Please, Hold Me Tight Chapter 4

poster ff alle

By Sparkdey

Please, Hold Me Tight Chapter 4

Jeon Jungkook BTS || Han Hara (OC) || Park Jimin BTS

PG + 15

AU || Fluff || Romance || Friendship

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3A || Chapter 3B ||

Disclaimer : FF ini pure ide author dengan beberapa bantuan dari teman – teman. Jungkook dan Jimin adalah milik orang tua mereka, Big Hit Entertainment, dan ARMYs. Don’t be plagiator!! Please respect~

Note : FF ini merupakan requestan dari teman ARMY, jadi tolong dibaca dan berikan apresiasi berupa komentar atau like nya ya hehe, kamsahamnida^^

 

Cerita sebelumnya…

Ponselku kembali bergetar.

From : Han Hara

Arraseo, Jungkook-ssi!! Aku sudah berjanji untuk menolongmu selama 7 hari ke depan… jadi aku akan memaklumi semua panggilan sayang darimu dan juga tingkah lakumu…

Dengan cepat aku langsung membalas pesan Hara.

“Jungkook-ah! Letakkan ponselmu!” teriak Hoseok.

“Chakkaman!” balasku.

To : Han Hara

Dan kau juga harus memanggilku dengan panggilan sayang, Hara-ssi…

SEND…

From : Han Hara

Baiklah, sayang… aku sudah memanggilmu sayang. Jadi berhentilah mengirim pesan padaku!

Aku tersenyum melihat isi pesan dari Hara.

To : Han Hara

Hahaha… baiklah, cepat sembuh. Aku masih membutuhkanmu menjadi pacar bohonganku, bodoh

SEND…

‘Apa benar aku mulai menyukai Hara?’ batinku.

-Author POV-

Jungkook sudah mulai merasakan getaran di hatinya jika sedang memikirkan Hara. Jungkook tersenyum sendiri, merasa kesal sendiri, merasa gemas sendiri, bahkan tidak berkonsentrasi untuk latihan bersama Hoseok hanya karena Hara. Dia sudah mulai takut kehilangan Hara dan mulai peduli pada Hara.

Kini sudah berganti hari. Jungkook tidak pergi ke sekolah hari ini karena dia harus melakukan show underground nya bersama Hoseok. Jungkook menyempatkan dirinya untuk mengirim sebuah pesan pada Hara.

To : Han Hara

Selamat pagi sayang! Hari ini aku tidak dapat menjengukmu karena ada sesuatu hal yang harus ku kerjakan. Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah sembuh?

SEND…

Jungkook sedang berada di perjalanan menuju tempat yang mereka tuju. Kali ini Hoseok yang menyetir mobil Jungkook. Dan Jungkook hanya duduk manis di samping Hoseok. Ponsel Jungkook bergetar.

From : Han Hara

Pagi~ aku sudah lebih baik sekarang. Ada Jimin yang menemaniku di sini. Aku tidak dapat kemanapun hari ini karena suhu badanku masih tetap tinggi…

Jungkook berdecak kesal melihat kata Jimin yang terselip pada pesan Hara untuknya. Terlebih lagi Jimin rela tidak masuk sekolah hanya untuk menemani Hara di rumahnya. Jika hari ini Jungkook tidak ada show underground, dapat di pastikan saat ini dia sudah berada di rumah Hara.

To : Han Hara

Jimin bersamamu huh?! Baiklah kau harus tetap beristirahat dan jangan lupa pergi ke dokter eoh!

SEND…

“Wae? Kau terlihat sangat kesal” Tanya Hoseok.

“Hara sedang bersama Jimin” jawab Jungkook.

“Lalu kenapa kau kesal?” Tanya Hoseok lagi.

“Aku tidak suka jika mereka bersama” jawab Jungkook semakin kesal.

“Aku tidak ingin kau menghancurkan performance kita hari ini. Bersikaplah profesional’ pinta Hoseok.

“Aku tahu itu. Kau tenang saja. Ini juga impianku” kata Jungkook.

———- Namsan High School. 2:52 PM———-

Walaupun hari ini sedang liburan sekolah, Sera, Hana, dan Yoongi beserta anggota organisasi yang lain sedang mengadakan rapat di ruangan mereka. Rapat untuk membahas project organisasi yang selanjutnya. Sudah 2 jam mereka memulai rapat namun belum menemukan project apa yang akan mereka jalani selanjutnya.

