Twins on The Playground—(Chapter 2)

twins1

Twins on the Playground

a l s h a b a e ’ s

School life, romance, sad, mix

Jeon Jungkook

Jeon Jungki

Baek Nara

Oh Gain

Other BTS’ members

Chaptered

PG 15

.

A story about shady, broken, uneasy teenagers that chasing their dream and love desperately. Contains lots of high school cliche and typo. Happy reading ;3

.

.

(ff ini juga aku post di btsffindo dan wp pribadi)

.

.

Synopsis & Teaser | Prologue | Chapter 1

.

.

Chapter 2

Jungkook dan Nara sedang dalam perjalanan pulang setelah menjenguk Jungki. Keadaan keduanya masih sama seperti saat berangkat tadi. Kaku dan hening. Dengan Nara yang bingung mau bicara apa, juga Jungkook yang tidak akan bicara jika tak ada yang memulai.

Tiba-tiba suara perut Nara mengintrupsi. Semburat merah langsung menyebar di pipi putih gadis itu. Ia tertunduk malu saat mendengar tawa kecil Jungkook mengudara.

“Kau lapar?” tanya Jungkook dengan nada jenaka.

Nara, seolah tak peduli langsung mengeluarkan headset dari saku dan memasangnya.

YA, aku bicara padamu,” sahut Jungkook sambil menahan tangan Nara.

“Apa?” sahut Nara ogah-ogahan.

“K a u  l a p a r?” Jungkook mengulang kembali kalimatnya dengan pengucapan yang sangat lambat seolah sedang mengajari anak tk.

Menyatukan kedua alisnya, Nara bertanya dengan raut polos, “Mwoya? Ada yang tersangkut di tenggorokanmu?”

“Aku melakukannya karena kau tidak mendengarkanku tadi, bodoh.” Jungkook yang menyadari kata terakhirnya kurang bagus itu langsung berjalan mendahului Nara dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku.

Nara terkejut mendengar ucapan lelaki itu. “Kau panggil apa aku tadi, huh?”

Jungkook yang merasa api peperangan mulai memanas langsung memperlebar langkahnya. Tanpa disadari bibirnya membentuk garis asimetris, tersenyum miring. Memasang headphone yang menggantung di lehernya, ia berucap, “Aku tak mendengarnya.”

Geojitmal!(bohong). Kalau kau tidak mendengarnya bagaimana kau bisa menjawab?” sahut Nara setengah berteriak karena jaraknya dengan Jungkook yang semakin jauh. Sekuat tenaga gadis itu berusaha mengimbangi langkahnya tapi selalu saja gagal.

Nara mendecak kesal melihat Jungkook yang hampir menghilang di persimpangan jalan. “Kenapa aku dilahirkan dengan kaki yang pendek, sih?” gerutunya. Gadis itu baru mulai berlari namun langsung terjungkal ketika ia tersandung batu besar yang ada di depannya. Sebuah pekikan keras yang dramatis terlontar dari mulutnya.

Jungkook yang sedang menikmati lagu favoritnya seketika berhenti melangkah begitu mendengar suara jeritan. Sesegera mungkin ia menoleh ke belakang, menemukan sosok Nara sedang menangisi lututnya yang berdarah.

YA, apa yang terjadi?” tanyanya sambil mendekati gadis itu.

Nara mendongak sambil meringis, menunjuk lututnya.

Menghela nafas, Jungkook berjongkok di depan Nara. “Kenapa kau tidak berhati-hati sekali?”

“Ini semua karenamu, coba kalau kau tidak berjalan terlalu jauh,” gerutu Nara, melimpahkan kesalahan pada Jungkook.

Jungkook mengeluarkan sapu tangan dari sakunya. “Ige, bersihkan dengan ini.”

Shireo.

Wae?”

“Kau pasti sudah bersin puluhan kali dengan sapu tangan itu. Kalau aku memakainya nanti kumannya pindah ke lukaku semua,” jawab Nara polos, tiba-tiba jijik sendiri membayangkan Jungkook yang bersin lalu ingus keringnya menempel di sapu tangan itu.

Jungkook memutar bola matanya malas. “Dasar orang susah,” umpatnya lalu menggusah kedua tangan Nara yang memegangi lututnya.

“Apa yang ingin kau lakukan?” tanpa sadar Nara bergerak mundur saat Jungkook mendekat. Jungkook mendekat lagi, kemudian Nara mundur. Ia terus melakukan itu sampai badannya terhimpit tembok.

