkanmu untuk tinggal di asrama? Apa kau senang mendengarnya?”

Jiyeon mengangguk sambil menjawab, “Aku senang sekali.”

“Kalau begitu, kita segera urus kepindahanmu.” Onew memajukan kepalanya diantara Jiyeon dan Cheondung.

Mobil mereka sedang meluncur pergi menuju rumah keluarga Park.

“Chankammanyo,” ucap Jiyeon cepat-cepat. “Kenapa kau berubah pikiran secepat itu?” tudingnya kearah Cheondung.

“Secepat itu? Kupikir waktu sudah berlalu selama satu tahun sejak aku melarangmu untuk tinggal di asrama. Apa kau merasa satu tahun kurang lama?”

“Aniyo!” jawab Jiyeon cepat. “Hanya saja, aku tahu kebiasaanmu. Memutuskan suatu hal butuh waktu bertahun-tahun. Kupikir, aku tidak akan punya kesempatan untuk merasakan asrama Anyang.”

Telunjuk Onew bergoyang mengikuti gelengan kepalanya. “Kami tidak akan setega itu padamu. Kau tentu harus merasakan asrama itu.”

Jiyeon menepuk tangannya seraya berkata, “Aku tidak perduli alasan apa yang membuatmu berubah pikiran secepat itu. Aku hanya butuh izinmu. Akhirnya aku bisa tinggal di asrama itu. Tidur dan bermain bersama dengan Yoo Bi, Min Young dan Jin Joo.”

Onew memandang wajah Jiyeon yang berseri-seri. “Apa kau akan sekamar dengan Lee Yoo Bi? Yeoja yang jago menendang itu?” tanyanya dengan ekspresi mengerikan.

“Wae irae?”

Onew menggeleng. “Kupikir dia terlalu jantan untuk disebut yeoja. Hobinya menendang dan memukul orang. Apa akan baik-baik saja kalau kau sekamar dengannya?”

Jiyeon tersenyum. “Tentu saja. Justru aku merasa jauh lebih aman jika sekamar dengannya.”

Onew menarik kepalanya ke belakang lalu bersender. “Semoga kau baik-baik saja.”

**

Kepindahan Jiyeon sudah diurus oleh Cheondung, sebagai anggota paling tua di rumahnya. Ayah dan ibu mereka sudah lama meninggalkan mereka untuk urusan bisnis di Jepang. Hanya pada hari-hari khusus kedua orang tuanya menjenguk mereka. Masalah kepindahan Jiyeon ke asrama pun sudah dibicarakan matang-matang dengan kedua orang tuanya.

Di salah satu meja kantin Anyang Art High School, Lee Yoo Bi—sibuk menuang mayoneise ke dalam saladnya, Kim Min Young—mencoba melahap tiga lapis sandwich tuna dalam sekali gigit, Park Jin Joo—mulutnya kembang kempis karena lollipop yang sedang dihisapnya, mencoba memanggil Jiyeon yang sedang menenteng nampan makanannya di ujung sana.

“Pwa! Pwa!” Min Young menarik nampan makanan Jiyeon ke dekat Jin Joo. “Lemak jenuh yang kau sebut-sebut itu berada di dalam seluruh makanan ini.”

“Geuraeseo?” tanya Jin Joo cuek.

“Jiyeon sama sekali tidak ribut dan takut gendut hanya untuk memenuhi gizi yang cukup untuk tubuhnya. Sedangkan kau, menghindari makanan berlemak dan lebih memilih lollipop sebagai gantinya. Kau tahu? Berapa banyak kandungan gula pada lollipop yang sedang kau hisap itu?”

Jin Joo terkekeh lalu menjawab, “Aku tidak mau makan makanan berlemak seperti itu karena takut menjadi sebulat dirimu. Dan lollipop ini, kandungan gulanya tidak separah dibandingkan lemak jahat yang sedang kau telan bulat-bulat itu, Min Young-ah.”

“Terserah kau,” ucap Min Young jengkel. Memang dialah yang bertubuh paling bulat di antara mereka berempat. Tubuh Yoo Bi cukup proporsional. Dan Jin Joo, sepertinya dia pernah berada dikondisi yang sama dengan Min Young. Dengan diet super ketat, sekarang Jin Joo mampu mendapat tubuh ideal yang diimpikannya. Sedangkan Jiyeon? Dia tidak terlalu ambil pusing soal berat badan yang berlebih atau tidak proporsional. Hanya dengan makan, dia bisa melupakan masalah hidupnya.

“Geurae!“ ucap Min Young. “Hanya dengan makan, aku mampu melupakan seluruh masalah dalam hidupku.”