“Kalian benar – benar tidak ada ide untuk project selanjutnya?” Tanya Sera.

“Aku tidak punya ide apapun” jawab Hana.

“Begitupun denganku” jawab Yoongi.

“Bagaimana kalau kita membuat sebuah artikel tentang music?” salah satu anggota organisasi menyerukan suaranya.

“Selanjutnya apa yang akan kita lakukan?” Tanya Sera.

“Kita meliput orang – orang yang suka membuat lagu atau mengaransemen lagu atau orang yang suka menari” jelas anggota organisasi itu, Lee Eun Bi.

“Chakkaman… orang yang suka menari? Apa hubungannya dengan music?” Tanya Sera lagi.

“Mereka saling berhubungan, karena orang menari pasti membutuhkan music” lanjut Eun Bi.

“Ah okay. Apakah ada yang ingin mengutarakan idenya lagi?” Tanya Sera.

“Aku setuju dengan ide Eun Bi” sahut Hana.

“Baiklah, apa kalian semua setuju dengan ide itu?” Tanya Sera dan semua anggota organisasi menyatakan setuju untuk ide itu.

Rapat kini sudah selesai dan semua anggota organisasi sedang beristirahat. Sera masih berkutat dengan berkas – berkas yang ada di mejanya saat ini. Hingga Sera tidak mengetahui ada seseorang yang sudah masuk ke dalam ruangannya dan tengah menatapnya dengan tersenyum kecil.

“Kau lucu sekali jika sedang berkonsentrasi seperti itu” sahut orang itu.

“Yoongi?” Sera menoleh dan menatap orang itu.

“Sedang apa kau di sini? Mengapa tidak mengetuk pintu?” Tanya Sera.

“Aku sudah mengetuknya, namun tidak ada jawaban darimu. Lalu aku langsung saja masuk” kata Yoongi yang kini duduk di hadapan Sera.

“Kau sudah makan?” Tanya Yoongi dan Sera hanya menggelengkan kepalanya.

“Kajja kita makan” ajak Yoongi.

“Kau duluan saja. Aku akan menyusul” kata Sera.

Yoongi beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Sera dan memegang tangannya lalu menariknya keluar dari ruangan Sera.

“Lupakan soal berkas itu sejenak. Kesehatanmu lebih penting daripada berkas itu” kata Yoongi.

“Kita mau makan dimana? Kantin tutup hari ini” kata Sera.

“Sudah ikut saja denganku” kata Yoongi yang masih mengenggam tangan Sera.

Yoongi membukakan pintu mobilnya untuk Sera dan menyuruh Sera untuk duduk. Yoongi segera masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya menuju restoran terdekat dari sekolah mereka.

Suasana di mobil begitu hening hingga sampai di restoran yang di tuju oleh Yoongi. Dia memarkirkan mobilnya lalu membukakan pintu mobil untuk Sera dan menyuruh Sera untuk turun dan ikut bersamanya masuk ke dalam restoran.

“Kau ingin memesan apa? Aku yang akan mentraktirmu” sahut Yoongi.

“Aku ikut denganmu saja” jawab Sera.

“Baiklah aku memesan steak tenderloin nya dua dan minumannya blue ocean nya dua” kata Yoongi pada pelayan.

“Hey, jangan melamun” sahut Yoongi.

“Aku tidak melamun. Hanya bingung mengapa kau mengajakku makan di sini” jawab Sera.

“Aku hanya ingin mentraktirmu. Tidak boleh ya?” Tanya Yoongi.

“Boleh saja. Setiap hari pun aku juga akan mau” kata Sera sambil tersenyum dan menahan tawanya.

“Jika kau mau, aku bisa mengajakmu makan bersamaku setiap hari” kata Yoongi.

“Aku hanya bercanda, bodoh” kata Sera.

“Aku tidak bercanda” jawab Yoongi.

 

-Jimin POV-

Aku sedang berada di rumah Hara hari ini. Hara eomma menitipkan Hara padaku hari ini. Aku harus menjaga Hara karena appa dan eomma Hara sedang ada dinas keluar kota selama beberapa hari. Apa perlu aku menginap di rumah Hara? Jika Hara mengizinkanku untuk menginap di sini maka aku akan menginap di sini dan menemaninya selama kedua orang tuanya pergi.