“Kau menghindar seperti aku ingin melakukan sesuatu yang mengerikan,” tukas Jungkook dengan wajah datar. “Berikan lututmu.”

“Tapi—“

“Aku bersumpah sapu tangan ini baru saja kuganti. Aku belum pernah bersin disini,” potong Jungkook seolah tau apa yang akan dikatakan gadis itu.

Menurut, ia memajukan lutut kirinya yang terluka untuk diobati Jungkook. Lelaki itu dengan telaten membersihkan pasir-pasir yang bersarang disana, kemudian tetesan darahnya yang mulai mengering.

“Lukamu memang kelihatannya kecil, tapi jika tidak segera dibersihkan pasirnya bisa membuatmu infeksi,” nasihat Jungkook. Ia terus melakukan tugasnya tanpa memedulikan wajah Nara yang mengernyit menahan rasa sakit.

Sebagai sentuhan terakhir, Jungkook mengeluarkan plester bergambar naruto dari sakunya dan memasangnya di lutut Nara.

“Selesai.” Jungkook kemudian mendongak. Matanya langsung bersirobok dengan bola mata Nara yang dihiasi lensa kontak abu-abu. Jarak mereka yang hanya terpaut sekepal tangan itu membuat keduanya membisu. Seolah dunia berhenti berputar untuk sesaat. Diam-diam Nara berusaha menenangkan denyut jantung yang mulai menggila dalam dadanya, namun tatapannya tetap terpaku pada satu titik.

“Gogo, lihat apa yang dilakukan anak ingusan ini dengan pacarnya di gang sempit,” ucap seorang pria pemabuk yang tiba-tiba muncul. Menghancurkan momen Jungkook dan Nara.

Sepasang pelajar yang kembali ke dunia nyata itu langsung mengerjapkan mata. Nara yang lebih dahulu berdiri tegap langsung menjauhkan diri dari Jungkook, salah tingkah.

“Hey, kemari. Urusan kita masih belum selesai,” sahut pria satu lagi dengan senyum mengejek terpetak jelas di wajahnya.

“Urusan?” keduanya menyahut dengan tanda tanya besar memenuhi kepala mereka.

“Jangan pura-pura melupakannya,” , “Gogo,” pria itu berbisik dengan rekannya.

Seolah tau yang akan terjadi selanjutnya bukan hal baik, pelan-pelan Jungkook mendekati Nara, berbisik, “Nara, setelah hitungan ketiga kita lari. Satu—“ Jungkook menggandeng tangan Nara erat. “Tiga!” teriaknya lalu menarik tangan itu untuk berlari.

YA, mau kemana lagi kau, bocah sialan?! Gogo, ayo kita kejar mereka.”

Jungkook terus berlari sekuat tenaga dengan tangan Nara yang masih tergenggam erat olehnya. Ia hanya berlari mengikuti kemana kakinya melangkah.

“Jungkook…” Nara berucap diantara desah nafasnya.

“Jungkook, kakiku sakit,” keluhnya.

Melepas genggaman Jungkook, Nara menunduk dengan kedua tangan bertumpu pada lututnya. Deru nafas keduanya yang terengah-engah saling berlomba.

“Aku tidak bisa lari lagi, kakiku sak— Jungkook!”

Belum sempat Nara menuntaskan kalimatnya, Jungkook sudah mengangkat Nara ke pundaknya dan membawa gadis itu lari karena dua pemabuk yang mengejarnya sudah semakin mendekat.

Nara yang bisa melihat ke belakang dengan bebas itu langsung membulatkan matanya. “Jungkook, berita buruk,” ucapnya panik tepat di telinga Jungkook.

“Apa?”

“Mereka membawa teman. Sekitar 3 sampai 5 orang,” , “Dan mereka sepertinya membawa senjata.” Nara menggigit bibir bawahnya frustasi. “Eottokhae?”

“Apa jarak mereka cukup jauh?”

Nara tersenyum senang. “Ada temannya yang jatuh. Mereka tertinggal jauh di belakang kita.”

Begitu mendengarnya Jungkook langsung membelok ke arah kanan, bersembunyi di sebuah gang sempit. Sesegera mungkin ia menurunkan Nara.

“Kemana mereka pergi?”

Nara dan Jungkook menutup mulut mereka rapat-rapat supaya deru nafas mereka yang masih belum teratur itu tidak terdengar. Keduanya sama-sama panik, terlebih lagi Nara yang merasa hidupnya sudah seperti di ujung tanduk. Jika ini terus berlanjut mungkin ia akan pipis di celana.

