Please, Hold Me Tight Chapter 6

poster ff alle

By Sparkdey

Please, Hold Me Tight Chapter 6

Jeon Jungkook BTS || Han Hara (OC) || Park Jimin BTS

PG + 15

AU || Fluff || Romance || Friendship

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3A || Chapter 3B || Chapter 4 || Chapter 5 ||

Disclaimer : FF ini pure ide author dengan beberapa bantuan dari teman – teman. Jungkook dan Jimin adalah milik orang tua mereka, Big Hit Entertainment, dan ARMYs. Don’t be plagiator!! Please respect~

Note : FF ini merupakan requestan dari teman ARMY, jadi tolong dibaca dan berikan apresiasi berupa komentar atau like nya ya hehe, kamsahamnida^^ BONUS CHAT IMAGINE GUYS~ SEMOGA SUKA YA HEHE JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA~ DON’T BE A PLAGIATOR!!

 

Cerita sebelumnya…

Aku menggendong Hara menuju kamarnya. Cukup berat. Tapi aku berusaha untuk mencapai kamarnya. Begitu sampai di kamarnya, aku menidurkannya di ranjang. Lalu menarik selimut hingga sebatas lehernya.

“Di sini lebih hangat. Tidurlah. Aku akan keluar sekarang juga” kataku lalu beranjak pergi.

Dia menahan tanganku. “Tinggallah di sini sebentar, setidaknya sampai aku tertidur” pintanya.

Aku menuruti permintaannya. Aku duduk di sampingnya dan menunggunya untuk tidur.

“Oppa… lakukan yang kemarin kau lakukan padaku…” pintanya lagi.

“Baiklah. Berjanji lah untuk tidur cepat” kataku.

Aku mengelus kepala Hara pelan. Aku memperhatikan sekeliling kamar Hara. Suasana kamar dengan nuansa berwarna crem dipadukan dengan warna biru langit. Menambah kesan ruangan ini sangat nyaman. Aku menghentikan aktivitasku karena Hara sudah tertidur.

“Jim…” Hara mengigau.

Dia menyebutkan nama Jimin. Aku tersenyum kecut.

“Jim… saranghae” dia mengigau lagi.

Aku tersenyum ke arah Hara lalu keluar dari kamar Hara. Aku harus menerima bahwa Hara mencintai Jimin. Lagipula aku baru saja bertemu dengannya bukan? Aku hanya memanfaatkan dia untuk keegoisanku saja.

Aku mengambil tasku lalu keluar dari rumah Hara. Aku memacu mobilku menuju rumahku.

‘Ijen annyeong, Han Hara’ batinku.

-Author POV-

“Jim, gomawo sudah mengajakku berjalan – jalan hari ini. Dan gomawo juga untuk makan malamnya” kata Hana begitu dia sampai di rumahnya.

Ya, hari ini Jimin dan Hana pergi bermain ke Lotte World dan menghabiskan waktu bersama mereka di sana hingga malam hari dan di akhiri dengan makan malam di restoran. Canda dan tawa menghiasi hari mereka saat ini. Namun tidak sepenuhnya pada Jimin.

Jimin masih memikirkan Hara. Terlebih lagi tadi dia bertemu dengan Jungkook di restoran saat sedang makan malam bersama Hana. Jimin merasa sangat kesal karena Jungkook meninggalkan Hara di rumah sendirian dalam keadaan sakit. Sungguh sangat egois bocah yang bernama lengkap Jeon Jungkook itu.

“Cheonma Hana-ya. Sampaikan salamku pada Taehyung. Cepatlah masuk, semakin dingin di luar sini” kata Jimin lalu melajukan mobilnya begitu melihat Hana sudah menghilang di balik pintu rumahnya.

Hana masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur. Cukup lelah menghabiskan waktunya hari ini dengan Jimin. Ada yang berbeda dari sikap Jimin hari ini, dan dia tahu pasti karena Hara, sahabatnya. Hana memang tidak mengenal dekat dengan Jimin, tapi tadi dia sempat menguping pembicaraan Jimin dengan kakaknya.

“Hana-ya…” panggil Taehyung.

“Bisakah oppa mengetuk pintu ku terlebih dahulu? Jika aku sedang ganti baju bagaimana??!” ucap Hana kesal.

