Please, Hold Me Tight Chapter 7A

poster ff alle

By Sparkdey

Please, Hold Me Tight Chapter 7A

Jeon Jungkook BTS || Han Hara (OC) || Park Jimin BTS

PG + 15

AU || Fluff || Romance || Friendship

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3A || Chapter 3B || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 ||

Disclaimer : FF ini pure ide author dengan beberapa bantuan dari teman – teman. Jungkook dan Jimin adalah milik orang tua mereka, Big Hit Entertainment, dan ARMYs. Don’t be plagiator!! Please respect~

Note : FF ini merupakan requestan dari teman ARMY, jadi tolong dibaca dan berikan apresiasi berupa komentar atau like nya ya hehe, kamsahamnida^^ BONUS CHAT IMAGINE GUYS~ SEMOGA SUKA YA HEHE JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA~ DON’T BE A PLAGIATOR!!

 

Cerita sebelumnya…

Orang – orang yang melihat perkelahian kami lalu memisahkan kami. Cih…

“Neo… jauhi Hara!” teriaknya lalu pergi.

“Cih, tidak semudah itu. Aku akan membuatnya menjadi milikku” kataku sambil menatap kepergiannya.

Aku berlari mencari Hara. Berkeliling tempat ini hingga aku memasuki seluruh tempat makan yanga da di kawasan ini.

Aku terus berjalan hingga aku menemukan sosok perempuan yang sedang menangis di jembatan. Aku berjalan mendekatinya secara perlahan hingga aku dapat memastikan bahwa dia benar – benar Hara. Yeoja yang sedang aku cari saat ini.

“Hara…” panggilku pelan.

Dia melihat ke arahku lalu kembali berlari untuk menghindariku. Aku mengejarnya kembali lalu menahan tangannya.

“Lepaskan aku!” pintanya.

Aku menariknya ke dalam pelukanku. Lalu dia berusaha melepaskan dirinya dari pelukanku. Aku melepaskannya, lalu dia menatapku dengan air matanya yang terus keluar dan membasahi pipinya.

PLAKK..

Dia menamparku. Aku menatapnya tidak percaya. Dia benar – benar menamparku.

“Kau… pria brengsek, Jungkook-ssi!” katanya dengan tatapan yang tidak suka padaku.

Dia pergi meninggalkanku. Aku memegang pipiku yang di tampar olehnya. Sakit. Hatiku juga sakit.

‘Kenapa kau menjadi seperti ini, Hara-ya?’ batinku.

-Jungkook POV-

Masih terasa sangat sakit tamparannya di pipiku. Apa salahku? Mengapa dia menamparku? Bahkan aku tidak menyakitinya sekalipun. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menyusulnya? Jika aku menyusulnya pasti dia akan menamparku lagi. Ada apa dengan semua ini? Aku mulai lelah.

Akhirnya aku kembali ke restoran tempat aku meninggalkan Hoseok di sana. Aku memang sedang makan malam di sebuah restoran di sini. Sekedar mentraktir Hoseok karena besok dia akan pergi dan tidak latihan bersamaku.

“Mian” kataku begitu sampai di tempat dudukku.

“Kau darimana saja? Makananmu sudah dingin” sahut Hoseok yang sedang meminum blue sky itu.

“Tadi aku ada urusan sebentar” jawabku sambil mulai memakan makananku.

“Urusan perkelahianmu?” Tanya Hoseok yang mampu membuatku berhenti dari menyantap makananku.

“Tidak” jawabku lagi.

“Lalu apa kau masih bisa menyantap makananmu dengan sudut bibirmu yang terluka itu?” Tanya Hoseok lagi.

“Shut up. Just let it go! Cepat habiskan minumanmu dan kita pulang. Aku akan mengantarkanmu ke stasiun” kataku kesal.

“Sepertinya dugaanku benar” cibir Hoseok.

Aku membayar pesananku lalu keluar dari restoran itu dan masuk ke mobil. Aku melajukan mobilku menuju stasiun Seoul untuk mengantarkan Hoseok yang akan pergi ke Busan hari ini hingga 2 hari ke depan.

Setelah sampai di depan stasiun Seoul, aku turun dan mengantarkan Hoseok sampai ke dalam. Kami saling mengucapkan salam perpisahan lalu aku keluar dari stasiun dan berjalan menuju mobilku.

