Please, Hold Me Tight Chapter 5

poster ff alle

By Sparkdey

Please, Hold Me Tight Chapter 5

Jeon Jungkook BTS || Han Hara (OC) || Park Jimin BTS

PG + 15

AU || Fluff || Romance || Friendship

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3A || Chapter 3B || Chapter 4 ||

Disclaimer : FF ini pure ide author dengan beberapa bantuan dari teman – teman. Jungkook dan Jimin adalah milik orang tua mereka, Big Hit Entertainment, dan ARMYs. Don’t be plagiator!! Please respect~

Note : FF ini merupakan requestan dari teman ARMY, jadi tolong dibaca dan berikan apresiasi berupa komentar atau like nya ya hehe, kamsahamnida^^

 

Cerita sebelumnya…

Aku menarik tangannya dan dia terjatuh kembali ke sofa. Aku memegang tangannya dan mengunci tangannya agar dia tidak bisa beranjak kemanapun.

“Morning kiss ku, mana?” tanyaku lagi sambil menunjuk pipiku.

“Ah baiklah. Pejamkan matamu” kata Hara. Aku menurutinya.

Dalam hitungan satu detik aku membuka mataku dan menoleh padanya. Kini tepat bibirnya mencium bibirku. Sungguh aku sangat licik bukan?

“YA! Kau!” kata dia sambil mengelap bibirnya.

“Hey, tenang saja. Aku tidak rabies” kataku.

“Untung saja” ketusnya.

“Ah apa kau tidak pernah berciuman sebelumnya eoh?” tanyaku.

“YA! Apa urusanmu bodoh!” teriaknya.

“Ah apa Jimin yang sudah menjadi first kiss mu?” tanyaku lagi.

“Tentu saja tidak” bantahnya.

“Lantas siapa?” tanyaku lagi.

“Tidak ada. Dan tidak akan pernah ada” jawabnya.

“Bagaimana jika aku yang mengambil first kiss mu?” godaku.

-Hara POV-

“Bagaimana jika aku yang mengambil first kiss mu?” godanya padaku.

“YA! Tidak akan bisa!” teriakku lalu aku melepaskan genggamannya pada tanganku.

Aku mencoba berjalan dan berdiri untuk ke dapur dan menyiapkan sarapan.

‘Oh tidak, kepalaku sakit lagi’ batinku.

“Hey hey hey, kau masih sakit. Kau ingin ngapain? Biar aku yang melakukannya” kata Jungkook.

“Aku lapar. Aku ingin menyiapkan sarapan untukmu dan untukku” jawabku sambil memegang kepalaku.

“Duduklah. Biar aku yang memasakkanmu makanan” katanya.

“Kau bisa masak?” tanyaku.

“Jangan meragukanku. Aku bisa melakukan hal apapun” jawabnya di selingi tawa.

Aku duduk di meja makan. Aku menidurkan kepalaku di meja dengan tanganku sebagai alasnya. Mengapa aku merasa sangat pusing? Apa aku kurang tidur? Atau suhu badanku meningkat lagi?

Aku memegang keningku untuk memeriksa apa suhu badanku masih tinggi atau tidak. Menurutku suhu badanku sudah mulai turun. Tidak seperti kemarin – kemarin, suhu badanku sungguh tinggi hingga aku harus memakai pakaian hangat dan selimut yang tebal.

“Mian, aku hanya bisa memasak omurice untuk kita” katanya sambil menaruh sepiring omurice di depanku.

“Kau tidak makan?” tanyaku.

“Ani. Dengan melihatmu makan aku sudah merasa kenyang. Cepat makan dan habiskan” perintahnya.

“Baiklah. Kamsahamnida, Jungkook-ssi” jawabku.

“Berhentilah bersikap formal padaku, Hara-ya. Anggap aku sebagai temanmu. Dan ingat kita masih dalam misi” peringatan dari Jungkook mengarah padaku.

“Arraseo arraseo oppa. Kau tidak pulang eoh?” tanyaku.