“Mian mian. Oppa ingin mengajakmu makan” kata Taehyung.

“Aku sudah makan. Oppa makan saja sendiri. Aku lelah” jawab Hana lalu memeluk gulingnya.

“Kau tadi kemana sama Jimin?” Tanya Taehyung lalu duduk di tepi ranjang adiknya.

“Lotte World” jawab Hana singkat.

“Kau senang bermain dengannya?” Tanya Taehyung lagi.

“Oppa.. jebal, aku sangat lelah dan ngantuk” pinta Hana.

“Baiklah. Jaljja” kata Taehyung lalu mencium pipi adiknya itu.

Taehyung lalu keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang makan. Dia mengambil makanan lalu memakannya sendiri.

Pagi ini Hara terkejut karena tidak ada Jungkook di rumahnya. Sudah berapa kalipun Hara memanggil Jungkook, tidak ada jawaban sama sekali. Dan Jungkook juga tidak meninggalkan surat ataupun mengiriminya pesan. Setiap pagi Hara selalu mendapatkan pesan dari Jungkook dengan mengucapkan selamat pagi padanya.

Hara mengambil ponselnya lalu mengetikkan sebuah pesan untuk Jungkook.

To : Jeon Jungkook

Oppa, mengapa kau tidak ada di rumahku eoh? Kau juga tidak meninggalkan surat atau mengirimiku pesan seperti biasanya? Kau membuatku takut.

SEND…

Tak berapa lama ponsel Hara bergetar. Dengan cepat dia mengambil ponselnya itu lalu membuka sebuah pesan yang masuk.

From : Jeon Jungkook

Mian. Aku ada urusan semalam. Ah ye, sandiwara kita telah berakhir. Terima kasih atas bantuanmu, Hara-ssi.

Setelah membaca pesan itu Hara terdiam. Memikirkan dan mengartikan maksud pesan Jungkook untuknya. Apa ini sudah berakhir? Padahal Hara mulai menyukai sikap Jungkook padanya. Memperlakukannya dengan special. Apa ini artinya dia tidak akan bertemu dengan Jungkook lagi? Mengapa hati Hara terasa sangat sedih ketika semua kebohongan ini telah berakhir? Seharusnya dia senang karena dia bisa bermain dengan Jimin lagi.

To : Jeon Jungkook

Ah begitu. Its okay Jungkook-ssi. Aku senang membantumu.

SEND…

Hara begitu sedih setelah selesai mengirim pesan untuk Jungkook. Untuk menghilangkan kesedihannya dia menonton drama di TV dan menunggu hingga malam untuk mencari makan malam di luar. Karena saat ini tidak akan ada lagi Jungkook atau Jimin yang berada di sisinya.

Hara sudah tidak demam lagi. Kini Hara sudah sembuh. Dan dia berniat untuk berjalan keluar rumah sendirian. Namun dia ingat jika hari ini appa dan eomma nya akan pulang. Maka dari itu dia mengurungkan niatnya untuk berjalan – jalan dan lebih memilih menunggu kedatangan orang tuanya.

Besok sekolah sudah mulai masuk karena liburan telah berakhir. Walaupun hanya liburan selama 3 hari, setidaknya itu membuat pelajar Namsan High School bahagia. Akhirnya mereka bisa melepaskan penat mereka karena belajar selama berjam – jam.

 

-Jimin POV-

Aku terbangun dari tidur lelapku. Hari ini adalah hari sekolah dimana aku harus masuk dan belajar di sekolah. Hara tidak kunjung membalas pesanku. Ku rasa dia benar – benar marah padaku. Aku ingin meminta maaf padanya dan tidak akan membuatnya kecewa padaku lagi.

Aku langsung bersiap – siap untuk berangkat sekolah. Aku sarapan sendirian di rumah. Orang tua ku pasti sudah berangkat sebelum matahari terbit dan ketika aku masih tidur. Aku sudah biasa dengan kehidupan seperti ini. Selalu kesepian dan sendirian di rumah.

Tiba – tiba ponselku bergetar pertanda ada sebuah pesan yang masuk.

From : Hara

Jim, bolehkah aku berangkat bersamamu ke sekolah? Ah orang tuaku sudah pulang. Mereka membawakan oleh – oleh untukmu.