Apa yang harus aku lakukan kali ini? Apa aku harus ke rumah Hara dan menjelaskan semuanya? Apa dia akan mendengarkan aku? Jika aku hanya berfikir tanpa melakukannya, aku tidak akan mendapatkan sebuah jawaban.

Hujan mulai menuruni jalanan kota Seoul pada malam hari. Aku tetap melajukan mobilku menuju rumah Hara karena aku harus menjelaskan sesuatu pada Hara. Dia nampak salah paham terhadapku dan aku harus mendapatkan sebuah penjelasan darinya juga.

Aku sudah sampai di depan rumah Hara. Aku turun dari mobilku dan hujan kini membasahi tubuhku mulai dari atas hingga bawah. Aku sudah memanggil nama Hara berkali – kali namun ia tidak kunjung keluar untuk menemuiku.

Aku mengambil ponselku dan segera mengirimkan chat padanya. Masih tetap dengan tubuhku yang terguyur hujan dan petir yang terus menggelegar.

hara fc 1

Dia tidak membalas pesanku lagi. Apakah dia akan keluar dan menemuiku? Sungguh aku sudah mulai kedinginan saat ini. Dan aku sama sekali tidak memiliki niat untuk masuk ke dalam mobilku sekedar untuk menghangatkan tubuhku.

“Hara-ya, kumohon dengarkan penjelasanku!” teriakku di tengah hujan.

Dia tetap tidak keluar sekencang dan berapa kalipun aku meneriakinya dari sini. Apa dia tidak mendengarku? Aku semakin kedinginan karena hujan tidak kunjung henti bahkan semakin deras membasahi jalanan Seoul.

Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus tetap bertahan dengan kondisi dan situasi seperti ini? Tidak, aku harus bertahan bagaimanapun caranya aku harus memberikan penjelasan dan mengatasi salah paham ini!

‘Oh tidak… tubuhku sudah tidak kuat lagi menahan dingin’ batinku.

Pandanganku sudah semakin berbayang. Apa yang ada di depanku seperti berputar. Kepalaku sakit, aku pusing. Sepertinya tubuhku sudah tidak kuat menahan suhu dingin seperti ini. Tubuhku sudah sangat menggigil. Bagaimana tidak? Sudah hampir 4 jam aku berdiri di depan rumah Hara dan tubuhku di terpa angin dan hujan. Tubuhku sudah tidak mampu menopang beratku.

Aku melihat seorang yeoja keluar dari rumah di hadapanku ini. Aku sangat yakin dia adalah Han Hara. Aku tersenyum begitu dia sampai di hadapanku dengan payungnya yang berwarna biru muda itu. Aku sudah semakin tidak kuat sekarang.

“Jungkook-ah!” teriaknya.

“Syukurlah, aku… senang… melihatmu” kataku yang terputus – putus karena tubuhku sudah sangat menggigil.

“Kajja kita masuk” ajaknya.

Aku masuk ke dalam rumahnya. Tetesan air dari bajuku kini sudah membasahi lantai ruang tamu rumah Hara. Dia tidak mempedulikan itu. Dia langsung memberikan handuk padaku. Aku menerimanya. Setidaknya di dalam rumah ini hangat, tidak seperti di luar sana yang sangat dingin. Aku benci itu.

Aku duduk di sofa ruang keluarga Hara. Tubuhku sudah tidak mampu untuk berjalan atau setidaknya menggerakkan tanganku. Aku tiduran di sofa itu dan memejamkan mataku.

“Jungkook-ah, kau harus mandi. Dan keringkan bajumu itu” teriaknya yang masih bisa aku dengar.

“YA! Kau mendengarku atau… astaga Jungkook!” teriaknya lagi.

Aku masih dapat melihatnya walaupun sangat samar – samar di mataku. Dia berada di hadapanku. Dia menaruh cangkir di meja. Itu terlihat sangat panas jika kalian melihatnya dari asap yang keluar dari cangkir itu. Mungkin dia membuatkanku coklat hangat?

“Astaga Jungkook, suhu tubuhmu panas!” sahutnya ketika dia memegang keningku.

“Tunggu, aku akan mengambilkan selimut untukmu!” katanya seraya pergi meninggalkanku.