“Orang tuamu sedang dinas keluar kota selama beberapa hari kan? Aku akan menginap di sini, jadi aku tidak akan pulang selama beberapa hari” jelasnya.

“YA! Kau tidak boleh menginap di rumahku! Aku bisa mengajak Sera untuk menginap di rumahku!” teriakku.

“Kau sedang makan. Jangan berteriak, atau nanti kau akan tersedak” katanya.

“Aku ingin mandi. Boleh aku pinjam kamar mandimu?” tanyanya.

“Kamar mandi ada di atas, kau naik tangga dan berbelok ke kanan, di ujung adalah kamar mandi” jelasku.

“Baiklah. Makan yang benar ya sayang. Aku mandi dulu. Jangan merindukanku” katanya sambil mengacak rambutku pelan.

“Aish…” decakku kesal.

Aku sudah selesai dengan sarapanku. Jungkook belum selesai mandi juga? Aku mengambil obatku dan meminumnya. Setelah itu aku duduk di ruang keluargaku dan menonton drama di TV. Jungkook belum keluar juga dari kamar mandi. Apa dia terjatuh di kamar mandi? Sudah 40 menit dia tidak keluar juga dari kamar mandi.

Aku menjadi khawatir pada Jungkook. Dia benar – benar belum keluar dari kamar mandi. Akhirnya aku memutuskan untuk menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar mandi.

“Jungkook-ah?” panggilku sambil mengetuk pintu kamar mandi.

“Oppa…” panggilku lagi.

Ketika aku ingin mengetuk pintunya lagi, pintu itu terbuka.

“Kau merindukanku eoh?” tanyanya.

“Aku khawatir padamu, bodoh. Sudah 40 menit kau tidak keluar dari kamar mandi” jelasku.

Oh tidak, mengapa Jungkook terlihat sangat… sexy? Dia memakai celana pendek, kaos putih polos, rambutnya basah dan handuk yang ada di bahunya. Oh no, dia benar – benar terlihat sangat tampan.

“Kau menyukaiku eoh? Daritadi kau menatapku dan tidak berkedip” kata Jungkook menghancurkan imajinasiku tentangnya.

“YA! Aku tidak menyukaimu bodoh! Aku pergi” kataku pergi meninggalkannya lalu aku kembali ke ruang keluargaku.

Aku duduk dan menonton tv sendirian. Aku kesal pada Jungkook. Dia membuatku berteriak di pagi hari. Tapi dengan melihatnya tadi sehabis mandi… uhh itu benar – benar pemandangan yang menakjubkan bagiku. Dia benar – benar terlihat sangat tampan.

Jungkook tiba – tiba duduk di sampingku. Aku bergeser untuk menjaga jarak padanya. Dia pun ikut bergeser untuk semakin mendekat padaku. Hingga pada akhirnya aku sudah berada di ujung sofa dan dia semakin menempel padaku.

“Bisakah kau menyingkir?” tanyaku.

“Untuk apa kau menghindariku dan menjaga jarak dariku?” tanyanya.

“Ah.. umm itu.. bukan apa – apa. Hanya saja aku merasa risih jika kita terlalu dekat seperti ini” jawabku.

“Apa kau yakin? Ku rasa kau tadi senang dan menyukaiku ketika aku keluar dari kamar mandi.. ah kau juga mengkhawatirkanku” jelasnya seperti memojokkanku.

“Baiklah – baiklah aku kalah” jawabku.

“Cepat menyingkir” perintahku.

Jungkook pindah dari tempatnya semula lalu bergegas mengambil tasnya.

“Kau ingin kemana?” tanyaku melihatnya memakai tas nya.

“Aku ingin pulang” jawabnya.

“Ah.. pulang? “ tanyaku tidak percaya.

“Aku ada latihan hari ini” jawabnya.

“Aku ikut!” teriakku.

“Andwae. Kau masih demam, Hara-ya. Sebaiknya kau di rumah atau menghubungi Jimin mu itu untuk menemanimu. Aku benar – benar harus pergi, Hara-ya” jelasnya.

‘Apa dia tadi menyuruhku untuk menghubungi Jimin?’ batinku.

