Rompecorazones #6

rmpcrzns(1)

Credit pic: diramadhani

Taeyong, Nayoung, others.

by Cca Tury

Previous: [1] [2] [3] [4] [5]

“Kumohon, tinggalkan Taeyong jika kalian memperburuk keadaannya.” -Nayoung-

Sebenarnya Nayoung tak ingin memikirkannya, tetapi bayangan Taeyong pergi bersama gadis populer sekolah, terus memenuhi isi otaknya. Berkali-kali Nayoung merutuki diri dan berpikir positif seperti, mungkin saja memang Taeyong ada beberapa urusan dengan gadis itu, tetap saja, ini sungguh menggangu. Bahkan ia kehilangan konsentrasi untuk menyelesaikan tugas fisikanya.

Nayoung melirik jam dinding. Sudah jam sepuluh lebih sedikit. Taeyong bilang tak akan lama, namun sudah selarut ini dia belum juga datang. Apa perlu Nayoung terus menunggu?

Sebenarnya Nayoung juga belum bisa tidur, otaknya benar-benar dipenuhi hipotesa tentang apa yang Taeyong dan Seolhyun lakukan di malam yang sudah larut untuk anak sekolahan seperti mereka. Dan jika semakin terus dipikirkan, Nayoung benar-benar seperti tidak tahu bagaimana sebenarnya teman masa kecilnya itu. Padahal berkali-kali dia mengklaim dirinya yang paling mengenal Lee Taeyong, tetapi kenapa dia tak pernah tahu jika Taeyong punya ketertarikan pada gadis lain? Selama ini pun Taeyong tak pernah terlihat dekat dengan gadis lain selain dirinya, kenapa dia bisa dengan cuma-cuma menerima Kim Seolhyun? Sungguh, Nayoung jadi penasaran dengan bagaimana Lee Taeyong saat tinggal di asrama dulu? Jangan-jangan banyak gadis-gadis labil di sana yang mendekatinya!

Nayoung menggeleng kepala, dia bahkan memukul ringan kepalanya itu. Hal seperti itu bahkan tidak penting, bagaimana bisa dia memikirkannya? Jika dirinya merasa orang yang paling mengenal Lee Taeyong, bagaimanapun dan apa pun yang dilakukan teman masa kecilnya itu, seharusnya Nayoung mengerti.

Baru saja Nayoung akan menghempas badan pada ranjangnya, ponselnya berdering. Cepat-cepat Nayoung meraih ponselnya, berharap itu telepon yang ditunggu-tunggunya.

Benar saja, senyum Nayoung mengembang ketika melihat nomor yang tertera di layar ponsel, Nayoung menerima teleponnya, “Halo? Kau sudah pulang?”

“L—Lim Nayoung …” Senyum Nayoung memudar ketika mendengar suara lain dari balik telepon. Itu bukan Lee Taeyong, tapi suara gadis yang terbata-bata.

“Seolhyun? Kenapa ponsel Taeyong ada padamu?” tanya Nayoung, nadanya benar-benar terdengar tidak senang.

“I—itu bukan hal penting sekarang.” Sungguh, suara Kim Seolhyun terdengar panik, “Taeyong—maksudku, bi—bisakah kau datang ke kantor polisi Gangnam?”

Nayoung tersentak dengan segera dia beranjak dari posisi duduknya di ranjang, “Apa kau bilang?! Kantor polisi?!”

“Eum. Taeyong—“

Nayoung tidak mendengar kelanjutan ucapan Seolhyun di balik telepon karena dia langsung saja memutuskan sambungan teleponnya dan terburu-buru keluar dari kamarnya.

Bibirnya terus berdoa berharap Taeyong baik-baik saja.

***

Nafas Nayoung sumbang ketika memasuki kantor polisi yang mengamankan Taeyong. Teman masa kecilnya itu duduk tertunduk di bangku tunggu kantor polisi bersama beberapa orang lainnya. Sudah ada orang tua Taeyong di sana, paman dan tante Lee, yang sedang bicara dengan pak polisi.

