Please, Hold Me Tight Chapter 7B

poster ff alle

By Sparkdey

Please, Hold Me Tight Chapter 7B

Jeon Jungkook BTS || Han Hara (OC) || Park Jimin BTS

PG + 18

AU || Fluff || Romance || Friendship

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3A || Chapter 3B || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7A ||

Disclaimer : FF ini pure ide author dengan beberapa bantuan dari teman – teman. Jungkook dan Jimin adalah milik orang tua mereka, Big Hit Entertainment, dan ARMYs. Don’t be plagiator!! Please respect~

Note : FF ini merupakan requestan dari teman ARMY, jadi tolong dibaca dan berikan apresiasi berupa komentar atau like nya ya hehe, kamsahamnida^^ BONUS CHAT IMAGINE GUYS~ SEMOGA SUKA YA HEHE JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA~ DON’T BE A PLAGIATOR!!

 

Cerita sebelumnya…

“Suapi aku” pinta Jungkook.

“Hey ayolah, kau sudah dewasa. Kau bisa makan sendiri” kataku.

“Sekali saja. Setelah itu aku akan makan sendiri. Ne?” pintanya.

“Baiklah. Hanya sekali eoh” kataku.

Aku mengambil mangkuk bubur itu lalu menyendoknya dan memasukkannya ke dalam mulut Jungkook. Kasihan Jungkook. Itu yang ada di dalam fikiranku saat ini. Apa aku juga harus menjauhinya?

“Selanjutnya kau sendiri” kataku sambil menyerahkan mangkuk berisi bubur itu.

“Gomapta” serunya sambil tersenyum.

“Aku ingin mandi. Kau jangan lupa meminum obatnya dan beristirahatlah” kataku lalu pergi meninggalkannya.

“Hmm” gumamnya.

Aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Aku berendam dengan air hangat. Setidaknya aku merasa lebih rileks saat ini. 40 menit aku berada di kamar mandi sekarang aku turun untuk menghampiri Jungkook.

Aku melangkahkan kakiku menuju sofa. Dia tertidur. Aku berjalan mendekatinya dan melihatnya dengan seksama. Apa dia tidur dengan lelap? Dia tidak mengetahui kehadiranku. Aku memegang keningnya untuk memastikan apakah demamnya sudah turun atau belum. Namun demamnya belum juga turun. Aku memakaikan selimut padanya. Setidaknya dia harus merasa lebih hangat saat ini.

Aku mengelus rambut Jungkook perlahan. Dan tersenyum kecil.

‘Mengapa aku tidak bisa menyukaimu, Jungkook-ah?’ batinku.

-Author POV-

Jimin di usir oleh Hara dari rumahnya. Jimin tidak tahu harus bagaimana lagi karena Jimin sudah menyakiti Hara dan membuatnya kecewa pada Jimin lagi. Andai saja Jungkook tidak hadir di antara Jimin dan Hara pasti sudah menjadi pasangan yang serasi.

Jimin melajukan mobilku menuju sekolah. Jimin membolos sekolah hari ini tapi dia harus menghadiri rapat organisasi atau Sera akan mengamuk padanya. Ponsel Jimin berbunyi tanda bahwa ada chat masuk. Jimin memberhentikan mobilnya dan membalas chat nya. Itu adalah chat dari Hana.

jimin fc 3

Jimin masuk ke dalam ke ruang organisasiku dan rapat sudah di mulai.

“Maaf aku terlambat” kata Jimin.

“Cepatlah ke tempat dudukmu” perintah Sera.

Jimin duduk di tempatnya dan mulai membuka berkasnya. Jimin tidak berkonsentrasi penuh saat ini. Dia hanya ingin menghajar Jungkook dan membuatnya menjauh dari Hara. Hingga pada akhirnya Jimin ingin keluar dari ruang organisasi.

“Kau ingin kemana huh? Rapat kita belum selesai” sahut Sera.

“Aku ingin mencari udara segar sebentar saja. Kepalaku terasa pusing” jawab Jimin.

Jimin berjalan menaiki tangga hingga kini dia sudah berada di atap sekolahnya. Jimin menghirup udara lalu menghembuskannya secara kasar. Jimin duduk di dinding sekolah dan kakinya di biarkan menggantung di udara. Jika saja ada orang yang mengangetinya saat ini dapat di pastikan dia akan langsung jatuh ke tanah.