 

Prang…

 

Bunyi botol soju kosong yang dilempar ke dinding sebelah mereka berdiri membuat Nara memekik tertahan.

“Keluarlah!” , “Kami tau kalian bersembunyi di sekitar sini.”

 

Prang… prang…

 

Dua botol soju yang kembali dilemparkan ke dinding itu membuat Nara semakin bergidik ngeri. Tanpa sadar kedua matanya berkaca-kaca. Sementara Jungkook yang berdiri tenang di sebelahnya menatapnya penuh simpati, tak tau harus apa.

Dua pria pemabuk beserta teman-temannya itu berkeliling ke sekitar, mencari Jungkook dan Nara seperti polisi yang mencari penjahat. Adegan itu terus bertahan sampai beberapa menit sampai akhirnya mereka menyerah, dan memilih untuk pergi.

“Urusan kita masih belum selesai. Ingat itu!” teriak seorang pria dengan lantangnya. Membuat bulu kuduk Nara dan Jungkook meremang tanpa bisa dicegah. Disusul dengan suara derap langkah yang bergerak menjauh.

Setelah memastikan situasi kembali normal, Nara berbisik, “Apa mereka sudah pergi?”

“Aku akan memeriksanya.” Jungkook mengintip keadaan sekitar. “Aman.”

Nara baru bisa menghembuskan nafas lega setelah mendengarnya. Ia memperhatikan lutut kirinya yang ditutup plester kecil bergambar anime kemudian tertawa.

“Plester naruto? Kau lucu juga, ya,” ucapnya dengan nada mengejek.

Nara terus saja memperhatikan plester itu sampai tidak sadar Jungkook sudah berjalan jauh di depannya.

“Aku tidak dengar,” sahut Jungkook iseng.

Nara mendecak kesal. “Dia mulai lagi.”

 

***

 

“Dua samgyeopsal ukuran jumbo, satu teh asli, dan… Jungkook, kau mau minum apa?” tanya Nara pada Jungkook yang duduk bertopang dagu di depannya.

“Seperti biasa, ajhumma.”

“Baik. Dua samgyeopsal ukuran jumbo dan dua teh asli.” Wanita paruh baya itu mengulang pesanan mereka kemudian pergi.

Nara yang menyaksikan itu terkejut. “Kau sering ke sini?” tanyanya.

“Iya. Bersama Jungki,” terang Jungkook seolah tau isi kepala Nara.

Saat ini mereka ada di sebuah warung tenda yang kecil namun sangat ramai. Kebanyakan pengunjungnya adalah pegawai kantoran yang berkunjung untuk minum-minum seusai bekerja. Tak salah lagi. Ini persis seperti yang Nara lihat di dalam drama.

“Apa kau ke sini untuk minum-minum juga bersamanya?” tanyanya.

“Bukan minum bersama, hanya Jungki.”

Nara membulatkan matanya. “Jungki sering minum soju?!”

“Tidak sering juga, tapi dia pernah meminumnya,” sangkal Jungkook. “Lagipula Jungki minum itu untuk kesehatannya.”

“Maksudmu? Apa dia mengidap suatu penyakit?” tanya Nara tak mengerti.

Jungkook menatap Nara penuh heran. Namun sedetik kemudian raut jenaka menghias wajahnya. “Kenapa kau penasaran sekali?”

Gadis itu baru saja membuka mulutnya untuk menjawab, namun dua samgyeopsal panas yang apinya mengepul-ngepul tersaji di hadapannya, membuat perutnya mengaum sampai ia lupa dengan percakapan mereka sebelumnya.

Nara menyuapkan sesendok samgyeopsal dan nasi ke mulutnya. Mengunyahnya dengan beringas. Tak peduli ada Jungkook di depannya yang menatapnya seperti baru saja melihat alien turun ke bumi.

“Kau makan seperti tukang saja.” Jungkook berceletuk ngawur, kemudian terkekeh. Ia mengikuti jejak Nara.

Beberapa suap samgyeopsal sudah masuk ke perut Nara. Gadis itu meminum teh guna menghilangkan rasa sarat yang mengganjal kerongkongannya. Sebuah pikiran yang tadi sempat ia kesampingkan kembali muncul. Jungkook benar.

 

 

Kenapa Nara begitu penasaran?