“Aku ingin ikut denganmu, oppa” pintaku.

“Tidak, Hara-ya. Kau di rumah. Atau perlu aku yang menghubungi Jimin mu?” tanyanya.

“ANDWAE!! Aku tidak ingin bertemu dengannya. Aku ingin ikut bersamamu. Aku bosan di rumah” jelasku.

“Tidak, Hara-ya. Kau di rumah hari ini. Sekali ku bilang tidak ya tidak” katanya.

“Aku pulang dulu, sayang” katanya lalu memelukku dan mencium pipiku.

“YA! Jangan menciumku!” kataku lalu menutup kedua pipiku dan dia hanya tertawa.

‘Jungkook-ssi, kau menyebalkan’ batinku.

 

-Jimin POV-

Pagi ini aku bangun dari tidurku. Mengingat kejadian semalam aku merasa kesal pada Jungkook. Dan untuk apa Hara membela bocah brengsek yang sudah memanfaatkannya itu?

Aku segera mandi dan bersiap. Pagi ini aku harus ke rumah Taehyung. Ah aku merindukan Hara, apa dia merindukanku juga? Dia sudah kecewa padaku. AH untuk apa aku meluapkan emosiku pada Jungkook semalam? Dan aku tidak menyangka bahwa Hara melihat itu semua.

To : Taehyung

Sebentar lagi aku akan ke rumahmu…

SEND…

Aku mengeluarkan mobilku dari garasi dan memacunya menuju rumah Taehyung dan rumah Hana tentunya. Saat ini yang sudah mengetahui rahasia Taehyung dan Hana hanyalah aku. Aku hanya ingin bermain saja di rumah Taehyung dan Hana hari ini.

Aku sudah sampai di rumah Taehyung lalu memarkirkan mobilku di garasi rumah Taehyung, tepat di sebelah mobil Taehyung. Aku keluar dari mobilku dan menekan bel rumahnya. Tak berapa lama, Taehyung membukakan pintunya untukku.

“Kau sudah datang rupanya” sambutnya.

“Masuklah” lanjutnya.

Aku masuk ke dalam rumahnya. Nampak sepi di sini. Aku duduk di sofa ruang tamunya. Aku melihat ke sekeliling dan benar – benar sepi.

“Taehyung-ah, Hana eodie?” tanyaku.

“Kau merindukan adikku?” tanyanya sambil menaruh sekaleng cola padaku.

“Aku hanya bertanya bodoh, rumahmu nampak sepi” kataku.

“Dia masih tertidur. Semalaman dia menemaniku bermain game” jawabnya.

Aku mengangguk pelan. Taehyung pergi ke belakang untuk mengambil beberapa snack. Setelah itu kami berjalan menaiki tangga dan masuk ke kamar Taehyung.

Aku duduk di meja belajar Taehyung. Di sana terdapat foto Taehyung dan Hana yang masih kecil. Mereka berdua nampak lucu, terlebih lagi Hana dengan pipi chubby nya itu.

“Jadi jelaskan padaku apa tujuanmu datang ke sini, Jimin-ah” pinta Taehyung.

“Apa ini menyangkut Hara?” tebaknya.

“Kau mengenalku, Taehyung-ah” jawabku.

“Ada apa dengannya?” tanyanya.

“Semalam aku sehabis bertemu denganmu di club, aku kembali ke rumah Hara dan menemukan Jungkook di sana. Aku mengajaknya untuk berbicara di halaman belakang rumah Hara, aku kesal padanya, aku memukulnya” jelasku.

“Dan Hara melihatmu memukul Jungkook?” tanyanya.

“Ne, dia melihatnya. Aku menjelaskan padanya. Dia kecewa padaku. Itu semua karena bocah brengsek itu, sekarang aku tidak bisa dekat – dekat dengan Hara” kataku kesal.

“Oppa~~” tiba – tiba seseorang masuk ke kamar Taehyung.

“Kau sudah bangun eoh?” Tanya Taehyung.

“OMO” teriaknya kaget begitu melihatku.