Tak berapa lama dia kembali. Aku masih mempertahankan mataku untuk tetap terbuka walaupun samar – samar.

“Jungkook-ah, bisa kah kau mengganti bajumu terlebih dahulu? Ini baju untukmu, aku akan kembali lagi dalam 5 menit. Jadi gantilah bajumu dan berbaring lalu gunakan selimut ini” katanya sambil menaruh selimut dan baju ganti untukku.

“Itu baju appa” katanya sebelum pergi meninggalkanku.

Aku membuka pakaianku dengan tenagaku yang tersisa. Aku menggantinya dengan baju ayah Hara. Setelah selesai aku mencoba meminum coklat panas yang dia buatkan untukku. Hangat. Tubuhku menjadi terasa lebih hangat.

Kepalaku tetap tidak bisa di ajak kerja sama kali ini. Semakin terasa berat dan pusing. Aku kembali merebahkan tubuhku di sofa lalu memejamkan mataku.

“Jungkook-ah… “ panggilnya yang masih dapat aku dengar namun tidak bisa ku jawab.

Aku membuka mataku perlahan sambil menahan rasa pusing di kepalaku. Dia berjalan ke arahku dan memakaikan selimut untukku, dia menariknya hingga sebatas leherku.

“Mian” kata yang keluar dari mulutnya.

Aku memejamkan mataku lagi. Sekuat apapun aku memaksakan mataku untuk tetap terbuka, tetap tidak bisa.

“Mian membuatmu menjadi seperti ini. Mian tidak meresponmu dari 4 jam yang lalu” katanya.

Aku membuka mataku kembali. Aku meliriknya lalu tersenyum.

“Aku… senang… melihatmu.. Han Hara” kataku yang masih terbata – bata.

Aku mengambil pergelangan tangannya yang berada di keningku. Dia terus mengecek suhu tubuhku. Aku menggenggam tangannya. Aku tersenyum padanya. Lalu pandanganku semakin kabur dan akhirnya aku menutup mataku.

Ku rasakan ada sesuatu yang menempel di keningku. Handuk? Ah apa dia mengompresku? Sekarang dimana dia?

“Kau sudah bangun?” tanyanya dan aku hanya menganggukkan kepalaku.

“Jangan bangun dulu. Kau masih sakit” katanya lalu berlari ke arahku untuk menahanku agar tidak merubah posisiku.

“Ini minumlah” dia memberikan obat dan air putih padaku.

Aku merubah posisiku menjadi duduk dengan bantuan Hara. Aku meminum obatnya lalu memejamkan mataku untuk merasakan apakah kepalaku masih pusing dan berat atau tidak. Namun pada kenyataannya kepalaku masih sangat berat.

Aku merasakan tangan di keningku. Aku membuka mataku dan melihatnnya dari jarak yang sangat dekat. Aku tersenyum lalu menutup mataku lagi.

“Apa kau mengkhawatirkanku?” tanyaku saat membuka mata.

“Aku yang membuatmu sakit seperti ini” jawabnya.

“Dulu aku yang membuatmu sakit sepertiku dan membuatmu menderita karena fans ku” kataku lagi.

“Aku minta maaf. Sepertinya kau salah paham soal Gaeun. Aku dan dia tidak memiliki hubungan apapun. Aku melihatmu saat ingin ke kantin namun kau tidak jadi ke kantin karena kau melihatku dengan Gaeun kan? Dia terus saja mengikutiku kemanapun, sekeras apapun aku menyuruhnya untuk pergi dari hadapanku dia akan semakin mendekatiku. Karena itu kemarin aku membiarkannya menyentuhku. Maafkan aku jika aku membuatmu salah paham. Tapi sungguh, hanya ada satu yeoja yang sangat ingin aku miliki. Dan yeoja itu bukan Gaeun, tapi kau” jelasku.

“Jungkook-ah… maaf… aku bukan bermaksud menolakmu… tapi, kau pun tahu sendiri aku menyukai siapa” jawabnya.

“Aku tahu, dia sahabatmu sendiri kan? Park Jimin? Aku tidak akan memaksamu untuk menyukaiku. Jika kau bisa bahagia dengan Jimin dan melihatmu tertawa bersamanya aku bahagia walaupun dalam hatiku ada rasa kesal karena kau bukan tertawa bersamaku. Tapi itu semua adalah keputusanmu, aku tidak memiliki hak apapun untuk itu. Dan mungkin aku tidak pernah ada tempat di hatimu. Jadi aku akan berhenti menyukaimu, Hara-ya” kataku sambil tersenyum menatapnya.