Kini Hara sedang tertidur di sofa karena aku habis memberikannya obat penurun demam. Aku sudah membawa Hara ke dokter tadi siang dan Hara hanya terkena demam. Suhu badannya juga sudah mulai turun saat ini.

Aku mengelus pelan rambut Hara dan memperhatikan wajah Hara dari dekat. Dia cantik. Tidak salah aku menyukainya. Dia menggeliat pelan dan aku langsung menghentikan aktivitasku.

“Cepatlah sembuh, Hara-ya. Aku ingin membuktikan padamu bahwa aku sungguh – sungguh mencintaimu. Dan aku melihatmu sebagai wanita, bukan sahabatku” kataku pelan.

Aku melihat ponselku dan kini sudah pukul 6:43 PM. Aku masih berada di rumah Hara dan pukul 7:30 PM nanti aku sudah ada janji untuk menemui seseorang. Apa aku harus meninggalkan Hara di rumah? Apa aku harus membawa Hara ikut bersamaku?

“Jim…” panggil Hara.

“Ne” jawabku.

“Aku haus” katanya.

“Baiklah tunggu sebentar, akan aku ambilkan minum untukmu” kataku lalu beranjak berdiri.

Aku berjalan menuju dapur rumah Hara lalu mengambil gelas serta mengisinya dengan air putih. Tidak lupa aku membawakan Hara roti coklat. Setidaknya Hara harus mengisi perutnya karena dia sama sekali tidak mau makan.

Aku membantu Hara ke posisi duduk dan menyerahkan gelas padanya. Dengan posisi berlutut di depan Hara aku membantunya untuk tidur kembali. Tidur di sofa.

“Kau sungguh – sungguh tidak ingin tidur di kamar?” tanyaku.

“Di sini kau akan kedinginan” lanjutku.

“Selama ada kau aku tidak akan kedinginan, Jim” jawabnya.

“Jim… kau tidak akan meninggalkanku kan?” Tanya Hara.

“Mianhae, Hara-ya. Sebentar lagi aku harus pergi karena aku sudah ada janji dengan seseorang” kataku sambil menatapnya intens.

“Bolehkah aku ikut denganmu?” tanyanya.

“Tidak, Hara-ya. Nanti kau akan tambah sakit” kataku pelan.

Hara merubah posisinya menjadi duduk di sofa dengan selimut yang masih menutupi badannya itu. Dia sangat kedinginan saat ini. Aku duduk di sampingnya dan mengenggam tangannya.

“Lihatlah, tanganmu saja masih terasa panas. Kau masih demam, Hara-ya” kataku.

Dia menyenderkan kepalanya pada bahuku. Aku menoleh padanya. Dia tertidur lagi. Tertidur dengan kepalanya yang ada di bahuku. Dia terlihat sangat damai dan tenang ketika tidur.

‘Dia tertidur lagi’ batinku.

Aku masih menggenggam tangannya. Aku sedikit menurunkan badanku agar Hara merasa lebih nyaman dengan kepalanya yang ada di bahuku. Dia menggeliat kecil lalu aku menyenderkan kepalaku pada kepala Hara.

‘Aku mencintaimu, Han Hara’ batinku.

Cukup lama dengan keadaan seperti ini. Aku melihat ponselku lagi dan sekarang sudah pukul 7:03 PM, aku harus bergegas memenuhi janjiku. Dengan sangat terpaksa aku menidurkan Hara kembali pada sofa dan melepaskan genggamanku dari tangannya. Aku menutup mataku dan mencium keningnya sedikit lama.

“Aku akan segera kembali ke sini, Hara-ya. Aku tidak akan lama” kataku pelan lalu mengusap kepalanya dan aku pergi meninggalkannya.

Aku melajukan mobilku menuju tempat perjanjianku dengan seseorang. Ya, aku janji dengan Taehyung untuk menemuinya di club tempatku biasa mampir. Setelah sampai aku memarkirkan mobilku dan masuk ke dalam.

“Kau sendirian? Dimana Hara?” Tanya Namjoon begitu aku sampai di meja bar.

“Dia sedang sakit. Aku meninggalkannya di rumah sendiri. Aku khawatir padanya” kataku.

“Ah~ kau tidak menjaganya?” Tanya Namjoon lagi.

“Vodka? Soju? Bourbon?” tawarnya.

“Kali ini aku minta cola saja. Aku masih harus menyetir nanti” jawabku lalu Namjoon memberikan cola untukku.