Jin Joo melirik. “Bukankah masalahmu hanya ketika melihat isi kulkas kosong?”

Yoo Bi dan Jiyeon tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon mereka.

“Lagipula, kalau kau memang suka makan banyak, seharusnya kau mampu menyelaraskannya dengan olah raga. Jadi tidak akan ada pengembangan lemak berlebih di dalam jaringan sel-sel tubuhmu…”

“Aish…sudah kubilang, jangan menggunakan bahasa kedokteran ketika berbicara padaku,” sela Min Young sebelum menggigit sandwich tunanya lagi.

Jin Joo hanya menaikkan kedua bahunya untuk menyudahi sekilas argumen yang sering mereka lakukan ketika sedang berkumpul.

“Park Jiyeon…” Yoo Bi mendorong nampan makanannya dan mengubah posisi duduknya sedikit lebih menghadap Jiyeon. “Sekarang kau sudah resmi tinggal di asrama dengan kami?”

Jiyeon mengangguk dengan wajah berseri-seri. Mulutnya terlalu penuh dengan roti daging untuk berbicara.

“Tidak akan ada lagi pendengkur sadis seperti Soo Jin di kamar kita!” Min Young merentangkan kedua tangannya ke atas dan melambai-lambaikannya di tengah udara. “Yoon Soo Jin, si pendengkur sadis akan digantikan dengan Park Jiyeon!”

Di meja kantin yang lain, Soo Jin sedang melirik mereka dengan tatapan sadis. “Apa mereka tidak sadar? Si gempal Min Young sering kentut sembarangan. GLORY sinting!”

**

GLORY. Para murid di sekolah cenderung takut ketika mendengar nama kelompok itu. Lee Yoo Bi adalah ketua dari GLORY. Pemberontak-pemberontak kelompok ini sebenarnya banyak, tetapi mereka terlalu pengecut untuk menggembar-gemborkan antipati mereka terhadap GLORY. Kecuali PARADISE―kelompok yang terbentuk tidak lama setelah GLORY terbentuk.

a

Diketuai oleh seorang yeoja dari jurusan seni tari bernama Kim Ji Won, dengan tiga pendukung setianya, Han Hee Joo, Park Choa dan Hong Yun Hwa. Mereka sering menantang GLORY, walaupun berkali-kali kalah telak.

Sebenarnya GLORY bukan kelompok pengganggu. Yoo Bi hanya tidak suka jika melihat ketidakadilan beredar di sekolahnya, seperti sekelompok Sunbae menindas Hoobae.

Seperti siang itu, Yoo Bi berusaha meredam amarahnya saat Ji Won dan tiga kroninya menghampiri meja kantin Jung Min Joo, seorang Hoobae yang baru pindah ke Anyang Art High School. Dia jadi terlihat spesial dan berbeda karena ibunya adalah seorang artis. Hanya saja, gosip buruk yang sedang menerpa ibunya, membuat dirinya jadi bahan ejekan satu sekolah.

Ji Won dengan sadisnya membanting nampan makanan Min Joo, yang hanya bisa diam dengan tubuh bergetar ketakutan.

“Apa ibumu tidak punya cukup malu sehingga memacari seorang namja muda?” Ji Won mendekatkan wajahnya ke arah Min Joo.

Choa menarik-narik rambut Min Joo seperti memperlakukan anak tiri. “Apa namja muda itu punya lebih banyak uang daripada mantan ayahmu?”

Hee Joo tertawa lalu menyahut. “Choa-ah, bukankah semua itu karena sebuah kepuasan? Pasti si namja muda itu hebat sekali…”

Tiba-tiba sebuah mangkuk salad berisi tumpukan mayoneise bertengger manis di atas kepala Hee Joo. Hee Joo menoleh ke belakang dan mendapati Yoo Bi sedang tersenyum ke arahnya.

“Micheosseo?” teriak Hee Joo seraya melempar jauh-jauh mangkuk salad di atas kepalanya.

Yoo Bi tidak menjawab. Dia justru mengambil tangan Min Joo dan menariknya dari tempat itu. Jin Joo mengelus kepala Min Joo seraya berkata, “Gwaenchanayo. Akan segera kami bereskan.”

Ji Won menghampiri Yoo Bi dengan wajah menantang. “Kenapa kau selalu mencampuri urusan kami?”

“Menindas Hoobae disebut sebagai sebuah urusan?” tanya Yoo Bi dengan senyum merendahkan.

“Kau terlalu banyak bicara, yeoja sok jagoan!” timpal Choa dari balik tubuh Ji Won.