“Sejak kapan kau menyukaiku?” tanyanya sambil menaruh selimut di tubuhku.

“Sejak… kita bertemu di kedai es krim… saat kau membelikanku es krim coklat kesukaanku. Sejak saat itu aku menjadi penasaran padamu dan rasa penasaranku berubah menjadi suka ketika aku meminta bantuanmu untuk menjadi pacar bohonganku. Aku tahu mungkin aku salah. Bahkan aku selalu berkelahi dengan sahabatmu itu hanya karena kau. Tenang saja, mulai sekarang aku akan menghapuskan perasaanku untukmu” jelasku.

“Aku pulang” sahutku lalu berdiri dari posisiku dan berjalan untuk mengambil pakaianku.

Tangan Hara melingkar di pinggangku. Aku berusaha melepaskan tangan Hara namun dia semakin memelukku erat.

“Kau masih sakit. Ku mohon tetaplah di sini setidaknya sampai kau sembuh. Biarkan aku merawatmu” pinta Hara.

Aku tersenyum. Apa hanya saat aku sakit kau akan memperhatikanku? Apa hanya saat aku sakit aku akan mendapatkan pelukan hangat darimu? Apa hanya saat aku sakit kau akan melihatku?

 

-Author POV-

Sera sedang merapihkan buku pelajarannya. Dia telah selesai belajar untuk ulangan minggu depan. Setidaknya dia menyicil materinya dari sekarang, karena dia juga harus memikirkan organisasinya yang sedang meliput 2 orang.

Sera merebahkan tubuhnnya di kasur lalu memaikan ponselnya. Tiba – tiba ada chat yang masuk. Dengan cepat Sera membukanya.

“Yoongi?” katanya pelan.

Dia membuka chat itu dan membalas pesan Yoongi.

sera fc 1

Sejujurnya Sera sangat bingung dengan sikap Yoongi belakangan ini. Yoongi sering menghampirinya ke kelas dan mengajak makan siang di kantin bersama bahkan sampai rela mengantarkan Sera pulang ke rumahnya jika rapat organisasi pulang malam.

‘Apa benar Yoongi menyukaiku?’ batin Sera.

Sera mematikan ponselnya lalu memejamkan matanya sambil berfikir apa semua omongan Yoongi padanya adalah serius atau tidak. Hampir setiap hari Yoongi mengatakan hal yang tidak masuk akal pada Sera. Namun dia selalu terlihat serius dalam hal apapun. Tapi tidak dengan satu itu.

Lain hal nya dengan Jimin. Dia sangat kesal hari ini karena Hara pergi meninggalkannya. Dan untuk apa Hara menyebutkan nama Jungkook? Apa Hara menyukai Jungkook? Apa Hara mencintai Jungkook? Apa Hara peduli pada Jungkook? Semua pertanyaan itu menyebar di otak Jimin.

Jimin meraih ponselnya lalu membuka aplikasi LINE. Dia mengetikkan nama Hara pada kolom search. Dia membukanya untuk sekedar menyapanya karena hari ini sedang turun hujan yang cukup deras. Jimin ingin memastikan bahwa Hara baik – baik saja, namun niat itu dia urungkan.

Lalu Jimin mengecek timeline dan menemukan bahwa Hana –adik Taehyung- belum tidur. Dengan cepat Jimin menchat Hana.

jimin fc 2

“Sial mengapa dia memuji bocah brengsek itu?!” decak Jimin kesal.

Jimin memejamkan matanya dan tertidur dengan lelap.

Pagi ini Jungkook terbangun dari tidurnya. Dia mengerjapkan matanya berkali – kali agar pandangannya jelas. Jungkook merasakan ada tangan yang sedang memegang tangannya dari luar selimut. Dia menoleh ke arah yeoja yang ada di sampingnya.

Jungkook mengelus kepala Hara pelan. Lalu Hara terbangun dari tidurnya.

“Selamat pagi, Jungkook-ah” kata Hara.

“Kau lucu saat seperti ini. Aku menjadi gemas” kata Jungkook sambil mencubit kedua pipi Hara pelan.