 

***

 

Matahari pagi yang menyilaukan menyambut hari Selasa di Seoul. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pas. Nara, dengan mulut yang penuh dengan roti panggang buatan sang ibu mengamit tasnya, kemudian pamit pada ibunya yang sedang bereksperimen di dapur.

“Ibu, aku berangkat dulu, ya,” ujarnya dengan mulut penuh.

“Hati-hati, sayang,” sahut sang ibu tanpa menoleh.

Dengan lutut kirinya yang dibalut perban dan kain kassa Nara tetap bersikeras ingin sekolah. Walaupun sang ibu memaksanya untuk tetap di rumah. Gadis itu jadi tersenyum sendiri saat mengingat kejadian tadi malam.

Setelelah Jungkook dan Nara makan malam di warung tenda, Jungkook ingin mengantar Nara sampai ke depan rumahnya walaupun gadis itu sudah berusaha untuk menolak.

“Bagaimana jika pria pemabuk itu mendatangimu saat kau sedang sendirian?”

Kalimat Jungkook yang terdengar seperti skak mat itu berhasil membuat Nara bungkam dan menurut. Alhasil saat tiba di rumah gadis itu, sang ibu yang paling paranoid ketika melihat anak gadis satu-satunya terluka meskipun hanya segores luka kecil itu langsung heboh. Ia menyalahkan Jungkook dan memarahinya tanpa tau yang sebenarnya terjadi.

“Tadi ada pria pemabuk yang mengejarku sampai aku jatuh, ibu. Lalu dia datang menolongku,” sanggah Nara setengah berbohong.

“Ah, benarkah? Kau sudah menyelamatkan putriku, anak muda?” tanyanya terkejut.

“Iya, eomma. Kalau tidak ada dia entah bagaimana nasibku.”

“Kau benar-benar pemuda berjasa. Kenapa tidak bilang daritadi? Terima kasih, nak,” Ibu Nara langsung memeluk Jungkook sampai lelaki itu kesulitan bernafas. “Siapa namamu?”

“Jungkook. Jeon Jungkook,” tukas Jungkook kemudian kembali jatuh ke pelukan sang ibu.

Nara yang tidak sengaja bertemu pandang dengan lelaki yang sedang kesulitan bernafas itu menutup mulut, menahan tawanya. Tatapan mata Nara yang janggal itu menyiratkan pesan kau-harus-membayar-kebohongan-yang-kuciptakan-untukmu-ini.

Dan Jungkook yang peka membuka mulutnya tanpa suara. “Coba saja kalau bisa.”

Dari belakang tiba-tiba ada sebuah tangan yang terkalung di bahunya. Nara melirik sekilas kemudian berkata, “Jangan lupakan hutangmu denganku.”

“Aku tidak akan melupakannya.”

Nara yang merasakan keanehan langsung berhenti melangkah, mata membulat lebar. Yang ada di sebelahnya ini pasti Jungkook, tapi kenapa suaranya lebih berat dan kasar? Seolah baru menyadari sesuatu Nara langsung melepas rangkulan di lehernya. “Jungki?!” ia berkata setengah memekik.

Perhatian gadis itu langsung terpusat pada sepasang tindik bulat hitam yang ada di telinga lelaki itu. Tidak salah lagi, dia pasti Jungki.

“Kenapa kau ada di sini?” tanya Nara heran.

Jungki tersenyum lebar, menampakkan dua baris gigi putih bersinar dan matanya yang ber-eyesmile. “Tebak siapa yang sudah sehat.”

“Tapi kau baru sadar kemarin. Apa ini tidak terlalu cepat?”

“Mungkin sedikit. Tapi aku sudah benar-benar pulih. Lagipula jika aku terlalu lama absen, akan ada yang merindukanku,” sahut Jungki percaya diri.

“Siapa?”

Senyum misterius terpoles di wajah Jungki. Ia kemudian berucap, “Kita lihat saja,” lalu berjalan mendahului Nara.

Tiba-tiba saja hampir semua gadis yang sedang sibuk dengan lokernya langsung membalikkan badan, buru-buru menghujani Jungki dengan pertanyaan seperti reporter yang sedang mewawancarai artis.

“Jungki, kudengar kau masuk rumah sakit kemarin.”

“Kau sudah sembuh?”

Sunbae, terimalah cokelat hitam dariku ini dan lekas sembuh.”

“Masih ada lebam dan bekas luka di wajahmu, Jungki. Mau kutemani ke ruang kesehatan?”

“Aku yang menemani!”