Pesan itu mampu membuat diriku tersenyum senang. Hara sudah tidak marah dan kecewa padaku lagi. Dengan penuh semangat aku langsung melajukan mobilku menuju rumah Hara. Tiada hentinya aku tersenyum sepanjang perjalanan ke rumah Hara.

Kini aku sudah sampai di depan rumah Hara. Aku menghentikan mobilku lalu berlari masuk ke dalam rumah Hara. Aku dapat melihat Hara menatapku dengan wajah bingungnya. Sangat lucu sekali.

“Annyeong, aboeji, eomomim” sapaku saat bertemu orang tua Hara.

Aku memang dari dulu sudah memanggil orang tua Hara dengan sebutan seperti itu, karena aku sudah menganggap mereka seperti orang tuaku sendiri. Dan mereka pun tidak keberatan saat aku memanggil mereka seperti itu.

“Annyeong Hara” sapaku dengan wajah yang berseri – seri.

“Annyeong, Jim. Ah kajja kita sarapan bersama. Dan ini oleh – oleh untukmu” kata Hara lalu menarik tanganku untuk duduk di sebelahnya.

Setiap pagi seperti inilah kebiasaanku. Sarapan bersama keluarga Hara, walaupun di rumah aku sudah sarapan. Aku menghabiskan makananku lalu mengajak Hara untuk berangkat ke sekolah bersama.

Aku melajukan mobilku menuju sekolah dengan senyuman yang terus mengembang di wajahku. Setelah 20 menit perjalanan aku sampai di sekolah. Dengan cepat aku memarkirkan mobilku dan menggandeng Hara untuk menuju kelas kami.

“Jim, kau sedang sakit?” Tanya Hara.

Aku hanya diam saja dan terus berjalan menuju kelas kami.

“Jim, kau kenapa eoh?” tanyanya lagi.

Aku menghentikan langkahku begitu sampai di depan kelas kami. Aku menatap manik matanya dengan intens. Aku tersenyum senang lalu memeluknya dengan erat.

“Syukurlah kau tidak marah padaku lagi, Hara-ya” bisikku.

“Jangan ulangi kesalahanmu lagi, Jim” kata Hara lalu dia melepaskan pelukannya padaku.

Kami masuk ke kelas dan duduk di meja kami masing – masing. Namun ada sedikit yang berbeda dari Hara. Apa dia sedang sedih? Apa bocah brengsek itu menyakitinya?

Tak berapa lama Lee seongsanim masuk ke dalam kelas dan pelajaran di mulai. Selama Lee seongsanim menjelaskan pelajarannya, aku mengantuk. Aku masih lelah karena seharian kemarin aku pergi dengan Hana, ya adik Kim Taehyung.

Akhirnya bel istirahat berbunyi. Aku langsung menghampiri dua yeoja yang berada di depanku. Sera dan Hara. Aku merangkul mereka.

“Kajja, kita ke kantin!” ajakku.

“Tidak bisa, Jim. Kita harus rapat sekarang!” Sera menarik tanganku.

“Hara?” tanyaku.

“Dia bisa ke kantin sendiri. Dia sudah dewasa, Jim. Urusan organisasi kita lebih penting!” bentak Sera.

“Ah ne” akhirnya aku menuruti kemana Sera membawaku.

Aku masuk ke dalam ruang organisasi dan di dalam sana sudah banyak anggota organisasi yang berkumpul dan siap mengadakan rapat. Aku duduk di samping Sera, karena aku adalah wakil dari Sera. Aku melihat Hana yang masih sibuk memandang keluar. Aku berjalan menghampiri Hana.

“Waeyo?” kataku sambil menepuk pundaknya.

“Gwenchana” jawabnya singkat.

‘Dia kembali ke kepribadian yang lain’ batinku.

“Duduklah, rapat sebentar lagi akan di mulai” kataku lalu kembali ke tempat dudukku.

Sera sudah memulai rapatnya dan aku membagikan materi yang diperlukan untuk rapat kali ini. Setelah selesai aku kembali duduk di samping Sera.

“Baiklah sekarang aku akan membagi kelompok per divisi” kata Sera.

“Ah mian, sebelum itu aku ingin memberi tahu kalian semua, jika kalian ingin mencari penari. Aku merekomendasikan teman sekelasku, dan jika kalian ingin mencari seseorang yang bisa mengaransemen music atau membuat music aku juga merekomendasikan teman sekelasku” sahut Yoongi.