Jimin mengeluarkan ponselnya lalu mengechat Hana.

jimin fc 4

Hana berjalan menaiki tangga menuju atap. Dibukanya pintu menuju atap dan dia menemukan Jimin berada di dinding dan sedang duduk dengan tenang di sana. Hana berjalan mendekat pada Jimin lalu duduk di sebelahnya.

“Kau tidak takut?” Tanya Jimin.

“Takut?” Tanya Hana bingung.

“Kau tidak takut pada ketinggian? Jika ada yang mengejutkanmu, kau akan langsung terjatuh” jelas Jimin.

“Aku tidak pernah takut. Aku hanya takut jika ‘masa’ seperti dulu terulang lagi” kata Hana.

“Ahh~ aku mengerti. Tenang saja, rahasia kalian aman bersamaku” kata Jimin lalu tersenyum pada Hana.

“Jangan tersenyum seperti itu padaku. Nanti aku bisa suka padamu, sunbae” kata Hana lalu memalingkan wajahnya.

“Aku senang tersenyum pada semua orang” kata Jimin.

“Ah ada apa kau memanggilku ke sini? Bukankah kau lebih dekat dengan oppa?” Tanya Hana.

“Aku hanya ingin lebih dekat denganmu. Lagipula Taehyung sedang pelajaran saat ini. Aku tidak mungkin membuatnya bolos hanya untuk menemaniku” jawab Jimin.

“Kau ada masalah dengan Hara sunbae dan Jungkook sunbae? Aku tidak melihat Jungkook sunbaenim hari ini” kata Hana.

“Bocah brengsek itu ada di rumah Hara. Aku sudah menghajarnya tadi. Dan Hara terlihat membenciku. Aku tidak bisa menahan emosiku jika ada sesuatu hal yang menyangkut tentang Hara. Terlebih lagi bocah brengsek itu berada di dekat Hara, aku tidak bisa mengontrol emosiku lagi” jelas Jimin kesal.

“Aku mengerti perasaanmu. Kau melakukan ini semua karena kau cinta padanya kan? Kau tidak ingin orang lain merebutnya darimu. Tapi Jim, di sini aku berbicara sebagai temanmu, bukan hoobae mu. Aku harap kau paham maksudku. Kau harus menahan emosimu, jika nantinya Hara memilih Jungkook sunbae daripada dirimu, kau bisa apa? Kau ingin melanggar hak mu sebagai sahabat? Tidak bisa Jim. Kau hanya sahabatnya, bukan kakaknya ataupun orang tuanya yang bisa seenaknya mengatur perasaan dan kehidupan Hara sunbae. Cobalah untuk belajar merelakan sesuatu yang bukan milikmu. Hara sunbae itu bukan milikmu saja, dia milik banyak orang. Dia milik keluarganya, dia milik sahabatnya, dia milik teman – temannya. Sadarlah Jim… “ jelas Hana panjang.

“Aku tidak bisa merelakan Hara dengan namja brengsek itu, Hana-ya” kata Jimin menatap Hana.

“Aku tahu… aku tahu itu. Aku paham. Kau masih memiliki yang lain. Kau masih memiliki Sera, kau masih memiliki Taehyung oppa, kau masih memilikiku dan anggota organisasi lain. Dari sekian banyak yeoja di sekitarmu, kau bisa memilih salah satu dari mereka untuk kau jadikan pasanganmu nanti.” Kata Hana.

“Tapi aku hanya menginginkan Hara” sahut Jimin.

Hana mengambil ponsel dari kantung rok nya dan mengetikkan sebuah pesan untuk oppanya.

taehyung fc 1

Setelah menunggu cukup lama, orang yang sangat dibutuhkan oleh Hana datang.

“Eoh! Oppa!” teriak Hana lalu berlari menuju arah Taehyung.

“Mwo? Oppa?” Jimin mengernyitkan dahinya dan melihat ke belakang.

Di lihatnya Hana memeluk Taehyung dengan erat dan mencium pipinya.

‘Apa mereka gila? Ini di sekolah’ batin Jimin.

 

-Jimin POV-

Ku lihat Taehyung kini berjalan ke arahku. Dan Hana memanggil Taehyung dengan sebutan oppa lalu dia memeluk dan mencium Taehyung di atap sekolah? Bukankah mereka sepakat jika di sekolah mereka seperti tidak kenal satu sama lain?

“Kalian gila…” sahutku.