“Aku!”

“Kau kan hoobae, harus mengalah pada sunbae-mu!”

“Tapi aku yang sudah memberinya cokelat, bukan kau, sunbae!”

Nara yang berdiri beberapa langkah di belakang kerumunan itu menganga lebar, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia tak menyangka ketidakhadiran Jungki selama beberapa hari belakangan ini bisa membuat para gadis di sekolah menjadi gila.

Di belakang ada Jungkook yang baru saja memasuki koridor dengan santainya. Seperti biasa, dengan headphone mengalung di leher dan kedua tangan dimasukkan dalam saku. Jungkook yang melihat seorang gadis berdiri terpaku di lantai dengan lutut kiri yang dibalut perban langsung tersenyum kecil. Ia tau siapa gadis itu.

Memasang wajah jahil, Jungkook bergerak pelan-pelan ingin mengagetkan Nara sebelum Jungki membelah keramaian yang diakibatkan olehnya. Ia berjalan ke arah Nara, lalu tanpa minta izin menggenggam tangan kanan gadis itu.

“Maafkan aku, semuanya. Tapi aku ingin ke ruang kesehatan bersama gadis ini,” terang Jungki membuat gerombolan yang tadi mengerubunginya serentak menahan nafas.

Tanpa memperdulikan wajah bengong Nara, Jungki langsung menarik gadis itu ke ruang kesehatan. Meninggalkan Jungkook yang menatap kepergian mereka berdua dengan wajah datar.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Hellaw hellaw

Berjumpa lagi kita di chapter 2 yeay~

Aku mau minta maaf karena ini jadi last update-ku sebelum uas karena aku mau fokus dulu. Semoga waktu aku balik nanti masih pada inget sama cerita ini hohhoho. Tanya sedikit dong, menurut kalian jalan ceritaku kecepetan nggak sih?

Oiya aku juga mau bilang makasih buat angelkim393, lilbee, ariefania, syuga_1004, dan wahyuyoshinoyuki yang udah menyempatkan diri buat komentar, buat yang udah like, dan terakhir buat yang udah baca ff abal ini😀 aku selalu seneng baca tanggapan kalian, karena kalian yang bisa bikin tulisanku lebih berkembang. Jadi jangan ragu buat komen ya😉

Udah ah gitu aja, ntar kesannya aku jadi kayak maksa wkwk

See you setelah uas♥

12 responses to “Twins on The Playground—(Chapter 2)

  1. Authornim ._. Aku sempet bingung jungki ngalungin tangannya waktu malem pas sama jungkook atau pas pagi waktu dia berangkat sekolah xD maaf.. Bingung mau ngeship sama yg mana :” mukanya sama.. sama sama ganteng *namanya juga kembar*/plakk/ masih awal kali ya.. jadi aku bingung tokoh utama laki2nya sebenernya siapa ._.

    pokoknya semangat buat authornim /^-^)/ semangat ukk, fighto!

    • haiii wanda xD
      maaf itu emang sengaja ga aku tulis adegan flashback, tapi kalo kamu cermati yg flashback aku kasih italic😉
      makasih.. semangat ukk for u too, udah selesai sih sebenernya wkwk

  2. habis baca deretan komentar di atas, ternyata authornya masih sma…oh no xD aku udah semester 4 soalnya xD *plakk *abaikan
    ceritanya udah makin kompleks nih, menarik kok, trus mungkin ada beberapa typo, silakan kalau mau dibenahin, soalnya kemarin engga ada kesalahan sih, sayang kalo chapter yang ini ada sedikit cacat hohoho *maaf ribet :v
    untuk chemistrynya jungkook-jungki tolong lebih diperjelas lagi atau dibanyakin adegannya ya? emang sih nggak semua saudara kembar itu akrab tapi paling nggak buatlah mereka kayak saudara beneran ya? aku baru nangkap fee chemistrynya jungkook-nara doang soalnya :3
    oke sampai jumpa next chapter ya? hwaiting!😀

    • iya makanya aku pernah bilang kalo masih cimidh >.< kak wahyu jangan grogi gitu dong, jadi malu kan hihi..
      aku udah lama ga nulis soalnya, apalagi ini pertama kalinya aku bikin adegan anak kembar jadi rada gimana gitu/?
      btw berkat komen kakak aku jadi dapet inspirasi lho buat momen mereka hihi.. makasih kak, keep read&comment ya😉

  3. Pingback: Twins on The Playground—(Chapter 3) – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s