“Ah apa kau tau bocah yang bernama Jeon Jungkook?” tanyaku pada Namjoon.

“Ah dia teman sekelasku. Kau ada masalah dengannya?” Tanya Namjoon padaku.

“Dia memanfaatkan Hara untuk keegoisannya. Aku tidak bisa membiarkan ini semua” jelasku.

“Ahh untuk menjauhkannya dari fans yang selalu mengejarnya?” tanyanya lagi.

“Ne. Sungguh egois bukan?” kataku kesal.

“Aku melihat dia sangat khawatir pada Hara tempo hari. Dan aku lihat dia menyukai Hara” kata Namjoon.

“Kau tahu? Aku bersaing dengan bocah itu untuk memperebutkan Hara” jelasku sambil meneguk cola yang ada di hadapanku.

“Ahh aku mengerti. Bersainglah secara sehat. Jangan ada perkelahian di antara kalian” kata Namjoon.

“Aku tidak akan diam jika dia berani membuat Hara menangis” kataku.

 

-Hara POV-

Aku terbangun dari tidurku. Seingatku tadi aku sedang bersama Jimin. Sekarang dimana Jimin? Aku merubah posisiku menjadi duduk. Kepalaku terasa pusing sekali.

“Jim?” teriakku di dalam rumahku sendiri.

“Jim?” teriakku lagi namun tidak ada jawaban.

‘Apa dia meninggalkan aku sendiri?’ batinku.

TING TONG…

Bel rumahku berbunyi, dengan kepalaku yang berat aku berjalan membuka pintu tanpa melihat siapa yang datang berkunjung malam hari.

“Omo!” teriakku terkejut.

“Hey, tenang- tenang, ini aku sayang” kata seseorang dengan memakai masker penutup mulut.

“Nuguseyo?” tanyaku lalu dia membuka masker penutup mulutnya.

“Pacarmu, sayang” jawabnya.

“Ah Jungkook-ssi, ada apa kau kemari malam – malam? Silahkan masuk” ajakku padanya sambil memegangi kepalaku yang terasa berat.

“Hey, selama 7 hari ke depan kau harus memperlakukanku sebagai pacarmu, Hara-ya” kata Jungkook.

“Sekalipun hanya kita berdua saja?” tanyaku lalu duduk di sofa.

“Ne, geurae. Kau harus memanggilku dengan panggilan sayangmu padaku” kata Jungkook.

Aku terdiam sejenak karena kepalaku yang masih pusing. Dan Jungkook memperhatikanku dengan tatapannya.

“Jangan melihatku terus, nanti kau suka padaku” kataku.

Aku merasakan sebuah tangan menyentuh keningku dan Jungkook kini berada di depanku dengan jarak yang sangat dekat.

“Kau masih demam, Hara-ya. Kau sudah makan? Sudah minum obat? Sudah pergi ke dokter kan?” tanyanya.

“Kau ini kenapa eoh? Sedang menginterogasiku?” tanyaku.

“Aku khawatir padamu, bodoh” jawab Jungkook.

“Kau sudah makan?” tanyanya lagi dan aku hanya menggelengkan kepalaku.

Memang benar aku belum makan semenjak kepulanganku dari dokter tadi bersama Jimin. Jungkook langsung berdiri dan mengambil sebuah bungkusan dari dalam tasnya. Lalu pergi ke ruang makanku dan mengambil sebuah piring. Dia kembali duduk di sampingku.

“Buka mulutmu” perintah Jungkook.

“Ne?” kataku terkejut dengan perintahnya.

“Ku bilang buka mulutmu. Sudah turuti saja perintahku” perintah Jungkook.

Aku membuka mulutku, dia menyuapiku makanan yang dia bawa. Seingatku tadi pagi dia bilang padaku tidak dapat menjengukku. Tapi sekarang dia ada di sini. Apa aku sedang bermimpi? Aku memegang pipi Jungkook dengan tanganku.

“Kau Jungkook kan?” tanyaku dan dia menatapku.

Dia menaruh piring itu di meja lalu dia menggenggam tanganku “Bukan” jawabnya. Aku langsung menarik tanganku dari genggamannya.

“Tentu saja ini aku, bodoh!” serunya.

“Cepat buka mulutmu lagi” lanjutnya dan aku hanya menurutinya.

“Ku kira kau hantu. Tadi pagi kau mengirim pesan padaku bilang bahwa kau tidak bisa menjengukku hari ini” kataku.