“Calm down… aku sudah memastikan siapapun tidak mengikutiku ke sini. Jadi aku merasa bebas” kata Taehyung.

“Hana-ya, kau memanggil oppamu ke sini?” tanyaku.

“Eoh. Aku tidak bisa menangani dirimu Jimin sunbae. Jadi aku memanggil oppa” jawab Hana.

“Tunggu… kau memanggil bocah ini sunbae?” Tanya Taehyung heran.

“Eoh. Dia memaksaku semalam di chat” jawab Hana lagi.

“Yaish jinjja…. JIMIN!!” Taehyung berjalan mendekat ke arahku lalu bersiap menjitakku.

“Lagipula dia memanggil Jungkook dengan sunbae, mengapa denganku tidak?” ketusku.

“Itu karena aku menyukainya!” teriak Hana.

Aku berhenti berlari lalu tiduran di atap. Di susul dengan Taehyung di sampingku dan Hana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku diriku dan Taehyung.

“Apa aku perlu meninggalkan kalian berdua di sini eoh?” tawar Hana.

“Andwae… aku membutuhkanmu di sini” kata Taehyung.

“Jika kalian ingin berduaan, kalian sudah melakukan itu setiap hari dan setiap saat di rumah… aish” decakku.

“Baiklah aku akan diam di sini dan menemani kalian. Oppa urusi temanmu yang satu itu, dia terus berkelahi dengan Jungkook sunbae” pinta Hana.

Aku memberikan senyuman terlebar yang kupunya saat Taehyung menatapku dengan tatapan yang seakan – akan ingin menghajarku saat ini juga. Memang hanya Taehyung yang mengerti aku saat ini, dia selalu membuatku berhenti melakukan hal gila. Dan sepertinya sifat Taehyung itu menurun pada Hana, dia mampu membuatku untuk berhenti melakukan hal gila dan menenangkanku.

Aku merubah posisiku menjadi duduk. Di susul dengan Hana dan Taehyung. Aku mengambil tas ku dan mengeluarkan ponsel milikku. Mengecek apakah Hara akan mengirimiku pesan atau tidak. Ternyata dia tidak mengirimiku pesan.

“Setelah ini kalian akan kemana?” tanyaku.

“Huh?” Taehyung bingung dengan pertanyaanku.

“Tentu saja kami akan pulang” jawab Hana.

“Taehyung-ah, boleh aku pinjam adikmu lagi?” tanyaku.

“YA! Aku ini bukan barang! Yang bisa kau pinjam seenaknya!” teriak Hana.

“Ah mian mian, bukan begitu maksudku” kataku sambil menahan tawaku karena Hana terlihat sangat imut kali ini.

“Kau harus memintanya dengan baik – baik, Jimin-ah” kata Taehyung sambil merebahkan tubuhnya kembali di atap.

“Baiklah. Kim Hana, maukah kau menemaniku hari ini?” tanyaku.

“Tidak” jawab Hana.

“Ya! Aku sudah memintanya baik – baik!” balasku.

“Just kidding. Baiklah aku akan menemanimu” jawab Hana lalu merebahkan tubuhnya di samping Taehyung.

Aku tersenyum mendengar jawaban dari Hana. Setidaknya aku tidak akan merasa kesepian kali ini. Aku mempunyai Taehyung dan Hana yang setia di sampingku. Aku ikut merebahkan tubuhku di samping Taehyung. Memandangi langit yang sudah mulai sore ini.

Setelah cukup lama memandangi langit dan di antara kami bertiga tidak ada yang mengeluarkan suara lagi, aku merubah posisiku dan berdiri. Aku menendang kaki Taehyung pelan sebagai isyarat untuk bangun.

“Hey, nona manis. Kajja kita jalan – jalan” ajakku pada Hana.

“Jangan panggil aku seperti itu sunbaenim” kata Hana.

Aku memberikan salam perpisahan pada Taehyung lalu menggandeng tangan Hana menuju mobilku. Aku membukakan pintu mobil untuknya dan aku langsung melajukan mobilku.

“Kita ingin kemana?” Tanya Hana yang memecah keheningan.

“Aku ingin melihat pemandangan” jawabku.

“Baiklah aku referensikan kita pergi ke Namsan Tower, eotte?” tanyanya.

“Ide yang bagus” jawabku.