“Siapa temanmu, Yoongi-ya?” Tanya Sera.

“Jeon Jungkook dan Kim Namjoon” jawab Yoongi.

‘Sialan, Yoongi merekomendasikan bocah brengsek itu’ batinku.

“Baiklah, Yoongi aku akan ikut denganmu untuk bertemu dengan Jeon Jungkook. Jimin dan Hana pergi untuk bertemu dengan Kim Namjoon, dan yang lain segera cari referensi yang lainnya serta siapkan design yang terbaru untuk artikel ini” perintah Sera.

Kami duduk per divisi, aku, Yoongi, Sera, dan Hana kini duduk melingkar. Kami sedang mempersiapkan sebuah pertanyaan yang akan kami ajukan saat wawancara dengan bocah brengsek itu dan juga Namjoon.

Bel berbunyi, pertanda bahwa pelajaran selanjutnya akan di mulai. Kami merapihkan berkas – berkas dan segera berjalan menuju kelas kami.

Aku kembali duduk dan menaruh kepalaku di meja. Sangat lelah dan aku lapar. Berfikir membuatku lapar. Kemudian Song seongsanim masuk ke kelas dan memulai pelajaran. Dengan berat hari aku mengangkat kepalaku dan mengikuti pelajaran Song seongsanim.

Sungguh tidak menyenangkan pelajaran Song seongsanim. Bagaimana bisa aku mengerti pelajarannya jika pelajaran dia lah yang sangat tidak ku sukai. Aku menoleh pada Hara. Apa tadi dia sudah makan dengan baik?

Hara menoleh padaku lalu aku membuang wajahku ke arah yang lain. Jantungku berdegup dengan kencang. Ah tidak, ini tidak akan berhenti sampai kapan pun.

Song seongsanim sudah selesai mengajar lalu aku menaruh kepalaku kembali di meja. Lapar. Itu yang sedang aku rasakan saat ini. Aku menoleh pada bangku Hara namun sudah tidak ada Hara di sana. Kemana perginya dia? Apa dia ke kantin?

“Jim, aku lapar. Kajja kita ke kantin” ajak Sera.

“Hara eodi?” tanyaku.

“Daritadi kau menanyakan Hara, seperti takut kehilangannya” ketus Sera.

“Dia sahabat kita bodoh!” kataku sambil menjitak kepalanya pelan.

“YA! Park Jimin! Appo!” teriaknya sambil memegangi kepalanya.

“Kajja makan! Aku sudah lapar sekali” Sera menarik tanganku.

‘Hara, eodiseo?’ batinku.

 

-Hara POV-

Selesai pelajaran Song seongsanim aku langsung keluar dan menuju toilet. Aku sudah menahannya dari tadi. Aku keluar dari toilet setelah selesai mencuci tanganku.

Aku melihat Jungkook begitu keluar dari toilet. Aku berlari kecil untuk menghampirinya, namun langkahku terhenti karena melihat seorang yeoja yang saat ini sedang menggandeng tangan kanan Jungkook. Cho Gaeun. Yeoja yang pernah menyiramku dan membuatku kedinginan di toilet.

Dadaku terasa sakit dan nyeri. Kenapa ini? Kenapa hatiku sakit melihat mereka berjalan bersama? Bukankah sandiwaraku dengan Jungkook sudah selesai? Kenapa sakit rasanya melihat mereka bersama?

Aku menyender pada dinding yang ada di belakangku sambil meremas rok ku. Sakit, sangat sakit melihatnya. Apa aku sudah menyukai Jungkook? Seluruh perhatian dan tingkah lakunya selama aku menjadi pacar bohongannya mampu membuatku… menyukainya dalam sekejap.

‘Ini kah alasan kau mengakhiri sandiwara kita, Jungkook-ssi?’ batinku.

Aku mengambil ponselku dan mengirim sebuah pesan LINE untuk Jungkook. Aku bermaksud untuk mengajaknya bertemu sekedar untuk memastikan bahwa dia dan Gaeun tidak memiliki hubungan apapun.

jungkook fc 1

Dia mengatai diriku keras kepala. Aku tidak dapat bertemu dengannya, dia tidak mengizinkanku untuk melihatnya latihan. Padahal dulu dia sudah sangat senang jika aku melihatnya latihan.