“Geumanhe…” pinta Hara sambil memajukan bibirnya.

“Jangan seperti itu. Kau memancingku untuk menciummu” kata Jungkook lalu Hara menutup mulutnya.

Jungkook terkekeh melihat reaksi Hara. Jungkook memposisikan dirinya untuk duduk lalu beranjak berdiri dari sofa.

“Kau ingin kemana? Kau masih sakit. Kita bolos saja hari ini” kata Hara.

“Aku ingin ke kamar mandi. Kau ingin ikut?” tawar Jungkook.

“Tentu saja tidak, bodoh!” balas Hara.

“Ah, tapi apa kau kuat menaiki tangga? Tubuhmu belum fit” kata Hara lalu menghampiri Jungkook.

“Aku tidak selemah itu, bodoh” kata Jungkook lalu mulai menaiki tangga.

“Baiklah, aku akan membuatkan bubur untukmu” sahut Hara.

Hara berjalan ke dapur lalu membuatkan bubur untuk Jungkook.

CKLEK…

Suara pintu terbuka.

“Jungkook, kau ingin ke…mana?” Hara terkejut yang dia lihat di hadapannya saat ini adalah Jimin, sahabatnya.

“Jungkook?” Tanya Jimin bingung.

“Ada apa, Hara-ya?” kata Jungkook sambil menuruni tangga.

“Huh?” sahut Hara bingung.

Situasi ini terulang kembali… situasi seperti di Hongdae kemarin.

“Untuk apa kau di sini brengsek?!” kata Jimin sambil menarik kerah baju yang dikenakan oleh Jungkook.

“JIM!” teriak Hara.

“Mengapa ada bocah brengsek ini di rumahmu huh?!” kata Jimin yang mulai emosi.

“Kumohon jangan ulangi kesalahanmu lagi Jim” pinta Hara sambil menatap Jimin.

Jimin melepaskan cengkramannya pada kerah baju yang dikenakan oleh Jungkook. Dia berjalan mendekati Hara namun terhenti lalu berbalik ke belakang dan memukul Jungkook.

“Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauhi Hara, Jungkook-ssi! Dan aku rasa kau masih mempunyai telinga jadi kau mendengarnya dengan baik!” teriak Jimin.

“Cih…” decak Jungkook.

“Jim, jangan bertindak kasar seperti ini!” bentak Hara pada Jimin.

“Kau ingin ku buat menjadi tuli huh?” kata Jimin lalu menarik kerah baju Jungkook lagi.

“JIM!” teriak Hara.

“Diam kau Hara! Ini urusanku dengannya!” bentak Jimin.

“PARK JIMIN!” teriak Hara lagi.

“Dasar kau bocah brengsek!” Jimin memukul Jungkook hingga jatuh.

“Jim, hentikan!” kini Hara menahan tangan Jimin.

“Lepaskan aku, Hara” namun Hara tidak melepaskannya.

“AKU BILANG LEPASKAN AKU, HAN HARA!” teriak Jimin.

Dengan cepat Hara memeluk Jimin dengan erat. Dan menangis di pelukan Jimin.

“Jim, ku mohon berhenti membuatnya terluka. Dia sedang sakit saat ini karenaku. Ku mohon Jim hentikan” pinta Hara.

Jimin perlahan melepaskan pelukan Hara darinya lalu berjalan lagi ke arah Jungkook.

“Jim… jebal” Hara menahan tangannya lagi.

Dengan reflex, Jimin mendorong Hara hingga jatuh dan tetap berjalan ke arahh Jungkook. Dengan cepat dia memukul Jungkook tepat di wajahnya.

“Aku.. sudah memperingatkanmu dengan baik – baik, Jungkook-ssi!” teriak Jimin sambil memukul wajah Jungkook lagi.

“Cih… aku mencintainya!” teriak Jungkook lalu mendorong Jimin agar menyingkir dari atas tubuhnya.

“Dia milikku! Dan tak akan ada yang bisa memilikinya selain diriku!” bantah Jimin lalu mendorong Jungkook hingga Jungkook menabrak dinding di belakangnya.

“Tidak akan ku biarkan itu terjadi, Jimin-ssi” Jungkook berusaha mendorong Jimin.