Aku melajukan mobilku menuju Namsan Tower. Setelah cukup lama mengendarai mobilku, akhirnya aku sampai juga di Namsan Tower. Aku memarkirkan mobilku lalu berjalan naik menuju Namsan Tower.

“Sunbae, chakkaman. Aku ingin membeli sesuatu” kata Hana lalu berhenti di depan orang yang menjual boneka.

“Ah mianhae, membuatmu menunggu” sahut Hana.

“Kau membeli boneka huh?” tanyaku lalu melanjutkan perjalanan menuju Tower.

“Eoh” jawabnya singkat.

“Untuk siapa?” tanyaku lagi.

“Untukku dan untuk oppa” jawabnya dengan wajah yang berseri – seri.

“Taehyung? Dia suka boneka?” tanyaku heran.

“Eoh. Jika aku yang memberikannya” jawabnya lagi.

Kini kita sudah sampai di Namsan Tower. Pemandangan dari sini begitu menakjubkan dan mampu membuatku lupa terhadap masalahku sejenak. Aku senang dan aku merindukan melakukan hal ini dengan Hara. Tetapi aku sedikit merasakan bahwa Hana sudah bisa menggantikan posisi Hara saat ini.

‘Oh tidak, aku tidak boleh suka pada Hana’ batinku.

 

-Author POV-

Selain itu seseorang yang masih berkutat dengan berkasnya di ruangan miliknya, Park Sera, sedang memikirkan banyak hal. Fikirannya terbagi antara sahabatnya, tugas, dan juga organisasinya. Sera melamun sejenak hingga seseorang mengetuk ruangannya.

TOKK TOKK TOKK…

“Eoh, come in” sahut Sera.

“Kau tidak ingin pulang?” Tanya orang itu.

“Nanti saja. Aku masih ingin mempelajari berkas ini” jawab Sera.

“Kau bisa gila nanti jika mempelajari berkas itu terus” sahut orang itu.

“Ya~ Yoongi-ya, biarkan aku sendiri” kata Sera.

“Tidak. Gerbang sekolah akan di tutup, kau ingin terkunci di sini? Baiklah, aku duluan eoh” sahut Yoongi lalu keluar dari ruangan Sera.

Yoongi berjalan di koridor sekolahnya. Memang hari ini sekolah mereka pulang cepat karena guru – guru akan mengadakan rapat.

“Yoongi-ya!! Tunggu aku!” teriak Sera dari ujung koridor.

Yoongi berhenti dan menoleh ke belakang. Di lihatnya Sera sedang berlari ke arahnya. Yoongi kembali berjalan dan tidak menghiraukan teriakan Sera yang terus memanggil namanya.

“Ah… capeknya” keluh Sera.

“Kukira kau ingin bermalam di sini” kata Yoongi sambil terus berjalan.

“Kau gila, tidak mungkin aku mau bermalam di sini. Banyak aura mistis di sekolah ini jika sudah menjelang malam hari” sahut Sera.

“Eoh. Aku pulang duluan ne” Yoongi berbelok menuju parkiran mobilnya.

“Yoongi-ya… bolehkah aku ikut bersamamu? Sampai halte di depan sana. Aku takut berjalan sendirian” kata Sera pelan.

“Eoh. Naiklah” jawab Yoongi.

Yoongi tidak membukakan pintu untuk Sera. Yoongi melajukan mobilnya menuju halte tempat dimana Sera ingin diberhentikan. Sera turun dari mobil Yoongi.

“Gomawo untuk tumpangannya. Kau hati – hati di jalan eoh” sahut Sera dari jendela mobil Yoongi.

“Eoh” jawab Yoongi singkat lalu memacu mobilnya menuju rumahnya.

Diperjalanan Yoongi hanya diam dan berfikir. Apa dia sudah keterlaluan pada Sera? Dia menjawab semua pertanyaan Sera dengan singkat dan tidak menghiraukannya ketika Sera memanggilnya.

Kini Yoongi sudah sampai di garasi rumahnya. Dia turun dari mobil lalu langsung masuk menuju rumahnya. Dia melempar tasnya menuju sofa ruang tamu dan mengambil minuman di kulkas.

Dia mengambil sebuah kaleng cola lalu meneguknya. ‘Akhirnya’ batinnnya. Yoongi mengambil tasnya lalu berjalan menaiki tangganya dan masuk ke kamarnya.