“Anak anda menari di tempat yang salah, mereka di larang mengadakan pertunjukan di sana tanpa surat izin!” Suara pak polisi lantang berkata pada paman Lee, “Lagi pula dia masih SMA, ini sudah jam malam untuk anak sekolahan sepertinya!”

Nayoung menghela nafasnya, menatap Taeyong yang masih saja tertunduk. Nayoung benar-benar tak mengerti apa yang dipikirkan Taeyong. Menari di tempat yang salah? Bahkan Nayoung tak tahu dengan yang satu ini, setahunya Taeyong berhenti menari setelah keluar dari penjara remaja.

Nayoung berbalik, melangkah keluar dari dalam kantor polisi, jika sudah ada ayah dan ibu Taeyong, dia tidak berhak mengurusi Taeyong di sini.

***

“Lim Nayoung.”

Begitu berada di halaman kantor polisi, Kim Seolhyun datang mendekati. Wajahnya terlihat panik.

“Taeyong? Bagaimana keadaannya?”

Jika boleh jujur, Nayoung penasaran sekali dengan apa yang sebenarnya terjadi hingga Taeyong bisa berakhir di dalam saja, tapi dia sedang malas sekali dengan gadis ini,

“Jika khawatir, kenapa tidak kau melihatnya ke dalam.” Nayoung bicara tak acuh.

Seolhyun tersenyum, “Bagaimana bisa aku masuk ke dalam sana,” ucapnya sembari merogoh saku celananya. Dia lalu memberikan sebuah ponsel pada Nayoung, “milik Taeyong.”

Baru saja Nayoung akan membuka mulutnya lagi, ada suara lain yang menggugahnya untuk melirik.

Taeyong dan paman Lee sudah keluar dari dalam kantor polisi, sepertinya urusan mereka sudah selesai.

“Apa aku tak salah dengar?! Kau menari di jalanan?!” Satu tamparan hangat mendarat di pipi Taeyong. Tapi, teman masa kecilnya itu malah menghela nafas jengah, seolah tak peduli jika dia sedang bersalah.

“Sudah kukatakan untuk berhenti dari kegiatan sampah itu! Tidak bisakah kau hanya fokus di sekolahmu?! Belajar hingga lulus dan melanjutkan sekolah keluar negeri!”

“Ayah, kumohon berhentilah. Ini kantor polisi. Ayo pulang!”

Tante Lee terlihat khawatir dan menarik Taeyong serta ayahnya masuk ke dalam mobil mereka. Sejurus kemudian mobil itu melaju cepat.

Nayoung kembali berbalik menatap Seolhyun yang masih berdiri di hadapannya. Dia mulai bicara lagi, “Sudah lihat, kan?” ucapnya tajam.

“Aku sungguh tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kumohon, berhentilah melibatkan Taeyong jika kalian tidak bisa bertanggung jawab untuknya!” Nada berucap Nayoung terdengar semakin tinggi untuk gadis di hadapannya. “Taeyong sudah terlalu menderita oleh orang-orang seperti yang ada di dalam sana—“ tambah Nayoung lalu kemudian dia mengatup tangan memohon, “Jadi kumohon, tinggalkan Taeyong jika kalian hanya memperburuk keadaannya.”

Tanpa mendengar jawaban dari bibir Seolhyun, Nayoung merampas ponsel yang masih di tangan gadis itu, lalu melangkah pergi meninggalkannya.

***

“Kau pulang?”

Langkah Nayoung terhenti ketika memasuki rumahnya. Sudah ada Taeyong duduk di ruang keluarga rumahnya menikmati sup tahu buatan ibu tadi sore. Nayoung menghela nafas sejenak lalu melangkah lagi hingga duduk di samping Taeyong, menatap televisi meskipun dia sama sekali tak berminat untuk menontonnya.

“Kenapa di sini?” tanyanya singkat.

“Ibu bilang dia harus menginap di rumah editornya untuk menyelesaikan naskah yang harus selesai besok. Jadi kuputuskan untuk menginap menemanimu.”