Usaha Jungkook sia – sia karena dia sedang sakit saat ini dan dia tidak memiliki tenaga untuk menyerang balik Jimin. Sekedar memukulnya pun tidak bisa.

“Kau ingin aku menghalalkan segala cara sepertinya” Jimin mengeluarkan smirknya.

“JIMIN STOP IT!” teriak Hara lalu berusaha menahan Jimin namun Jimin kembali mendorong dirinya hingga jatuh.

“Ini urusanku dengannya, jangan ikut campur atau kau akan ikut terluka!” bentak Jimin.

“Hanya ini kemampuanmu huh? Ah kau sedang sakit huh?” tantang Jimin.

“Hah aku sedang tidak ada niat untuk melawanmu, brengsek!” jawab Jungkook.

“Aha~ tidak ada niat huh?” sebuah pukulan berhasil mendarat di perut Jungkook.

Jungkook terbatuk dan kini terduduk di lantai sambil memegangi perutnya. Jimin menendang kembali perut Jungkook dua kali. Hingga kini dia menghentikan aksinya karena Hara kembali memeluk Jimin dari belakang.

“Aku menyayangimu, Jim. Ku mohon hentikan ini semua. Aku seperti tidak mengenalmu, Jim” kata Hara dengan suaranya yang terdengar lirih.

“Hara, berhenti memohon padanya” kata Jungkook.

“Diam kau brengsek!” Jimin menendang perut Jungkook lagi.

“PARK JIMIN!” Hara sudah mulai kehilangan kesabarannya.

Hara memutar badan Jimin.

PLAKK…

Hara menampar Jimin dengan kencang. Jimin terkejut dengan sikap Hara. Sebelumnya Hara tidak pernah menamparnya seperti ini.

“Kau yang brengsek Jim. Dia tidak salah apapun, dia tidak memukulmu. Dan kau terus menerus memukulnya? Kau gila, Jim! Aku tidak mengenal sahabatku yang beringas seperti ini! Kemana Jimin ku yang dulu? Apa dia sudah mati huh? Dan sekarang orang yang ada di hadapanku ini adalah orang lain yang sangat mirip dengan Jimin ku?” kata Hara sambil terus menangis.

“Hara-ya, ini aku. Aku melakukan ini demi kebaikanmu” kata Jimin.

PLAKK…

Jimin di tampar oleh Hara lagi. Jimin memegangi pipinya yang di tampar oleh Hara.

“Kau melakukan ini demi kebaikanmu, Jim! Aku benci padamu! Jangan pernah muncul di hadapanku lagi! Pergi dari rumahku sekarang juga!” perintah Hara.

“Tapi, Hara…” kata Jimin.

“Aku menyayangimu, aku tidak ingin kau terluka karena dia!” lanjut Jimin.

“Omong kosong! Pergi dari rumahku sekarang juga!” teriak Hara.

“Hara-ya…” kata Jimin.

Hara menarik tangan Jimin menuju pintu rumahnya. Lalu melapaskannya begitu saja.

“Ku bilang pergi dari rumahku sekarang juga, Jim! Aku tidak mengenalmu lagi! Kau jahat Jim!” teriak Hara lalu membanting pintu rumahnya.

 

-Hara POV-

“Ku bilang pergi dari rumahku sekarang juga, Jim! Aku tidak mengenalmu lagi! Kau jahat Jim!” teriakku lalu membanting pintu rumahku.

Jimin sangat jahat, berkali – kali aku mencoba menghentikannya namun tidak berhasil, hingga aku di dorong olehnya dan terjatuh. Sakit. Fisik dan hatiku. Mengapa dia menjadi seperti ini? Kemana Jimin yang sangat hangat padaku dulu?

“Hara-ya, gwenchanayo?” Tanya Jungkook.

“Gwenchana” jawabku masih dengan amarahku.

“Jangan membencinya. Kau mencintainya, aku tahu itu. Tenangkan fikiranmu” kata Jungkook sambil memelukku dari belakang.

“Dia berubah. Aku tidak suka dia menjadi kasar seperti ini” kataku menahan air mata.

“Aku tahu. Dia melakukan ini semua karena aku hadir di antara kalian” kata Jungkook.

Aku melepaskan pelukan Jungkook lalu berbalik menghadapnya. Aku menatapnya dengan penuh rasa kasihan. Dia terluka hanya karena aku. Aku memeluknya dengan erat.