Dia merebahkan tubuhnya di ranjangnya lalu memejamkan matanya sebentar. Ponselnya berbunyi menandakan bahwa ada chat yang masuk. Dia mengambil ponselnya lalu membuka chat itu.

“Sera?” gumamnya.

sera fc 2

Sera seperti sedang dilanda kebingungan bagaimana harus menyikapi suatu masalah. Dalam hal seperti ini rasanya Yoongi ingin berada di samping Sera lalu memeluknya dan menenangkannya lalu berkata bahwa Sera mampu menghadapi semua masalah ini.

———-Namsan Tower. 8:35 PM———-

Hana dan Jimin kini sedang menikmati pemandangan yang ada di daerah Namsan Tower. Mereka sudah turun dari Namsan Tower cukup lama, namun mereka sedang menikmati makanan yang mereka beli saat turun dari Namsan Tower.

“Kau menyukainya?” Tanya Jimin.

“Eoh. Cukup menghangatkan tubuh ketika di musim dingin seperti ini” jawab Hana.

Ponsel Hana bergetar. Sepertinya ada chat masuk. Hana mengambil ponselnya lalu membuka chat yang masuk.

taehyung fc 2

Hana menghela nafas panjang. Dia kesal jika oppa nya sudah mengancam seperti itu. Sebenarnya Hana masih ingin bersama Jimin dan menghabiskan waktu bersama Jimin. Namun dia tidak bisa melakukan hal seperti ini lebih lama lagi karena Taehyung sudah mengomel di chat tadi.

“Sunbae, oppa sudah marah – marah padaku” sahut Hana.

“Ah? Dia menyuruhmu pulang sekarang?” Tanya Jimin.

“Eoh. Tidak apa kan sunbae?” Tanya Hana lagi.

“Tidak apa. Aku cukup senang menghabiskan waktu bersamamu hari ini” jawab Jimin sambil tersenyum.

Jimin mengulurkan tangannya pada Hana. Hana meraih tangan Jimin. Mereka bergandengan tangan hingga parkiran mobil Jimin.

Jimin membukakan pintu mobilnya untuk Hana, setelah itu dia melajukan mobilnya menuju rumah Hana. Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka pembicaraan. Akhirnya Jimin memulai pembicaraannya.

“Hana-ya, apa kau senang hari ini?” Tanya Jimin.

…..

“Hana-ya” panggil Jimin lagi.

Tetap tidak ada jawaban dari Hana. Jimin melirik pada Hana.

“Dia tertidur?” kata Jimin sambil tersenyum.

Kini Jimin sudah sampai di depan rumah Hana. Jimin tidak tega untuk membangunkan Hana dan akhirnya Jimin menggendong Hana lalu masuk ke dalam rumah Hana. Cukup sulit memang untuk menekan bel rumah Hana. Namun dengan sekuat tenaga dan usaha dia berhasil menekan bel rumah Hana.

“Hana-ya! Mengapa kau….” Kata Taehyung begitu membuka pintu dan melihat Hana.

“Dia tertidur. Jangan kau bangunkan dengan teriakan bodohmu, Taehyung-ah” kata Jimin.

“Eoh. Biar aku yang menggendongnya. Dia sangat berat, aku tahu itu” sahut Taehyung lalu menggendong Hana.

“Kau ingin mampir dulu?” tawar Taehyung sebelum menutup pintu rumahnya.

“Ani. Aku langsung pulang saja. Salam untuk orang tuamu dan juga adikmu yang manis itu” sahut Jimin.

“Eoh. Pergilah” kata Taehyung lalu menutup pintu rumahnya.

 

-Jungkook POV-

Aku merebahkan tubuhku di kasur. Sudah 2 jam aku berguling – guling di kasur. Aku masih sakit. Aku ingin dia merawatku seperti kemaren. Andai saja Jimin tidak datang untuk mengacau, pasti saat ini aku masih berada di rumah Hara.

Aku mengambil ponselku dan membuka chat ku. Hara tidak mengirim chat padaku. Apa dia sedang sibuk? Apa dia sedang bersama Jimin? Aku memikirkan Hara. Sepertinya aku memang benar – benar menyukai Hara. Aku mengirim chat pada Hara.

hara fc 2

Dia menyetujui untuk pergi kencan bersamaku selama satu hari. Setidaknya ini adalah sebagai salam perpisahan dariku untuknya. Aku akan menjauhi Hara karena aku tidak bisa terus – terusan berada di samping Hara. Dia mencintai Jimin. Yang dia butuhkan adalah Jimin, bukan diriku.