“Jim… sejak kapan kau ada di sini?” Tanya Hana.

“Sejak tadi” jawabku singkat.

Hana mendekat ke arah Taehyung dan mencium pipinya sekilas. Lalu memeluk Taehyung. Dia sangat manja pada Taehyung. Berbanding terbalik ketika di sekolah. Aku melihat Taehyung mencium balik pipi Hana.

“Ah maafkan kami, Jimin-ah. Ini sudah menjadi kebiasaan kami” jelas Taehyung.

“Kalian benar – benar adik kakak kan?” tanyaku heran.

“Tentu saja. Dia ini adik kesayanganku” jawab Taehyung sambil mengacak rambut Hana pelan.

“Kalian lebih terlihat seperti orang pacaran” kataku.

“Aku penasaran bagaimana bisa kalian menyembunyikan identitas asli kalian?” tanyaku penasaran.

“Mengapa kau penasaran, Jim?” Tanya Hana.

“Karena kalian aneh. Wajar jika kalian menyembunyikan identitas jika kalian bukan saudara kandung. Kalian saudara kandung kan?” tanyaku lagi.

“Kami saudara kandung, bodoh!” Taehyung menjitak kepalaku.

“Itu sakit, bodoh!” balasku menjitaknya.

“Jadi ceritakan padaku, mengapa kalian menyembunyikan identitas kalian” pintaku.

Taehyung dan Hana saling bertukar pandang. Hana duduk di samping Taehyung. Kini posisi kami jadi duduk melingkar karena kehadiran Hana di antara aku dan Taehyung. Hana menganggukkan kepalanya, mungkin sebagai tanda persetujuan untuk menceritakan hal ini padaku. Taehyung mulai angkat bicara.

“Jadi, waktu dulu, aku mempunyai musuh. Dia sahabat dekatku, bahkan aku sudah menganggapnya sebagai keluargaku. Hanya karena kami mencintai perempuan yang sama, aku dan dia menjadi berkelahi. Dia sangat mengenalku dan keluargaku. Hingga pada akhirnya aku yang mendapatkan yeoja itu, dan dia tidak menerima kenyataannya. Dia menculik Hana bahkan menyekapnya selama berhari – hari. Dia hanya memberikan Hana minum, dia memberikan Hana makanan hanya 2 kali saja. Bisa kau bayangkan bagaimana tersiksanya adikku? Semenjak itu aku menjadi takut untuk memperkenalkan Hana sebagai adikku. Selama di sekolah aku bersikap cuek dan tidak mengenal Hana, namun di rumah, ya seperti yang kau lihat” jelas Taehyung.

“Aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi, maka dari itu aku dan Hana sepakat untuk saling tidak mengenal di sekolah” lanjut Taehyung.

“Ah aku mengerti… aku akan simpan rahasia ini. Percayalah padaku. Dan aku tidak akan macam – macam pada Hana” kataku.

“Aku percaya padamu. Jika kau berani menyakiti adikku, kau akan berhadapan denganku, Jimin-ah” ancam Taehyung padaku.

“Oppa~ aku lapar… kajja makan” ajak Hana.

“Kau makanlah duluan. Aku ada urusan pada Jimin” jawab Taehyung.

“Baiklah. Annyeong Jim!” kata Hana sambil mengecup pipi Taehyung sekilas.

“Dia sangat menyayangimu ya” sahutku begitu Hana sudah keluar dari kamar Taehyung.

“Eoh” jawabnya singkat.

Aku kembali focus pada sekaleng cola dan snack di hadapanku ini. Apa yang sedang Hara lakukan saat ini? Apa dia sudah makan? Apa demamnya sudah turun? Apa keadaannya sudah membaik?

Aku mengambil ponselku dan mengetikkan sebuah pesan untuk Hara.

To : Hara

Hara-ya, kau sudah makan? Sudah minum obat? Bagaimana keadaanmu sekarang?

SEND…

Aku menunggu Hara untuk membalas pesanku, namun Hara tak kunjung membalas pesanku. Aku mengetikkan pesan untuk Hara lagi.