Aku berjalan ke kantin untuk makan. Karena tadi aku tidak sempat makan. Aku berjalan hingga aku menemui sosok Jungkook dan Gaeun bersama lagi. Aku tidak sanggup melihatnya. Aku melangkahkan kakiku kembali ke kelas dan duduk di mejaku.

Aku mengambil ponselku dan mendengarkan lagu. Aku menidurkan kepalaku di meja dengan tanganku sebagai bantalannya. Hampir saja aku terlelap jika seseorang tidak menggangguku.

“Hara-ya, waeyo?” Tanya Sera begitu sampai di kelas.

“Kau masih sakit eoh?” Tanya Jim dari belakang Sera.

“Gwenchana” jawabku singkat.

“Ini, makanlah” kata Sera sambil menyerahkan sebungkus roti coklat kesukaanku.

“Gomawo, Sera-ya” aku mengambil roti itu lalu memakannya.

“Teman – teman, hari ini Kim seongsanim tidak masuk. Jadi kita bisa pulang lebih awal” teriak Eun Byul yang menjabat sebagai ketua kelas.

Aku langsung memasukkan semua buku dan alat tulisku ke dalam tas lalu aku berjalan keluar kelas. Ku rasakan tanganku di genggam oleh seseorang.

“Kau ingin kemana?” Tanya Jimin.

“Aku ingin pulang” jawabku malas.

“Kajja kita pulang bersama” ajaknya.

“Tidak bisa, Jim. Kita akan ada rapat sebentar lagi” sahut Sera.

“Baiklah. Aku pulang duluan ne” kataku lalu melepaskan genggaman tangan Jimin.

Aku berjalan menaiki bus dan duduk pada tempat yang kosong. Aku mendengarkan lagu sepanjang perjalananku pulang, hingga akhirnya sampai di halte bus dekat perumahanku. Aku turun dari bus lalu melangkah memasuki perumahanku.

Aku merebahkan tubuhku di kasur begitu sampai di kamarku. Sangat lelah dan hatiku sakit jika mengingat kejadian tadi siang. Aku memejamkan mataku dan mulai memasuki alam mimpiku.

DRRTT DRRTTT…

Getaran ponselku sanggup membuatku terbangun dari mimpi indahku. Aku mengambil ponselku dan mengangkat panggilan yang masuk.

“Yeoboseyo?” sapaku.

“YA! EODISEO?! KAU TIDAK SEKOLAH?!” Tanya seseorang di sebrang sana.

“Nuguseyo?” tanyaku yang masih menutup mataku.

“SERA. AKU SAHABATMU SERA!!” teriaknya.

“Kau baru bangun tidur? Coba muka matamu dan lihat sekarang sudah pukul berapa” perintahnya lalu aku melihat jam yang tertera di ponselku. Sekarang sudah pukul 11.45 AM.

“OMO!! Aku kesiangan!” teriakku panic.

“BODOH! MENGAPA BISA KAU KESIANGAN EOH?!” teriaknya.

“Entahlah. Aku saja masih mengenakan seragamku kemarin” kataku lalu bangun dari tidurku.

“Baiklah. Aku tutup telfonnya ne” kata Sera.

Dia mengakhiri panggilannya padaku. aku turun ke bawah untuk makan sesuatu karena perutku lapar sekali. Kenapa rumahku sepi sekali eoh?

Aku berjalan menuju dapur dan aku menemukan sebuah kertas yang menempel pada kulkas. Ini seperti tulisan eomma.

Hara-ya, eomma dan appa ada urusan mendadak ke Gangnam. Maafkan kami tidak memberi tahumu. Appa dan eomma akan pulang minggu depan. Kau jaga rumah ne? Ajak Jimin dan Sera atau teman – temanmu untuk menginap di rumah dan menemanimu. Eomma sudah mentransferkan uang ke ATM mu, itu adalah duit tambahan untukmu. Jangan boros ne!

Salam,

Eomma & Appa

Aku menjatuhkan tubuhku pada sofa ruang keluargaku. Sofa ini… aku mengingat kembali memory bersama Jungkook ketika aku sakit pada saat itu. Argh Jungkook kau membuatku bingung. Kau sangat aneh, Jungkook-ssi!