Aku memejamkan mataku dan mulai masuk ke alam mimpiku.

Alarm dari jam di atas meja samping kasurku ini berbunyi. Aku mengerjapkan mataku pelan lalu mematikan bunyi jamku. Sudah jam 8 pagi. Aku tersenyum mengingat hari ini aku akan pergi kencan dengan Hara.

Dengan semangat pagi, aku langsung pergi ke kamar mandi dan langsung bersiap – siap ke rumah Hara. Aku memakai celana jeans berwarna hitam dan juga atasan kaos putih serta jaket berwarna biru muda.

Aku mengambil ponselku untuk menelfon Hara.

“Yeoboseyo?” sapanya.

“Aku akan menuju rumahmu sekarang” kataku dengan semangat.

“Ini baru jam 9 pagi, Jungkook-ah” jawab Hara.

“Aku ingin sarapan bersamamu lalu kita pergi berkencan” kata Jungkook.

“Baiklah. Aku akan bersiap – siap ne” kata Hara.

“Okay baby. See you!” kataku dengan tersenyum dan langsung memasukkan ponselku ke kantung celanaku.

Aku melajukan mobilku menuju rumah Hara. Tak sampai 30 menit kini aku sudah sampai di depan rumah Hara. Aku mengambil ponselku untuk mengirim chat pada Hara yang mengatakan bahwa sekarang aku sudah sampai di depan rumahnya.

Hara membukakan pintu untukku. Dia sangat cantik pagi ini dengan dress berwarna crem dan rambut coklatnya yang di biarkan terurai itu. Sangat cantik!

“Ini untukmu” kataku sambil memberikan bunga mawar pink kepada Hara.

“Jeongmal gomawo, Jungkook-ah! Aku sangat suka!” seru Hara dengan tersenyum bahagia.

“Aku senang melihatmu tersenyum seperti ini” kataku.

“Kajja, kita berangkat sekarang. Kita sarapan di luar” ajakku.

“Ah chakkaman… aku ingin menaruh bunga ini di vas dulu” kata Hara.

Aku menunggunya di luar rumah. Dia kembali dengan mengenakan jaketnya. Aku mengulurkan tanganku pada Hara.

“You are my princess today” kataku sambil tersenyum.

Hara hanya tersenyum malu – malu. Lalu aku menuntunnya untuk masuk ke dalam mobilku. Aku membukakan pintu mobilku untuk Hara dan melajukan mobilku menuju sebuah restoran. Cukup hening di mobilku, aku merasa sangat gugup saat ini.

“Kajja kita sudah sampai” ajakku.

“Eoh” jawabnya singkat.

Kami masuk ke dalam restoran itu dan duduk di meja bernomor 17 ini. Aku melihat ke sekeliling restoran ini. Masih nampak sepi saat ini. Aku memesan sarapanku dan Hara mengikuti pesananku.

“Hara-ya…” panggil seseorang dari belakangku.

“Jim…” kata Hara terkejut.

“Sedang apa kau di sini? Dan mengapa kau bersama bocah brengsek ini?” Tanya Jimin.

“Aku sedang berkencan dengannya. Bisakah kau tidak mengganggu kami?” kataku ketus.

“Hah aku tidak akan mengganggu kalian. Aku hanya ingin menyapa Hara” jawab Jimin.

“Hara-ya, aku minta maaf atas kelakuanku tempo hari. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji. Aku harap kau dapat menerima permintaan maafku ini” kata Jimin.

“Eoh. Aku sudah memaafkanmu Jim. Berjanjilah kau tidak akan mengulanginya untuk yang ketiga kalinya” kata Hara.

“Cih…” cibirku.

“YA!” cibir Jimin.

“Ah aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian… Hana-ya” panggil Jimin pada yeoja yang berada tidak jauh darinya.

“Kenalkan, dia Kim Hana. Dia partnerku di organisasi” Jimin memperkenalkan Hana.

“Annyeonghaseyo, Hara sunbae dan Jungkook sunbae, Kim Hana imnida” kata Hana sambil membungkukkan badannya.

“Chakkaman… bukankah partnermu adalah Sera?” Tanya Hara.

“Sekarang Hana yang menjadi partnerku, dan partner Sera adalah Yoongi” jawab Jimin.

“Bisakah kau pergi sekarang?” tanyaku dengan tatapan tidak mengenakkan pada Jimin.