To : Hara

Kau masih marah padaku? Aku minta maaf… aku janji tidak akan mengulanginya lagi… maafkan aku, Hara-ya…

SEND…

Taehyung keluar dari kamar dan turun ke bawah untuk mengambil cola dan juga snack untuk kami. Tak berapa lama aku menunggu, Taehyung kembali ke kamar. Tentu saja dengan Hana yang mengekorinya di belakang.

Sungguh Hana bersikap sangat berbeda sekali. Benar – benar berbanding terbalik dengan di sekolah. Selama di organisasi pun dia lebih banyak diam. Tidak seperti sekarang ini yang begitu hiperaktif dan tertawa bercanda bersama dengan Taehyung.

Hana seperti mempunyai kepribadian ganda. Namun aku paham mengapa Hana mempunyai sikap yang berbeda saat di sekolah.

Aku kembali mengecek ponselku dan tidak ada balasan satu pun dari Hara. Apa dia masih kecewa padaku? Apa dia masih marah padaku? Ini semua karena bocah brengsek itu, jika saja dia tidak hadir di dalam kehidupan Hara, dapat aku pastikan sampai saat ini aku masih damai dengan Hara. Bocah sialan!

Aku mengetikkan sebuah pesan pada Hara lagi.

To : Hara

Hara-ya, kumohon jangan marah padaku lagi… aku tidak tahu harus apa jika kau bersikap seperti ini…

SEND…

Aku melempar ponselku karena kesal Hara tidak kunjung membalas pesanku. Kemanakah dia? Apa dia sedang bersama bocah brengsek itu?

“Taehyung-ah, bolehkah aku meminjam adikmu?” tanyaku.

“Mwo? Apa maksudmu, Jim?!” Tanya Hana kaget.

“Aku ingin pergi ke suatu tempat. Dan aku ingin seseorang menemaniku” jawabku.

“Kenapa tidak aku saja?” tawar Taehyung.

“Aku tidak ingin di bilang gay, jika bersamamu, Taehyung-ah!” kataku sambil menatapnya kesal.

“Ah kau benar juga…” jawab Taehyung.

“Bersiaplah, Hana-ya. Aku menunggumu di bawah dalam 10 menit” kataku lalu keluar dari kamar Taehyung.

 

-Author POV-

Hana berjalan menuruni tangga rumahnya dan berjalan menghampiri Jimin yang sudah menunggunya sejak 10 menit yang lalu. Jimin yang menyadari kehadiran Hana, sungguh tidak menyangka karena Hana benar – benar berbeda saat ini. Dia memakai rok putih hampir selutut dan sweater berwarna cream serta riasan wajah yang natural dan rambutnya yang dibiarkan terurai.

“H.. Hana-ya? Itu kau?” Tanya Jimin tidak percaya.

“Memangnya siapa lagi, bodoh!” teriak Taehyung yang muncul dari belakang Hana.

“Kau… benar – benar cantik” kata Jimin jujur.

“Gomawo, Jim” jawab Hana.

Jimin mengarahkan tangannya kepada Hana dengan maksud untuk menggandengnya. Tapi Hana tidak meraih tangan itu lalu pergi mendahului Jimin.

“Hana-ya, kau lupa sesuatu” teriak Taehyung.

“Ah ne mianhae oppa” Hana berlari kecil menghampiri Taehyung lalu memeluk Taehyung erat dan mencium pipi Taehyung.

“Aku berangkat ne” pamit Hana dan Taehyung hanya tersenyum.

“Jimin-ah, hati – hati. Jaga adikku. Atau kau akan berurusan denganku!” kata Taehyung dengan tatapan penuh ancaman.

“Arraseo. Kami berangkat dulu” kata Jimin.

———- Rumah Jungkook. 2:31 PM———-

Jungkook dan Hoseok sedang mempersiapkan show underground mereka yang selanjutnya dan kali ini pula akan ada CEO dari agensi ternama yang akan datang melihat show underground selanjutnya. Jungkook dan Hoseok tidak akan bermain – main kali ini karena mereka sudah melewatkan kesempatan sebelumnya.