“Mianhae. Jeongmal mianhae” kataku.

“Kau tidak salah apapun padaku” sahut Jungkook yang membalas pelukanku.

“Aku senang kau memelukku seperti ini” lanjutnya.

Aku melepaskan pelukannya namun tidak dengan Jungkook.

“Biarkan aku tetap seperti ini untuk waktu yang lebih lama. Setelah ini aku tidak akan menganggumu lagi” kata Jungkook.

“Waeyo?” tanyaku.

“Aku tidak ingin menjadi penyebab persahabatan kalian hancur” kata Jungkook.

DEGG…

Aku kembali memeluk Jungkook dengan erat. Ya, ini untuk pertama dan terakhir kalinya aku akan memeluk erat dirinya. Aku akan menjauhi Jungkook agar hubunganku dan Jimin kembali seperti semula.

Cukup lama dia memelukku. Aku melepaskan pelukanku padanya dan dia melepaskanku.

“Apa kau terluka?” Tanya Jungkook.

“Kau yang terluka bodoh. Duduklah di sana, aku akan mengobatimu” kataku sambil tersenyum.

Aku mengambil kotak P3K yang tersedia di rumahku. Aku mengeluarkan alcohol dan kapas untuk mengobati luka Jungkook. Ah tidak lupa obat penurun demam untuk Jungkook karena aku yakin dia masih demam saat ini.

Aku berjalan mendekati Jungkook dan duduk di sampingnya. Mengeluarkan alcohol dan menaruhnya di kapas lalu aku membersihkan lukanya. Dengan sangat hati – hati aku mengobatinya. Setelah selesai aku mengambil bubur yang sebelumnya sudah aku buat.

“Makanlah. Dan jangan lupa minum obatmu” sahutku.

“Suapi aku” pinta Jungkook.

“Hey ayolah, kau sudah dewasa. Kau bisa makan sendiri” kataku.

“Sekali saja. Setelah itu aku akan makan sendiri. Ne?” pintanya.

“Baiklah. Hanya sekali eoh” kataku.

Aku mengambil mangkuk bubur itu lalu menyendoknya dan memasukkannya ke dalam mulut Jungkook. Kasihan Jungkook. Itu yang ada di dalam fikiranku saat ini. Apa aku juga harus menjauhinya?

“Selanjutnya kau sendiri” kataku sambil menyerahkan mangkuk berisi bubur itu.

“Gomapta” serunya sambil tersenyum.

“Aku ingin mandi. Kau jangan lupa meminum obatnya dan beristirahatlah” kataku lalu pergi meninggalkannya.

“Hmm” gumamnya.

Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Aku berendam dengan air hangat. Setidaknya aku merasa lebih rileks saat ini. 40 menit aku berada di kamar mandi sekarang aku turun untuk menghampiri Jungkook.

Aku melangkahkan kakiku menuju sofa. Dia tertidur. Aku berjalan mendekatinya dan melihatnya dengan seksama. Apa dia tidur dengan lelap? Dia tidak mengetahui kehadiranku. Aku memegang keningnya untuk memastikan apakah demamnya sudah turun atau belum. Namun demamnya belum juga turun. Aku memakaikan selimut padanya. Setidaknya dia harus merasa lebih hangat saat ini.

Aku mengelus rambut Jungkook perlahan. Dan tersenyum kecil.

‘Mengapa aku tidak bisa menyukaimu, Jungkook-ah?’ batinku.

 

TO BE CONTINUE…

Hallo gimana sama chapter kali ini? Semoga greget yaw haha

Gimana sama chat imagine nya? Apa suka? Semoga suka deh yaw hihiw

Ah ya jangan lupa tinggalkan komentar dan like kalian ya sebagai bentuk apresiasi terhadap karya aku~

Kamsahamnida readernim :*

9 responses to “Please, Hold Me Tight Chapter 7A

  1. Sumpah hara skarang nyebelin bgt, bilangny g suka m jungkook ,tp jungkook mau menjauh, loe NY g ngebolehin, maunya APA sih, bikin gregetan j, kl emank suka m jimin udh bilang j, jungkook biar buat ane aje kkkkkkkkkkkkkkkkk

  2. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 7B | FFindo·

  3. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 8 | FFindo·

  4. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 9 – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s