“Kau merindukanku eoh?” Tanya Jungkook.

“Tidak, bodoh! Aku hanya bertanya saja” jawabku.

“Tadi pagi aku ada show underground bersama dengan Hoseok, aku tidak bisa meninggalkan show itu karena itu adalah impianku. Dan tadi pagi ada seseorang dari agensi yang datang untuk melihat show kami. Aku banyak berharap jika suatu hari nanti aku bisa masuk ke salah satu agensi di sini” jelasnya.

“Kau menari?” tanyaku.

“Ne. Cepat buka mulutmu lagi” perintahnya.

“Boleh aku ikut bersamamu jika kau sedang latihan?” tanyaku.

“Tentu saja boleh. Aku akan sangat senang jika kau datang” jawabnya.

“Baiklah, kabari aku kapan kau akan latihan dan aku akan datang” kataku sambil tersenyum.

Perbincangan kami terhenti karena Jungkook menyuruhku untuk focus makan karena aku harus minum obat dan segera tidur. Setelah selesai makan aku meminum obat. Aku melihat Jungkook sedang asik dengan ponselnya.

“Jungkook-ssi, kau tidak pulang?” tanyaku.

“Bisakah kau mengikuti peraturan misi kita?” katanya kesal.

“Ah mian…… oppa, kau tidak pulang?” tanyaku ulang.

“Ani, aku akan di sini menemanimu dan menjagamu” jawab Jungkook.

“Nanti Jimin akan menemaniku, kau bisa pulang” kataku.

“Kau mengusirku?” tanyanya yang kemudian menatapku.

“Ah bukan itu maksudku, apa kau tidak lelah? Kau baru pulang performance dan langsung ke rumahku kan? Kau juga butuh istirahat” jelasku.

“Apa kau sedang mengkhawatirkanku?” tanyanya.

“Tidak. Aku sedang memperingatkanmu tentang kondisimu sekarang” jelasku.

“Aku akan menjagamu di sini. Kemarilah, kau harus tidur dan beristirahat” katanya sambil menyuruhku untuk tiduran.

“Dimana bantalku?” tanyaku.

“Di sini” katanya sambil menepuk pahanya lalu tersenyum.

“Aku serius bodoh, dimana bantalku?” tanyaku lagi.

“Sudah kubilang di sini. Cepatlah tidur. Atau aku akan menidurkanmu?” ancamnya.

“YA! Dasar pria mesum!” kataku.

“Turuti perkataanku, sayang” bisik Jungkook.

Mau tidak mau aku menuruti permintaannya atau dia akan menjalankan ancamannya untuk meniduriku. Aku tidur dengan paha Jungkook sebagai bantalku. Ku rasakan tangan Jungkook mengelus rambutku. Itu membuatku semakin mengantuk. Aku memejamkan mataku.

“Kau sudah tidur?” Tanya Jungkook.

“Belum” jawabku.

“Hara-ssi, bagaimana jika aku benar – benar menyukaimu?” tanyanya.

“Jungkook-ssi, bagaimana jika aku benar – benar tidak menyukaimu?” tanyaku balik.

“Kau harus menyukaiku” jawab Jungkook.

“Aku tidak akan menyukaimu, Jungkook-ssi. Sandiwara kita akan berakhir 5 hari lagi” jelasku.

“Bagaimana jika aku tidak mau mengakhirinya?” Tanya Jungkook yang tetap dengan kegiatannya mengelus kepalaku.

“Aku yang akan mengakhirinya” kataku semakin pelan karena aku sudah sangat mengantuk.

 

-Jungkook POV-

“Aku yang akan mengakhirinya” katanya semakin pelan.

“YA! Kau tidak bisa memutuskan misi ini secara sepihak!” bantahku.

Dia tidak mengeluarkan suara. Apa dia sudah tidur? Aku menghentikan aktivitasku yang mengelus kepala Hara dan mengintip Hara, memastikan apa dia sudah tidur atau belum. Dan dia sudah tertidur. Aku senang, aku tersenyum saat ini hingga akhirnya kehadiran seseorang membuat senyumku memudar.

“Neo…. Ikut denganku” perintah orang itu.

Aku mengangkat kepala Hara pelan lalu menaruh bantal di bawah kepalanya. Aku mengikuti orang itu untuk pergi ke halaman belakang rumah Hara. Dia, Park Jimin, sedang menatapku penuh kekesalan.