“Bukan itu maksudku!” Nayoung bicara cukup keras, “Kau baru saja mendapat masalah dan ayahmu sedang marah besar padamu, bagaimana bisa kau berada di sini? Sebaiknya kau pulang dan diam di kamarmu!!”

Taeyong menghela nafas, meletakkan sup tahunya yang tinggal setengah di atas meja. “Mereka tidak kan peduli kemana pun aku pergi asalkan itu bukan kantor polisi, jadi berhentilah berteriak. Kau membuat telingaku sakit.”

“Tapi ayahmu—“

“Dia sudah puas memarahiku di mobilnya bahkan ketika memasuki rumah tadi. Aku bahkan mendapat pukulannya.” Taeyong menunjukkan wajah memarnya akibat pukulan ayah.

“Tapi tetap saja, seharusnya kau—“

“Aku sedang malas berdebat denganmu, Young ah. Jadi komohon, biarkan aku tetap di sini malam ini.”

Nayoung menyerah. Dia menghela nafas dan menyandarkan punggungnya pada sofa. Bagaimanapun juga Lee Taeyong memang keras kepala. Semakin keras nada bicara Nayoung, maka semakin lantang pula dia membalasnya.

Satu menit.

Tiga menit.

Lima menit mereka terdiam. Tak ada yang memulai pembicaraan. Yang terdengar hanya dialog Ji Sung dan Hyeri di drama televisi. Taeyong juga sudah tidak selera lagi untuk menghabiskan sup tahunya. Mereka sama-sama menyandarkan punggung pada sofa, sama-sama melirik televisi meski mereka tak berminat menontonnya.

“Lalu kau akan tidur di mana?” Nayoung membuka suaranya.

“Di kamarmu,” jawab Taeyong santai.

“Lalu bagaimana denganku?”

“Kau bisa tidur denganku di kamarmu.”

“Dasar orang gila!”

Taeyong tergelak oleh umpatan teman masa kecilnya itu. Dia kemudian meneleng kepala melirik gadis di sampingnya itu, “Kenapa? Kau takut terjadi sesuatu?” Taeyong menggoda.

“Aku benar-benar tidak dalam keadaan baik untuk bercanda, Lee Taeyong.”

Why? Kenapa? Hei, kau bisa tidur di kamar ibu jika kau tidak suka tidur denganku.”

Nayoung meniup rambut kecil di dahinya lalu mengangkat tubuhnya yang bersandar dan mulai melangkah meninggalkan Taeyong dengan gelaknya.

“Mau kemana?” tanya Taeyong.

“Tidur. Sudah malam.”

“Kau yakin tidak ada yang ingin kau bicarakan padaku?” Taeyong berhasil menghentikan langkah Nayoung.

Gadis itu berbalik dan berteriak lagi, “Kau pikir bagaimana khawatirnya aku mendengar kau berada di tempat itu?!”

Oh tidak, matanya berkaca-kaca.

***

13 responses to “Rompecorazones #6

  1. Aaaaah kenapa selalu pendek banget tiap chap hiks

    Tapi aku selalu menanti
    buat penasaran bangeeeet

    • Ini konsepnya ficlet sih, jadi sngaja di buat 1000 kata lebih sedikit ^^
      Dr awal juga sudah 1000 kata jadi kalo tiba2 panjang jadi aneh. Hehe…
      Semoga ga lama deh lanjutannya. Hehe

  2. too short :(((( tapi bikin penasaran ahhhh suka banget karakter lee taeyong di sini. gak sabar buat next chapter tapi dipanjangin lagi kalau bisa😦

    • Ini konsepnya ficlet sih, jadi sngaja di buat 1000 kata lebih sedikit ^^
      Dr awal juga sudah 1000 kata jadi kalo tiba2 panjang jadi aneh. Hehe…
      Semoga ga lama deh lanjutannya. Hehe

  3. Aaaa.. Fanfic ini bener-bener bikin penasaran.. Jadi nggak sabar buat baca next chap~
    Semangat aja dehh buat authornim😀

  4. Pingback: Rompecorazones #7 – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s