“Eoh, kami pergi dulu. Nikmati hari kalian” kata Jimin.

“Annyeong sunbaenim” kata Hana sambil membungkukkan badannya lalu berlari kecil mengikuti Jimin di belakangnya.

Makananku dan Hara kini sudah sampai. Aku melahapnya dengan semangat namun tidak dengan Hara. Aku memperhatikannya sejak tadi dan akhirnya aku memulai pembicaraan.

“Waeyo?” tanyaku.

“Ani” jawabnya.

“Kau sakit hati?” tanyaku lagi.

“Ani” jawabnya singkat.

“Tidak perlu berbohong. Aku tahu itu. Semua terlihat jelas dari tatapanmu. Kau merasa tersaingi dengan yeoja itu eoh?” tanyaku lagi.

“Hanya saja Jim terlihat berbeda” jawab Hara.

“Hey, dia hanya partner organisasinya saja. Tidak mungkin dia menyukai yeoja itu. Dia mencintaimu, Hara-ya” kataku.

“Apa hatimu tidak sakit mengatakan hal seperti itu? Aku tahu kau menyukaiku” kata Hara yang mampu membuatku diam.

“Kau tahu? Hatiku selalu sakit jika melihatmu dengan namja lain sekalipun dia adalah sahabatmu. Aku ingin kau menjadi milikku, tapi aku tahu aku tidak bisa memilikimu karena hatimu adalah milik Jimin bukan diriku. Apapun akan aku lakukan asalkan kau bahagia, sekalipun jika aku harus pergi dari kehidupaanmu” jelasku.

“Aku tidak tahu mengapa aku tidak bisa menyukaimu. Kau tampan, kau baik, kau berkarisma, kau lucu, aku tidak tahu apa kekuranganmu. Hanya saja hatiku berkata bahwa Jimin yang terbaik untukku” kata Hara.

“Aku tahu itu. Tapi bisakah kau hari ini saja tidak membicarakan namja lain? Hari ini adalah hari kencan kita untuk pertama dan terakhir kalinya. Setelah hari ini aku berjanji tidak akan menganggumu lagi” kataku.

“Maafkan aku, Jungkook-ah” kata Hara.

Aku kembali melanjutkan sarapanku hingga ponselku bordering karena ada sebuah telfon masuk. Aku mengangkat telfon itu.

“Yeoboseyo?” sapaku.

“Ah Jungkook-ah, bisakah kau menjemput dia? Dia sudah sampai di Korea Selatan hari ini” kata suara di sebrang sana.

“Sekarang?” tanyaku.

“Ne, cepatlah. Kau jangan membuatnya menunggu” perintah dari sebrang sana.

“Aku tidak bisa. Aku sedang bersama temanku” jawabku.

“Kau harus menjemputnya sekarang juga!” telfon di putuskan secara sepihak.

Aku langsung menatap layar ponselku dengan kesal. Sial hari ini gagal lagi!

“Hara-ya, aku minta maaf. Aku harus pergi sekarang. Kau pulanglah dengan taksi. Aku ada urusan penting” kataku lalu meninggalkannya sendirian di restoran itu.

 

Aku menuju mobilku lalu melajukan mobilku menuju bandara Incheon. Aku memacu mobilku lebih cepat agar cepat sampai di bandara.

Sesampainya di Bandara aku menunggu dia keluar dari bandara. Hingga pada akhirnya ada yang mengalungkan tangannya di leherku lalu membisikkan suatu kalimat di telingaku.

“Sudah menungguku lama? Aku merindukanmu sayang” bisiknya.

 

TO BE CONTINUE…

Hallo gimana sama chapter ini? Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya berupa like atau komentarnya.

Ah ya gimana dengan chat imagine nya? Suka? Semoga suka deh ya.

Kamsahamnida reader-nim :*

9 responses to “Please, Hold Me Tight Chapter 7B

  1. Sumpah gua msh jengkel nggonduk, gregetan m hara, KNP dia menginjakkan 2 kaki NY d ATS dua kpl, nah nyesel kan liat Hana m jimin, tuh rasain, heol…t jungkook kedatangan sp lg nih,weh kl bgini JD NY hara km g bkl bs DPT jimin…Karna sifat plin plan mu

  2. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 8 | FFindo·

  3. Pingback: Please, Hold Me Tight Chapter 9 – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s