“Sedang apa kau di sini huh?” Tanya Jimin.

“Menemani pacarku. Apa itu salah? Dia pacarku, dia membutuhkanku” jawabku.

“Cih… kau dan dia itu hanya pacaran bohongan untuk keegoisanmu. Dia milikku” kata Jimin.

“Dia milikku. Kau hanya sahabatnya. Pergilah dari sini, aku akan menjaganya” kataku beranjak pergi.

“Tidak semudah itu kau mengusirku, Jungkook-ssi” katanya mendekat padaku.

“Kau ingin aku berlaku kasar rupaya” kataku.

“Aku tidak takut padamu” jawabnya.

Aku mencengkram kerahnya dan mengepalkan tanganku. Dia menendang perutku hingga aku terjatuh. Aku berdiri dan menahan sakit di perutku ini. Aku di dorong oleh Jimin dan dia melayangkan satu pukulan padaku.

“JIM! Hentikan!” teriak Hara dari pintu yang akan masuk ke halaman belakang.

“Jungkook-ssi, gwenchanayo?” Tanya Hara padaku.

“Mengapa kau terbangun? Apa kami terlalu berisik dan membangunkanmu?” tanyaku.

“Bangunlah. Kau terluka. Masuklah, aku ingin berbicara pada Jimin” kata Hara.

Aku berdiri dan segera masuk ke dalam. Aku masih dapat mendengar perbincangan mereka. Aku melihat Hara memandang Jimin kesal.

“Buat apa kau memukulnya Jim? Aku sungguh tidak percaya jika kau melakukan ini hanya karenaku, Jim” kata Hara kesal.

Aku melihat Jimin menarik Hara ke dalam pelukannya. Aku langsung berdiri dari posisiku. Ingin menghampiri mereka dan menarik Hara dari pelukan Jimin.

“Kau tahu aku mencintaimu, aku tidak rela jika kau harus menjadi milik orang lain. Kau milikku Hara-ya. Kau milikku!” kata Jimin.

“Tidak. Aku bukan milikmu. Kita hanya sahabat Jim. Kau tidak berhak mengklaim diriku sebagai milikmu. Lebih baik kau pulang Jim. Aku tidak ingin bertemu denganmu. Aku kecewa padamu, Jim” kata Hara pergi meninggalkan Jimin.

“Apa ini semua karena Jungkook?” Tanya Jimin yang sukses membuat Hara menghentikan langkahnya.

“Ne, kau sudah menghajar pacarku, Jim. Aku tidak ingin melihatmu. Pulanglah” perintah Hara.

Jimin menatapku dengan sinis ketika dia melewatiku. Dan aku tersenyum dengan penuh kemenangan. Jimin keluar dari rumah Hara dengan sedikit membanting pintu.

“Gomawo sudah menolongku” kataku.

“Kau juga pulanglah” katanya.

“Shireo. Aku akan menemanimu di sini” jawabku.

“Oppa… jebal” kata Hara.

“Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan menjagamu. Kau menjadi seperti ini karenaku” kataku.

“Kumohon, pulanglah” pintanya.

“Sekali kubilang tidak ya tidak, sayang” kataku.

“Kau tahu? Aku menyukai Jimin. Aku menyayangi Jimin. Tapi aku kecewa pada sikapnya seperti tadi padamu, Jungkook-ssi” dia menatapku dan menitikkan air matanya.

Aku menariknya ke dalam pelukanku. Membiarkannya menangis di dalam pelukanku. Aku tidak tahu mengapa tapi hatiku sakit mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Hara.

‘Apa aku benar – benar menyukaimu?’ batinku.

Dia masih terisak di dalam pelukanku. Dia tidak memelukku balik. Di sini hanya aku yang memeluknya. Aku tidak ingin menjadi alasan mengapa Hara menangis. Aku seperti pria terjahat jika aku membuatnya menangis.

Aku melepas pelukanku dan menatapnya lekat – lekat. Aku menghapus air matanya yang jatuh dengan ibu jariku. Dia sudah lebih tenang dari sebelumnya.

“Hara-ya, apa aku bisa menggantikan posisi Jimin? Apa kau bisa menyukaiku seperti kau menyukai Jimin?” tanyaku.

Dia terkejut dengan pertanyaanku. Dia tidak membalas pertanyaanku.