Tiba – tiba ponselku bergetar tertanda ada pesan masuk. Aku membuka ponselku yang ternyata ada LINE dari Jimin.

jimin fc 1

Aku berjalan turun untuk menemui Jimin yang sudah menungguku.

“Kau cantik” puji Jimin begitu melihatku.

“Berhenti melihatku seperti itu” pintaku.

“Kajja” ajaknya sambil mengarahkan tangannya padaku.

“Kau tidak sekolah?” kataku sambil menggandeng tangannya.

“Aku kabur” jawab Jimin lalu membukakan pintu mobil untukku.

Jimin melajukan mobilnya dan sepanjang perjalanan kami bercanda dan tertawa lalu bernyanyi. Tak terasa kami sudah sampai di tempat tujuan kami. Aku keluar dari mobil Jimin dan menikmati udara di luar sini. Segar.

“Kajja kita cari makan. Kau pasti sudah sangat lapar” kata Jimin sambil menggandeng tanganku.

Aku tersenyum ke arah Jimin dan melihatnya yang juga tersenyum sepanjang kami berjalan bersama. Entah mengapa aku tidak bisa menyukai Jimin sebagai seorang pria. aku hanya bisa menyukainya sebatas sahabatku saja tidak lebih.

“Jim, orang tuaku pergi ke Gangnam, dan minggu depan baru kembali ke rumah. Kau ingin menemaniku di rumah tidak? Umm selama beberapa hari. Aku akan mengajak Sera dan juga Jung…” aku langsung menghentikan omonganku ketika ingin mengucapkan kata Jungkook.

‘Mengapa aku menyebutkan nama Jungkook?’ batinku.

“Jungkook? Kau ingin menyebutkan namanya kan?” tanyanya sambil menatapku kesal.

“Ah umm, tidak Jim. Aku tidak akan mengajaknya. Sandiwaraku dengannya sudah berakhir” kataku dengan senyum yang terpaksa.

“Kau menyukainya?” Tanya Jimin.

‘Pertanyaan macam apa yang kau utarakan Jim’ batinku.

“Tidak. Aku tidak menyukainya” jawabku.

“Kau berbohong” kata Jimin sambil tersenyum kecut.

“Aku tidak berbohong, Jim” kataku.

“Kalau begitu tatap aku, Hara-ya” pinta Jimin namun aku tidak menatapnya.

“TATAP AKU, HAN HARA” bentaknya padaku. Aku terkejut dia membentakku.

“Jim…” aku tidak suka di bentak dan aku menatapnya dengan tatapan yang ingin menangis.

“Kau… membentakku?” tanyaku dengan air mata yang sudah berkumpul di mataku dan siap untuk turun membasahi pipiku.

Aku berdiri dan berlari menuju arah yang aku pun tidak tahu akan berakhir dimana. Jimin membentakku, baru kali ini aku dibentak oleh seseorang. Terlebih lagi Jimin adalah orang yang sangat aku sayangi. Dia sahabatku.

“Hara! Han Hara!” teriak Jimin yang terus berlari mengejarku.

Aku tetap berlari sambil menangis. Aku tidak peduli jika saat ini aku menjadi bahan tontonan orang – orang di sini.

“Hara-ya, berhenti!!” Jimin masih berteriak mengejarku.

“Aku minta maaf padamu” kata Jimin yang semakin mendekat padaku.

Aku semakin mempercepat lariku dan tidak lagi memandang ke depanku. Air mataku benar – benar sudah menuruni pipiku.

BUGG…

Aku menabrak seseorang di depanku. Dengan cepat aku berdiri lalu meminta maaf pada orang itu. Aku bersiap untuk kembali berlari. Namun tanganku tertahan. Aku yakin itu adalah Jimin.

“Jim, lepaskan aku. Ku mohon” kataku sambil terus berusaha melepaskan tangan itu.

“Mengapa kau selalu saja merepotkanku huh?” katanya.

Suara ini… aku sangat mengenal suara ini… ini suara Jungkook! Aku memberanikan diri menoleh ke arahnya dan benar itu adalah Jungkook. Apa yang dia lakukan di sini?