Jungkook dan Hoseok beristirahat. Badan mereka penuh keringat. Mereka saling tertawa saling menghibur diri sendiri. Jungkook mengambil handuk lalu ponselnya bergetar.

From : Han Hara

Oppa… aku lapar…

Jungkook tersenyum melihat isi pesan dari Hara. Jungkook benar – benar bahagia bila Hara adalah kekasihnya sungguhan. Namun itu semua adalah palsu. Ini hanya sandiwara. Ini hanya bohongan. Tidak mungkin Hara mau berpacaran dengan Jungkook.

To : Han Hara

Kau belum makan juga eoh? Kau belum minum obat? Ingin oppa bawakan makanan?

SEND…

Ponsel Jungkook kembali bergetar.

From : Han Hara

Apa boleh aku keluar rumah? Aku benar – benar sudah lapar dan aku belum meminum obatku, oppa

Jungkook kembali tersenyum melihat isi pesan dari Hara. Apa saat ini Hara sedang meminta izin pada Jungkook?

“Jungkook-ah, kajja kita lanjutkan latihan kita” ajak Hoseok.

“Ah ne” jawab Jungkook

To : Han Hara

Maaf sayang, kau tidak ku izinkan keluar hari ini. Masaklah terlebih dahulu untuk mengganjal perutmu. Selesai latihan oppa akan ke rumahmu dan menginap lagi. Saranghae, Hara-ya!~

SEND…

Jungkook menaruh kembali ponselnya lalu berfokus untuk latihan bersama Hoseok. Kali ini mereka tidak akan menyia – nyiakan kesempatan selanjutnya. Mereka berharap untuk mendapatkan kesempatan masuk ke dalam agensi itu.

Setelah 1 jam latihan, kini mereka selesai. Jungkook kembali mengecek ponselnya dan di dapati ada 3 pesan dari Hara. Hoseok yang memandang Jungkook sedang tersenyum menatap layar ponselnya lebih memilih untuk bilas agar menjadi segar kembali.

From : Han Hara

Kapan kau akan datang ke rumah eoh? Aku ingin makan bersamamu…

Jungkook membuka pesan yang lain.

From : Han Hara

Kau lama sekali. Aku tidur dulu eoh. Jika kau sudah sampai tapi aku tidak membukakan pintu kau bisa menelfonku…

Jungkook merasa bersalah. Lalu dia membuka pesannya yang lain.

From : Han Hara

Oppa… sudah semakin malam. Aku takut di rumah sendirian… cepatlah datang…

Dengan cepat Jungkook membilas tubuhnya dan mengambil beberapa pakaian serta makanan kecil untuk di bawa ke rumah Hara. Hoseok yang melihat Jungkook hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.

Hoseok masuk ke dalam mobil Jungkook dan Jungkook melajukan mobilnya menuju halte terdekat karena Hoseok akan pulang dengan menaiki bus. Setelah menurunkan Hoseok, Jungkook langsung melajukan mobilnya menuju restoran terdekat.

Jungkook memesan makanan untuk di bawa pulang. Jungkook duduk menunggu pesanan itu datang. Dia terkejut karena tiba – tiba ada tangan seseorang yang menariknya paksa keluar dari restoran itu.

“Hara eodie?!” tanyanya dengan penuh amarah.

“Di rumahnya. Aku baru selesai latihan” jawab Jungkook tenang lalu ingin masuk ke dalam restoran.

“DASAR BRENGSEK!” Jimin menarik baju Jungkook.

“Apa masalahmu, brengsek?! Aku sedang membelikan makanan untukku dan Hara!” kata Jungkook melepaskan tangan Jimin dari bajunya.

“Mengapa kau meninggalkannya sendiri huh?! Dia sedang sakit! Dan itu karena perbuatan bodohmu itu! Kau egois!” teriak Jimin di depan wajah Jungkook.

“Kau fikir aku tidak mengkhawatirkannya?!” teriak Jungkook.

“Cih.. orang sepertimu masih punya hati?”kata Jimin kesal.

“Minggir! Hara sudah menungguku!” perintah Jungkook.