“Neo!” Yoo Bi menuding Choa. “Kau jadi berani ketika berada di balik ketiak ketuamu itu.”

“Mworago?” ulang Choa emosi. Sekarang dia mengeluarkan tubuhnya dari balik Ji Won.

Yoo Bi mengangguk-angguk seraya berkata, “Begini lebih baik. Aku jadi lebih leluasa untuk menyentuh hidungmu itu. Apa kau sudah mengoperasinya sejak aku mematahkannya tempo lalu?”

Choa menggeram dan tiga anggota GLORY lainnya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Yoo Bi.

“Anak dari keluarga broken home apa selalu bertindak seperti ini?” cemooh Yun Hwa.

Mata Yoo Bi beralih memandang Yun Hwa, yang sudah berhasil mempermalukan sang ketua GLORY.

“Apa kau berencana menjadikan urusan keluargaku sebagai urusanmu?” tanya Yoo Bi sambil menghampiri Yun Hwa lebih dekat. Jiyeon melihat kaki yeoja pendek itu sesenti lebih mundur dari tempatnya berdiri.

“Urusan jenis apa yang sedang berlangsung di sini?” Suara Lee Youn Mi terdengar. Dia sudah berdiri di ambang pintu kantin.

“Tidak terlalu penting.” Min Young ambil alih suara. “Kami hanya sedang mengurusi sekelompok kutu-kutu kecil penyebar penyakit. Tetapi kami sudah selesai melakukannya. Kutu-kutu itu sepertinya sudah jera dan aku pastikan, jika kutu-kutu itu mulai beraksi lagi, sepertinya obat yang paling ampuh adalah kehadiranmu, Seonsaeng-nim.”

Ji Won dan tiga kroninya memandang benci ke arah Min Young, sebelum pergi meninggalkan kantin.

“Gwaenchanayo?” tanya Yoo Bi menghampiri Min Joo.

Min Joo mengangguk lalu mengucapkan terima kasih. Yoo Bi tersenyum seraya mengibas sebelah tangannya. “Aku hanya tidak suka ada penindasan di sekolah ini.”

“Apa kau benar-benar anak dari Jung Yeon Kyeong?” tanya Min Young sambil melemparkan pandangan takjub kepada yeoja kecil itu.

Min Joo mengangguk agak ragu. Sepertinya dia malu mengetahui berita miring tentang ibunya sudah beredar di sekolah ini.

“Kau benar-benar cantik seperti ibumu,” ucap Yoo Bi sambil tersenyum.

“Apa skandal Jung Yeon Kyeong dengan namja berumur dua puluh tahun itu benar adanya?” tanya Min Young sekali lagi. Spontan Yoo Bi menginjak kakinya yang gemuk. “Wae irae? Aku hanya bertanya, bukan bermaksud menghina seperti Ji Won.”

“Jangan dengarkan ucapan si gendut ini.” Yoo Bi menarik tangan Min Joo untuk bergabung di mejanya. “Apa tadi kau memesan cheese burger? Min Young-ah, pesankan satu cheese burger untuk Min Joo.”

“Araseo, Gongju-nim,” jawab Min Young sambil membungkuk layaknya pelayan istana.

“Gwaenchanayo,” timpal Jin Joo. “Dia harus banyak bergerak. Lagipula, dia kembali tidak hanya dengan cheese burger-mu. Lihat saja nanti.”

Benar saja. Tidak lama kemudian, Min Young membawa senampan penuh makanan kesukaannya. Dia hanya memberikan sebuah cheese burger ukuran medium kepada Min Joo dan sisanya dia letakkan di depan tubuhnya yang gempal.

“Pwa?” Jin Joo menunjuk makanan Min Young. “Biasanya dia lebih parah dari ini,” sambungnya.

Min Joo tidak mampu menahan tawanya melihat kekonyolan anggota GLORY. “Awalnya kupikir kalian adalah tipe perkumpulan yeoja-yeoja yang menyeramkan.” Akhirnya Min Joo bersuara.

“Kami bisa menjadi sangat menyeramkan ketika sedang berhadapan dengan manusia-manusia seperti Kim Ji Won,” jawab Min Young dengan mulut penuh makanan. “Kecuali Park Jiyeon, si yeoja imut.”

Jiyeon menoleh memandang Min Young. “Apa kau menyebut namaku?”

Min Young menggeleng. “Aniyo. Kau salah dengar.”

Jiyeon mengangguk dan kembali berkutat pada ponselnya. Wajahnya terlihat serius sekali.

“Kau sedang apa sih?” tanya Jin Joo sambil mencomot kentang goreng Min Young.