“Lepaskan aku, Jungkook-ssi” pintaku dengan tegas dan berusaha melepaskan tangannya dariku.

 

-Jungkook POV-

“Lepaskan aku, Jungkook-ssi” pintanya sambil terus berusaha melepaskan tanganku darinya.

“Hara!” teriak seseorang yang sangat menyebalkan.

“Neo.. pergilah. Dia milikku. Kau ingat?” perintahku pada namja di depanku.

“Kau fikir aku tidak tahu huh?! Bahkan kau saja sudah mengakhiri sandiwaramu dengannya!” kata Jimin sambil berusaha melepaskan tanganku dari tangan Hara.

“Hara-ya, kajja kita pulang!” Jimin menarik tangan Hara kasar.

“Argh!” pekik Hara.

“Kau menyakitinya bodoh!” kataku sambil menahan tangan Hara yang satunya.

“Ini tidak ada urusannya denganmu! Hara, kita pulang!” kata Jimin lalu menarik Hara ke arahnya.

“Tidak semudah itu kau merebutnya dariku, Jimin-ssi!” kataku lalu menarik Hara ke dalam pelukanku.

“Kalian hentikan! Aku benci kalian!” kata Hara lalu melepaskan pelukanku dan berlari.

“Ini semua karenamu brengsek!” kata Jimin sambil mendekatkan dirinya padaku.

“Kau menyakitinya! Sahabat macam apa dirimu huh?” kataku memutar balikkan badanku untuk mengejar Hara.

“Jangan beraninya kau kabur dariku Jungkook-ssi!” teriak Jimin lalu membalikkan tubuhku dan memukul pipiku.

“Cih… kau berlaku kasar. Pantas saja Hara tidak menyukaimu” kataku sambil mengelap darah yang keluar dari sudut bibirku.

Dia berjalan ke arahku dan mendorongku lalu memukulku berkali – kali. Aku tidak melakukan perlawanan hingga pada akhirnya kesabaranku habis. Aku memutar balikkan badannya menjadi dia yang di bawah lalu aku memukulnya sekali. Hidungnya mengeluarkan darah.

Orang – orang yang melihat perkelahian kami lalu memisahkan kami. Cih…

“Neo… jauhi Hara!” teriaknya lalu pergi.

“Cih, tidak semudah itu. Aku akan membuatnya menjadi milikku” kataku sambil menatap kepergiannya.

Aku berlari mencari Hara. Berkeliling tempat ini hingga aku memasuki seluruh tempat makan yanga da di kawasan ini.

Aku terus berjalan hingga aku menemukan sosok perempuan yang sedang menangis di jembatan. Aku berjalan mendekatinya secara perlahan hingga aku dapat memastikan bahwa dia benar – benar Hara. Yeoja yang sedang aku cari saat ini.

“Hara…” panggilku pelan.

Dia melihat ke arahku lalu kembali berlari untuk menghindariku. Aku mengejarnya kembali lalu menahan tangannya.

“Lepaskan aku!” pintanya.

Aku menariknya ke dalam pelukanku. Lalu dia berusaha melepaskan dirinya dari pelukanku. Aku melepaskannya, lalu dia menatapku dengan air matanya yang terus keluar dan membasahi pipinya.

PLAKK..

Dia menamparku. Aku menatapnya tidak percaya. Dia benar – benar menamparku.

“Kau… pria brengsek, Jungkook-ssi!” katanya dengan tatapan yang tidak suka padaku.

Dia pergi meninggalkanku. Aku memegang pipiku yang di tampar olehnya. Sakit. Hatiku juga sakit.

‘Kenapa kau menjadi seperti ini, Hara-ya?’ batinku.

 

TO BE CONTINUE…

Hallo gimana sama chapter kali ini? Semoga suka ya hehe kan udah plus sama imagine nya hihiw~

Okedeh, komentar dan likenya jangan lupa yaa hehe

Terimakasih reader tersayangku :*

13 responses to “Please, Hold Me Tight Chapter 6

  1. Segala ada ss chat di line nya sih kak wkwk
    Hara suka kan ama kukie? :””
    Kenapa ditampar ituu..
    Chim sama kook jangan berantem terus atuh ka ㅠㅠ

  2. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 7A | FFindo·

  3. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 7B | FFindo·

  4. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 8 | FFindo·

  5. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 9 – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s