“Aku yang akan ke rumah Hara sekarang!” kata Jimin.

“Dan meninggalkan pacarmu di sana?!” teriak Jungkook.

Jimin lupa bahwa dia sedang makan malam bersama Hana. Dan dia tidak mungkin meninggalkan Hana di restoran ini sendirian, atau Jimin akan menghadapi Taehyung.

“Ah sial!” pekik Jimin.

“Jangan pernah berurusan denganku, atau kau akan menyesal nantinya!” ancam Jungkook.

 

-Jungkook POV-

“Jangan pernah berurusan denganku, atau kau akan menyesal nantinya!” ancamku pada Jimin.

“Dasar kau bocah brengsek!” teriak Jimin.

“Jaga ucapanmu, Jimin-ssi!” kataku memperingatkan Jimin.

Aku kembali masuk ke dalam restoran lalu mengambil pesananku dan masuk ke dalam mobilku lalu melajukannya menuju rumah Hara. Aku meneflon Hara namun tidak kunjung di angkat. Apa dia masih tertidur?

Aku menghentikan mobilku di depan rumah Hara lalu masuk ke dalam rumah Hara. Aku menekan bel rumah Hara. Seandainya aku tau password rumah Hara, pasti aku sudah masuk ke dalam rumahnya saat ini.

TING TONG…

Hara tetap tidak membukakan pintunya untukku. Aku mengambil ponselku dan menelfonnya namun tidak di angkat. Aku semakin khawatir. Ini semua salahku dengan tidak mengajaknya ke rumahku. Aku harus bagaimana?

“Kau lama sekali, Jungkook-ssi” kata Hara begitu membukakan pintunya.

“Syukurlah kau baik – baik saja” aku langsung memeluknya.

Dia terkejut dengan perlakuanku dan dia tetap tidak membalas pelukanku. Aku melepaskan pelukanku dan berjalan masuk ke dalam rumah Hara. Aku menaruh makanan di meja serta menaruh tasku di sofa.

“Mianhae, sudah membuatmu menunggu. Kajja kita makan” kataku.

“Gwenchana, oppa. Aku sudah terbiasa untuk menunggu” jawabnya lalu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

“Kau tidak marah padaku kan?” tanyaku memastikan.

“Ani” jawabnya singkat.

Aku melanjutkan makanku hingga habis lalu membuang bungkusannya ke tempat sampah. Begitupun dengan Hara. Aku menaruh obat dan air putih di meja untuk Hara minum. Dia mengambil obat itu dan meminumnya. Aku tersenyum padanya dan memperhatikannya.

“Jangan melihat aku seperti itu, nanti kau suka padaku” katanya sambil menaruh gelas kembali pada meja.

“Aku sudah menyukaimu” jawabku sambil menatapnya lalu tersenyum.

“Ne?” tanyanya.

“Aku sudah menyukaimu. Ku bilang aku menyukaimu, Han Hara” jelasku.

“Ah lebih baik kau menyukai yeoja lain. Kau tahu aku suka pada siapa kan?” tanyanya.

DEGG… sakit. Nyeri. Di hatiku. Mengapa? Mengapa hatiku sakit? Apa aku benar – benar menyukainya? Hey, ayolah Jeon Jungkook, kau hanya memanfaatkannya saja. Kau tidak boleh menyukai Hara. Masih banyak yang lebih cantik dan menarik daripada Hara.

‘Persetan dengan otakku’ batinku.

“Hara-ya” panggilku dan dia menoleh padaku.

Aku mendekatkan wajahku pada Hara dan aku menarik dagu Hara untuk semakin dekat denganku.

“Apa yang kau lakukan, bodoh?!” teriaknya.

“Masih ada bekas saus di sudut bibirmu, aku hanya membersihkannya saja” kataku setelah melepas tanganku dari dagu Hara.

Ya, aku mengusap saus yang masih tersisa pada sudut bibir Hara dengan ibu jariku. Namun sepertinya Hara telah salah paham padaku. Aku melihat wajah Hara memerah. Dia sangat imut jika sedang seperti itu.