“Aku hanya bercanda. Aku tidak bisa memaksamu untuk menyukaiku. Jika kau bisa menyukai dan mencintaiku, pasti aku akan sangat bahagia” kataku.

Aku berjalan menuju sofa dan dia masih terpaku di tempatnya berdiri. Aku duduk di sofa dan memanggil Hara untuk menghampiriku.

“Tidurlah. Aku akan menemanimu dan tidak akan meninggalkanmu” kataku sambil memberikan bantal untuk Hara.

“Bolehkah aku tidur dengan posisi seperti tadi?” tanyanya dan aku mengernyitkan dahiku.

“Seperti tadi?” tanyaku bingung.

“Ne, aku suka seperti tadi. Kau mengelus kepalaku dan aku tidur di pahamu. Itu membuatku nyaman dan cepat tertidur” kata Hara.

‘Kau sungguh susah di tebak, Hara-ssi’ batinku.

Aku duduk di samping Hara dan menepuk pahaku pelan sebagai pertanda bahwa aku sudah siap. Hara tidur di pahaku dan dia menarik selimut hingga sebatas lehernya. Aku mengelus kepalanya pelan.

Cukup lama aku mengelus kepalanya pelan dan aku memastikan bahwa dia juga sudah tertidur dengan lelap. Aku mulai mengantuk, aku melihat ponselku dan sekarang sudah pukul 1:32 AM. Pantas saja aku sudah merasa mengantuk. Aku memejamkan mataku dan tertidur.

Aku mengerjapkan mataku pelan. Dingin. Aku mengucek mataku. Aku mengambil ponselku dan sekarang sudah pukul 7:12 AM. Aku tertidur di sofa tanpa selimut dan Korea sedang musim dingin. Lengkap sudah. Sepertinya setelah ini aku akan sakit.

Hara membuka matanya dan mengucek matanya. Aku memperhatikannya. Dia terlihat lucu dan imut ketika bangun tidur. Aku mendekat padanya dan mencium pipinya sekilas.

“Selamat pagi sayang” kataku.

“YA! Apa – apaan kau menciumku!” teriaknya.

“Morning kiss untukmu” jawabku.

“Terserah kau” katanya yang hendak beranjak berdiri.

“Dimana morning kiss ku?” kataku sambil menunjuk pipiku.

“Hanya dalam mimpimu” jawabnya.

Aku menarik tangannya dan dia terjatuh kembali ke sofa. Aku memegang tangannya dan mengunci tangannya agar dia tidak bisa beranjak kemanapun.

“Morning kiss ku, mana?” tanyaku lagi sambil menunjuk pipiku.

“Ah baiklah. Pejamkan matamu” kata Hara. Aku menurutinya.

Dalam hitungan satu detik aku membuka mataku dan menoleh padanya. Kini tepat bibirnya mencium bibirku. Sungguh aku sangat licik bukan?

“YA! Kau!” kata dia sambil mengelap bibirnya.

“Hey, tenang saja. Aku tidak rabies” kataku.

“Untung saja” ketusnya.

“Ah apa kau tidak pernah berciuman sebelumnya eoh?” tanyaku.

“YA! Apa urusanmu bodoh!” teriaknya.

“Ah apa Jimin yang sudah menjadi first kiss mu?” tanyaku lagi.

“Tentu saja tidak” bantahnya.

“Lantas siapa?” tanyaku lagi.

“Tidak ada. Dan tidak akan pernah ada” jawabnya.

“Bagaimana jika aku yang mengambil first kiss mu?” godaku.

 

TO BE CONTINUE…

Hallo~ gimana ff chapter kali ini? Seru ga? Seru aja dong yaa hihiw.

Okedeh jangan lupa tinggalin komentar kalian yaa~

Berikan apresiasi kalian berupa like atau comment. Itu akan sangat membantu author.

DON’T BE A SILENT READER!!!

DON’T BE A PLAGIATOR!!!

Penasaran ga apa yang akan dilakukan oleh Jungkook?

12 responses to “Please, Hold Me Tight Chapter 4

  1. My jeonggukie😦
    Kiss kiss melulu😦 wkwk
    Aku suka karakter jungkooknya ih kak><
    Semoga hara suka sama kukie ya :"")

    Btw, Jimin kasian disuruh pulang😂😂

  2. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 5 – FFindo·

  3. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 6 | FFindo·

  4. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 7A | FFindo·

  5. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 7B | FFindo·

  6. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 8 | FFindo·

  7. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 9 – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s