“Cheondung-Oppa harus mengangkut barang-barangku ke asrama sebelum malam ini. Masalahnya, kemana anak ini? Ponselnya tidak bisa dihubungi,” keluh Jiyeon berusaha untuk tidak mengutuk Cheondung.

“Biarkan dia bahagia semenit saja,” timpal Yoo Bi.

“Maksudmu?” tanya Jiyeon dengan wajah bodohnya.

“Dia juga punya kehidupan sendiri kan? Kau sering sekali mengganggunya demi kepentinganmu,” jawab Yoo Bi.

“Yaa!” sahut Min Young sambil menyipitkan sebelah matanya. “Yoo Bi-ah, kenapa kau perduli sekali dengan Cheondung-Oppa? Joh-ahaneunga?”

“Mwo? Bicara apa kau ini?” tanya Yoo Bi balik.

“Kau tidak boleh menyukai Cheondung-Oppa!” sahut Jin Joo.

“Aigo…apa kau ini istrinya? Sehingga melarang kami untuk menyukai Cheondung…”

“Kami?” Yoo Bi menyela ucapan Min Young.

“Ha!” tuding Jin Joo. “Kau juga menyukai Cheondung-Oppa kan? Mengakulah, gendut!”

“A-aniyo,” elak Min Young dengan wajah merah.

“Namja tukang ingkar janji seperti dia kenapa banyak sekali yang menyukainya,” desah Jiyeon seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku bajunya. Sepertinya dia menyerah menghubungi ponsel Cheondung.

**

Jiyeon menaikkan syal rajutnya sampai batas hidung saat angin malam melewati bawah hidungnya. Dia agak kesal karena Cheondung membatalkan niatnya untuk membantu membawakan barang-barang pindahannya ke asrama. Jiyeon pun mempercepat langkahnya setengah berlari.

Perasaannya menjadi lebih tenang saat menyadari jarak rumahnya sudah tidak jauh. Jiyeon tidak terbiasa pulang sendiri seperti ini. Biasanya Cheondung yang senantiasa mengantar-jemput dirinya ke sekolah. Tetapi entah mengapa, Oppa-nya jadi sulit dihubungi.

Jiyeon menutup pagar kayu rumahnya yang sudah terbuka dari awal. Dengan gemas, dia bergumam, “Apa dia lupa caranya menutup pagar? Ceroboh sekali.”

Keadaan di dalam rumahnya tidak serapi tadi pagi, tepatnya sebelum dia meninggalkannya ke sekolah. Beberapa koper dan tas olah raga berserakan di lantai. Dia ingat betul, tas dan koper-koper itu bukan miliknya. Koper kuning dan tas ungunya yang hendak dibawa ke asrama masih tertata rapi di dalam kamarnya.

Jiyeon mencoba memanggil Cheondung, tetapi tidak ada jawaban. Dia merasa aneh menyadari suasana di dalam rumahnya sangat sepi dengan kondisi berantakan. Dia berharap sesuatu yang buruk tidak sedang terjadi di dalam rumahnya. Dia mengecek untuk memastikan bahwa perabotan eletronik masih aman ditempatnya masing-masing.

“Aneh sekali,” gumam Jiyeon seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Kemana dia?”

“Kupikir membetulkan senar gitar tidak memerlukan waktu yang lama,” ucap seseorang tiba-tiba.

Jiyeon berhasil menahan jantungnya agar tidak meloncat keluar karena suara asing itu. Dia menoleh dan mendapati seorang namja sedang merapikan letak rambutnya yang berantakan.

Seperti sedang melihat makhluk halus, dengan suara bergetar, Jiyeon memanggil sebuah nama yang terdengar seperti, “C-Chang Sub-Oppa?”

**

Di part ini Abang Seksi (Seungri) belum keluar. Sabar, tahan, si Abang keluarnya part 3.

Keep RCL, ga RCL…Onew melayang!!

3 responses to “MR. MARSHMALLOW – PART 1

  1. haha jiyeon bener2 gk bisa akting ato gk mau akting ya thor? kasian jiyeon jd pohon aja bikin panggung nya brantakan apalagi jd pemeran utama keke
    asikk glory emg keren ,
    oke next dtunggu ya fighting

  2. Q pernah baca FF ini sebelum’a apa ini di share ulang atau gimana ya

    Tapi sumpah masih aja ngakak pas adegan Jiyi garuk” pantat saking gatal’a pake kostum pohon itu hahahaha dan sahabat” Jiyi pada abnormal semua tapi seru dan bikin ketawa

    Seungri Panda emang muncul di part 3 dan dari situ mulai dah persaingan panas/?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s