“Lusa sandiwara kita akan berakhir, oppa. Dan aku senang sekali!” sahut Hara tiba – tiba.

“Kau… senang?” tanyaku.

“Sangat senang. Akhirnya” dia tersenyum senang, tapi tidak denganku.

“Bagaimana jika aku tidak mau mengakhiri sandiwara ini dan mengubahnya menjadi nyata?” tanyaku.

“Apa maksudmu?” tanyanya bingung.

“Iya bagaimana jika kita berapacaran sesungguhnya?” tanyaku memperjelas.

“MWO?” teriaknya terkejut mendengar pertanyaanku barusan.

“Aku tidak salah dengar kan?” tanyanya.

“Tidak, bodoh!” jawabku.

“Kau sedang merayuku?” tanyanya.

“Kau ini mengapa sangat menyebalkan?!” kataku sambil mencubit pipinya pelan.

“YA! Keumanhe” pintanya.

“Jawab pertanyaanku sayang” pintaku.

“Molla. Aku baru saja mengenalmu” jawabnya yang sukses membuat senyumku memudar.

“Aku mengerti. Kajja waktunya tidur! Sekarang sudah pukul 11.23 PM. Dan kau masih butuh istirahat, Hara-ya” kataku.

“Aku tidak mau. Aku belum mengantuk” sahutnya.

“Kau ini…” kataku lalu menggendong Hara menuju kamarnya.

Aku menggendong Hara menuju kamarnya. Cukup berat. Tapi aku berusaha untuk mencapai kamarnya. Begitu sampai di kamarnya, aku menidurkannya di ranjang. Lalu menarik selimut hingga sebatas lehernya.

“Di sini lebih hangat. Tidurlah. Aku akan keluar sekarang juga” kataku lalu beranjak pergi.

Dia menahan tanganku. “Tinggallah di sini sebentar, setidaknya sampai aku tertidur” pintanya.

Aku menuruti permintaannya. Aku duduk di sampingnya dan menunggunya untuk tidur.

“Oppa… lakukan yang kemarin kau lakukan padaku…” pintanya lagi.

“Baiklah. Berjanji lah untuk tidur cepat” kataku.

Aku mengelus kepala Hara pelan. Aku memperhatikan sekeliling kamar Hara. Suasana kamar dengan nuansa berwarna crem dipadukan dengan warna biru langit. Menambah kesan ruangan ini sangat nyaman. Aku menghentikan aktivitasku karena Hara sudah tertidur.

“Jim…” Hara mengigau.

Dia menyebutkan nama Jimin. Aku tersenyum kecut.

“Jim… saranghae” dia mengigau lagi.

Aku tersenyum ke arah Hara lalu keluar dari kamar Hara. Aku harus menerima bahwa Hara mencintai Jimin. Lagipula aku baru saja bertemu dengannya bukan? Aku hanya memanfaatkan dia untuk keegoisanku saja.

Aku mengambil tasku lalu keluar dari rumah Hara. Aku memacu mobilku menuju rumahku.

‘Ijen annyeong, Han Hara’ batinku.

 

TO BE CONTINUE…

Hallo gimana sama chapter kali ini? Apa kalian suka? Hihiw

Penasaran ga sama cerita selanjutnya?

Boleh dong tinggalin komentar atau like nya sebagai bentuk apresiasi kalian hehe

Kamsahamida reader-nim :*

12 responses to “Please, Hold Me Tight Chapter 5

  1. Weh KNP hara cintany m jimin, oh y saengie kalimat “kau ingin ngapain” mending di ganti “kau ingin melakukan APA?! Atau kau mau kemana?! Atau kau ingin pergi kemana?!?” Jadi lebih enak d BC ny^^

  2. Yaah kok kookie pulang ga jadi nginep dirumah Hara??
    Duh aku mau jadi Hana😦 cium pipi Taehyung wkwk

  3. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 6 | FFindo·

  4. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 7A | FFindo·

  5. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 7B | FFindo·

  6. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 8 | FFindo·

  7. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 9 – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s